Who I Am? I Am an Eve – SPY 6

Title       : Who I Am? I Am an Eve (Sequel From Fairytale and Myth)

Author  : ReeneReenePott

Maincast :

  • ·         Key(NOT KIBUM OKAY!) <Eve>
  • ·         Jessica <Eve>
  • ·         Jung Yoogeun <Human>

Supporter cast : (tokoh masih bisa bertambah)

  • ·         Hero(Kim Jaejoong) <Eve>
  • ·         Ty(Kim Jong Hyun) <Eve>
  • ·         Gyuri <Eve>
  • ·         Madeleine <Elf>
  • ·         Elias(Choi Minho) <Elf>
  • ·         Claire <Elf>
  • ·         Joon <Elf>
  • ·         Kevin <Eve>
  • ·         Tiffany <Eve>
  • ·         Max(Shim Changmin) <Vampire>
  • ·         G.O <Vampire>
  • ·         Thunder <Vampire>
  • ·         Nikky(Lee Taemin) <Vampire>
  • ·         Chase(Lee Jinki) <Werewolf>
  • ·         Ricky <Werewolf>
  • ·         Minwoo <Werewolf>
  • ·         Chansung <Werewolf>

Cameo :

  • ·         Ashley <Wizard>
  • ·         Oey <Dwarf>

Genre   : Fantasy, Romance, Thriller, Alternate Universe

Rating   : PG – 15

Length  : Sequel

Backsound : Big Bang – Monster, 2AM – I Wonder If You Hurt Like Me

A/N        : Lebih baik baca SPY ini pas online di PC ya. Tapi yang bacanya di hape, sebenernya tak apa sih, Cuma aku selipin trailer di sini, dan itu lewat Youtube. Mohon kritik dan perbaikan untuk grammarku yang acak adut di trailer itu, hehe. Bacotanku di akhir FF ini lumayan penting (??) loh, meski panjang, hoho #ditampar.

SPY 6

 

3 years later…

Hogwarts Widcraft dan Wizzardry, England

Key menegakkan tubuhnya saat ia selesai membaca sebuah surat yang baru saja didapatnya dari seekor burung hantu. Sulit mengontrol emosinya saat ini, rahangnya terkatup keras, ingin sekali menggigit sesuatu. Ia jelas bingung dengan surat dari seseorang yang bernama Kevin ini, bingung apakah harus percaya atau tidak dengan apa yang ditulisnya.

“Surat dari siapa, Key?” tiba-tiba Seth sudah duduk tepat di sampingnya sambil merangkul bantal. Key tersentak dan langsung menyimpan suratnya, baru sadar kalau ia sekarang sedang berada di atas ranjangnya.

“Tidak, bukan apa-apa. Hanya… yah, surat dari keluargaku,” kilah Key tenang. Seth hanya mengangguk tanpa curiga.

“Hey, cepat turun ke bawah! Makan malam akan segera dimulai!”

“Oh, sial sekali,” desah Key malas. Seth mengerutkan keningnya, lalu menarik tangan Key paksa.

“Ayolah, aku tahu Ariana pasti ingin sekali bertemu denganmu…”

__

Old mansion, France

December 2009

“Musim dingin lagi, Jess,” suara seseorang membuat wanita dengan rambut blonde bergelombang panjang itu menoleh dan tersenyum manis. Tiga tahun lalu, ia sempat merasakan aneh saat rambutnya berubah menjadi pendek untuk diratakan sehabis pertarungan dengan Nikky. Namun rambut juga bisa panjang lagi, kan?

“Waktu cepat berlalu, Max,” jawabnya tenang. Vampire yang ia ajak bicara itu mendesah, lalu memindahkan tatapannya pada Jessica.

“Kata Kevin, kau mendapat buruan lagi. Narapidana yang sekarang masih di LP,” katanya tenang. Jessica mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum.

“Benarkah? Kupikir aku tidak mendapatkan mangsa lain, kau tahu kan, mangsaku dulu saja belum selesai masalahnya,” gumamnya sambil bertopang dagu. Tiba-tiba Kevin berjalan pelan dari arah pintu dan menghampiri kedua mahkluk itu

“Bukan belum selesai masalahnya, Jess, tapi belum kau mangsa,” katanya pelan dan tajam. “Dua kali mendapat mangsa yang harus berurusan dengan cinta memang rumit. Oh ya, Jess, barusan aku mengirim surat pada Eve baru itu, Key,”

Mendengar nama itu, punggung Jessica menegak seketika. “Apa yang kau tulis untuknya?” tanyanya kaku. Kevin dan Max menyeringai.

“Seluruh kejadian yang terjadi padamu. Ia sudah ada di Hogwarts sejak tiga tahun lalu, jadi aku menyewa burung hantu untuk mengirim suratnya,” kelanjutan kata-kata Kevin membuat mata Jessica mendelik.

“APA?!”

__

Ellesmera, Finland

Same month, 05.00 p.m

“Madeleine, sekarang kau coba bertarung melawanku dengan pedangmu itu,” ungkap Joon tenang. Madeleine mengangguk, lalu menyiapkan posisinya. “Ingat, pelatihan ini akan membuat tubuhmu remuk-redam di pertama kali mencoba. Jangan lupa untuk ‘menumpulkan’pedangmu,”

“Kau sudah mengatakan hal itu berulang kali,” gumam Madeleine kalem. Joon mengangkat sebelah alisnya, lalu menyerang Madeleine tanpa aba—aba. Elf dihadapannya agak terkejut, namun ia berhasil mengontrol dirinya sendiri untuk menangkis bahkan mulai melawan. Mereka saling menusuk, menangkis, memblokir, hingga pada akhirnya Madeleine tersungkur dengan pedangnya yang sudah terlempar eekitar 2 meter dari tubuhnya. Joon mengarahkan pedangnya ke leher Madeleine.

“Lumayan, setidaknya kau tidak langsung ambruk pada menit ketiga,” ungkapnya, lalu menarik pedangnya dan mengulurkan tangannya membantu Madeleine berdiri.

“Aku bukan lawan tandingmu,” ungkapnya pelan. Joon terkekeh.

“Aku masih standar. Kalau Oromis yang menandingimu, kau pasti langsung ambruk,” Joon mengarahkaan dagunya ke pedang Madeleine yang tersangkut di sebuah dahan pohon. “Ayo ulang lagi,”

“Bisakah kita istirahat sebentar? Pukulan pedangmu yang mengenai tubuhku serasa dipukul dengan paralon baja,” ungkap Madeleine sambil berusaha mengambil napas sebanyak-banyaknya.

“Kau lemah sekali sih, Elf itu tidak kenal istirahat, kau tahu,” sembur Joon yang membuat Madeleine terdiam. “Kau ini sedang dalam masa pelatihan, jadi kau menurut saja dan jangan membantah,”

__

Hogwarts, England

January 2010, 10.00 a.m

“Oh, Key, berhentilah menggunakan Mantra Tentakel itu, benar-benar membuatku muak,” Key hanya nyengir tanpa dosa saat menatap wajah memelas Cedric dan tetap melancarkan serangannya. Ia mengarahkan tongkat sihirnya menuju pinggang Cedric, dan Cedric langsung bergerak lagi untuk menyingkir.

