Touch Your Heart – Part 11

Title               : Touch Your Heart Part 11

Author           : tiara_jinki

Main cast       : Lee Taemin, Choi Yoona, Onew (Lee Jinki), Choi Yoonra.

Other  Cast    : Kim Kibum (Key), Lee Taesun, Lee Junki, and  others.

Length            : Sequel

Genre              : Romance, Family

Rating             : PG

Dia sudah pergi dan Yoona belum sempat melihat wajahnya untuk terkahir kali. Menyebalkan. Laki-laki itu tetap saja membuatnya kesal, dan sekarang ia sangat merindukan laki-laki itu walau baru sehari ia tidak bertemu dengan Taemin. Yoona menghela nafas panjang dan menatap layar handphone-nya. Di layar itu, terdapat foto dirinya dengan Taemin. Foto yang mereka ambil di malam terakhir Taemin berada di Korea.

“ya, kenapa melamun terus?”. Suara berat Minho membuyarkan lamunannya.

“apakah kau akan mengajakku pergi ke luar? Aku benar-benar tidak mood hari ini. Kau tidak ada kuliah kan, oppa?”.

Sebelah alis Minho terangkat. Ada apa dengan dongsaeng-nya ini?. Sudah lama ia tidak melihat wajah murung Yoona. Dan sekarang, apa yang membuatnya seperti ini?. Mata Minho melirik ke layar ponsel milik Yoona. Di layar itu ada gambar Yoona dan seorang lelaki. Tunggu, Apa ini karena Lee Taemin?. Minho tersenyum, jadi ini karena namja itu.

“apa ini karena Lee Taemin?”.

Yoona sedikit tersentak dengan pertanyaan Minho. Darimana Minho tahu tentang Lee Taemin?. Bukankah, dia tidak pernah menceritakan apapun tentang Taemin pada Minho?.

“darimana kau tahu?”.

“rahasia. Baiklah, aku akan mengajakmu pergi. Kau mau ke mana?”.

***

Mungkin pemikirannya kini berubah sekarang, ia lebih meenyukai mendengar Yoona mengucapkan kalau ia adalah sahabat terbaiknya di banding mendengarnya mengatakan perbedaan antara dulu dan saat ini. Sayangnya, sekarang semua berbeda. Dan ia sangat membenci saat ini. Hah, benar-benar melelahkan melihat Yoonra terus menolak dirinya berada di sampingnya, setidaknya sebagai sahabat. “kau benar-benar membuntutiku!”seru Yoonra tanpa menatapnya.

Tapi, melihat dan mendengar Yoonra mengatakan ini  juga cukup baik.“anni, aku tidak sengaja bertemu kau di sini. Lagipula, untuk apa aku membuntutimu? Tidak menghasilkan apa-apa untukku”.

Yoonra terdiam sesaat, bingung harus membalas apa. Sejak ia menginjakkan kakinya keluar dari rumah, ia merasa ada orang yang mengikutinya dari belakang. Dan ia yakin Onew-lah orangnya. “ge..geotjimal! aku yakin kau membuntutiku!”.

“punya bukti apa?”tanya Onew, sukses mengunci mulut Yoonra. Yeah, kali ini ia tidak bisa berbicara apapun. Ia tidak bisa melihat dan mungkin saja tadi hanya perasaannya saja.

“sudahlah, aku harus pergi.”ujar Yoonra dan kembali melangkahkan kakinya.

“ya! Awas!”. Onew menarik tangan Yoonra. Baru saja gadis ini akan menabrak sebuah kereta bayi di depannya. Mungkin jika tadi Onew tidak menarik tangannya kereta bayi itu akan meluncur ke tengah jalan. Dan buruknya bayi yang terdapat di dalamnya akan tertabrak. Ujungnya, Yoonra-lah yang akan di mintai pertanggung jawaban.

Yoonra dapat merasakan nafas Onew yang tidak beraturan. Jantungnya berdetak lebih cepat mungkin lebih cepat di banding motor balap yang sedang melaju di sirkuit. Apa saat ini wajahnya dan wajah Onew sangat dekat?. Oh, Tuhan, kenapa perasaan ini belum juga terhapus?. “pabo, kau benar-benar membutuhkan seseorang di sampingmu”ujar Onew dan menjauhkan dirinya dari Yoonra.

“mwo? Pabo?”.

