My Princess for Me – Part 5

My Princess for Me (Part 5)

Title                       : My Princess for Me (Part 5)

Author                  : Papillon Lynx

Maincast             :

–          Jung Bersaudara  :

Jung Yoo Ra, covered by Park Gyuri KARA

Jung You Ni, covered by Han Seungyeon KARA

Jung Yoo Na, covered by Jung Nicole KARA

Jung Yong Hee, covered by Kim Jaekyung RAINBOW

Jung Yeon Sang, covered by Goo Hara KARA

Jung Yoo Jin, covered by Kang Jiyoung KARA

 

–          Lee Bersaudara / Enam Dewa  :

Lee Jinki SHINee as Lee Jinki/Jura, covered by Lee Jinki SHINee

Kim Jonghyun SHINee as Lee Jonghyun/Hyun, covered by Kim Jonghyun SHINee

Kim Kibum aka Key SHINee as Lee Kibum aka Key/Ken, covered by Kim Kibum aka Key SHINee

Choi Minho SHINee as Lee Minho/Mui, covered by Choi Minho SHINee

Lee Taemin SHINee as Lee Taemin/Taega, covered by Lee Taemin SHINee

No Minwoo Boyfriend as Lee Minwoo/Mir, covered by No Minwoo Boyfriend

 

Support Cast      : Raja (Aboeji/Appa), Ratu (Eomonim/Eomma), Selir Raja (Eomonim/Eomma), Para

  Dayang, Para Pengawal, Yuri, Dewa Jodoh, Jung So Ah covered by Kim So Eun

Genre                   : Family, Life, Romance, Fantasy, Angst, a bit Comedy

Length                  : Sequel

Rating                   : PG – 16

Summary             :

 

“Changkamman. Bagaimana kita ke sana? Terbang? Itu tidak mungkin kan?”

 

“Ooh.. Jadi itu yang namanya bus? Bentuknya aneh. Masih bagus Unicorn milikku. Dia kelihatan gagah.”

 

“Apakah kita salah jika kita membawa para putri kembali ke dunia manusia dengan tanpa raga mereka seperti ini?”

 

“Ini rumit, Hyung. Sungguh rumit. Kalung yang kita ciptakan ini ternyata tak selamanya melindungi kita dari bahaya.”

 

“Joa (Baik). Terserah apapun yang kau pikirkan tentangku sekarang. Yang jelas, aku tidak seperti yang kau tuduhkan.”

 

“Geurae maja (Tentu benar). Kau juga sudah membuktikan ketidakakuran kita dengan mencintai yeoja yang menjadi pengantinku dulu. Kau tentu tak mungkin melupakan hal itu kan?”

 

 

  1. A.   N : Annyeong! Part 5 nih.. Di part 4 kemarin banyak yang bikin penasaran ya? Oke deh, semoga di

            part ini bisa terjawab ya rasa pensarannya. Tapi di part 5 ini tolong bacanya penuh dengan

            konsentrasi ya. Hehe.. Ada banyak penjelasan yang kalau cuma asal dibaca bakal bikin tambah

            ngga mudeng. Di part ini juga bagian enam putrid sengaja aku bikin ngga terlalu banyak.

            Jangan lupa setelah baca comment dan like! ^^

 

–    ALL POV IS AUTHOR’S POV –

 

@@@

TAP TAP!

TAP!

TAP TAP TAP!

Keenam dewa menapakkan kaki mereka bergantian di atas tanah. Bukan lagi tanah Dunia Enam Dewa. Tapi, dunia manusia. Enam putri berada dalam gendongan mereka dengan kedua mata yang masih terpejam. Mereka terlihat basah kuyup. Dan juga terlihat bingung.

“Hyung, sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Taega sambil melirik ke arah lima saudaranya. Jura dan Hyun tampak berpikir.

“Seharusnya yang kau tanyakan adalah kemana sekarang kita harus pergi..” kata Ken mencoba meralat pertanyaan Taega. Taega mengangguk cepat.

“Ne. Maksudku seperti itu.” Timpal Taega.

“Jura Hyung, bisakah kau membuat langit malam ini tampak terang? Jangan mendung seperti ini. Rasanya akan turun hujan. Aku tidak ingin terkena air lagi. Apalagi sampai basah seperti ini. Yoo Na juga bisa sakit.” Keluh Ken seraya memanaskan tubuhnya sehingga tubuhnya yang basah mengering. Begitu juga dengan tubuh Yoo Na. Sedangkan dengan kemampuannya, Mui menyedot sisa-sisa air yang masih melekat pada tubuhnya dan dari tubuh You Ni. Tubuh mereka pun kembali kering. Dan keempat dewa yang lain mengeringkan tubuh mereka dan pasangan mereka dengan cara mereka masing-masing.

Setelah tubuhnya dan tubuh Yoo Ra kering, Jura menengadahkan kepalanya dan menatap langit malam yang mendung. Hanya dalam hitungan detik, langit malam menjadi terang. Awan-awan hitam menyingkir dan digantikan dengan bulan dan bintang-bintang yang indah.

“Haruskah kita menginap di rumah keluarga Lee?” tanya Hyun tiba-tiba. Semuanya menoleh pada Hyun. “Kita tidak mungkin tinggal di jalanan atau membangun sebuah rumah saat ini juga dengan kekuatan kita. Kita berada di dunia manusia. Kita harus mengontrol kekuatan kita sebisa mungkin.” Kata Hyun mencoba bijak. Mui mengangguk setuju.

“Maja (Benar). Apalagi kondisi para putri masih belum sadar dan lemah seperti ini. Mereka butuh istirahat. Untung saja kita menghilangkan kesadaran para putri saat di dalam air tadi. Jika tidak, roh mereka ini akan rusak dan mereka tak dapat kembali ke dalam raga mereka saat kita pulang ke Dunia Enam Dewa kelak.” Tutur Mui panjang lebar yang terkesan menyarankan sekaligus mengingatkan saudara-saudaranya perihal keselamatan pasangan-pasangan mereka.