“Kau tahu, koneksi dengan anak kembar yang ada di Gryffindor itu memang sangat seru,” gumam Key sambil terus bermain-main dengan mantra barunya itu. Cedric melotot, dan mencabut tongkat sihirnya. Key tampak kaget, namun tetap melukiskan cengiran di bibirnya.

“Wohoo… kau marah, Tuan Diggory?” Key meledek laki-laki penghuni asrama Huflepuff dihadapannya iseng.

“Kau mau menantangku, Tuan Key?” Diggory balas nyengir.

“Kalian! Sangat kelewatan! Sihir di koridor! Sudah berapa ratus kali kukatakan, Sihir dilarang di koridor! Kalian anak-anak nakal… Kepalah Sekolah, harus memberi tindakan, harus!” kedua anak tanggung itu menoleh cepat dan mendapati sang penjaga sekolah, Mr. Filch tengah berlari menuju ke tempat dimana mereka berpijak. Tentu saja, dengan kucing-nya yang setia, Mrs. Norris.

“Baiklah, Cedric… ini saatnya..” Key hanya terpaku menatap kedua sosok itu kian mendekat.

“LARI!”

___

“Kalian kenapa?” Fred menatap kedua anak dengan napas terengah itu—namun salah satu dari mereka nampak biasa saja—bingung, yang tak lain tak bukan adalah Cedric dan Key.

“Mana Seth?” lanjut George yang menyandarkan punggungnya di tembok. Mereka berdua sedang bersantai di taman tepian koridor yang menghubungkan koridor satu dengan yang lain.

“Wow, Welcome Ravenclaw’s Beater…” seorang anak berambut merah lagi datang dan duduk di samping Fred. Key nyengir lebar.

“Hai Ron,”

“Kudengar kau terpilih menjadi Beater Ravenclaw, ya?” tanya Ron semangat. Cedric tak memperdulikannya, ia mengambil tempat duduk di samping George.

“Wah, lihatlah Fred, semua gadis menatap ke arah sini dengan penuh minat,” George bersiul. Semua tatapan berpindah pada Cedric dalam waktu sepersekian detik, lalu berpindah menatap Key.

“Benar, tapi masalahnya, Harry, kau tidak mau terkena detensi oleh Professor McGonagall kan kalau ketahuan mengambil perabotan sekolah?” suara cempreng seorang perempuan samar-samar terdengar. Kedua anak yang sedang berbincang itu—Harry dan Hermione mengalihkan pandangan pada kerumunan di hadapan mereka. “Hai Key, mana Seth?” tanya Hermione.

“Sedang kencan diam-diam dengan Patrice Hawtson dan entah kapan selesainya,” jawab Key datar. “Dan apa yang barusan kudengar? Mengambil perabotan sekolah?”

“Well, Harry, aku tak habis pikir bahwa kebanyakan bergaul dengan Weasley menjadikanmu pribadi yang pemberani seperti ini,” Fred merangkul pundak Harry sambil nyengir menjengkelkan. Harry menanggapinya dengan senyum tipis, lalu ikut duduk.

“Well, aku hanya mengambilnya hanya untuk seharian ini saja, nanti sore juga akan kukembalikan,” katanya membela diri. Key tersenyum, tak bisa mengatakan apa-apa.

“Jadi karena itu kalian tinggal di kelas sampai semuanya keluar?” cerca Ron sedikit kesal. Hermione menyunggingkan senyum meminta maaf, membuat Ron semakin melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kalian ini, sudah kelas tiga tapi kelakuan kalian benar-benar seperti anak belum masuk sekolah, ckckck,” gumam Cedric. Hermione dan Ron langsung mengarahkan tatapannya ke arah Cedric yang memasang wajah tak berdosa.

“Diamlah kau, Prince Charming,” tukas Ron sebal. Cedric nyengir, sementara Key hanya memainkan poninya dan bersiul sedikit.

“Oh. Lihat, itu Ariana Silvermist,” George memasang wajah sumeringah begitu melihat sesosok anak perempuan melenggang anggun melewati mereka. Yep, Ariana Silvermist namanya.

“Cewek pujaan nomor satu di Hogwarts. Meski baru kelas 3, dia benar-benar nampak seperti dewi,” komentar Fred sedikit melebih-lebihkan, dengan raut wajah meremehkan. Si kembar itu tidak terpengaruh dengan Ariana ternyata.

“Tentu saja, cewek pujaan. Dia kan setengah Veela. Bukan seperempat, tapi setengah,” tukas Cedric sambil menyarungkan tangannya di saku celananya dan bergaya sedikit cool. Ariana melirik Key dan tersenyum manis, tapi Key membuang muka dan berpura-pura tidak melihatnya.

“Astaga Key, semua anak laki-laki di sini ingin sekali dekat dengan Ariana, kenapa kau menolaknya mentah-mentah?” Ron melongo melihat reaksi Key. Key adalah Eve, dan mengingat ia masih terikat dengan Jessica, ia tak bisa  dan tidak mau melirik perempuan lain.

“Aku tidak suka gayanya, sombong,” balas Key sedikit mengerutkan keningnya. Ron dan Cedric mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

“Apa? Sombong?! Astaga Key!” Ron menaikkan nada suaranya. Key hanya tersenyum dan menatap mereka intens.

“Aku lapar, ayo ke Aula Besar, mungkin sepiring puding besar menunggu untuk ku santap,” gurau Key sambil menenteng tasnya.

“Tuan-tuan sekalian, kami berdua ijin tidak ikut ya, masih ada eksperimen tertunda dengan Lee Jordan,” George menyampaikan salam ala pangeran Inggris, demikian pula dengan Fred. Baik Harry, Hermione maupun Ron melongo.

“Ron!” sebuah suara cempreng membuat semuanya menoleh ke asal suara.

“Ginny! Ada apa?”

“Aish, Ron! Apa kau lupa? Aku butuh kaus kaki dari Mum yang kemarin ia kirimkan padamu…” gadis kecil berambut merah itu berceloteh cepat pada Ron. Mata gadis kecil itu awalnya hanya terfokus pada Ron, tapi begitu ia melihat ke belakang kakaknya, ia langsung membulatkan matanya.

“Kaus kaki apa? Oh, yang berwarna ungu itu ya… hei! Ginny! Kau mau kemana?” Ron bingung saat melihat adiknya langsung pergi.

“Ayo, Ron, kita ke Aula Besar saja,” ajak Hermione mendahului ketiga anak laki-laki itu.

“Ginny kenapa, sih?” tanya Ron pada Hermione begitu ia menempelkan pantatnya ke kursi panjang Gryffindor.

