A Ghost Inside Me – Part 5

 

Title :           A Ghost Inside Me  Part 5

Author :             Park Ara

Main Cast :       Choi Minho, Hwang Su Ji, Key, Jung Cheon Sa

Support Cast :  Kim Jonghyun, Lee Jinki, Hwang Dong Joon (Su Ji-Appa), Geum Jin Ah (Su Ji-   

                            Eomma), dan     masih terus bertambah…

Length :             Sequel

Genre :              Fantasy, Friendship, Romance

Rating :              PG 15

Wohooo….~ jeongmal mianhae readers yang udah nunggu lama!! >,<

Karena author sibuk banget ngatur jadwal sekolah dan yang lain… T.T #wkwkwk sok sibuk!

Keurae, gak usah banyak ba-bi-bu, lanjut aja yuk ke part ini, semoga gak lupa ya sama

ceritanya. Khamsahae! =D

“Ah… Jonghyun oppa,” ucap Cheon Sa noona sambil menyeka air matanya. Lalu aku melihat namja yang kalau tidak salah bernama Jonghyun itu mendekat ke arah kami berdua dan duduk di sisi Cheon Sa noona.

Perasaanku mulai tidak enak. Apa mungkin… Ah, tidak. Cheon Sa noona bukanlah yeoja seperti itu. Meskipun aku tidak melarangnya mempunyai kekasih lain setelah aku meninggal, tapi tidak mungkin Cheon Sa noona menemukan penggantiku secepat ini.

“Su Ji-ssi, dia Kim Jonghyun oppa… tunanganku dan… calon suamiku.”

Deg, tunangan? Calon suami? Apakah pendengaranku telah rusak? Apakah aku sedang bermimpi? Namja yang sekarang menatapku sambil tersenyum ini, yang duduk sambil merangkul pundak Cheon Sa noona, adalah calon suaminya? Ya Tuhan… apa yang harus kulakukan? Apa aku harus marah? Tidak, aku tidak bisa marah karena mereka akan curiga. Lalu apa? Tidak adakah yang bisa kulakukan selain diam?

“Annyeong haseyo, Kim Jonghyun imnida…” ucap namja itu sambil membungkuk sedikit.

Dengan sisa kesadaran yang kumiliki, aku pun ikut membungkukkan badan. “C… Choi Su Ji imnida,” balasku tanpa menatapnya. Perasaanku begitu terluka dan aku sangat kecewa. “Ka… kapan kalian melakukan pertunangan?” tanyaku memberanikan diri. Apa noona telah bertunangan selama masih menjadi kekasihku? Jadi dia telah berselingkuh di belakangku?

“Satu bulan yang lalu,” jawab Jonghyun dengan percaya diri. Ia pun menatap Cheon Sa noona dengan tatapan penuh arti. Sungguh, aku sangat ingin membunuhnya saat ini juga.

“Ah… chukae,” kataku terpaksa. Aku menatap Cheon Sa noona. Wajahnya nampak begitu merasa bersalah ketika menatapku. Ya, memang seharusnya ia begitu. “Lalu, kapan kalian akan menikah?”

“Ka…”

“Awal musim gugur nanti,” jawab Jonghyun menyela kata-kata Cheon Sa noona.

Bagus, hatiku semakin di buat hancur saat itu juga. Lakukanlah, lakukan saja kalau kalian menginginkannya. Katakan semuanya. Kalau perlu dimana kalian menikah, bagaimana dekorasi tempatnya, seperti apa cincin pasangan kalian, dimana kalian akan berbulan madu… Katakan, katakan semuanya!

“Ah, Su Ji-ya apa kau mau kue? Aku baru membuatnya tadi,” tawar Cheon Sa noona seolah berusaha mencairkan suasana.

Aku tersenyum kecut. “Tidak usah unni, aku mau pulang. Eommaku sudah menunggu di rumah,” jawabku dengan berpura-pura tersenyum seceria mungkin. Namun dalam hatiku, aku sangat membencimu noona. Aku kecewa padamu, ternyata selama ini kau berselingkuh di belakangku. Kau sangat menyebalkan noona! Aku tidak akan pernah mencarimu lagi!

Choi Minho POV’s END

“Kau kenapa lagi huh?” tanya Su Ji heran melihat perubahan sikap Minho yang telah jauh berbeda dari tadi pagi.

