Love and Destiny – Part 2

Title                : Love and Destiny [PART 2]

Author : Shirae Mizuka

Length            : Series (2.744 words)/ on going

Rating             : General

Genre              : Romance

Cast                : Choi Minho (SHINee), Lee Jiyoo (OC), Yong Junhyung (B2ST)

Support Cast : Kim Jonghyun (SHINee), Park Hye Na, Victoria Lee (OC)

Disclaimer      : All casts except OC belongs to themselves.

NOTE:

Pernah dipublish di: http://shiraemizuka.wordpress.com/

oo000oo

Tepat keesokan hari setelah kedatangan wanita yang dianggap Jiyoo sebagai nenek lampir oleh Jiyoo ke De’Licious, Hye Na segera mengajukan surat pengunduran diri dari cake shop tersebut. Kepada Jiyoo, gadis itu beralasan ia harus pulang ke kampung halamannya di Busan karena orangtuanya sedang sakit. Namun entah mengapa Jiyoo yakin itu hanyalah merupakan akal-akalan Hye Na belaka. Gadis itu tengah berusaha membodohinya. Hye Na pasti memutuskan hal itu akibat tekanan dari wanita menyeramkan itu.

Sebagai sahabat Hye Na sebenarnya Jiyoo merasa kecewa. Dan ia juga merasa gagal sebagai sahabat. Entah bagaimana, mungkin karena Hye Na yang kelewat pintar menutupi hubungannya selama ini ataukah karena Jiyoo yang tidak peka, ia tidak pernah tahu bahwa Hye Na telah memiliki kekasih. Selama ini Jiyoo berpikir Hye Na tidak memiliki kekasih. Tidak pernah terlintas dipikirannya bahwa justru Hye Na menjalin hubungan dengan namja kaya dan hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga kekasihnya tersebut. Jiyoo tahu, ia tidak akan bisa membantu banyak. Namun setidaknya Hye Na bisa berbagi beban dengannya.

Akan tetapi semua sudah terlanjur. Sekarang seminggu telah berlalu setelah kejadian itu,  Jiyoo tidak bisa menyesali apapun lagi. Termasuk keputusan Hye Na untuk berhenti bekerja di De’Licious dan pergi begitu saja hanya dengan berpamitan lewat telpon padanya. Meski saat itu Jiyoo sudah nyaris menangis demi membujuk Hye Na untuk tidak pindah kemanapun, namun sia-sia. Hye Na sudah bulat dengan tekadnya.

“Hei, Jiyoo-ah… Kau melamun? Ada pelanggan, bukannya ini giliranmu?”

Jiyoo seketika tersentak. Seketika gadis itu gelagapan ketika menyadari salah seorang rekan kerjanya menegurnya. Ia buru-buru memutar pandangannya. Mencari siapa pelanggan yang baru saja datang dan harus dilayani. Dan seketika itu juga Jiyoo tersentak kaget.

Yong Junhyung. Kali ini Jiyoo harus melayani Junhyung.

Seketika itu juga Jiyoo mengulas senyumnya. Ia buru-buru menghampiri tempat yang biasa ditempati oleh lelaki itu, di meja sudut, setelah meraih notes kecil untuk mencatat pesanan dan sebuah buku menu.

Jiyoo meletakkan daftar menu cake shop De’Licious di hadapan Junhyung dengan perasaan senang bukan kepalang.

Bagaimana tidak? Meski Junhyung adalah pengunjung setia cake shop itu, tetap saja jarang-jarang sekali Jiyoo dapat kesempatan untuk melayani pesanan Junhyung. Dan kini Jiyoo sangat menikmati tampang bingung Junhyung memutuskan kue apa yang akan dipesankannya.

“Hmm… mungkin anda bisa coba pesan Apricot Cheese Cake, itu menu baru kami hari ini. Saya yakin anda akan ketagihan setelah mencicipi kue yang satu itu. Mungkin anda bisa pesan dua porsi berhubung kami sedang ada diskon khusus hari ini…” Jiyoo mencoba berpromosi dengan memasang tampang seramah mungkin.

