A Ghost Inside Me – Part 6

 

Title :           A Ghost Inside Me  Part 6

Author :             Park Ara

Main Cast :       Choi Minho, Hwang Su Ji, Key, Jung Cheon Sa

Support Cast :  Kim Jonghyun, Lee Jinki, Hwang Dong Joon (Su Ji-Appa), Geum Jin Ah (Su Ji-   

                            Eomma), dan     masih terus bertambah…

Length :             Sequel

Genre :              Fantasy, Friendship, Romance

Rating :              PG 15

Minho membalikkan badan Su Ji dan melihat ke jalanan. Terdengar suara klakson mobil yang bersautan karena ada seorang yeoja yang berdiri di tengah jalan. Tanpa pikir panjang, Minho berlari dengan tubuh Su Ji, mendekat ke arah Cheon Sa. “Cheon Sa noona!” teriaknya lalu langsung mendorong tubuh Cheon Sa hingga sampai di tepi trotoar. Cheon Sa nampak begitu terkejut melihat Su Ji yang tiba-tiba datang menolongnya. Namun belum sempat ia bertanya, sebuah mobil sudah menyentuh tubuh Su Ji terlebih dahulu…

Minho memperhatikan Su Ji yang sedang terduduk di ranjang rumah sakit sambil mengelus lututnya yang di perban. Sementara Su Ji balas menatapnya tajam, seolah ingin membunuh Minho saat ini juga. Ia sangat kesal, tentu. Karena seenaknya saja namja itu menggunakan tubuhnya dalam keadaan yang membahayakan. Dan yang semakin membuatnya kesal adalah, kenapa Minho merelakan tubuhnya hanya untuk seorang yeoja yang ada di hadapannya sekarang. Yang bahkan Su Ji sudah lupa siapa namanya.

“Mm, kau sudah baikan?” tanya Cheon Sa memastikan.

“Oh…” ucap Su Ji menggantung karena ia sendiri bingung harus menjawab apa. Ia pun menatap Minho yang sekarang berdiri di belakang yeoja itu.

“Namanya Jung Cheon Sa, dia lebih tua darimu. Dan kemarin aku sudah menggunakan tubuhmu untuk menemuinya, ingat? Kau harus bersikap baik padanya,” terang Minho sejelas-jelasnya.

Su Ji mencibir sejenak sebelum ia kembali kepada obrolannya dengan Cheon Sa. “Ah… ne. Aku sudah merasa baikan unni,” jawab Su Ji akhirnya.

“Mianhae, gara-gara aku kau jadi seperti ini,” tutur Cheon Sa sambil menunduk.

Su Ji menatap Cheon Sa tidak mengerti. Sebenarnya apa yang dilakukannya di tengah jalan tadi? Apa ia mau bunuh diri? Tapi walaupun benar seperti itu, ia sendiri pun tak akan menolongnya kalau bukan karena Minho yang merasuki tubuhnya.

“Ya, jangan melamun! Tanyakan kenapa ia berniat bunuh diri!” suruh Minho seenaknya. Melihat tatapan tolakan dari Su Ji, Minho langsung mengatupkan tangannya dan memasang ekspresi memelasnya. Akhirnya Su Ji menurutinya lagi.

“Unni, apa boleh aku bertanya satu hal padamu?”

Cheon Sa mengangkat kepalanya dan melihat Su Ji sambil tersenyum. “Kau mau bertanya apa?”

“Mmm… apa kau tadi mau bunuh diri? Kenapa?”

Cheon Sa tertegun. Ia tak langsung menjawab pertanyaan itu tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Sementara Minho menunggunya penuh antusias. Ia sangat ingin tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi pada kekasihnya ini.

“Aku… Aku tidak mau menikah dengan Jonghyun oppa,” akunya sambil meneteskan air mata. Su Ji terkejut akan sikap yeoja di depannya itu.

“Ya, jangan pasif begitu! Lakukan apapun yang membuatnya releks!” Minho kembali memerintah lagi.

Su Ji mengigit bibir bawahnya. Huft, ia sangat benci disuruh-suruh seperti ini! “Mm, unni. Kau tenang ya. Kau bisa menceritakan padaku semuanya. Aku bisa jadi pendengar yang baik,” ujarnya sambil menatap Minho dengan kesal. Minho hanya tersenyum puas.