Minho duduk di kursi berbentuk bola basket yang ada di kamar Su Ji. Ia menghempaskan nafas beratnya sambil menunduk. “Cheon Sa noona, dia sudah memiliki calon suami…” akunya kesal.

“Mwo? Calon suami? Katamu dia kekasihmu, kenapa dia bisa punya calon suami selain kau?” kata Su Ji heran.

“Aku juga merasa begitu. Entahlah… mungkin ia telah berselingkuh di belakangku..”

Su Ji mengigit es krimnya dahulu sebelum menjawab lagi. “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Mungkin ia memang orang yang seperti itu tanpa kau tahu. Lagipula, kau lega kan? Itu berarti kau bisa meninggalkannya dengan tenang.”

“Tenang? Bagaimana aku bisa tenang? Apa nanti aku harus pergi ke surga dengan membawa kebencianku?” bentak Minho tiba-tiba.

Su Ji terkejut. Tidak biasanya Minho seperti ini. Apa yeoja yang bernama Cheon Sa itu sangat berarti baginya? “Keu… Keurae, sebaiknya kau tenangkan dirimu dulu. Ara?” saran Su Ji. Ia pun berjalan ke luar kamar, meninggalkan Minho seorang diri. Ya terkadang ia memang merasa heran dengan Minho. Ia sudah meninggal tapi sifatnya masih sama seperti ketika ia masih hidup. Entahlah… apa itu dampak dari meninggal karena terpaksa?

“Oh?” gumam Su Ji ketika melihat es krimnya sudah habis. Su Ji menggembukkan pipinya, ia masih ingin makan es krim. Akhirnya ia berjalan keluar dan memutuskan untuk membeli es krim lebih banyak lagi.

Su Ji melangkahkan kedua kaki langsingnya dengan santai di sepanjang jalan pertokoan. Aissh, suasana hari ini begitu panas sehingga ia ingin makan es krim sepuasnya. Su Ji tersenyum sendiri, membayangkannya saja sudah membuatnya ingin cepat-cepat sampai di minimarket dan membeli banyak es krim.

Bunyi lonceng kecil langsung terdengar ketika Su Ji membuka pintu kaca sebuah minimarket. Ia melihat ke sekelilingnya. Kemudian matanya langsung tertuju pada sebuah box es besar di sudut ruangan. Su Ji tersenyum lebar. Bak anak anjing yang sedang kelaparan, ia pun langsung berlari menuju box itu.

“Wah…” gumamnya sambil menggeser penutupnya. Ia menempelkan telunjuknya ke dagu, memilih rasa-rasa es krim yang ada di dalam sana.

“Su Ji-ya?”

Su Ji pun menoleh dan matanya langsung membesar saat ia melihat seorang namja yang sedang tersenyum ramah padanya. Sial, kenapa ia harus bertemu dengan Key disini? Apa yang harus dilakukannya?

“Annyeong haseyo,” sapa Key sambil tersenyum lebar, memamerkan barisan giginya yang putih dan rapi. Kecuali Su Ji, setiap yeoja yang melihat senyuman itu pasti sudah jatuh meleleh.

Su Ji terdiam sejenak sebelum akhirnya ia memaksakan sebuah senyum tipis. Damn, ia sungguh merutuk nasibnya kali ini. Sebenarnya kalau bukan karena Minho yang menjadi sok ramah pada Key, mungkin ia akan lebih mudah menghadapi Key. Tapi sayangnya, ia tak bisa melakukan itu karena ia tidak mau membuat Key curiga.

“Kau membeli es krim?” tanya Key sambil melongok ke box es krim itu. “Kau suka es krim juga?”

Su Ji menjadi salah tingkah. Kenapa ia menjadi aneh seperti ini? Entahlah, ia pun mengambil beberapa bungkus es krim dan membawanya ke kasir. Pergi meninggalkan minimarket secepat mungkin adalah jalan terbaik!

“Semuanya 4000 won,” kata seorang yeoja penjaga kasir setelah menghitung semuanya dengan alat khusus.

Su Ji mengangguk singkat lalu segera mencari uang dari saku celana jinsnya. Tiba-tiba Su Ji membelalakkan matanya. Kenapa sakunya kosong? Setahunya tadi masih ada uang kembalian ketika ia memberli es krim yang pertama? Kenapa tidak ada?

