Namja – Part 3

Title : Namja

Author : Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast : Kim Kibum, Park Hana, Park Ha In, Kim Heera, Kim Jonghyun, Kim In Young

Support Cast : Key’s Eomma, Park Yoochun

Length : Sequel

Genre : Friendship, Family, Romance, Life

Rating : PG – 13

***

Summary:

“Kau pernah dengar tidak, William Wallace pernah mengatakan bahwa setiap orang akan mati namun tidak semua orang benar-benar hidup.”

 

Namja – Part 3 : Reality

Perbatasan. Seringkali garisnya begitu tipis hingga kasat mata, terlewatkan begitu saja oleh manusia. Batas antara benci dan cinta, batas antara hemat dan kikir, dan yang sering terlupakan juga adalah—batas antara kasih sayang dan obsesi.

Wanita itu sedikit ragu, tangannya masih tergantung di udara. Ia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar buah hatinya, teringat kejadian semalam membuatnya tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Key. Ia merasa bahwa selama ini dirinya begitu bodoh, tidak bisa membedakan seperti apa bentuk kasih sayang yang seharusnya ia curahkan pada Key dan justru menodai kasih sayang itu dengan sesuatu yang bisa disebut ‘obsesi’.

Rasa bersalah itu begitu kuat, ia menyadari bahwa meminta maaf pada Key saja tidak cukup karena nyatanya ia telah menyeret Key ke dalam masalah besar. Pikirannya kini tertuju pada beberapa hal, bercampur antara rasa takut dan terjebak dalam kebuntuan. Takut jika Key tidak akan memaafkannya; takut jika Key akan terus membencinya; takut jika Key terus merasa menderita dengan kondisi dirinya, ini yang terpenting. Hal lain yang membuat wanita itu frustasi adalah, pikirannya tidak kunjung menemukan cara yang tepat untuk mengeluarkan Key dari semua ini.

“K-kibum…,” ucapnya lirih, semakin melemah. Air matanya tumpah setelah suaranya nyaris tidak terdengar.

Ini tampak seperti kisah cinta, sang kekasih terluka—maka pasangannya akan turut berduka. Tidak, ini bahkan lebih mesra daripada sepasang kekasih. Hubungan ini laksana tulang dan otot, yang saling memberikan diri untuk menjadikan partnernya tetap berfungsi.

Ia memilih duduk di one seat pink yang ada di depan kamar Key, menahan suara tangis dengan bungkaman tangan kanannya. Sementara tangan kirinya mulai memegangi dadanya yang terasa sesak. Bukan sesak karena asma atau penyakit fisik lainnya, melainkan sesak karena perasaannya yang kacau-balau sejak semalam.

Ckrekk,

Key membuka pintu, sosok wanita yang sedang menangis itu buru-buru menghapus air matanya secara serampangan. Ia tidak ingin terlihat sedang menangis lagi di hadapan anaknya. Bukankah menangis itu kebiasaan yang melekat pada yeoja? Semalam ia telah bertekad bahwa ia tidak akan memberi contoh yang tidak baik pada Key, ia tidak ingin putranya terus merasa bahwa dirinya bukan namja sejati.

Key berdiri mematung persis di depan pintu kamarnya, ia bahkan belum menutupnya karena pandangannya langsung terfokus pada satu sosok. Hatinya sedikit mencelos melihat eomma-nya menangis lagi. Inilah yang juga membuatnya tidak dapat benar-benar memejamkan mata semalam, tidak dapat dipungkiri bahwa ia merasa bersalah pada eomma-nya, ia tahu bahwa perkataannya sudah menorehkan luka bagi orang yang paling disayanginya di dunia itu.

Masih dalam posisi berdiri mematungnya, jemari Key bertautan. Telunjuk kirinya bergerak menggaruk pelan punggung telapak tangannya pelan. Bibirnya memberengut dan matanya menyipit tidak bersemangat. Ia tertunduk dalam, lebih memilih seperti itu karena tidak ingin melihat eomma-nya lebih lama ketika kakinya masih terasa lumpuh untuk melangkah.

“M-morning,” sapa Nyonya Kim dengan ragu. Ia kemudian bangkit, menghampiri Key hingga akhirnya mereka benar-benar berdiri berhadapan pada jarak yang hanya terpaut dua langkah.

“Aku berangkat pagi,” balas Key dingin. Ia tidak menjawab sapaan eomma-nya dengan benar. Ia masih belum sanggup melawan setan yang bersemayam di dalam dirinya, yang menyuruhnya untuk tetap mempertahankan sikap dinginnya. Dengan menyingkirkan semua belenggu yang menahan kakinya, ia berlalu dari hadapan eomma-nya.

Nyonya Kim menyadari bahwa terdapat lingkaran hitam di bawah mata Key. Andaikan ia menuruti kata hatinya, ia ingin sekali mencegah Key berangkat terlalu cepat. Nyonya Kim tahu betul kalau hari ini Key kuliah jam sebelas, sedangkan ini masih jam tujuh. Rasanya ia ingin menyuruh Key tidur untuk beberapa jam. Nyonya Kim teringat momen dimana ia menemani Key sebelum tidur. Ia merindukan betul saat-saat seperti itu, dimana keduanya berbagi cerita sebelum tidur. Sejak kecil hingga Key kelas satu SMP, sepasang ibu dan anak ini masih tidur bersama.

“Hati-hati di jalan Kibum-ah…,” bisiknya pelan setelah Key melangkah beberapa saat.

