Love Me – Part 7

LOVE ME 7

 

Author : *Azmi

Maint cast :

  • Kim Jonghyun
  • Choi Yumi

Other cast :

  • Lee Taemin
  • Shim Min Ah
  • Choi Siwon
  • Choi Minho
  • Choi Minhwan (FT island)

Length : Squel

Genre : Angst, romance, married life, Friendship

Rating : PG 13

STORY

Jonghyun menggeliat pelan saat mendengar dentuman suara pintu terbuka, ia menegakkan tubuhnya yang semula meringkuk disofa yang membuat tubuhnya tertekuk. Lehernya terasa pegal, kakinya pun sedikit keram.

“Eomma dari mana?” tanya Jonghyun saat melihat ternyata ibunya baru saja masuk, ia mengecek alorji yang terikat di pergelangan tangan kanannya, jam empat pagi.

Jonghyun membantu ibunya kembali merebahkan tubuh diatas ranjang dan menyelimutinya, “Yumi, dia ke Afrika..” kata Ibu Jonghyun pelan.

Jonghyun masih belum bisa mencerna perkataan ibunya, selain karena setengah nyawanya masih tertinggal dialam mimpi tapi juga karena kata-kata yang baru saja Ibunya katakan itu seperti igauan tak masuk akal, tadi malam Yumi masih berada disisinya dan ia tak mengatakan apapun, mana mungkin sekarang ia sudah berada di tempat sejauh itu, ia yakin Yumi masih berada dikamarnya. Ia  hanya mengerutkan dahinya bingung.

“Yumi pergi ke Afrika, ia disana selama dua bulan untuk melakukan riset juga untuk bakti sosial.” Ulang ibunya menjelaskan.

Sepersekian detik setelah Jonghyun dapat mencerna perkataan ibunya, tubuhnya menegang. Matanya melebar tak percaya, ia ingin mengatakan sesuatu namun suaranya tercekat ditenggorokan.

“Ba…bangaimana Yumi bisa pergi?” Jonghyun sendiri tak mengerti apa yang ditanyakannya, setelah suaranya kembali hanya itu kata-kata yang lolos dari bibirnya, “Maksudku bagaimana Eomma membiarkannya pergi?!!” Jonghyun sedikit meninggikan suaranya, baru kali ini ia berani membentak Ibunya, apalagi ia tengah sakit.

“Jonghyun,,,”

Jonghyun mengacak rambutnya frustasi, ia menghela nafas untuk menenangkan diri.

“Mengapa Eomma membiarkannya pergi bahkan tanpa berpamitan padaku, apa yang ada dipikiran bocah itu?”

Tanpa berkata lagi Jonghyun meninggalkan kamar Ibunya dan beranjak kekamarnya sendiri dimana tadi malam ia menyuruh Yumi untuk istirahat disana.

****

 “Aku akan kembali dua bulan lagi Oppa. Jaga kesehatanmu, makan yang teratur dan saat kau demam jangan berjalan dilantai tanpa menggunakan alas kaki, usahakan pakai kaus kaki hangat. Aku akan sering-sering menghubungimu._YUMI”

Jonghyun meremas kertas ditangannya, rahangnya mengeras nampak sekali ia tengah menahan emosi. Setelah membaca pesan yang Yumi tinggalkan dikamarnya ia segera berlari keluar menuju garasi rumahnya. Ia mengeluarkan mobilnya dengan kasar, bahkan decitan ban yang bergesekan dengan lantai garasi menimbulkan bunyi yang cukup memekakkan telinga.

Setelah berhasil keluar dari garasi rumahnya, Jonghyun membelokkan mobilnya kekanan dan menambah kecepatan laju mobil BMW yang sebenarnya adalah milik orang tuanya. Jonghyun mengendarai mobilnya dengan kasar, kecepatannya melebihi 80 km/jam.

“Shit” umpat Jonghyun.

Tangannya memukul setir mobil yang tengah digenggamnya hingga menimbulkan bunyi keras memekakkan telinga karena kebetulan yang dipukulnya adalah tempat tombol klakson. Untung jalanan masih sepi, jadi tak ada orang yang protes dengan cara Jonghyun mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Yang ada dipikiran Jonghyun saat ini adalah bagaimana caranya agar ia sampai dibandara incheon secepat mungkin.

Jonghyun tahu kalau Yumi belum berangkat karena tadi ia sempat menelephone Siwon samchon untuk menanyakan jadwal keberangkatan pesawat Yumi dan ia sekarang masih memiliki waktu satu jam untuk menyusul gadis itu.

Jonghyun tak henti-hentinya mengumpat disepanjang perjalanan. Gadis itu, pintar sekali mempermainkan hatinya, kemarin ia sendiri yang bilang bahwa ia tak akan sekalipun meninggalkan Jonghyun meskipun hanya sejengkal. Jonghyun sendiri sebenarnya heran mengapa ia bisa seemosi ini, bukankah Yumi hanya pergi selama dua bulan, tapi rasanya Jonghyun akan ditinggal selamanya oleh gadis itu. Atau mungkin Jonghyun sendiri yang berlebihan?

Ini wajar karena bagi Jonghyun ia masih sangat merindukan gadis itu dan masih ingin selalu berada didekat gadis itu mengingat ingatanya baru saja kembali. Ia merasa baru kembali dari perjalanan panjang yang melelahkan dan satu-satunya hal yang bisa membuat tenaganya kembali lagi adalah dengan beristirahat disisi gadis itu.