“Mungkin dia sakit perut,” jawab Harry cuek sambil mengangkat bahunya. Hermione menatapnya aneh, lalu memalingkan wajahnya menatap Ron.

“Kenapa tanya padaku? Tanya saja pada adikmu itu!”

“Kalian kan sama-sama perempuan, kupikir—“

“Ron, aku dan Cedric kembali ke tempat kami ya, bye Harry, bye Hermione…” Key  menepuk bahu Ron, sengaja memotong ucapannya. Ron membalasnya dengan kikuk, sementara Harry dan Hermione hanya tersenyum tipis.

__

Old mansion, Paris, France

December 2010

“Jessica,” Jessica yang sedang asyik melamun tersentak mendengar sebuah suara yang sangat dikenalnya. Ia menoleh, dan membulatkan matanya melihat sesosok tinggi yang tersenyum di samping Kevin. “Aku tahu kau rindu padaku, sayang,”

Jessica langsung bangkit berdiri, menghempaskan buku yang dibacanya dan menghambur ke orang itu. “Hero!” ia membenamkan kepalanya di dada bidang Hero, merasa bahagia karena ia bertemu kembali dengan sosok yang meski hanya tidak dilihatnya selama beberapa tahun, terasa seperti berabad-abad. “Jangan memanggilku ‘sayang’, aku tidak suka,”

“Kau berkembang banyak, Jess,” Hero melepas pelukannya dan menatap mata Jessica dalam. “Lama sekali tidak menemukan pikiranmu dan membacanya. Pikiranmu itu seperti novel, tahu,”

“Aku sudah menyangka, bila ada kau di sini, aku pasti tidak bisa berbohong,” Jessica merutuk kesal lalu duduk di sofa. “Kau naik pesawat atau berlari?”

“Berlari, karena aku malas mengeluarkan uang,” balas Hero cuek.

“Dasar pelit,” Jessica menyahutnya langsung, membuat Hero terlonjak kaget.

“Sejak kapan kau jadi ceplas-ceplos saat berbicara denganku?” Jessica hanya tersenyum, membiarkan Hero membaca pikirannya. “Ck,” lanjutnya saat tahu apa alasan Jessica.

“Bisakah kalian memperhatikan yang lain? Jangan merasa dunia milik berdua!” celetuk Max sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Hero nyengir, sementara Jessica mendengus pelan.

“Kau pikir kami bercengkerama? Ini berdebat, tahu!” Jessica melirik Hero sedikit kesal.

“Hei! Jangan menyebutku gurita kesurupan!” seru Hero pada Jessica. Max dan Thunder yang sedari tadi diam menoleh bingung pada Hero. Jessica meliriknya sinis.

“Kau kan suka berbicara melantur!” balas Jessica tak mau kalah.

Brukkk

“Kalian berisisk sekali sih… oh! Hero!” Tiffany tersenyum simpul pada Hero. “Lama tak bertemu,”

“Hai, lama tak bertemu,” balas Hero ringan.

“Kapan kau pulang?” tanya Jessica polos. Hero menoleh sedikit, lalu mencubit lengan Jessica.

“Adaw!” Jessica meringis lalu mengelus lengannya. “Hei! Cubitanmu itu berbeda dari cubitan manusia, tahu!”

“Aku baru sampai di sini, kok kau malah tanya kapan pulang? Tidak sopan sekali,” gerutunya. Jessica tertawa terbahak-bahak.

“Biarin,”

“Jess, Chase datang,” celetuk Max tenang sambil menegakkan tubuhnya. Jessica menatapnya bingung sambil memiringkan kepala. Tepat pada saat itu, bell berbunyi.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku mengenalnya lewat baunya, bau anjing,” balas Max sedikit cuek.

“Hai, ramai sekali kelihatannya,” Chase masuk ke dalam ruangan dengan tatapan gembira. Hero menoleh menatapnya, merasa asing.

“Dia Hero, dia sudah seperti ‘Kevin’-nya Korea,”  jelas Jessica. “Semacam pengatur, begitulah,”

“Ah, senang bertemu denganmu, Hero. Namaku Chase,” Chase mengulurkan tangannya yang disambut oleh Hero. Hero menatap mata Chase dalam, lalu sepersekian detik berikutnya ia melepaskannya. Perlahan ia menoleh menatap Jessica, lalu menjatuhkan tatapannya ke lantai marmer ruangan itu. Sedetik kemudian, ia mendongak dan memasang senyumnya pada Chase.

“Senang bertemu denganmu juga, Chase,” ujar Hero riang. Jessica melangkah ke sisi Hero, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Tumben kau ke sini, Chase,”

Chase terkekeh pelan. “Kuharap kau masih ingat janjimu, bahwa kau menyewaku untuk mengajarimu naik dan terjun dari atas pohon,” Jessica tersenyum lebar lalu menepuk kedua tangannya.

“Ah, kau benar. Kau selalu terpeleset jika mendarat,” ia bergumam kecil, “Kau punya waktu sekarang?”

“Kalau aku tidak punya waktu, tidak mungkin aku datang ke sini,” Chase tersenyum lebar, menampakkan sederet giginya yang putih berkilau. Tiffany sedikit merenyit, lalu berbalik menuju kamarnya. Tanpa sengaja, tingkah lakunya membuat Hero penasaran dan mengikutinya.

“Tiffany,” panggil Hero pelan sambil menutup pintu kamar Tiffany. Tiffany menoleh cepat, lalu tersenyum lemah pada Hero dengan kedua tangan terlipat. “Aku tahu apa yang kau pikirkan,”

“Kau tahu, kan? Bagaimana caranya menatap Jessica? Tidak mungkin seorang werewolf menyukai Eve, kan?” sembur Tiffany, mengeluarkan semua keluh kesahnya. Hero tersenyum tipis.

“Memang sangat mustahil, tapi ketika kita lihat tadi, sepertinya itu memang terjadi,” balasnya sambil menyarungkan kedua tangannya di saku celana. “Tenang saja, Chase bukan mangsa Jessica,”

“Kau tahu, yang kupikirkan bukanlah soal Chase itu mangsa Jessica atau bukan,” Tiffany memutar kedua matanya, “Tapi—“

“Kau takut akan terjadi sesuatu mengerikan. Kau merasa bila Chase berurusan tentang ‘perasaan’ dengan Jessica, pasti sesuatu yang buruk akan terjadi,” potong Hero kalem. “Memang begitu sih kenyataannya,”

“Aku selalu berusaha membuat Chase menjauh,” Tiffany mendesah pelan, “Tapi tidak bisa,”

“Chase itu, pendiriannya kuat bagai batu karang. Kau tak bisa menghalanginya, apalagi caramu seperti itu,” Hero langsung bisa tahu karena Tiffany memutar kembali memorinya. “Dan Jessica memang—“ Hero menghentikan kata-katanya, berusaha memastikan ia memulai kalimat dengan benar “—memiliki keterkaitan dengan seorang Eve, hasil reinkarnasi dari manusia yang pernah dicintainya,”

Tiffany mengangkat kedua tangannya sambil menggelengkan kepala. “Kurasa keterkaitanku tidak akan terlibat dalam masalah ini,”

Hero mengangkat ujung bibirnya. “Antara ya dan tidak,” ia menatap Tiffany sesaat, “Kurasa aku harus keluar, kalau yang lain tidak ingin berpikiran macam-macam tentang kita berdua,”

“Apa maksudmu?”