“Apa kau baik-baik saja aghassi?” tanya yeoja penjaga kasir itu mencurigai sikap aneh Su Ji.

“Ah… aku sedang mencari uangku. Sebentar ya,” jawab Su Ji terbata-bata. Sial, nasibnya kali ini begitu jelek. Sudah bertemu dengan namja menyebalkan itu, memalukan diri di minimarket lagi!

“Mm, tapi bisakah aku menghitung belanjaan tuan ini dulu?”

“Ne?” Su Ji pun menoleh ke belakang dan… Gosh! Key tepat di belakangnya yang sedang membawa belanjaannya. “Oh, ne…” jawabnya kemudian dengan muka merah padam. Ia sungguh merutuk semua ini.

“Biar aku yang membayar semua belanjaan yeoja ini,” ujar Key pada yeoja penjaga kasir.

Su Ji langsung menatap namja di belakangnya itu. Ia tidak pernah suka membiarkan orang lain mengeluarkan uang padanya tanpa alasan. “Tidak usah. Aku bisa mengambil uang di rumahku. Rumahku tidak jauh dari sini.”

“Sudahlah, aku hanya ingin membantumu,” balas Key dengan senyum lembutnya yang sangat memuakkan bagi Su Ji itu. “Ini,” Key memberikan kantong plastik yang berisi es krim-es krim Su Ji.

Su Ji masih menatap Key dengan garang. Ia merasa sangat dilecehkan secara ekonomi. Ia tak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya. “Untukmu saja. Bukankah kau yang membayarnya?” jawab Su Ji lalu segera pergi meninggalkan tempat itu tanpa berkata-kata lagi.

Key terkejut dengan sikap Su Ji. Kenapa yeoja itu berbeda sekali dengan kemarin? Kenapa sekarang Su Ji berubah angkuh lagi seperti saat pertama kali mereka bertemu. Hwang Su Ji, yeoja itu begitu sulit untuk dimengerti.

“Cih, dasar yeoja yang angkuh!” cibir yeoja penjaga kasir kesal.

“Aissh!” Su Ji menendang sebuah kaleng minuman di depannya dengan kesal. Ia tak pernah membayangkan hal seperti ini bisa terjadi padanya. Huft, sungguh ia sangat membenci namja itu! Dan ia bertekad, tak akan mau berbicara dengannya sepatah katapun!

“YA! Kenapa kau menendang-nendang kaleng seperti itu huh?”

“Apa urusanmu huh?!” balas Su Ji membentak. Ia tahu yang berbicara dengannya saat ini adalah Minho.

“Bukan itu, masalahnya seorang anak di sana menangis karena kaleng yang kau tendang tadi mengenai kepalanya…” beritahu Minho dengan wajah cemas.

Su Ji membelalakkan matanya. Lalu ia melihat ke depan. “Aigo…” keluhnya melengos. “Ottohke?” tanya Su Ji pada Minho. Sedangkan yang ditanya hanya mengangkat bahunya. “Aisssh!!” desis Su Ji kesal. Lalu ia pun segera berlari menjauhi jalan itu. Minho mengejarnya.

“Kenapa kau berlari?” tanyanya sambil mensejajarkan langkahnya dengan Su Ji. Su Ji tak menjawabnya. “Kenapa kau malah melarikan diri? Kau tidak mau minta maaf?”

“Untuk apa minta maaf? Dia kan anak kecil,” jawab Su Ji acuh tak acuh.

“Lalu kau hanya minta maaf pada orang yang lebih tua darimu saja?”

Su Ji menghentikan langkahnya tiba-tiba. Kenapa Minho membuatnya kesal juga? Apa dia tidak punya kerjaan lain selain mengganggunya? “Kenapa kau selalu mengikutiku? Ada apa denganmu? Apa kau tidak bahagia di surga? Seharusnya kau sudah tenang dan jangan mengganggu kehidupan manusia lagi!” bentaknya bertubi-tubi.

Minho terkejut. Ia benar-benar tidak tahu apa yang menyebabkan Su Ji marah-marah tidak jelas seperti ini. “Kau kenapa?”

“Seharusnya, aku tidak bertemu denganmu Choi Minho. Seharusnya aku tidak pergi menggunakan bus itu. Semua ini salah, semua ini bukan takdirkukan? Benarkan?”

