Soul in Comma

Judul                : [SONGFIC] Soul in Comma

Author             : Aya-chan

Main Cast        : Lee Jinki & Nam Gyu Hee as You

Support cast    : Nam Gyuri as Gyuhee’s sister, Lee Yoon-Ai as Gyuhee’s friend and other

Genre              : Angst, romance, fantasy

Rating              : PG 15-17

Length             : 7 page (oneshoot)

A.N                  : Annyeong ^^. Bawa FF gaje nih, nggak tau kenapa kok kepikiran bikin cerita kayak gini, alurnya juga kayanya kecepetan, karena pas udah bikin bingung mau mengembangkannya. Harap dimaklumi, kritik dan saran ditunggu ya. FF ini pernah juga di post di sini, tapi biar banyak yang baca saya kirim kesini. Kamsahamnidaaa~ readers dan admin yang ngepost :3

Song                : SHINee – Quasimodo

Gaseum gadeuk.han geudae heunjeok
Nareul soomshwigae haeyo
Dal.bit.chae gin bami modu mooldeulmyeon
Hye.eonal su eopneun gidarin da kkeutchi nalkkayo
Gijeokeul bileo mootgo dap.haeyo

 

“Aku tunggu kau di StarChip”. Pesan dari Jinki, baru saja sampai beberapa detik yang lalu. Tangan putih Gyuhee pun tergerak untuk membalas pesan tersebut.

“Aku masih bimbingan, tidak bisa ke sana.. bertemu ditaman saja”. Send.

Dreett… balasan dari Jinki, “Ok! sepulang kamu bimbingan”. Senyum Gyuhee merekah, ia sudah bisa membayangkan seperti apa nanti pertemuannya dengan Jinki. Pasti mereka akan membeli minuman hangat di pinggir jalan, kemudian duduk dipapan jungkat-jungkit sambil mengobrol tentang banyak hal.

Kebersamaan yang sulit untuk dijelaskan secara rinci. Kebersamaan yang mengikat antara Jinki dan Gyuhee. Tak terelakkan, karena mereka berdua saling membutuhkan satu sama lain.

* * *

Oh, geudae mamae datgo shipeun nal malhaji
Mot.hae shirin gooreum dwi.ae garin byeolbitdeul.cheoreom
Saranghae ipsool kkeutae maemdoldeon apeum gobaek modu
Kkeutnae noonmulae heulleo

Gyuhee sedang duduk di bangku taman. Tangannya memegang gelas kertas yang hangatnya menjalar ditangan. Matanya menyisiri taman, mencari sosok Jinki yang mungkin sedang berjalan kearahnya.

“Huft… lama sekali” desah Gyuhee sambil mengamati kotak hijau pastel disampingnya. Dalam kotak itu ada sepasang sepatu Airwalk kelabu dan kertas ucapan selamat ulangtahun yang dibuatnya sendiri. Khusus untuk Jinki.

Sudah pukul 20.40, Gyuhee mulai merasa bosan menunggu. Ia berpikir bahwa Jinki tidak akan datang malam ini. Entah apa alasannya, tapi Gyuhee percaya alasannya pasti masuk akal. Ia sama sekali tidak marah, karena ia sangat mengerti Jinki. Maka ia memutuskan untuk pulang saja. Gadis itu lalu beranjak ke sepedanya dan terletak tidak jauh dari tempatnya duduk sambil menenteng hadiah untuk Jinki. Ia memasah earphone dan mulai beranjak pergi dari taman.

Gyuhee menyusuri jalan yang agak ramai dengan pedagang makanan. Mereka memang mulai membuka kiosnya pada malam hari. Udara yang lumayan dingin menerpa wajahnya.

            Ah, sedikit lagi. Setelah ini menyeberang lalu sampai rumah, gumam Gyuhee dalam hati.

Ia lalu berhenti ditepi zebracross sambil menunggu lampu lalu lintas berubah merah. Seiring dengan itu, gerimis hujan mulai menyentuh bumi.