Perlahan Cheon Sa menatap Su Ji sambil menyeka air matanya. Ia menghela nafas panjang sebelum menceritakan sesuatu yang besar. “Sebenarnya, aku tidak mencintai Jonghyun oppa. Kau tahu, kedua orang tuaku menjodohkanku dengan paksa karena semacam perjanjian yang tidak ku mengerti. Dan memang benar, pertunangan itu diadakan satu bulan yang lalu. Sehingga aku terkesan telah berselingkuh di belakang Minho. Tapi kenyataannya tidak, mati-matian aku berusaha menolak namun tidak bisa. Keluargaku terlalu keras, aku tak sanggup melawannya,” cerca Cheon Sa panjang lebar.

Walaupun awalnya Su Ji tidak tertarik, namun pada akhirnya ia mulai suka mendengar unni ini bercerita. Entahlah, ia ingin mendengar ceritanya sampai akhir. “Lalu?”

“Aku masih sangat mencintai Minho meskipun ia sudah meninggal. Aku tak bisa melepaskan hatiku untuk mencintai namja lain. Aku pernah berusaha untuk mencintai Jonghyun oppa setelah Minho meninggal, tapi tidak bisa. Ottohke Su Ji-ya? Apa yang harus kulakukan? Aku ingin menyusul Minho ke surga, aku ingin bersamanya…” rengek Cheon Sa membuat Su Ji sedikit. Ia benar-benar bingung akan apa yang harus dilakukannya.

“Peluk dia,” ujar Minho membuat Su Ji membelalakkan matanya.

Su Ji kembali menatap yeoja di depannya itu. Bagaimana ini, apakah ia harus memeluknya? Tapi ia tak pernah memperlakukan orang seperti ini. Rasanya begitu aneh..

“Su Ji…” tegur Minho membuyarkan lamunan Su Ji.

Akhirnya dengan gerakan yang sedikit kaku, ia pun memeluk Cheon Sa yang balas memeluknya erat. Ia tak tahu apa yang dibuatnya ini benar apa tidak, namun ia mengelus punggung Cheon Sa.

Minho tersenyum. Ia terharu ketika melihat pemandangan di depannya. “Su Ji-ya, ikuti apa yang kukatakan. Cheon Sa unni, kau tak perlu melakukan itu..”

“Cheon Sa unni, kau tak perlu melakukan itu.”

“Hiduplah dengan baik. Lanjutkan hidupmu meski tanpa oppaku.”

“Hiduplah dengan baik. Lanjutkan hidupmu meski tanpa oppaku.”

“Meski kau tak mengetahuinya, namun aku yakin Minho oppa selalu bahagia setiap kau bahagia.”

“Meski kau tak mengetahuinya, namun aku yakin Minho oppa selalu bahagia setiap kau bahagia.”

“Jangan pernah menangis dan merasa putus asa lagi. Percayalah, Minho oppa akan selalu mencintaimu dan menunggumu di surga.”

“Jangan pernah menangis dan merasa putus asa lagi. Percayalah, Minho oppa akan selalu mencintaimu dan menunggumu di surga.”

Cheon Sa melepas pelukannya dan menatap Su Ji dengan matanya yang sembap. “Gomawo Su Ji-ya, kau benar-benar yeoja yang baik,” ucapnya kemudian.

Su Ji termangu. Ia menatap Cheon Sa dengan tatapan yang sulit ia gambarkan sendiri. Sementara hatinya berdesir lembut, ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dan ia tak pernah mendengar kalimat itu dari siapapun. Ia adalah orang yang baik? Benarkah?

“Su Ji-ya, kenapa kau melamun?” tanya Cheon Sa membangunkan Su Ji dari lamunannya.

“Ah, anio…” jawab Su Ji sambil tersenyum. Lalu ia menatap Minho. Minho membalasnya dengan sebuah senyuman hangat.

“Cheon Sa noona benar. Kau adalah yeoja yang baik Su Ji-ya…”

Su Ji berjalan pulang di sepanjang jalan menuju rumahnya sambil terus memikirkan kata-kata Cheon Sa tadi. Apa yang yeoja itu katakan adalah sebuah kejujuran? Benarkah ia sebaik itu sampai Cheon Sa berkata sedemikian rupa? Lalu, sekarang ia harus bagaimana? Senangkah? Puaskah? Atau terharu?

