Tell Me The Truth

Tell Me The Truth

Title     :Tell Me The Truth

Author: @triadefitr (Fitria hardiyati)

Main Cast  : Kim Jihyun, Lee Jinki “Onew” (SHINee)

Other cast : Kim Raekyo, Choi Minho, Yogeun

Genre         : Romance, Family Life, Comedy (?)

Rating         : PG-16

Lenght        : oneshoot

Summary : FF ini aku dedikasikan spesial untuk kembaranku (bukan saudara sih tapi namanya mirip ma aku) yang ultah ke-17 and suka ma Onew “SHINee”. Semoga tidak mengecewakan *I Hope dan untuk reader semua dimohon segala kritik, saran, dan pendapat agar author dapat menghasilkan karya lebih baik. Amien. That’s enaugh, happy reafing Guys! 😀

Minggu adalah hari libur internasional paling menyenangkan bagi Kim Jihyun, seharusnya. Namun alangkah sayangnya hal itu tidak terjadi untuk pagi ini. Ketika ayam jantan belum berkokok, pintu apartemen milik Jihyun sudah digedor-gedor layaknya ada rentenir datang ingin menagih hutang.

Tok! Tok! Tok!

”Kim Jihyun! Open the door or you die!” si pengetuk pintu berteriak kencang tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Terutama waktu yang masih menunjukkan pukul lima dini hari.

Jihyun terbangun dari tidur nyenyaknya, terpaksa melepas mimpi berkelana ke Neverend Island gara-gara terganggu dengan suara keras dari arah pintu. Ia mengucek mata sebentar lalu menyibak selimut tebal di depannya. Perlahan ia memakai sandal hangat kepala sapinya. Dengan terhuyung antara sadar dan tidak sadar Jihyun membuka pintu.

”Ya! Kim Jihyun! Tanganku sudah merah gara-gara mengetuk pintu apartemenmu, tau?” Jihyun langsung kena sembur seorang perempuan lebih tua beberapa tahun darinya. Di samping perempuan berambut hitam tersebut berdiri sosok lelaki jangkung tengah menggendong anak laki-laki yang berwajah mirip dengan kedua tamu tak diharap itu.

”Jelaslah! Ini kan pintu, bukan karung tinju Raekyo Unnie?” balas Jihyun garang menatap kakaknya. Ia heran masih pagi buta begini sudah ada orang yang mengusik hidupnya. Pandangan matanya teralih pada dua orang di samping Raekyo.

”Anyeong Minho Oppa, anyeong Yogeun. Ah, kamu makin imut saja,” Jihyun tersenyum ramah ke pada kakak ipar dan keponakan tunggalnya.

Raekyo yang melihat kejadian tersebut memutar bola matanya sebal. Adiknya memang genit jika sudah bertemu suami dan anaknya yang berparas tampan jauh diatas rata-rata. Apalagi kini sang adik sedang ketawa-ketiwi pada Minho sambil sesekali mencubit pipi chubby Yogeun. Sebagai istri dan ibu muda labil, Raekyo tak rela dua orang terkasihnya digoda meski oleh adiknya sendiri.

”Kami titip Yogeun hari ini padamu,” ucap Raekyo to the point.

”Mwo?” kedua bola mata Jihyun nyaris meloncat dari sarang saking shock-nya mendengar ucapan kakaknya barusan.

”Aniyo, tidak bisa! Aku ada kencan bersama Onew hari ini,” Jihyun membentuk tanda X menggunakan kedua tangan yang saling disilangkan di depan dada.

”Ayolah! Hari ini saja.”

”Andwae!”

”Sekali-kali berbaktilah pada kakakmu yang cantik ini, Kim Jihyun. Sehari ini saja, come on” ujar Raekyo terlalu pede dan sedikit memaksa.

”Unnie, Oppa, kalian kan bisa menitipkan Yogeun di tempat penitipan balita,” Jihyun memandang Yogeun yang sedang bermain hotwheel iba.

”Andwae! Keluarga adalah unsur terbaik dalam perkembangan anak karena keluarga termasuk kelompok primer. Memiliki iakatan batin yang kuat dan mengenal satu sama lain,” ujar Raekyo berapi-api. Maklum dulu ketika SMA ia ada di jurusan IPS.

