I Will Always Love You – Part 1

Judul                : I Will Always Love You

Author             : Aya-chan

Main cast        : Choi Minho, Han Ji Eun as You

Support cast    : Choi ahjumma, Choi ahjussi and other

Genre              : Sad Romance

Length             : Chapter (17pages)

Rating              : PG 15-17

A.N                  : Terinspirasi dari lagunya Whitney Houston dan satu FF yang saya lupa judulnya—mianhae. Meskipun mungkin makna asli dari lagunya nggak seperti cerita ini, tapi, tiap kali dengar lagu itu saya selalu menafsirkannya persis seperti cerita yang saya tulis ini. Kamsahanidaaaaa~ pada reader dan admin yang ngepostin. Leave comment okay ^^. Oiya, ff ini juga udah pernah di post di ffshineeshawol.wordpress.com , tapi biar banyak yang baca saya kirim kesini.

Summary

Saat aku tidak bisa memilih, saat aku hanya bisa menerima sebuah garis takdir

Maka satu hal yang kuinginkan

Aku ingin melihatmu bahagia dan aku akan terus mencintaimu

Let’s me do something just for you

 

HAN JI EUN POV

            “Kau sudah makan siang?” Tanya ku pada laki-laki yang ada diujung telepon.

            “…”

            “Baguslah, jangan lupa minum obatmu. Aku akan kekantormu nanti sore”.

            “…”

            “Tentu saja, annyeong” aku menutup telpon. Sejenak mataku terpaku memandangi wallpaper ponselku. Sebuah potret yang menunjukkan senyuman lebar dariku dan Choi Minho, namjachinguku. Sekarang ia sudah menjadi calon suamiku, bukan lagi hanya seorang namjachingu. Setengah bulan lagi kami akan segera menikah.

            Aku mengemasi barang-barangku yang berserakan dimeja kerjaku. Jam kerjaku sudah habis dan rencananya aku akan segera menuju kantor Minho. Namun sebelumnya aku akan mampir dulu ke tempat kami memesan undangan pernikahan. Aku ingin mengecek apakah sudah selesai pembuatannya.

            Hari sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika aku sampai di kantor Minho. Aku segera menuju ruangannya yang berada dilantai 3.

            “Annyeong” aku membuka pintu. Kehadiranku langsung disambut dengan rentangan tangan dari Minho.

            “Jagi, kau terlihat lelah” Minho mengusap keningku.

            “Ani, yaa! Kau sudah minum semua obatmu kan? Oya, kapan kau akan check up lagi?” tanyaku bertubi-tubi sambil menyentuh kedua pipi Minho.

            “Ish.. kau ini memang tidak pernah berubah huh!” Minho mendorong keningku pelan.

            “Yaa! Oppa.. aku hanya takut terjadi sesuatu padamu.”

            “Tenang saja, aku yakin bisa bertahan,” kata Minho lembut sambil mengusap rambut yang dikuncir. “Oya, kemarin aku sudah melihat gaun pengantinmu. Cantik sekali! Kau harus segera fitting, Jagi” ucap Minho dengan mata berbinar. Dia tersenyum padaku. Aku memandangi manik-manik matanya yang teduh itu. Mata kodok yang selalu kusukai. Mata yang selalu membuatku tenang ketika memandangnya.

            “Jadi, kapan kita fitting bersama?” tanyaku kemudian, tak kalah antusias darinya.

            “Besok?” dia mengajukan sarannya.

            “Aigo.. aku baru ingat kalau besok aku ada beberapa meeting penting di kantor” aku lupa, besok aku akan sangat sibuk dikantor.

            “Gwenchanaeyo Jagi, bagaimana kalau lusa?” tawarnya lagi.

            “Nde, ku rasa aku bisa” jawabku sambil tersenyum padanya.

            “Baiklah, lusa aku yang akan menjemputmu. Arra?”

            “Arraseo. Oppa, ayo segera pulang. Badanmu tidak boleh terlalu lelah” ajakku.

