I’m Not A Playboy – Part 4

I’M NOT A PLAYBOY – Part 4

 

Author : Vinny a.k.a. vinvinn

Main cast : Kang Ji Hyun (OC), Kim Jong Hyun

Support cast : Lee Tae Min, Park Min Ri (OC), Kim Ki Bum (Key), Choi Min Ho, appa dan Umma Ji Hyun, Kim Dong Woo (OC)

Other cast: Sora (OC), Cho Kyuhyun (Super Junior), Sulli f(x), Hyo Min (T-ara) …

Length : sequel

Genre : romance, friendship

Rating : General

Poster by: Yeonnia@KoreanChingu

Warning: typos (maybe???)

A.N: Part 4 datang! Sebelumnya mianhae banyak typo di teaser, part 1 dan part 2 *bow* Seharusnya mereka kelas XII bukan XXI. Lebih tepatnya, kelas 3 SMA. Lalu, wali kelas Ji Hyun itu Han Seonsaengnim ya, bukan Park Seonsaengnim. Dan maaf juga kalau ff ini lama kukirim. Sedang masa-masa menjelang ujian nasional (pastinya waktu ff ini dipost aku udah libur xD) Happy reading! Hope you like this. And don’t forget to leave your comment, ok? J

~~~

“Ne, Kang Ji Hyun. Ini aku, KIM JONG HYUN!”

Ji Hyun menahan nafas, melihat namja di depannya tak percaya. Ini… ini mimpi kan? Kim Jong Hyun adalah calon tunanganku? Bagaimana mungkin???

Ji Hyun tenggelam dalam pikirannya. Dia menolak, memberontak, berusaha menyangkal kenyataan. Terlalu banyak hal aneh yang dialaminya hari ini. Dan yang paling aneh, hal yang tak pernah terlintas di pikirannya,  kenapa dia malah dijodohkan dengan namja kurang ajar ini?! Apa orang tuanya tak bisa memilih laki-laki lain? Ah… perjodohan ini kan paksaan. Mana bisa main pilih-pilih?! -___-

“Oppa…!” sebuah suara cempreng mengganggu konsentrasi Ji Hyun. Ji Hyun menoleh ke asal suara, menatap bingung seorang perempuan yang mendekatinya. Perempuan berambut hitam panjang lurus dengan rok mini itu berlari kecil ke arahnya di atas stiletto 10 cm tanpa terjatuh. Lima meter, empat, tiga, dua, satu meter…. Yeoja itu meloncat kecil, memeluk erat orang yang ada di depannya. Orang itu bukan Ji Hyun, orang itu … Jong Hyun.

Tunggu…!!! APA?! JONG HYUN?!

Ji Hyun tersentak. Bingung, heran, shock, semua bercampur aduk di dalam dirinya. Lalu setelah otaknya mulai berpikir, dia mulai merasa tak senang. Apa lagi ini? Calon tunanganku sedang berpelukan dengan yeoja lain? Apa ini lelucon? Dengan wajah shock Ji Hyun melihat adegan mesra memuakkan yang ada di depannya. Akhirnya bertambah satu lagi poin buruk dari Kim Jong Hyun.

“So… Sora?” Jong Hyun membelalakkan matanya, mencoba melihat wajah yeoja yang sedang memeluknya.

“Oppa ke mana saja? Kenapa Oppa pindah sekolah? Kenapa tak memberitahuku? Nan neomu bogoshippoyo oppa….” Yeoja bernama Sora masih bergelayut di tubuh Jong Hyun, bertanya dengan nada manjanya yang membuat Ji Hyun mual saat itu juga.

Grekk…. Ji Hyun mendorong kursi yang tengah didudukinya. Ia berdiri, menatap Jong Hyun dan Sora datar.

“Sepertinya urusan kita sudah selesai, Jong Hyun-ssi,” ucap Ji Hyun sengaja menekan suku kata  terakhir dalam kalimatnya. Tanpa menghabiskan waktu, Ji Hyun segera meraih tasnya dan berjalan keluar.

“Ji Hyun!” Jong Hyun berteriak, berharap Ji Hyun menghentikan langkahnya. Ah! Kenapa jadi begini?

***

Laki-laki itu mendekatkan ponselnya ke telinga. “Otteohke?” tanyanya.

“Jong Hyun sudah datang, Mr. Kim,” jawab seorang laki-laki yang sedang duduk di meja nomor 6 di sebuah restoran melalui bluetooth headsetnya. Matanya yang ada di balik kacamata hitam memperhatikan seorang namja berjas coklat yang berjalan santai ke arah sebuah meja. Jong Hyun berbicara sebentar dengan yeoja yang duduk di atas meja.

“Apa mereka sudah berbicara?” tanya Mr. Kim atau Kim Dong Woo. Sepertinya dia tak mendengar suara samar-samar seorang yeoja yang meneriakan kata ‘oppa’ di seberang sana.

