Dear! [2.2] (END)

Dear! (Part 2)

Title                       : Dear! (Part 2)

Author                  : Papillon Lynx

Main Cast            :

–          Lee Hyorin

–          Choi Minho

–          Kim Kibum aka Key

Support Cast      : Cha Eun Soo, Lee Taemin, Lee Jinki, Jonghyun Seonsangnim

Genre                   : Romance, Sad, Friendship

Rating                   : PG-16

Length                  : Twoshoot

 

 

Disclaimer          : This FF is mine. Lee Hyorin just in my imagination. Choi Minho, Kim Kibum, Lee Taemin and Lee Jinki are God’s mine.

 

Summary             : Aku hanya ingin terus bersama kalian. Merasa aman, nyaman dan bahagia di sisi kalian. Terus bersama hingga akhir. Karena… Kalian lah orang-orang yang “terkasih”..

 

@@@

 

Key dan Eun Soo sudah sampai di depan tempat tujuan mereka. Tempat tinggal Cha Eun Soo. Untuk sampai ke tempat itu, Key dan Eun Soo harus menggunakan bus dengan selang waktu perjalanan sekitar 15 menit. Dan selama 15 menit itu pula Key hanya duduk di bis –di samping Eun Soo- dengan ekpresi wajah yang murung tanpa sepatah kata pun terlontar dari bibir tipis namja itu.

“Key-ah..” kata Eun Soo akhirnya mencoba memecah lamunan Key. Namun Key masih belum bergeming dari tempatnya. Hanya diam saja, berdiri mematung setelah mereka turun dari bus.

“Key-ah!” kata Eun Soo lagi namun dengan nada suara yang lebih tinggi. Key sedikit tersentak dibuatnya.

“Wa-Waeyo?” tanya Key tersendat. Eun Soo memutar kedua bola matanya heran.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kan?” cibir Eun Soo. “Kita sudah sampai dari tadi, Key-ah.. Ini apartemenku.” tambah yeoja berambut sebahu itu sambil menunjuk ke arah gedung yang berada di hadapan mereka.

“Ah, geuraesso? Ah, mianhae. Aku sedikit ada pikiran saja tadi.” Jawab Key seadanya. Lalu wajahnya kembali berubah murung.

“Gwenchana. Gomawo sudah mau mengantarku. Lagipula ini sudah terlalu malam. Sepertinya kau juga kelelahan. Pulanglah.” Kata Eun Soo sambil tersenyum. Key menjadi ikut tersenyum dibuatnya. Tiba-tiba sebuah pikiran terbersit dalam benaknya. Key segera menarik tangan Eun Soo yang baru saja akan berlalu meninggalkannya dan membuat Eun Soo terkesiap saat Eun Soo sadar Key menariknya ke dalam pelukannya. Key memeluk Eun Soo erat. Erat sekali. Sehingga membuat udara dingin yang Eun Soo rasakan seakan menghilang tergantikan oleh kehangatan tubuh namja itu.

“Jadilah kekasihku. Please..” pinta Key. Eun Soo membelalakan matanya dalam dekapan Key.  Eun Soo tak percaya Key akan memintanya menjadi seorang kekasih di hari pertama mereka berkenalan.

“Aku mohon. Tolong aku. Ini hanya sementara. Kau bisa kan?” DEG! Hati Eun Soo langsung mencelos. Bahkan belum ada semenit yeoja itu mengira kalau Key benar-benar menyukainya meskipun belum lama mereka berkenalan. Eun Soo menarik dirinya. Menatap Key dengan tatapan seolah bertanya –apa-maksudmu?-

“Ini demi mereka. Agar mereka bisa bersatu. Aku tidak ingin Hyorin berharap padaku. Akan menjadi suatu kesalahan jika dia tetap memiliki perasaan padaku dan menolak Minho. Kau mau kan membantuku? Mungkin aku tak tahu diri. Kita belum lama kenal, tapi aku sudah meminta sesuatu hal yang sulit untuk kau lakukan. Aku pun juga tak akan memaksa. Tapi aku berharap kau menjawab iya.” Terang Key dengan raut wajah memohon.

“Bolehkah aku meminta syarat?” tanya Eun Soo setelah mereka cukup lama terdiam. Walaupun agak sedikit ragu, tapi Key pun mengangguk.

“Selama kita berpura-pura menjadi sepasang kekasih, aku ingin kau mencoba untuk menyukaiku.” Kata Eun Soo dengan pipi yang merona. Key tersenyum. Merasa gemas dengan yeoja yang berada di hadapannya. Tak butuh waktu lama untuk berpikir, Key yakin dia bisa menyukai Cha Eun Soo meski ia tahu sekarang dirinya hanya memiliki perasaan lebih pada Hyorin. Ia tak ingin merebut Hyorin dari Minho. Ia tahu betul kalau Minho sudah sejak lama menyimpan rasa untuk Hyorin. Dibanding dengannya, Key bukanlah apa-apa.

“Ne. Kita sama-sama berusaha ya.” Dan kali ini Key mendekap Eun Soo tidak dengan perasaan gelisahnya lagi. Aku harus merelakannya. Untuk Minho. Demi persahabatan kami. Mianhae, Hyorin-ah. Aku melakukan ini karena aku tahu Minho begitu menyayangimu. Bahkan mungkin, lebih dariku. Perasaanku ini bukanlah apa-apa. Key berkata dalam hati sekali lagi berusaha meyakinkan dirinya.

@@@

Taemin dan Jinki berjalan menyusuri koridor kelas-kelas tahun kedua gedung reguler. Tidak seperti biasanya mereka mau menyempatkan waktu luang mereka untuk mengunjungi gedung regular yang biasa-biasa saja dengan murid-muridnya yang juga tidak menarik.

Sesekali kepala mereka berdua melongok masuk ke dalam kelas seperti mencari-cari seseorang. Jinki pun sudah terlihat malas sekali mengekori Taemin melakukan hal-hal yang menurutnya tidak bermanfaat dibandingkan dengan mengasah bakat mereka. Namun Taemin memaksa Jinki untuk menemaninya dan Jinki terpaksa tak bisa menolak.

“Dwaesseo. Dia tidak ada, Taemin-ah.. Kkaja. Kita kembali ke kelas saja. Atau kita pergi ke kantin. Aku dengar ada menu olahan ayam baru di sana. Ppali!” Jinki terlihat bersemangat jika sudah membicarakan soal menu makanan olahan ayam yang sangat ia sukai. Hingga ia tidak sadar kalau orang yang dikira sedang mendengarkan penjelasannya tentang ayam itu ternyata sudah tidak bersamanya lagi. Taemin sudah berlari mengejar yeoja yang beberapa hari ini telah mencuri perhatiannya. Dialah Lee Hyorin.