“Hujan!” Gyuhee khawatir hadiah untuk Jinki basah terkena air hujan. Pasti sangat tidak menyenangkan jika ia memberikan hadiah ini dalam keadaan basah. Sekilas ia melihat lampu lalu lintas telah berubah merah. Segara dikayuhnya pedal sepedanya.

‘TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTT……………..’

‘BUGHH’

‘AKHH’

 

Kejadian itu hanya berlangsung dalam hitungan detik. Tiba-tiba saja Gyuhee terjatuh dari sepedanya, dan tidak bisa melihat apa-apa lagi karena penglihatannya mengabur. Ia hanya merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir didahinya.

* * *

Shimjangae datneun ee hwasaleun
Eejen nae mom gatgaetjyo
Jukeul mankeum neomu apado
Nae mamae bak.hin geudaereul kkeonael su eopnaeyo
Sarangeeraseo nan sarangeeraseo

“Gyuhee-ah!” Jinki memekik girang melihat Gyuhee sedang duduk dibangkunya pagi itu. Hari masih pagi dan tidak ada siapa-siapa selain mereka didalam kelas. Jinki berjalan mendekati Gyuhee sambil tersenyum.

“Kemana kau tadi malam?” tanya Gyuhee langsung. Terkejut, karena langsung menerima pertanyaan lugas itu. Tapi Jinki tidak melihat ada marah sedikitpun dimata Gyuhee yang bening—yang ada malah guratan sendu?.

“Mianhae, teman-teman tidak pulang sampai larut. Aku tidak enak meninggalkan mereka. Kamu marah?” Jinki mencoba mengajukan alasan dengan jujur.

“Ani, sama sekali tidak marah. Ini untukmu. Saengil chukkaehamnida~” Gyuhee tersenyum dan menyerahkan kotak hijau pastel sambil berlalu dari hadapan Jinki.

“Gomawo~ Gyu-ah” ucap Jinki yang mampu menghentikan langkah Gyuhee. Ia kemudian berbalik, dan matanya tepat jatuh ke mata sipit Jinki yang juga sedang menatapnya. Mereka membiarkan perasaan mereka keluar dalam diam. Perasaan hangat yang tak pernah  terucap.

Kau Gyu-ku sampai kapanpun” suara Jinki menbiaskan mantra magis nan manis yang melingkupi mereka. Gyuhee tersenyum mendengar pernyataan itu—sebuah pernyataan cinta terselubung.

“Sampai jumpa, Jinki” Gyuhee berbalik lalu pergi meninggalkan Jinki yang berdiri mematung.

“Yaa! kemana?”. Dikejarnya Gyuhee yang sudah menghilang dari balik pintu. Namun, saat keluar dari kelas, dia tidak dapat menemukan sosok Gyuhee sedikitpun. Gadis itu seolah menghilang begitu saja.

***

Na geudael gatji mot.haedo nae mami
Kkeutnae seulpeun inyeonae byeok apaegaromak.hyeodo
Saranghae barabol suman itneun gosiramyeon
Geudaen nae jeonbunikka

Bel pulang sekolah berbunyi. Dan sampai saat itu Jinki tidak juga bertemu dengan Gyuhee lagi. Bingung. Kemana perginya gadis itu?.

Drett..drett… sebuah nomor tak dikenal memanggilnya.

“Yoboseoyo?” sapa Jinki.

“Jinki, ne~?” tanya suara wanita diseberang sana.

“Ne, nuguya?” Tanya Jinki.

“Lee Yoon Ai imnida, temannya Gyuhee. Jinki-ssi, Gyuhee kecelakaan. Tolong datang ke Kyunghee Hospital, ne” suara diseberang sana terdengar gugup dan khawatir.

“Ne~”. Jinki langsung menutup telpon itu dan berlari menuju motornya. Dia hampir tidak mempercayai apa yang didengarnya. Apakah gadis tadi baru saja berbohong padanya? Bagaimana mungkin Gyuhee bisa kecelakan?. Bukankah tadi pagi ia masih baik-baik saja.