“Jadi apakah kita semua sepakat akan menempati rumah keluarga Lee?” tanya Mir meminta konfirmasi kelima kakaknya. Jura mengangguk memberikan jawaban.

“Changkamman. Bagaimana kita ke sana? Terbang? Itu tidak mungkin kan?” tanya Hyun yang sepertinya mulai bingung bagaimana cara mereka memulai hidup di dunia manusia sekarang.

“Kita berada di dunia manusia, Hyung. Tidak mungkin kita menggunakan kekuatan kita secara terang-terangan di depan manusia yang lain. Dan sepertinya mulai sekarang kita harus mulai membiasakan diri untuk hidup layaknya manusia normal.” Jelas Ken seraya memandangi Yoo Na yang masih tak sadarkan diri. Ken merasa khawatir dengan Yoo Na. Yoo Na tampak pucat dan harus segera beristirahat. “Dwaesseo, ppaliwa (Sudah, cepatlah)!! Kita naik bus saja.” Tambah Ken yang mulai kesal dengan nada setengah memerintah.

“Arra, arra.. Ne, kita naik bus saja.” Putus Jura menyudahi pembicaraan mereka.

“Lihat itu, Hyung! Di depan banyak sekali bus yang lewat. Sepertinya kita bisa menunggu bus di sana. Itu ada halte bus.” Tunjuk Mir. Mir memang cukup banyak tahu tentang kehidupan di dunia manusia. Karena seperti apa katanya, Mir suka bermain di dunia manusia.

“Ooh.. Jadi itu yang namanya bus? Bentuknya aneh. Masih bagus Unicorn milikku. Dia kelihatan gagah.” gumam Hyun setelah melihat beberapa kali sebuah benda besar berbentuk persegi panjang dan memancarkan cahaya, tengah berlalu-lalang.

Akhirnya, keenam dewa -walaupun agak ragu- setengah berlari menuju tempat yang ditunjuk Mir. Kelima dewa dan Mir sendiri duduk di bangku panjang halte masih dengan menggendong pasangan mereka masing-masing.

“Mir, kenapa banyak sekali benda yang mirip kotak dengan beragam ukuran panjangnya berlalu-lalang dan memancarkan cahaya kekuningan seperti itu? Benda-benda itu apa namanya? Mataku jadi sakit melihat cahayanya.” Kata Jura seraya menyipitkan kedua matanya yang sudah sipit sehingga matanya sukses melengkung sempurna dan tampak seperti dua buah bukit. Mir mendesah.

“Rasanya aku seperti merangkap profesi sebagai dewa juga sebagai tour guide. Aku harus siap mental untuk menanggapi berbagai macam pertanyaan aneh kakak-kakakku tentang dunia manusia.” Gumam Mir lirih. “Itu namanya mobil, Hyung. Itu adalah salah satu jenis kendaraan pribadi yang digunakan manusia untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan jarak yang cukup jauh. Dunia manusia itu luas, Hyung. Dan mereka tak mungkin mengandalkan kedua kaki mereka terus-menerus untuk berpergian kan? Mereka tidak seperti kita yang bisa terbang atau menunggangi Unicorn seperti milik Hyun Hyung itu.” kata Mir menjawab rasa penasaran Jura. Jura mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Wajahnya terlihat polos sekali. “Selain mobil, ada juga motor, bus, truk, dan sepeda. Pokoknya banyak, Hyung. Seiring berjalannya waktu kita tinggal di sini, pasti kita akan cepat paham. Tenang saja.” Tambah Mir. Jura mengangguk menyetujui pendapat Mir. Jura jadi merasa agak menyesal dulu ia selalu menolak ajakan Mir untuk mengunjungi dunia manusia. Jika dia mau, pasti dia tidak perlu terlihat bodoh di depan adik bungsunya itu.

“Kalau yang menjulang tinggi hampir mnyentuh langit itu apa namanya?” Kali ini Mui yang bertanya.

“Itu yang namanya gedung-gedung perkantoran. Atau ada juga yang namanya gedung apartemen. Apartemen itu sejenis tempat tinggal seperti rumah namun terbagi dalam berbagai kamar. Dan tidak hanya satu keluarga saja yang tinggal di sana.” Jelas Mir masih berusaha sabar menanggapi kepolosan para hyungnya. Mui mengernyitkan dahinya.

“Aku masih belum paham.” Kata Mui membuat level kehilangan kesabaran Mir bertambah satu tingkat ke atas.

“Kalau begitu jangan bertanya lagi, Hyung.” Ketus Mir. Mui hanya mencibir. “Untung saja di halte bus ini hanya ada kita. Jika ada orang lain, tak tahu apa yang akan ada di otak mereka jika melihat kita berenam menggendong enam yeoja tak sadarkan diri seperti ini. Mereka pasti mengira kita orang jahat dan akan melaporkan kita ke polisi.” Kata Mir. Ken mengangguk cepat. Ia sangat setuju dengan pendapat Mir. Dan ia juga bersyukur saat ini hanya ada mereka di halte bus. Walaupun mungkin orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan depan mereka pasti melihat mereka dan memandang mereka dengan tatapan curiga.

“Ah, sudahlah. Itu ada bus datang.” Kata Taega. Selang beberapa detik, sebuah bus sudah berada di hadapan mereka. Pintu bus terbuka dan mereka segera masuk.

“Hei Anak Muda, apa yang terjadi dengan pacar-pacar kalian semua?” tanya seorang Ahjussi yang menjadi supir bus ketika Jura dan saudara-saudaranya masuk ke dalam bus.

