I Will Always Love You – Part 2

Judul                : I Will Always Love You

Author             : Aya-chan

Main cast        : Choi Minho, Han Ji Eun as You

Support cast    : Choi ahjumma, Choi ahjussi and other

Genre              : Sad Romance

Length             : Chapter (17pages)

Rating              : PG 15-17

A.N                  : Terinspirasi dari lagunya Whitney Houston dan satu FF yang saya lupa judulnya—mianhae. Meskipun mungkin makna asli dari lagunya nggak seperti cerita ini, tapi, tiap kali dengar lagu itu saya selalu menafsirkannya persis seperti cerita yang saya tulis ini. Kamsahanidaaaaa~ pada reader dan admin yang ngepostin. Leave comment okay ^^. Oiya, ff ini juga udah pernah di post di ffshineeshawol.wordpress.com , tapi biar banyak yang baca saya kirim kesini.

Summary

Telah bisa kulihat bagaimana akhir kisah kita

Ketika pengorbanan adalah jalan yang terpilih

Ketahuilah namamu, cintamu, kasihmu seperti rantai yang mengikat

Dan aku adalah jiwa yang tidak bisa lepas dari rantai itu

HAN JI EUN POV

            Minho pingsan saat kami sedang fitting baju 2 hari yang lalu dan hingga saat ini dia belum juga sadarkan diri. Aku benar-benar khawatir dengan keadaannya kali ini. Ini semua terjadi terlalu cepat dari perkiraanku. Semalaman aku menangis dan berdoa agar dia bisa sadar dari komanya dan tersenyum lagi padaku.

            Aku memegang gagang pintu yang terbuat dari besi itu. Dingin, sama seperti perasaanku saat ini. Ku geser pintu itu pelan, kulangkahkan kaki dan membungkuk hormat pada kedua orangtua namjachinguku.

            “Annyeong Eomma, Appa” aku menyapa mereka. Eomma segera menghampiriku dan memelukku sebentar.

            “Bagaimana keadaan Minho Oppa, eomma?” tanyaku pelan.

            “Masih seperti kemarin, ah, kau sudah pulang dari tempat kerja ya?” eomma memandangku dengan tatapan keibuannya. Ia memang wanita yang sangat baik. Ia begitu baik padaku, tidak pernah sekalipun marah ataupun membentakku.

            “Ne, ini aku bawakan makanan. Tadi aku pulang kerumah dulu untuk memasak dan langsung kesini” aku meletakkan tas berukuran sedang yang sejak tadi ku bawa.

            “Ah, Ji Eun-ah kau baik sekali. Eomma dan Appa kebetulan belum makan” seru Eomma sambil membimbingku untuk duduk disofa disampingnya.

            Dengan sigap aku membukakan semua makanan itu dan menghidangkannya di hadapan Eomma dan Appa. Eomma langsung mengambil nasi dan kimchi, sedangkan Appa tetap diam dengan pandangan mengarah pada Minho yang masih terbaring tidak sadarkan diri.

            “Appa, makanlah walaupun sedikit” aku menyentuh lengannya dan meletakkan semangkuk nasi beserta sumpit di hadapannya.

            “Minho-ah adalah anakku satu-satunya. Orang yang ku harahapkan bisa melanjutkan keturunanku dan mengurus perusahan milik keluarga kami. Tapi kenapa Tuhan justru menakdirkan dia menderita seperti ini” Appa terisak pelan. Aku hanya mampu menghela napas, bingung rasanya harus menanggapi apa. Kadang, ingin rasanya akulah yang berada diposisi Minho sekarang. Akulah yang merasakan sakit yang dia rasakan. Dan cara itu juga bisa membuatku membayar segala kebaikan yang telah mereka berikan padaku.