***

Su maneun bam jisae.ooda
Nae noonmul gateun byeol.bit.chi
Meotji anneun biga dwaemyeon
Gieok.haeyo naega saranghaetdan geol

 

Jinki sampai di Kyunghee Hospital dan langsung berlari ke ruang UGD. Namun, ia tidak bisa menemukan Gyuhee disana.

“Eh, suster, apa tadi ada korban kecelakaan bernama Nam Gyuhee?” tanya Jinki pada seorang suster jaga.

“Nam Gyuhee?” suster itu nampak mengingat-ingat. “Ah, ne. Ia kecelakaan tadi malam, sekarang sudah dipindahkan ke ruang ICU lantai 2”. Jinki bingung mendengar pernyataan suster itu. Kecelakaan tadi malam? Apa maksudnya eoh? Akan tetapi, Jinki tidak ingin memperpanjangnya. Dia langsung berlari menuju lift.

Jinki melihat dua orang wanita sedang duduk dikursi tunggu. Mata mereka nampak menatap kosong kearah depan. Jinki mendekati mereka dan menyadari kalau salah satu wanita itu sedang menangis.

“Lee Jinki-ssi?” Yoon-Ai menoleh dan mendapati Jinki sudah ada dihadapannya. Wanita disamping Yoon-Ai juga ikut menoleh sambil menyeka air matanya.

“Nam Gyu Ri imnida, kakaknya Gyuhee. Gyuhee sering cerita tentangmu” wanita di samping Yoon-Ai itu memperkenalkan dirinya pada Jinki sampil mengulurkan tangan. Jinki menyambut uluran tangan itu.

“Ne, Gyu.. Gyuhee ke..napa?” tanya Jinki tergagap.

Yoon-Ai kembali melihat kearah pintu didepannya. Dan saat itu Jinki sadar,  kalau Gyuhee ada didalam sana. Sedang berbaring tak berdaya dengan alat pendeteksi detak jantung dan banyak selang ditubuhnya.

“Ia kecelakaan tadi malam, sepulang dari bimbingan. Waktu itu hujan dan Gyuhee tidak melihat ada pick-up yang melaju kencang. Ia…koma” Yoon-Ai tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.

Kening Jinki agak berkerut, “Tapi, tadi pagi saya bertemu Gyuhee. Ia baik-baik saja. Sehat dan tidak kurang satu apapun”.

“Mana mungkin?” sanggah Yoon-Ai. “Ia tidak sadarkan diri sejak kecelakaan itu!”

Jinki diam saja. Matanya menatapi tubuh Gyuhee, ada luka ditangan dan keningnya. Wajahnya yang dulu putih dengan pipi merona kini memucat. Ada perasaan sakit yang menusuk didada Jinki saat dia melihat kondisi Gyuhee saat ini.

Na geudael gatji mot.haedo nae mami
Kkeutnae eulpeun inyeonae byeok apae
Garomak.hyeodo, geudaereul saranghae
Barabol suman itneun gosiramyeon
Geudaen nae jeonbunikka

* * *

Mentari pagi mengintip dari sela-sela ventilasi Cafetaria Kyunghee Hospital. Jinki dan Gyuri sedang duduk disana. Saling terdiam sambil memegang gelas kertas berisikan teh hangat.

“Noona, percayakah kau pada roh?” tanya Jinki pada Gyuri tiba-tiba.

Gyuri menoleh agak terkejut, “Ne..” jawabnya dengan kening berkerut, “Wae?”.

“Itu benar-benar Gyuhee. Ia datang pagi setelah kecelakaan. Ia memberi saya kado, Noona” Jinki menjelaskan dengan mata menerawang.

“Saya tahu. Gyuhee juga datang pada saya, ia ada diantara mimpi dan alam nyata” sahut Gyuri.

“Tapi saat Gyuhee menemui saya, ia benar-benar ada dialam nyata, Noona”.

“Kata orang, pada orang yang sedang koma, rohnya bisa keluar dari raganya dan berjalan-jalan. Banyak orang yang bisa melewati koma dan hidup kembali. Semoga Gyuhee salah satu yang bisa bertahan” Gyuri berujar lembut sambil tersenyum pada Jinki.