Junhyung menoleh dan tersenyum kecil, “Ne. Baiklah, aku terima saranmu,” ucap Junhyung. Jiyoo kontan tersenyum senang. “tapi cukup satu porsi. Kalau aku memang ketagihan seperti katamu, besok aku pasti datang lagi kesini dan memesan lebih banyak.”

Jiyoo memamerkan senyumnya lagi dan menuliskan pesanan Junhyung di buku pesanannya, “Ne, as you wish, sir…” tanggap gadis itu girang.

“Dan minumannya…” Tatapan Junhyung kembali terarah ke buku menu. Ucapan namja itu terhenti sesaat seolah dia butuh waktu panjang untuk memikirkan secara masak minuman apa yang akan dipesannya.

Jiyoo sendiri hanya diam menahan geli. Meskipun pesanannya selalu berakhir di secangkir kopi pahit, Junhyung tak pernah sekalipun tidak membaca menu minuman yang tertera di daftar menu. Hal yang tak perlu dilakukan sebanarnya jika pada akhirnya kopi pahit yang jadi pilihan namja itu. Tapi itu memang sudah kebiasaan Junhyung, sudah lama Jiyoo mengetahuinya. Tepatnya memang tak ada satupun gerak-gerik Junhyung yang luput dari perhatian Jiyoo selama ini.

“Pasti kopi pahit,” batin Jiyoo yakin. Kali ini pun, secangkir kopi pahit pasti masih jadi favorit Junhyung. Meski kue yang dipesan namja itu acap kali berbeda, Junhyung tak pernah merubah minumannya. Jiyoo jadi tersenyum sendiri. Dia baru saja sadar betapa ia telah terpesona oleh seorang Junhyung sampai-sampai ia hafal setiap hal yang menjadi kesukaan namja itu.

“Eh?” Junhyung menatap Jiyoo dengan tatapan heran dan bingung. Namun Jiyoo memasang tampang lebih bingung lagi. Apa yang Junhyung herankan?

Melihat Jiyoo yang justru jadi bingung sendiri dan pasang tampang melongo, Junhyung malah tertawa kecil.

“Tadi kau bicara ‘pasti kopi pahit’. Aku heran darimana kau tahu aku akan memesan kopi pahit?” ujar Junhyung masih sambil tersenyum.

“Hah?!” Tampang Jiyoo malah jadi kelihatan jauh lebih melongo lagi. Sepertinya tadi tanpa sadar dia telah menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya hingga Junhyung bisa mendengar apa yang ia ucapkan. Ujung-ujungnya Jiyoo cuma bisa pasang wajah memelas.

“Karena anda selalu pesan kopi pahit setiap datang kesini,” imbuh Jiyoo. Gadis itu terkekeh salah tingkah.

oo000oo

Minho kembali meneguk minuman dari botol yang sudah nyaris kosong di tangannya. Entah ini sudah menjadi botol yang keberapa. Ia tidak tahu dan ia tidak peduli. Sebenarnya minuman itu sudah membuatnya setengah mabuk atau bahkan mungkin ia memang telah benar-benar mabuk saat ini. Buktinya kepalanya sudah terasa berputar-putar dan pandangannya mulai sulit untuk difokuskan. Hanya saja ia belum ingin berhenti.

Minho melempar pandangannya lagi ke cake shop De’Licious yang mulai sepi pengunjung karena memang waktunya bagi cake shop itu untuk tutup. Dilihatnya tak ada satupun sosok yang keluar dari pintu cake shop itu.

Beberapa hari ini, Minho memang selalu datang ke De’Licious di saat-saat menjelang cake shop itu tutup, memarkir mobilnya agak jauh dan kemudian menunggu sosok yang ia cari; Hye Na.

Ini harapan terakhir Minho setelah semua usahanya selama beberapa hari ini untuk mencari dan menghubugi Hye Na tidak membuahkan hasil apapun. Gadis itu seolah menghilang dan lenyap tanpa bekas.