Jonghyun mengerem mobilnya keras dan membuka pintu mobilnya kasar. Sepersekian detik kemudian ia berlari meninggalkan tempat parkir bandara Incheon bahkan sebelum pintu mobilnya tertutup sempurna dan masuk kedalam bandara.

Entah mengapa kaki Jonghyun menuntunnya berlari ketempat gate penerbangan, ia seperti sudah tertarik ketempat itu tanpa disadarinya, hingga tak membutuhkan waktu lama ia sudah melihat gadisnya dengan koper ditangan kirinya sedangkan tangan kanannya nampak sedang digandeng seorang namja yang sudah dikenal Jonghyun dengan sangat baik.

Gadis yang memakai celana Jins biru tua dengan dipadukan T-sirt hijau muda berlengan panjang dan sebuah syal kotak-kotak hitam putih yang melilit lehernya tampak baru saja membalikkan tubuhnya untuk memasuki gate penerbangan.

Dari jarak sekitar dua puluh lima meter dari gadis itu Jonghyun berlari dengan kencang, tangannya yang melambai dibawah itu mengepal sempurnya. Matanya tajam kedepan dan rahangnya mengeras.

“Ya!! Choi Yumi… NEO MICHEOSEO!!!”

Jonghyun tak memperdulikan nafasnya yang hampir habis setelah berlari dari tempat parkir bandara hingga kedepan gate penerbangan yang notabene berada dilantai dua bandara internasional korea selatan itu, Ia menyetakakan tangan Taemin dari Yeojanya begitu ia dapat meraihnya. Yumi yang saat itu masih shock dengan hentakan kasar ditangannya hanya bisa menurut saat Jonghyun lagi-lagi dengan kasar menariknya yang hampir masuk kedalam gate penerbangan bahkan koper yang sedari tadi digenggamnya terlepas begitu saja.

“Hyung!! Apa yang kau lakukan?”

Jonghyun menghiraukan teriakan Taemin dan terus menarik Yumi keluar bandara. Emosi menguasainya saat ini.

****

Yumi mati-matian menahan air matanya yang sudah mendesak ingin keluar. Ia tak menyangka reaksi Jonghyun akan sampai seperti ini. Ia bahkan sampai lupa menarik nafas saat tangan kekar Jonghyun menyeretnya dari bandara Incheon dengan kasar. Apalagi sepanjang perjalanan hingga mereka menghentikan mobilnya dipantai Incheon saat ini, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Jonghyun. Pria itu hanya diam dan wajahnya menampakkan raut dingin yang belum pernah Yumi lihat sebelumnya.

Tengkuk Yumi agak meremang ketika angin laut menyapa lehernya yang terbuka karena Syal yang dipakainya tadi terlepas saat Jonghyun mendorong dirinya dengan sedikit kasar kedalam mobil. Yumi memang jarang dan hampir tak pernah pergi kepantai hingga membuatnya sedikit tak nyaman dengan angin pantai, terakhir kali ia ketempat sejenis ini adalah saat ia berumur sepuluh tahun saat ia masih tinggal di Jeju.

Rambut Yumi yang tergerai belambai diterpa angin. Ia memandang pria didepannya yang memunggunginya nampak serius memandang hamparan laut didepannya, namun pandangan matanya nampak kosong hanya tangannya yang mencengkram kuat pembatas besi yang memisahkan jalan raya dengan pantai saja yang memperlihatkan bahwa laki-laki itu masih hidup.

Yumi ingin menghentikan aksi saling diam ini, namun suaranya terasa tertahan ditenggorokan. Ia takut Jonghyun akan semakin marah padanya, karena ia sadar ini adalah kesalahannya. Tak seharusnya ia pergi sejauh itu tanpa meminta Ijin pada suaminya bahkan untuk waktu yang cukup bisa dibilang lama yaitu dua bulan.

“Mianhae…” ucap lirih Yumi akhirnya dengan kepala yang menunduk.

Bersamaan dengan itu Jonghyun juga membalikkan badannya dan menggumamkan kata yang sama. Yumi mengangkat wajahnya seketika saat dirasakan sebuah pelukan erat membungkus tubuh kecilnya.

“Mianhae, aku tak bermaksud berlaku kasar padamu, maafkan aku Mi-ya…” gumam Jonghyun kembali mengeratkan pelukannya yang memang sudah erat hingga membuat Yumi menengadahkan kepalanya menahan sesak mencoba mempermudah dirinya untuk menarik nafas.

Air mata Yumi sudah tak terbendung lagi, ia menghiraukan dirinya yang kesulitan bernafas. Saat ini ia hanya ingin Jonghyun tak marah lagi padanya. Tangannya terulur membalas pelukan Jonghyun.

“Aku hanya belum siap, maafkan aku.” Jonghyun menenggelamkan wajahnya di geraian rambut coklat panjang Yumi, seperti tak ingin membiarkan gadis itu bergerak seincipun dari pelukannya.