“Mereka sakit, Ahjussi.” Jawab Jura berbohong. Namun Ahjussi itu hanya mengedikkan bahunya dan mulai melajukan busnya. Keenam dewa segera memilih tempat duduk yang kosong. Penumpang-penumpang yang lain memandang mereka heran dan bahkan ada yang berbisik-bisik.

“Setelah ini apa yang harus kita lakukan?” tanya Hyun pada Taega yang duduk di sebelahnya. Keenam dewa duduk sambil memangku tubuh pasangan mereka masing-masing. Mereka memilih duduk di bangku paling belakang dan berdampingan agar penumpang-penumpang lain tak dapat melihat dan mendengar pembicaraan mereka.

“Kira harus membayar jasa naik bus ini, Hyung.” Jawab Mir. “Dengan uang tentunya.” Tambah Mir cepat.

“Arrasseo. Aku akan melakukannya.” Mui membalikkan telapak tangan kanannya yang bebas ke atas dan memandangnya dengan instens. Mui mencoba berkonsentrasi dan pusaran air kecil muncul di atasnya. Dalam hitungan detik, air-air itu berubah menjadi lembaran uang kertas yang sangat banyak. Mui tersenyum bangga melihat hasil ciptaannya. Tertulis nominal 50.000 won di setiap lembarnya.

“Bagaimana kau bisa tahu bentuk benda ini?” tanya Jura sambil berbisik di telinga Mui.

“Aku melihat penumpang yang duduk di depan sedang mengeluarkan beberapa lembar uang seperti ini tadi, Hyung.” Jawab Mui dengan berbisik pula. Mir menggeleng melihat hasil ciptaan salah satu kakaknya itu. Sepertinya akan teramat sangat berlebihan jika membayar jasa bus dengan uang lembaran 50.000 won seperti itu. Pasti supir bus itu tidak bisa memberikan uang kembaliannya. Batin Mir. Hyun menoleh pada Mir setelah sebelumnya memperhatikan uang-uang dalam genggaman tangan Mui. Hyun bisa mendengar kata hati Mir.

“Benarkah seperti itu? Apakah nominalnya terlalu banyak?” tanya Hyun polos.

“Geurae! Uang sebanyak itu bahkan bisa untuk membeli sebuah apartemen mewah dan menghidupi kita beberapa bulan ke depan di sini. Di kota Seoul yang maju ini.” Jawab Mir sambil menggelengkan kepalanya heran. Mir membalikkan tangan kanannya seperti apa yang Mui lakukan. Kilatan petir kecil muncul di sana dan tak butuh waktu lama berubah menjadi benda-benda bulat berukuran kecil yang cukup banyak. “Ini namanya uang logam. Dan uang seperti ini yang cocok untuk membayar jasa bus.” Kata Mir sebelum Hyun sempat bertanya lagi.

Setelah memakan waktu dua puluh menit lamanya, akhirnya bus mereka berhenti di daerah Gangnam. Mir segera menahan Mui yang akan membayar bus dengan selembar uang kertas dan menggantikan Mui untuk membayar dengan beberapa uang logam pada Ahjussi supir bus itu.

Mereka segera turun dari bus dan sampai di depan sebuah gedung apartemen yang sederhana. Gedungnya bahkan tak terlalu tinggi dan warna catnya terlihat kusam.

“Sepertinya keluarga Lee memiliki kesulitan ekonomi. Lihat apartemen tempat mereka tinggal..” kata Jura sambil mengamati gedung lusuh di hadapannya. “Bisa saja sebentar lagi gedung ini akan roboh.” Ejek Jura.

“Jangan begitu, Hyung. Toh, sekarang tempat ini akan menjadi tempat tinggal kita di dunia manusia. Kita tidak mungkin datang ke istana kerajaan kan? Semua orang bahkan sudah tahu kalau keenam putri raja sudah meninggal ditenggelamkan demi persembahan. Kita harus menyembunyikan identitas para putri. Dan membantu para putri untuk kembali ke istana dan membongkar kebusukan Selir.  Tapi mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama.” Ucap Mui menyadarkan pikiran sempit Jura.

“Kkaja, kita masuk sekarang.” Ken berjalan di depan dan menaiki tangga satu per satu diikuti yang lain hingga akhirnya mereka sampai di lantai lima, lantai teratas gedung apartemen sederhana itu. Di  setiap lantai hanya ada lima kamar apartemen. Apartemen yang keluarga Lee miliki memang tidak seperti apartemen-apartemen lain yang tinggi menjulang dan mewah yang memiliki ratusan kamar di setiap lantai dengan fasilitas yang lengkap. Bahkan apartemen ini terletak di sudut daerah Gangnam yang sepi dan jarang dilalui orang.

Ken berhenti di depan sebuah pintu bertulislan Lee Family’s Room. Ken memasukkan sebuah kunci dan pintupun terbuka. Mereka semua masuk ke dalam apartemen itu.

“Bagaimana caranya kau memiliki kunci apartemen ini? Aku kira kau akan merusak kenop pintunya dengan kekuatan apimu.” Tanya Hyun.

“Aku menemukan kunci ini di dalam saku celana yang dulu Key pakai. Aku rasa Key memang mendapat tugas untuk selalu membawa kunci apartemen mereka ini kemanapun keluarga Lee akan pergi bersama.” Jawab Ken sambil menunjukkan kunci di tangannya setelah Ken membaringkan tubuh Yoo Na di atas sofa. Hyun tersenyum dan mengikuti Jura masuk ke dalam sebuah kamar.

“Kenapa kau mengikutiku masuk ke kamar ini?” tanya Jura setelah membaringkan tubuh lemah Yoo Ra di tempat tidur kecil bersprei warna putih.

