Beautiful Lies – Part 5

Beautiful Lies (Part 5)

 

Author                        :  Philiar (Lee Shadow)

Main cast                    :  Lee Taemin, Lee Shara, Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Kim

Jonghyun, Kim Ki Bum(Key)

Type                            :  Sequel

Genre                         :  Mystery

Rating                         :  General

 

(Part 5)

Taemin POV

 

            “Habislah aku hari ini.”

Aku masih tak berani membalikkan badan.

“Kau sudah tertangkap basah sekarang…”

Baru saja aku ingin mengangkat kedua tangan tanda menyerah, tiba-tiba suara dari arah lain mengagetkanku.

“Mianhae… aku…” Suara namja yang berada dibalik pohon tak jauh dariku itu bergetar.

“Mau apalagi kau disini?”

“Chogi… Apakah ia masih berada didalam kamarnya?”

“Baekyo-oppa, sudah kukatakan berulang kali, berhentilah mencampuri kehidupannya.”

“Tapi… aku hanya ingin berbicara dengannya. Sudah hampir dua bulan aku tak bertemu dan bertatap muka.”

Shara berdecak iba.

“Mianhaeyo oppa, tak ada yang bisa kulakukan sekarang. Dia benar-benar tak ingin bertemu dengan siapapun. Kuharap kau mengerti itu.”

Shara meninggalkan namja yang menganga syok itu tanpa berpaling lagi ke belakang.

“Hhhh! MWOYA?! ADA APA SIH DENGAN YEOJA ITU?!” pekik namja yang bernama Baekyo itu sambil melempar tendangan ke arah tong sampah.

MIAAAAW. Kucing yang berada didalam tong sampah itu melompat menerkam Baekyo dan mencakar tangan yang menutupi wajahnya.

“Jinjja! ARGH! Sial sekali aku hari ini.”

Glek. Aku menelan ludah.

Benar-benar terpaku saat sepasang mata miliknya menangkap keberadaanku dibalik pohon.

“Andwae… celakalah aku.” Desisku pasrah saat ia melirik ke arahku.

Namja itu mencibir. Kemudian menarik napas dalam-dalam.

“YA! Jangan buang air kecil sembarangan disitu!” Tuduhnya saat menatapku.

“He?”

“Kubilang jangan buang air kecil sembarangan disitu!!!”

“N… Ne…” Aku mengangguk kikuk dan langsung berlari tunggang langgang meninggalkan tempat itu.

~~~

Author POV

 

            Sepasang mata milik seorang yeoja dibalik tirai jendela lantai dua mengawasi Baekyo dengan seksama.

“Jeongmal… mianhae, oppa.” Gumamnya sambil menitikkan air mata.

Tok. Tok. Tok.

“YA! Aku pergi ke rumah sakit dulu! Sarapan sudah kusiapkan dimeja dekat TV! Annyeong!” Seru Shara setengah berteriak didepan kamar yeoja itu.

“…”

“Dan jangan lupa cuci piringnya!” Pekik Shara lagi saat akan keluar rumah.

Blam. Pintu depan tertutup.

“Hhh… Hhh… Hhh…” Yeoja itu tampak payah menghirup udara. Sedetik kemudian ia jatuh pingsan di tempatnya.

~~~

BRAK. Pintu kamar pasien itu terbuka secara paksa. Membuat seluruh isi kamar memicingkan mata ke arah sumber suara.

“Mwo? Taemin-ah? Darimana saja kau?” Tanya Key sambil mengedipkan mata tak percaya beberapa kali.

“Hhhh… Hhhh… ceritanya panjang, hyung.”

“Jinjjayo! Tega sekali kau meninggalkan Onew-hyung!” Serbu Jonghyun membuat Taemin terperangkap.

“Sudahlah hyung, yang penting Onew-hyung tak apa-apa kan?” kilah Taemin kemudian.

“Mwoya?! Apa katamu?! Lihat dia! Semalaman ia pingsan! Infusnya terputus! Kau tahu?!” Teriak Jonghyun kemudian bangkit dari sofa menghampiri Taemin dan mengangkat kerah bajunya.

“Hyung…” Taemin ketakutan.

“Gara-gara kau…”

“Jeongmal mianhae! Jinjjayo! Aku menyesal sekali.”