”Kami sangat membutuhkan bantuanmu Jihyun,” kali ini Minho angkat bicara. Aura karismatik yang menguar dari tubuhnya langsung membuat Jihyun mencair. Layaknya es batu terkena mata laser Superman. Bagaimana tidak? Seorang Choi Minho. Kakak kelas SMA-nya dulu yang dipuja banyak wanita berbagai umur, mulai dari murid, guru hingga ibu-ibu penjaja makanan karena ketampanan naturalnya, prestasinya sebagai kapten kesebelasan sepak bola kini sedang meminta tolong di depannya dengan kedua mata belo menyaingi keroro menghujam langsung ke dalam manik Jihyun.

”Ne, aku akan menjaganya,” kata yang diantisipasi Jihyun untuk tidak diucapkan terlanjur meluncur begitu saja.

”Jinja? Gumawo adikku sayang.” Raekyo mencium pipi kanan dan kiri Jihyun bergantian. Kini ia mengerti, jika ingin minta tolong pada Si adik gunakan Minho sebagai senjata.

”Cheonmaneyo Unnie, hati-hati di jalan.”

”Jaga Yogeun baik-baik, Adik Ipar,” Minho mengacak rambut Jihyun pelan.

”Ne, Oppa,” Jihyun mengangkat Yogeun dari Minho ke dalam gendongannya,”Ucapkan sampai jumpa pada Appa dan Eomma, Yogeun!”

”Appa, Eomma, hali-hali di calan,” kata Yogeun sambil melambaikan tangan. Balita berumur dua tahun itu memang cepat belajar bicara meskipun belum begitu fasih pengucapannya.

”Jangan nakal dengan Tante Jihyun, Sayang? Mmuah!” kata Raekyo melempar kiss bye ke putra semata wayangnya.

”Bibi, Eonni,” protes Jihyun tak terima.

”Aisshh, terserah,” Raekyo melambaikan tangan, sambil mengapit lengan kekar Minho keduanya berlalu. Jihyun memandangi mereka hingga tak terlihat dari pandangan mata.

            ”Oke Yogeun, sekarang kita masuk ke dalam,” Jihyun membawa Yogeun masuk ke apartemen. Terpaksa ia mengurungkan niat untuk kembali tidur. Setelah menurunkan Yogeun di atas matras dan mengambil beberapa mainan yang tertinggal waktu Raekyo dan Minho mampir ke apartemen, Jihyun langsung membenahi tempat tidur dan membersihkan apartemen. Kesibukannya bertambah dua kali lipat karena kedatangan Yogeun. Apa boleh buat, setiap melihat Yogeun timbul rasa ingin menjaga dan melindungi. Mungkin itu pula yang dirasakan oleh Raekyo dan Minho, sehingga keduanya tak rela menitipkan Yogeun pada sembarang orang maupun instansi penitipan balita. Orang tua muda yang pantas dicontoh.

Ting! Tong!

Bel pintu apartemen Jihyun berbunyi, menandakan ada orang datang. Kegiatan memasak buburnya sedikit terganggu, masih memakai apron dan memegang sendok sup ia segera menuju ke arah pintu.

”Onew!” seru Jihyun kaget.

”I’m coming Chagiya, ya kau masak?” tanya Onew menunjuk apron biru yang Jihyun kenakan.

“Ne, sedikit. Kau sendiri kenapa tidak menghubungiku kalau mau datang kemari? Bukannya kita janji bertemu di Namsan Tower jam 10?”

”Aku bosan di rumah, makanya kemari,” tanpa permisi Onew nyelonong masuk. Baru beberapa langkah ia berseru.

”Kim Jihyun! Sejak kapan kau punya anak?”

”Aw!” Onew kembali berseru saat Jihyun memukul kepalanya menggunakan sendok sup.

”Itu Yogeun. Pabo!”

”Yogeun? Anak Raekyo dan Minho? Ah, ne ne arassseo,” Onew manggut-manggut mengerti sambil mengelus kepalanya yang agak benjol.

”Wait a minute, untuk apa ia ada di sini?”

Jihyun menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Onew, “Mereka ada urusan, so I have take care him today.”