“Mereka….” ucapan laki-laki itu terhenti saat melihat seorang yeoja tak dikenal memeluk Jong Hyun.

“Waeyo?” Dong Woo berusaha menajamkan pendengarannya. Hanya ada suara berisik.

“Kyuhyun-ssi?” Dong Woo memanggil anak buahnya itu, penasaran dengan apa yang sedang terjadi.

“Hm… Ne. Semua baik-baik saja. Nanti akan saya kabari lagi,” jawab Kyuhyun.

“Baiklah,” Dong Woo memutuskan pembicaraan mereka. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, berharap perjodohan ini bisa berlangsung dengan lancar.

Sedangkan di tempat yang berbeda, Kyuhyun menyambar tasnya. Disampirkannya tas ransel hitam itu di bahu kirinya. Dia berjalan cepat, berusaha mengejar Jong Hyun. Jangan sampai pekerjaannya gagal. Tapi… BUGH! Tas Kyuhyun menabrak seorang yeoja yang sedang berdiri di samping meja nomor dengan lima cukup keras.

“Aww!” yeoja itu jatuh terduduk, ponsel yang tadi dipegangnya di tangan kanan terlempar. “Ahh! Ponselku!”

“Mianhae, aku tak sengaja.” Kyuhyun segera mengambil HP yeoja itu dan mengembalikannya.

Yeoja itu, Sora, segera merebut HP-nya. Dia membolak-balik poselnya, memperhatikan permukaan dan layar touchscreen yang mengkilat itu. Sementara itu Kyuhyun berdiri, dia masih harus mengejar Jong Hyun.

“Jamkkaman!”

Kyuhyun merasa tangannya kirinya ditarik. Bukan hanya ditarik, bahkan dijadikan tumpuan bagi Sora untuk berdiri. Kyuhyun hampir kehilangan keseimbangannya. Dia melirik ke belakang. Sora menggenggam tangannya, berusaha menyeimbangkannya tubuhnya yang oleng di atas stilettonya.

“Waeyo? Aku sedang buru-buru,” tanya Kyuhyun cepat. Jong Hyun sudah berada di  luar restoran dari tadi. Bisa gawat kalau aku kehilangan jejaknya! pikir Kyuhyun.

“Kau merusakkan ponselku!” Sora menunjukkan casing belakang poselnya yang entah bagaimana bisa tergores cukup parah.

“Mianhamnida. Aku akan bertanggung jawab, tapi tidak sekarang, aku sedang buru-buru.” Kyuhyun melepaskan pegangan Sora, merogoh dompetnya, menarik sembarang sehelai kartu nama lalu meletakkan kartu itu di tangan Sora.

“Mianhamnida….” kata Kyuhyun sebelum berlari keluar restoran, meninggalkan Sora yang berteriak memanggilnya.

“Agassi! Agassi!” Sora berusaha mengejar Kyuhyun, tapi kakinya terasa sakit. Kyuhyun pun menghilang, keluar dari restoran itu.

“Ah! Apa yang bisa kulakukan dengan kartu tak berguna ini?!” Sora menekan ujung kartu itu dengan kedua jari tangannya, kesal. “Apa dia sengaja ingin kabur? Argh!” Sora memasukkan kartu itu sembarangan ke dalam tasnya, sebuah game card.

***

Ji Hyun melangkahkan kakinya dengan cepat. Rasanya kesal! Kenapa? Cemburu? TIDAK! Tentu aja bukan karena itu -___- Hanya saja, dia merasa diabaikan. Bagaimana pun –walau dia tak berharap—Jong Hyun adalah calon tunangannya. Baru saja Ji Hyun terkejut-kejut dengan kenyataan mengerikan itu, tiba-tiba dia diberi shock terapi dengan kehadiran yeoja tadi yang dengan seenaknya menghancurkan mood Ji Hyun yang memang sudah berantakan….

Tunggu…! Kenapa Ji Hyun harus kesal? Bukankah kejadian tadi bisa berarti kalau Jong Hyun akan membatalkan perjodohan mereka? Ya! Itu bisa terjadi! Kenapa baru terlintas di pikirannya! Yaa, Ji Hyun! Sejak kapan pikiranmu jadi lemot?

“Ji Hyun!” lagi-lagi Ji Hyun mendengar suara Jong Hyun yang memanggilnya.

Ji Hyun tetap berjalan melewati pintu restoran cepat sampai dia merasakan seseorang menahan tangannya. Huh, pasti Jong Hyun.

“Apa kau marah?” tanya Jong Hyun. Beberapa orang yang tengah berada di tepi jalan melihat ke arah mereka. Beberapa hanya melirik sebentar, lalu tak peduli lagi, sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Ji Hyun berbalik lalu melepaskan tangan Jong Hyun yang memegang tangannya. Ji Hyun menatap Jong Hyun datar.

“Untuk apa aku marah?” jawab Ji Hyun memasang wajah yang tampak santai.

“Jangan mencoba membohongiku. Kau tidak akan tiba-tiba pergi kalau tidak marah. Atau… kau cemburu?” Jong Hyun mengeluarkan evil smile-nya.