“Kau senang kan?” kata Minho yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Su Ji. Ia melipat tangannya didepan dada sambil menyeringai ke arah Su Ji.

“Minho-ya, apa begini rasanya menjadi orang baik?” tanya Su Ji sambil menerawang jauh ke depan. Seolah ada yang menarik di depannya.

“Mm… bisa dibilang begitu,” jawab Minho berlagak berpikir serius.

“Hhh… sebenarnya aku pernah menjadi orang sepertimu,” aku Su Ji tanpa menatap ke arah Minho.

Minho mengernyit heran. “Maksudmu… kau pernah menjadi orang baik juga?”

“Mm,” ungkap Su Ji sambil mengangguk sekali. “Bahkan semua orang menjulukiku berhati malaikat. Lucu kan? Aku yakin kau tidak percaya,” kenang Su Ji di sisipi dengan tawa kecil di tengahnya.

Minho menatap Su Ji dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Su Ji dulu. Jangankan dulu, 2 tahun terakhirnya saja ia tak tahu. Dan ia tak pernah mempedulikan hal itu karena ia memang tidak tertarik pada yeoja ini.

“Tapi, karena seseorang yang sekarang sangat ku benci, aku menjadi berubah. Tsk, aku memang yeoja yang bodoh dan begitu naif. Kenapa aku merelakan kebaikanku untuknya? Padahal ia pun tak pernah mengatakan sepatah kata terima kasih untukku,” cerita Su Ji yang nadanya berubah kesal tiba-tiba. Kemudian ia menendang kerikil di depannya. “Minho-ya, aku bodoh kan? Jadi apa untungnya menjadi orang baik?” seru Su Ji sambil memandang wajah Minho. Tapi anehnya Minho malah sedang melamun. Entah apa yang dipikirkannya. “Kau kenapa Minho?”

“Oh, anio…” sangkal Minho namun terlihat jelas kalau wajahnya habis melamun. “Aku hanya membayangkan kau menjadi seorang yeoja yang baik. Haha, tidak cocok dengan wajahmu, ara?” ledek Minho lalu menjulurkan lidahnya.

“Ya!” teriak Su Ji. Kemudian ia berlari mengejar Minho yang terus mengejeknya.

2 minggu kemudian…

“Apa saja yang kau bawa?” tanya Minho sambil melihat-lihat isi koper merah Su Ji. Hari ini Su Ji akan mengikuti perjalanan ke Tokyo itu. Ya, meskipun awalnya Su Ji menolak, tapi akhirnya yeoja itu mau melakukannya setelah di paksa.

“Jelas yang aku butuhkan,” jawab Su Ji sambil menyisir rambut panjangnya. Kemudian ia memakai topi rajutnya dan berbalik. “Kau ikut kan?” tanyanya pada Minho.

“Oh, keurom… Tapi mungkin sesekali aku akan pergi ke rumah Cheon Sa noona,” jawab Minho kemudian tersenyum.

Su Ji berdecak sekali. Sepertinya Minho memang sudah cinta mati pada Cheon Sa. Bahkan ia rela kalau harus bolak-balik Seoul-Tokyo selama beberapa hari ini hanya untuk yeoja itu. Tunggu, mungkin ini tidak sesulit yang ia bayangkan. Minho kan hantu, dia tidak mungkin kelelahan kan? Dia pasti punya cara tersendiri!

“Ya, apa yang kau pikirkan?” tanya Minho begitu melihat mimik wajah Su Ji yang aneh.

“Anio. Mm, hanya saja jangan coba-coba menggunakan tubuhku ketika ada di Tokyo untuk menemui Cheon Sa ya. Aku tidak mau kelelahan!” ultimatum Su Ji tanpa pengecualian apapun.

Minho tertawa kecil. “Aku tak akan menggunakan tubuh sekurus itu untuk berlari dari Tokyo ke Seoul, ara?”

Su Ji hanya mencibir. “Kkaja!” ucapnya sambil menarik kopernya ke luar.

Su Ji melihat ke arah Electronic Display untuk yang kesekian kalinya. Rombongan sekolahnya baru berangkat 20 menit lagi. Ah, sungguh menyebalkan jika harus menunggu seperti ini. Su Ji pun menggerak-gerakkan kakinya bosan.