”Mwo? It can’t be happen! Bagai..,”

”Aku akan mengajaknya pergi bersama kita, ne?” Jihyun memotong ucapan Onew.

”Ah tidak ada tapi-tapian, aku harus kembali ke dapur. Ajak main Yogeun, oke? Awas kalau sampai menangis!” Jihyun menyela Onew yang hendak protes. Sedikit mengancam menggunakan sendok sup yang dipegangnya.

Sekembalinya Jihyun ke dapur, bukannya duduk disamping Yogeun yang sedang main robot Transformer di karpet. Onew malah duduk di sofa, mengawasi anak bermata belo itu dari jauh. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang mennyuruh untuk membatasi diri, entah apa. Ia bukan pengidap babyphobia hanya saja sebagai terlahir sebagai anak tunggal dan tidak terbiasa berbaur dengan anak kecil membuat lelaki berpipi chubby tersebut kaku terhadap anak-anak. Sebenarnya masih ada alasan lain.

”Yogeun! Bubur ayamnya sudah jadi, ayo makan?” Jihyun berteriak semangat, cekatan ia menggendong Yogeun ke dalam dekapannya.

”Do you have breakfast?” tanyanya pada Onew.

”Hmm, not yet.”

Jihyun mendekati Onew, memegang tangannya sedikit menarik agar namja itu berdiri,”Kajja! Kita makan bersama.”

            Memberi perhatian dengan cara unik meskipun pada awalnya agak menyebalkan, inilah alasan mengapa seorang Onew sangat mencintai gadis dihadapannya kini.

”Yogeun, aaaa,” Jihyun menyuapi Yogeun pelan. Ia melambungkan sendok berisi bubur menggunakan gaya kapal terbang agar Yogeun tidak bosan sehingga membuka mulutnya. Awalnya agak kesulitan bagi Jihyun untuk menyuapi Yogeun. Pertama-tama ia harus memastikan bahwa bubur yang ia sendoki tidak terlalu panas juga volume-nya harus pas sebab jika kebanyakan, Yogeun akan memuntahkannya. Menyuapinya pun harus pelan-pelan, ditunggu hingga makanannya tertelan secara sempurna agar tidak tersedak. Bukan hal mudah, bukan?

Onew tersenyum simpul. Jangan berfikir ia berada disamping Yogeun. Kenyataannya ia duduk berseberangan meja dengan keduanya. Melihat aktifitas manis itu dalam diam.

”Something wrong?” tanya Jihyun menadari Onew yang terus-terusan memandanginya.

”Nothing, just watching you,” kedua gigi kelinci Onew terlihat jelas ketika tersenyum.

”Jinja? Oh ya, bagaimana jika kita pergi ke Chunggaecheon Stream Park dulu sebelum Ke Namsan Tower. Daripada menunggu di sini. Membosankan.”

”Ide bagus, setelah makan kita kesana.”

”Aaaaaa…..,” Yogeun menarik-narik lengan baju Jihyun. Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan gigi susu yang mulai bermunculan.

”Sudah habis rupanya, oke ini dia kapalnya datang! Aaaaa,” Jihyun kembali menyuapi Yogeun sampai mangkuk berisi bubur ayam habis.

Selesai makan, Jihyun segera memberesi meja. Kemudian berganti pakaian menggunakan white dress selutut dipadu legging warna coklat pastel. Ia juga mengenakan coat dengan warna senada, mengingat bulan ini adalah pertengahan musim dingin. Sengaja Jihyun memakai flat shoes agar kakinya tidak cepat pegal apabila terlalu lama menggendong Yogeun.

”Onew, tolong pakaikan Yogeun jaket ini?” Jihyun melempar jaket kecil gambar power rangers ke arah Onew.

”Ah ne,” Onew menghampiri Yogeun, tangan Onew sedikit gemetar ketika memakaikann jaket pada balita lucu itu. Bernafas lega, Yogeun tidak berontak saat Onew memegangnya. Walau begitu, ia sendiri masih ragu untuk menbggendong Yogeun. Hanya duduk di hadapannya.

”Aku sudah siap! Kajja!” Jihyun menyampirkan tas di lengan kanannya, tersenyum manis. Sampai-sampai Onew nyaris lupa bernafas.