Saat Jinki sadar Taemin sudah tak berada di sampingnya, tanpa ia duga Jonghyun Seonsangnim sudah berada di sampingnya sambil membawa penggaris kayu dengan tatapan membunuh dan keadaan di sekitarnya sudah sangat sepi. Waktu istirahat sepertinya sudah berakhir.

“Ya! Bukankah kau murid jurusan khusus?” tanya Jonghyun Seonsangnim sambil memperhatikan seragam Jinki yang berbeda. Lalu Jonghyun Seonsangnim membaca nametag-nya. “Sedang apa kau di sini, Lee Jinki?! Cepat, kembali ke kelasmu sekarang! Ke gedung sebelah!” Jonghyun Seonsangnim langsung menarik telinga Jinki dan menyeret namja itu untuk ikut bersamanya tanpa peduli Jinki mengerang kesakitan.

@@@

“Ya! Lee Hyorin-ssi!” Taemin berlari mendekati Hyorin dan terus memanggil yeoja itu agar yeoja itu mau menoleh ke belakang dan menyadari kehadirannya. Setelah mereka berdua telah berdiri berhadap-hadapan, Taemin mengernyit heran melihat Hyorin yang tampak menenteng tas sekolahnya dan terlihat pucat.

“Musun irisseoyo?” tanya Hyorin langsung. Taemin tersenyum. Namun sejujurnya saat itu ia sedang berpikir alasan apa yang tepat untuk ia jadikan jawaban atas pertanyaan Hyorin agar Hyorin tak mencurigainya yang berencana untuk melakukan pendekatan dengannya.

“Aku ingin meminta nomer ponsel Key. Kau punya kan?” Dalam hati Taemin merasa senang karena otaknya bisa berpikir dengan cepat untuk menemukan alasan.

“Key? Ah, aku tak tahu. Dia sering sekali mengganti nomer ponselnya. Lagipula kami jarang sekali berkomunikasi lewat telepon atau sms karena setiap hari kami selalu bertemu. Begitupula dengan Minho. Waeyo?” Hyorin memandang Taemin dari atas sampai ke bawah. Sebelumnya ia belum pernah melihat namja berambut pirang dengan bentuk jamur itu di sekolah. Apalagi seragam sekolah Taemin yang menunjukan kalau namja berambut jamur pirang itu adalah murid gedung sebelah. Gedung jurusan khusus yang hanya berisi murid-murid dengan bakat dan talenta yang tinggi dalam bidang seni seperti menyanyi, dance, melukis, memainkan alat musik, fotografi dan sebagainya. Beberapa artis remaja terkenal juga masuk ke dalam jurusan khusus.

“Ah, gwenchana. Aku hanya ada sedikit keperluan dengannya. Oh iya, perkenalkan. Lee Taemin imnida. Dari kelas tahun kedua jurusan khusus.” Sontak Hyorin tercengang mendengar perkenalan diri Taemin.  Ternyata benar dia murid gedung sebelah! Batin Hyorin.

Pantas saja aku belum pernah melihatnya selama ini. Dia murid gedung sebelah sih.. Pasti bakat seninya sangat banyak! Puji Hyorin dalam hati. Taemin tersenyum lagi. Membuat Hyorin memandangnya dengan wajah berbinar. Seolah takjub dengan ketampanan Taemin.

“Kau jarang melihatku ya? Tapi aku sering melihatmu. Tentunya bersama-“

“Aku dan Minho.” Potong Key tiba-tiba yang sudah berdiri di samping Hyorin.

Kehadiran Key dan Minho yang tak diduga membuat Taemin merasa sebal. Tentu saja proses pendekatan yang ia lakukan menjadi tertunda karena kedatangan kedua namja itu. Key dan Minho sekarang justru sedang merangkul Hyorin dan menatap Taemin dengan penuh selidik.

“Bukankah tadi kau ada perlu denganku? Cepat katakan! Ada perlu apa sampai anak gedung sebelah repot-repot datang ke sini?” pinta Key ketus. Minho pun menyeringai melihat sikap ketus Key pada Taemin. Minho merasa tak keberatan jika Key memperlakukan Taemin dengan agak tidak sopan seperti itu. Karena Minho sudah bisa menebak, apa tujuan Taemin sebenarnya mendekati Hyorin.

“Perlu? Ah, benar. Aku dengar kau bisa dance. Benar kan? Datanglah besok malam ke gedung jurusan khusus. Dan jadilah rivalku.” Tantang Taemin karena ia merasa muak melihat sikap Key dan Minho yang terlalu memonopoli Hyorin dan menganggapnya remeh.

“Wah, aku tak tahu jika diriku seterkenal itu. Sampai kau saja, seorang Lee Taemin bersedia menantangku. Bukankah ini suatu kehormatan, Minho-ah?” tanya Key dengan maksud mencibir Taemin sambil menoleh ke arah Minho. Dan Minho hanya menanggapinya dengan tertawa renyah yang juga dengan maksud meremehkan Taemin seperti apa yang dilakukan Key.

Emosi Taemin membuncah. Tangannya terkepal erat. Rahangnya mengatup keras. Ia merasa tak terima diremehkan di depan yeoja yang ia sukai seperti itu.

“Joa! Maka dari itu aku ingin kau datang! Dan buktikan jika kau memang hebat, Kim Kibum!!” bentak Taemin dengan suara yang meninggi. Hyorin yang berada di tengah-tengah suasana yang menegangkan seperti itu hanya bisa diam saja dan menundukkan kepalanya. Ia tahu, kedua sahabatnya itu pasti mencurigai sesuatu pada diri Taemin, sehingga mereka mencoba untuk melindunginya.

“Fine. Tak masalah bagiku. Jika aku menang, apa hadiah untukku?” tanya Kibum sambil menatap Taemin tajam.

“Jika kau menang aku akan menjauhi Hyorin. Dan mungkin aku akan merekomendasikan kalian untuk pindah ke jurusan khusus kepada kepala sekolah dan dibebaskan dari biaya sekolah. Bagaimana?” Taemin tersenyum. Namun ekspresi Minho dan Key tetap datar-datar saja. Terutama pada hadiah kedua yang ditawarkan Taemin. Mereka tak tertarik dengan hadiah yang ditawarkan Taemin itu. Tapi apapun hadiahnya, Key akan berusaha untuk menang. “Hajiman, jika kau kalah, Lee Hyorin menjadi milikku!” tambah Taemin lalu berlalu pergi.