“Su Ji-ya…”

Su Ji menundukkan kepalanya. Sekali lagi ia merasa salah mengeluarkan kata-kata. Entahlah, tapi ia selalu kesulitan mengontrol emosinya. Seharusnya ia tak melimpahkan kekesalannya pada Minho. Namja ini sama sekali tidak tahu apa-apa. Tapi kenapa ia malah… aissh! “Minho-ya…”

“Ne?”

“Bisakah kau menunjukkan padaku, seberapa berharganya separuh nyawamu itu?”

Minho tertegun. Ia menatap Su Ji dengan tatapannya yang lembut. Kenapa Su Ji menanyakan hal itu? Apa yang telah mengganggunya?

Su Ji mengikuti Minho dari belakang. Ia semakin menyesali kata-katanya sendiri. Seharusnya ia tidak usah sok kuat dengan menanyakan hal seperti itu. Lihat apa yang terjadi sekarang? Minho akan membawanya ke suatu tempat yang Su Ji sendiri tidak tahu apa itu. Bagaimana kalau… aissh, dasar bodoh!

“Berhenti disini,” suruh Minho menyetop Su Ji.

Su Ji mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu. Pemakaman? Kenapa Minho membawanya kesini? Apa yang akan diperlihatkannya? “Ya, kenapa kau membawaku kesini?” tanya Su Ji pelan.

Minho menoleh ke belakang sekilas. Kemudian ia menunjuk ke sebuah makam. “Itu adalah makamku…”

Su Ji membelalakkan matanya. Lalu ia mengikuti arah jari telunjuk Minho. Sebuah makam yang dipenuhi dengan buket-buket bunga. Su Ji termangu. Ia baru tahu ternyata banyak sekali orang yang menyayangi Minho. Keurae, Minho memang begitu disayangi dan semua orang menangisi kepergiannya. Sedangkan Su Ji merasa kalau ia begitu tak berguna. Meskipun ia mati, mungkin hanya kedua orang tuanya yang akan menangisi jasadnya. Ya, siapa yang akan merasa kehilangan kalau ia tak ada? Bahkan mungkin tak ada yang menyadarinya.

Tak lama kemudian, Su Ji melihat seorang namja dan yeoja mendatangi makam Minho. Su Ji memperhatikan dua orang itu dengan seksama. Mereka menangis di depan makam itu dan menaruh sebuket bunga lili putih.

“Mereka adalah temanku saat SMP. Tidak terlalu dekat sih… tapi karena aku pernah membantunya menghadapi ujian akhir, dia menjadi begitu menghargaiku,” terang Minho sambil menatap kedua orang itu.

Su Ji menghembuskan nafas pelan. Ia merasa sudah menemukan jawabannya. “Cukup Minho. Aku sudah tahu…” ucapnya sambil menunduk. “Ayo pulang,” ajak Su Ji sambil berjalan mendahului Minho.

“Ya, masih banyak yang akan datang, ara?” seru Minho namun Su Ji tidak mempedulikannya. “Aigo… apa yeoja itu minder karena dia tidak punya teman? Aissh…”

Su Ji berjalan bersisihan dengan Minho di sepanjang trotoar jalan. Sore begitu cerah dengan sinar matahari yang bersinar tipis. Tapi walaupun begitu Su Ji selalu menutupi wajah dengan telapak tangannya karena merasa kepanasan. Minho menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu ia berlarian kecil menyusul Su Ji yang telah mendahuluinya dan memayungi Su Ji dengan dua telapak tangannya.

Su Ji terkejut saat melihat Minho melindunginya dari panas matahari. Ia merasa sedikit canggung namun berhasil menutupinya. Ia pun menurunkan tangannya dan berjalan normal tanpa berbicara pada Minho.

Tiba-tiba suara decitan mobil terdengar nyaring hingga menarik perhatian semua orang di yang sedang berlalu lalang. Termasuk Su Ji. Ia melihat ke jalanan ketika sebuah mobil melaju tanpa kendali dan menabrak kaca sebuah kafe. Su Ji menutup mulutnya takut. Teriakan dan kericuhan langsung terdengar di sekitarnya. Semua orang nampak merasakan hal yang sama sepertinya.

“Tidak ada yang selamat…” gumam Minho tanpa mengalihkan pandangannya pada kecelakaan di depannya.