            “Nde, ayo Jagi” Minho mengambil jasnya dan menarik tanganku. Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir mobil Minho.

            Jalanan kota Seoul ramai sekali karena saat itu adalah jam pulang kantor. Aku memperhatikan Minho yang sedang konsentrasi menyetir, ah… dia namja yang sangat baik padaku. Dia mau menerimaku apa adanya. Bahkan, dia tidak malu sedikitpun membawaku ketengah keluarganya yang bisa dibilang terpandang di Korea. Ayahnya seorang anggota parlemen yang kharismatik dan memiliki sebuah perusahan tekstil serta ibunya punya banyak butik terkenal, bukan hanya di Korea tapi juga dikota-kota besar lainnya.

            Mereka semua menerimaku apanya. Tidak pernah mempermasalahkan status ku sebagai yatim piatu. Aku memang tinggal seorang diri setelah ibuku sendiri menelantarkanku didepan panti asuhan ketika aku berusia 10 tahun. Sejak saat itu aku belajar mandiri. Sampai kemudian aku bertemu dengan Minho dan kami masih bersama hingga kini.

            “Jagi, kenapa memandangiku seperti itu?” Minho membuyar lamunanku.

            “Ah, ani, hanya saja aku suka memandangimu” aku mencoba bercanda untuk mengalihkan pikiranku.

            “Yaa! Kau ini.. Jagi, bagaimana kalau kita mampir untuk makan jjangmyeong sebentar?” Tanya Minho sambil tersenyum memohon.

            “Kau tau ‘kan tubuhmu itu tidak bisa terkena angin malam” aku berujar lembut. Berusaha mengingatkannya akan sesuatu harus benar-benar harus dia jaga. Dia memalingkan wajahnya dan diam seketika.

            “Em.. Oppa , apa kata-kataku tadi salah? Mianhe” kataku takut-takut setelah melihat raut wajahnya berubah seketika.

            “Apa kau sekarang tidak pernah melihatku sebagai Choi Minho yang kuat dan sehat seperti dulu?” Tanya Minho dengan lugas. Rahangku mengeras mendengar pertanyaan itu. Aku, apakah benar aku tidak pernah memandangnya seperti dulu lagi. Ah, ani ani, aku hanya terlalu mengkhawatirkannya. Aku hanya terlalu takut dia pergi meninggalkanku, hingga aku selau berusaha untuk menjaganya. Tidak pernah sedetikpun aku berubah, aku tetap menganggapnya laki-laki paling luar biasa dalam hidupku.

            “Ani, Oppa. Aku hanya khawatir padamu” jawabku pelan akhirnya. Sunyi. Minho tidak menanggapi jawabanku dengan jawaban yang pasti. Namun, aku bisa melihat wajahnya yang telah berubah seperti biasa.

CHOI MINHO POV

            “Ani, Oppa. Aku hanya khawatir padamu” jawabnya atas pertanyaanku tadi. Pertanyaan yang sesungguhnya kusesali telah kutanyakan. Aish.. aku kenapa? Kenapa bisa aku meragukan gadis ini. Kenapa bisa?. Aku merutuki kebodohan diriku sendiri.

            Akhirnya, aku memutuskan membawanya kepinggir sungai Han daripada mengajaknya makan di kedai pinggir jalan. Mungkin hal ini bisa membuat keadaan saling diam antar kami ini berhenti. Karena jujur saja, tidak mendengar suaranya sebentar saja rasanya aku sudah hampir gila.

            “Kita sampai” kataku tepat ketika mobilku berhenti ditepi sungai Han. Aku turun lebih dulu dan membukakan pintu untuknya.

            “Oppa, pakailah jasmu” ia mengambil jasku yang tergeletak di jok belakang dan memakaikannya padaku. Aku tersenyum, gadis ini selalu penuh dengan perhatian. Kami lalu beriringan berjalan dan duduk diundakan tangga yang menghadap langsung ke sungai Han.

            “Oppa, kenapa kemari?” tanyanya polos.