”Let’s go!” Onew langsung menyambar jaketnya segera turun ke area parkir disusul Jihyun dan Yogeun di belakangnya.

Chunggaecheon Stream Park  merupakan taman yang berada di tengah kota, dengan sungai jernih mengalir membelah kawasan wisata yang sering pula digunakan untuk syuting berbagai judul drama tersebut. Keadaan taman nan bersih, asri juga terawat dilengkapi area bermain bagi anak-anak dan berbagai macam kedai makanan membuat taman ini menjadi salah satu tujuan wajib bagi wisatawan asing maupun domestik. Berbagai macam varietas pohon dan bunga ditanam di sini, sayangnya karena sekarang musim dingin pemandangan yang terlihat tak seindah musim semi maupun musim panas. Di atas sungai  terdapat jembatan yang membelah taman. Disanalah Onew, Jihyun dan Yogeun berada. Udara dingin seolah tidak mengganggu mereka. Bahkan Yogeun begitu riang berjalan diantara Onew dan Jihyun, memegang tangan keduanya. Meloncat girang melihat keadaan sekeliling.

Jihyun berusaha menahan senyum gelinya melihat wajah gugup Onew ketika salah satu tangannya dipegang erat oleh Yogeun. Ia tahu sejak dulu Onew menutup diri dari anak-anak. Sebisa mungkin menghindari kontak dengan mereka. Jihyun sendiri tak habis pikir, berkali-kali ia bertanya alasan Onew enggan berbaur dengan anak-anak. Namun kekasihnya selama dua tahun terakhir itu selalu mengelak, mengalihkan pokok pembicaraan. Sampai Jihyun capek sendiri. Walau Onew dikenal sebagai sosok humoris dan terbuka pada banyak orang, akan tetapi hingga saat ini Jihyun merasa belum mengenal 100% sosok Lee Jinki, nama asli Onew. Ada sesuatu entah apa itu yang tidak ia ketahui.

Di luar dugaan, Yogeun begitu menyukai Chunggaecheon Stream Park, lebih tepatnya children area berisi aneka macam wahana khusus untuk anak-anak. Melihat Yogeun begitu antusias bermain membuat Onew memutuskan untuk menghabiskan waktu menemani Yogeun bermain di sana saja.

”Aku mau beli kimchi dulu sebentar. Tolong jaga Yogeun oke?”

Onew mengangguk. Ia mengawasi Yogeun yang sedang asik naik kuda goyang, Seulas senyum tipis terukir dari sudut bibirnya.

Tak jauh dari tempat Onew dan Yogeun berada, sepasang lansia hendak duduk di bangku taman. Si nenek berusaha membantu kakek yang duduk di kursi roda untuk berpindah ke bangku kayu panjang. Cukup kesulitan. Melihat kejadian itu, Onew bergegas menuju keduanya. Memapah si kakek untuk duduk. Di saat itulah, tanpa disadari oleh Onew kuda goyang yang dinaiki Yogeun berhenti. Berkali-kali ia mencoba menggoyangkannya tapi nihil. Butuh memasukkan koin agar si kuda mesin tersebut kembali bekerja. Didorong keinginan kuat untuk menyusul Onew, menarik lengan namja itu untuk memberinya beberapa uang koin. Namun baru hendak turun, Yogeun tergelincir badan kuda yang licin.

Brukkk!

”Aaaaaaaaaa!”

”Yogeun!”

Kantong kimchi Jihyun spontan merosot ke lantai. Kecepatan berlarinya menjadi dua kali lebih cepat dari biasa. Ia terlalu mengenali suara Yogeun, dari jarak jauh sekalipun. Betapa terkejutnya ia mendapati beberpa orang sudah mengelilingi children area. Jihyun perlu sedikit berdesakan untuk bisa melihat Yogeun.

”Omo! Yogeun,” Jihyun bersimpuh berusaha menenangkan Yogeun yang masih menangis. Jihyun bertambah panik menyadari lengan dan kaki Yogeun berdarah. Ia menggendong Yogeun berdiri, berniat membawanya ke Rumah Sakit. Ketika berbalik seseorang menahan tangannya.