“Berdoalah untuk Gyuhee, itu sudah lebih dari cukup”. Gyuri menepuk pundak Jinki dan berlalu meninggalkannya. Ingin kembali ke ruang rawat Gyuhee, menemani gadis itu.

* * *

“Jinki-ah, iroena!”.

Jinki mendengar suara itu, suara yang lembut dan sangat dikenalnya—suara Gyuhee. Jinki membuka matanya dan mendapati wajah Gyuhee sedang tersenyum padanya.

“Sejak kapan kau disini?” tanyanya sambil terkesiap bangun dari tempat tidur.

“Baru aja. Mau mengantar foto-foto kita yang selesai kucetak” jawab Gyuhee.

“Jjinja? Gomawo Gyu-ah” Jinki tersenyum sambil menatap manik-manik mata Gyuhee yang teduh.

“Jinki-ah,” ucap Gyuhee.

“Mwo?” sahut Jinki tanpa mengalihkan pandangannya. Dan Jinki melihat itu—rona pipi Gyuhee yang memerah.

“Saranghaeyo…” kata Gyuhee lembut sambil memperlihatkan senyumannya yang khas.

Jinki tersenyum. Kata-kata Gyuhee tadi seperti nyanyian yang ingin sekali didengarnya.

“Nado saranghaeyo”. Mereka lalu saling berpelukan. Jinki memejamkan matanya. Ingin meyakinkan dirinya bahwa yang ada dalam pelukannya ini benar-benar Gyuhee, bukan orang lain.

Tok..tok…

Suara ketukan pintu yang keras membuat Jinki harus membuka matanya. Namun, betapa kagetnya dia saat dia membuka mata, bukannya Gyuhee yang didapatinya melainkan dirinya sendiri yang tengah terbaring dibawah selimut.

“Jadi itu cuma mimpi? Mengapa terasa begitu nyata?” tanyanya pada diri sendiri.

Jinki beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Disana telah berdiri Jung ahjumma yang sedang membawa sekeping CD?.

“Jinki-ssi, ini ada titipan dari temannya” kata Jung ahjumma sambil menyerahkan CD itu pada Jinki.

“Dari siapa?” tanya Jinki, berharap mengirimnya adalah Gyuhee.

“Tidak tahu,” kata Jung ahjumma sambil berlalu meninggalkan Jinki yang berdiri bingung.

Jinki menyalakan laptopnya, lalu memasang CD itu di player. Dan benar saja, itu CD berisi foto-fotonya bersama Gyuhee. Jinki semakin bingung dengan keadaan ini. Benarkah diluar sana ada Gyuhee lain selain Gyuhee yang sedang terbaring koma di rumah sakit?.

Jinki bergegas berganti pakaian dan pergi ke Kyunghee Hospital. Dia ingin mengatakan apa yang baru saja terjadi dimimpinya—atau dialam antara mimpi dan nyata—pada Gyuri. Bahwa dia baru saja bertemu Gyuhee kembali.

***

Jinki sampai di rumah sakit dan mendapati Gyuri sedang duduk dikursi tunggu bersama Yoon-Ai. Jinki pun lalu menghampiri mereka.

“Gyuri Noona, Yoon-Ai-ah” sapa Jinki.

Gyuri berdiri dan membimbing Jinki, “Masuklah, ajak Gyuhee bicara”.

“Wae? Gyuhee akan baik-baik saja, ne?” sahut Jinki.

“Ajak ia bicara sebentar saja. Katakan apa yang belum sempat kau katakan saat ia masih sadar”.

Jinki tahu, inilah saatnya dia mengatakannya. Mengatakan kalau dia mencintai Gyuhee, dia ingin bersama Gyuhee, selamanya.

Na geudael gatji mot.haedo nae mami kkeutnae (I need you)
Seulpeun inyeonae byeok apaegaromak.hyeodo
(I am trying dying crying for you, baby)
Saranghae barabol suman itneun gosiramyeon
(Neol saranghae, geudaereul saranghae)
Geudaen nae jeonbunikka

Jinki membuka pintu dan melangkah masuk. Matanya menangkap alat pendeteksi detak jantung yang masih memperlihatkan garis tidak teratur. Jantung Gyuhee masih berdetak, ia masih hidup.