“Kevin mulai mencariku,” Hero meraih kenop pintu, memutarnya dan membukanya. Dalam sekejap ia sudah menghilang dan pintu sudah tertutup.

__

Hogwarts, England      

Middle of December 2010, 9.00 p.m

Key menyusupkan telapak tangannya ke balik bantalnya begitu ia mencoba untuk meletakkan kepalanya. Dengan kening berkerut, ia menarik sebuah kotak dengan bungkus kain sutra berwarna ungu muda, dan sangat harum. Key sampai merenyitkan hidungnya mencium bau itu. Ia melirik ke anak laki-laki yang sedang melipat berbagai macam syal musim dinginnya disampingnya, dan kembali memandangi kotak itu.

“Apa ini?” tanyanya, yang secara langsung tak langsung ditujukan kepada Seth, si anak laki-laki itu. Seth menoleh sebentar, mengacak poni hitam cepaknya, lalu menyipitkan mata untuk melihat lebih jelasnya apa yang dipegang Key di tangan kirinya.

“Entahlah, mungkin cokelat dari Ariana? Haha,” sahut Seth dan kembali menyusun syal merah-hijau-kuningnya di samping ranjangnya.

“Csh,” Key sedikit melayangkan benda itu ke meja di samping tempat tidurnya dengan gaya ringan, dan kembali merebahkan diri di atas ranjang. “Shit, baunya tidak hilang,” Key merutuk dan bangkit duduk kembali.

“Kau berisik sekali, Key,” salah seorang anak lagi, yang sedang membaca dengan memakai sepatu di ranjang berceletuk. Key tidak menanggapinya, ia hanya fokus untuk meredam bau  aneh yang berasal dari kotak ungu menyebalkan itu.

“Tidak biasanya kau tidur lebih cepat,” sahut Seth sambil mempersiapkan diri turun ke ruang rekreasi lagi. Key memutar bola matanya, dan menengkurapkan tubuhnya.

“Kau tahu pasti tahu alasanku,” sahutnya pelan. Seth terbahak pelan, lalu menyandang jaket abu-abunya di bahunya.

“Baiklah, baiklah. Hanya katakan padanya kalau kau sudah tidur kerana pelajaran Professor Snape tadi, meski aku tahu merapikan semua botol ramuan itu bukan membuatmu semakin lelah. Yah, have fun,” Seth berlalu sambil tersenyum tipis.

“Yep, kau benar sekali. Terimakasih Seth,” gumam Key tanpa sepengetahuan Seth. “Oh, shit, baunya menjijikkan sekali,”

__

The next day

“Key! Ah, aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau ada di sini,” Key tersentak ketika bau yang sama seperti yang membuatnya tak bisa tidur semalaman itu kembali tercium. Ia menoleh lemas, lalu mendesah pasrah ketika lengan kanannya sudah dirangkul erat.

“Hai,” Key membalasnya lemas. Gadis berambut blonde panjang bergelombang dengan mata sebiru laut itu menatap Key dalam.

“Kau sering mengabaikanku, apakah telingamu perlu dibersihkan supaya dapat mendengarku dengan jelas?” tanya gadis itu sambil mengikuti langkah Key. Key berhenti sejenak, menatap Ariana dan berusaha berkata lewat matanya—ia berharap tidak usah membuka mulut saat itu.

“Aku harus segera menuju ke kelas Professor McGonagall, kau tahu seperti apa orangnya,”  Key melepaskan tangan Ariana yang menggelayut di lengannya dan berlari menaiki tangga di ujung koridor dengan secepat. Ia tak mungkin menggunakan kecepatannya yang asli di situasi ini, kan? “Benar-benar, ini baru kelas empat! Bagaimana kalau sudah kelas enam? Hah, aku tak pernah berani membayangkannya,”

“Key! Aku menantimu saat makan siang ya!” suara teriakan Ariana masih sempat terdengar. Key melengos.

“Matilah aku,” sejenak kemudian, Key merasa ada seseorang di ujung tangga sedang menantinya. Dan ia sangat-sangat berharap kalau itu Seth.

“Apanya yang mati?” sebuah suara membuatnya menoleh.

“Hai Seth,”

“Ariana lagi, huh? Jadi, apakah ia sudah memaksamu untuk ikut ke pesta dansa Natal nanti? Kudengar ada semacam Turnamen bagi penyihir yang cukup umur,” Seth menenteng tasnya ringan lalu duduk di kursi kayu di samping Key dan meletakkan tasnya. Key mengeluarkan buku Transfigurasi-nya kalem.

“Kurasa belum. Dan semoga tidak akan. Cedric pasti sudah mengajaknya terlebih dahulu,” balas Key masam. Matanya melirik ke anak-anak Ravenclaw dan Hufflepuff yang masuk satu-persatu ke dalam kelas tersebut.

“Apa kau cemburu?” goda Seth. Key mendengus, merapikan poni asimetrisnya lalu menoleh menatap Seth kesal.

“Sama sekali tidak. Aku sudah punya orang yang kusukai, namanya Jess—“ Key cepat-cepat membungkam mulutnya, dan berpura-pura sibuk mencari catatan.

“Apa? Orang yang kau sukai? Hey, Key, kau tak pernah menceritakannya!” seru Seth sambil mengguncang bahu Key keras.

“Selamat pagi, anak-anak. Kuharap kalian sudah menyelesaikan tugas yang pernah kuberikan dua hari lalu,” suara dalam Professor McGonagall terdengar, membuat Seth menghentikan kegiatannya. Key mendesah lega, dan memulai untuk memperhatikan pelajaran pembuka di hari itu.

“Jadi, Seth, kurasa kau harus fokus dengan kumbangmu yang baru setengah menjadi kancing itu,” gumam Key tanpa melihat Seth. Seth mendengus kesal, lalu mengeluarkan sangkar kumbang-nya.

“Kau tahu, aku bukan Hermione yang langsung bisa mengubah 10 kumbang menjadi kancing sekaligus,” dengus Seth pasrah. Key mengangkat bahunya, lalu mengeluarkan kepik mungilnya yang sudah berubah menjadi kancing kemeja kecil berwarna merah tua.

“Tentu saja. Kau laki-laki, sementara dia perempuan. Jelas berbeda lah,”

__

A forest, France

Same day

“Chase, awasi kepalaku, Aku tak mau kepalaku memar,” ujar Jessica singkat saat ia sudah menggantung terbalik dirinya sendiri menggunakan kaki di atas sebuah pohon pinus setinggi 10 meter. Chase yang bersandar di sebuah pohon ek besar dengan kedua tangan disarungkan ke dalam saku celana hanya mengangguk sambil tersenyum.