Sementara Key, ia tidak berani menoleh ke belakang. Di satu sisi ia akan merasa makin bersalah, tapi di sisi lain ia masih tak mampu untuk tidak menyalahkan eomma-nya.

Sorry for this time,” Key bergumam pada dirinya sendiri.

Langkahnya dipercepat karena ia merasakan bahwa bahunya mulai bergetar menahan tangisnya yang pecah. Tidak lama, jari manis kanannya mengusap kedua ujung matanya satu persatu, menyingkirkan setitik cairan bening yang mulai membasahi pipinya.

***

Terkadang ia ingin menjelma sesaat menjadi gas, yang dengan mudahnya menempati segala jenis bentuk ruang. Menjadi sebatang pohon pun ia bersedia karena sekalipun pohon adalah makhluk hidup, ia tidak memiliki hati yang dapat merasakan maupun tersiksa oleh perasaannya.

Bagi Hana saat ini, lebih baik menjadi apapun yang membuatnya melupakan sejenak beberapa realita. Kenyataan bahwa ia adalah Park Hana, kenyataan bahwa ia pernah mencintai seorang Kim Jonghyun, dan kenyataan bahwa ia kini justru membencinya setengah mati. Juga, sebuah kenyataan yang membuatnya sering merutuki diri sendiri, bahwa dirinya bukanlah tipe orang yang bisa beradaptasi dengan cepat. Tidak mudah baginya menghadapi beberapa kondisi, ia bukanlah Key yang seringkali pandai mengendalikan suasana.

Andai, apabila, jika saja, berapa kali kalimat itu terlontar dari mulutmu? Terkadang manusia tidak bisa membedakan mana pengandaian yang boleh diidamkan—yang disebut cita-cita—dan mana pengandaian yang hanya mengotori hati dengan harapan kosong. Hana kemudian menyadari kesialannya. Seberapa kuat ia berandai-andai pun, nyatanya ia harus menerima bahwa dirinya memang seorang Park Hana, dan kini sedang berhadapan dengan sesosok namja yang membuat perasaannya kacau bukan main.

Sesungguhnya ia benci terjebak dalam kondisi seperti ini, tidak ingin tapi tetap harus ia laksanakan. Kalau bukan karena dosen yang mendadak memajukan deadline tugas, ia malas melakukan ini. Kalau bukan karena ulah seorang mahasiswa malas bernama Kim Jonghyun yang menunda mengerjakan bagian tugas kelompoknya, Hana tidak akan pernah mau menjadi penghuni jok belakang motor si pemalas itu, ah, sekarang pun ia masih berdiri mematung—belum benar-benar naik di jok belakangnya.

“Hei, kalau kau tidak ikhlas ya tidak usah saja!” Jonghyun menyadari aura wajah Hana yang suram. Pikirannya yang sedang kacau menjadi makin karut-marut.

“Kenapa harus di rumahmu? Kenapa tidak di kampus saja?” Hana membalas dingin, wajahnya benar-benar terlihat kesal.

“Sepertinya aku sudah bilang, aku tidak membawa tugasnya ke kampus. Kau tuli atau memang tipe orang yang memiliki short memory?” Jonghyun makin emosi. Kali ini ia bahkan melemparkan helm yang sejak tadi ia julurkan pada Hana, benda itu terlempar dengan kasar dan membuat Hana kaget setengah mati.

Hana masih tidak menjawab, membuat kesabaran Jonghyun kian menipis. “Mengapa tidak kau kerjakan saja bagianku kalau kau tidak mau membantu menuntaskannya di rumahku?” Nada bicara Jonghyun kian meninggi. Ia semakin geram, bahkan giginya sudah mulai beradu menghasilkan bunyi gemeletuk.

Pada akhirnya Hana mendesah pelan, sesaat kemudian ia menelan ludah.“Kau bilang apa tadi? Issh, aku heran mengapa di dunia ini ada orang sepertimu, makhluk egois yang sangat tidak peduli terhadap tugas bersama. Semudah itukah kau menyuruhku mengerjakan tugas bagianmu?”

Jonghyun tersenyum sinis. Ia lalu memalingkan wajahnya, mengedarkan pandangannya pada motor-motor yang berjajar rapi di sekitarnya, menyiratkan betul kalau dirinya merasa muak dengan ucapan Hana. Hingga akhirnya ia mengusap wajahnya yang sudah terasa memanas karena kesal.

Sembari menahan luapan rasa jengkelnya, Jonghyun akhinya mengutarakan hal yang membuatnya muak, “peduli tugas? Sekarang aku bertanya balik. Kau memangnya peduli? Ah, aku perjelas kalimatnya. Maksudku, aku yakin sebenarnya kau pun terpaksa mengerjakan tugas ini. Kau hanya pura-pura peduli akan tugas ini padahal kau hanya berorientasi pada nilai. Benar begitu?” Sebuah seringai terpahat jelas di wajah Jonghyun. Ia merasa bahwa dugaannya tadi benar, seharusnya Hana tidak akan berkelit.

Ani, kau salah. Aku bukan berorientasi pada nilai, melainkan  pada prosesnya. Di sekeliling kita banyak orang jenius, sayangnya aku bukanlah salah satu dari mereka. Ah, maksudku, aku bukan orang dengan IQ tinggi, tetapi, aku sama sekali tidak mendambakan menjadi sosok jenius. Karena ternyata, orang yang memiliki kualitas otak standar sepertiku ini lebih terbiasa bekerja keras. Butuh waktu lama bagiku untuk menuntaskan dan memahami sesuatu, berbeda dengan mereka. Bagiku, tugas itu merupakan bagian dari proses. Ya, proses untuk menjadikan diri kita terlatih bersabar, tekun, dan pantang menyerah.”