“Sudahlah hyung, itu semua telah terjadi. Tak ada lagi yang harus diributkan.” Sergah Key santai. “Dan lepaskan tanganmu itu dari leher uri maknae.”

Jonghyun menggeram kesal kemudian melepaskan tangannya yang terkepal di kerah Taemin itu dengan kasar.

Beberapa detik kemudian seorang yeoja muncul didepan pintu dengan baju hitam-merahnya.

“Annyeonghaseyo.” Sapa Shara sedikit kebingungan ketika merasakan keadaan yang mencekam didalam kamar.

“Ne. Annyeonghaseyo.”  Hanya Key yang merespon sapaan dari yeoja itu. Sedangkan Taemin dan Jonghyun langsung memalingkan muka dan mencari tempat untuk duduk.

“Wae? Apa yang terjadi barusan, Key-Oppa?” Tanya Shara polos.

“Aniyo, kami baik-baik saja.”

“Oh, geurae?”

Key menganggukan kepalanya.

~~~

Minho POV

“Gomawo Teuk-hyung, atas tumpangannya.” Ujarku saat turun dari mobil van Super Junior.

“Ne, Minho-ya. Asal kau tidak lupa mentraktirku besok ya!” Leeteuk-hyung mengerlingkan matanya.

“Ye, arrasseooooo.” Responku sambil tersenyum pasrah.

“Kalau begitu aku pergi dulu, sepertinya aku sudah telat ke Sukira.”

“Oke, hati-hati dijalan Hyung!”

“Ne, bye bye!”

“Jangan ajak Shindong-hyung besok ya! Ingat itu Hyung! Aku tak punya cukup uang untuk porsinya.” Aku terkekeh sambil melambaikan tangan pada Teukie-hyung.

Aku menonton kepergian Teukie-hyung yang beberapa detik kemudian aku melihat van itu menabrak tong sampah yang berada didepan rumah sakit.

“HUAHAHAHA. Hati-hati Hyung!” Pekikku sambil memegang perut tak kuasa menahan tawa. “Masih saja ia ceroboh. Ckck.”

~~~

“Kalau tak salah… kamarnya di sekitar sini.” Gumamku ragu sambil celingak-celinguk di lorong rumah sakit.

Lalu mataku menangkap sebuah mesin kaleng minuman diujung lorong. Karena haus, aku segera menghampiri mesin itu dan memasukkan koin kedalamnya.

“Hhh… Segar sekali Cola ini.” Kataku lega saat selesai meneguk habis isi kaleng itu sambil bersandar di dinding sebelah mesin.

Tiba-tiba seorang yeoja yang berwajah familiar melintas didepanku.

“Shara!” Panggilku lalu menghampirinya.

Yeoja itu berhenti lalu membalikkan tubuhnya.

“Kau mau kemana? Ke kamar Onew-hyung kan?”

“Hm, Ne…” Ia mengangguk dan menatapku dengan pandangan kosong. Wajahnya pucat.

“Kau sakit? Ada apa dengan wajahmu?”

“Ani. Gwenchana.” Jawabnya statis.

“Kalau begitu ayo ikut denganku, tunjukkan padaku kamar Onew-hyung. Aku lupa letaknya.” Ajakku meraih lalu menggandeng tangannya.

Tapi saat kutarik tangannya, ia menyanggah dan melepaskan genggamannya dariku.

“Waeyo? Apa aku terlalu kasar menarik tanganmu? Rrrr.. Mian.”

“Aku ingin ke toilet dulu. Kamar Onew-oppa ada disana. Belok kanan, kemudian ada kamar 106.”

“Oh, oke gomawoyo. Aku kesana duluan ya.”

~~~

            “Kamar 106? Dasar penipu! Gara-gara dia aku salah masuk kamar pasien anak-anak.”

Aku membayangkan kejadian barusan, saat aku membuka pintu kamar yang salah, 4 yeoja berumur sekitar 10 tahun memandangku tak percaya. Tampaknya mereka sedang menjenguk teman kelasnya yang sedang sakit.

Sepersekian detik kemudian mereka berteriak histeris kemudian mengepungku dan meminta tandatangan serta foto bersama.

“Kalau begini caranya, aku harus menelpon Key-hyung.”

“Waeyo Minho-ya?” Key-hyung langsung mengangkat panggilanku.

“Mm, hyung, dimana kau sekarang? Aku lupa kamarnya.”

“Pabo-ya. Kamar 89. Kau dimana?”

“Oh, geurae. Aku akan segera kesana.” Jawabku tak menghiraukan pertanyaannya yang terakhir. Kemudian aku langsung mematikan handphone dan melangkah cepat mencari kamar yang sepertinya sudah kulewati beberapa saat lalu.