“Aku yang seharusnya minta maaf Op,,,”

“Berhenti mengalah dariku!” potong Jonghyun keras membuat Yumi terlonjak karena Jonghyun berujar tepat dibawah telinganya untung saja masih ada helaian rambut yang menyekat mulut Jonghyun dengan telinganya sehingga tak sertamerta suara kencang itu masuk kedalam telinga Yumi seluruhnya.

“Kau sudah terlalu sering mengalah dariku, kau juga berhak marah. Marahlah padaku Mi-ya, jangan seperti ini terus. Aku akan semakin merasa bersalah padamu.” Yumi merasakan cairan hangat menetes dilehernya, Jonghyun mengangis.

Yumi dapat merasakan air mata ketulusan itu hingga membuat airmatanya juga mengalir semakin deras.

“Kau boleh memarahiku Mi-ya, kau boleh melakukan apapun padaku tapi sampai matipun aku tak akan membiarkanmu pergi dariku, sejengkalpun, sedetikpun,,, Saat kau berani melakukan itu, maka maafkan aku jika aku akan berbuat lebih kasar dari pada yang kulakukan tadi.”

“Op-oppa,,,”

“Aku baru saja kembali dan kau sudah mau pergi begitu saja bahkan setelah kau mengatakan padaku tak akan beranjak sedikitpun dari sisiku dan akan terus menempel padaku. Aku belum siap, aku belum siap kau tinggal. Aku akan selalu memegang janjimu itu dan aku belum pernah melihatmu mengingkari janji dan tak pernah ingin melihatnya,,,,

“Kau tak boleh pergi kemanapun, tetaplah disisiku,,,,”

****

Jonghyun menghentikan mobilnya didepan rumah mewah milik keluarga Choi yang sudah lama ini tak ditempati. Meskipun begitu rumah ini masih sangat terawat karena setiap harinya pelayan datang untuk membersihkan dan menjaganya.

Jonghyun melepas sabuk pengamannya. Ia menoleh kesamping dan mendapati Yumi tertidur pulas. Wajahnya begitu damai.

Tangan Jonghyun terulur menyentuh pipi halus Yumi. Gadis yang sudah dua tahun ini menemani hari-harinya. Kedatangannya yang begitu tiba-tiba, membuat Jonghyun sedikit kesulitan untuk menerimanya. Hari-hari yang begitu terasa melelahkan, membutuhkan sedikit tenaga tambahan. Namun kesabaran dan ketulusan gadis ini yang begitu basar lambat laun membuatnya terjerat dan tak mampu untuk terlepas.

“Jangan lakukan hal seperti ini lagi ne…” gumam Jonghyun pada Yumi yang tertidur sembari mengecup kening Yumi sayang.

Jonghyun membawa Yumi masuk dan menidurkan kekamar lamanya dengan sangat berlahan dan hati-hati takut membangunkan.

“Kau pasti lelah, tidurlah yang nyenyak.”

****

Yumi terbangun dari tidurnya, ia menggeliat dalam selimut dan mengucek matanya yang belum terbiasa dengan cahaya yang silau. Ia menegakkan tubuhnya dan melihat jam yang terletak dimeja samping ranjangnya, jam setengah lima sore.

Ia lega Jonghyun sudah tak marah lagi padanya, dan semua yang dikatakan Jonghyun di pantai tadi siang tak pernah lepas dari pikirannya bahkan sampai terbawa mimpi, mimpi yang menurut Yumi sangat indah. Bagaimana tidak, Jonghyun secara blak-blakan memintanya untuk tetap disampinya dan tak ingin Yumi pergi. Sesuatu yang sangat tidak mungkin Jonghyun katakan kalau ia masih hilang ingatan. Tapi setidaknya Yumi sedikit bersyukur karena setelah kecelakaan itu dan ingatan Jonhyun kembali, pria itu sangat berbeda dalam memperlakukan Yumi. Dulu Jonghyun tak pernah seperti ini, memeluk Yumi pun bisa dihitung dengan jari.

Yumi tersenyum kecil kemudian beranjak dari ranjangnya dan saat itulah ia baru sadar bahwa ia berada di rumahnya yang dulu, rumah yang penuh kenangan dengan orang tuanya. Jadi Jonghyun membawanya pulang kesini?

Dibukanya pintu kamarnya dan mengedarkan pandangan matanya kepenjuru rumah besar itu dan mustahil mata Yumi mampu menjangkau seluruh bagiannya. Ia mencari Jonghyun, dan tak menemukan siapapun. Rumahnya begitu sepi, biasanya jam segini bibi Jung datang untuk membereskan rumah, tapi mengapa sekarang rumah ini seperti rumah kosong berhantu. Ini terlalu sunyi membuat Yumi merinding sendiri.

Dilangkahkannya kaki menuju dapur, mungkin saja Jonghyun disana tengah makan atau apapun. Namun saat Yumi telah sampai disana ia tak mendapati sosok itu, dapur itu sama sunyinya dengan ruang tengah.

Apa Jonghyun meninggalkannya disi sendiri?

Samar-samar Yumi mendengar bunyi aneh, seperti bunyi dentuman teratur dan berkali kali, seperti bunyi seorang tukang ledeng yang tengah memperbaiki pipa yang buntu. Yumi menajamkan pendengarannya dan sadar bunyi aneh itu seperti berasal dari taman belakang, dibalik dapur yang tengah ditempatinya kini.