“Hahhh, oke, terserah kau. Daripada menghabiskan waktu untuk berdebat, ambil helm-nya dan cepatlah naik ke motorku. Kalau tidak mau juga, aku tidak ambil pusing. Aku tidak peduli tugas!” Jonghyun tidak ingin berlama-lama lagi, ia mengeluarkan statement penutupnya dengan tegas, membuat Hana tidak berkutik.

***

Ia tidak menemukan tempat yang lebih baik selain hamparan rumput di taman samping fakultasnya. Memang ini bukan tempat yang benar-benar sepi, setidaknya masih ada saja orang yang berjalan menyusuri koridor yang ada di tepi taman. Ini bukanlah taman yang dipenuhi banyak bunga, hanya ada pepohonan hijau nan rindang beserta beberapa jenis perdu yang tidak ia tahu persis namanya. Bukan tidak tahu, lebih tepatnya ia sedang tidak ingin mengingat. Ia benci memikirkan kenangannya itu, momen ketika eomma-nya berkebun dan mengajarinya banyak hal tentang tanaman, mulai dari namanya hingga teknik merawatnya.

Tepat di bawah  naungan sebuah pohon, ia merebahkan tubuh pada ‘karpet hijau’ itu, memejamkan mata dan membiarkan udara segar memasuki rongga paru-parunya. Merasakan kedamaian kilat menelusup masuk, ia bertambah menikmati suasana itu. Namun semua itu tidak berlangsung lama, ia kembali dihantui oleh masalahnya.

Sekarang ia mulai bertanya-tanya, apa betul hal tersebut pantas dianggap masalah, atau hanya dirinya saja yang terlalu membesarkan dan menjadikannya masalah? Mengingat betapa besar cinta eomma-nya, ia merasa bahwa dirinya adalah anak terkejam dengan menyalahkan beliau. Apakah menyalahkan adalah hal yang dapat memberinya jalan keluar?

Berpikir tentang itu semua sukses membuatnya menangis frustasi. Ia kemudian menggunakan telapaknya untuk menutupi wajahnya karena tidak ingin dilihat orang. Bisikan penyesalan itu bercampur dengan ucapan-ucapan Heera dan In Young, semuanya silih berganti memenuhi ruang pikirannya. Suara-suara itu kembali mengeras, berlomba agar bisa terdengar olehnya.

“Key! Kau sedang apa di tempat ini?” Sebuah suara yang makin mendekat itu menyeruak ke dalam telinganya, berhasil menyeret Key kembali ke dunia nyata. Suara itu mendadak muncul dan langsung menjadi pemenang, bahkan sukses menguasai diri Key saat ini. “In Young?” Masih dengan wajahnya yang ditutupi tangan, ia bertanya pelan seperti tidak percaya bahwa yang memanggilnya barusan adalah In Young, tapi ia yakin betul kalau itu memang suara In Young.

Bagi Key, ini adalah sebuah keajaiban, mendapati In Young baru saja bertanya padanya seolah yeoja itu peduli dengan apa yang tengah dilakukannya. Dengan perlahan, Key menarik telapak tangannya ke arah bawah, sekaligus menghapus air matanya secara terselubung agar tidak disadari In Young.

“Hanya berbaring,” jawab Key singkat, antara ragu dan tidak bersemangat.

Jauh di dasar hati Key terdapat getaran halus, menjalar lembut menyusuri seluruh syarafnya, mendorong jemari kakinya yang terbalut sepatu kets untuk sekedar menggeliat. Key merasakan seluruh urat syarafnya menegang, menahan tubuhnya untuk bangkit dan melihat sesosok bidadari yang selama ini memenjarakan hatinya.

“Key? Tidak biasanya kau menjawab seperti itu, aku seperti musuhmu saja. Ah, atau kau memang menganggapku musuh karena perkataanku?”

Ani, kau terlalu berlebihan,” balas Key tanpa berani memandang In Young.

“Seperti itulah yeoja, perasa. Eh, atau kau juga seperti itu?” In Young menanggapi seraya ikut merebahkan tubuh di samping Key.

Key tidak langsung menjawab, ia berpikir sejenak. “Menurutmu?”

“Menurutku? Hmm, sebentar, aku ingin bertanya padamu. Apa mulutku ini tajam?” In Young terkekeh santai.

“Menurutku? Hmmm, sebentar, aku juga ingin bertanya. Apa menurutmu aku orang yang cukup mengenalmu hingga aku berhak menilaimu?” Key bertanya balik dengan meniru perkataan In Young. Ia mengusap peluh dari keningnya sembari melempar pandangannya pada langit biru, ia hanya berani seperti itu—memandang wajah In Young hanya akan membuat kelenjar keringatnya memberontak lebih dahsyat.

“Jadi kau sedang mengatakan padaku bahwa aku juga tidak berhak menilaimu karena aku tidak dekat denganmu?”

“Jadi itu kesimpulanmu? Tidak salah juga. Perlukah aku menjabarkan alasannya? Ah tidak, berbicara panjang lebar hanya akan membuatmu tidak menganggapku sebagai namja sejati.”