Su Ji melihat wajah Minho dengan heran. “Kenapa kau bisa tahu?” tanyanya.

Minho tersenyum. “Aku hanya memiliki kemampuan semacam itu setelah aku menjadi roh,” jawab Minho tenang. “Su Ji-ya… sekarang kau tahu kan betapa berharganya hidupmu itu?”

Su Ji tak langsung menjawabnya. Ia diam sembari memikirkan sesuatu. “Gomawo,” ucapnya kemudian.

“Kau tahu kenapa aku mau memberikan nyawaku untukmu meski aku belum benar-benar mengenalmu?”

“Wae?”

“Karena aku percaya, kau bisa menjadi lebih baik,” ungkap Minho penuh makna. Ia tersenyum saat Su Ji memandangnya di bawah sinar matahari yang teduh.

Su Ji membaca sebuah poster yang terpajang di papan pengumuman di sekolahnya. Ia mengernyit heran lalu mendesah pelan. Perjalanan ke Tokyo? Semua murid kelas dua belas harus ikut? Oh Gosh, ini sungguh menyebalkan!

“Kau akan ikut kan?” tanya Minho dengan senang hati. Tapi Su Ji malah tidak meresponnya dan meninggalkan papan pengumuman itu.

Minho mengikuti kemana Su Ji pergi. Ternyata yeoja itu berjalan ke arah sebuah bangku di bawah pohon maple yang teduh. “Membosankan,” gumam Su Ji pada dirinya sendiri.

Minho pun duduk di sisi Su Ji. “Wae? Kau tidak suka bersenang-senang?”

Su Ji tidak menatap Minho. Tidak mungkin ia berbicara dengan Minho ketika banyak orang berlalu lalang di depannya. “Apa yang menyenangkan dari perjalanan ke Tokyo? Aku bisa mengajak orang tuaku saat mereka pulang nanti.”

“Ya, bukankah dengan ini kau bisa mencoba mencari teman? Memang kau tidak kesepian, tidak memiliki seorang temanpun? Untung aku mau menemanimu,” sugesti Minho. Ia berharap Su Ji akan mendengarnya walau rasanya masih mustahil untuk orang seperti Su Ji.

“Teman? Cih, apa itu teman? Apa aku bisa percaya padanya?” cibir Su Ji yang terlihat seolah ia sedang bergumam sendiri.

“Kenapa kau berkata seperti itu? Hei, teman adalah seseorang yang bisa menghiburmu ketika kau sedih dan yang akan tertawa denganmu ketika kau senang,” beritahu Minho meyakinkan.

Su Ji mendengus pelan. “Apa seperti itu? Aku rasa tidak…”

“Kau hanya belum pernah mencobanya, Su Ji…”

“Pernah dan rasanya sangat menyakitkan,” potong Su Ji.

Minho tertegun. Apa Su Ji pernah mengalami kenangan buruk yang berhubungan dengan temannya? Kenangan yang sangat buruk sehingga ia trauma akan pertemanan. Mungkinkah hal itu bisa terjadi dengan yeoja seangkuh dia? “Kau mau menceritakannya padaku?”

Su Ji terdiam. Mungkin, ia sedang berpikir apakah harus menceritakannya atau tidak. Minho tahu, Su Ji menyimpan banyak rahasia tentang kisah hidupnya. “A…”

“Ini”, ucap seseorang yang tiba-tiba menyodorkan sebuah es krim di depan wajah Su Ji.

Su Ji terkejut, ia pun mengikuti lekuk tangan orang itu dan… Damn, wajahnya langsung berubah kesal ketika melihat seorang namja yang sangat ia benci. Kenapa Key selalu mendekatinya? Apa namja ini begitu kurang kerjaan? Padahal ia sudah menegaskan sikapnya, kalau ia sangat membenci Key. Tidak ada pengecualian apapun.

Minho juga terkejut melihat kedatangan Key. Apa yang sahabatnya itu lakukan? Apakah ia sedang berusaha mendekati Su Ji?

“Kenapa diam? Kau ingin makan es krim kan? Kali ini aku memberimu, tidak membayari belanjaanmu,” kata Key sambil tersenyum lebar.

Su Ji tetap diam seribu bahasa. Kemarahannya yang ia tahan semakin memuncak ketika namja itu ada di dekatnya. Dan apa yang Key inginkan darinya? Senyumnya? Cintanya? Oh, mungkin Key harus pergi ke neraka dulu sebelum mendapatkannya.