“Sial! Sudah kuduga dia memiliki maksud tertentu pada Hyorin!” ucap Key sambil melepaskan rangkulannya di tubuh Hyorin dan menatap kepergian Taemin dengan wajah kesal.

“Kau harus menang Key. Aku akan membantumu. Walaupun aku tahu itu sulit. Karena setahuku, bakat dance Taemin benar-benar memukau. Ia terkenal dengan sebutan Dance Machine. Berhati-hatilah..” Kata Minho dengan tatapan seriusnya.

“Bisakah kita hentikan saja? Aku merasa aku seperti barang taruhan..” ucap Hyorin lirih sambil menundukkan kepalanya. Key dan Minho yang mendengar ucapan Hyorin menjadi merasa sangat bersalah. Key hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa pening dan Minho mendekap Hyorin ke dalam pelukannya. Lagi-lagi Key merasa udara di sekitarnya menjadi panas hanya karena melihat Hyorin dan Minho berpelukan di depannya. Key membuang pandangannya untuk meredan rasa cemburunya.

“Minho-ah..” kata Key membuat Minho melepaskan pelukannya pada Hyorin dan menoleh pada Key. “Kau juga harus berjuang. Bantu aku. Aku rasa Taemin akan meminta bantuan Jinki. Temannya itu pandai sekali bermain piano dan menyanyi, bukan? Bagianmu adalah mengalahkannya.” Minho mengangguk mantap.

“Changkamman. Kenapa kau membawa tas?” tanya Minho begitu menyadari Hyorin yang menenteng tas sekolahnya.

“Mianhae. Aku agak sedikit tidak enak badan. Jadi aku izin pulang saja.” Minho dan Key langsung cemas begitu mendengar pengakuan Hyorin dan melihat langsung wajah Hyorin yang pucat. Reflek Minho langsung menempelkan salah satu punggung tangannya ke dahi yeoja itu.

“Kau demam. Ayo pulang. Kau harus segera dikompres.” Kata Minho tegas seakan tak bisa ditolak oleh Hyorin. Key hanya bisa menatap kedekatan Hyorin dan Minho dengan miris.

“Kau juga ikut.” Kata-kata Minho membuat Key sedikit bingung. “Kita juga harus mempersiapkan penampilan kita untuk meladeni tantangan Taemin. Kau mau kita hanya menjadi pecundang di kandang lawan?” Minho lalu menggandeng tangan Hyorin dan menarik yeoja itu untuk pergi bersamanya. Hyorin menoleh ke belakang, memandang Key yang masih mematung di tempatnya. Namun sedetik kemudian Key tersenyum dan berlari menghampiri mereka. Key menyejajarkan langkahnya dengan langkah Hyorin dan Minho.

“Kkaja! Aku siap mengalahkannya!” ucap Key pe              nuh semangat.

@@@

Keesokan harinya…

Minho dan Key sudah berada di depan gedung SooMan Academy jurusan khusus. Gedung itu memang terlihat berbeda dari gedung akademi jurusan reguler, tempat dimana mereka dan Hyorin menuntut ilmu selama dua tahun lebih ini. Desain eksteriornya terlihat megah dan di sekitarnya ditamengi oleh gerbang tinggi berwarna kuning emas.

Dari luar sudah terlihat banyak sekali murid jurusan khusus yang mengenakan pakaian hitam-hitam. Murid yeoja menggunakan gaun hitam dan murid namja menggunakan setelan jas berwarna hitam pula. Penerangan di sekitar gedung pun dibuat redup sehingga mengesankan kesan horror dan penuh misteri.

Jelas itu membuat Key dan Minho bingung sekaligus merasa dipermainkan oleh Taemin. Dari awal Taemin tak memberi tahu mereka bagaimana konsep acara yang akan diadakan oleh namja berambut blonde dan kostum apa yang harus dipakai.

“Sial! Dia ingin mempermalukan kita!” kesal Key.

 Dari semuanya, hanya mereka yang paling berbeda. Key mengenakan t-shirt biasa berwarna putih bertuliskan tulisan latin “Almightly Key” di bagian dada dipadu dengan celana jeans belel berwarna biru muda. Penampilannya memang sederhana. Tapi agak sedikit mencolok dikarenakan tulisan yang bertengger di kaosnya itu.

 Begitu pula dengan Minho, namja itu menggunakan kemeja biru bergaris-garis horizontal berwarna putih dan celana jeans berwarna senada. Sedangkan Hyorin, yeoja itu akan datang nanti bersama Eun Soo karena Key dan Minho memang meminta Eun Soo untuk merias Hyorin agar Hyorin terlihat lebih cantik malam ini. Itu karena Hyorin adalah satu-satunya alasan bagi Key dan Minho  untuk menerima tantangan Taemin kemarin.

Key dan Minho masuk ke dalam gedung itu. Semua murid yang dilewati mereka memperhatikan mereka dengan tatapan menusuk dan terus berbisik-bisik tentang mereka. Namun Minho dan Key sebelumnya sudah bisa mengira keadaannya akan seperti ini. Sehingga mereka tak merasa kaget dan terus bersikap tenang. Hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu lapangan basket indoor gedung akademi tersebut.

“Masuk saja! Dan kalian akan menjadi pecundang!” seru seorang murid jurusan khusus yang entah kapan sudah bersama teman-temannya berada di belakang mereka. Key menoleh pada Minho dengan tatapan seperti mengatakan –kau-siap?- dan Minho pun mengangguk. Sejurus kemudian, Minho mengarahkan tangannya ke arah kenop pintu, namun tiba-tiba pintu terbuka sendiri. Dan tak jauh dari pintu itu, Taemin berdiri seraya tersenyum licik pada mereka.

“Wah, sudah datang rupanya. Kalian masuklah. Teman-temanku, kalian juga masuk dan jadilah saksi kemenanganku malam ini.” Angkuh Taemin. Key berdecak sebal dan Minho mengerang perlahan. Namun keduanya memilih untuk masuk karena mereka tak mau mundur ataupun merasa takut hanya karena sekarang mereka hanya berdua, tanpa pendukung seperti Taemin. Terlebih lagi mereka berada di kandang lawan. Situasi tersebut cukup tidak kondusif bagi mereka.

Murid-murid pendukung Taemin duduk di tribun penonton lapangan indoor tersebut di sebelah kiri. Sedangkan tribun penonton di sebelah kanan terlihat sunyi senyap. Tak ada tanda-tanda kehidupan di tempat itu. Taemin memang sengaja menampakkan perbedaan itu untuk membuat nyali Key dan Minho ciut karena datang tanpa membawa satupun pendukung.