“ne, Pabo. Jeongmal Pabo!”.

“aish, ingat Onew. aku tidak bodoh dan tidak lemah seperti apa yang ada di otakmu itu!”. Yoonra membalikkan badannya, kesal kembali muncul. Apa Onew menganggapnya begitu lemah?.

***

Keningnya sudah di banjiri dengan keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya. Kembali merasakan kecanggungan ini. Kenapa rasa canggung ini tak kunjung pergi?. “aku tahu, rasa bencimu belum menghilang”.

Taemin menghirup oxygen sebanyak-banyaknya. Mata itu sedang menatapnya dengan seukir senyum di bibirnya. Harusnya, ia membalas senyum  itu namun  ia tidak bisa. Dia benar, jauh di lubuk hatinya ia masih membenci pria yang ada di depannya ini. Ia masih belum mengetahui alasan itu. “maaf, maaf karena telah membuat seperti ini untuk waktu yang lama”.

Seandainya, dulu pria ini tidak pergi. Jika dia tetap tinggal, mungkin tidak akan seperti ini. “dulu, kau masih kecil dan tidak mungkin aku mengatakan hal sebenarnya. Lagipula, aku baru mengetahui kenyataannya setelah dia pergi”.

Kali ini, kepala Taemin terangkat. Apa? Tadi dia bilang apa?. “mwo?”.

Junki masih memasang senyumnya, ia benar-benar merindukan putranya ini. Sudah sekian lama ia tidak menatap wajah Taemin. “Eomma-mu mengidap kanker paru-paru, aku baru mengetahuinya setahun setelah kami bercerai”.

“mwo? Kalian sempat bercerai?”. Taemin terkaget, ia merasa begitu bodoh saat ini, apa hanya dirinya saja yang tidak tahu kalau orang tuanya dulu bercerai?.

Rasa bersalah muncul dalam hati Junki. Banyak yang tidak di ketahui Taemin. dan saat ini adalah saat yang tepat untuk menceritakan semuanya. Walau cukup terlambat. “saat itu, eomma-mu tiba-tiba saja meminta untuk berpisah. Dia tidak pernah mengatakan alasannya. Dia hanya bilang, lebih baik aku pergi ke luar negeri, katanya itu akan membuatnya nyaman. Tak ku duga, dia melakukan itu karena kanker yang menghinggap di tubuhnya. Aku benar-benar menyesal”cerita Junki.

Taemin kembali menundukkan kepalanya. Jadi, ini karena eomma-nya?. Rasa penyesalan mulai menghinggapinya. Selama ini dia salah paham, tapi mengapa Ayahnya membiarkan dirinya larut dalam kesalah pahaman itu?.

Dengan menahan air mata, Taemin mendongakkan kepalanya dan menatap Junki. “tapi, kenapa saat itu appa tidak memberitahukannya padaku? Kenapa baru saat ini?”.

***

“sudahlah, berhenti membicarakan Lee Taemin. Aku sedang kesal di buatnya”keluh Yoona pada Minho yang sedari tadi menanyakan hubungannya dengan Taemin.

“geurae, kau mau makan apa?”tanya Minho, baiklah ia tidak ingin melihat adik yang di sayanginya ini kesal. Walaupun ada kepuasan tersendiri saat melihat wajah kesal adiknya.

“terserah, apapun asalkan itu bukan ramyun”. Ia sangat bosan, setiap kali Minho mengajaknya makan, pasti dia selalu membawanya untuk makan makanan favorit Minho itu.

“haha, ok, bagaimana kalau ddaekboki?”.

Tidak, ide buruk. Jika ia makan itu, mungkin rindunya pada Taemin akan bertambah. “andwae, lebih baik kita makan ayam saja. Aku tahu tempat yang enak. Di pertigaan nanti belok kanan oppa”.

***

“hai! Yoona, Minho !”. Jonghyun melambai-lambaikan tangannya pada Yoona dan Minho yang baru saja masuk.

Yoona mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restaurant ini. Tidak ada Key, Onew juga, kemana kedua manusia itu?. “mencari Onew? Dia sedang sibuk dengan Yoonra dan Key, kau tahu, dia juga sibuk dengan gadis-nya”ucap Jonghyun seakan tahu dengan apa yang di pikirkan Yoona.

