Love and Destiny – Part 1

Title                : Love and Destiny [PART 1]

Author            : Shirae Mizuka

Length            : Series (2.298 words)/ on going

Rating             : General

Genre              : Romance

Cast                : Choi Minho (SHINee), Lee Jiyoo (OC), Yong Junhyung (B2ST)

Support Cast : Kim Jonghyun (SHINee), Park Hye Na, Victoria Lee (OC)

Disclaimer      : All casts except OC belongs to themselves.

NOTE:

Pernah dipublish di: http://shiraemizuka.wordpress.com/

oo000oo

De’Licious Cake-Shop

De’Licious tampak selalu ramai. Sebuah rumah merangkap café sekaligus cake shop memang tidak pernah terlihat kekurangan pengunjung saat-saat sore begini. Bangunan yang diberi nama De’Licious itu tampak seperti bangunan bergaya etnis kebanyakan dan dimodifikasi jadi semacam café-cake shop yang menyediakan berbagai jenis kue dan minuman. Meja-meja pengunjung kebanyakan diletakkan tersebar di halaman rumah itu yang tampak asri dikelilingi berbagai jenis tanaman dan hanya sebagian kecil yang diletakkan di dalam ruangan. Dan tentu saja meja-meja yang ada di halaman memang lebih diminati pengunjung ketimbang meja-meja yang ada di dalam ruangan karena menyajikan view halaman cake shop yang begitu asri.

Di dalamnya, para waitress di De’Licious, tampak hilir mudik melayani pesanan pengunjung. Kecuali seorang gadis bertubuh mungil, bermuka bulat berisi dan rambut ikal sebahu. Gadis itu terlihat mematung dibalik buffet cake. Matanya terpaku pada satu titik dengan mata bahkan tidak berkedip sama sekali.

“Jiyoo-ah, apa sih yang kau lihat?”

Mendengar namanya dipanggil, seketika gadis itu tersentak kaget.

“Hye Na-ya, kau mengagetkanku!” gerutu gadis itu sebal. Dia benar-benar tak sadar kalau Hye Na─salah seorang teman kerjanya di De’Licious, sudah ada di sampingnya. Dia terlalu serius memperhatikan salah seorang pengunjung setia De’Licious yang tampak duduk di sendirian di sudut ruangan.

Sejak awal saat pertama kali namja itu datang dan memesan sebuah brownies pada Jiyoo beberapa bulan yang lalu, namja itu memang telah menarik perhatiannya.

Jiyoo sering secara tak sengaja melihat namja itu muncul di halaman depan berbagai majalah bisnis. Dan itu wajar karena Junhyung memang seorang pengusaha muda yang sedang naik daun. Hanya saja yang membuat Jiyoo kadang tersenyum sendiri, Junhyung tidak hanya sering muncul di majalah bisnis dengan prestasi kerjanya tetapi ia juga sering muncul di berbagai media massa yang berhubungan dengan dunia showbiz karena hubungan asmaranya dengan banyak artis atau model terkenal. Sudah sangat santer terdengar reputasi namja itu sebagai seorang playboy.

Hanya saja herannya Jiyoo memiliki sudut pandang tersendiri terhadap namja itu. Ada yang sesuatu dalam diri Junhyung yang menarik perhatiannya. Namja itu datang hampir setiap hari ke café itu untuk memesan kue dan di akhir pekan dia selalu menyempatkan diri untuk duduk di salah satu sudut café sambil menikmati secangkir kopi pahit.

Dan satu lagi yang membuat Jiyoo begitu tertarik. Jika banyak pengunjung yang memilih meja-meja yang ada di luar, menikmati pesanan diantara taman De’Licious yang asri, Junhyung justru memilih tempat paling pojok di dalam ruangan dan setiap kali selalu di tempat yang sama.

Junhyung selalu datang sendirian dengan penampilan agak berantakan—kemeja yang tidak dimasukkan tanpa dasi atau jas dan rambut yang acak-acakan seperti baru ditiup angin kencang—suatu hal yang agak sulit dibayangkan untuk seorang pebisnis yang seharusnya mementingkan penampilan.

Melihat Jiyoo kembali larut dalam dunianya sendiri, mau tidak mau Hye Na menjadi terusik, “Yaa! Apa sih yang kau lihat?!” seru gadis itu antara kesal dan penasaran.