Yumi membalikkan tubuhnya dan berjalan keruang makan yang langsung terhubung dengan taman belakang itu oleh pintu kaca besar. Dan saat itu Yumi mendapati pemandangan yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Ia mengernyitkan dahi bingung.

~Yumi POV~

“Oppa apa yang kau lakukan disini?” aku menepuk punggung Jonghyun Oppa yang sepertinya tengah mengaitkan sebuah tali panjang dengan patok besi ditanah.

Aku dapat melihat jelas punggung yang terlapaisi kemeja tipis itu basah oleh keringat. Jonghyun Oppa nampak sedikit terkejut oleh kedatangannku. Ia mendongak dan menatapku dengan senyum hangat karena posisinya kini tengah duduk berjongkok. Seperti kehangatan menjalari dadaku, senyum Jonghyun Oppa begitu menentramkan.

“Kau sudah bangun?” pertanyaan itu lebih seperti pernyataan, aku hanya menanggapinya dengan anggukan kecil masih dengan tersenyum.

“Kau sedang apa Oppa?” tanyaku lagi. Namun tiba-tiba saja tangannya terulur menggenggam tanganku, aku sedikit terkesiap, Jonghyun Oppa tak pernah melakukan kontak fisik secara tiba-tiba.

“Aku sedang mendirikan tenda.” Jawabnya dan sedikit menggenggam tanganku lebih kencang kemudian berdiri. Tenyata ia hanya membuat tanganku sebagai peganggan untuk bangun, dasar Yumi pabo, kau ini, pikiran macam apa itu. Aku jadi malu sendiri.

“Tenda?” gumamku bingung.

“Ne, aku berencana untuk piknik.” Jelas Jonghyun Oppa sembari membersihkan celananya yang sedikit kotor terkena tanah.

“Piknik? Disini?”

“Tentu saja dimana lagi?”

Aku semakin bingung, piknik apa yang dilakukan ditaman rumah sendiri, apa serunya? Namun saat mendapati Jonghyun oppa kembali menyelesaikan pekerjaannya mendirikan tenda aku jadi yakin ia memang serius dengan ucapannya, bahkan aku melihat beberapa ikat kayu disamping tenda yang ia dirikan.

“Oppa kayu itu untuk apa?” tanyaku lagi.

Jonghyun Oppa telah selesai mendirikan tendak, ia menepukkan tangannya yang kotor kemudian berbalik menghadapku dan tersenyum sekali lagi, Ahh jangan tersenyum seperti itu terus,,,

“Ini untuk membuat api unggun.”

“Api unggun?” aku seperti orang bodoh, dari tadi yang kulakukan hanya bertanya. Ckk mengapa otakku lamban sekali, tapi jujur aku sangat bingung dengan apa yang akan Jonghyun Oppa lakukan. Piknik, tenda dan sekarang api unggun.

“Sudah jangan banyak tanya, sekarang ambil daging didapur sementara aku akan menyiapkan peralatan memanggang dulu.” Jonghyun Oppa membalikkan tubuhku dan sedikit mendorongku kedepan.

“Tunggu oppa, sebenarnya apa yang akan kita lakukan?”  aku menahan kakiku agar tak terdorong lagi kedepan, aku membalikkan kepalaku menghadap Jonghyun Oppa namun dengan tubuh yang masih menghadap kedepan karena pundakku yang ditahan olehnya.

“Ckk, kau ini. Hari ini kita akan melakukan Camping disini, membuat pesta barbeque kecil-kecilan hanya kita berdua dan kita akan tidur disini.” Jonghyun membuat seringaian kecilnya saat mengucapkan kalimat terakhirnya.

“MWO? Tidur disini? Diluar?”

“Tentu saja tidak, kita akan tidur didalam tenda. Kau tak lihat aku sudah susah payah mendirikan tenda.”

“Tapi Oppa…”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat protesku, Jonghyun Oppa kembali mendorongku, kali ini lebih kuat sehingga mau tak mau aku menurut saja. Entahlah kekonyolan apa yang akan dilakukan Jonghyun Oppa, asal ia senang aku juga akan bahagia.

POV END

****

Yumi mendekati Jonghyun yang tengah duduk memunggunginya dengan sekantong daging dan beberapa bumbu serta sayuran ditangannya. Berlahan Yumi duduk disampingnya membuat Jonghyun yang semula fokus menghadap kedepan menoleh seketika dan kembali memamerkan senyum hangatnya untuk Yumi.

“Dagingnya sudah matang Oppa!” Yumi menyodorkan sekotak daging dalam kantong plastik kedepan wajah Jonhyun sembari memiringkan kepalanya.

“Benarkah?” tanyanya sok polos, Jonghyun mengambil kantong plastik yang disodorkan Yumi kemudian mengeluarkan isinya. “Oh iya aku lupa, tadi aku sudah memanggangnya di dalam. Ah tapi tak apa dagingnya masih hangat kok.” Jonghyun tersenyum garing sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

Haha, sebenarnya Jonghyun sudah menyiapkan semuannya. Ia tak ingin lama-lama menghabiskan waktu hanya untuk memanggang daging dan melewatkan banyak waktu dengannya, hari ini ia khusus melakuakan semua ini agar bisa berdua dengan Yumi. Ini sebagai tanda terimakasih, ah bukan ini lebih dari sebuah ungkapan terimakasih atas kesetiaan yang Yumi berikan padanya. Ia hanya ingin membalas apa yang sudah seharusnya Yumi dapatkan.