Minho menautkan alisnya, Key sudah mempunyai yeojachingu?. “kau bilang apa tadi? Key?”.

Jonghyun menyeruput minumannya dan menatap Minho. “yeah, begitulah. Kau tahu, gadis itu, Hyo Min, sahabat dongsaeng-mu”jawab Jonghyum.

“Hyo Min? aneh, bagaimana bisa?”. Minho masih terkaget. Hyo Min, kapan mereka berdua bertemu?.

Baru saja Jonghyun akan menjawab kebingungan Minho, namun terhenti di saat matanya menangkap siapa yang baru saja masuk ke dalam  restaurant itu. “lihat pasangan baru itu. Ya, Key!”.

Key menoleh ke arah Jonghyun. “ouh, ku kira kau sedang sibuk dengan yeoja”ujar Key.

Jonghyun mendengus. “bukankah perkataanmu tadi tertuju padamu? Bukankah kau yang sibuk dengan Hyo Min?”.

“eonnie!”. Baru saja ia memikirkan tentang Yoonra dan Onew, tak di sangka kedua orang itu muncul.

Dan di saat mulutnya akan menyapa Onew, Onew memberi tanda pada Yoona agar tidak memanggilnya. “ouh, Yoona. Kau di sini?”.

Yoona yang langsung mengerti isyarat dari Onew, mengalungkan tangannya di lengan Yoonra dan  mengajaknya duduk bergabung dengannya dan Hyo Min. “kau sendirian saja eonnie?”tanya Yoona membuat Onew bernafas lega.

Benarkah?, Yoonra kira sepanjang jalan tadi Onew masih mengikutinya. “ne, ah, apakah yang ada di hadapanku saat ini adalah Hyo Min?”.

Hyo Min sedikit terkaget, bagaimana Yoonra bisa tahu? Bukankah?. “indra penciuman dan peraba ku cukup bagus. Aku bisa mengenali wangi parfummu Hyo Min-ah”lanjut Yoonra.

“ouh, begitu. Kau hafal jalan ke sini eonnie?”tanya Hyo Min.

Yoonra mengangguk. Ingatannya juga cukup bagus. “aku pintar dalam menghafal sesuatu”.

Yoona melirik ke arah Onew yang masih memandangi Yoonra. Jika mereka dulu bersahabat, kenapa sekarang seperti ini?. Tidak mungkin mereka menjadi seperti ini hanya karena Yoonra menolak perasaan Onew. “ah, Onew oppa, kau datang”ujar Yoona membuat Onew tersentak.

Onew membulatkan matanya, kenapa Yoona harus memanggilnya?. Yoonra akan pergi jika tahu ia ada di dekatnya. Dan benar saja, tak lama, Yoonra bangkit dari duduknya bersiap untuk pergi. Onew hanya bisa menghela nafas. “Yoona, seharusnya kau tidak memanggilku”gumam Onew.

“loh? Eonnie, kau mau ke mana?”tanya Hyo Min. Padahal mereka belum mengobrol tapi Yoonra sudah ingin pergi lagi.

“ehm, ku rasa aku  harus pulang sekarang. Aku baru ingat ada yang harus ku lakukan di rumah”jawab Yoonra dan tersenyum tipis.

Yoona yang mencium ada sesuatu yang tidak beres di sini, menahan kepergian Yoonra. “tidak bisa eonnie. Kau harus tetap di sini. Lagipula, Onew oppa sudah bergabung dengan Jonghyun oppa dan lain-lain. Jadi di sini hanya ada kita bertiga. Dia tidak akan mendengar pembicaraan kita”cegah Yoona dan melirik ke arah Onew.

***

Angin berhembus melewati dirinya, langit sudah mulai gelap, dan salju juga mulai turun. Yoona melirik ke arah Onew yang masih terdiam sejak mereka duduk di sini beberapa menit yang lalu. “jadi…ada apa denganmu dan Yoonra eonnie?”tanya Yoona, sekaligus mengusir kesunyian yang menghinggapi mereka.

Onew menoleh ke arahnya dengan senyum di bibirnya. “tidak ada. Memangnya kenapa?”.

Yoona mendesah, sudah jelas-jelas ada sesuatu yang terjadi antara mereka tapi Onew masih saja mencoba berbohong padanya. “geotjimal! Lalu, mengapa kalian seperti tadi? Dan Yoonra unni, sedikit aneh melihat kalian seperti ini. Bukankah kalian bersahabat?”.