“Kau tak berniat bergabung dengan teman-temanmu?” tanya Minho mengajak Su Ji berbicara. Setidaknya, yeoja itu tidak merasa bosan terus.

Su Ji menggelengkan kepalanya sambil menatap layar ponselnya, entah untuk apa. Ia sadar, ia bukan bagian dari mereka. Dan seharusnya ia tidak mengikuti paksaan Minho untuk ikut perjalanan ini. Karena buktinya, ia teracuhkan kan? “Apa sekolah sudah gila? Bukankah ujian tinggal sebentar lagi? Kenapa malah mengadakan perjalanan ke Tokyo?”

Minho tertawa kecil sambil melirik yeoja di sebelahnya ini. “Aissh… sejak kapan kau peduli dengan ujian?”

Su Ji tidak menjawab lagi. Ia malah sibuk memikirkan apa yang akan dilakukannya di Tokyo nanti. Apakah ia akan sendirian di saat teman-temannya bercanda dan tertawa bersama? Apakah selama ini ia terlihat semalang itu?

“Cobalah untuk berbicara dengan mereka. Mereka adalah orang yang baik. Kau akan diterima kalau kau mau mencoba,” saran Minho lalu mengerlingkan mata kirinya.

Su Ji menatap Minho dengan maksud apa-aku-harus-melakukannya?

“Apa aku perlu membantumu?” tawar Minho. Su Ji mengangguk setuju. Yeoja itu berdiri menghadap Minho. Bersiap untuk Minho yang akan menciumnya…

“Annyeong Su Ji-ya!”

Minho langsung mengurungkan niatnya ketika mendengar suara orang itu. Ia dan Su Ji kompak menoleh dan melihat Key sedang berlarian kecil ke arah Su Ji. Su Ji langsung mendengus kesal. Ada apa lagi sih dengan namja itu? Kenapa Key tak pernah bosan mendekatinya?

“Annyeong, kau ikut juga?” tanya Key antusias. Sementara yang ditanya malah membuang muka.

“Ssstt, jangan acuhkan dia terus. Ayolah, bicara dengannya,” suruh Minho pada Su Ji. Setelah memberikan senyumnya, akhirnya Su Ji mau menatap Key lagi.

“Memang kenapa kalau aku ikut?” tanya Su Ji ketus.

Key justru tersenyum mendengar jawaban Su Ji yang masih terdengar tidak menyenangkan itu. Setidaknya, Su Ji mau menjawab pertanyaannya. Ia yakin, Su Ji hanya butuh waktu. “Aku senang kau ikut.”

Su Ji tak menjawab lagi. Ia lebih memilih untuk memandang orang-orang yang berlalu lalang di bandara hari itu. Baginya, hal itu jauh lebih menyenangkan.

“Ya, kkaja!” ajak Key yang tiba-tiba sudah menggenggam tangan Su Ji.

Su Ji melebarkan matanya, ia ingin sekali berontak namun Key sudah lebih dulu mengajaknya berlari. Minho ikut terkejut melihat kejadian itu. Kenapa Key begitu berani? Ia menggenggam tangan Su Ji dan mengajaknya ke… ke… antara teman-teman mereka? Apa yang akan Key lakukan?

“Annyeong haseyo!” sapa Key ramah pada semua temannya. Ia menatap Su Ji yang masih terdiam kaku. Su Ji benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan.

“Annyeong,” balas teman-teman mereka ramah. Mereka pun sedikit aneh ketika melihat Su Ji bersama Key.

“Su Ji-ya, ayo sapa mereka,” bisik Key. Su Ji pun menatapnya dan Key hanya menggerakkan kepalanya ke arah teman-temannya.

“Annyeong haseyo,” ucap Su Ji dengan yakin. Ia menjadi geli dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus merasa canggung?