Di saat-saat kesadarannya nyaris hilang, Minho melihat sosok seorang gadis keluar dari cake shop. Dia tidak yakin gadis itu Hye Na atau bukan karena sulit memastikan dengan pandangannya yang mulai mengabur. Tapi setidaknya Minho berharap gadis itu benar-benar adalah Hye Na. Karena itu Minho segera membuka pintu mobilnya dan berjalan terhuyung menghampiri gadis itu.

“Hye Na-ya…” Minho memanggil nama kekasihnya dalam keadaan setengah sadar. Minho mencoba meraih gadis yang ada di hadapannya itu. Namun kepalanya semakin berat. Tubuhnya limbung dan roboh seketika sebelum dia sempat meraih gadis itu.

“Eh… eh… kenapa kau pingsan?” Gadis yang disangka Minho sebagai Hye Na namun tak lain adalah Jiyoo itu kontan menjerit-jerit panik melihat seorang namja yang tak dikenalnya mendadak roboh di hadapannya.

Ommoommooo… ada apa dengannya? Nggg… telpon siapa? Apa ambulans saja?” seru Jiyoo makin panik setelah melihat kiri kanan, tetap tak ada orang yang lewat yang bisa dimintai tolong. Jalanan itu benar-benar sepi.

“Tenanglah, Jiyoo… tenang…” bujuk Jiyoo pada dirinya sendiri. Gadis itu berjongkok dan mencoba memeriksa keadaan namja itu meskipun dia tidak yakin apa ia bisa. Tapi kemudian Jiyoo nyadar kalau namja itu bau alkohol. Namja itu hanya mabuk, tidak pingsan seperti apa yang ia pikirkan.

“Grrr… cuma mabuk, aku kira dia kena serangan jantung!” gerutu Jiyoo geram. Tapi meskipun namja itu hanya mabuk, Jiyoo tetap tak sampai hati meninggalkan namja itu di jalan dalam keadaan  seperti itu.

Jiyoo kemudian memeriksa kantong jas namja itu, mencari ponselnya dan… ketemu! Mungkin di ponsel itu Jiyoo bisa menghubungi nomor salah satu kenalan namja itu dan memintanya menjemputnya. Tapi opsi itu terpaksa dicoret Jiyoo. Ponsel namja itu ternyata mati. Mungkin low battery atau mungkin juga rusak, Jiyoo tak mau ambil pusing, yang jelas ponsel namja itu mati.

Sampai disana Jiyoo masih belum kehilangan akal. Kali ini gadis itu mencoba mencari kartu nama atau kartu apa saja juga boleh, asalkan ada alamat namja itu tertera disana. Mungkin Jiyoo bisa meminta taksi mengantarkan namja pemabuk itu ke rumahnya. Kalau Jiyoo mau mengantarkan sendiri namja itu jelas tidak mungkin, meskipun ada mobil Minho yang menganggur, tapi sayangnya Jiyoo tidak bisa menyetir.

“Choi Minho?” Gadis itu kontan bergumam sendiri ketika ia mendapati kartu nama namja itu dan membacanya. Seketika ia teringat kembali kepada Hye Na dan kejadian beberapa waktu lalu saat wanita yang mengaku sebagai eomma-nya Choi Minho datang dan meminta Hye Na untuk meninggalkan anaknya. “Apa kau Choi Minho-nya Hye Na?” ujar gadis itu bingung. Sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya. Ia sadar, ini bukan saatnya mempermasalahkan siapa namja itu. Jiyoo hanya harus menemukan alamat Choi Minho dan mengantarnya pulang dengan selamat hingga ke rumah. Namun gadis itu kemudian hanya bisa melenguh kesal ketika ia pada akhirnya menemukan alamat namja itu di kartu namanya.

Yaaa… Rumahmu jauh sekali…” Gadis itu seketika putus asa. Butuh waktu kira-kira hampir dua jam untuk sampai di alamat rumah namja itu. Dan Jiyoo sama sekali tidak punya uang untuk membayar ongkos taksi. Naik bis? Oh, yang benar saja? Mana mungkin Jiyoo harus menggotong tubuh namja itu turun naik bis.