Jinki duduk disamping tempat tidur Gyuhee. Kening Gyuhee masih memperlihatkan luka gores bekas kecelakaan. Masker oksigen agak menutupi bibirnya yang selalu tersenyum lucu pada Jinki. Parasaan sakit menyeruak didada Jinki, membuatnya ingin marah pada diri sendiri. Ya, andai saja dia datang malam itu, andaikan dia mengabaikan teman-temannya, tentu Gyuhee akan berada disampingnya. Bukan dalam keadaan seperti ini, tapi jauh lebih baik dari ini.

Jinki menyentuh satu tangan Gyuhee yang tidak di infus. Jari tangan itu nampak lebih kurus dari saat terakhir Jinki melihatnya.

“Gyu-ah, aku disini. Aku baik-baik saja, kau bagaimana?” Jinki berujar pelan pada Gyuhee. Namun sosok itu tetap diam tak bergeming.

“CD itu darimu, ne? Hanya kamu yang berjanji memberikannya” Jinki menarik nafas dalam.

“Kehadiranmu—entah itu dalam mimpiku atau bukan—sangat berkesan. Aku tahu kau akan baik-baik saja, kau bisa bertahan dan kembali ceria”.

Jinki menatap wajah Gyuhee. Apakah ini mimpi? Sebelah kanan pelipis Gyuhee nampak basah,. Tidak! Gyuhee menangis, Gyuhee tahu dia ada disini.

Jeongmal saranghae, Gyu-ah” Jinki membisikkan kalimat itu ditelinga Gyuhee. Sedetik kemudian, Jinki mendengar bunyi panjang dan monoton. Dia sempat melihat garis lurus panjang yang diperlihatkan alat pendeteksi detak jantung. Gyuhee telah tiada, ia pergi tepat setelah mendengar Jinki mengatakan perasaannya.

Himgyeopji anayo, oh no
Nae geudaera geudaenikka
Apado oolryeodo saranghae

* * *

“Kini aku tahu alasannya datang padaku, ia ingin mengatakan apa yang belum sempat ia katakan saat ia masih sadar. Dan juga, ia mengingatkanku akan cinta kami. Saranghae Gyu-ah”

 

                                                                                                            -Lee Jinki-

 

The end

 

Selesai ^^. Jangan lupa like dan comment ya… annyeong!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

26 thoughts on “Soul in Comma”

  1. Omo mendalem bgt critanya, bgus thor tlsannya rpih enak dibca ^^b ditnggu kryamu slnjutnya! 🙂

  2. dan kini aku tau.. yg dtg menemui jinki adalah roh gyuhee…

    hehehehe

    kereen
    nice
    tp berusaha bgt ini gak netesin air mata.. bukn krna takut btl puasa tp lg males nangis (?)

  3. Ah ~

    Keren deh ceritanya. Serem juga ya kalo ada orang koma yg bisa jalan2 gitu (-_-“)

    Diksinya bagus, suka deh 😀

    Keep writing ^^

  4. wah nice. ini terinspirasinya dari lagu Quasimodo?
    Tapi mianhae yh author, ko ini ceritanya mirip sama film ‘Humming’ yang dimainin sama Han Ji Hye *pemeran utama cewe di drama Pianist, yg main bareng Minho’ ?

    However, nice FF ^^~

    1. alur yg mirip.. Mngkin kesalahan ada d aku krn bikin alur seperti ini.
      Gomawo masukannya, akn aku perbaiki lagi dan aku akn nonton film humming setelah ini.. Hha

  5. Huaaaa sedihhh
    Ternyata gyuhee masih ada buat denger jinki bilang saranghaeyo 😥
    Sedih bangettttt!!!!!
    Keren!

  6. Sebenernya aku pengen nangis, tapi karena ini bulan puasa aku tahan deh, kekeke. Good job thor (y)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s