            Kali pertama Minho bertemu denganku, aku hanyalah seorang gadis panti asuhan yang baru lulus dari sekolah menengah atas dan bekerja sebagai pelayan disebuah restoran sup sapi. Namun segalanya berubah ketika Minho datang dan berlutut dihadapanku. Menyatakan cintanya dan berjanji akan membahagiakanku. Sejak itu aku di sekolahkan disebuah sekolah management hingga kini aku bisa menjadi seorang wakil manager. Lalu keluarga Minho merencanakan pernikahanku dengannya. Hidupku benar-benar berubah karena kehadiran Minho.

            Aku ingin sekali menebus semua kebaikannya hingga aku tidak merasa membebaninya lagi. Apakah cara ini, cara yang baru saja terlintas dipikiranku bisa membantunya dan juga membantuku menebus semua kebaikan keluarga ini.

~~~

            Hari ini adalah hari kelima Minho masih terbaring tak sadarkan diri dalam komanya. Matahari di kota Seoul bersinar cerah menembus kisi-kisi jendela ruang rawat yang dominan berwarna putih ini. Aku baru saja selesai menyiapkan air hangat dan handuk untuk membersihkan beberapa bagian tubuh Minho.

            Tanganku bergerak mengelus dahi dan pipinya yang putih bersih dengan handuk hangat. Mengelus mata kodoknya yang terpejam rapat dan menyentuh bulu matanya yang lentik. Minho Oppa, demi apapun aku hanya ingin melihat mata ini terbuka dan berbinar bahagia.

            Aku kembali mencelupkan handuk ini dan memerasnya. Kemudian mengambil tangan Minho yang bergelangannya tertanam jarum infuse. Pergelangan tangan yang terlihat semakin kurus. Tanganku bergerak mengelusnya dengan pelan, sebelah tanganku menggenggam jari-jari tangannya. Sesuatu yang membuat jantungku seakan berhenti seketika terjadi. Jari-jari dalam genggaman tanganku bergerak lemah. Tapi ini benar-benar bukan ilusi. Seketika aku menyingkirkan handuk hangat dan menatap wajah Minho Oppa penuh harap. Tak sabar menunggu mata kodoknya terbuka.

            Aku melihat mata itu bergerak dan mengerjap-ngerjap seketika.

            “Minho Oppa…” aku memanggil namanya pelan. Kepalanya bergerak mengarah padaku dan matanya masih mengerjap-ngerjap. Ketika pandangan kami bertemu, dia tersenyum padaku. Aku menghela napas lega dan mengelus rambutnya lembut.

            “Gwenchanayo?” tanyaku berusaha menyakinkan kalau dia telah benar-benar sadar. Dia kembali tersenyum dari balik masker oksigennya dan menganggukkan kepala. Aku masih tetap mengelus rambutnya, “Ku panggilkan dokter sebentar ya, Oppa?” tanyaku lagi. Dia kembali menganggukkan kepala.

AUTHOR POV

            Kicauan burung diantara hembusan angin yang mengalir dari kisi-kisi jendela terdengar jelas. Ji Eun sedang memasukkan beberapa potong pakaian Minho kedalam sebuah tas berukuran sedangberwarna biru tua. Kondisi Minho semakin membaik setelah 2 hari siuman ini. Dia telah diperbolehkan untuk pulang. Dan betapa bahagianya Ji Eun akan kenyataan ini. Apalagi, 2 hari yang akan datang ia akan segera menjadi Nyonya Choi.

            Ji Eun menghela napas panjang. Ia telah selesai mengepak semua barang-barang Minho. Ia kemudian berbalik dan mendapati Minho yang tengah duduk ditepi tempat tidur sambil menatapnya lekat dengan senyuman. Ji Eun tergerak menghampiri namja itu dan meraih tangannya.

            Ji Eun hendak membuka mulutnya untuk menyebut nama Minho. Namun, sebelum itu terjadi, tangan kekar Minho sudah menarik Ji Eun kedalam pelukannya. Minho menatap wajah yeoja yang ada dalam pelukannya itu, ah, selalu begitu. Semburat merah jambu yang selalu menghiasi pipi Ji Eun ketika mereka berada dalam jarak sedekat ini.

            “Opphmmmmpp” ucapan Ji Eun tergantung oleh ciuman Minho dibibirnya. Ia dapat melihat mata kodok Minho terpejam seolah begitu menikmati ciumannya. Ji Eun pun ikut memejamkan matanya. Dalam hening kedua insan itu saling mengecup satu sama lain. Lembut, tidak tergesa-gesa dan bermakna. Ciuman paling manis yang pernah Ji Eun rasakan adalah ciuman yang didapatkannya dari Minho.

            Mereka masih saling mengecup dan membiarkan perasaan mereka mengalir dari ciuman manis itu. Ji Eun merasakan matanya sedikit berair. Ada sesak didadanya jika mengingat keadaan Minho. Ya, ia tidak akan pernah bisa bertahan jika Minho meninggalkannya lebih dulu. Ia tidak akan bisa menjalani hidupnya lagi jika tidak ada Minho disampingnya.

            Minho melepas ciumannya dan mendapati mata Ji Eun memerah.