“Jadi, kalian datang kemari tanpa membawa supporter satu pun? Ckckck.. Kalian benar-benar yakin akan menang ya..” cibir Taemin disambut gelak tawa murid-murid yang lain.

“Bisakah kita tak membuang-buang waktu lagi, Tuan Taemin?” tanya Key dengan nada sinis.

“Ya. Kita berdua cukup sibuk untuk hanya melayani orang sepertimu. Sebenarnya, apa gunanya memiliki banyak pendukung jika pada akhirnya akan kalah juga? Benar bukan, Key-ah?” tambah Minho sambil tersenyum lebar namun tatapan matanya tetap terlihat tajam bagi Taemin. Key menanggapinya dengan tertawa renyah mendengar perkataan Minho untuk Taemin.

Telak bagi Taemin. Taemin tak bisa menjawab ucapan Minho. Dia hanya bisa diam sambil terus mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

“Joa! Kita selesaikan urusan kita sekarang!” geram Taemin.

“Lebih cepat lebih baik. Kita juga tak ingin berlama-lama berurusan dengan orang yang hobi main keroyokan sepertimu. Kau kira kami takut, huh?!” Balas Key.

Taemin menjentikkan jarinya sekali ke udara dan langsung terdengar suara musik mengisi seluruh ruangan itu. Musik dengan ritme sedang dan Taemin pun mulai meliuk-liukkan badannya mengikuti alunan musik hiphop tersebut dengan bakat popping dancenya. Pendukung-pendukung Taemin tampak terperangah melihat kelenturan dan kelincahan tubuh Taemin. Semuanya bersorak-sorak menyemangati Taemin. Semuanya membangga-banggakan Taemin. Namun  itu tak membuat Key dan Minho merasa minder. Justru mereka semakin yakin kalau mereka akan menjadi pemenangnya.

“Balaslah. Semampu kalian. Jika tak bisa, tak perlu dipaksakan.” Kata Taemin setelah ia menyelesaikan tariannya. Key langsung berjalan ke pinggir lapangan dimana terletak sebuah tape di sana. Key pun memasukkan sebuah CD ke dalamya dan sebuah lagu dari Usher berjudul Oh My Gosh pun terdengar. Namun Key tetap berada di tempatnya. Tak beranjak dari sisi tape recorder di sampingnya. Untuk beberapa saat Taemin dan yang lainnya merasa bingung sekaligus senang karena Key hanya diam saja. Namun setelahnya, justru Minho yang menarikan badannya mengikuti lagu tersebut. Dengan lincah, Minho menampilkan tarian dengan gaya maskulin yang hanya sehari ini ia pelajari sendiri. Key tersenyum puas melihat penampilan Minho yang tanpa lecet sedikitpun itu. Dan senyumnya semakin mengembang ketika di akhir lagu Minho membuka kemejanya dengan cepat dan memperlihatkan bentuk badannya yang atletis. Semua murid yeoja yang melihatnya pun histeris dan merasa terpesona dengan ketampanan Minho saat itu.

“Great!” kata Key menghampiri Minho dan berhigh five dengan namja itu. “Kau berhasil mengambil hati murid yeoja, Minho-ah. Kini giliranku.” tambah Key.

“Ya! Ini curang namanya. Seharusnya kau yang membalas tarianku, Kim Kibum! Bukan dia!” teriak Taemin marah.

“Tapi kau juga tidak mengatakan kalau hanya aku saja yang boleh melawanmu. Benar, bukan?? Jadi, Minho juga sepadan untuk menjadi rivalmu dalam dance battle ini.” Ucap Key sambil tersenyum puas.

“Kau..” geram Taemin. “Dwaesseo. Kita lanjutkan saja.”

“Mianhae. Aku terlambat.” Kata seorang yeoja yang kini berada di depan pintu. Yeoja itu bersama seorang yeoja lagi dan langsung  menghampiri Minho. Jalannya sedikit kesulitan dan sesekali keseimbangannya hilang karena tidak terbiasa menggunakan sepatu high heels. Yeoja itu memperhatikan Minho dengan tatapan heran. Sedangkan Taemin dan yang lain yang memang dari awal memperhatikan yeoja itu juga terperangah dibuatnya.

“Minho-ah.. Apa yang baru saja kau lakukan? Kenapa kau membuka semua kancing kemejamu seperti ini?” tanya yeoja itu yang tak lain adalah Lee Hyorin. Hyorin mengancingkan semua kancing kemeja yang dikenakan Minho dengan teliti. Hingga tak menyadari Minho memperhatikan wajahnya yang sedikit tertunduk sambil tersenyum. Namja itu seakan terpesona dengan kecantikan Hyorin. Hyorin yang biasanya tomboy, kini terlihat feminim dan manis sekali di matanya. Bahkan Key, juga kaget melihat perubahan pada diri Hyorin. Key melirik Eun Soo dan Eun Soo hanya membalasnya dengan tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

 Mungkin apa yang membalut tubuh mungil Hyorin sedikit lebih sesuai dengan apa yang dikenakan oleh murid-murid yeoja jurusan khusus itu. Hyorin mengenakan dress selutut berwarna putih tulang tanpa lengan dengan bagian bawah yang sedikit menggembung. Rambutnya juga tidak diikat seperti biasanya. Digerai dan bagian ujung rambutnya dibuat ikal oleh Eun Soo.

Taemin menghampiri Hyorin dan hendak menyentuh pipi yeoja itu. Namun dengan cepat Hyorin menepisnya.

“Taemin-ssi.. Jika bukan karena Minho dan Key, aku tak mau datang ke sini dengan dandanan seperti ini. Jadi, cepat selesaikan saja masalah ini.” Ucap Hyorin tegas.

“Cih.. Bukankah aku lebih baik segalanya daripada mereka?” tanya Taemin angkuh. Dan Hyorin menggeleng cepat.

“Aku jauh lebih mengenal mereka daripada kau. Aku lebih lama menjalani hari-hariku bersama mereka. Dan menurutku kau tidak lebih baik dari mereka. Dengan caramu yang seperti ini itu sudah sangat mencerminkan kepribadianmu yang menjengkelkan.” Hyorin menarik nafasnya.

“Hyorin-ah.. Sudah. Biar aku dan Key saja yang menyelesaikan ini. Kau jangan marah-marah. Nanti make-up di wajahmu rusak.” Larang Minho lembut. Namun Hyorin tak menggubris larangan Minho.