“Aish… jinja…. kau merepotkanku saja. Dasar bocah!” Jiyoo menggerutu dan bersungut-sungut pada tubuh Minho yang masih tergeletak. Sayangnya tentu saja namja itu sama sekali tidak bereaksi.

Sekarang sepertinya memang tak ada jalan lain, Jiyoo harus membopong Minho yang tubuhnya benar-benar tak sebanding dengan ukuran tubuh Jiyoo yang kecil mungil itu.

“Ugh… Errrrgh… Eeerrrrrgh…” Jiyoo ngos-ngosan nyaris pingsan mengangkat tubuh Minho.

“Choi Minho-ssi… kau berhutang budi sangat besar padaku. Suatu saat kau harus membayarnya!” Dan gadis itu masih saja tetap menggerutu.

Aaaaargh… sialnya dia hari ini!

oo000oo

Jiyoo menenteng satu kantong plastik berisi dua porsi sup rumput laut di tangannya sambil sesekali bersenandung riang. Gadis itu memang baru saja membeli sup itu di salah satu kedai kecil tak jauh dari apartemennya. Ahjumma pemilik kedai yang sudah kenal baik dengan Jiyoo, tadi sempat heran kenapa hari ini Jiyoo membeli dua porsi. Jiyoo yang tentu saja tak bisa menjawab jujur bahwa satu porsi lagi adalah untuk namja mabuk yang dengan terpaksa harus diajak menginap di apartemennya tadi malam itu, hanya tertawa dan menjawab sambil berkelakar bahwa selera makannya sedang besar. Tamat riwayat Jiyoo kalau sampai tetangganya tahu dia membawa seorang namja menginap di apartemennya, bisa-bisa Jiyoo dituduh berbuat mesum dan diusir oleh pemilik apartemen.

Annyeonghaseo, Jiyoo-ssi…”

Jiyoo langsung melempar senyum pada ahjussi—yang membuka toko buku kecil dan menjual koran dan majalah di kompleks apartemen Jiyoo—yang barusan menyapanya itu. Gadis itu baru saja melewati toko buku itu dan segera menghentikan langkahnya sejenak. Gadis itu memberikan senyumnya, “Ne. Annyeonghaseo, ahjussi…”.

Gadis itu kemudian mendekat dan mengambil salah satu majalah bisnis yang di gantungkan di rak-rak koran dan majalah. Jiyoo sedikit berharap pagi ini wajah Junhyung akan muncul lagi di majalah itu. Lumayan buat vitamin mata di pagi hari.

Tapi bukannya mendapati tampang Junhyung, mata Jiyoo justru dibuat terbelalak saat mendapati tampang Minho yang terpampang di halaman depan majalah itu. Disana tertulis besar-besar; Lee Minho: The Most Korean’s Eligible Bachelor of The Year.

“Oh, ternyata benar namja ini namanya Minho. Pantas saja eomma-nya panik begitu, mau bagaimana lagi, Minho yang anak emasnya sepertinya cinta mati pada Hye Na…” batin Jiyoo. Dia ingat benar sepanjang malam Minho tak henti-hentinya mengingau memanggil nama Hye Na. Sepertinya namja itu benar-benar menderita kehilangan Hye Na. Menurut Jiyoo, seharusnya Hye Na jangan mau mengikuti permintaan eomma Minho kalau melihat Minho yang sebegitu cintanya pada Hye Na. Tapi Jiyoo juga tak tahu apa yang ada di dalam pikiran Hye Na, jadi akhirnya Jiyoo cuma angkat bahu.

“Kenapa Jiyoo-ssi? Namja itu sangat tampan, ya?” tanya ahjussi melihat Jiyoo yang begitu lama memelototi wajah Minho di majalah. “Lumayan, Jiyoo-ssi, sepertinya dia namja kaya.” imbuh ahjussi itu lagi setengah menggoda Jiyoo.

Jiyoo kontan mencibir. “Cih. Namja seperti dia ini meskipun kaya sama sekali tidak ada hebatnya. Jam segini saja, pasti dia masih mendengkur di tempat tidur.” tukas Jiyoo dengan nada meremehkan seraya kembali meletakkan majalah yang dijual oleh ahjussi itu.