Key tertawa kecil untuk mencairkan suasana. Ia tahu semua teman-temannya masih menganggap Su Ji sebagai yeoja yang angkuh. “Haha… Oh ya aku ingin memberi tahu sesuatu pada kalian. Hwang Su Ji, dia adalah yeoja yang baik. Kalian hanya belum mengenalnya lebih dekat saja. Percayalah…”

Su Ji pun menatap Key tajam. Untuk apa Key  berkata seperti itu pada teman-temannya? Apakah Key sedang berusaha menyatukannya dengan teman-temannya. Huft, ia merasa dipermalukan sekali! “Key-ya, aku tidak menerima perlakuan ini,” bisiknya. “Aku bukan…”

Tiba-tiba Key merangkul Su Ji. “Dan dia telah menjadi yeojachinguku sejak kemarin!” dusta Key sambil tersenyum lebar.

Su Ji melotot. Ia begitu shock mendengar pernyataan Key yang di luar dugaannya itu. Kenapa Key berkata seperti itu? Ketika ia akan mengangkat tangannya untuk menampar wajahnya, tangan Key sudah lebih dulu menahannya. Key melempar senyum pada Su Ji. Senyum yang sangat memuakkan bagi Su Ji, dan saat itu juga satu-satunya hal yang ingin dilakukan Su Ji adalah, menonjok wajah Key.

“Yeojachingu?” gumam Minho dengan tenang, menutupi keterkejutannya. Ia menjadi penasaran pada Key, sebenarnya apa yang sedang direncanakan namja itu?

Su Ji melirik kesal ke arah Key. Saat ini mereka bahkan duduk bersebelahan di pesawat. Berkali-kali Su Ji menghela nafas berat, berusaha menerima semua kenyataan ini. Jangankan duduk berdua, bernafas satu udara dengannya pun sudah membuatnya hampir mati kesal.

“Ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Key memecah keheningan di antara mereka berdua.

Sekali lagi Su Ji mendesah malas. “Tidak.”

Key masih menatap Su Ji dengan sorot matanya yang lembut. “Aku sudah menjadi kekasihmu. Tidakkah kau senang?”

Kali ini Su Ji menatap Key dengan garang. “Siapa yang pernah berkata seperti itu? Kapan aku menyatakan kalau aku mencintaimu?”

“Baru saja…” jawab Key sambil tersenyum penuh kemenangan.

Su Ji tertegun. Kemudian ia menutup mulutnya. “Bukan…”

“Sudahlah, aku hanya ingin bersahabat denganmu..” potong Key cepat.

“Sahabat?” Su Ji mendecak sekali. Bagaimana bisa namja ini mengaku ingin bersahabat dengannya? Bukankah sudah jelas kalau Key menyukainya?

“Ne, otte?”

“Sirreo,” jawab Su Ji mantap. “Aku tidak mau bermain-main dengan namja sepertimu!” lanjutnya tegas.

“Baiklah… kita buktikan saja, Su Ji-ssi. Aku akan membuktikan padamu, kalau aku layak menjadi sahabatmu,” tantang Key dengan percaya diri. Lalu ia tersenyum penuh rahasia.

Su Ji mencuri-curi pandang ke arah Minho yang berdiri di sebelah Key. Namja itu malah mengangkat bahunya. Su Ji pun mendengus sebal. Sial, ia kenapa ia harus berurusan dengan Key? Apa yang harus dilakukannya?

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Su Ji pada Minho begitu mereka sudah sampai di bandara Haneda , Tokyo. Sebelumnya, Su Ji mencari sebuah tempat yang benar-benar sepi hingga mereka bisa bicara berdua.

“Kenapa kau tidak mengikuti permintaannya saja saja? Hanya sahabat kan?” jawab Minho semakin membuat Su Ji naik darah.

“Kau temannya, kau mungkin saja berkata seperti itu kan?” balas Su Ji. “Minho-ya, begini aku sama sekali tidak mau berurusan dengannya. Arasseo? Sama sekali tidak, tak ada pengecualian!”

“Mau bagaimana lagi? Sayangnya aku tidak bisa melihat apa yang akan terjadi padamu..”

“Kenapa? Bukannya kau pernah bilang kalau kau memiliki kemampuan melihat masa depan setelah kau meninggal?” paksa Su Ji.

“Tapi kali ini aku tidak bisa melihat masa depanmu. Mungkin, karena kita berada salam satu nyawa, maka aku tidak bisa melakukannya,” jelas Minho panjang lebar dan semakin membuat Su Ji putus asa. “Lagipula kenapa kau begitu membencinya? Tidakkah ia tampan dan baik hati? Cobalah, mungkin ia namja yang baik,” saran Minho.