            “Jagi-ah, waeyo? Mianhe kalau aku membuatmu sesak napas” Minho mengelus ujung mata Ji Eun.

            “Ani Oppa, aku hanya terharu” jawab Ji Eun sambil membenamkan wajahnya didada Minho. Minho menghela napas dan semakin mempererat pelukannya.

            “Dua hari lagi kita akan menikah, Jagi-ah” ucap Minho sambil meletakkan dagunya dipuncak kepala Ji Eun.

Ji Eun mengangguk, “ Ne, aku akan jadi Nyonya Choi dan akan memberikanmu Choi junior” kata Ji Eun sambil terkekek pelan.

Minho tergelak dan menatap Ji Eun yang masih ada dalam pelukannya, “ Berjanjilah untuk memberiku Choi junior yang tampan dan cantik Nyonya Choi.”

Ji Eun tidak menjawab, namun semakin membenamkan wajahnya dalam pelukan Minho. Tanpa bisa Ji Eun kendalikan setetes butiran bening mengalir dipipi mulusnya.

            Oppa, bisakan aku menepati janji itu? Bisakan aku memberikanmu seorang Choi junior jika keadaanku yang sebenarnya tidak memungkinkanku untuk bisa menepatinya, keluh Ji Eun dalam hatinya.

            SREEETT.

Pintu ruang rawat itu terbuka dan masuklah dua orang tua dengan tampang lelah. Mereka baru datang dari kuil untuk berdoa dan berterimakasih pada Tuhan atas keadaan Minho yang membaik. Begitu masuk mata mereka langsung menangkap sosok Minho dan Ji Eun yang tengah berpelukan. Seulas senyum terlukis diwajah mereka. Demi apapun, keinginan mereka hanyalah melihat kedua orang itu bahagia tanpa perlu mengkhawatirkan keadaan masing-masing.

            “Ehem” Choi ahjussi berdehem pelan dan sukses membuat Minho dan Ji Eun melepaskan pelukannya serta menjaga jarak mereka.

            “Yaa! Kenapa harus saling menjauh seperti itu,” Choi ahjumma menahan senyumnya, “ Kalian sudah akan menjadi suami istri dua hari lagi, apa kalian lupa?” tanyanya.

            “Ah, eomma! Kami hanya malu tertangkap basah oleh kalian” jawab Minho sekenanya sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

            “Hahaha…” Choi ahjumma sudah tidak bisa menahan tawanya lagi melihat kelakuan anak serta calon menantunya itu.

            “AKH!” tiba-tiba Ji Eun memekik kesakitan sambil terhunyung memegangi perut bagian bawahnya.

            “JI EUN-ah, waeyo?” Minho berteriak panik meraih tubuh Ji Eun yang semakin kehilangan keseimbangannya.

            “Apa kita perlu panggilkan dokter?” Tanya Choi ahjumma dengan nada cemas.

            “Ne, ayo sini biar aku yang panggilkan” jawab Choi ahjussi sambil beranjak keluar.

            “An..dwee, nae gwenchanaeyo” seru Ji Eun melarang Choi ahjussi memanggilkan dokter.

            “Jagi-ah, ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana jika ada sesuatu hal yang salah denganmu?” Bujuk Minho sambil mengelus-elus kepala dan perut Ji Eun.

            “Ne Ji Eun aegi-ah, lebih baik kita panggil dokter” Choi ahjumma ikut mebujuk Ji Eun.

            “Em, ne” akhirnya Ji Eun bersedia. Dan segera saja Choi ahjussi pergi memanggilkan dokter.

HAN JI EUN POV

            Rasa sakit itu kembali menyerangku disaat yang tidak tepat. Cih, menyebalkan sekali. Kenapa harus didepan Minho, Choi ahjumma dan Choi ahjussi? Hal ini malah akan membebani pikiran mereka. Dan aku melihat itu, wajah Minho yang terlihat sangat cemas serta wajah Choi ahjumma dan ahjussi yang lelah dan khawatir.

            Dokter meminta mereka semua keluar ketika dia melakukan pemeriksaan padaku. Aku sudah tidak merasakan sakit yang sangat lagi kini.

            “Apa kau belum memberitahu mereka tentang keadaanmu?” Tanya Dokter Kim lembut. Rahangku mengeras mendengarnya. Bagaimana mungkin aku memberitahu semuanya ketika mereka sedang sangat khawatir dengan keadaan Minho. Meskipun aku tahu, jika menurut bidang medis keadaanku jauh lebih mengkhawatirkan dibanding Minho. Namun bagaimanapun aku tidak akan mengatakannya pada mereka.

            Aku menggeleng pelan, “ Aku tidak ingin mengatakannya” jawabku.

            “Wae? Apakah kau—“

            “Dokter, kita telah sepakat. Kau tahu apa yang harus kau katakan pada mereka tentang keadaanku. Dan kau tentu juga tahu apa yang harus segera kau lakukan jika dalam waktu dekat ini keadaan Minho Oppa memburuk lagi.” kataku datar.

            Dokter Kim hanya mengangguk dan keluar dari ruangan tanpa sepatah katapun. Aku memejamkan mata dan menghela napas dalam. Tuhan, biarkan aku bertahan sebentar saja.