Melihat wajah bingung Yumi, Jonghyun tersenyum hangat, ia mengacak puncak rambut Yumi.

“Sudahlah, sekarang ayo kita makan. Kau pasti lapar, kau belum makan dari tadi pagi kan?”

Jonghyun mengambil potongan daging dalam kotak dan membungkusnya dengan daun selada. “Ayo buka mulutmu, pesawat akan masuk..” Jonghyun menyodorkan potongan daging itu pada Yumi dengan gerakan memutar-mutar seperti tengah memeragakan pesawat yang akan Landing, dan Yumi membuka mulutnya menurut.

Masih dengan mulut yang penuh Yumi mengambil sumpit dari tangan Jonghyun dan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Jonhyun, ia menyuapinya dengan tulus.

“Mari kita makan yang banyak..!!” seru Jonghyun keras sambil menahan daging agar tak keluar dari dalam mulutnya. Yumi terkikik melihat tingkah kekanak-kanakan Jonghyun.

****

Tangan kanan Jonghyun merangkul pundak Yumi dan tangan kirinya ia telusupkan disela-sela jari tangan kanan Yumi, mereka tengah memandang panorama indah bias kuning kemerahan matahari tenggelam yang sedikit terhalang tembok pembatas rumah keluarga Choi.

Suasana yang indah dan menghangatkan.

“Oppa, apa aku sedang bermimpi?” gumam Yumi.

“Ani.” Jawab Jonghyun mantap.

“Ini terlalu indah, aku masih tak percaya Jonghyun op…”

“Kau tak percaya padaku?” potong Jonghyun cepat. “Kau lihat ini?” Jonghyun mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Yumi. “Mengapa Tuhan menciptakan sela-sela dijari kita. Itu karena Tuhan ingin memberikan ruang agar aku bisa menggenggam tanganmu dengan erat.”

Yumi menengadah memandang wajah Jonghyun, seperti ingin memastikan bahwa telinganya tak salah dengar. Namun senyum tulus Jonghyun menghempaskan seluruh keraguannya. Semuanya sudah berakhir, semua kini telah berubah. Ia dapat merasakan ketulusan hati Jonghyun. Sesuatu yang sejak dulu menjadi hal yang sangat diinginkannya selain pergi ketempat dimana banyak anak kecil dan bermain bersama mereka.

Tanpa terasa air mata Yumi mengalir dari celah kecil dikelopak bawah matanya, entah apapun yang akan terjadi nanti yang jelas sekarang ia sangat bahagia. Semua penantiannya telah terjawab, Tuhan mendengarkan Doannya.

Jonghyun melepas pelukannya dan menghapus airmata Yumi dengan ibu jarinya, “Aku tahu ini sudah sangat terlambat, tapi aku menyesal, aku sangat menyesal telah mengacuhkanmu dulu bahkan berkali-kali menyekitimu..” mata Jonghyun menyelami samudra bening mata coklat Yumi. Matanya ikut menitihkan airmata.

Jonghyun merasa tak kuat melihat mata bening itu terus saja mengalirkan air mata bahkan setelah ia usap berkali-kali sehingga Jonghyun kini memutuskan untuk memalingkan wajahnya dari gadis itu kembali fokus pada pemandangan indah didepannya. Ia menghela nafas sejenak, bayangan masalalu bagaimana ia memperlakukan gadis disampingnya kini dengan sangat tak pantas, bahkan tak pernah menganggap kehadirannya.

“Aku selalu menjadikan Perjodohan kita sebagai tameng untuk menutup hatiku hingga sama sekali tak bisa merasakan ketulusanmu. Aku selalu beralasan bahwa perjodohan adalah kekonyolan orang tua primitif jaman dulu. Aku tak pernah mau dan tak pernah mengijinkan hatiku tersangkut jangkauanmu. Hingga hari itu aku sadar, aku sadar aku salah. Aku sungguh rugi karena kekerasan hatiku. Aku rugi karena tak pernah mencoba melihatmu, padahal kau begitu indah…

“Bukan hanya fisik tapi lebih dari itu, aku bisa dengan jelas melihat berlian yang bersarang dihatimu, aku bisa merasakan halusnya tekstur hatimu yang bagai kapas itu. Semua itu meruntuhkan kekerasan dalam hatiku.”

Jonghyun berhenti berkata begitu merasakan beuah tangan kecil menelusup dibawah ketiaknya dan mendekap lengan kekarnya erat.

“Sudah Oppa, jangan diteruskan. Aku tak membutuhkan semua pujianmu. Yang terpenting sekarang adalah kau sudah mau melihatku dan mau membuka hatimu untukku…”

Lengan kemeja Jonghyun basah, gadis itu menumpahkan air matanya disana. Tangannya yang kecil masih menggegam erat lengan Jonghyun yang tak muat ditelapak tangannya.

“Oppa,, Saranghae,,,,”

Yumi mengucapkannya dengan sangat lirih namun Jonghyun masih mampu menangkap gelombang suara itu masuk ketelingannya. Ujung bibirnya terangkat membentuk lengkungan keatas yang indah. Ia melepaskan cengkrangan gadis itu dari lengannya dan berbalik memeluknya dengan erat.