Hup!

“Itu sudah sempura, Jess,” kata Chase tenang. Jessica menoleh padanya, lalu mengangkat bahu.

“Coba bertarung denganku. Apa aku bisa melakukannya dengan benar atau tidak,” balas Jessica ringan. Chase melotot.

“Apa? Bertarung? Kau gila, Jess?” Jessica tersentak mendengar nada marah dari Chase.

“Kau kenapa? Kita hanya bertarung kecil-kecilan, tidak seperti waktu bersama Nikky itu,” balas Jessica dengan kening berkerut.

“Kalau kau terluka? Bagaimana?” Jessica langsung terbahak mendengar penuturan Chase.

“Kau ada-ada saja. Aku dijadikan memang untuk bertarung. Bukan untuk duduk-duduk di sofa sambil menunggu laporan mangsa bagai putri Inggris,” balasnya sambil melepas jaket tipisnya yang berwarna merah marun. Chase berdecak kesal.

“Lebih baik kau bertarung dengan Chansung saja,” Chase berujar dingin sambil membalikkan tubuhnya. Jessica melongo ditempat.

“Chase!” panggil Jessica keras. Namun Chase tetap melangkah menjauh, meninggalkan Jessica dibelakang. Mengalah, Jessica akhirnya memutuskan untuk mengejar Chase. Ia menarik lengan Chase.

“Baiklah, hari ini cukup sampai di sini saja. Kau mau jalan-jalan?” dan ternyata itu berefek pada Chase. Ia menoleh dan tersenyum.

“Bagus,” Chase menggenggam pergelangan tangan Jessica untuk merapat ke sisinya, lalu menuntunnya berjalan. Perlakuan seperti itu membuat Jessica bingung. Sejak kapan seorang Eve dikawal oleh seorang werewolf?

__

Old castle, South Korea

End of December 2010, 5.00 p.m

Knock

Knock

Gyuri tersentak begitu mendengar suara ketukan pintu tiba-tiba. Ia mengerutkan keningnya, tidak mungkin Key pulang secepat ini. Hero sedang tidak ada, tapi apakah ia sudah pulang? Hero berencana menghabiskan waktunya—dengan berburu cewek Perancis—selama sebulan di sana. Dan ini masih kurang dari sebulan. Ia beranjak dari sofa tunggal yang didudukinya, memutar gembok pintu dan menariknya. Kedua matanya melebar mendapati sosok berambut pirang keputihan tersenyum padanya.

“Madeleine!” Gyuri langsung menyambut tubuh ramping itu dalam pelukannya. “Kau kembali,” Madeleine tersenyum kalem. “Kau jadi pendiam rupanya, eh?”

“Gyuri, siapa yang datang?” sebuah suara berat terdengar dari dalam. Jantung Madeleine berdegup keras, namun ia berusaha untuk tidak merubah raut wajahnya.

“Claire masih ada urusan dengan ibunda Ratu jadi tak bisa mengantarku, sementara Joon…” Madeleine memalingkan wajahnya begitu sosok Elias sudah ada di hadapannya dan Gyuri. Ia mencoba tersenyum dan kembali menatap Gyuri. “Yah, begitu deh,”

“Kau sudah kembali?” tanya Elias parau. Madeleine menatapnya intens.

“Kau tak percaya ini aku? Kau mengira aku sudah mati dimakan binatang buas, begitu?” cibir Madeleine, mengeluarkan sisi cerewetnya. “Oh ya, Gyuri, mana Key? Apa dia masih di…”

“Kau mengetahuinya?” Gyuri memotong ucapan Madeleine kaget. Madeleine tersenyum dan mengangguk.

“Ya, Claire yang diberitahu oleh Hero,” jawab Madeleine tenang, melepas tempat anak panah dengan busurnya dan meletakkanya di sebuah meja. “Anak itu punya kemampuan juga rupanya,”

“Hei, kau meremehkan anakku?” saut Gyuri sedikit bergurau. Madeleine nyengir, lalu bangkit dan melangkah menuju dapur.

“Aku haus. Kau tahukan minuman favoritku apa,” ujarnya menjawab tatapan bertanya dari Gyuri. “Oh ya, Taylor mana?”

“Dia sedang keluar. Biasa, bapak-bapak sepertinya itu suka keluyuran. Awas saja kalau nyeleweng,” gumam Gyuri sedikit kesal. Madeleine terkekeh, lalu memasuki dapur dalam diam.

“Meskipun bapak-bapak tapi dia sangat tampan lho,” sahut Madeleine iseng.

“Hah.. sepertinya sudah lama sekali aku tidak tinggal di tempat ini,” gumamnya sambil melihat ke sekitarnya. “Sama sekali belum berubah,”

“Tentu saja, baru empat tahun,” suara berat Elias menyahutnya. Madeleine menoleh cepat lalu menggerakkan tangannya mengambil sebuah gelas tinggi.

“Kau mau Butterbeer?” tanya Madeleine singkat. Elias tersenyum.

“Boleh deh. Sudah lama tidak minum buterbeer buatanmu,” katanya dengan suara rendah. Madeleine tersenyum tipis, dan mulai memanaskan karamel.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Madaleine, berusaha mencairkan suasana. Elias mengangkat bahunya, lalu memindahkan tatapannya ke atas meja yang terletak tidak jauh dari kitchen set yang sedang digeluti Madeleine. Ia menarik salah satu kursinya dan mendudukinya.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja,”

“Senang mendengarmu baik-baik saja,” sahut Madeleine tenang. Elias mengerutkan keningnya bingung.

“Kau… kenapa kau ini? Kau jadi aneh,”

“Tidak ada apa-apa,” Madeleine membalikkan tubuhnya dan ikut duduk di hadapan Elias sambil menunggu Butterbeer yang dimasaknya mendidih.

“Kau kenapa? Kau bukan Madeleine yang dulu,”

“Apa maksudmu?”

“Lupakan saja,” Madeleine hendak membuka mulutnya lagi, namun ia langsung teringat dengan Butterbeernya, jadi ia membalik tubuhnya lagi dan menuangkan kedua gelas tinggi itu dengan Butterbeer yang masih hangat.

“Ini milikmu,”

“Terimakasih,”

__

Hogwarts, England

The next day, at 5.00 p.m

“Oh Key, aku sudah mencarimu kemana-mana, ternyata kau ada di sini,” sapa Ariana ramah pada Key yang tengah menatapnya tanpa minat. Ia sedang terduduk di salah satu sudut perpustakaan raksasa Hogwarts, dan sebuah buku tebal tentang Astronomi terbuka lebar dihadapannya.

“Aku pikir kau sudah kembali ke ruang rekreasi,” balas Key pelan. Ariana tersenyum lebar.