“Wah, jadi selama ini sebenarnya kau sendiri menganggap dirimu seperti apa? Bukan namja sejati? Haha, kita lucu ya Key. Sudahlah, aku mau ke gedung kesenian, di sana sedang ada pameran seni lukis dan karya Jonghyun lolos untuk dipajang.”

Key terdiam, yeoja itu selalu berhasil menohoknya. Pernyataannya yang terakhir membuat Key tidak mampu lagi berkata. Sesaat kemudian Key menjadi teringat bagaimana seseorang yang bernama Jonghyun menyindirnya tempo hari.

Ah, Key merasa kesal pada dirinya sendiri. Ia merutuki mengapa dirinya mendadak sensitif dalam menanggapi cemoohan orang sekitar, kemana perginya sikap santai yang selama ini melekat pada dirinya? Pikirannya makin berkecamuk selepas In Young menghilang dari pandangannya.

***

Kesan pertama yang Hana dapatkan sewaktu menjejakkan kaki ke rumah Jonghyun adalah, sepi. Rumah sebesar ini—beserta suasananya yang sunyi senyap—mengingatkan Hana pada cerita-cerita yang sering ia tonton di dalam drama. Keluarga kaya raya namun orang tuanya sibuk berbisnis dan sang anak merasa kesepian hingga berulah brutal, persis seperti Jonghyun.

Memang betul, intensitas perhatian seringkali berbanding lurus dengan tingkat kelunakan hati seorang anak manusia. Hati itu ibarat sebutir kentang. Semakin diberi kehangatan, maka semakin melunak.

Jika bukan intensitas, maka kualitas kasih sayangnya yang harus diperbaiki. Melihat sikap Jonghyun yang terkesan arogan, Hana ragu bahwa kasih sayang yang diberikan orang tua Jonghyun memiliki salah satunya, intensitas atau kualitas.

“Huh, jangan bilang kau ini tipe anak yang kesepian? Aku merasakan aura rumah ini tidak hangat,” Hana mencoba memancing. Perkataannya memang masih terkesan tajam karena sejak tadi ia masih kesal pada Jonghyun.

“Bisakah kau bertamu dengan baik tanpa menilai macam-macam? Ikut saja ke kamarku tanpa banyak bicara.” Jonghyun memasang sikap dinginnya untuk yang kesekian kali, ia berucap tanpa menoleh pada lawan bicaranya. Kakinya tidak henti melangkah menapaki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.

Hana bungkam mendengar respon Jonghyun, ia rasa bahwa Jonghyun benci masalahnya diungkit. Yeoja itu hanya mengamati sekelilingnya kini. Sekilas mata Hana sempat melihat-lihat deretan bingkai foto yang digantung pada dinding yang ia lalui saat menaiki tangga. Sosok ayah dan ibunda beserta dua orang anak kecil laki-laki, semua fotonya berisikan keempat orang itu, hanya momennya saja yang berbeda-beda. Hingga menjelang sampai di lantai dua—pada tiga bingkai foto yang ukurannya lebih besar—ia hanya melihat satu anak laki-laki bersama orang tuanya. Kemana perginya anak yang satunya lagi? Saat itulah Hana baru menyadari sebuah fakta, dua anak itu berwajah sama.

Hyung, kau kemana saja tidak pulang sejak kemarin? Aku yakin kau akan habis dimarahi appa dan eomma nanti.”

Prasangka Hana tepat, dan kali ini mulutnya sukses ternganga karena di ujung tangga sana ia mendapati sosok yang sama persis dengan Jonghyun. Hanya saja, rambut namja itu tidak berwarna kemerahan seperti milik Jonghyun, tetapi hitam. Sosok yang mirip Jonghyun itu mengenakan sweater coklat-hitam, celana jeans dan kacamata berbingkai tipis berwarna putih.

“Tidak usah pedulikan aku, telingaku sudah kebal. Lagipula aku juga tahu kau hanya pura-pura peduli,” Jonghyun membalas sambil berlalu, membuat Hana menahan napas sesaat.

Hyung, kau mau membawa yeoja masuk ke dalam kamarmu?” namja itu bertanya lagi, terkesan seperti larangan bagi Jonghyun.

“Kami hanya akan mengerjakan tugas bersama, kau boleh mengawasi kalau tidak percaya. Lakukan apapun yang akan membuatmu makin disayang mereka, terserah kau. Aku tidak peduli.” Jonghyun menjawab setengah menyentak. Kemudian ia menarik tangan Hana agar langkah gadis itu lebih cepat. “Jangan berjalan seperti kura-kura!” keluhnya pelan.

Hana mengikuti keinginan Jonghyun, tidak ikut campur adalah jalan yang terbaik rasanya. Entah mengapa, sosok Jonghyun terlihat menyedihkan bagi Hana kini. Yeoja itu sedikit menduga bahwa latar belakang kehidupan keluarganya inilah yang membuat Jonghyun terkesan seperti sosok yang begitu ingin dihargai, karena mungkin selama ini Jonghyun merasa diremehkan.

“Jangan anggap ini kamarmu sendiri, aku tidak suka barangku disentuh sembarangan,” titah Jonghyun begitu Hana memasuki kamarnya.