“Lee Taemin-ssi. Aku ingin menantang sahabatmu yang sangat terkenal kepiawaiannya dalam bernyanyi dan bermain piano itu. Bukankah kau sudah menyusun rencana untuk menyeretnya juga ke dalam permainanmu ini? Aku tahu kau pasti akan meminta bantuan Lee Jinki-ssi.” Tantang Hyorin. Taemin terkejut. Matanya berubah sayu. Namun sesaat kemudian, Taemin tertawa keras. Entah apa yang ditertawakannya.

“Wow! Tak salah aku menyukai yeoja sepertimu, Hyorin-ssi. Kau sungguh unik, cerdas dan berani sekali.” Kata Taemin sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum lick. Key pun menghampiri mereka dan berdiri di samping Eun Soo yang berdiri di samping Hyorin.

“Kau serius, Lee Hyorin?? Ini tidak ada di dalam rencana kita kan?” tanya Key memastikan.

“Ini penting. Dan harus kulakukan. Aku tak ingin hanya kalian saja yang melawannya.”

“Wah, wah, wah.. Kau mau menantangku Lee Hyorin Agasshi?” sebuah suara namja  yang agak keras pun terdengar dari tribun penonton pendukung Taemin. Semua orang yang berada di lapangan indoor itu memandang ke sumber suara. Sedetik kemudian, seorang namja dengan mengenakan hoodie dan kacamata hitam bangkit dan tersenyum ke arah Hyorin. Perlahan namja itu menuruni tribun dan tak butuh waktu lama namja itu sudah  berdiri di samping Taemin. Kedua tangannya ia selipkan ke dalam saku jaket hoodie berwarna biru toska yang ia kenakan dan ia melepas kacamatanya itu.

“Aku Lee Jinki. Jika kau  serius menantangku, bisa kita mulai sekarang?”                kata Jinki sambil melirik sekilas ke arah Taemin. Dan dengan anggukan Taemin, Jinki melangkah keluar dari lapangan basket indoor itu. Semuanya pun mengikuti kemana Jinki pergi.

Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah pintu ruangan bertuliskan “Music Room” dan mereka semua masuk ke dalamnya. Jinki segera mengambil tempat dan duduk di depan sebuah piano. Jari-jari lentiknya perlahan mulai menyentuh tuts-tuts piano. Alunan nada-nada yang syahdu mulai terdengar dihiasi oleh suara merdu Jinki.

….

Oh, geudae.. Mame dako shipeun nal malhaji

Mottae.. Shirin geureum dwiye georin byeolbi deul cheoreom

Saranghae.. Ibsul kkeute maemdol deon apeun geobaek modu

Kkuenae.. Nunmure heulleo..

….

(Quasimodo-SHINee)

Tepuk tangan terdengar mengisi rungan musik yang tidak begitu luas itu. Tepuk tangan itu diberikan untuk Jinki. Jinki  tersenyum menerima apresiasi itu.

Kini giliran Hyorin yang duduk di depan piano putih yang kini menjadi sumber perhatian semuanya. Kedua tangan Hyorin bergetar. Hyorin sedikit merasa takut. Namun ketika ia melihat Key tersenyum ke arahnya, rasa takut itu hilang seketika.

ZZZZSSSSSTTT..

Tiba-tiba di luar turun hujan deras sekali. Semuanya melihat ke arah luar, memperhatikan hujan dari jendela ruangan itu. Hyorin tersenyum. Ia merasa lagu yang ia pilih akan cocok dengan suasana yang sudah tercipta saat itu.

Sarangeul ajik nan mollasseo deoneun gakkai motgayo

Geundae wae jakkuman motnan nae simjangun, dugeungeorinayo..

Nan dangshini jakkuman barphyeosseo geunyang gal sudo omneyo

Irueojil su do eomneun i sarange

Nae mami neomu apayo

 

Haruga gago bami omyeon

Nan ontong dangsin saenggakppunijyo

Hansimseuropgo, babo gateun nal

Eotthokae haeya hanayo

Nae apeumi mudyeojyeo beoril nari

Eonjjejjeum naega ogin halkkayo

Hansimseureopgo, babo gateun nal

Eotthokae haran maringayo

 

Dalbichi gal suga johasseo

Geunyang gal suga omneyo

Dangsin gyeote jamsi nuwo isseulgeyo

Jamsiman aju jamsima…

 

Dubidubidurafa.. Dubidubidurafa..

Dubidubidu dubidubidu dubidubidurafa

Dubidubidurafa.. Dubidubidurafa..

Dubidubidu dubidubidu….

 

(Fox Rain-Lee Sun Hee)

 

Sebuah cairan bening menetes dari mata Hyorin. Hyorin menangis. Dan Key melihatnya. Tidak. Semua sedang melihat ke arahnya. Namun hanya Key yang mau beranjak dari tempatnya dan menghampiri Hyorin.

“Hei.. Kau kenapa? Kenapa menangis?” tanya Key dengan nada yang lembut. Tak seperti biasanya. Tak  seperti image Key yang suka berkata ketus dan bersikap sedikit serampangan. Dan baru kali ini sikap Key berbeda pada Hyorin. Hyorin bisa merasakan perbedaan itu. Mereka memang akrab. Bahkan Key tak sungkan untuk merangkul atau menggandeng tangan Hyorin. Namun itu sudah biasa bagi Hyorin, Key dan juga Minho. Kedua namja itu memang sering melakukan hal itu. Tapi kali ini Key melakukannya dengan berbeda. Key mengusap pipi Hyorin yang basah dan menatap Hyorin lekat-lekat.

“Saranghaeyo, Key-ah..” Hyorin sudah tak sanggup lagi menahan perasaannya pada Key. Dia tak peduli apakah Key akan menerimanya atau tidak. Yang jelas, Hyorin tak mau memendam perasaan itu lama-lama.

Walaupun lirih, pernyataan cinta Hyorin yang tiba-tiba itu dapat tertangkap di telinga Minho dan Taemin. Raut wajah keduanya langsung berubah sendu. Sedih. Dan jelas kecewa. Minho memilih untuk melangkahkan kakinya keluar ruangan.

“Eun Soo-ssi, lebih baik kita keluar dulu.” Ajak Minho dan Eun Soo pun mengikutinya.

Sedangkan Taemin mulai tersadar. Bahwa dia telah kalah. Bahkan kalah oleh Hyorin sendiri. Suara Hyorin memang tak semerdu suara Jinki. Dentingan piano yang dihasilkan oleh jari-jari Hyorin juga tak seindah yang dimainkan oleh Jinki. Namun, siapapun orangnya, tak peduli orang itu memiliki suara merdu atau tidak, memiliki kepiawaian atau tidak, itu tak menjadi penting jika lagu yang dinyanyikannya tanpa penghayatandan tidak ditujukan pada siapapun. Taemin sadar akan hal itu. Walaupun kecewa dan sakit, ia meminta semua orang untuk bubar dari tempat itu. Begitupula dengan dirinya dan Jinki.