Jiyoo kembali tersentak dan buru-buru mengalihkan perhatiannya dari Junhyung. Gadis mungil  itu kontan nyengir salah tingkah.

“Sedang melihat namja ganteng.” tanggapnya sambil mengedipkan mata. Senyuman lebar menghiasi bibirnya.

“Maksudmu namja yang di sudut itu?” tukas Hye Na sambil menunjuk Junhyung dengan dagunya.

Jiyoo mengangguk cepat dan menatap Hye Na dengan tatapan penuh harapan Hye Na akan memberi komentar yang bagus tentang Junhyung.

Andwae. Sebaiknya tidak. Kalau yang itu sih, lebih baik lupakan saja. Kelasnya beda dengan pelayan cake shop seperti kita. Coba kau lihat ini… Phalli..” Hye Na beranjak untuk meraih salah satu majalah yang tertumpuk di sudut cafe dan kemudian meyodorkan majalah itu kepada Jiyoo. Di sampul depannya ada tampang Junhyung yang rupawan dengan dandanan ala businessman-nya. “Tempo hari Eun Mi sempat tertarik juga pada namja itu, tapi begitu dia melihat majalah ini, dia langsung pasrah. Gadis idaman namja itu gadis kelas atas, yang high class, bukan pelayan café seperti kita.”

Sesaat Jiyoo terpaku, namun kemudian ia justru memasang raut tak peduli. “Anieyo. Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini? Kau pernah mendengar tentang kisah Cinderella, bukan?” tanggap Jiyoo cuek.

“Itu cuma dongeng. Jarang terjadi di dunia nyata. Dan lagipula kalaupun nanti namja itu bisa suka padamu, kau jamin keluarganya akan menerimamu?” balas Hye Na. Gadis itu terlihat tidak mau kalah.

Sepasang alis Jiyoo langsung bertaut. Sekilas dia dapat melihat kesedihan di wajah Hye Na diantara ekspresinya yang menggebu-gebu. Namun Jiyoo memilih untuk mengabaikannya.

Yaa! Hye Na-ya… kita lihat nanti saja. Yang penting usaha dulu. Fighting!!?” seru Jiyoo bersemangat.

“Kalau kita sudah tau hasilnya sebelum mencoba, apa gunanya mencoba?” protes Hye Na. Ia terlihat masih belum bisa menerima.

Dahi Jiyoo kontan jadi keriting. “Hei, kenapa jadi emosi begitu, Hye Na?” tanya Jiyoo bingung melihat reaksi salah satu orang yang sudah dianggapnya sebagai sahabat itu.

“Hmm… Ani. Aku tidak emosi.” tanggap Hye Na gelagapan. “Pokoknya kau jangan terlalu berharap pada namja itu. Lagipula aku dengar, dia adalah tipe namja yang punya banyak koleksi yeoja juga… Nanti kau hanya akan dipermainkannya.”

“Terserah orang mau mengatakan apapun tentangnya. Jika dia emang tipe namja seperti itu, pasti ia sudah membawa salah seorang yeoja yang pernah menjadi kekasihnya kesini, kan? Tapi kenyataannya tidak pernah.”

Sebenarnya Hye Na masih ingin melanjutkan perdebatan itu. Mulutnya sudah setengah terbuka bersiap membalas argumen Jiyoo ketika tiba-tiba saja ekor matanya menangkap sosok bos mereka. Wanita separuh baya itu tengah memelototi mereka berdua. Sial sekali, ia dan Jiyoo kedapatan mengobrol saat jam kerja.

Yaa! Ah, chinca!! Kalian ini benar-benar…. Atau kalian sudah bosan bekerja di sini?” seru bos mereka geram.

Ani!! Ani!!” tanggap Hye Na dan Jiyoo berbarengan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Keduanya langung bubar dan pura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

oo000oo

Jiyoo dan Hye Na sudah bersiap-siap untuk menutup De’Licious saat seorang wanita yang masih tampak begitu anggun dan cantik—meskipun mereka yakin kalau wanita itu pasti sudah tidak muda lagi. Dengan cepat kedatangan wanita itu menarik perhatian  keduanya, karena wanita itu datang bersama dua orang pria bertubuh besar yang terlihat seperti seorang bodyguard. Tentu saja hal itu membuat Jiyoo dan Hye Na menjadi bergidik ngeri. Terlebih saat itu mereka hanya berdua. Para pegawai cake shop yang lain telah pulang terlebih dahulu. Di De’Licious memang berlaku peraturan tugas piket menutup dan membuka café, kebetulan yang piket untuk minggu ini adalah Hye Na dan Jiyoo.