Su Ji menatap Minho dengan kesal. “Kau bisa berkata seperti itu karena…”

“Aku temannya?” sela Minho. “Maka dari itu. aku tahu siapa dia, aku mengenalnya dengan baik. Percayalah… kau akan baik-baik saja. Kau… kau tidak akan terluka lagi.”

“Apa? Apa maksudmu? Kapan aku terluka?” Su Ji menangkap ada yang aneh pada perkataan Minho.

“Ah… tidak, maksudku kau akan bahagia dengannya. Percayalah,” sangkal Minho cepat. Ia tersenyum memberi keyakinan pada Su Ji. Meskipun yeoja itu masih merasa ada yang aneh padanya.

“Baiklah, sekarang saya akan membagikan kunci kamar kalian masing-masing,” ucap Shin sonsaengnim begitu semua murid sudah berkumpul di hotel.

Su Ji tidak benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan Shin sonsaengnim. Ia memperhatikan keadaan sekitarnya. Hm, lumayan juga sebenarnya bisa pergi ke Tokyo. Tapi kalau mengingat Key… Huft, rasanya ia ingin pulang ke Seoul saat ini juga!

“Apa kau sedang memikirkanku?”

Su Ji langsung menoleh ke samping. Matanya pun terbelalak lebar saat melihat Key yang tiba-tiba sudah ada disana entah sejak kapan. “Kau? Mau apa kau kesini?” seru Su Ji hingga memancing perhatian semua orang disekitarnya.

Key pun merangkul Su Ji. Ia menyengir lebar, agar orang-orang di sekitarnya tidak curiga. “Haha… chagi, kau terlalu senang ya?”  kata Key sambil tersenyum ke arah Su Ji.

“Mwoya?” bisik Su Ji bingung.

“Lakukan saja… jawab ‘ne’,” paksa Key dengan mata dibesar-besarkan, entah untuk apa.

“Haha… ne,” akhirnya Su Ji menuruti Key. Setelah semua orang itu mengalihkan pandangannya, Su Ji langsung menepis tangan Key dengan kasar. “Jangan gunakan cara licik ini lagi, ara?”

“Arasseo…” ucap Key dengan nada meledek. Ia pun melirik penuh arti ke arah Su Ji. Ketika yeoja itu menatapnya, Key langsung mengalihkan wajahnya.

Su Ji meletakkan kopernya di sudut ruangan. Setelah itu, ia melihat ke arah seorang yeoja yang memandangnya sambil tersenyum. Dia adalah yeoja yang akan menjadi teman sekamarnya selama beberapa hari ini.

“Annyeong haseyo, naneun Hwayoung imnida,” ucap yeoja itu memperkenalkan dirimu. “I.. Ireumi mwoya?”

“Ah, Hwang Su Ji imnida,” jawab Su Ji sedikit kaku.

“Kau murid kelas 12 IPS 6 kan? Pangayo… aku dari kelas 12 IPS 5,” cerca Hwayoung lagi. Su Ji hanya membalasnya dengan senyuman. Kali ini ia sedikit menyesali dirinya yang tidak pandai menyusun kata-kata.

Minho memperhatikan Su Ji dari sudut ruangan sambil terkekeh geli. Ia tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Ketika seorang Hwang Su Ji terlihat kikuk dengan teman satu kamarnya.

Su Ji pun melirik ke arah Minho dengan kesal.

“Bicaralah dengannya,” bisik Minho meskipun tak ada yang bisa mendengarnya kecuali Su Ji sendiri. Lalu ia terkekeh lagi.

“Hehe… kau, lebih pintar dariku,” kata Su Ji berbasa-basi. Namun didengarnya Minho langsung tertawa keras.

“Hahahaha…. hmmmpf! Su Ji-ya, apa kau baru sadar kalau kau adalah murid terbodoh di sekolah?” ledek Minho puas.

Su Ji hanya menatapnya tajam. Seolah ia berkata awas-kau-akan-aku-balas-nanti! Tapi Minho tetap menertawainya tanpa henti.

“Ania… aku tidak pintar juga kok,” balas Hwayoung dengan manisnya. Tiba-tiba ia mengulurkan tangannya.