Hana tersenyum simpul, kalimat Jonghyun tersebut berkebalikan dengan kalimat yang diucapkan orang pada umumnya saat tamu berkunjung. Hana menjadi paham seperti apa namja yang bersamanya saat ini. Ia merasa bahwa selama ini dirinya terlalu dibutakan oleh cinta, melihat Jonghyun dari sisi bagusnya saja—seolah namja itu tidak memiliki cacat—sehingga belakangan ini ia dikecewakan oleh peristiwa yang dilewatinya bersama Jonghyun. Hana memberanikan diri untuk menarik kesimpulan bahwa Jonghyun adalah sosok yang benar-benar menyebalkan.

Jonghyun adalah penyuka warna hijau, satu hal lagi yang Hana simpulkan. Dinding kamar, lemari bajunya, sebuah sofa yang ada di salah satu sudutnya, karpet yang terhampar di dekat pintu menuju balkon, hingga sprei yang membalut kasur Jonghyun, semua berwarna hijau. Hal yang tidak disangka Hana karena biasanya orang penyuka hijau adalah orang yang peduli lingkungan. Sedangkan Jonghyun?

Sang Pemilik Kamar membuka lemari, ia mengeluarkan notebook-nya dari dalam sana. Mata Hana sempat menangkap tumpukan pakaian Jonghyun yang tertata rapi. Yeoja itu buru-buru memberi peringatan pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu mencermati barang pribadi orang lain.

“Jangan buang waktuku, nanti sore aku harus pergi,” ucap Jonghyun ketus karena jengah mendapati Hana yang tampak seperti orang bingung. “Dia itu adikku, saudara kembarku lebih tepatnya. Sayangnya karakter kami sedikitpun tidak sama, kami juga tidak memiliki ikatan batin seperti yang dimiliki anak kembar lainnya. Sekarang mungkin kau bisa menebak bagaimana kehidupanku. Tapi jangan terlalu polos dengan dugaanmu, nasibku tidak semalang yang kau pikir. Jadi setelah mendengar semua tadi, jangan merasa iba padaku.”

“Ah ne,” Bingung harus menanggapi seperti apa, akhirnya Hana hanya menjawab singkat.

***

Bersama langit sore jingga, menjelang mentari tenggelam—menghilang dari pandangan manusia di satu tempat untuk kemudian terlihat oleh penghuni bumi yang ada di belahan dunia lainnya, bertemankan belaian angin lembut yang berhembus, bergerak dari tempat bertekanan tinggi menuju tempat yang tekanannya lebih rendah, menyejukkan.

Yeoja itu terduduk di teras rumahnya, menanti satu sosok yang ia harap dapat menularkan kebahagiaan melalui senyumnya. Ya, ia sedang ingin tersenyum dan tertawa, tapi apa yang terjadi hari ini seolah membuat rahangnya menjadi kaku—sulit untuk melukiskan kurva parabola menghadap ke atas. Untuk itulah ia butuh semacam pendorong, ah, lebih pantas disebut benih yang dapat menumbuhkan rasa bahagia.

“Hhhhhh,” desahnya panjang. “Tuhan, kau sedang menguji persahabatan kami?” tanyanya sembari menengadahkan wajah, memandang langit senja.

Sejak semalam ia mulai berpikir—di antara dirinya, Hana, Heera, dan Key—sedang terjadi ketegangan kecil yang jika dibiarkan berlanjut, dapat membahayakan persahabatan mereka. Ha In sadar apa yang sedang dipermasalahkan oleh Hana dan Heera, semuanya terfokus pada Key. Penyebab Heera melarang dirinya memeluk Key, serta alasan Heera yang sebenarnya saat melarang Key untuk memasak. Bodohnya, Ha In merasa dirinya terlambat menyadari semua itu.

Ha In tidak ingin berpihak dalam hal ini, ia memiliki pemikirannya sendiri tentang Key. Sederhananya, bisa dikatakan bahwa ia merasa tidak ada yang salah dengan Key, satu pemikiran dengan Hana. Tapi di sisi lain ia tidak suka cara Hana dalam menghadapi Heera.

Ia resah, berulang kali merubah cara duduknya, hingga yang terakhir ia naikkan kakinya ke atas kursi, lalu ia tekuk hingga betisnya bersentuhan dengan bagian belakang pahanya. Kedua tangannya ia tumpukan pada lutut, dengan telapak tangan yang merapat—melengkung membentuk tangkupan, dan bertumpu pada dagu.

“Seperti biasa, kau suka sekali melamun. Apa dengan melamun semuanya bisa terselesaikan?” Yoochun bergabung bersama Ha In, ia duduk mengambil tempat di sebelah Ha In. “Kau pernah dengar tidak, William Wallace pernah mengatakan bahwa setiap orang akan mati namun tidak semua orang benar-benar hidup.” Yoochun memainkan bibirnya setelah ia selesai berucap.

“Tidak, masalahku memang tidak selesai. Tapi dengan seperti ini aku merasa punya ruang untuk bernapas.” Sejenak Ha In menghela oksigen di sekitarnya, hal yang sering dilakukannya ketika pikirannya terasa penuh. Ia kemudian melanjutkan, “Oppa, aku tidak mengerti, apa yang dimaksud ‘tidak semua orang benar-benar hidup’, bagaimana bisa seseorang mati tapi dia tidak pernah hidup sebelumnya?” Yeoja itu menatap Yoochun antusias.

“Inilah yang tidak orang sadari. Hidup, apakah sesuatu yang bergerak itu dikatakan hidup? Kalau begitu apa bedanya kita dengan mobil? Mungkin yang ia maksud, kebanyakan manusia ini hanya menghabiskan waktunya bagaikan robot. Robot itu cerdas, tapi ia diprogram untuk mematuhi perintah. Selebihnya ia akan berdiam diri, mungkin melamun seperti kau tadi, haha….” Di akhir penuturan seriusnya, Yoochun tergelak untuk mencairkan kekakuan karena sejak tadi ia melihat ekspresi wajah Ha In yang tampak berpikir keras.