“Perasaan saja. Sepertinya dulu Jonghyun dan Jinki juga tidur sekamar di kamar ini.” Kata Hyun seraya membaringkan tubuh Yeon Sang di tempat tidur kecil bersprei warna kuning yang terletak di sebelah tempat tidur Jura.

“Jeongmalyo? Aku rasa kau mengikutiku masuk ke sini bukan dengan perasaanmu. Hajiman, kau membaca tulisan yang tertempel di depan pintu itu. OnJong’s Room.” Jura mengedikkan dagunya ke arah pintu lalu menggeleng heran. “Couple name kita terdengar aneh. Dan sejak kapan namaku berubah menjadi Onew? Aku baru bisa mengingatnya sekarang. Jinki menjadi Onew. Aigoo..” Jura terkekeh. Begitupula Hyun.

“Ah itu!” Hyun menuju ke sudut kamar dan mengangkat sesuatu dengan satu tangannya.

“Apa itu?” tanya Jura seraya mendekat.

“Burble kesayanganku. Ah, anni. Burble kesayangan Jonghyun yang biasa Jonghyun gunakan setiap pagi untuk berolahraga. Entah bagaimana aku bisa tahu nama benda ini. Tiba-tiba saja aku mengingatnya. Lagi-lagi tubuh Jonghyun ini seperti mengirimkan sinyal yang berkaitan dengan ingatannya padaku.” Jura mengambil alih burble berwarna merah itu dan merasa tangannya sakit karena keberatan.

“Cih, dari dulu aku tak suka berolahraga.” Kata Jura sembari memberikan benda berat itu pada Hyun. Hyun terkekeh pelan.

“Ternyata efeknya sama sepertiku. Tubuh Jinki semakin lama namun pasti akan mengubahmu menjadi Jinki yang sebenarnya.  Mungkin Jinki memang tak menyukai olahraga. Berbeda dengan Jonghyun. Lihat ini otot-otot tangannya.” Bangga Hyun seraya memperlihatkan lengan tangannya yang terlihat besar, kekar dan kuat. Jura berdecak melihatnya.

“Tubuhmu seperti tubuh seekor kodok. Terlalu banyak bagian yang menonjol dan.. pendek!” Jura tertawa lepas dan keluar dari kamar meninggalkan Hyun yang kesal karena cibirannya.

“Dimana yang lain?” tanya Jura pada Ken yang sedang duduk di atas lantai di dekat sofa menemani Yoo Na yang masih belum sadar. “Bagaimana keadaan Putri Yoo Na?” tanya Jura lagi.

“Mereka di kamarnya. Sedang membaringkan tubuh para putri. Yoo Na sudah lebih baik. Dari tadi ia hanya menggumam ‘lapar’. Mungkin sebentar lagi dia akan bangun. Cacing di dalam perutnya tentu tak akan bertahan lama.” Jawab Ken enteng.

“Kenapa kau tidak membaringkan Putri Yoo Na di dalam kamar kita saja, Ken?” tanya Mui sambil keluar dari dalam kamar. Mui sudah mengganti pakaiannya dengan kaos oblong berwarna biru tua.

“Nanti jika Yoo Na sudah bangun saja.” Jawab Ken singkat.

“Hyung-deul, kami sudah lapar.” Kata Taega dan Mir bersamaan sambil mengusap-usap perut mereka yang keroncongan. Hyun keluar dari dalam kamarnya dan berdiri di samping Jura.

“Jadi, bagaimana cara kita mendapatkan makanan?” tanya Hyun. Ken tampak berpikir.

“Aku akan memasaknya.” Kata Ken memberi solusi.

“Kau yakin?” tanya Jura dengan tatapan menyelidik. Mir membuka lemari pendingin dan tercenung.

“Di dalam lemari pendingin ini tak ada apa-apa. Kosong. Tak ada apapun yang bisa dimakan atau dibuat makanan.” Mir menutup lemari pendingin itu dan melipat kedua tangannya.

“Biarkan aku dan Ken yang membeli bahan makanan. Kkaja, Ken!” Ken mengangguk dan bangkit berdiri.

“Jura Hyung, aku titip istriku sebentar padamu. Jangan biarkan Hyun Hyung mendekatinya.” Kata Ken sambil menepuk pundak Jura sebelum pergi bersama Mui. Mendengar dirinya disindir, Hyun langsung mendelik kesal.

“Ya! Aku juga punya istri! Michieosseo?!” kesal Hyun. Taega dan Mir masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan Yong Hee dan Yoo Jin. Ketika mereka berdua masuk ke dalam kamar, Yong Hee dan Yoo Jin sudah duduk di atas tempat tidur sambil memegangi kepala mereka yang sedikit pusing. Yoo Jin memandang ke sekitar dan alisnya bertaut.

“Dimana kita?” tanya Yoo Jin.

“Selamat datang kembali di dunia manusia.” Kata Taega dengan senyuman lebarnya.

“Keundae, ini ada dimana?” tanya Yong Hee.

“Apartemen kami. Tepatnya apartemen keluarga Lee.” Jawab Mir.

“Mwo?! Itu artinya ini adalah apartemen milik Taemin dan saudara-saudaranya?” tanya Yong Hee lagi. Taega mengangguk cepat.

“Tak ada tempat lain selain tempat ini. Kita tidak mungkin menggunakan kekuatan kita untuk membangun sebuah tempat tinggal baru.” Jelas Mir. Yong Hee dan Yoo Jin pun mengerti dengan keadaan mereka.

Sedangkan di ruang tengah, Hyun duduk di atas lantai di depan sofa dan menyalakan televisi bersama Jura. Jura menepati janjinya pada Ken untuk menemani Yoo Na.

“Aku khawatir, Hyung.” Kata Hyun sambil mengganti-ganti channel televisi. Jujur saja, Hyun sama sekali belum paham betul apa gunanya benda kotak di hadapannya yang menampilkan gambar bergerak-gerak. Dan juga ia bingung dengan benda yang ada di tangannya. Otaknya memang sudah tahu kalau kedua benda itu disebut televisi dan remote televisi. Tapi Hyun belum mengerti fungsinya apa.