Ji Hyun mendengus. “Untuk apa aku cemburu? Aku malah lega melihatmu dengan yeojachingumu. Itu berarti kau sudah menolak rencana yang dibuat orang tua kita kan? Dan aku tidak perlu menjalani perjodohan itu.” Ya! Ini dia yang ingin Ji Hyun katakan sejak dua hari lalu: menolak-perjodohan-itu. Ji Hyun tersenyum puas.

Jong Hyun balas tersenyum. Yah, sepertinya ini pertanda baik.

“Jangan sok tahu. Pertama, dia bukan yeojachinguku. Kedua, siapa yang bilang kita tidak perlu menjalaninya? Kita akan tetap menerima perjodohan itu,” Jong Hyun menjawab dengan santainya.

Ji Hyun membelalak. Apa dia tak salah dengar?

“Jangan bercanda, Kim Jong Hyun. Ini sangat tidak lucu,” Ji Hyun menatap Jong Hyun dengan tatapan menindasnya. Dia berusaha mencari kebohongan di mata Jong Hyun. Lebih baik baginya dibodohi sekarang daripada harus menjalani rencana gila itu.

“Aku serius, Kang Ji Hyun,” Jong Hyun tersenyum.

Ji Hyun menelan ludah. Yang benar saja?

“Aku tidak peduli kau setuju atau tidak. Tapi hal perjodohan harus disetujui kedua pihak. Dan aku sudah menyatakan untuk MENOLAKNYA!” protes Ji Hyun. Dia tidak ingin berbasa-basi lagi. Makin lama berbicara dengan Jong Hyun, semakin dia merasa terjerat. Ji Hyun ingin segera pulang ke rumahnya dengan lega dan menjalani hidup normalnya lagi.

“Aku tidak peduli kau setuju atau tidak. Yang penting aku ingin menjalaninya,” Jong Hyun meniru kalimat pertama Ji Hyun.

“Kau gila,” desis Ji Hyun. Dia bersiap untuk mengambil langkah seribu, tapi Jong Hyun sudah lebih dulu menahannya.

“Ok, aku tak akan main-main. Aku akan bicara serius. Tapi, kita tak akan bicara di tepi jalan kan?”

Ji Hyun menatap Jong Hyun, menyelami matanya yang –ternyata mau tak mau harus diakui—indah itu. Kali ini, entah kenapa dia percaya kalau laki-laki itu memang serius.

***

Daging steak itu dipotongnya lebih kecil lagi menjadi dua bagian. Ji Hyun terlihat sudah terlatih menggunakan segala peralatan makan itu. Dia menusuk potongan terakhir daging itu dan memasukkannya ke dalam mulut dengan hati-hati. Dan setelah mengunyah dengan pelan dan dalam waktu yang cukup lama, makanan itu ditelannya. Diraihnya segelas air putih yang terletak di depan piringnya. Setelah meneguk beberapa teguk kecil air, dengan sehelai kertas tisu, dia membersihkan pinggir bibirnya.

“Sudah?” tanya Jong Hyun yang duduk di depannya, yang terlihat agak bosan menunggu Ji Hyun menghabiskan steaknya. Sedangkan spaghetti Jong Hyun sudah habis sekitar tiga menit lalu.

Ji Hyun mengangguk pelan. Dia melirik sebentar piring spaghetti Jong Hyun yang sudah kosong. Sebenarnya tadi dia ingin sekali memesan makanan favoritnya itu. Tapi karena teringat insiden spaghetti yang diberikan Jong Hyun waktu dia sakit maag, entah kenapa dia jadi malas.

“Jadi?” kata Jong Hyun ringan.

Ji Hyun mengerutkan alisnya. Kenapa Jong Hyun balik bertanya padanya? Tapi sadar diberi kesempatan lebih dulu untuk bicara dan menolak, Ji Hyun sedikit lebih lega.

“Aku sudah bilang kalau aku menolaknya,” jelas Ji Hyun.

“Tapi aku pikir ini tidak buruk. Aku mau menjalaninya,” Jong Hyun mengutarakan pendapatnya –lebih tepat keinginannya—yang tak masuk akal bagi Ji Hyun.

“Walau kamu setuju, tapi aku tak setuju, perjodohan ini akan dibatalkan,” Ji Hyun ngotot dengan keputusannya.

Jong Hyun terdiam sebentar, berpikir. “Pikirkan baik-baik, Ji Hyun. Yang seharusnya dengan sukarela menerima perjodohan ini adalah dirimu. Yang berutang itu adalah orang tuamu.”

“Apa maksudmu?”

Jong Hyun terdiam sebentar, entah mengapa dia merasa sedikit ngeri mendengar nada suara Ji Hyun yang sinis.

“Walau orang tuaku berutang, bukan berarti aku dijual untuk menjalani perjodohan ini,” Ji Hyun menatap Jong Hyun sinis. Direndahkan adalah hal yang paling dibencinya. Baginya, harga diri adalah hal yang mahal.