“Yah, setiap orang pasti selalu ingin mencari suasana baru,” sahut Ariana tenang. Ia menarik kursi di samping Key, lalu duduk menghadapnya. “Aku tahu ini aneh, tapi, Cedric mengajakku,”

Key menatapnya dengan kening berkerut. Kenapa dengan gadis ini? “Lalu?” Ariana mengerang pelan.

“Ergh, kau tahu maksudku, Key,” ia menyibakkan rambut priang indah bergelombangnya dan kembali menatap Key lembut. “Dia mengajakku ke pesta Natal nanti,”

Tiba-tiba Key merubah tatapannya. “Jadi kau memintaku untuk mencarikanmu gaun?” Ariana melotot. Mana mungkin anak Ravenclaw se-tolol ini?

“Key!”

“Apa?” Key kembali menoleh malas. Bukannya ia bodoh, ia sangat mengerti apa maksud Ariana. Tapi… astaga. Ia tidak ingin hal mengerikan itu terjadi. Ya, bayangan tentang pergi ke Pesta Natal bersama Ariana memang sangat mengerikan bagi Key.

“Kenapa kau tidak mengajakku?” tuntut Ariana. Key menghela napas pelan, lalu membalas tatapan Ariana yang terus terhujam ke wajahnya.

“Aku tidak berencana untuk ikut pesta itu,” sahutnya. Ariana terdiam.

“Kenapa? Apa ada sesuatu yang menghalangimu?” tanyanya pada akhirnya. Yang menghalangiku jelas kau, sahut Key dalam hati. Akhirnya ia menghela napas dalam sejenak, lalu menatap Ariana.

“Yep. Kau benar. Sesuatu menghalangiku,” sahut Key sedikit serius. Ariana mengerang.

“Kenapa? Apa yang menghalangimu?”

“Aku akan pulang ke rumahku,” sahut Key cepat. Ariana bengong. Pulang? “Ya, ke rumahku. Jadi aku tidak mungkin ikut pesta itu,”

“Key! Kenapa kau sekejam ini padaku?!” seru Ariana hampir menangis. Key terperangah.

“Ada apa denganmu, Ariana?” tanya Key bingung. Bulir-bulir air mata keluar dari mata indahnya, membuat Key semakin bingung. Sebenarnya, hanya dua alasan kenapa Ariana mengejar-ngejar Key sampai seperti ini. Satu, Key amat sangat tampan. Dua, Key jelas berbeda. Ia tak pernah menunjukkan ekspresi tololnya waktu Ariana menunjukkan pesonanya—terang saja, dia setengah Veela—dan Key tak pernah nampak tertarik padanya. Itulah yang membuat Ariana sangat tertarik dengan Key, tanpa mengetahui bahwa Key bukan manusia, dan ia tak bisa tertarik dengan—err, orang yang dia suka? Tak mudah menebak siapa yang disukai seorang Eve.

“Kau jahat!” desis Ariana lalu berlari meninggalkan Key yang masih terbengong-bengong.

__

“Kawan, kau tahu, kau sangat hebat sampai membuat Ariana menangis dari tadi,” gumam Seth serius sambil merangkul Key yang sedang duduk dan menyelesaikan beberapa paragraf PR Transfigurasi-nya. “Kau tahu, seluruh laki-laki di sekolah ini tak ada yang pernah berniat membuatnya mengeluarkan air mata, apalagi sampai menangis seperti itu,”

“Benarkah? Tapi aku tak benar-benar bermaksud begitu,” Key menghembuskan napasnya dan meletakkan pena bulu-nya, lalu menatap Seth. “Aku tak bermaksud seperti itu padanya, sungguh,”

“Well, Key, Ariana yang mengejar-ngejarmu ini sudah jadi rahasia umum satu sekolah,” gumam Seth lagi, “Bahkan Cedric sangat-sangat iri padamu,”

“Sudahlah, Seth,”

“Kau harus bicara dengannya secara baik-baik, Key,” Key terdiam.

“Kurasa belum saatnya. Kalaupun iya, kita lihat besok saja,”

“Kau benar-benar Key, cuek sekali dengannya!” desah Seth tak percaya. “Ini baru kelas 4 dan kau sudah menyuekinya. Saat kelas enam nanti mungkin kau sudah menganggapnya sebagai debu,”

“Hahaha…” Key tertawa sumbang.

__

Old castle, South Korea

3 days before Christmas, 6.00 p.m

“Tidak dingin?” tegur Elias pada Madeleine yang sedang asyik memberi makan beberapa ekor rusa liar yang mungkin tersesat dari Korea Utara di hutan belakang kastil mereka. Madaleine mengelus salah satu kepala rusa itu sayang, sebelum menegakkan tubuhnya yang hampir sejajar dengan telinga Elias.

“Tidak juga,”

“Dasar bodoh! Ini hampir badai salju, kau malah berkeliaran dengan jaket tipis seperti itu,” sembur Elias. Langsung Madeleine mengengkat sebelah alisnya.

“Kau kedinginan? Pulanglah,”

“Tentu saja tidak. Aku memakai jaket cukup tebal sekarang,” jawabnya sambil menatap Madeleine dari atas sampai ke bawah. “Key sudah pulang. Kau belum melihatnya, kan?”

“Benarkah?” pekik Madeleine girang. “Sudah benar-benar pulang?”

“Tentu saja, ia sedang bersama Gyuri dan Taylor. Tahukan, rasanya menjadi anak tunggal?”

“Ayo pulang!” Madeleine langsung menyeret Elias dan membuatnya terpaksa mengikuti Elf wanita itu berlari. Tak perlu waktu bermenit-menit, mereka berdua sudah masuk ke dalam kastil dan sudah melepas jaket mereka.

“Jangan buru-buru, Elias. Saljunya kemana-mana,” ujar Gyuri dari ruang keluarga.

“Bukan aku yang buru-buru, tapi wanita ini,” jawabnya datar sambil melirik Madeleine yang langsung nyengir saat menduduki salah satu kursi di ruang keluarga.

“Mana keponakanku?” tanya Madeleine tanpa basa-basi. Seorang remaja laki-laki menongolkan kepalanya dari pintu kamar Gyuri.

“Aku?” gumam Key.

“Bukankah kau harus menghadiri Pesta Natal di sekolahmu? Kenapa kau malah pulang?” tanya Taylor sambil mengerutkan keningnya. Key mengangkat ujung bibirnya sedikit lalu melangkah mendekati Madeleine.

“Yah, aku malas saja. Bosan tahu berada di sana,” jawab Key sambil merangkulkan tangannya ke sekitar bahu Madeleine.

“Kau kenapa Key?” tanya Madeleine dengan ekspresi aneh.

“Bagaimana keadaan Jessica noona?” tanya Key langsung. Elias langsung menyikirkan tangan Key.