“Ya! Aku berbeda dengan robot. Aku terdiam merenung karena aku sedang berpikir.” Ha In mengelak, sedikitnya ia merasa kesal dengan candaan Yoochun yang muncul saat dirinya tengah menyimak serius.

“Coba tanyakan pada dirimu sendiri dan jawab dengan jujur. Kau sedang berpikir, atau tengah mengeluhkan hal yang telah berlalu maupun yang sedang berlangsung?” Lagi-lagi Yoochun tersenyum, membuat Ha In sukses melambung tinggi, terbang bersama khayalannya.

Oppa…,” gumam Ha In tanpa sadar.

Wae?” Yoochun menatap bingung.

“Detik ini sepertinya aku bukan sedang berpikir ataupun mengeluh, aku justru bersyukur.” Mulut Ha In berucap sementara sang pemiliknya masih tertunduk menahan pandangan.

Yoochun berpikir sejenak. Tidak lama kemudian ia mengerti maksud kalimat Ha In. “Nah, baru saja aku berpikir dan aku setuju denganmu, bersyukurlah karena masih bisa melihat makhluk tampan yang ada di hadapanmu.” Sembari lidahnya berujar santai, tangannya bergerak ke arah belakang tubuh Ha In, menepuk punggung yeoja itu cukup keras. “Ya! Jangan melamun lagi. Aku tahu aku ini memikat, tapi bisakah kau tidak menunjukkan rasa kagummu? Aku lebih suka punya penggemar rahasia.”

Mwo?!” Ha In memekik, kaget karena ditepuk cukup keras, sekaligus tidak menyangka bahwa Yoochun akan berkata seperti tadi. “Oppa! Rasa percaya dirimu berlebihan, terlalu besar, sama lebarnya dengan keningmu!” Yeoja itu berkedip gugup, masih panik.

“Lalu apa yang kau maksud dengan bersyukur, hah?” Yoochun tidak mau kalah, ia yakin betul dengan dugaannya. “Kau bersyukur karena ada aku di dekatmu, ah, lebih tepatnya ada senyumku yang menghiburmu, kan?”

Ani, aku besyukur karena Oppa tinggal di rumahku, setidaknya aku punya teman berbincang setiap sore. Oppa tahu kan bagaimana kacaunya keadaan di saat semua penghuni rumahku berkumpul, sejujurnya kepalaku sering terasa sakit setiap malam dan pagi. Apalagi sekarang….”

“Berarti benar yang kubilang. Kau sedang melamun dan mengeluh, bukan berpikir. Coba kutanya, tadi kau hanya sedang mengingat-ingat atau mencari solusi atas masalahmu? Menurutku, berpikir itu adalah saat kita mencoba memecahkan masalah.” Tangan Yoochun meraih puncak kepala Ha In dan kemudian mengacak pelan rambut yeoja itu.

Seketika Ha In membeku, tangan Yoochun yang berada di kepalanya, sukses membuat dirinya mati gerak. Mulutnya terasa kelu untuk meminta namja itu menyingkirkan tangannya. Debaran jantungnya kian terasa kencang, telinganya seolah mendengar suara genderang yang bertalu-talu.

Yoochun tersenyum jahil melihat ketegangan yang terpancar jelas dari wajah Ha In. Merasa tidak tega ‘menyiksa’ yeoja itu, ia menarik tangannya dari kepala Ha In. “Sekarang ceritakan padaku hal apa yang membebani pikiranmu, siapa tahu aku punya solusinya.”

Oppa, menurutmu, apa yang membedakan namja dan yeoja selain dari segi fisik?”

***

Kilau lampu jalanan menerangi malam, menyertai langkah kaki pejalan kaki yang tengah menikmati suasana malam di Kota Seoul. Ini memang bukan malam minggu, tapi tidak ada larangan untuk melalui malam bersama kekasih, bukan?

Genggaman erat itu seakan tak membiarkan tangan mungil di dalamnya terlepas, tidak ingin jaraknya menjauh sedikit saja. Senyum bahagia terlukis jelas di wajahnya yang tersorot terangnya lampu jalanan. Meski agenda mereka malam itu hanyalah berwisata kuliner, tapi waktu yang singkat itu tidak ingin terlewatkan barang sedetik, itulah yang terlintas di pikiran sang namja.

“Heera-ya, inilah kenikmatan berjalan kaki. Mata dan pikiran kita lebih bebas menikmati sekitar, kita tidak merasa terkungkung dalam ruangan sempit—atau lebih tepatnya kita sebut terkungkung di dalam mobil.” Jinki membuka pembicaraan karena sejak tadi Heera masih membisu, seolah pikirannya sedang melayang ke suatu tempat.

Sejak keluar dari kedai yang menjual bibimbap, Heera terlihat tidak bersemangat menjalani kencan mereka ini. Berkali-kali yeoja itu menghela napas, mengelus-elus touch screen ponsel dengan jemarinya yang seolah ragu untuk mengetikkan beberapa kata.