“Mianhae…. Aku tak bermaksud,” kata Jong Hyun pelan. Rasa menyesal tergambar dari nada suaranya.

“It’s ok,” Ji Hyun menarik nafas, berusaha mengendalikan emosinya.

“Cuma satu bulan. Kita pura-pura dekat dalam satu bulan ini, hanya sekedar menyenangkan orang tua kita. Setelah itu kita bisa pakai berbagai alasan untuk berpisah. Bagaimana?” tanya Jong Hyun.

Hening. Ji Hyun tenggelam dalam pikirannya sendiri. Memikirkan perjodohan ini, memikirkan orang tuanya, memikirkan perusahaannya, dan hal terakhir yang dipikirkannya adalah dirinya sendiri. Sudah terlalu banyak dia berpikir mengenai diri sendiri, dia sudah terlalu egois. Lagipula apa susahnya merendahkan sedikit egonya dan berpura-pura dalam satu bulan?

Setelah hampir lima menit bergulat dengan pikirannya sendiri, Ji Hyun membuka mulutnya. “Ba… baiklah. Kita coba jalani perjodohan ini. Hanya selama satu bulan.”

***

Pintu mobil itu terbuka, Jong Hyun berjalan keluar. Senyum kecil terpampang di wajahnya saat mengingat kejadian malam ini. Bertemu dengan calon tunangannya, yang ternyata President School yang sok angkuh, Kang Ji Hyun, makan malam sambil debat, mengantarnya pulang ke rumah. Walau begitu, sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Saat turun dari mobil Jong Hyun pun Ji Hyun hanya mengucapkan satu kata, ‘kamsahamnida’. Tapi bagi Jong Hyun ini permulaan yang cukup baik bukan?

Jong Hyun membuka pintu, dia benar-benar lupa kalau dia sempat bertemu dengan Sora, seperti dia lupa kalau mungkin saja ada yang menunggu kepulangannya. Dan ya, benar saja. Appanya sudah duduk di ruang tamu, ditemani laptop dan berkas-berkasnya. Tapi, kalau memang ingin bekerja, Appanya tak akan melakukannya di ruang tamu. Ini hanya untuk menunggu kepulangan Jong Hyun.

“Duduklah,” perintah Dong Woo sambil melepas kacamatanya.

Jong Hyun duduk, diam. Entah kenapa dia merasa canggung terhadap ayahnya sendiri.

“Apa kau sudah menemuinya?” tanya Dong Woo. Pertanyaan yang tak perlu.

“Sudah, Appa,” jawab Jong Hyun singkat, lalu terdiam lagi.

“Bagaimana menurutmu tentang… Kang Ji Hyun?”

“Appa tak akan memilih yeoja yang tak baik untukku kan?” jawab Jong Hyun ringkas sambil tersenyum kecil.

“Kita akan menemui keluarganya malam Minggu ini, persiapkan dirimu.”

“Ne, Appa.”

Dong Woo kembali memasang kacamatanya dan sibuk dengan berkasnya. Jong Hyun tahu itu tanda tak langsung kalau pembicaraan sudah selesai pun berdiri dan memohon diri. Entah sampai kapan hubungannya dengan Appanya sedingin ini, bagaikan gunung es yang belum bisa dirobohkan.

***

Berkas sinar matahari pagi masuk melalui ventilasi kamar itu. Di atas tempat tidur, seorang yeoja berguling, membuka matanya sedikit lalu dikejap-kejapkannya. Ji Hyun melirik ke arah jam di atas mejanya. Hampir jam tujuh, sedangkah sekolah dimulai jam delapan. Dia bergerak bangun, dan duduk menyandar di tempat tidur.

Saat kesadarannya mulai terkumpul kembali, dia mengingat suatu hal. Kemarin malam aku menerima perjodohan itu, pikirnya. Ji Hyun menghela nafas. Lalu segera bangun dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.

Setelah mandi dan bersiap-siap, Ji Hyun turun dari kamarnya, lengkap dengan seragam tas sekolahnya. Suasana rumah sepi. Biasanya jam segini Eomma dan Appanya belum bangun tidur. Maklum, orang tuanya lelah bekerja, dan biasanya bangun sesaat sebelum jam setengah sembilan.

Ji Hyun menghabiskan roti isi yang sudah tersedia di meja. Dia baru saja ingin berjalan ke garasi, menaiki mobil yang dikendarai sopirnya setiap hari sekolah, saat terdengar suara mesin sepeda motor yang jarang didengarnya. Dengan rasa penasaran siapa orang  yang mengganggu pagi-pagi seperti ini, Ji Hyun berjalan keluar pintu. Seseorang berhelm di atas motor besar berwarna merah yang sangat keren sudah ada di depan rumahnya. Orang itu membuka helmnya dan….

“Kau?! Untuk apa ke sini?” Ji Hyun memandang laki-laki itu heran dan memasang tampang mengusir.