Ia menghirup aroma rambut gadis itu dalam. Paru-parunya seperti teraliri udara yang sangat sejuk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Gomawo Mi-ya. Jeongmal gomawoyeo…” bisik Jonghyun ditelinga Yumi dan semakin mengeratkan pelukannya.

Yumi membalas pelukan Jonghyun, lengannya yang tak sepenuhnya mampu mendekap punggung bidang Jonghyun beralih mengelusnya.

Eomma, aku akan bahagia mulai hari ini. Eomma lihat, Jonghyun oppa sudah berubah. Aku yakin ia tak akan lagi menganggapku tak ada. Ia akan melihatku mulai sekarang. Eomma dan Appa bisa istirahat dengan tenang sekarang.

Setets air terasa jatuh tepat di punggung tangan Yumi yang mendekap Jonghyun dan semakin lama tetesan-tetesan air itu semakin banyak, hujan turun. Yumi melepaskan pelukannya.

“Oppa hujan…”

Jonghyun tersenyum tipis dan menarik tangan Yumi agar bangun, “Kajja…”

****

Yumi menatap Jonghyun tanpa berkedip. Dihadapannya tengah duduk bersila suaminya dengan gitar yang bertengger indah dipangkuannya. Tenda kecil yang hanya muat diisi dua orang itu sedikit bergetar ditimpa hujan deras diluar sana. Namun tak sedikitpun mampu mengalihkan konsentrasinya dari Jonghyun.

Petikan gitar itu menimbulkan bunyi harmoni yang sangat indah ditelinga Yumi, lagu berjudul ‘Even Your Tears’ dari sebuah grup band terkenal di negaranya mengalun indah saat mulut Jonghyun terbuka. Dan syair itu menjalar masuk kedalam dadanya hingga mengalirkan kehangatan disana.

moreujiman ijen ihae hal su isseo
Aku tidak tahu, tapi sekarang aku bisa mengerti

niga jigeum igose inneun iyureul
Alasan mengapa kamu disini saat ini

eonjekkajina nal eorigeman bojima
Jangan pikir aku selalu anak kecil

sesangi eoduun ge neoman-eui geoseun aniya
Ini bukan sekedar duniamu yang hitam

jogeumssik modu nan ne gyeoteuro gago isseo
Sedikit demi sedikit semua bagian dariku menuju kesisimu

nal wihae han georeumman dagawa jugenni
Bisakah kau mengambil satu langkah saja untuk menantikanku

amu maldo hajima
Jangan katakan apapun

mueosi philyohagesseo neowa nega inneunde
Apa lagi yang kita butuhkan, saat ini kau dan aku

jul geot eomneun nan chorahae jijana
Aku merasa kecil karena tak punya apapun untuk kuberikan padamu

geudae uljima saranghae geudae nunmulkkajido
jangan menangis, aku mencintaimu, bahkan air matamu

jogeumssik modu nan ne gyeoteuro gago isseo
Sedikit demi sedikit semua bagian dariku menuju kesisimu

nal wihae han georeumman dagawa jugenni
Bisakah kau mengambil satu langkah saja untuk menantikanku

amu maldo hajima
Jangan katakan apapun

mueosi philyohagesseo neowa nega inneunde
Apa lagi yang kita butuhkan, saat ini kau dan aku

jul geot eomneun nan chorahae jijana
Aku merasa kecil karena tak punya apapun untuk kuberikan padamu

geudae uljima saranghae geudae nunmulkkajido
jangan menangis, aku mencintaimu, bahkan air matamu

mueosi philyohagesseo neowa nega inneunde
Apa lagi yang kita butuhkan, saat ini kau dan aku

jul geot eomneun nan chorahae jijana
Aku merasa kecil karena tak punya apapun untuk kuberikan padamu

geudae uljima saranghae geudae nunmulkkajido
jangan menangis, aku mencintaimu, bahkan air matamu

mueosi philyohagesseo neowa nega inneunde
Apa lagi yang kita butuhkan, saat ini kau dan aku

jul geot eomneun nan chorahae jijana
Aku merasa kecil karena tak punya apapun untuk kuberikan padamu

geudae uljima saranghae geudae nunmulkkajido
jangan menangis, aku mencintaimu, bahkan air matamu

FT ISLAND ‘EVEN YOUR TEARS’

Jonghyun menyeslesaikan bait terakhir lagu tersebut dengan sangat indah. Tersenyum pada Yumi yang menatapnya tanpa berkedip.

“Jangan menatapku seperti itu, kau bisa membuat lubang diwajahku.” Gurau Jonghyun sambil terkekeh. Ia meletakkan kembali gitar kesayangannya disampingnya.

“Eh?” Yumi terkesiap, tanpa sadar seolah terhipnotis oleh suara merdu Jonghyun. Ia menunduk malu, semburat merah samar nampak menghiasi wajah ayunya.

Jonhyun mengacak puncak kepala Yumi gemas, “Kau terpesona padaku ya?” goda Jonghyun.

“M-Mwo??”

“Atau jangan-jangan kau baru tahu kalau ternyata suamimu yang paling tampan ini memiliki suara yang sungguh sungguh sangat merdu sekali mengalahkan super junior Ryeowook?” Jonghyun kembali menggoda Yumi, menatap penuh seringai pada istrinya yang pipinya semakin matang.