Annyeonghaseo, ahjummanimMianhae… kami sudah tutup untuk hari ini. Kalau Anda mau, silakan datang lagi besok pagi. Kami buka dari jam…” Meski ia agak was-was dengan kehadiran wanita itu bersama bodyguard-nya, Jiyoo mencoba untuk tetap bersikap seramah mungkin.

“Kau gadis yang bernama Hye Na?” tanya wanita itu tanpa membiarkan Jiyoo menyelesaikan kalimatnya. Nada bicaranya dingin dan mengintimidasi.

Jiyoo hanya menggeleng pelan. Sekarang dia baru sadar ternyata ahjumma itu lebih menakutkan lagi dibandingkan dua ahjussi yang menjadi bodyguard-nya. Kalau dilihat-lihat ahjumma itu jadi kelihatan mirip eomma-nya Goo Joon Pyo yang siap menggencet Geum Jan Di agar mau menjauhi anaknya di serial Boys Before Flower. Jiyoo nyaris terkikik sendiri ketika membandingkan ahjumma itu dengan eomma-nya Goo Joon Pyo.

“Berarti…. kau orangnya?!” Pandangan ahjumma itu beralih pada Hye Na yang masih tampak bingung.

Nee, ahjummanim, Naneun Hye Na imnida. Annyeongshimnika.” ujar Hye Na sesopan mungkin saat sadar ahjumma itu melihatnya bolak-balik dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan cara yang ganjil.

“Aku tidak melihat ada yang istimewa di diri seorang pelayan café sepertimu.” desis ahjumma itu tajam.

Jiyoo tercengang. Apa sih maksud ahjumma itu bicara tajam begitu pada Hye Na? Ia tidak menyangka wanita yang tak mereka kenal itu akan bicara sekasar itu pada Hye Na. Dan Jiyoo yakin, Hye Na pasti sama tercengangnya.

“A… Apa maksud anda, ahjumma-nim?” Hye Na sampai tergagap menanggapi ucapan wanita itu.

“Aku juga tidak mengerti apa yang dilihat oleh anakku sampai dia tergila-gila pada seorang yeoja sepertimu. Jujur saja, aku tidak mungkin bisa menerimamu untuk Choi Minho, anakku. Kau harus tahu, Minho sudah disiapkan sebagai penerus kerajaan bisnis keluarga Choi. Dia harus mencari yeoja yang pantas mendampinginya dan jelas bukan kau orangnya. Jadi… bisakah kau menjauh dari Minho, Hye Na ssi?”

Jiyoo menjadi lebih tercengang lagi. Choi Minho?! Siapa itu Choi Minho?! Kenapa Hye Na tidak pernah bercerita padanya? Dan ternyata yang lebih mengejutkan lagi, ahjumma itu rupanya benar-benar punya peran yang sama dengan ibunya Goo Joon Pyo. Jiyoo jadi benar-benar serasa sedang nonton serial Boys Before Flower betulan.

Meski Hye Na tidak pernah bercerita padanya tentang siapa itu Choi Minho, ia sangat berharap Hye Na tidak tinggal diam. Hye Na harus melawan nenek lampir sombong itu.

Beberapa saat berlalu, pada kenyataannya ternyata Hye Na hanya diam saja dan justru menundukkan wajahnya dalam-dalam. Jiyoo menjadi kesal melihat tingkah Jiyoo yang hanya pasrah begitu saja.

Mianhae ahjumma-nim, kalau aku ikut campur, tapi bisakah anda sedikit saja menjaga ucapan anda?” Jiyoo akhirnya angkat bicara. Ia tak peduli kalau kesannya ia menjadi terlihat ikut campur.

Ahjumma itu malah memandang Jiyoo dengan tatapan meremehkan.

“Aku sarankan lebih baik kau tidak usah ikut campur, Nona.” desis ahjumma itu, pelan tapi menyakitkan.