”Aku akan mengantar kalian.”

”Tidak perlu,” Jihyun menepis tangan Onew kasar,”Bukankah aku sudah bilang untuk mengawasi Yogeun selama aku pergi. Tapi lihat! Apa yang telah kau lakukan, ha?”

”Aku tahu. Tadi aku pergi sebentar untuk..,” perkataan Onew terpotong oleh Jihyun.

”Pergi? Hah, kau seharusnya tahu balita seperti Yogeun itu ringkih! Bagaimana bisa kau meninggalkannya pergi begitu saja.”

”Mianhae, aku tidak sengaja.”

”Aku tidak butuh pernyataan maafmu Lee Jinki. Aku benci dikecewakan, kau tahu itu.”

Perkataan Jihyun membuat Onew terperanjat, dengan memanggil nama aslinya (Lee Jinki) menandakan bahwa Jihyun benar-benar marah terhadapnya.

”Biar aku jelaskan,” Onew memegang pergelangan tangan Jihyun.

”Apa lagi yang perlu dijelaskan? Semua sudah jelas! Lee Jinki, sosok ramah yang baik hati dihadapanku ini ternyata tak lebih dari seorang pengecut yang tidak bertanggung jawab! Ternyata aku salah mengenalmu, selama dua tahun ini. Ironis bukan?” Jihyun tersenyum getir, matanya sudah berkaca-kaca. Jihyun segera berbalik sebelum butiran-butiran air matanya tumpah. Mendekap erat Yogeun digendongannya. Meninggalkan Onew yang masih mematung di tempat.

”Maafkan aku tidak bisa menjaga Yogeun dengan baik,” berkali-kali Jihyun mengulangi perkataannya pada Raekyo dan Minho. Walau dokter berkata bahwa Yogeun baik-baik saja, cuma mengalami luka lecet dan akan sembuh beberapa hari ke depan, rupanya tidak cukup ampuh untuk membuat Jihyun tenang. Ia masih merasa bersalah atas insiden di taman.

”Saeng! Calm down, everything is oke now!” Raekyo merangkul adiknya,”Yang penting sekarang adalah hubunganmu dan Onew.”

”Mwo? I don’t care!”

”Ahh, kalian ini seperti anak kecil saja. Masa’ gara-gara Yogeun jatuh dari kuda-kudaan kalian jadi ngambek begini? Too childish,” cibir Raekyo.

”I agree with you,” Minho menimpali.

”Wait a minute, justru kalianlah yang tidak tahu duduk permasalahannya.”

”Well, kita sudah duduk. Tinggal beritahu masalahnya,” Minho menarik kursi agar lebih dekat dengan istri dan adik iparnya.

”Wanna share?” bujuk Raekyo.

Jihyun menunduk memikirkan matang-matang unek-unek yang selama ini dipendamnya,”Hubungan kami baik, komunikasi kami lancar, jarang terlibat konflik. Itu sungguh melegakan. Bahkan aku pernah menghayal kita akan mengikat hubungan ke jenjang lebih tinggi. Akan tetapi, kejadian tadi telah membuka mataku bahwa aku hanya mengetahuinya tanpa mengenalnya. Meski orang bilang berkata ia humoris dan ramah. Namun ada sesuatu yang mengganjal perasaanku dari dulu. Ia menyembunyikan sesuatu, sisi gelap yang tidak kuketahui. Seperti alasannya takut terhadap anak-anak. Itu terdengar irasional. Bagaimana bisa aku mempertahankan hubungan kami tanpa keterbukaan diri masing-masing?”

”Semua butuh proses, mie instan saja harus direbus sebelum dimakan,” Minho berpendapat.

”Aku sudah mencoba selama dua tahun ini, no progress.”

“Jihyun, kau tahu? Kadang cinta memperlakukan kita dengan unik, aneh dan tak terduga. Selalu ada sesuatu di balik peristiwa. Without past nothing future. Pikirkanlah baik-baik. Jangan sampai menyesal pada akhirnya. Aku lihat banyak panggilan dan kotak masuk dari Onew di ponselmu,” Raekyo menepuk pundak Jihyun pelan.