Onew menghela nafas, Yoona sudah tahu, tapi dia tidak tahu kenapa mereka seperti ini. Dirinya pun juga tidak tahu mengapa ia dan Yoonra menjadi seperti ini. Yoonra lah yang memegang jawabannya. “mollayo”.

“mwo? Bagaimana bisa kau tidak tahu oppa. Aneh”.

“entahlah, Yoonra tiba-tiba saja berubah seperti ini. Aku juga tidak tahu kenapa”.

Onew menatap Yoona, saat ini gadis yang ada di hadapannya sedang mengoceh tidak jelas. Ia tidak mendengar apapun saat ini, hanya desiran angin yang terdengar di telinganya. Matanya terlalu serius memandangi wajah Yoona. Gadis ini sedikit mirip dengan sosok Yoonra yang dulu.  “tapi, walaupun dia seperti itu. Setidaknya kau tetap menyenangkan Yoona. Terima kasih karena mau menemaniku saat ini”.

Yoona menghentikan ocehannya dan beralih menatap mata Onew. Masih terlihat kesedihan dari tatapannya. Tapi, baginya, melihat senyuman di wajah Onew, membuatnya senang dan tidak membuatnya mencemaskan Onew lagi. “kapanpun kau membutuhkan seseorang untuk menemanimu oppa. Panggil saja aku”.

***

Taemin menatap langit yang cerah, matahari sudah mulai terlihat tapi hembusan angin yang dingin masih saja terasa. “sedang apa kau di sini?”. Suara Taesun menghentikan lamunannya.

“kau sendiri?”. Taemin menatap Taesun yang sedang memberikan senyum manisnya untuknya.

“mencari udara segar”jawabnya singkat dan menengadahkan kepalanya, menatap langit.

Taemin menundukkan kepalanya, ia benar-benar merindukan suasana dulu. Di saat keadaan keluarganya tidak seperti ini. Di saat semunya masih utuh.

“jadi, Appa sudah menceritakan semuanya padamu?”. Taesun menoleh ke arahnya.

Taemin mengangguk, dan saat ini ia benar-benar menyesal. Tapi, entah mengapa ia tidak bisa bersikap layaknya seorang anak pada ayahnya. Ia begitu kaku terhadap ayahnya sendiri. Aneh? Tentu saja aneh.

“dan, bagaimana perasaanmu saat ini?”. Taesun masih menatap adiknya, wajar saja jika Taemin masih belum bisa bersikap seperti dulu. Waktu yang terlalu lama telah membuatnya seperti ini. Ia tahu, ini sudah terlambat. Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

“entahlah”.

“kau masih membenci kami?”tanya Taesun lagi.

Taemin menghela nafas panjang, mungkin cukup sampai di sini. Terlalu lelah? Sudah tentu  ia lelah bersikap cuek pada kakaknya ini. Onew benar, semuanya sudah memulai untuk membuat dirinya kembali seperti dulu. Dan kini saatnya ia menghapus rasa benci itu. Lagipula, ia sudah mengetahui alasannya. Tapi, ada sedikit yang membuatnya ragu, ia tidak bisa kembali seperti dulu di depan ayahnya.

“annio”. Taemin bangkit dari duduknya dan menarik udara dalam-dalam.

“mwo?”. Taesun ragu dengan apa yang baru ia dengar?. Tadi Taemin bilang apa?. Apakah dia sudah tidak membenci dirinya dan appa-nya ?.

“aku lelah hyung dan lapar. Apa kau mau ikut denganku pergi ke café?”. Taemin tersenyum, dan menoleh ke arah Taesun. Mungkin ia bisa memulai dengan pergi ke suatu café bersama.

***

“aku benar-benar membencinya!”. Yoona menggebrakan meja dan membuat Hyo Min yang sedang membaca buku terganggu.

“hei, ada apa?”tanya Hyo Min dan menutup bukunya.

“namja itu benar-benar menyebalkan. Dia belum menghubungiku!”jawab Yoona ketus. Sudah dua hari Taemin tidak menghubunginya, Apa saja yang di lakukan laki-laki itu sampai tidak sempat menghubunginya?.

Hyo Min langsung menangkap perkataan Yoona. Ini tentang Lee Taemin. “kenapa kau tidak menelfonnya?”.