            “Karena ingin minta maaf padamu, Ji Eun-ah” jawabku sambil tetap memandang sungai Han.

            “Aish.. kenapa harus begitu formal, Minho Oppa” serunya dengan semburat merah dipipi. Aku memandangnya sambil tersenyum dan menyentuh pipinya yang sehalus porselen.

            “Mianhe, Ji Eun-ah atas pertanyaanku tadi. Aku seolah meragukanmu, padahal sebenarnya tidak sama sekali, jagi-ah” kataku sambil menggenggam tangannya.

            “Gweanchanaeyo Oppa, gwenchana” ia balik tersenyum hangat padaku. Aku meraih tubuhnya dan membawanya dalam pelukanku. Han Ji Eun, aku begitu mencintaimu. Sangat mencintaimu hingga aku takut keadaanku ini akan sangat menyakitmu. Maka suatu saat nanti, maafkanlah aku jika aku tidak  bisa memelukmu seperti ini lagi. Maafkanlah aku jika aku tidak bisa lagi berada disampingmu seperti biasanya, maafkan aku Han Ji Eun.

AUTHOR POV

            Cuaca kota Seoul sedang panas meskipun ini masih berada dipertengahan musim semi. Minho menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Dia telah menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini. Maka dia bersiap-siap untuk menjemput Han Ji Eun. Setelah itu mereka akan pergi fitting bersama.

            Minho berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Langkahnya terhenti ketika dia merasakan nyeri yang menusuk disekujur punggungnya. Tangannya menggapai dinding dan bersandar disana.

            “Err.. kenapa disaat seperti ini?” desisnya pelan sambil menahan sakit. Minho juga merasakan kepalanya mendadak pusing dan pandangannya berkunang-kunang.

            Minho berusaha membuka pintu mobilnya sambil tetap menahan sakit yang semakin menjadi dipunggungnya. Dia menyandarkan punggungnya di jok kemudi mobilnya. Matanya terpejam menahan rasa sakit yang sedikit demi sedikit mulai menghilang.

            “Huufftt…” Minho menghembuskan nafas berat sambil mengusap-usap punggungnya. Setelah hampir setengah jam serangan sakit menghampirinya, kini dia mulai merasa nyaman. Dia lalu memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobilnya. Kemudian berlalu untuk menjemput Ji Eun yang pasti sudah menunggunya sejak tadi.

            Mobil Minho berhenti tepat di pinggir jalan didepan kantor Han Ji Eun. Ji Eun yang memang telah menunggu Minho berlari menghampirinya.

            “Jagi, mianhe aku terlambat” ucap Minho tepat ketika Ji Eun membuka pintu mobil.

            “Ah, gwenchana. Memangnya tadi kau kemana dulu?” Tanya Ji Eun tetap sambil tersenyum. Tidak ada sedikitpun guratan marah diwajahnya. Yang ada hanya pandangan khawatir yang berusaha ia sembunyikan.

            “Err.. tadi, tadi aku… banyak sekali dokumen yang harus kuselesaikan. Makanya aku terlambat” Minho memilih untuk berbohong pada Ji Eun karena dia tidak ingin gadis ini semakin khawatir dengannya.

            “Ah, sama saja Oppa. Belakangan ini juga aku sudah hampir sesibuk Oppa” kata Ji Eun sambil terkikik pelan.

            “Ya, asalkan kau jangan terlalu memaksakan diri dengan pekerjaanmu” sahut Minho.

            “Tentu saja, Oppa tenang saja. Oppa juga jangan terlalu memaksakan diri ya!” kata Ji Eun dengan puppy-eyes nya. Minho tertawa dan mengacak-acak rambut Ji Eun karena melihat ekspresinya.

            Pasangan  itu sudah sampai disebuah butik besar khusus gaun pengantin. Minho dan Ji Eun lalu turun dan langsung melangkah memasuki butik tersebut. Mereka langsung disambut oleh beberapa staf butik dan dipersilahkan menuju fitting room yang memang khusus disediakan untuk mereka.