Ponsel touch-screen Jihyun kembali bergetar menandakan ada kotak masuk, dari Onew. Entah untuk keberapa kalinya.

Waktu terus berputar, hari berganti hari. Bagi Jihyun hal ini sangat menyiksa, seminggu setelah insiden taman itu. Perlahan namun pasti hubungan Onew-Jihyun merenggang. Ini sudah dua hari sejak terakhir kali Onew gencar mengirim kotak masuk dan melakukan panggilan. Tidak ada sosok mata sipit yang selalu menunggunya di depan kampus, tidak terdengar suaranya yang merdu, tertawanya yang nyaring, wajah tampannya, guyonannya yang terkesan garing. Sempat Jihyun menyalahkan diri sendiri, andaikata ia bisa menahan emosinya. Mungkin semua ini tidak terjadi. Namun, apa daya? Nasi telah menjadi bubur. Ia terlalu gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu.

Pagi itu Jihyun dikejutkan atas datangnya sepucuk surat. Tertera nama Lee Jinki di pojok atas, lengkap dengan perangko gambar namsan Tower. Awalnya Jihyun hendak membuangnya, namun akhirnya ia memilih hal yang lebih bijak. Membacanya terlebih dahulu. Surat itu hanya selembar, ditulis tangan oleh si pengirim.

To : My dearest Jihyun

            Bagaimana kabarmu? Haha, aku tahu kau pasti baik-baik saja. Sayangnya aku tidak L Aku yakin kau masih marah atas kejadian yang menimpa Yogeun. Jeongmal mianhae, aku benar-benar tidak sengaja. Waktu itu aku membantu seorang kakek untuk duduk di bangku taman. Aku memang teledor. Itulah yang ingin kukatakan padamu, tapi kau bahkan tak mau mendengarku. Pergi begitu saja. So painful.

            Tahukah kau? Aku benar-benar sakit, aku benci diriku sendiri karena telah mencelakakan Yogeun, membuatnya terluka dan yang terpenting membuatmu benci padaku. Aku berusaha menghubungimu, namun nihil. Jangankan mengangkat panggilanku, kotak masukku saja tidak kau balas. Hampir beberapa hari aku tidak tidur, berfikir bagaimana caranya agar kau memaafkanku. Sampai akhirnya aku menyadari, bahwa jika kita memang ditakdirkan untuk bersama, dalam keadaan seburuk apapun hubungan yang dijalanai, kita akan bersama kembali. Jika tidak, itu sebaliknya.

            Aku akan memberitahumu rahasia besar mengapa aku takut anak-anak. Ketika aku masih kecil, ibuku memberiku anak anjing. Aku menamainya Funny sebab ia benar-benar lucu. Setiap hari aku mengajaknya bermain sampai suatu ketika ia sakit. Aku menangis saat itu dan berjanji untuk merawatnya. Awalnya ibuku melarangku, beliau berpendapat aku terlalu kecil untuk merawat binatang. Aku tetap bersikukuh mau merawatnya. Kubawa ia ke sekolah, saat perjalanan pulang hujan turun deras. Kuletakkan Funny di dalam tas, lalu berlari menerobos hujan. Sampai di rumah, aku kaget bukan main. Funny tak ada dalam tas. Aku mencarinya sambil menangis di tengah hujan sampai aku menemukannya, jasadnya di pinggir jalan. Betapa cerobohnya diriku. Sejak saat itu, ibuku melarangku memiliki hewan peliharaan, membatasiku bermain bersama anak-anak lain. Alasannya sederhana, menghindari hal buruk yang bisa terjadi. Maka dimulailah masa kecilku yang tidak bahagia, hanya belajar dan bermain sendiri di rumah. Maka dari itu sampai sekarng aku takut berinteraksi dari anak kecil, was-was jika mereka terluka karena ulahku. Benar-benar konyol.