“Anak kecil, kau tidak sopan,”

“Hei! Aku hanya menanyakan keadaan Jessica noona, kenapa kau yang sewot?” tanya Key bingung. “Tenang, aku tak akan merebutnya, aku tidak suka wanita yang lebih tua,” lanjutnya.

“Kau pikir Jessica tidak lebih tua, begitu?” sembur Madeleine yang terperangah. “Dia lebih tua… beberapa ratus tahun darimu,”

“Itu beda masalah,” balas Key. “Hanya menunggu hingga 3 tahun lagi, dan aku lulus,”

“Sama saja,” balas Elias lalu menatap Key tajam. “Menjauh darinya,” Elias menyuruh Key menjauhi Madeleine.

Key mendengus lalu beranjak menuju ke sofa di samping Gyuri dan mendudukinya. “Sewot sekali,” gerutunya pelan. “Hero hyung tidak pulang?”

“Tidak, dia masih di tempat Jessica,” jawab Gyuri kalem.

“Hish, harusnya aku pulang lebih cepat,”

“Bodoh! Kau mau meninggalkan pelajaranmu di sekolah, hah?” Taylor mengacak rambut Key gemas. “Kau harusnya pulang sesudah pesta selesai, pasti ada banyak gadis cantik di sana,”

“Diamlah, kau membuatku mengingat si centil yang sangat mengganggu itu,” sahut Key sedikit cemberut.

“Apa? Jadi kau laku di sana, begitu?” goda Elias sambil menyeringai. Key mendengus kesal, lalu melemparkan tatapan tajamnya balik kepada Elias. “Wohoo.. bocah ini mulai beranjak dewasa rupanya,”

“Aku belum dewasa. Masih menunggu enam tahun lagi,” balasnya sedikit cuek. Madeleine tak henti-hentinya menatap Key kagum.

“Yah, wajarlah ada yang naksir kau, Key. Wajahmu lumayan tampan,”

“Jangan mengatakan hal seperti itu, kau tidak lihat, Elias sudah menatapmu seperti itu,” jawab Key sambil cekikikan. Madeleine menahan tawanya saat melihat ekspresi Elias yang sedang kesal.

“Apa yang akan kita lakukan saat Natal?” tanya Gyuri tiba-tiba. Taylor bangkit berdiri, lalu melipat tangannya di depan dada.

“Bagaimana kalau berlibur ke Hawaii?”

“Bukan ide buruk, menurutku,” sahut Madeleine sambil mengangguk. Elias mengangkat bahunya, diikuti dengan Gyuri.

“Aku ikut saja,” kata Elias. Key menatap mereka satu-persatu.

“Tanpa Hero dan Jessica?”

Taylor balas memandangi anaknya sambil tersenyum. “Ya, tanpa mereka,”

“Kenapa?” tanya Key heran. Baik Gyuri maupun Taylor terdiam. Elias pura-pura tak mendengar, jadi sekarang harapan Key adalah Madeleine.

“Boleh aku mengatakannya?” tanyanya ragu pada Taylor. Setelah melihat anggukan darinya, Madeleine menghembuskan napas pelan lalu mencoba menatap mata Key. “Kau memang sedang dijauhkan darinya. Itulah alasan utama kenapa Jessica pergi ke luar negeri,”

“Apa? Kenapa?”

“Kurasa kau hanya perlu tahu tentang hal ini dulu, begitu kau beranjak dewasa nanti, kau akan mengetahui yang sebenarnya,” sela Taylor dalam. Key terdiam, lalu mengangguk kecil.

“Baiklah, aku mengerti,”

“Kau selalu menjadi anak baik, Key,” ujar Gyuri sambil tersenyum.

__

The Chirstmass Ball, Main Hall, Hogwarts, England

December, 25th 2010, 07.00 p.m

Malam itu benar-benar memberikan suasana berbeda di Aula Besar. Dinding es yang tidak dingin, rangkaian mistletoe yang terpasang di langit-langit Aula Besar, hujan salju buatan, sampai Pohon Natal raksasa yang berdiri kokoh di tengah ruangan, membuat semua mata murid tersihir dengan keindahan Aula Besar yang disulap oleh Professor Flitwick dan Hagrid menjadi sebuah ballroom megah. Orkestra yang disewa Professor McGonagall mengalunkan musik ke seluruh penjuru ruangan, merangsang setiap orang untuk menari dengan pasangannya masing-masing.

“Dia benar-benar tidak ada?” tanya Ariana datar pada laki-laki di hadapannya, dengan jas model terbaru yang masih terperangah dengan kecantikan perempuan dihadapannya. “Seth! Jangan bengong! Aku sedang bertanya!”

“E-eh?” Seth tersadar dari lamunannya lalu menatap Ariana bingung. Gadis cantik dengan gaun berwarna peach itu menghentakkan kakinya kesal sambil menatap Seth.

“Sudahlah, aku mencari Cedric dulu,” Ariana membalikkan tubuhnya, lalu senyumnya mengembang.

“Terlalu lama menunggu?” tanya Cedric sopan. Ariana menggeleng kecil, lalu mengambil cocktail yang disodorkan Cedric.

“Terima kasih,”

Cedric hanya membalasnya dengan senyuman, lalu telinganya siaga mendengar alunan musik yang terdengar. “Ah, waltz. Kau mau berdansa denganku, princess?”

“Tentu saja,” jawab Ariana sambil mengembangkan senyumnya, membuat seisi ruangan merasa iri pada seorang Cedric Digorry.

__

Old mansion, France

6 years later

“Coba katakan sekali lagi, Kevin?” Jessica mengerutkan keningnya dan menoleh menatap Kevin cepat. “Kau menyuruhku apa?”

“Kau harus kembali ke asalmu, ke Seoul,”

“Coba hitung berapa tahun kau pergi dari sana,” tegur Tiffany. Jessica terdiam, dan pada saat itu juga telepon berdering. Tiffany buru-buru mengangkatnya, “Bonjour?”

“…”

“Baiklah,” Tiffany memberikan gagang teleponnya kepada Jessica. “Dari Hero,”

Jessica menerimanya dan langsung menempelkan ujungnya ke telinga. “Ya?”

“Jessica, kuharap kau sudah mendapatkan amanah dari Kevin,” sahut Hero to the point. Jessica mendesah, mau tak mau ia mengangguk.

“Baiklah Hero, aku akan kembali sebulan lagi. Ini memang sudah sepuluh tahun semenjak aku pergi dari Korea,”

“Kenapa harus satu bulan? Tidak bisakah besok saja kau langsung pulang?” cerca Hero kesal.

“Aku harus mendapat persetujuan perpindahan tugas, Hero. Aku sudah bekerja di sini,” jawab Jessica. Sebenarnya ia sedikit tidak rela untuk pulang, bagaimanapun juga ia sudah punya kehidupan lagi di negara itu.