Heera masih terdiam, kali ini ia memilih memasukkan ponselnya ke dalam saku jeans-nya. Ia menggigit bibir mungilnya sejenak lalu lidahnya perlahan bergerak mengucapkan kata, “Terkungkung? Oppa, mungkin aku adalah satu di antara jutaan manusia yang pikirannya tidak terbuka.” Heera menanggapi lain atas maksud ucapan Jinki.

“Kau sedang merasa terjebak dalam pikiranmu? Apa yang sedang kau pikirkan? Masalah Key?” Jinki mengusap puncak kepala Heera dengan lembut, wajahnya memandang Heera sembari kakinya yang tetap melangkah.

Oppa, menurutmu, apa aku termasuk orang yang tidak mampu berpikir luas? Selama ini aku bersikap seolah diriku ini menutup mata terhadap sekitar, terhadap kondisi sahabatku,” Heera menjelaskan cepat. Matanya masih terfokus pada jalanan, tidak berani memandang Jinki.

“Lalu apa kaitannya dengan terkungkung, hmm?” tanya Jinki lembut.

“Sejak pembicaraan kita tempo hari, aku sadar bahwa ada yang salah pada diri Key. Tapi pikiranku masih menentangnya, muncul rontaan kuat yang memaksaku untuk menepis semua itu. Aku masih terjebak, terkungkung dalam statement yang mengatakan bahwa aku harus menerima apapun kekurangan sahabatku. Terlebih setelah aku sedikit mencoba melarang Key melakukan beberapa hal seperti memeluk yeoja dan memasak, terlihat betul bahwa Hana tidak menyukai sikapku. Untuk masalah Key ini, aku menjadi ragu dengan perubahan paradigmaku, tentang apa yang dikatakan normal dan tidak, tentang apa yang benar dan apa yang salah. Aku tidak tahu pikiran seperti apa yang seharusnya terpelihara dalam otakku.”

Jinki sebetulnya kecewa. Ia menginginkan malam ini hanya milik berdua, berharap romantisme menjalari momen ini, bukan justru mendengar keluhan Heera tentang Key. Tapi, bagaimanapun namja itu tidak ingin bersikap kekanakan. Ia tahu kapan waktunya menuntut perhatian Heera, dan kapan ia harus memberi perhatian untuk yeoja-nya itu.

Jinki pada akhirnya tersenyum. Sebenarnya sejak dulu ia memiliki pemikiran tersendiri tentang Key, hanya saja ia berhati-hati mengungkapkannya. Ia tidak ingin penilaiannya akan mempengaruhi sikap Heera pada Key, namun di sisi lain ia ingin Heera membuka mata—mampu membedakan kebenaran dan perasaan tidak tega, atau mungkin semacam perasaan tidak ingin menyakiti sahabatnya.

“Heera-ya, pikiran kita itu ibarat parasut. Tak berguna dan malah bisa berakibat fatal bagi kita bila tidak memastikannya bisa terbuka pada waktu digunakan, kecuali kita hanya diam di tempat dan parasut itu kita biarkan lapuk menua.” *)

“Hmm, aku tidak begitu paham. Tapi secara kasar Oppa ingin mengatakan bahwa selama ini aku tidak menggunakan pikiranku secara tepat, seperti itukah?”

Ne. Kasarnya, apa gunanya kau memiliki otak kalau hatimu yang lebih mendominasi. Aku paham, yeoja lebih mendengarkan bisikan hatinya. Rasa tidak tega, tidak ingin menyakiti, tidak ingin memojokkan, hal seperti itu sering terjadi.” Jinki menghentikan kalimatnya sebentar karena merasa ponsel di saku jaketnya nya bergetar, “ah sebentar, aku angkat telepon dulu,” izinnya pada Heera.

Sementara Jinki menjawab panggilannya—mungkin dari atasannya karena telinga Heera menangkap pembicaraan mengenai rapat—yeoja itu memilih bungkam dan mencermati maksud kalimat Jinki.

Beberapa saat kemudian ia mengangguk mantap, meyakini hal yang telah menjadi kesimpulannya. Ia melirik pada Jinki yang nampaknya tengah berbicara serius, urung memotong kegiatan Jinki.

Yeoja itu tidak sabar menunggu Jinki menuntaskan percakapannya dengan seseorang di seberang sana. Ia berbicara pelan pada dirinya sendiri, “Ya, aku harus membuka parasutku di waktu yang tepat. Tapi dalam hal ini, ada yang kurang tepat menurutku. Bukan hanya aku yang jatuh terpuruk jika aku salah, tetapi sahabat-sahabatku pun akan terkena dampaknya.” Heera tersenyum lega, karena ia telah menemukan keyakinan hatinya. “Gomawo Oppa, aku beruntung memiliki namja sepertimu.”

Merapatkan tubuh pada Jinki, lalu yeoja itu berjinjit hati-hati karena tidak ingin terjatuh. Ia tidak ingin keraguan menyeruak sedikit saja, untuk yang pertama kalinya ia ingin melakukan ini.

Chuuu,

Kecupan kilat mendarat di pipi Jinki, membuat namja itu membeku menahan katanya untuk sang lawan bicara yang tengah meneleponnya. “Apa ini?” Ia tidak mengerti mengenai hal yang baru saja didapatinya. Bukan tidak bahagia, hanya tidak menyangka akan mendapatkan ‘kado indah’ seperti tadi.

“Hadiah dariku untuk orang bijak sepertimu, sekaligus permintaan maafku karena merusak kencan hari ini dengan pikiran kacauku. Gomawo, Oppa,” bisik Heera di telinga Jinki.