Jiyoo terpaksa diam. Namun gadis itu memasang tampang cemberut berat dan mulutnya komat-kamit mengutuki nenek lampir itu. Sayang sekali, wanita itu sepertinya justru sama sekali tak merasa terusik. Wanita itu kembali fokus pada Hye Na

“Hye Na ssi, kau dan temanmu itu pasti berpikir aku sangat jahat, tapi aku tidak sejahat yang kalian pikirkan. Aku tidak akan meminta kau menjauhi Minho dengan gratis. Silakan minta berapapun yang kau mau.”

Hye Na kontan mengangkat kepalanya kaget. Tapi nenek lampir itu malah tersenyum puas seolah-olah dengan uangnya itu dia memang dapat membeli segalanya.

Ahjumma-nim, anda pikir anda bisa bersikap seenaknya mentang-mentang ahjumma adalah orang kaya?” protes Jiyoo. Lagi-lagi gadis itu tidak sadar telah ikut campur.

Nenek lampir itu kembali menatap Jiyoo dengan alis bertaut.

“Nyalimu lumayan juga, tapi sudah aku sarankan lebih baik kau jangan ikut campur. Biar Nona Hye Na sendiri yang memutuskan…” Ahjumma itu kembali menatap Hye Na.

Hye Na lama terdiam. Jiyoo dapat melihat Hye Na sangat sulit untuk mengambil keputusan. Sepertinya Hye Na sangat mencintai laki-laki yang bernama Minho itu.

Namun akhirnya, Hye Na membuka mulutnya juga, “Ne, aku akan mengikuti keinginan anda.” tanggap Hye Na berat.

Jiyoo terperangah tak menyangka Hye Na akan menyerah begitu. Sementara wanita itu tersenyum puas.

“Baguslah, aku tidak menyangka akan semudah ini.” serunya itu begitu gembira. Dia kemudian memberikan selembar kartu nama pada Hye Na. “Hubungi aku kalau kau sudah memutuskan jumlah yang akan kau minta.” lanjutnya sebelum akhirnya keluar dari café itu disusul kedua bodyguard-nya.

oo000oo

Choi Coorporation

Author POV

Minho menatap layar ponselnya dengan gelisah. Dia duduk tidak tenang dibalik meja kerjanya. Sudah beberapa hari ini Hye Na tidak menghubunginya. Terakhir kali gadis itu menghubunginya adalah saat gadis itu mengirim pesan singkat untuk mengakhiri hubungan mereka. Jelas Minho tidak bisa terima keputusan sepihak itu, tapi saat Minho mencoba menghubungi Hye Na kembali, nomor gadis itu tidak pernah bisa dihubungi lagi.

Minho kemudian menekan tombol interkom yang ada di mejanya. Interkom itu terhubung dengan ruangan sekretarisnya.

“Ah Yeon ssi, suruh Jonghyun ke ruanganku.” pinta namja itu.

Lelaki yang dipanggil Jonghyun oleh Minho itu, masuk ke ruangannya beberapa saat kemudian. Seperti biasa, asisten pribadi yang meskipun baru seumuran dengan Minho, namun selalu bisa diandalkan itu, masuk dengan menenteng sebuah agenda di tangannya. Agenda itu berisi apa saja yang perlu dicatat mengenai kegiatan-kegiatan yang akan Minho lakukan. Singkatnya, Jonghyun memang seolah telah menjadi agenda berjalan bagi Minho.

“Ada yang bisa aku bantu, Minho-ssi?” tawar Jonghyun tanpa embel-embel sebuah pangilan untuk atasan. Minho memang sudah menginjinkan asisten pribadinya itu untuk memanggilnya tanpa embel-embel apapun. Toh, Diluar urusan pekerjaan, ia dan Jonghyun adalah sahabat.

“Sore nanti apa ada jadwalku yang kosong?” tanya Minho.

Jonghyun segera membuka agenda yang sedari tadi ditentengnya, “Emph, ani. Sore ini kau ada rapat penting dengan Mr. Yamada dari Jepang.” tanggap Jonghyun.

“Bagaimana dengan besok?”

Jonghyun kembali memeriksa agendanya, “Untuk seminggu ke depan, tidak ada jadwalmu yang kosong. Minggu-minggu ini jadwalmu sangat padat.”