“Untuk menjemput pacarku….” jawab namja itu santai sambil menampilkan senyum jahilnya.

“Sejak kapan aku jadi pacarmu?!” Ji Hyun meninggikan suaranya. Pacaran? Yang benar saja??

“Sejak kemarin kau menerima perjodohan itu, kau dan aku berpacaran,” Jong Hyun menjelaskan dengan gaya sesukanya.

Ji Hyun membuka mulutnya lebar. Hanya gara-gara itu dan Jong Hyun langsung mengecap status Ji Hyun sebagai pacarnya? Semua itu kan hanya pura-pura.

“Aku bukan pacarmu!” teriak Ji Hyun.

“Sudahlah, daripada dari kau teriak terus, lebih baik sekarang kau naik,” Jong Hyun menepuk jok motornya.

Ji Hyun mengerutkan kening. “Tidak, terima kasih. Aku akan pergi dengan sopirku.” Ji Hyun melangkah melewati Jong Hyun, tapi Jong Hyun menahan tangannya.

“Naiklah,” kata Jong Hyun malas. Dia sudah capek berdebat dengan yeoja keras kepala yang susah untuk mengalah ini. Kalau bukan karena perintah permintaan Appanya, Jong Hyun juga tak berpikiran untuk menjemput Ji Hyun.

Ji Hyun tak menjawab, dia hanya berusaha menarik tangannya. Tampaknya sudah jadi hobi Jong Hyun menahan tangan Ji Hyun dan sudah jadi hobi Ji Hyun untuk kabur dari Jong Hyun. Dengan malas dan setengah hati, Ji Hyun pun beralih menaiki motor Jong Hyun yang tinggi itu.

Ji Hyun terdiam menatap sepeda motor di depannya. Sebenarnya Ji Hyun belum pernah menaiki sepeda motor sebelumnya. Dia kebingungan sendiri bagaimana cara supaya bisa duduk di belakang Jong Hyun. Motor Jong Hyun terlalu tinggi untuk didudukinya. Apalagi dia sedang memakai rok sekolah. Di saat seperti ini dia jadi berharap kalau seragam sekolahnya itu celana saja, bukan rok. Atau dia harap motor Jong Hyun setengah lebih pendek. Lebih bagus lagi kalau Jong Hyun datang dengan mobil, atau tak usah menjemputnya sekalian!

“Kenapa?” Jong Hyun menoleh sebentar ke arah kiri, menyadari Ji Hyun yang masih berdiri dalam diam.

Ji Hyun menatap Jong Hyun tanpa menjawab. Menyadari wajah kebingungan yang ditampakkan Ji Hyun, Jong Hyun terkekeh. Dia baru sadar kalau jangan-jangan Ji Hyun belum pernah naik ke atas sepeda motor. Pasti sebelumnya dia hanya pernah menaiki mobil.

“Sudah, jangan bingung. Injak saja pijakan itu dengan kaki kirimu. Pegang bahuku sebagai tumpuan,” kata Jong Hyun mengarahkan.

Ji Hyun masih agak bingung. Tapi demi harga dirinya dan demi tak telat ke sekolah, dia berusaha mempraktekkan kata-kata Jong Hyun ditambah dengan kemampuan berpikirnya. Jong Hyun dapat melihat gerakan Ji Hyun yang ragu-ragu. Tapi akhirnya Ji Hyun berhasil juga duduk di belakangnya.

“Pakai ini,” Jong Hyun menyodorkan sebuah helm merah pada Ji Hyun. “Jangan bilang kau tak tahu cara mengenakan helm.”

“Tentu saja aku tahu!” balas Ji Hyun dengan nada kesal. Dia tak separah itu sampai tak tahu kalau helm itu dipasang di kepala. Dasar Jong Hyun.

Jong Hyun tersenyum. Sejenak kemudian motor itu pun melaju menjauhi rumah Ji Hyun. Ji Hyun merasakan angin menerpa rambutnya. Sensasinya membuatnya agak takut, karena belum terbiasa. Tapi beberapa saat kemudian dia mulai merasa kalau naik sepeda motor itu menyenangkan juga.

“Kenapa hari ini kau tidak bawa mobil?” tanya Ji Hyun iseng setelah kira-kira lima menit perjalanan.

“Kau mau tahu jawabannya? Pegangan dulu erat-erat!” jawab Jong Hyun dengan suara keras, melawan suara angin.

“Mwo?” Ji Hyun masih bengong.

“AHH!!” Ji Hyun berteriak saat tiba-tiba Jong Hyun menambah kecepatan sepeda motornya. Dia meraih apa pun yang bisa diraihnya agar tubuhnya tak jatuh ke belakang.

“Yaa! Jong Hyun! Apa kau gila? Jangan ngebut!” teriak Ji Hyun. Sepertinya dia tak sadar kalau sekarang dia tengah memeluk pinggang Jong Hyun dengan kedua tangannya. Dan untungnya, dia tak menyadari Jong Hyun yang sedang tertawa kecil. Kalau Ji Hyun tahu, mungkin dia akan memukul Jong Hyun saat itu juga dengan tangannya yang kecil dan kurus itu.