Yoona menatap Hyo Min, tidak mungkin ia yang memulai. Laki-laki lah yang seharusnya memulai. “shireo! Dia harus menghubungiku lebih dulu. Aku tidak akan menelfonnya sebelum dia menelfonku duluan”.

“kalau seperti itu, kalian akan lost contact. Kau gengsi?”.

“aish, sudahlah. Jangan membahasnya lagi. aku sedang kesal”.

Hyo Min tertawa, siapa yang memulai membahas namja itu. “kau yang memulainya bukan aku”.

***

Kecanggungan itu berangsur-angsur menghilang. Ia cukup lega, saat ini ia sudah bisa mengobrol seperti dulu dengan Taesun. Awal yang cukup bagus bukan?. Sampai ia teringat sesuatu. “astaga, aku  lupa sesuatu”ujarnya dan mengambil ponsel miliknya yang tersimpan di saku jaket.

Taesun mengerutkan keningnya, ada apa dengan adiknya?. “wae?”.

Taemin mengklik tombol hijau saat ia selesai mengetik nomor Yoona. Yeah,  ia tahu gadis itu akan  mengomelinya habis-habisan. Terlebih, Taemin tidak memberi tahu Yoona kalau ia akan pergi ke sini saat itu. Gadis itu pasti sedang merutukinya saat ini. “aku lupa menghubungi seseorang”jawab Taemin.

“nugu?”tanya Taesun lagi namun tidak sempat di jawab Taemin karena yang di telfon telah mengangkatnya.

Tangannya bergerak menjauhi handphone-nya dari telinganya. Benar dugaannya, gadis itu mengomelinya sekarang. “ya! Lee Taemin! apa saja yang kau lakukan?! Kenapa baru menelfonku?! Kau sungguh menyebalkan. Aku membencimu!”.

“yeoja-ku, hyung”jawab Taemin pada Taesun dan menyunggingkan senyumnya.

“mianhae, aku. Hem, tidak akan ku ulangi lagi”. Tidak mungkin ia mengatakan pada Yoona kalau ia lupa menghubungi Yoona. Pasti Yoona akan langsung mengakhiri pembicaraannya.

“namja menyebalkan! Kau tidak ingin memberitahuku apa yang membuatmu tidak menelfonku dua hari ini?”.

Taemin kembali menjauhi ponselnya dan beralih pada Taesun. “hyung, dia begitu sensitive sekarang. Padahal dulu, ia tidak seperti ini”ucap Taemin sedikit berbisik. Dan tertawa kecil mendengar suara Yoona yang terdengar begitu kesal.

“maafkan aku. Dua hari ini ponselku rusak. Tercebur di sungai arno”ucapnya dan di iringi tawa kecil darinya dan Taesun. Yeah, sudah jelas ia berbohong.

ck, anak kecil pun akan tahu kalau kau sedang berbohong. Sungai arno yang dingin itu tidak ada yang mau mendekatinya saat ini. Apalagi mengambil ponsel yang tercebur ke sungai itu. Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat. Bagaimana kabarmu?”.  Suaranya melembut, senyum di bibir Taemin melebar, baru dua hari tapi ia sudah merindukan suara itu.

“baik, sangat baik. Neo?”.

***

Onew mendesah kesal, kali ini dia sudah tidak tahan. Sebenarnya, apa yang membuat Yoonra menjadi seperti ini padanya?. Padahal, mereka tidak pernah bertemu untuk waktu yang lama dan mereka juga tidak pernah berhubungan. Tidak mungkin ia melakukan sesuatu yang menyakiti hati Yoonra. “cukup! Aku sudah tidak tahan. Apa alasannya?”.

Yoonra menoleh ke arah kiri, ke asal suara itu. Onew, kenapa dia tidak membiarkan dirinya pergi?. Tidak tahukah ia..hah, semuanya akan sulit. Tidak, tapi sekarang benar-benar sulit. “maksudmu?”. Pura-pura tidak mengerti apa yang di ucapkan Onew.

“jadi, kenapa kau berubah? Apa aku menyakitimu? Kenapa kau menjadi seperti ini padaku?”tanya Onew dan menatap Yoonra tajam.

“karena dulu dan sekarang sudah berbeda”jawab Yoonra lirih.