~~~

            Aku mendengar bunyi pintu terbuka dan kulihat tubuh Minho menyelinap masuk. Dia berjalan tegap menghampiriku.

            “Gweanchana Jagi-ah?” tanyanya sambil mengelur kepalaku. Aku mengangguk dan tersenyum padanya, “Ne, nae gwenchana. Aku sudah bisa pulang Oppa” jawabku.

            “Apa tidak apa-apa?” tanyanya lagi, terlihat sangat khawatir dengan keadaanku. Padahal, seharusnya dia lebih mengkhawatirkan keadaannya.

            “Ne, Oppa. Naneun gwechanaeyo,” jawabku meyakinkannya.

“Ayo, kita pulang Oppa” ajakku sambil meraih lengannya. Ia membantuku bangun dan memakaikan alas kakiku. Aku selalu tersanjung dengan segala perlakuannya padaku.

            “Sudah Oppa, aku bisa sendiri” kataku sambil mengambilalih sepatuku dari tangannya. Merasa tidak enak diperlakukan seperti ini.

            Aku dan Minho lalu pulang ke apartemen yang sudah disiapkan Minho sebagai tempat tinggal kami setelah menikah. Appa dan Eomma sudah menunggu kami disana. Mereka akan menemani kami hingga dua hari kedepan. Hari berlangsungnya pernikahanku dengan Minho Oppa.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “I Will Always Love You – Part 2”

  1. yahhhh tbc lagii . Keren min .
    Ji eun sakit apa thor ? Haduh kayaknya akan sad ending nih tapi jangan domg thor .bikinnya happy ending .kasian klo ada yg meninggal2 gitu .
    Ditunggu lanjutannya yaaa thor 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s