~~~

Jonghyun POV

“Akhirnya kutemukan juga.” Ucap Minho ketika sudah sampai didalam kamar. Setelah menutup pintu ia langsung mengambil tempat duduk disebelahku.

“Darimana saja kau?” Tanyaku.

“Jogging di lorong hyung. Aku tersesat dan berlari mencari kamar sejak tadi.”

Hening sesaat. Tatapan Minho tertuju pada Shara yang sedang duduk disamping ranjang Onew-hyung.

“Kau? Sudah sampai?” Tanya Minho pada Shara.

“Aku? Sudah dari tadi.” Jawab Shara agak kebingungan.

“Kenapa kau membohongiku tadi? Gara-gara kau aku jadi salah masuk kamar tahu!”

“Aku? Memang apa yang aku lakukan?”

“Jangan pura-pura kau.”

“Minho-ya! Ada apa denganmu? Shara sejak tadi berada disini bersama kami.” Sanggahku tak tahan melihat Minho yang tiba-tiba menuduh Shara.

“Mwo? Tapi tadi aku bertemu dengannya di lorong sana.”

Aku mendelik ke arah Shara.

“Aku tadi hanya keluar sebentar menjawab panggilan telepon dari Chingu kok. Aku tidak bertemu dengannya.”

“Geojitmal! Jelas-jelas kau tadi bilang ingin ke toilet. Jangan bercanda denganku.” Minho naik darah.

“Mungkin kau salah lihat, Oppa.”

“Tapi aku yakin itu kau.” Kata Minho keras kepala sambil memandangi Shara dengan seksama. “Apa kau sudah memakai make-up, Shara? Sepertinya kau tadi pucat.”

“Pucat?” Raut wajah Shara tampak sedang berpikir keras.“Mm… itu… iyadeh. Tadi sebenarnya aku memang ke toilet. Maaf mempermainkanmu tadi, Oppa. Aku hanya bercanda. Hehe.” Pada akhirnya ia mengaku seraya terkekeh.

Aku, Taemin, Key, dan Minho menatap curiga ke arahnya.

“Kenapa tadi kau tidak mau mengaku?” Taemin angkat bicara.

“Aku bilang, aku hanya sedang bercanda. Tolong jangan dimasukkan ke hati.”

“Itu keterlaluan, Shara.” Minho mendesis. “Gara-gara kau tinta pulpenku habis dimintai tanda tangan para bocah.”

Seluruh isi ruangan yang menyaksikan komentar Minho langsung cekikikan mencairkan suasana. Kecuali aku. Aku tetap diam sambil memandangi Shara yang mencurigakan.

Ada yang tak beres. Batinku.

“Waeyo… Oppa?” Tanya Shara ketika ia menangkapku sedang memperhatikannya.

Aku menggeleng, enggan menatap sorot matanya. Ia menggembungkan pipinya kemudian mengeluarkan nafas panjang. Sekonyong-konyong ia langsung berpamitan pulang terlebih dahulu pada siang itu juga, mungkin ia merasa sangat canggung berada di dalam satu ruangan dengan kami yang sekarang sedang mencurigainya.

Setelah Shara keluar dari ruangan, kami semua—kecuali aku, saling berdebat tentang pergerakan Shara yang akhir-akhir ini sangat tidak biasa. Minho menceritakan rasa penasarannya tentang kejadian yang ia alami tadi sebelum ia sampai kamar, Taemin memaparkan seluruh petualangan yang ia lalui semalam dan sekaligus membuat kami semakin bertambah curiga, tapi Key—ia justru bertolak belakang dengan kami. Ia menganggap kami terlalu berpikir kritis.

“Kalian terlalu berlebihan.” Timpal Key ketika seisi ruangan masih dalam keadaan panas.

“Hyung, apa kau mencoba membelanya? Cih, Jeongmal…” Gigi Minho bergemeletuk marah.

“Ani, aku hanya positive thinking. Apakah aku salah?”

“Ne. Karna kau belum mengalami kejadian seperti kami.”