Kini hanya ada Key dan Hyorin. Berdua saja. Suasana sepi dan keduanya tak sanggup berkata-kata. Walaupun sebelumnya Key sudah tahu akan perasaan Hyorin padanya, namun namja itu cukup kaget untuk mendengar pernyataan cinta tiba-tiba dari Hyorin.

“Hyorin-ah..” Akhirnya Key mau membuka suara.

“Mianhae. Aku tahu ini percuma. Aku tahu kau hanya menyukai dan mencintai Eun Soo. Tapi kau jangan salah paham. Aku hanya ingin mengatakan saja. Aku bukan bermaksud ingin mendapat respon lebih darimu, Key-ah..” jawab Hyorin cepat. Dan mencoba menahan isak tangisnya.

“Ne. Aku tahu. Sebenarnya.. Aku.. Aku juga..” Key menggantung kalimatnya. Kedua bola matanya bergerak ke segala arah, seperti tak yakin akan apa yang ingin ia ucapkan.

“Sebenarnya apa, Key?”

“Sebenarnya aku juga menyukaimu. Keundae, aku tak bisa menerimamu. Aku sudah bersama Eun Soo dan aku berjanji padanya kalau akau akan mencoba menyukainya. Lagipula, Minho juga memiliki perasaan padamu. Aku tak ingin merebutmu darinya. Sudah sejak lama ia menyukaimu, Hyorin-ah. Aku tak ingin persahabatanku dengannya retak. Kau mengerti kan?” lanjut Key lirih. Namja itu menangkap raut kesedihan di kedua mata Hyorin saat kalimatnya selesai diucapkannya. Namun, ia terpaksa melakukan ini. Key ingin Hyorin bersama Minho. Karena Key yakin, Minho lebih baik dan lebih bertanggungjawab dalam menjaga Hyorin daripadanya. Dan juga demi persahabatannya dengan Minho dan Hyorin sendiri. Pikir Key.

“Hahahaha.. Aniya. Arasseo. Gwenchana, Key-ah. Nan gwenchana.” Kata Hyorin sambil tertawa dipaksakan dan bangkit berdiri. “Kau tak perlu khawatir. Aku bahagia. Lagipula kita sudah mengalahkan Taemin-ssi kan?? Kkaja! Kita rayakan kemenangan kita ini. Ayo, aku traktir kalian bertiga makan jajangmyeon! Eh?? Dimana Eun Soo dan Minho?” Hyorin langsung berlari meninggalkan Key sendiri di dalam ruangan. Key menatap kepergian Hyorin sedih. Ia benar-benar merasa sakit harus melepas yeoja yang sebenarnya ia sukai. Tapi ia harus rela karena baginya, persahabatannya lebih penting daripada cintanya.

Hyorin terus berlari mencari pintu keluar gedung jurusan khusus yang sudah sepi itu. Lampu-lampu masih menyala namun sudah tak ada satupun orang di sana. Hyorin menangis lagi. Ia tahu akan sakit sekali rasanya. Namun ia tak bisa mencegah air matanya menetes untuk ke sekian kalinya.

Ketika Hyorin melewati lapangan basket indoor, Hyorin menghentikan larinya. Kakinya jadi semakin sakit karena berlari menggunakan sepatu high heels yang tidak biasa dikenakannya.

“Auuw.. Aphoo..” keluh Hyorin sambil membungkuk dan memegangi kedua tumit kakinya yang membengkak.

DUG DUG DUG DUG..

Hyorin mendengar suara pantulan bola basket di dalam lapangan indoor.  Tangisnya berhenti. Digantikan dengan dahinya yang berkerut heran. Hyorin perlahan bangkit dan masuk ke dalam lapangan itu lagi dengan meninggalkan sepatunya dan bertelanjang kaki. Hyorin terkejut ketika dilihatnya Minho sedang mendribble bola basket dan melakukan lay up dengan lincah. Minho berhasil memasukkan bola itu ke dalam ring. Namun wajahnya terlihat muram. Hyorin mendekati Minho.

“Minho-ah..” ucap Hyorin. Minho berbalik.

“Hei..” jawab Minho singkat. Namja itu kembali sibuk mendribble bola lagi.

“Minho-ah..” panggil Hyorin. Minho kini seakan tak mendengar panggilannya.

“Minho-ya!!”

DUAKK!

Minho membanting bola basket di tangannya ke arah tribun penonton dengan kasar. Hyorin kaget melihat sikap kasar Minho.

“Chukkae. Akhirnya kau menyatakan perasaanmu pada Key. Kau dan Key pasti akan mengajakku untuk merayakan keberhasilan hubungan kalian kan? Tapi maaf, aku tak bisa-“

GREP!

Hyorin memeluk Minho dan menangis lagi dalam pelukan Minho. Kedua mata Minho terbelalak. Tubuhnya seolah kaku. Kedua tangannya hanya menggantung di samping tubuhnya. Ia merasa ragu untuk membalas pelukan Hyorin.

“Aku sudah menyatakannya. Tapi Key menolakku. Dia sudah menjadi milik Eun Soo. Dan dia berkata dia hanya ingin menjaga persahabatannya dengan kita.” DEGH! Hati Minho mencelos mendengar kata-kata Hyorin yang sarat akan kekecewaan. Hyorin terisak, membuat Minho merasa miris. Ia ingin sekali menghibur yeoja itu. Meskipun ia pun juga terluka.

Perlahan kedua tangannya terangkat dan menyentuh punggung Hyorin. Memeluknya erat. Beberapa saat mereka diam seperti itu. Minho sengaja diam agar Hyorin tenang. Tanpa mereka sadari seorang namja dan seorang yeoja berdiri di depan pintu lapangan dan memperhatikan mereka.

“Gwenchana?” tanya Eun Soo ketika melihat Key menundukkan kepalanya sedih.

“Ne. Begini akan lebih baik. Kkaja, kita pulang sekarang.” Jawab Key sambil menghapus air mata di sudut matanya dan menarik tangan Eun Soo pergi secepatnya dari tempat itu.

Di samping itu, Hyorin sudah merasa lebih tenang. Ia melepaskan pelukannya pada Minho. Dapat terlihat sisa-sia air mata di sekitar matanya yang mulai mengering. Reflek tangan Minho menghapusnya.