Tidak terima digoda seperti itu Yumi mengerucutkan bibirnya sebal, “Siapa yang terpesona padamu,,,” gerutunya pelan hampir tak terdengar, namun sayang pendengaran Jonghyun terlampau tajam untuk melewatkan kata-kata itu begitu saja.

“Tentu saja kau, siapa lagi?” sahut Jonghyun santai.

“Aku tidak ter…”

“Benar kau tidak terpesona padaku, Hmm?” Potong Jonghyun sebelum Yumi menyelesaikan sanggahannya. Ia menoel dagu Yumi genit membuat Yumi semakin tak bisa berkutik.

Yumi kembali menundukkan wajahnya yang secara otomatis mengiyakan godaan Jonghyun padanya. Memang pada kenyataannya Jonghyun berhasil membuatnya terpesona.

Jonghyun terkekeh melihat tingkah malu-malu istrinya. Ia senang memiliki istri yang begitu polos seperti Yumi. Ia merasa beruntung.

Ia baru saja akan kembali melontarkan godaannya pada Yumi sebelum sebuah suara petir keras menyambar. Membuat Yumi seketika melompat kearahnya dan memeluknya sangat erat.

Jonghyun merasakan tubuh kecil dalam dekapannya itu sedikit bergetar.

“Jangan ta-“

“Aku tidak takut Oppa, aku hanya kaget.” Sela Yumi cepat, ia berlahan hendak melepaskan pelukannya pada tubuh Jonghyun namun pria ita tak membiarkannya dan justru semakin mengeratkan pelukannya.

“Kau tak perlu menyembunyikannya, kalau kau takut katakan saja. Mulai sekarang ada aku yang akan selalu menjagamu, maafkan aku selama ini selalu mebiarkanmu sendiri.”

Yumi terkekeh dalam pelukan Jonghyun, “Oppa kenapa hari ini begitu melow, sejak tadi selalu mengatakan kata-kata manis. Apa Oppa sedang sakit? Lagipula sungguh aku tak sedang takut.” kata Yumi ringan.

Jonghyun seketika melepaskan dekapannya. “Ya!! Ka kau ini, merusak suasana saja. Kita baru saja baikan, romantis sedikit tidak apa apa kan!!” decak Jonghyun kesal.

“Jadi Oppa ingin romantis? Tapi kenapa justru terdengar cengeng ya..” goda balik Yumi yang sepertinya ingin balas dendam pada Jonghyun.

“Yaa!!!”

“Jangan sok romantis, Oppa tidak ditakdirkan untuk itu, wajah Oppa terlalu kaku. Kalau ingin melakukannya belajar dulu pada superjunior Donghae yang super ganteng itu.”

“YAA!!! Jangan membanding-bandingkan aku dengannya setidaknya walaupun aku bukan penyanyi suaraku jauh lebih bagus dari pada dia. Kau ini istri macam apa merendahkan suaminya dan justru memuji laki-laki lain.”

“Suara saja tidak cukup Oppa, kau harus memiliki wajah yang mendukung.” Jawab Yumi santai.

“Jadi kau berpikir wajahku tidak mendukung?!!”

“Aku tidak mengatakan itu, tapi kalau Oppa menyadarinya ya aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.” Yumi tersenyum puas melihat wajah kesal Jonghyun. Iya tertawa lepas memamerkan deretan gigi putihnya pada suaminya.

Raut kesal Jonghyun berlahan memudar melihat Yumi tertawa begitu lepas membuat matanya melengkung nampak seperti bulan sabit. Jonghyun hanyut dalam tawa lepas itu membuat bibirnya ikut tertarik keatas. Baru kali ini ia melihat Yumi sebahagia ini.

“Aigo~ hahaha aku hanya bercanda Oppa.” Yumi membuka matanya dan sedikit mengusap ujungnya yang sedikit basah karena tertawa terlalu keras. Namun senyum Jonghyun yang menyambutnya membuat Yumi bingung “Eh?”

“Kau cantik saat tertawa seperti itu!” ujar Jonghyun.

BLUS~

Seketika wajah Yumi memancarkan semburat merah. Ia menundukkan wajahnya malu.

“Oppa~”

“Tetaplah tertawa seperti itu.” Jonghyun berlahan mengangkat dagu Yumi dengan jari tangan kanannya. Ia menyelami mata bening Yumi dan berlahan mendekatkan wajahnya pada wajah yumi.

Jonghyun mengecup lembut bibir tipis Yumi.

DEG

Mata bulat Yumi berhasil melebar sempurna, terkejut atas perlakuan tiba tiba Jonghyun. Namun berlahan Yumi mengatupkan matanya mengikuti Jonghyun.

‘Ciuman pertamaku’ gumam Yumi dalam hati.

Berlahan Jonghyun menarik wajahnya dari wajah Yumi. Ia tersenyum tipis mendapati Yumi masih mengatupkan matanya.

“Mi-ya bolehkah aku menyentuhmu?” tanya Jonghyun halus.

DEG DEG

Jantung Yumi serasa berdentum lebih keras dari sebelumnya, seketika tubuhnya menegang. Ia tak menyengka Jonghyun akan meminta hal tersebut. Hujan di luar sana masih sederas tadi namun Yumi masih dapat mendengar detak jantungnya dengan sangat jelas.