“MWOYA? BELUM KATAMU? APA KAU TIDAK INGAT BEBERAPA HARI YANG LALU SHARA MENOLONGKU DARI PSIKOPAT YANG HAMPIR MEMBUNUHKU?”

“Jadi… kau percaya pada Shara karna telah menolongmu? Sebodoh itu kah kau hyung?”

“YA! Neo… Jinjja…”

“MINHO-YA! KEY-AH! Bisakah kalian tenang sedikit?” Bentakku menghentikkan pertengkaran bodoh mereka.

Kulihat Key bersungut. Minho memutar bola matanya. Sedangkan Taemin—ia… telah hilang.

~~~

Taemin POV

 

“Eodi…” Gumamku sambil menelusuri jalan seraya bercelingak-celinguk mencari seseorang.

Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya kutemukan juga tempat yang kemarin aku selidiki. Dapat kulihat lelaki kemarin yang bernama Baekhyo itu masih menunggu di dekat pohon tak jauh dari rumah Shara.

Aku mengambil ancang-ancang dan berlari kecil menuju ke arahnya. Awalnya ia tampak kebingungan ketika melihatku, hingga pada akhirnya ia sadar akan sesuatu…

“Kau? Bukankah kau yang kemarin kencing sembarangan di pohon itu?” Titahnya dengan wajah innocent.

“Eh? Lupakan itu. Aku ingin bertanya tentang sesuatu padamu. Bisakah kita bicara sebentar di tempat yang lebih nyaman?” Pintaku memohon. “Ah ya, apakah Shara sudah masuk ke dalam rumah?”

“Ne… Geurae… Eodigayo?”

“Okay. Ikut aku. Sekarang.”

~~~

Jonghyun POV

“Pabo cheorom, hilang kemana sih bocah itu?” Desisku geram saat ditengah jalan menuju pintu keluar rumah sakit.

Padahal tinggal beberapa langkah lagi sebelum mencapai gerbang, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.

Sepertinya aku melihat Shara berjalan melintasiku tadi, ya—tak salah lagi. Ia jalan berlawanan arah denganku beberapa detik yang lalu. Kemudian aku menolehkan kepala ke belakang, dan mendapati Shara masih berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri.

Aku menyerukan namanya dan sedikit mengernyitkan kening saat memperhatikannya dengan baju berbeda dari yang kuingat beberapa saat lalu.

Ia sempat membeku di tempat, kemudian memutar kepalanya menengok ke arahku. Aneh—ada sesuatu yang aneh, pikirku seketika.

“Ne, Jonghyun-Oppa?”

“Bukankah kau tadi sudah pulang?” Tanyaku saat sudah berada di dekatnya.

“Hmmm… iya, tapi aku balik lagi mau ngambil gelangku yang tertinggal di toilet.”

“Geurae?” Tanyaku setengah tak percaya.

Ia mengangguk kemudian mengulumkan senyum.

“Oh ya, kudengar… rumahmu dekat sini ya?”

“Mwo? darimana kau tahu?” Matanya membesar kaget.

“Hmmm… itu… Ahhh, buktinya kau sudah ganti baju, kan? Hehe.” Terkaku logis sambil tersenyum kikuk.

“Ne… begitulah hehe.”

“Bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?”

“Eh?” Shara terperangah dengan pertanyaan yang mengejutkan dariku.

“Tidak boleh, ya?”

“Rrrr… itu boleh. Tapi tunggu ya, aku mau ambil gelangnya dulu. Kau tunggu saja disini.”

Aku mengiyakan perintahnya dan menunggu sambil duduk di kursi dekat pintu keluar. 7 Menit. 10 Menit. 20 Menit. Aku terus memperhatikan jam tangan dan keramaian sekitar.

“Kok lama banget sih?” Gerutuku emosi.

Karena tak sabar lagi menunggu, akhirnya aku menyusul Shara ke toilet wanita. Saat sampai didepan toilet tersebut, kutanya seorang gadis yang baru saja keluar dari situ tentang Shara.

“Tak ada siapa-siapa didalam.” Pernyataan gadis tersebut… membuatku sangat mual detik itu juga. Aku telah dibohongi oleh Shara. Dia kabur. Mirip seperti kasus Minho.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa Shara berlaku seperti ini terhadap kami?

To be continued…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

8 thoughts on “Beautiful Lies – Part 5”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s