“Su…”

“Apa kau terlalu bodoh?” akhirnya Su Ji tidak tahan untuk diam. “Apa sikapku tidak cukup untuk menyadarkanmu? Aku sangat membencimu, Key. Aku terlalu membencimu. Arasseo?” ujar Su Ji dengan memberi penekanan lebih pada kata ‘membenci’. Setelah menatap tajam kedua mata Key, ia pun pergi meninggalkannya.

Key menunduk sambil meremas es krim di tangannya. Tatapannya begitu nanar ketika melihat punggung Su Ji yang semakin menjauh darinya. Apa salahnya? Kenapa Su Ji sangat membencinya seperti itu?

Minho menatap Key dengan sedih. “Sabarlah Key. Su Ji hanya perlu waktu. Percayalah…” hiburnya sambil tersenyum. Ia tahu, meskipun Key tidak bisa mendengarnya tapi ia masih berusaha menjadi sahabat terbaik untuknya.

Minho berjalan mengikuti Su Ji sepulang sekolah. Yeoja itu selalu melewati jalan yang sama, sehingga perlahan Minho merasa bosan. Tapi karena ia masih membutuhkan tubuh Su Ji, maka ia akan melakukan apa saja asal ia masih di beri izin.

Su Ji berhenti mendadak membuat Minho yang sedang melamun menjadi tersentak. Tak mengacuhkan Minho, ia mengambil dua keping koin dari saku tuxedonya dan memasukkannya ke lubang di mesin minuman.

“Ya, kau mengejutkanku!” seru Minho kesal namun Su Ji berakting seolah ia tak mendengarnya. Minho mendecak sebal. Ia melihat Su Ji mengambil sekaleng minuman dari dalam mesin minuman dan teringat sesuatu. Ya, kenangan tentang Cheon Sa kembali berputar di kepalanya.

Dua tahun yang lalu, ia bertemu dengan seorang yeoja yang terlihat sangat frustasi dan sedih. Yeoja itu tak lain adalah Cheon Sa. Ketika Minho pulang sekolah dengan menaiki sepedanya, ia melihat Cheon Sa sedang membeli minuman dari mesin minuman di pinggir jalan. Namun karena mesin itu rusak, maka minuman tidak bisa keluar seperti biasanya. Tiba-tiba Cheon Sa menangis sambil menendangi mesin itu. Minho yang melihatnya pun merasa tidak tega. Akhirnya ia pergi ke minimarket di sekitar sana dan membelikan sekaleng kopi hangat pada Cheon Sa.

Minho tersenyum sendiri bila membayangkan kenangan manis itu. Sebenarnya Minho tidak jatuh cinta pada Cheon Sa saat itu juga. Namun suatu ketika Eommanya menghadirkan Cheon Sa di rumahnya untuk menjadi guru privatnya. Awalnya Minho terkejut karena ia pernah bertemu sekali dengan Cheon Sa. Tapi perlahan, akhirnya mereka berdua pun akrab dan mulai saling mencintai.

“Noona…” gumam Minho pelan. Sedetik kemudian, ia tersadar dari lamunannya. Tidak, ia tidak boleh menyukai Cheon Sa lagi! Lalu ia menoleh ke kanan dan ke kiri, sampai menemukan Su Ji yang sudah berjalan ke pinggir trotoar untuk menyebrang. Minho berlari mendekatinya. “Aissh… kau!” desisnya kesal saat ia sudah berdiri di samping Su Ji.

Su Ji tetap mengacuhkannya. Yeoja itu hanya meneguk minumannya dengan tatapan lurus ke depan. Akhirnya Minho melihat ke depan juga. Begitu banyak orang di jalanan sore ini. Maklum, karena jam menunjukkan waktu pulang kerja dan sekolah. Tapi diantara banyak orang yang terlihat di matanya, ada satu yang membuatnya terkejut.  Jung Cheon Sa…

Walau Minho sedikit terguncang, tapi ia tetap berusaha untuk tenang. Ia hanya berdiri terdiam menatap Cheon Sa. Tiba-tiba semua orang di sekitarnya berjalan. Minho melihat ke traffic light dan warna hijau menyala untuk pejalan kaki. Minho pun berjalan ke depan. Ketika ia berpapasan dengan Cheon Sa, entah sesuatu membuatnya menghentikan langkahnya. Anehnya Cheon Sa juga melakukan hal yang sama.