“Bolehkah?” tanya Jonghyun lagi. Ia menatap lembut mata Yumi. Yumi tersenyum tipis kemudian mengangguk.

Melihat itu dalam hati Jonghyun bersorak bahagia.

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

30 thoughts on “Love Me – Part 7”

  1. Ajiiiiibbb..!!
    Jonghyun’a you still have romantic in your heart kok.. Jonghyun saranghae ❤
    chingu next part jangan lama2 yo.. Please aku tunggu!

  2. Part ini penuh keromantisan… so so so fluffy n sweet… Err, ga bisa bayangin deh kayak apa senengnya Yumi, penantian 2 tahunnya akhirnya berbuah manis juga… semoga akan selalu bahagia… ngomong2 soal eommanya Jjong semoga cepet sadar deh dan gag jutek lagi ama Yumi… Next part ditunggu banget, thorb^^d

  3. awal2 kesel tuh sm jjong.. iiihhh knp pke nyalahin yumi coba.. jjong sndri sih gak mmpersilakan yumi ngomong…

    trus ke tengah.. eaaa abang jjong menggombal… trus k bwh lg… ea ea… jjong sungguh narsis… pas mau tbc… wuiiihh mlm pertama yg smpt tertunda… tp gak enk bgt di tenda… -.-

    lanjut lanjut…

  4. akhirnya kesabaran yumi dapet balesannya ya..
    mata jjong oppa akhirnya terbuka lebar.
    daebak 🙂
    cepet ya thor publish part selanjutnya 😀

  5. Akhirnya ini ff yang ditunggu2 keluar,huihhhh ngefly banget tuh ya yumi,next part kayanya seru nih=p~ hahaha lanjut thorrr jangan lkama2 uwogey

  6. Part ini penuh dngan keromantisan,,2 tahun menunggu akhirnya terbalas juga,yumi pasti sangat bahagia,chukae,aku kira part ini part ending ya eh ternyata bukan,malam pertama yg tertunda,wkwkwk..lanjut,

  7. kyaaaaaaaaaaaaa TBC 😦
    When I read it, I couldn’t stop smiling 😀
    neomu jhoahaeyo ><*

    next part sangat ditunggu thor ! Nan gidaryo..

    keep writing~ ^^

  8. pasangn ini makin hari, makin romantis aja.. Ckckck

    Tiap par ada afegsn romantisnya, jadi envy gimana gtu. Beruntung ya si yumi, setelah perjuangan keras, akhirnya bisa juga ngingetin jonghyun.

    Next ya thor. Jgn lama2

  9. pasangn ini makin hari, makin romantis aja.. Ckckck

    Tiap ada adegan romantisnya, jadi envy gimana gtu. Beruntung ya si yumi, setelah perjuangan keras, akhirnya bisa juga ngingetin jonghyun.

    Next ya thor. Jgn lama2

  10. kyaaaa ,,,, akhirnya …… 😀
    jjong kamu telah melakukan hal yang benar ..
    tapi harusnya end’nya disini ajja ,,,,, jangan biarkan ada konflik2 yang bakal muncul mengganggu ketentraman mereka ,, sedikit tidak rela 😦
    yosh ,, tapi tetap ditunggu next chap’nya ..

  11. wahhhhhh…..syukurlah jong bs bawa yumi kembali,,,,aigooo jong romantis sekali….pake2 jelekin suara hae aku,,,,*plakkkkkk*hehhehehehe,,,,so sweet bgt part ini….tp kok jong blm blg ke yumi klo dy jg cinta yumi??apa karena masih ada sekyumg….ahhh ia g ada kabar lg sekyung…..please hapiend ya ceritanya,,,,authornya keren bgt……daebak…..ahhhh first nigntnya sepertinya didalam tenda ini,,,,hohohohohoho,,,,,,nice ff

  12. ye ye . . . mau punya adek baru. . ye . . ye. . ye. . . adek baru #apaan sih abaikan ==

    daebak thor, d tnggu next part nya. mau request ntar dedeknya kembar cwe-cwo ya XD

  13. akhirnya part 7 keluar jga….
    ih jjong oppa ROMANTIS banget… hehehe pengen
    setuju,, kalau punya dedek ntar namnya siapa ya….???

  14. wa.. keren.. jjong oppa soo sweet.. akhirnya mereka bisa saling cinta.. ngga sabar part selanjutnya.. cpetan dipost ya.. jgn lama lama.. aku suka..

  15. yaaayyyyy!!! akhir yang kuinginkan!!
    author: belom ending dodol
    hihi iya maap thor. uyehh maap yah saya mah reader yg komentnya belang2. tpi saya pasti sempetin komen kalo sinyalnya lg asoy geboy.. hehe
    lanjut inihh?? apakah akan ada adegan 17 tahun keatas atau malah tendanya rubuh kena hujan.. *puter lagu lawas ‘tenda biru*
    lol
    bagaimana pun juga saya udah 18 tahun dan mengerti hal seperti itu. jadi walo pun di post skip ver. saya harap saya dikasih link yg gak di skip.. *buing buing* #ngomong apa saya ini
    udah ah.. terlalu bnyk bersua saya ini. lanjut secepatnya thor. *selipin tomcat ditangan author* mumuuuuu #mati

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s