            Sambil menunggu staf butik membawakan gaun pengantin pesanan mereka, Minho dan Ji Eun melihat-lihat headpiece yang biasanya digunakan mempelai perempuan.

            “Lihat yang ini, kurasa sangat cocok dengan gaunmu, Jagi” Minho menyentuh sebuah headpiece berwarna putih dengan replika bunga mawar putih dari kain. Juga dipadu dengan hiasan bunga kecil-kecil dari perak, yang berfungsi agar melekat sempurna dikepala.

            “Ne, cantik sekali Oppa” seru Ji Eun mengagumi bentuk headpiece yang sederhana tapi terkesan elegan itu.

            “Gunakanlah bersama gaun pengantinmu, Jagi” Minho mengambilnya dan menyerahkan headpiece itu pada Ji Eun.

            “Nona, gaun anda sudah kami bawakan” salah seorang staf menghampiri mereka.

            “Ayo, pakailah gaunmu dangan headpiece itu” Minho mempersilahkan Ji Eun mencoba gaunnya.

            Selang beberapa menit, tirai yang ada didepan Minho terbuka dan nampaklah seorang Han Ji Eun dengan balutan gaun pengantin warna putih gading. Gaun itu sederhana dengan model krah shanghai dan berlengan panjang yang transparan dengan banyak border bunga. Ekor gaunnya hanya satu meter dengan hiasan border bunga dan beberapa Kristal Swarovski. Ji Eun berputar memperlihatkan lekuk pinggangnya yang dibalut sempurna oleh gaun tersebut.

CHOI MINHO POV

            Ji Eun terlihat cantik sekali. Ia seperti bidadari dibalik gaun indah itu. Hah, rasanya aku ingin selalu bisa memandangnya seperti ini. Memandang senyum dan wajahnya yang polos itu. Han Ji Eun, aku berdoa agar umurku bisa lebih panjang, agar aku bisa terus melihatmu seperti ini.

            Sementara Ji Eun mengepas gaunnya, aku menyandarkan tubuhku disofa butik itu, entah kenapa rasanya penat sekali dan kepalaku juga terasa pusing sejak tadi. Semoga Ji Eun tidak lama lagi selesai mengepas gaunnya karena aku sudah merasa tidak tahan lagi.

            “Huuhh..” aku menghembuskan nafas keras. Apakah ini efek dari gangguan yang ada dipunggungku? Secepat itukah semua efek itu kurasakan? Ya Tuhan, kumohon… biarkanlah aku bahagia bersama Ji Eun dulu, biarkan aku menjadikannya Nyonya Choi Minho dulu. Setelah itu, terserah saja, aku pasrah.

            Aku mendengar langkah kaki yang familiar—langkah Ji Eun—mendekat. Aku mengangkat wajah dan berusaha memandang ke arah langkah kaki itu berasal. Namun pandanganku mengabur. Aku berusaha memulihkannya dan mengerjap-ngerjap. Tanganku menggapai pegangan kursi dan berusaha membenarkan posisi dudukku namun aku kehilangan keseimbangan.

            “Oppaaaaaa….” Aku mendengar teriakan Ji Eun sebelum semuanya menjadi gelap dan dingin.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “I Will Always Love You – Part 1”

  1. Eeh? Minho kenapa??

    Mian ya, pas adegan Minho kena ‘serangan sakit’ di punggung itu, I can’t help thinking that he was suffered in… encok ._.

    Btw, ceritanya menarik. Tapi kalo habis dialog dikasih tanda baca ya. Semacam titik atau koma gitu

    Nice 🙂

  2. aduh tbc selalu mengganggu .keren thor daebakkkkk .sebenernya minho sakit apa thor ? .lanjutannya ditunggu yaaa

  3. yaampuunn kasian minho. masih muda, mau nikah eh malah sakit. huhuhuhu. minhooooo i love youuuuuu #ditendang key# hahaha keren keren!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s