Jura menoleh ke samping kirinya. Menatap wajah baru Hyun. Ya, sebelumnya wajah Hyun tak seperti itu. Itu wajah Jonghyun. “Khawatir? Maksudmu?” tanya Jura.

“Apakah kita salah jika kita membawa para putri kembali ke dunia manusia dengan tanpa raga mereka seperti ini?” DEGH! Pertanyaan Hyun juga memang menjadi sesuatu yang paling dikhawatirkannya saat ini.

“Bisa dikatakan ya. Salah.  Kita hanya membawa roh mereka pulang ke dunia mereka itu bisa dikatakan hal yang cukup ceroboh. Hajiman, raga mereka berenam rusak karena ditenggelamkan ke dalam sungai waktu mereka datang ke Dunia Enam Dewa. Raga mereka harus pulih dulu sebelum kita memasukkan roh mereka ke dalamnya. Dan satu-satunya cara memulihkan raga mereka adalah dengan menggunakan kekuatan air milik Mui yang ada di dalam tabung kaca itu. Kau juga tahu, kekuatan air milik Mui memiliki kemampuan untuk menyembuhkan raga mereka.” Jawab Jura. Hyun dengan reflek mematikan televisi dengan remote di tangannya. Ia hanya menggunakan perasaannya saja saat memilih tombol. Hyun mulai serius dengan pembicaraan mereka.

“Tapi, apa kita tak bisa menunggu raga mereka pulih dulu, mengembalikan roh mereka dan baru kita membawa raga beserta roh mereka kembali ke dunia? Bukankah itu lebih aman? Di sana raga mereka tak dijaga oleh siapapun kan?” tanya Hyun lagi sarat akan kecemasan. Sejujurnya, ia sangat mencemaskan keadaan Yeon Sang melebihi apapun.

“Tidak bisa, Hyun. Bagaimana pun, Dunia Enam Dewa bukan dunia yang seharusnya ditinggali oleh manusia seperti mereka. Yang aku takutkan, jika mereka terlalu lama tinggal di Dunia Enam Dewa dalam keadaan tanpa raga, roh mereka justru akan ikut rusak. Lagipula, Mui bilang kejahatan Selir harus segera diungkap. Jadi kita harus secepatnya datang ke dunia manusia. Dan, tenanglah. Aku dan Ken sudah melindungi sekeliling tabung-tabung itu dengan kekuatan milikku dan kekuatan api milik Ken sebelum kita pergi. Aku yakin akan aman.” Jelas Jura panjang lebar. Hyun menghela nafasnya panjang. Perkataan Jura memang ada benarnya. Tapi tetap saja ada yang membuatnya khawatir.

“Tapi Hyung, wujud mereka sekarang bisa dilihat oleh orang lain karena mereka terus memakai kalung kristal itu kan? Bagaimana jika kalung itu sampai terlepas dari leher mereka??” tanya Hyun lagi. Hyun mengekspresikan kekhawatirannya dengan berbagai pertanyaan yang terlontar dari bibirnya.

“Ne. Itu agar orang-orang tak curiga kalau mereka adalah roh. Jika kalung itu sampai terlepas ketika mereka berada di dunia manusia, tentu saja roh mereka takkan terlihat oleh siapapun termasuk kita, para dewa. Dan yang lebih parahnya…” Jura menggantungkan kalimatnya.

“Apa, Hyung?? Apa??? Jelaskan semuanya padaku.” Hyun mengguncang-guncang lengan Jura agak sedikit kasar. Jura mendesah resah. Ia juga mencemaskan hal ini.

“Dari awal kita semua tahu, kita akan terikat dengan kalung-kalung itu begitu kita memakainya. Meskipun para putri menikah dengan kita dan diakui sebagai dewi, bagaimana pun juga mereka tetap manusia biasa pada awalnya. Jika kalung itu sampai terlepas ketika mereka masih berada di dunia manusia, maka mereka akan meninggal. Dan kita.. Kita juga akan terlepas dari tubuh pengganti ini.” Hyun memejamkan matanya. Jura dapat melihat kefrustasian tergambar dengan jelas pada ekspresi wajah Hyun, adiknya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Menikah dengan manusia memang memiliki resiko dan rintangan yang sangat besar. Pada dasarnya, manusia memang tak diizinkan menikah dengan dewa. Itu sebabnya sekarang mereka memilih tubuh pengganti agar setidaknya wujud mereka bisa menyerupai manusia normal.

“Ini rumit, Hyung. Sungguh rumit. Kalung yang kita ciptakan ini ternyata tak selamanya melindungi kita dari bahaya.” Gumam Hyun lirih namun masih bisa terdengar di telinga Jura.

“Ya. Sudah kukatakan, semua memang ada resikonya. Tapi, kita harus tetap memilih.”

@@@

Mui dan Ken masuk ke dalam sebuah minimarket setelah lima belas menit berjalan dari apartemen mereka. Mui dan Ken mengedarkan pandangannya ke sekeliling minimarket itu. Mereka bingung bagaimana cara memulai belanja. Setelah beberapa saat kemudian, pandangan mata Ken terarah pada troly-troly yang berada di dekat meja kasir.

“Ah, aku ingat! Kita harus mendorong benda itu terlebih dahulu.” Mui mengangguk dan mengikuti perkataan Ken. Sepertinya sosok Key yang dulu sangat suka dan ahli dalam hal berbelanja dan memasak. Hm.. Menarik. Batin Ken sambil berjalan mendahului Mui. Ken tersenyum tanpa disadarinya.