Tak mau terlalu larut dalam perasaannya, Minho pun menggelengkan kepalanya dan kembali berjalan sementara Cheon Sa belum menggerakkan kakinya lagi. Minho terus meyakinkan dirinya kalau Cheon Sa bukan miliknya lagi. Ya, Cheon Sa akan menikah dengan namja lain. Dan Cheon Sa…

Minho tidak bisa membohongi perasannya sendiri, ia pun membalikkan badannya. Pikirannya tak mampu  mengalahkan kata hatinya yang terus memaksa. Minho mengerutkan kening karena Cheon Sa masih terdiam di tempatnya. Tiba-tiba traffic light menyala hijau untuk kendaraan. Minho tergagap kaget. Ia segera mencari-cari Su Ji dan mengejar yeoja itu. Su Ji yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menatap aneh karena Minho berdiri menghalangi jalannya. Saat ia akan mencari jalan lain, Minho sudah menciumnya terlebih dahulu sehingga rohnya sudah mengambil alih tubuh Su Ji.

Minho membalikkan badan Su Ji dan melihat ke jalanan. Terdengar suara klakson mobil yang bersautan karena ada seorang yeoja yang berdiri di tengah jalan. Tanpa pikir panjang, Minho berlari dengan tubuh Su Ji, mendekat ke arah Cheon Sa. “Cheon Sa noona!” teriaknya lalu langsung mendorong tubuh Cheon Sa hingga sampai di tepi trotoar. Cheon Sa nampak begitu terkejut melihat Su Ji yang tiba-tiba datang menolongnya. Namun belum sempat ia bertanya, sebuah mobil sudah menyentuh tubuh Su Ji terlebih dahulu…

To be Continued…

J  Wah… Minho tega ya? Ottohkae?

J  Lalu bagaimana nasib Su Ji? Apa dia selamat?

J  Keep waiting next chapternya!!! Gomawo for reading!!! #author geje

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

32 thoughts on “A Ghost Inside Me – Part 5”

  1. ya!!!
    baboya minho-ya..
    neomu baboya..#ditabok taem(?)
    aissh thu gmna suji y??
    mati kah??
    hu-uh,,knapa msti ada tbc???
    pkok y ini harus buru2 dilanjut,,thor!!>.<#maksa

  2. Akhirnyaaaaa ff ini keluar juga ToT
    Aku nunggu2 thooor hehe, waah terus su ji nanti gimanaaa? Ayo thor lanjutt lanjuut ga sabar ._.

  3. Ah author lma bgt nih dh gk bca ff ini crtanya mkin sru thor dan aku minta part slnjutnya dikrim scpatnya ya ak gk sbar thor hehe^^

  4. minho jeongmal baboya . . .
    masa dia kaya ngorbanin suji demi cheon sa..
    cinta siih cita tp g’ usah berkorban pke tubuh.a su ji dong . .
    lanjut thor … usahakan scepat.a yaah thor soal.a nih sgt bkn penasaran

  5. Akhirnya ff ini muncul juga stelah bertahun-tahun lamanya nunggu ff ini publish *heleh
    Mian min dulu jadi silent readers, sekarang insaf deh :p
    Lanjutt mimin!! lanjutt

  6. akhir’x ff ini publis jga..
    wahhh, minho’x kok tega sih gmna kalo suji koma atau mati?? kecelakan 2 kali ..
    oh ya, ceritain dong napa suji dingin gitu trus trauma punya temen..

    lanjuttt..

  7. Mana authornya manaa? #bawaguling #gebukinauthor #readergila wkwkw XD

    itu ending part ini bkin…. Aku ngeremes selimut dgn refleknya! Aishhh –”

    wakakaka agak ngakak wkt Minho bilang ke Key supaya sabar. Kesannya lucu. Key-nya lg sedih, si Minho nenangin tp ga kedenger Key kkk…. Lucu XD

    suji ganas @@

    daebak ish! FF yg kutunggu akhirnya terbit :3

  8. Sujinya kena tabrak ya??
    Kyaaa
    udah lama banget nunggu nie ff.
    Tau2 udah part11 aja.
    Keep writing thor!!!
    Fighting.!
    Ceritanya daebak

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s