            Jihyun, aku harap kau bisa memaafkanku dan kita mulai semua dari awal. Aku akan mencoba menjadi orang yang lebih terbuka tentang diriku, not doing poker face, aku akan mencoba mencintai anak-anak, belajar memasak, melakukan apa saja yang membuatmu senang. Tapi jika tidak, bukan masalah. Aku akan bahagia apabila kau menemukan seseorang yang jauh lebih baik dariku. Meski itu pasti menyakitkan. Oh ya, santai saja. Kau tidak harus menjawabnya sekarang, sebab hari ini aku akan pergi ke Inggris. Melanjutkan study di Universitas london. Terlalu mendadak, ya? Haha, aku bisa gila jika lama-lama di sini tanpa kau disisiku. Aku harus segera berbegas ke Bandar Incheon, tiketku penerbangan pagi. Semoga kita bisa bertemu kembali, suatu hari nanti.

                                                                                                                       

            Regard

                                                                                                                        Onew

 

Butiran-butiran bening sudah menetes menjadi bercak di selembar keras yang Jihyun pegang. Segera disekanya menggunakan ujung kemeja, pandangannya beralih pada jam dinding.           ”What? Jam 9?” jihyun buru-buru mengenakan mantelnya. Ia harus segera ke bandara dan mencegah Onew pergi. Persetan rasa gengsi. Pikirannya berkecamuk sehingga sulit membuka pintu apartemen yang terkunci. Akhirnya pintunya sudah dapat dibuka.

”Onew!” Jihyun berseru nyaring. Ia segera memeluk sosok yang telah membuat hari-harinya galau akhir-akhir ini.

”I miss you so much. Don’t leave me, oke? I don’t wanna let you go,” Jihyun terisak di dekapan lengan hangat Onew.

”I’m here now. Don’t worry.” Onew membelai puncak kepala jihyun pelan, mengecup keningnya lembut. Betapa ia juga sangat merindukan gadis ini.                

”Jadi, kau tidak jadi pergi?”

”Sebenarnya aku memang tidak berencana untuk pergi,” jawab Onew enteng.

”Ya! Kau membohongiku?” Jihyun memukul lengan Onew.

”Aku yang menyuruhnya!” Raekyo muncul bersama Minho dan Yogeun,”Aku tidak bisa melihatmu galau terus menerus.”

”Tanpa memberitahuku sebelumnya?”

”Emang! Masalah buatmu. Sekarang kalian kembali bersama, itu yang terpenting. Jangan sampai terjadi lagi. Aku dan Minho tak sudi membantu,” tambah Raekyo memotong ucapan Jihyun.

Onew dan jihyun saling berpandangan kemudian tersenyum. Semua akan indah pada waktunya.

THE END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Tell Me The Truth”

  1. Fufu, kasian Onew. Dia nggak salah tapi disalah2in. Jihyun juga childish banget pake marah2 segala padahal nggak tau masalahnya.

    Ide ceritanya unik, nyehehe. Menurutku sih kalo pake bhs Inggris, yang beneran aja. Haha, nggak ngerti maksudku ya? Maaf, random ._.

    Keep writing ^^

  2. Aku gak terlalu ngerti pas di bagian bhs inggris,maklum gak begitu pintar bhs inggris,hehehe,,wah,keren,kasihan onew,jihyun kok gak ngasih kesempatan ngomong buat onew ngejelasin.keep writing

  3. Yaa.. Jihyun-ah lain kali di dengerin dulu penjelasan onew ya..
    Lucu bagian onew teriak “sejak kapan kau punya anak?” haha heboh bet deh bang…
    Nice ff.. Fluff family life

  4. minho sama kakanya punya anak yoogeun
    nah entar jihyun sama onew punya anak lee taemin >< wkwkw daebak thor~~

  5. hmmmm..
    ceritanya manis..
    alasan kenapa Onew takut anak kecil tragis juga..
    kasian Onew..
    Yoogeun emang pantes banget jadi anaknya Minho..
    daebak..
    di tunggu ff selanjutnya..

  6. Sumpah funny 😥
    Sedih banget ceritanyaaaa
    Jihyun dengerin onew duluu makanyaaa
    Akhirnya dikerjain sekalian tuh weehehehe
    Kerenn!!

  7. Whoooaaa~~
    God job thor, like this so much (y)
    Ada yoogeun juga, jadi inget HB, kekeke. Waah tapi ada yang salah tuh, harusnya aku yang jadi istrinya Minho #Plak!
    Nice ff and happy ending plus humor too 😀

Leave a Reply to zaKey Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s