Minho kontan mendesah berat. Dia tahu ada banyak hal yang harus dia bicarakan dengan Hye Na saat ini tentang kelanjutan hubungan mereka. Tapi entah kenapa sekarang semuanya jadi semakin sulit. Hye Na memang seringkali merasa tidak tenang dengan perbedaan status sosial yang terlalu mencolok diantara mereka meski Minho sudah berulang kali meyakinkan gadis itu bahwa hal itu tak pernah menjadi masalah baginya. Namun kini Minho sadar, semakin lama Hye Na semakin tidak nyaman dengan perbedaan mereka dan mungkin itulah alasan gadis itu mendadak meminta hubungan mereka untuk diakhiri.

“Ya sudah, kau boleh keluar Jonghyun-ssi.”

Jonghyun mengangguk kecil. Tanpa banyak bicara ia menuruti apa yang Minho perintahkan. Beberapa tahun bekerja bersama dan bersahabat dengan Minho, membuatnya bisa memahami namja itu luar dalam. Ia pun berbalik dan segera meninggalkan ruangan itu. Namun  ketika baru menyentuh gagang pintu, ia kembali berbalik, “Hmm… sekedar mengingatkanmu, apa kau sudah memeriksa amplop yang tadi pagi?” tanyanya.

Minho mengerutkan alis. Mendadak ia ingat dengan sebuah amplop coklat yang diletakkan oleh Jonghyun di mejanya tadi pagi. Ia sama sekali belum memeriksa isinya meski Jonghyun sudah mengingatkannya untuk segera memeriksa isi amplop itu karena eomma-nya lah yang menitipkan amplop itu. Buru-buru, namja itu langsung memeriksa amplop yang telah tertumpuk bersama berkas-berkas lain.  Dahi Minho kontan berkerut-kerut heran begitu melihat isinya. Ada foto seorang gadis beserta data diri lengkap gadis itu.

Victoria Lee.

Tak lama kemudian Minho tersenyum kecut. Nama gadis itu sudah tidak asing di telinganya. Gadis itu pastilah putri keluarga Lee, pemilik perusahaan besar Group Lee Company.  Perusahaan Minho sudah lama bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Lee itu dan orangtua Minho juga berteman baik dengan pasangan suami istri Lee. Jadi kalau sampai eomma-nya mengirimi foto putri keluarga Lee begini, maka kurang lebih Minho sudah dapat menangkap apa tujuannya.

“Mereka ingin menjodohkanku dengan dengan gadis ini. Bukan begitu?!” tanya Minho dingin. Senyuman miris tersungging di bibirnya.

Jonghyun tidak menjawab pertanyaan atasannya yang sepertinya terdengar retoris itu. Dia hanya mengangkat bahu samar. Sementara Minho justru melepas tawa pahit. Eomma-nya memang sangat tahu cara agar Minho tidak bisa mengelak. Bisa dikatakan kalau Group Lee adalah relasi paling penting bagi Choi Coorporation. dan sudah bisa ditebak apa akibatnya kalau Minho berani menolak perjodohan itu terhadap jalannya bisnis keluarga Choi. Minho hanya tak menyangka eomma-nya nekat mengambil resiko begitu besar dan sangat yakin Minho tidak akan menolak perjodohan itu.

-to be continue-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “Love and Destiny – Part 1”

  1. Whoaaa Minho jadi Goo Jun Pyo kekekey
    HyeNa nglarang Jiyoo suka ma Junhyung krna takut nasib Jiyo jd kyak dia…
    kasian HyeNa, Eommanya Minho jhat bgt…,,
    A-yo lanjut..,,:D

  2. Kesannya kayak baca another BBF story nih… HyeNa nya lebih pasrah tapi hehe^^V Penasaran entar Victoria suka apa enggak dijodohin ama mino nantinya… Bakalan ada cinta segi berapa ya? ato gag ada segi2 nya? Ah, pokoknya next chap ditunggu, thor…

  3. Kayak nya banyak bgt deh cinta bersegi di sini?,,pantas aja HyeNa nglarang jiyoo jatuh cinta ke junhyung gara2 di takut nasib nya sama kayak dia,tpi Hye Na kok pasrah bgt ya,penasaran nih lanjut thor,next.

  4. ehehehe baru nemu(?) ff ini, ceritanya seru~ aku suka ceritanya kkkk eomma-nya minho kaya eomma-nya goo jun pyo. Lanjut eonnie …. Part 2-nya mei tunggu kkk

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s