Onew menghela nafas panjang, gadis ini selalu menjawab hal yang sama. “aku tahu itu. Tapi, aku tahu ada yang lain. kenapa kau selalu menjawab hal yang sama? Jadi, untukmu, aku ini apa? Sahabatmu atau?”.

“bukan siapa-siapa”.

Udara seakan menipis, kenapa hatinya begitu sakit saat mendengarnya?. Jadi, apakah yang di katakan Yoonra benar?. Apa seperti itu dirinya bagi Yoonra?. “a…apa yang kau katakan barusan? Aku tidak dengar. Di sini terlalu ramai. Bisa kau ulangi?”. Sepertinya air matanya akan terjatuh.

Yoonra menggigit bibirnya, ia tahu Onew pasti terluka medengar kalimatnya barusan. Onew, seandainya semuanya tidak seperti ini, gumam Yoona dalam hati. “baguslah, kalau  kau  tidak dengar sudahlah, aku harus pulang. Jangan cegah aku atau aku akan berteriak!”.

Onew berdiri mematung di tempatnya, apa sekarang gadis ini begitu membencinya?. Tapi, kenapa? Apa yang membuat Yoonra membencinya?. Ada apa?. Onew menghembuskan nafas panjang, tersadar kalau sedari tadi ia menahan nafasnya.

Onew hanya bisa memandangi punggung Yoonra. Sosok itu semakin lama semakin menjauh dan hilang di telan kerumunan orang banyak. Seandainya ia bisa mengatur perasaannya, mungkin ia akan mengatur perasaannya agar tidak mencintai Yoonra lagi. Tapi, ia tahu ia tidak akan pernah bisa melakukannya. Saat ini, apa yang harus di lakukannya?.

***

mungkin melakukan hal yang romantis pada nuna bisa membuat hatinya luluh”usul Taemin.

Onew menghela nafas lagi, apa? Hal romantis apa yang harus ia lakukan pada Yoonra?. ia takut Yoonra akan pergi menghindarinya. “seperti apa?”.

mungkin memainkan piano untuknya dan bernyanyi. Kau tahu hyung, biasanya itu berhasil”.

“kau sudah mencobanya?”.

“yeah, begitulah. Pipinya memerah saat aku melakukan itu bedanya aku tidak memainkan piano”.

“lalu, apa yang kau lakukan pada Yoona?”.

aku menari dan menyanyikan lagu untuknya dan setelah itu tanpa sadar aku mengecup bibirnya. Pipiku memanas saat melakukan itu, hyung”.

“wow, kau daebak! Menciumnya dua kali? Lalu, saat kau pulang nanti kau akan melakukan hal yang ‘lebih’ dari itu? Huh? Awas saja kalau berani”. Onew menahan tawanya tapi sedetik kemudian ia kembali mengingat Yoonra. hah, melelahkan seperti ini terus.

Terdengar tawa dari Taemin di sebrang sana. “tidak, tidak mungkin. Kau berlebihan hyung. Aku tidak akan melakukan hal yang aneh padanya. Lagipula, aku tidak punya nyali untuk melakukannya. Haha, hanya bercanda”.

“kau ini. Hah, di sini benar-benar sepi. Kapan kau mengunjungiku?”. Onew menarik tirai yang menutupi jendela kamarnya. Dari sini, ia dapat melihat Namsan Seoul Tower dan juga keramaian jalan di luar.

“ya, hyung. Aku baru tiga hari di sini. Aku tahu aku ini orang yang sangat menyenangkan dan tentu saja selalu membuat orang kangen padaku. Haha”.

Onew tersenyum, tentu saja Taemin benar. “kau terlalu percaya diri”.

tapi aku benar kan? Buktinya kau memintaku untuk mengunjungimu. Ouh, tunggu hyung. Aku lupa melakukan sesuatu. Ah, aku akan menelfonmu lain waktu. bye!”.

Pip, percakapan terputus. Onew menghela nafas, bagus, sekarang ia hanya sendirian. Matanya kembali menatap ke luar jendela. Dan sosok yang terasa tak asing lagi di matanya sedang berdiri di depan rumahnya. Tunggu, bukankah itu Yoonra?. Sedang apa gadis itu di depan rumahnya?.