“Sudah lebih tenang?” tanya Minho lembut dan Hyorin mengangguk kecil.

“Emm.. Minho-ah.. Aku ingin melihat Sungai Han. Kau mau kan mengantarku ke sana?” tanya Hyorin yang tanpa sadar menampakkan puppy eyesnya pada Minho. Minho terkekeh pelan dan mengacak-acak rambut Hyorin.

“With my pleasure, My Princess.”

BLUSH!

Seketika wajah Hyorin memanas. Pipinya memerah. Minho memang selalu bersikap ramah dan lembut padanya. Tapi ini adalah kali pertamanya Minho menyebutnya seperti itu. Princess. Apakah itu tidak terlalu manis untuk yeoja sepertiku? Yang jelas-jelas belum bisa membalas perasaannya? Pikir Hyorin.

Minho pun menuntun tangan Hyorin agar menggamit lengan tangan kirinya. Dan perlakuan manis Minho membuat Hyorin sedikit melupakan sakit hatinya.

@@@

Tiga bulan berlalu…

“Sepertinya mereka benar-benar saling menyukai ya? Benar-benar mesra.” ucap Hyorin pada Minho ketika melihat Eun Soo dan Key sedang memakan semangkuk mie ramen berdua yang tampak bahagia dan saling menyuapi satu sama lain. Minho melirik sekilas ke arah Key dan Eun Soo lalu tersenyum pada Hyorin. Minho dan Hyorin duduk berdampingan di meja yang sama di samping meja Key dan Eun Soo.

“Kau cemburu? Oh, ayolah, Lee Hyorin.. Sudah tiga bulan berlalu. Aku tak ingin melihatmu terus berharap.” Kata Minho dengan nada mengejek. Lalu terkekeh pelan. Hyorin berdecak sebal dan memukul lengan Minho pelan.

“Ya! Dari awal aku juga tak berharap apapun pada Key. Lagipula, kita sudah lulus. Aku ingin lebih fokus melanjutkan pendidikan di universitas nanti.” Omel Hyorin kesal. Apa yang dikatakan Hyorin memang benar adanya. Bukan kebohongan. Tiga bulan sudah terlewati dan Hyorin berhasil memupuskan perasannya pada Key. Karena pada kenyataannya Key telah bersama Eun Soo. Dan Eun Soo adalah teman yang baik bagi Hyorin. Hyorin juga tak mau menjadi penghalang bagi hubungan mereka. Dan yang paling penting, ada namja lain yang mulai mengisi hati Hyorin akhir-akhir ini. Dia, Minho. Choi Minho.

“Ne, ne.” jawab Minho mengiyakan seraya menyuapkan sesuap mie ramen ke dalam mulutnya.

“Kau akan melanjutkan kuliah dimana? Selama ini kau tidak pernah menceritakan masalah itu padaku atau pada Key kan?”

“Uhuk! Uhuk!” Minho tersedak begitu mendengar pertanyaan Hyorin. Hyorin tampak panik dan memberikan segelas minuman yang memang sudah dipesan oleh mereka pada Minho. Minho langsung menerima dan meneguknya. Minho akhirnya bisa bernafas lega.

“Gwenchana?” Tanya Key yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka. Minho mengangguk. “Aiish.. Aneh sekali kau. Untung saja kau hanya tersedak. Kalau kau sampai memuntahkan mie ramen yang kubelikan ini, kubunuh kau!” ancam Key pada Minho. Minho hanya bisa cengengesan. Key pun kembali ke mejanya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Minho-ah.” Seketika tawa di wajah Minho luntur. Minho diam.

“Aku.. Aku.. Tidak akan melanjutkan kuliah di Seoul.” Jawab Minho lirih.

“Oh.. Jadi kau akan melanjutkan dimana? Daegu? Busan?” tanya Hyorin yang masih tampak biasa-biasa saja.

“Bukan. Tapi.. Di London.” DEGH! Hyorin tersentak.

“London? Kau sebelumnya tidak pernah menyinggung tentang hal itu. Kau bilang kau akan melanjutkan kuliah di Korea, bukan? Tak masalah jika harus di Busan, Daegu atau manapun. Asal bukan di negara lain.” protes Hyorin seraya menatap Minho serius. Minho mengalihkan pandangannya. Ia tak berani melihat kedua mata Hyorin yang mulai berkaca-kaca.

“Jeongmal mianhae. Aku hanya membicarakan hal ini pada Key. Itupun 3 bulan yang lalu. Dan setelah itu, kami tak pernah membahasnya lagi. Jika aku pergi, kau tak perlu khawatir. Key juga pasti akan menjagamu. Lagipula, ini adalah permintaan langsung dari Appa dan Eomma. Aku tak mungkin bisa menolaknya. Appa ingin setelah lulus kuliah nanti, aku bisa mengurus perusahaan barunya di London. Jadi mungkin aku akan lama untuk kembali lagi ke sini. Mian-” Jelas Minho.

GREEEEKK!

Hyorin bangkit dari duduknya dan mendorong kursinya kasar ke belakang. Hyorin berlari meninggalkan Minho di tempat itu. Hyorin menangis. Lagi-lagi ia harus merasakan sakit hati seperti ini. Dan entah apa yang menghalanginya, Minho juga hanya bisa duduk diam di tempatnya.

BUGH!

Satu pukulan diterima Minho. Key memukul Minho karena merasa kesal dengan sikap Minho. Minho hampir saja terjatuh dari duduknya. Semua pengunjung dalam kedai mie ramen tersebut kaget dan memperhatikan mereka.

“Neo michieoseo?! Kenapa kau tak mengejarnya, huh?!” teriak Key dengan nafas tersengal.

“Key, dwaesseo. Tahan emosimu.” Larang Eun Soo sambil mencengkeram bahu Key kuat dari belakang. Menahan Key agar tidak berbuat lebih pada Minho. Minho menyeka darah di sudut bibirnya dan bangkit. Berhadap-hadapan dengan Key.

BUGH!

Kali ini Minho yang melayangkan pukulan ke wajah Key.

“Siapa yang lebih gila?! Kau atau aku? Siapa yang menyakitinya dulu?! Kau atau aku?! Kau kira aku tak tahu kalau kau memiliki perasaan juga padanya, huh?? Kita berteman sudah sejak kecil, tak mungkin aku tak bisa membaca perasaanmu! Tapi kenapa kau menyia-nyiakannya? Kenapa kau justru merelakannya untukku?!” ucap Minho tak kalah kerasnya. Key tak percaya jika Minho mampu membaca perasannya. Padahal dulu, Key bersusah-payah menyimpan perasaannya rapat-rapat.