“Jinki-ya, mengapa kau tidak meresponku?” Sayup-sayup terdengar suara yang berasal dari speaker ponsel Jinki.

Masih dalam keadaan kikuk setengah mati, namja bermata sipit itu menjawab ragu, “Bos, bisakah kita lanjutkan sesaat lagi?”

 

To Be Continued

Jonghyun menyukai warna hijau? Aku engga yakin bener juga, karena sumber lain mengatakan hitam adalah warna favoritnya. Tapi di sumber ini hijau tercantum juga (http://ariskafalenti.blogspot.com/2011/06/tgl-lhir-warna-kesukaan-member-shinee.html), yang jelas aku pakai hijau untuk kebutuhan cerita. Oya, tanda bintang itu adalah status facebook tanteku.

Terus tentang penggunaan ‘karut-marut’ bukan ‘carut-marut’ ini source-nya (http://ivanlanin.wordpress.com/2012/02/07/karut-marut/)

Beri aku masukan dalam segi apapun yoo… aku ga akan marah dan justru berterima kasih banget.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “Namja – Part 3

  1. selalu baca namja pelan2, tp itu bikin aku dpt pikiran2 baru, nambah ilmu lah singkatnya.. Hhaha

    Ga ada typo kak.. Wahh.. Hebat!😀
    Lanjutannya di tunggu kak

  2. huwweee…
    akhrx kluar jg part 3 nya…
    sumpah g tw musti ngmong apa,krn dr awal sampe akhr crta aq nangis mulu,trutama hal2 yg menyngkut key sm ommanya…
    nyesek bgt pas lht key jd dingin gt sm ommany…
    smw mslh muncul gr2 omgan jjong d part 1 itu kan…!!??

    aq suka sm status fb’nya…awalx kirain ad pnjlasan khusus ttg parasut (?) kyk merpati d ff…???
    (aq lp judulx,ff yg key nikah sm lesbian it lho…)
    intinya…
    DAEBAK…!!!
    lanjutanx jgn lm2 y bibib…ntar keburu lupa sm ceritanya…

    1. he? emang part ini sedih ya? kalo part 2 emg sedih, tp rasanya ini mah ga sedih deh.

      Btw eon, tt merpati itu ada di between two hearts, bukan di ICBY.

      diusahain ga lama eon, aku juga mesti kejer target supaya ini kelar tepat waktu😀
      makasih eonni…

  3. Typo gk ada smuanya rpih, dn aku ska krang ngrti tntang kta2 bibib soalnya otakku gk mencakup smpe stu hehe, ohya part slnjutnya jgn lma2 ya aku org nya pkunan🙂

  4. Hello eon~
    gg trsa dh sebln aq gg bs shining story..kange bgt..hhe

    oh ya eon,aq mau tanya,mksd.a eon tuh pertanyaan ato pernyataan?? Tu lhoo,yg di bagian prckpan.a key-inyoung..soal.a mnrtq lbh cck pernyataan,tp eon nls.a pertanyaan,hoho,dan…karut-marut tu apa??._.v
    yg parasut” gtu aq sukaaaa😄..ngena bgt..hehe
    kembarannya jjong itu namanya sp??penasaran…😮
    nih ff…bqn aq pnsrn bgt!msh banyak yg blm diketahui..hehee..
    Aq tgu next part.a eon😉

    1. iya ni…ayo maen2 disini lagi #ngajakindirisendirijuga

      Eh…iya setelah dipikir mungkin lebih tepat pernyataan ya, sip dehhh

      kembaran jjong? ada disebut di part 4

      part 4-nya ditunggu aja ya, makasih vanyaaaa

  5. hmmm…
    part 2 emg lbh sdih sih…tp emg pas baca part ni aq g bs nahan nangis,ap mgkn krn bacanya pas lg galau tngkat dewa kali ya makanya airmatany otomatis lgsg klwr…

    eh,bkn i can’t be yours…!!?? (ya ini jdulx hehehe…)
    perasaan emg dsni deh…

    y udhlah apapun i2…dtunggu kelanjutanx dan jg ff yg laenx…
    HWATING BIBIB…!!!

  6. Semua jadi bergalau ria… aku suka karakter Jinki selalu jadi orang bijak kkk~~

    kalo typo aku cuman nemu satu ‘ Ia menggingit bibir
    mungilnya sejenak lalu lidahnya’ itu harusnya menggigit ya kalo gag salah, tapi gag masalah juga sih ff nya tetep aja bagus^^d

  7. Selalu nyesek tiap baca bagian Key😐
    Jjong punya saudara kembar, pasti deh tuh saudara kembarnya jd anak emas maknya dia ga begitu suka ama kembarannya sendiri.
    Aku jadi lebih suka nih Jjongnya ama Hana. In Young nya ama Key aja😀
    Ya Ampunn aku suka banget ama jinki di sini, bijak benerr..

    Ok next part..

    1. yap, sodara kembar.. rrr, kadang sakit sih dibanding-bandingin ama sodara sendiri

      Wohoho, sama siapa ntarnya aku juga belom yakin, ntar deh yaaa

      Makasih ya udah mampit ^^

  8. I’m comiiiing~
    udah lama baca, tp modemnya baru keisi nih😀
    ak suka sekali dgn cerita yang ngutamain narasi kek gini, dan omaigat…
    ak jg pengen bisa bikin narasi sebagus itu😥
    pokoknya pokoknya kerenlah, ak gak bisa banyak bacot jadiny

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s