Yoonra menghentikan langkahnya saat dia merasa sudah sampai di depan rumah Onew. Sebenarnya, ia tidak ingin seperti ini. Ia lebih menyukai masa lampau di banding masa kini. Karena saat ini semuanya sudah berubah. Dan ia tidak bisa leluasa seperti dulu. Leluasa untuk menggenggam tangan Onew, merangkulnya dan terlebih saat ini ia tidak bisa melihat apapun.

“Yoonra?”. Suara itu menyadarkannya dari lamunannya. Oh, tidak. Kenapa Onew harus menghampirinya?.

“sedang apa kau di depan rumahku?”tanyanya. Apa yang harus ia jawab?.

“jinja? Ku kira aku sudah sampai di café. Kalau begitu aku pergi”. Onew menghentikan langkahnya, lagi-lagi dia mencegahnya.

“ku mohon. Katakan padaku, apa ini karena kelemahanmu itu?”. Suara itu terdengar lirih, air mata mulai memupuk di pelupuk mata Yoonra.

“apa maksudmu?”. Yoonra berpura-pura tidak mengerti apa maksud dari perkataan Onew, walaupun pada kenyataannya ia mengetahuinya.

“Yoonra, walaupun saat itu kau menolakku. Tapi, setidaknya, bukankah kita masih bersahabat? Aku..”. Belum sempat Onew menyelesaikan perkataannya, Yoonra telah memotongnya terlebih dahulu.

“tidak, kau salah. Bukan seperti itu. Yeah, ini memang karena kebutaanku. Dan sekarang, aku hanya ingin sendiri, tanpamu tentunya. Bukankah aku sudah bilang, kini semuanya berbeda. tidak mungkin kita seperti dulu”.

“kenapa tidak?”ucap Onew, masih menatap kedua mata yang memancarkan tatapan kosong itu.

“sudahlah, aku harus segera pergi. Dan, jangan cegah aku”. Yoonra masih menahan air matanya, mungkin ia benar-benar akan menangis jika seandainya ia dapat melihat wajah Onew.

“kau belum menjawabku”ujar Onew, demi apapun ia tidak ingin yeoja ini pergi. Sudah terlalu lama ia tidak bertemu dengan Yoonra, dan sekarang ia ingin tetap menatap wajah itu. Walaupun raut wajah Yoonra terlihat sangat berbeda dari dulu. Ia begitu merindukan senyum di wajah yeoja ini.

Yoonra menghela nafasnya, Onew bagaimana aku bisa melupakanmu jika setiap hari kau datang?, batin Yoonra. “karena aku ingin melupakanmu dan kini kau merusaknya. Kau tahu Onew, seiring waktu yang berlalu. Entah mengapa, aku menyesal mengenalmu dan juga”. Yoonra menghentikan perkataannya, air mata akhirnya terjatuh. Ia tahu perkataannya menyakiti hati Onew, bukankah lebih baik seperti ini?. Lebih baik Onew membencinya, dan mungkin semuanya akan lebih mudah.

“dan juga menyesal menjadi sahabatku?”, ucap Onew getir, perkataan Yoonra tadi cukup membuatnya sakit. Apa hanya karena itu Yoonra menjadi seperti ini padanya?. Aneh, tidak mungkin kalau hanya itu.

Yoonra hanya terdiam di tempatnya, mengunci mulutnya rapat-rapat. Cairan bening sulit ia tahan lagi, saat ini lebih baik ia pergi. Ia tahu, maupun dirinya dan Onew sama-sama terluka. Tapi, ia menyadari kebutaan yang ia alami membuatnya merasa begitu tidak pantas untuk menerima cinta Onew dan juga berada di sampingnya.

Kali ini Onew tidak lagi mencegah Yoonra untuk melangkahkan kedua kakinya, menjauh darinya. Apa yang membuat Yoonra seperti ini?. “aku tidak tahu kenapa kau seperti ini. Tapi satu hal yang ku tahu, saat ini kau begitu berbeda. Yoonra-ya, aku begitu merindukan sosokmu yang dulu. Bisakah kau kembali seperti dulu?”.

——————————————-TBC—————————————————–

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

5 thoughts on “Touch Your Heart – Part 11”

  1. aigoo yoonra-jinki ,,rumit juga hbungannya.
    tpi aqq ngerasa dimari lbih bnyak dialog dripada narasi ya?
    pizzz,,,tpi jdi mkin pnasaruuaaann.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s