Ken berjalan di depan dan berhenti di beberapa tempat. Sekarang di depan rak sayuran. Ia mengambil beberapa jenis sayuran yang menurut kata hatinya harus mereka beli. Setelah itu mereka berjalan lagi dan sampai di tempat bumbu-bumbuan. Ken terus berkutat dengan aktifitas barunya dan Mui hanya bisa terperangah dibuatnya.

“Apakah dia benar-benar berpengalaman dalam hal seperti ini?” gumam Mui lirih mengomentari kelakuan Ken.  Ken dapat mendengarnya. Namun Ken berusaha tak mempedulikan gumaman Mui. “Ken, bisakah kau lebih cepat? Kasihan yang lain yang sedang menunggu kita di apartemen. Mereka bisa mati kelaparan.” Kata Mui menghentikan konsentrasi Key sejenak yang sekarang sedang memilih beberapa snack di hadapannya.

“Ne, ne. Sebentar lagi.” Tanggap Ken. Mui memutar kedua bola matanya. Mui merasa tak suka berlama-lama menemani orang belanja seperti ini. Apa sifat seorang Minho memang seperti ini? Batin Mui.

“Benarkah sifat Minho seperti itu?” tanya Ken tiba-tiba membuat Mui tercenung.

“Musun issuriya (Apa maksudmu)? Kenapa bertanya seperti itu?” tanya Mui sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ken menyeringai.

“Kita memang tak pernah akur, Mui. Dari dulu kita memang seperti ini. Jadi, jika kau merasa tak suka menemaniku berbelanja, bisa saja itu bukan dari sifat asli Minho yang menjadi tubuh penggantimu, melainkan itu adalah sifat aslimu sendiri.” Mui tersentak mendengar kata-kata Ken.

“Apa untungnya kau menuduhku seperti itu?!” Kedua mata Mui berkilat. Mui mulai tampak marah.

“Cih! Lihat, hanya mendengar kata-kata seperti ini saja kau sudah terbawa emosi..” cibir Ken lalu Ken tersenyum sinis ke arah Mui.

“Joa (Baik). Terserah apapun yang kau pikirkan tentangku sekarang. Yang jelas, aku tidak seperti yang kau tuduhkan.” Ken melengos, meninggalkan Mui. Mui mendorong troly dan mengikuti Ken. Ken berhenti di tempat buah-buahan. “Sepertinya, kita memang tak bisa berbaikan layaknya saudara meskipun kita berdua sudah memakai tubuh pengganti seperti ini. Atau, memang sebenarnya Key dan Minho itu juga tidak pernah akur sebelumnya?”

Ken menoleh menatap tajam kedua mata Mui. “Itu bukan urusanku. Tapi memang benar, air dan api memang tidak akan pernah bisa bersatu. Keurchi (Benar, bukan)?” Ken balik bertanya. Mui membuang pandangannya ke arah lain. Kedua tangan Mui terkepal erat.

“Geurae maja (Tentu benar). Kau juga sudah membuktikan ketidakakuran kita dengan mencintai yeoja yang menjadi pengantinku dulu. Kau tentu tak mungkin melupakan hal itu kan?”

DEGH! Ken tersentak.

Mui menatap tajam kedua manik mata Ken. Tatapan Mui seolah menusuknya. Begitupula dengan perkataannya. Ken tak dapat mengelak juga tak dapat memungkirinya. Ken mengambil alih troly dan mendorongnya menuju kasir. Ken mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang beruntungnya sudah ia siapkan ketika di perjalanan tadi. Ia tak punya muka untuk meminta uang pada Mui setelah percakapan tidak mengenakan tadi. Rasa bersalah mulai merayapi setiap ruang dalam hati Ken ketika mereka kembali ke apartemen. Tak ada satupun dari mereka yang mau membuka suara. Terlebih lagi Mui. Bagi Mui, Ken tidak lebih dari seorang pengkhianat.

FLASHBACK

 

Pagi yang cerah untuk Ken. Ken memang selalu bangun pagi hanya untuk berjalan-jalan menikmati suasana pagi dan menghirup bau embun yang menyegarkan paru-parunya di taman Kerajaan Dunia Enam Dewa.

Ken terus melangkah, hingga akhirnya ia sampai di depan sungai kerajaan. Ken tercenung. Ken melihat tubuh sesosok yeoja tergeletak di pinggir sungai itu. Yeoja iTu terlihat tak berdaya. Ken segera menghampiri yeoja itu dan menyingkirkan rambut ikalnya yang basah yang menutupi sebagian wajahnya. Tiba-tiba kelopak mata yeoja itu bergerak perlahan. Hingga akhirnya terbuka sempurna.

“Apakah kau Dewa Air?” tanya yeoja itu lirih. Suaranya juga terdengar parau. Ken mengernyit. “Apakah Dewa Air memang setampan ini?” tanya yeoja itu lagi. Belum sempat Ken menggeleng, yeoja itu kembali pingsan.

“Dingin sekali badannya..” gumam Ken. Ken segera mengangkat tubuh yeoja itu dan membawanya ke dalam istana. Ke dalam sebuah kamar. Ken membaringkan yeoja itu perlahan ke atas tempat tidur. Yeoja itu tampak pucat. Badannya dingin sekali. Dengan kekuatan yang ia miliki, Ken membuat suhu kamar itu menjadi hangat. Dan tanpa menunggu lama, hanbok yang yeoja itu pakai pun kembali kering. Ken tersenyum. Ia mengusap pipi yeoja itu dengan lembut.

“Apakah dia ini benar-benar manusia? Aku baru pernah melihat manusia secantik ini.” Gumam Ken sambil terus memandangi wajah yeoja di hadapannya.

@@@

 

Mui memandangi sebuah guci berukir naga di hadapannya. Air di dalam guci berukir itu memperlihatkan sesuatu yang tampaknya sangat menarik untuk Mui. Mui tersenyum dibuatnya.