Ahjussi itu hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya kecil ketika Jiyoo kembali meneruskan langkahnya.

oo000oo

“Aiissshh, benar kan… dia masih mendengkur…” gumam Jiyoo bangga dengan tebakannya yang tidak meleset saat membuka pintu kamar apartemen mungilnya dan mendapati Minho yang memang masih tidur dengan nyaman di tempat tidurnya di antara gelungan selimut tebal.

Menyebalkan sekali jika mengingat bahwa semalam gadis itu harus merelakan ranjangnya yang empuk kepada namja itu sementara ia sendiri harus tidur di sofa.

Jiyoo masuk dan kemudian mengambil dua buah mangkok di rak piring sebagai tempat sup r umput laut yang tadi dibelinya dengan suara nyaring dan berisik. Jiyoo berharap dengan suara berisik itu Minho bisa segera bangun. Bahaya kalau namja itu terlalu lama berada di apartemennya. Terlebih setelah ini gadis itu juga harus berangkat kerja. Tidak mungkin ia meninggalkan namja itu begitu saja di apartemennya.

Dan suara berisik mangkok-mangkok yang diambil Jiyoo itu memang akhirnya membangunkan Minho. Namja itu bangun perlahan sambil memegangi kepalanya yang terasa berat dan berdenyut-denyut..

“Cepatlah bangun, phalli. Ini, aku sudah membelikanmu sup rumput laut. Kau tahu, sup ini bagus sekali untuk mengembalikan staminamu setelah kau mabuk berat semalam. Cepat dihabiskan karena aku sebentar lagi akan berangkat kerja.” ujar Jiyoo dengan cueknya menghabiskan sup rumput laut jatahnya sendiri di meja makan.

Apartemen yang ditempati Jiyoo memang hanyalah apartemen kecil. Kamar, dapur dan ruang makan semuanya berada di ruangan yang sama. Gadis itu sama sekali tidak dapat mengandalkan gajinya bekerja di De’Licious untuk menyewa apartemen yang lebih besar dari sekarang.

Sesaat kemudian, Minho memandangi ruangan yang tidak lebih besar dari kamar pribadinya itu dengan aneh hingga akhirnya ia hanya bisa menatap Jiyoo dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Kau siapa?” tanya namja itu bingung.

“Aku Jiyoo. Lee Jiyoo. Aku bekerja di De’Licious. Aku menemukanmu pingsan di depan cake shop kami semalam.” ujar Jiyoo santai sambil memasukkan sesendok sup rumput laut lagi ke mulutnya. Gadis itu bahkan tidak menoleh sama sekali kepada Minho.

Minho mengangguk kecil. Ia sekarang bisa mengingat ia semalam memang memarkir mobilnya di depan De’Licious dan kemudian menenggak beberapa botol soju. Namun ia tidak bisa mengingat apapun lagi setelah itu. Semua terasa kabur setelah samar-samar ia melihat ada seorang gadis berjalan mendekat ke arahnya. Ia mengira gadis itu adalah Hye Na. Namun ternyata ia salah mengira gadis mungil di depannya sekarang sebagai Hye Na.

“Semalam kau mabuk dan pingsan setelah kau mengira kalau aku adalah ini Hye Na. Aku tadinya ingin menelpon seseorang yang ada di phonebook-mu agar segera menjemputmu, tapi ponselmu mati. Aku juga sempat memikirkan untuk mengantarmu dengan taksi, tapi ternyata rumahmu jauh sekali. Uangku tidak cukup untuk membayar ongkos taksinya dan aku liat di dompetmu juga hanya ada credit card, tidak ada uang tunai sama sekali. Makanya aku terpaksa membawamu ke apartemenku ini. Hmmm, sekarang mobilmu masih ada didekat cake shop. Aku tidak bisa menyetir.” ujar Jiyoo lagi panjang lebar.