Bukannya memperlambat laju sepeda motornya, Jong Hyun malah melajukan sepeda motornya lebih cepat lagi. Ji Hyun mengeratkan pelukannya pada tubuh Jong Hyun. Berbagai berita kecelakaan lalu lintas terlintas di pikirannya. Dia menutup kedua kelopak matanya erat-erat. Aku belum mau mati!!! teriaknya dalam hati.

“Berhenti Kim Jong Hyun, berhenti!” teriak Ji Hyun. Dan, yang terjadi kali itu adalah keajaiban. Sesuai keinginan Ji Hyun, Jong Hyun langsung mengerem motornya.

Ji Hyun membuka matanya. Arghh! Apa yang kulakukan? Aku memeluknya!!! Ji Hyun tersadar dan segera menjauhkan tubuhnya dari Jong Hyun. Wajahnya memanas seketika. Dia memeluk Jong Hyun?? Ah, betapa memalukannya! Kenapa dia bisa kelepasan? Dasar Jong Hyun, pasti dia sengaja ngebut supaya aku memeluknya, pikir Ji Hyun menahan marah. Dasar nappeun namja, dasar playboy! kutuknya.

Ji Hyun melihat ke sekelilingnya. Sekolah? Ternyata dia sudah sampai di sekolah? Apa tadi banyak yang mendengar teriakanku? pikir Ji Hyun. Dan benar saja, beberapa orang yang ada di tempat parkir memandang Ji Hyun dengan tatapan aneh. Grrr… sejak bertemu Jong Hyun, image-ku hancur berantakan!

Segera saja Ji Hyun melompat menuruni motor Jong Hyun. Dia melepaskan helm yang dipakainya dan menyodorkannya pada Jong Hyun. “Kalau lain kali kau mau mengantarku hanya untuk membahayakan nyawaku, tidak, terima kasih.”

Tanpa mengucapkan terima kasih –apa kau ingin berterima kasih dengan orang yang membuat nyawamu terancam dan sengaja membuatmu memeluknya?—Ji Hyun berjalan pergi. Tapi baru dua langkah Ji Hyun berjalan, Jong Hyun memanggilnya.

“Ada apa?” tanya Ji Hyun judes.

“A….” belum selesai Jong Hyun berbicara, datang dua orang yeoja menghampiri Jong Hyun.

“Oppa… kenapa kemarin kau tidak datang? Aku sudah menunggumu….” tanya salah satu yeoja manis berambut coklat kehitaman.

Huff… ternyata kemarin dia ada janji dengan anak tingkat 1, dengus Ji Hyun. Kesal rasanya.

“Ngg…. Apa kita ada janji kemarin, Sulli?” Jong Hyun bertanya sambil menatap tak enak pada Ji Hyun.

“Tentu saja, apa Oppa lupa?” tanya Sulli sambil mengerucutkan bibirnya.

“Lupa? Hm… ku kira kita janji hari ini.”

“Hari ini? Baguslah kalau begitu,” Sulli tampak ceria. “Tapi, siapa yeoja yang pergi bersama Oppa pagi ini?” Sulli melirik ke arah Ji Hyun dengan tatapan agak sinis. Ji Hyun menatapnya malas. Kenapa dia jadi dibawa-bawa? Lagipula dasar adik kelas nggak peka, nggak tahu kalau Ji Hyun adalah President School. Padahal saat acara MOS, Ji Hyun pernah membawakan pidato.

“Dia temanku,” jawab Jong Hyun santai.

“Kalau dia teman Oppa, siapa aku bagimu?” tanya Sulli lagi sambil menatap penuh harap.

“Kamu? Kamu adalah donsaengku yang manis…” Jong Hyun mencubit kedua belah pipi Sulli, membuat yeoja itu tersipu.

“Huhh….” dengus Ji Hyun. “Seperti orang bodoh saja aku di sini,” gumamnya pelan. Ji Hyun berbalik dan berjalan cepat ke ruang kelasnya. Dalam otaknya diulangnya kata-kata: ‘Dasar playboy!’

***

“Min Ri, kau tak ingin ke kantin?” tanya Ji Hyun pada Min Ri yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja. Sekarang sudah istirahat kedua. Ji Hyun harus makan kalau dia tak ingin maagnya kambuh lagi.

Min Ri menggeleng pelan. Entah kenapa hari ini Min Ri sangat aneh. Sejak tadi pagi Min Ri tampak tak bersemangat. Senyum cerianya yang biasa selalu tampak hilang entah ke mana. Seisi kelas menyadari perubahan Min Ri yang drastis, apalagi Ji Hyun, sahabatnya sendiri.

“Apa kau sakit?” tanya Ji Hyun lagi. Min Ri mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Ji Hyun. Senyum yang dipaksakan.