“Untuk apa terus diam di sini dan memandangi pengantinmu sendiri dalam bayangan air di guci itu?” Senyuman Mui menghilang. Ia berbalik dan melihat Ken menyeringai untuknya.

“Ada apa kau datang kemari?” tanya Mui tanpa basa-basi. Ken menyunggingkan senyuman liciknya.

“Pengantinmu cantik sekali, Mui.” Kata Ken. Mui mengernyitkan dahinya. Namun, sedetik kemudian wajahnya memerah di balik topengnya. Mui menahan amarah ketika tahu apa yang sedang dipikirkan Ken sekarang. “Bisakah kau memberikannya padaku?” tanya Ken tanpa ada rasa bersalah. “Aku menyukainya.” Setiap kata yang terdengar dari bibir Ken membuat Mui panas dan semakin marah.

“KAU-“ Mui geram. Ia tak melanjutkan perkataannya. Dengan satu gerakan cepat tangan kanannya, pusaran air besar yang menggulung-gululng menerjang tubuh Ken. Ken sigap. Dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi menghindari serangan air Mui. Mui mengerang tertahan. Ken tersenyum licik. Ken membalas serangan Mui dengan kobaran apinya yang besar. Mui berhasil menghindar. Guci itu pun terbakar menjadi sasaran empuk kobaran api Ken. Kini, keduanya sudah menggantung di udara.

“Kau cepat juga, Mui..” kata Ken. Sedetik kemudian, Ken menghujani Mui dengan serangan api yang muncul dari kedua telapak tangannya dengan cepat dan bergantian. Mui terus menghindar dan ketika Ken lengah, serangan air Mui berhasil mengenai tubuh Ken dan Ken terpental hingga tercebur ke dalam sungai. Ken mengerang kesakitan karena tubuhnya terkena air terlalu banyak. Mui turun perlahan dan menapakkan kakinya di atas permukaan air sungai.

“Jung So Ah adalah milikku. Sampai kapanpun ia hanya akan menjadi pengantinku! Kau takkan bisa merebutnya dariku! Meskipun kau adalah saudara kandungku, aku takkan segan-segan lagi untuk melenypkanmu.” Mui menyeringai dan meninggalkan tubuh Ken yang mengapung di atas permukaan sungai.   

 

@@@

 

Beberapa hari setelahnya…

 

“Dewa Api, kenapa kau membawaku kemari? Untuk apa kita ke sungai ini?” tanya So Ah dengan tatapan bingung. Ken melepaskan genggaman tangannya di tangan So Ah dan kedua tangannya menyentuh kedua bahu yeoja itu. “Ayo kita pulang. Jika Mui tahu, Mui akan marah padaku. Aku tidak ingin melihatnya marah. Aku tak ingin ia bersedih karenaku. Aku.. Aku.. Mungkin aku sudah bisa membuka hatiku untuknya. Aku mencintainya.”

“ARRGGGHH!!” So Ah terlonjak. Badannya gemetar melihat Ken yang memandangnya dengan sangat marah. Rahang Ken bergemeletak. Kedua tangan Ken mencengkeram bahu So Ah sangat kuat hingga yeoja itu menangis kesakitan. “Mui Mui Mui!! Aku jenuh mendengarmu terus mengucapkan namanya, Jung So Ah!! Tidakkah bisakah kau sedikit saja melihat hatiku? Aku juga mencintaimu!!” bentak Ken.

“Dewa Api, mianhae. Nan mollayo. Hajiman, aku tak bisa menerimamu. Aku adalah pengantin Mui. Sudah semestinya aku bersama Mui.” Kata So Ah sambil mengenggam liontin kalung kristal berwarna ungu yang menghiasi leher jenjangnya. Kalung itu memendarkan cahaya ungunya. Ken melihat itu. Ken semakin marah dibuatnya.

“Cih, itu kalung pemberian Mui kan? Tentu kau sangat menyukainya. Ingat So Ah, kau hanya pengantin Mui. Kau belum menjadi istrinya. Kalian belum menikah. Bukankah itu tandanya Mui tak serius mencintaimu? Ia tak mencintaimu!!”

PLAK!

Ken menyentuh pipinya perlahan dengan tangan gemetar. Pipinya memerah mendapat tamparan keras dari So Ah. Ken menatap So Ah tajam.

“Jung So Ah.. Kau berani menamparku? Kau berani menampar seorang dewa, huh?!” So Ah hanya bisa menangis. Ia tahu apa yang ia lakukan pada Ken juga tak seharusnya.

“Mianh.. Mianh.. Hajiman, aku yakin Mui sangat mencintaiku. Kami, kami sudah melewatkan malam pertama kami. Itu yang membuatku yakin.” isak So Ah. Ken membelalakan kedua matanya tak percaya. So Ah berbalik dan hendak meninggalkan Ken. Namun…

JLEB! JLEB!

“Arrggh!!” erang So Ah. Kepalanya mendongak karena sakit yang menghujam perutnya begitu dalam. Darah segar mengucur deras dari sana. Ken masih menahan dan memeluk tubuh So Ah dari belakang dengan satu tangannya menggenggam pedang miliknya yang sudah tertancap di perut So Ah.

SRIING!

Ken menarik pedangnya dengan kasar dan tubuh So Ah terjatuh di atas tanah. Tangan kanan dan pedang Ken berlumuran dengan darah. Ken memandang tubuh lemas So Ah dengan nanar.

“Jika kau tak bisa menjadi milikku, maka siapapun pun tak bisa memilikimu!”

“Kau takkan membuatku mati, Ken..” kata So Ah parau. Darah mengalir dari sudut bibirnya. So Ah terbatuk. “Kalung ini akan melindungiku. Kalung ini akan membuatku terus hidup.” Ken tersentak. Ternyata Mui sudah memikirkan keselamatan So Ah sampai sejauh ini.