Minho bisa mengerti dengan penjelasan Jiyoo itu meskipun sebenarnya ia tidak bisa ingat secara mendetil apa yang terjadi setelah ia jatuh tak sadarkan diri. Hanya saja, biar bagaimanapun gadis itu sudah menolongnya dan tidak membiarkannya tergolek di jalan begitu saja.

Khamsahamnida Jiyoo-ssi.” ucap Minho pendek dan sopan. “Kau sudah menolongku Jiyoo-ssi.”

Jiyoo mengangguk sambil menghabiskan sendok terakhir sup rumput lautnya. Satu porsi sup adalah urusan kecil untuk perut Jiyoo. Biarpun badannya kecil begitu, makan Jiyoo lumayan banyak.

Ne. Cheonmaneyo. Walaupun badanmu itu berat sekali, tapi tidak apa-apa…” tanggap gadis itu.

Minho tersenyum kecil. Ia bisa membayangkan betapa gadis itu kerepotan mengangkat tubuhnya mengingat betapa mungilnya tubuh gadis itu. Gadis itu benar-benar baik.

“Tapi bisakah kau segera pergi dari sini? Bahaya kalau aku ketahuan membawa seorang namja ke apartemenku.” ujar Jiyoo sesaat kemudian.

Seketika Minho tertegun kaget. Baru beberapa menit yang lalu gadis itu bersikap begitu ramah padanya dan beberapa menit kemudian gadis itu sudah mengusirnya. Terlebih gadis itu menyuruhnya pergi dari sana dengan gaya yang benar-benar cuek. Belum ada orang yang berani mengusir seorang Choi Minho selama ini. Apapun alasannya. Dan kali ini ternyata Minho menemukan seorang gadis bertubuh mungil yang baru saja mengusirnya tanpa beban. Mau tak mau Minho buru-buru bangun dari tempat tidur meskipun dengan kepala yang masih terasa berat sambil menyambar jasnya yang tersampir di kursi dan sepatunya yang tergeletak di sudut ruangan.

“Eh, kau tidak memakan sup rumpur lautnya dulu?” tanya Jiyoo dengan tampang polos andalannya.

Sudah diusir begitu, mana bisa lagi Minho tenang-tenang  memakan sup di apartemen gadis itu. Minho hanya menggeleng dan segera berjalan menuju pintu.

“Ya sudah, ini untukku saja…” tanggap gadis itu masih tak peduli. Minho tak berkomentar apa-apa meskipun Jiyoo benar-benar membuatnya takjub.

Minho baru saja meraih gagang pintu depan apartemen Jiyoo ketika gadis itu kembali berseru, “Jangan lewat depan, Minho-ssi. Aku bisa ketahuan membawa seorang namja menginap di apartemenku dan dituduh sudah berbuat yang tidak-tidak. Kau lewat belakang saja bagaimana? Dari balkon kau bisa memanjat pipa air. Tidak sulit.”

Saat itu juga Minho terperangah. Gadis itu… apa dia tidak tahu dengan siapa berhadapan kini? Apa gadis itu tidak mengenal Choi Minho sama sekali? Choi Minho, seorang pengusaha muda sukses pemilik beberapa perusahaan raksasa di Korea, apa gadis itu benar-benar tidak mengenalnya sama sekali?! Arrrghhh… Minho tidak bisa mempercayai ini. Seumur hidupnya belum ada yang memperlakukannya begini.

“Aiiishhh… jinja…” gerutu Minho. Namun ia sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa mendesah berat. Jika saja bukan karena Minho baru saja berhutang budi pada gadis tengil itu, Minho pasti dengan senang hati sudah memberinya sedikit pelajaran ala direktur muda Choi.

-to be continue-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “Love and Destiny – Part 2”

  1. hahaha jiyoo lucu bgd, suka bgd gayanya..
    Apakah posisi hyena akan tergantikan oleh jiyoo? Ditunggu lanjutannya..

  2. kkkkk jiyoo nya lucu. Dan terus itu minho-nya dikerjain sama jiyoo.
    Udah minho sama jiyoo aja, hye na tinggalin aja wkkk *evillaugh
    mei butuh part 3, lanjut eonnie…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s