“Itu bukan masalah yang penting sekarang, Choi Minho! Yang harus kau sadar, yang Hyorin sukai itu kau! Bukan aku lagi! Apa kau tidak bisa merasakannya?? Selama tiga bulan ini aku juga melihat usahanya untuk melupakan perasaannya padaku. Dan aku bersyukur tak pernah menjadikannya sebagai yeojachinguku, karena sekarang perasaanku lebih kuat pada Eun Soo! Aku mulai menyukai Eun Soo!” Key menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Jadi sekarang, kejarlah dia! Aku dan Hyorin sudah tak memiliki perasaan itu lagi. Hati kami sudah mencintai yang lain. Dan dia mencintai kau!” bentak Key sambil mencengkeram bahu Minho kuat-kuat. Key menatap kedua mata Minho lekat-lekat seolah berkata –percayalah-padaku!- dan Minho pun langsung berlari meninggalkan kedai ramen detik iyu juga.

Key dan Eun Soo tersenyum menatap kepergian Minho.

“Aku yakin mereka juga akan menemukan jalan bahagia mereka. Hajiman, apakah benar dulu kau tak memiliki sedikitpun perasaan suka padaku??” tanya Eun Soo sambil melemparkan tatapan menyelidik. Eun Soo merengut.

“Chagiya.. Aku sudah menyukaimu dari dulu. Mana mungkin aku tak tertarik. Kau kan manis sekali.” Rayu Key sambil mencubit dagu Eun Soo. Eun Soo tersipu.

“Dasar! Kau benar-benar perayu kelas berat!” komentar Eun Soo sambil menoyor dahi Key lalu pergi.

“Wae? Apa salahku??”

@@@

ZZZZZSSST…

Deru ombak di laut seakan menjadi saksi tangisan seorang yeoja berambut panjang sepinggang yang menatap laut dari hamparan pasir putih pantai. Sesekali satu tangannya terangkat dan ia menghapus air mata yang membasahi pipinya sejak tadi dengan punggung tangannya.

Beberapa saat kemudian, dirasakannya sesuatu yang hangat menyentuh pundaknya. Hyorin menoleh sekilas dan terkejut ketika sesuatu yang hangat lagi melingkar di pinggangnya.

“Mi-Minho-ah..” kata Hyorin terbata.

“Ne.” Minho menyenderkan kepalanya di pundak Hyorin. Hyorin semakin bingung dengan sikap Minho dan berusaha melepaskan diri. Namun Minho menahannya erat. “Mianhae.. Aku tak sadar akan perasaanmu padaku. Aku mengira kau masih memiliki perasaan pada Key meskipun sedikit. Aku merasa aku ingin mengalah saja jika tahu akan hal itu. Hyorin-ah.. Sampai saat inipun aku masih mencintaimu. Aku terus menunggu dan aku bahagia sekali ternyata kau telah membalas perasaanku. Dan masalah kepergianku itu, aku pastikan hanya sementara. Aku akan kembali padamu. Atau, kita menikah saja sebelum aku pergi? Jika kita menikah kita bisa tinggal bersama di London seterusnya. Eomma dan Appa  pasti senang.” Hyorin menutup mulutnya dengan satu tangannya. Tak percaya dengan Minho yang berani mengajaknya menikah. Hyorin terlalu bahagia sehingga tak mampu berkata-kata. Minho memutar tubuh Hyorin agar mau menghadapnya.

“Hei.. Angkat wajahmu. Don’t cry. Tatap mataku, Hyorin-ah..” Hyorin terus menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya karena rasa bahagia yang bercampur malu. Minho tersenyum melihatnya. Namja itu merasa gemas dengan sikap Hyorin.

Minho menggunakan jari telunjuknya untuk menyentuh dagu Hyorin dan mendorongnya perlahan ke atas agar yeoja itu mau menegakkan kepalanya.

“Lihatlah ke sini..” pinta Minho lembut. Meski malu, akhirnya Hyorin menegakkan kepalanya dan sedikit mendongak untuk menatap kedua mata Minho. Minho mendekatkan wajahnya pada wajah Hyorin. Hyorin membelalak ketika Minho mengecup bibirnya lembut.

“Will you marry me?” tanya Minho sambil melepaskan ciumannya. Hyorin tersenyum dan mengangguk cepat.

“Sure!” Seketika itu juga Minho mengangkat tubuh Hyorin ke atas, menggendongnya sambil sesekali berputar. Hembusan angin pantai menambah kebahagiaan untuk mereka. Key dan Eun Soo yang baru saja tiba pun tersenyum melihat akhir yang bahagia untuk mereka.

Terkadang cinta memang tak harus memiliki dan ketika kita mengetahui cinta kita tak bersambut pasti akan perih sekali rasanya. Tapi yakinlah, cinta yang baru pasti akan datang menghampirimu dan itu pasti akan lebih indah dan lebih manis rasanya. ^^

THE END

Aneh ya? Gaje ya? Hehe.. Buat endingnya emang aku rada bingung bikinnya. Ngga ada inspirasi. Tapi semoga kalian suka. Gomawo, udah mau baca and mengikuti jalan cerita FF Dear! ini. ^^ Annyeong.. J

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “Dear! [2.2] (END)”

  1. Sebenarnya aku pertamanya berharap key menerima pernyataan cinta itu, tapi ga papa lah toh akhirnya mereka semua berakhir bahagia… Terharu bgt ama pengorbanan Key, bener2 gag egoisT..T Nice ff, thor^^V

  2. Sebenarnya aku pertamanya berharap key menerima pernyataan cinta itu, tapi ga papa lah toh akhirnya mereka semua berakhir bahagia… Terharu bgt ama pengorbanan Key, bener2 gag egoisT..T Nice ff, thor^^d

  3. HOREEEEEE MINHO SM HYORIN! Ahhh suamiku sweet banget diri kalian (re : minho key) #dihajarshawols XD

    wkwkwk ngakak pas jjong jewer si jinki LOL XDD

    tetem kamu kejam ~.~

    sweet sekaleh omonaaaa gyaaa :3 key sm eunsoo dan minho sm hyorin. Hyaaa bahagia diriku, authhooorr 😀

    aku berharap sad ending sbnernya ._. #ditimpuk. Tp klo udh baca gini, saya heboh sendiri :3 nice post

  4. Yey…. akhirnya happy ending…
    minho sama hyorin…
    tapi, kenapa taemin jadi jahat gitu? 😦
    ah, tapi gpp, FFnya keren banget…
    ditunggu FF lainnya..
    keep writing… 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s