“Tidak. Kau harus mati! Aku tak rela melihat kalian hidup bersama. Lebih baik harus ada yang mati di antara kalian. Kau harus mati!!” Ken mencabut kalung itu dari leher So Ah dan melemparkannya ke dalam sungai asal. Ken mengangkat tubuh So Ah dan menenggelamkan So Ah ke dalam sungai itu hingga tubuh So Ah tak terlihat lagi. “Aku penasaran bagaimana reaksi Mui jika tahu pengantinnya ini telah mati!!” Ken terkekeh keras dan meninggalkan sungai itu yang airnya terlihat kemerahan karena bercampur dengan darah.

FLASHBACK END

 

Ken memandang langit malam dari atas balkon kamarnya dengan intens. Bintang-bintang dan bulan yang sore tadi Jura ciptakan tampak indah di sana. Ken tersenyum melihatnya. Namun senyumannya seketika memudar.

Peristiwa itu memang sudah lama sekali berlalu. Bahkan jika tadi ketika di minimarket Mui tak mengatakan hal seperti itu, pastinya ia hampir lupa kalau ia pernah mencintai yeoja yang sama dengan yeoja yang dicintai Mui beberapa ratus tahun yang lalu. Dan kesalahan terbesarnya adalah, karena ambisinya untuk dapat menyaingi Mui, dia bahkan tega membunuh yeoja yang dicintainya saat itu.

Sebuah sentuhan hangat Ken rasakan menjalar di salah satu bahunya. Ken menoleh dan melihat Yoo Na tersenyum di balik punggungnya.

“Oh, irreonasseo (Oh, sudah bangun?)” tanya Ken. Yoo Na mengangguk.

“Neo waeyo (Kamu kenapa?)” tanya Yoo Na yang merasa ada kesedihan yang tampak dari sinar kedua mata kucing milik Ken. Ken menunduk dan terdiam. “Malhaebwa (Katakan), Ken..” pinta Yoo Na halus. Ken mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Yoo Na. Ken tersenyum miris.

“Chagiya..” Yoo Na mengangguk dan tersenyum. Menunggu Ken untuk melanjutkan kalimatnya. “Aku.. Aku.. Akulah yang membunuh Jung So Ah saat itu.”

JDEEERRR!!

Yoo Na menutup mulutnya dengan satu tangannya. Yoo Na tidak percaya.

“Itu.. Itu tidak mungkin, Ken. Kau tidak mungkin melakukan itu..” Kedua mata Yoo Na mulai berair. Ken tertunduk. Ia tidak berani menatap mata yang rela menangis untuknya.

“Aku mencintainya. Aku mencintai So Ah. Ya, dia lah pengantin pertama Mui.”

–    END OF AUTHOR’S POV –

 

TBC

 

Gimana? Kaget ngga begitu tahu ternyata Ken adalah penyebab kematian So Ah? Penasaran kelanjutannya? Lalu, siapa yeoja yang berwajah mirip dengan So Ah waktu itu? Apakah dia memang benar So Ah? Tungguin di part selanjutnya ya.. Jangan lupa kritik dan sarannya! ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “My Princess for Me – Part 5”

  1. Hehe.. Mianh, sudah dari sananya aku dapet inspirasi macem gitu. #bows
    Ken yang dulu emang sifatnya arogan, keras, gampang marah, n ngga penah akur sama mui. Jadi ya beginilah ceritanya aku buat.. He..
    Kalo yang lain, kurang pas aja menurutku.

  2. bagus bagus. aku suka jln ceritanya. walaupun rada nyesek trnyata key seorang pembunuh… tp mungkin disitu serunya 🙂

    jd minho gk tau kl so ah dibunuh key? atau sdh tau? wahhh penasarn!
    hahaha jjong mirip kodok? Hahaha bener jg sih. minho mirip alien, jjong kodok, onew kelinci, key kucing, taemin? #kok ngebahas itu?

    cepat lanjut ya thor! fighting!

    1. Nah, itu tujuanku. Bikin key jadi sumber masalahnya. Wkwk.. #author jahat sama key/ken

      udah tau belum ya? kasih tau ngga ya? he.. tunggu next part aja, onkey? 😉

      halah.. aku ngga ikut2an lho.. ^^v kurang minwoo tuh, mirip apa ya? he..

      okeydokey. thanks! ^^

  3. Ya! Baru kali ini aku denger jjong dibilang kayak kodok.. Hahaha..
    Key yg bunuh so ah??
    Next.. Next..

  4. mwoya? Ken ngebunuh so ah?
    Omona.. Ternyata mui ma ken ga akur ya api dengan air tdk akan menyatu. Aku suka ceritanya, ceritanya tambah seru.. Ditunggu lanjutannya..

    1. He-eh. Dia yang bunuh. Sifat asli Ken kan jahat. Tapi semenjak dia pake raga Key, sifat2nya mulai berubah jadi baik. Dam dulu Mui sama Ken emang kaya musuh daripada saudara kandung.
      Oke, thanks udah komen. ^^

    1. Haha, Ken tu aslinya jahat lho. Malah kamu nangis. Kalo Key lha baik. Kan sifat mereka berbanding terbalik.

  5. ooh ohh ohh ternyataaa !! jeng jeng !
    kok Ken tega banget kayak gitu sih…
    ga nyangka banget deh, lah terus , masih penasaran sama cewek yang mirip So Ah yang ketinggalan di Kerajaan 6 Dewa itu eon…

    Dia jahat juga kan yah ? ahaha.. :p
    oya part selanjutnya para putri dikasih dialog yaa, kekeke, kesian bgt satu part ini ga ada dialognya.. hhhaha ._.v

    ditunggu yah eon 😀 fighting ! XD

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s