“Nan gwenchanayo. Aku hanya sedang malas saja. Pergilah. Kalau tidak makan nanti kau sakit,” jawab Min Ri.

“Kau tidak makan? Mau ku belikan makanan?”

“Tidak, aku tak lapar.”

“Tidak lapar? Sekarang udah siang, kamu harus makan. Aku akan membelikanmu makanan, tunggu ya….” Ji Hyun pun berjalan keluar kelas sambil sesekali menoleh ke arah sahabatnya itu.

Bukan hanya Min Ri yang aneh. Hubungan Ji Hyun dan Tae Min lebih aneh lagi sekarang. Sejak kejadian kemarin, Ji Hyun merasa sangat canggung berada di dekat Tae Min. Sepertinya Tae Min juga merasakan hal yang sama. Dia selalu menjauhi Ji Hyun.

Sebenarnya Ji Hyun tak suka keadaan seperti ini. Kedua sahabatnya seakan menjauh. Rasanya jadi sepi….

Ji Hyun segera berjalan ke kantin. Seperti biasa suasana di sekolah ramai. Sesampainya di kantin, Ji Hyun  ikut mengantri membeli makanan.

“Eonni!”

Ji Hyun berbalik merasakan tepukan di bahunya. Ternyata Hyo Min, hoobaenya. Ji Hyun tersenyum.

“Eonnie, apa benar Eonnie pacaran dengan Jong Hyun sunbae, anak baru itu?” tanya Hyo Min, membuat Ji Hyun mengerutkan keningnya.

Apa lagi ini? Dikira berpacaran dengan Jong Hyun? Mimpi buruk! teriak Ji Hyun dalam hati. Kenapa hidupnya makin ribet ya?

“Tidak, aku tidak pacaran dengannya,” jawab Ji Hyun cukup datar. Dia melangkah maju dua langkah saat barisan di depannya bergerak maju.

“Ah? Jinjja? Tapi, tadi aku lihat loh, Eon datang bersama dengan Jong Hyun….” Hyo Min tersenyum mencurigakan, membuat Ji Hyun merasa risih.

“Hm… itu kebetulan saja kok,” jawab Ji Hyun, yang pastinya berbohong. Apanya yang kebetulan? Jong Hyun yang datang ke rumahnya dan dengan paksa menjemputnya. Tapi tidak mungkin Ji Hyun mengatakan yang sejujurnya kan? Dia tak ingin ada yang berpikir dia dekat dengan Jong Hyun.

“Kebetulan atau kebetulan?” Hyo Min mulai mengajukan pertanyaan aneh dengan mimik aneh yang membuat Ji Hyun sangat sangat sangat terganggu.

Ji Hyun hanya memasang senyum terpaksa sebelum menghadap kembali ke depan dan segera memesan makanannya. Setelah mendapat makan siangnya, Ji Hyun langsung pergi dari adik kelasnya yang senang menggosip itu, Hyo Min.

Jam makan siang terasa sangat sepi dihabiskan sendiri. Ji Hyun tak ingin berlama-lama di kantin tanpa seorang teman pun. Setelah menyelesaikan makanannya, dia memutuskan untuk kembali ke kelas. Tapi teringat dengan Min Ri yang tak membeli makanan, Ji Hyun membeli sebungkus roti untuk sahabatnya itu. Dia berharap Min Ri tidak akan sakit maag seperti dirinya. Sakit itu hal yang sangat tidak menyenangkan -__-

Tapi di luar bayangan Ji Hyun, ternyata Min Ri tidak berada di kelas. Bangku Min Ri kosong. Ke mana dia pergi? Tanya Ji Hyun pada diri sendiri.

“Ji Hyun, kau mencari Min Ri?”

Ji Hyun menoleh ke arah suara yang berasal dari sudut kelas. Tae Min? Tae Min sudah mau berbicara dengan Ji Hyun?

“Hm… iya,” jawab Ji Hyun canggung.

“Tadi dia dipanggil Lee Seonsaengnim,” terang Tae Min singkat sebelum kembali menunduk dan membaca komik yang ada di hadapannya.

“Gomawo…” bisik Ji Hyun.

***

Lapangan basket cukup ramai seperti biasa. Jong Hyun duduk di tepi lapangan sambil mengelap keringat di dahinya.

“Ini!” Key melempar sebotol minuman ke arah Jong Hyun. Jong Hyun menangkap botol itu dan segera meneguk isinya. Sementara Key menjatuhkan dirinya di samping Jong Hyun.

“Kau belum cerita,” Key membuka tutup botol minumannya.

“Apa?” tanya Jong Hyun acuh tak acuh.

“Apa yeoja itu cantik?” Key melirik Jong Hyun sebentar.

“Hm?”

“Jangan pura-pura tak mengerti. Yeoja yang dijodohkan denganmu itu,” Key meneguk minumannya sebentar.

Jong Hyun tertawa kecil, membuat Key mengernyitkan dahi melihat tingkah namja di sampingnya itu.