“Baiklah. Satu bulan, Jess. Bila lewat dari itu, jangan salahkan aku untuk menyeretmu secara paksa,” Hero terdiam ketika Jessica juga terdiam, “Sudah ya,”

“Tunggu dulu!” seru Jessica. “Boleh aku bertanya tentang… Key?”

“Oh, anak itu? Well, dia sudah dewasa. Umurnya kan sudah sepuluh tahun,”

To Be Continued

Teaser SPY 7

“Eomma!” sebuah suara gadis melengking di lantai dua rumah yang sudah mirip istana itu.

“Mereka benar-benar serasi, kurasa ada baiknya mempercepat pertunangan mereka,” ujar Tuan Baek antusias.

“Kibum?” desah Jessica dengan perasaan sesak yang sudah sampai di pangkal lidahnya. Pria itu merenyit, dan mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah Jessica.

“Tak usah memanggilku dengan sajangnim, Jung Yoogeun imnida,” ujarnya hangat. Jessica balas tersenyum, membuat pria di hadapannya membeku.

“Jung Jessica imnida,”

Teaser  END

TRAILER

(Mian kalo gak jelas sama sekali, grammar rada aneh gaje gimana, penempatan yang ga sesuai, scence yang bertele-tele, mohon kritik dan sarannya ya^^)

 Hallohaa everybody~~~ #jedukk Aye bawain lagi niy, fic yang bikin aye bisa berimajinasi secara liar~ hoho #ditampol. This is the end of appetizer, okay?? (kamsud looo???) Maksudku berakhirlah cerita pemanasan untuk FF ini, hehe ^^

Sorry semuanya yang sudah dibuat bingung dengan kemana cerita ini akan berjalan(cie ileh) Aku pengeeen banget, dari SPY ini sampai seterusnya, lepaskan imajinasi kalian, oke? Karena imajinasiku akan berkembang lebih liar dari ini. Bukan masukin tokoh-tokoh mistis lain, tapi maksudnya semua tokoh atau latar belakang yang selama ini aku tulis akan menjadi elemen-elemen penyusun klimaks cerita.

Yang aku ingin, kalian mengingat tokoh Ariana si penyihir yang setengah Veela, Chase si werewolf serta Yoo Geun si manusia. Karena ketiga tokoh ini ga sembarang aku munculin, mereka penting untuk klimaks nanti. Kenapa aku bawa latar belakang 2 film terkenal, yaitu Harry Potter dan Twilight? Well, aku ga mungkin menciptakan dan merangkai mantra-mantra baru untuk Ariana, atau membuat latar belakang penyihir dalam versi lain. Jadilah aku pake versinya si JK Rowling, hoho. Dan aku ga mau ambil pusing tentang apa itu Werewolf hingga kehidupannya dan apa itu Alfa, karena mikirin plot aja aku udah cukup bingung biar terkesan ‘masuk di akal’. Awalnya FF ini mau kubuat FF fantasy-psikopat, tapi aku belum menguasainya jadi terpaksa kuurungkan niat itu.

Cuma satu kalimat yang ku jabarkan untuk FF ini nantinya : dunia itu sempit.

Dan masih ada lagi satu cast manusia, yang bakal kumunculin langsung setelah ini. Di teaser udah ada tuh, siapa yang mau ditunangin? Kalau tunangan sih.. biasanya itu adat manusia… hehe ^^ Pokoknya, teliti yah.. hehe. Satu kalimat yang kupake kadang-kadang bisa jadi kunci apa yang akan terjadi nanti loh, hoho#ditabok.

Sekarang aku mau naik kelas 3 SMP, dan kemungkinan aku bakal mengutamakan FF ini untuk di post. Aku tahu aku masih ada satu hutang yang belum lunas buat Evi, sabar ya. Songfic itu lagi ada halangan, akan ku post sesegera mungkin, okey? ^^

As always, mohon komen, saran, kritik, dll #plakk mianhae kalau ada typo, salah kalimat atau kata yang ketuker ==a *moga moga ga ada ah*

Gamsahamnida ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “Who I Am? I Am an Eve – SPY 6

  1. aku suka trailernya.. tapi suaranya ga ada hehhe..

    aku agak bingung ama waktu terjadinya tiap2 scene sama dimana mereka skrg tapi aku suka kok.. aku tunggu spy lainnya

    1. Hahhhhhh…. Satu kata yg muncul setelah baca part ini.. Wahh!!! Rasanya gx mau habis tiap kali baca scene Key di Hogwarts….. Sumpah imajinasiku berkembang liar banget. Bayangin tengah berada diantara cast Harry potter… Keren gila!!! Terus juga banyak yg termasuk komedi sihhh… Kamu hebat reeennnnn!!! #cipokrenepott ampe basahhhh…..

      Chap depan bakal muncul konfloik ya? Yoogeun juga bakal muncul… Ahrggghhh gx sabar deh.. Trs juga add keterlibatan Chase juga…… Ow.. Ow… Ada Cedric diggory.. Ye.. Ye…. #bayanginrobbertpattinson jaman muda..wkwkwkwk

      Aq gx bisa liat trailer-ny…. Tp gpp dehhh nunggu lanjutannya……

      Eh iya… Yg aq msh bingung ampe skrg si itu peran madeleine,Joon,Elias itu apa sihhh… #ataukrnaqlupakaliya…hahaha
      Ehmm. . Ini sengaja dibikin alur cepet ya reen????

      baiklah Reennnn!!! Aq kn setia menunggu.. Utk songfict-ny gwenchana.. Lama juga gppp kokkk…. Kamu pasti lagi sibuk.. Lagian baru pindahan kan?? Gimana?? Udd selesai pindahannya???????????

      1. Harusnya ya, biar lebih jelas itu tiap part jelasin tiap tahun Key di horgwarts… Tapii aku percepat alurnya soalnya spy ini melenceng jauh dari plot. Harusnya di spy 4 nikky udah mati. Tapi dia malah mati di spy 5. Gitu…
        Joon-madeleine-minho/elias ga bakal nganggur, aku udah pikirin nasib mereka *sahh*
        Nee, gwenchan, trailernya juga bututan kok… #bugh
        Hm? Masih dalam tahap penyempurnaan, dirumah masih banyak barang belom di bongkar XDD
        Gomawo ya Vi… XDD

  2. maaf ya author baru aku komen di SPY 6 …
    coz aku selalu cepet cepet bacanya jadi lupa komen deh…..
    uwm itu si yoogeun di vidionya diperanin ama chunji teen top ya???

    mian cuma bisa komen segini ….

    aku tunggu part selanjutnya ya…

  3. hah? author seumuran aku? ciyus? miapa msh klas 3 smp? woww bgt… seumuranku udh bisa bikin ff kyk gini. salut aku ama author ckckckck

    wah yoogeunnya udh tua ya? tp jessica blm? wkwkwk lucu jg. tp siapa itu yg mau ditunangkan? jess ama key kan? please walau umur jauh mereka cocok. dan satu lg, author judulnua emng bener ‘who i am?’ bukannya ‘who am I’ ya?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s