“Yeoja itu … Kang Ji Hyun,” jawab Jong Hyun santai.

“Uhuk… uhuk…” Key mengelap bibirnya. “Jangan bercanda!”

“Aku serius,” Jong Hyun tersenyum simpul.

“Kang Ji Hyun sang President School itu?!” teriak Key, shock.

“Ya, dia orangnya!” Jong Hyun tampak kesal Key tak mempercayainya.

“Mana mungkin!”

“Tentu saja mungkin! Apa kau tak percaya dengan ucapanku?” tanya Jong Hyun jengkel.

Key terdiam, berpikir sendiri. apa kali ini dia bisa mempercayai kata-kata Jong Hyun? Jong Hyun tampak serius, tapi … bagaimana bisa seorang Ji Hyun dijodohkan dengan Jong Hyun? Yeoja itu cantik, pintar, dari keluarga baik-baik, walau cukup dingin. Tapi dia malah dijodohkan dengan Jong Hyun? Beruntung sekali Jong Hyun bisa mendapatkan yeoja itu.

“Key!”

Lamunan Key terputus mendengar namanya dipanggil. Key menoleh, seorang yeoja bertubuh mungil dengan rambut diikat berdiri tak jauh di belakangnya. Kalau tak salah, yeoja itu teman sekelasnya yang baru, Park Min Ri.

“Kamu dan aku dipanggil Lee Seonsaengnim,” kata Min Ri sambil merapikan poninya.

“Ada apa memangnya?”

“Aku juga tidak tahu. Kajja, jangan terlalu lama.”

Key terpaksa berdiri, padahal dia masih ingin bertanya banyak dengan Jong Hyun. Tapi dia tak bisa banyak mengelak kalau sudah dipanggil guru -__- Dia sendiri tak mengerti apa yang membuat dia dan Min Ri dipanggil.

***

New York, Amerika Serikat

Kegelapan malam tak begitu terasa di tengah-tengah kota yang penuh dengan lampu yang terang benderang. Namja itu berjalan keluar dari sebuah rumah sakit. Dia berhenti sejeak di atas trotoar, membiarkan diri di antara orang-orang yang berseliweran. Ditatapnya langit malam yang gelap. Dihirupnya udara yang dingin sebelum kembali menghembuskannya cukup keras.

Kuharap kau masih mencintaiku, masih menungguku, dan mengharapkanku. Walau aku tahu aku bukan namja yang baik untukmu.Tapi setidaknya, kuharap kau masih mengingatku dan mau menyambutku kapanpun aku kembali…. Saranghaeyo…

TBC…

A.N: Akhirnya! Setelah kira-kira tiga bulan, aku berhasil menyelesaikan part ke-4 ini! Di tengah kesibukan, kefrustasian dan kegilaan yang ku alami sehari-hari, akhirnya selesai! Mungkin ini part yang ku tulis paling lama. Padahal part ini yang kayaknya paling simple. Mikirnya nggak perlu lama. Tapi nggak ada waktu dan mood buat nulis! Nulisnya sepotong-potong -.-

Gimana readers? Udah mulai ngerti jalan ceritanya? *readers: belum… gaje sih* Yah, tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dengan 2Hyun couple (Jong Hyun – Ji Hyun), lalu Tae Min, Min Ri, dan Key, serta seorang namja misterius yang tinggal di NY, tunggu aja ya… Tapi, untuk cerita tentang Min Ri, aku akan usahakan untuk menulis ceritanya sendiri. Semacam sequel dari chronicles gitu.. *iya ga sih?* Begitu juga dengan cerita aneh tentang Kyuhyun dan Sora yang muncul sekilas. Kalau ada yang request lanjutan Kyuhyun, akan ku pertimbangkan. Tapi dahulukan main story dan Min Ri side-nya dulu ya J

Next part kemungkinan besar selesai dan dikirim setelah ujian selesai, yaitu bulan Mei. Tungguin aja ya…. Kalau udah libur, aku bakal bayar deh segala keterlambatan dalam publish ff ini. Tetap nantikan ff ini ya…. Thanks for reading and leave your comment, please J Mian, author’s notenya kepanjangan 😛

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “I’m Not A Playboy – Part 4”

  1. Akhirnya dipublish juga…
    Huahhh bakalan ada cast baru cerita’a…

    Si kyu itu mata”a appa jonghyun kah ?

    Jgn lama thor publish nya yaaa 🙂

  2. Yaaaah~ kok post yg part 4 lagi? Kan yg ini udah pernah di post. Padahal tadinya aku seneng banget ff ini udh ad lanjutannya. Tp pas buka… Huaaaa~kecewa. Part 5 author pls dong~ ditunggu…

  3. namja yang tinggal di NY itu pasti Onew kan? hahaha.. *reader sotoy*
    aku dapet feeling kayak gitu karena Onew belum muncul.

    aah.. gilaa! aku jadi ngacak2 rambut sendiri kayak orang gila.. next oart aku tunggu

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s