“Mwoya?”

“Senang menjadi temanmu. Ternyata kau tidak seseram dengan apa yang diceritakan teman-temanku,” ujarnya sambil tersenyum ceria.

Su Ji mengerutkan keningnya. Yeoja ini begitu tulus. Ia bahkan tidak segan untuk menyapanya lebih dulu. Su Ji baru menyadari sesuatu, kalau dunia tidak sesepi yang ia pikirkan. Akhirnya ia menyambut uluran tangan itu. “Ne, gomawo..” sahutnya kemudian mereka berdua tertawa.

Minho melihat pemandangan langka itu dengan bangga. Syukurlah, perlahan Su Ji sudah mau berubah. Ia tak seburuk dulu lagi. Dan karena itu, sedikit demi sedikit Minho mulai menerima jika nyawanya telah diberikan pada Su Ji.

“Su Ji-ya, kau tidak mau keluar bersamaku?” tanya Hwayoung yang sudah bersiap akan keluar kamar.

Su Ji menoleh sambil tersenyum. “Ania… aku belum siap-siap. Kau duluan saja,” jawab Su Ji.

“Arasseo. Aku duluan!” ucap Hwayoung lalu memakai sepatunya dan keluar dari kamar setelah melambaikan tangannya pada Su Ji.

Sepeninggal Hwayoung, Su Ji langsung mencari-cari Minho. Ia tak melihat namja itu berkeliaran sejak sore tadi. Kenapa roh itu tiba-tiba menghilang? Aneh sekali, tiba-tiba ada dan tiba-tiba menghilang. Eh, bukankah hantu memang seperti itu?

“Jangan mencariku. Aku sedang berada di Korea, di rumah Cheon Sa noona,” terang sebuah suara tiba-tiba. Su Ji pun langsung mengedarkan pandangannya. Kenapa ada suara namun tidak ada orang? Aissh.. menjadi hantu memang membingungkan!

Akhirnya Su Ji memutuskan untuk keluar kamar. Minho ada di rumah Cheon Sa? Aissh… sungguh sulit dipercaya! Kenapa hantu masih memiliki perasaan seperti manusia? Apa semua hantu seperti itu?

“Su ji-ya, kau akan keluar juga?”

Su Ji menoleh ke belakang. Ketika melihat Key sedang berjalan menghampirinya, ia kembali mendengus sebal. Huft, kenapa namja itu selalu ada dimana-mana sih? Apa Key tidak bisa sehari saja tidak mengganggunya? Saking kesalnya, Su Ji pun mempercepat langkahnya mendahului Key.

“Ya, kenapa tidak mau menungguku, huh?” goda Key sambil menyamakan langkah Su Ji. Yang diajak berbicara malah memasang wajah super jutek.

“Jangan menggangguku, ara?”

Key terkekeh kecil. Aku tak sedikitpun mengganggumu, Su Ji-ya,” balas Key dengan tenang. “Kau mau kemana?”

“Bukan urusanmu!”

Key kembali terkekeh. Su Ji meliriknya aneh. Kenapa namja ini suka sekali tertawa seperti itu sih? Tapi Su Ji tak akan menanyakannya, karena mereka akan memasuki sebuah lift. Su Ji terus berdoa di dalam hati, agar lift terbuka dan banyak orang di dalamnya. Namun, ketika pintu lift terbuka, Su Ji pun terpaksa melengos. Lift kosong.

“Kkaja,” ajak Key.

“Kau saja, aku lift yang selanjutnya,” tolak Su Ji.

“Ania…” Key pun memaksa sambil menarik tangan Su Ji hingga masuk ke dalam. Su Ji melirik Key kesal. Rasanya ingin sekali ia mencekik leher Key di tempat sepi seperti ini.

“Su Ji-ya, apa aku boleh menceritakan satu hal padamu?” tanya Key memecah keheningan. Atau memang dia yang antusias bicara sejak tadi.

Su Ji tak menjawab.

“Kau tahu seberapa bahagianya aku ketika bisa satu sekolah denganmu. Saat itu seperti hari keberuntunganku. Apalagi saat pertama kalinya aku melihatmu secara langsung,” terang Key sambil tersenyum. “Yah… meskipun responmu sangat buruk terhadapku, tapi aku mengangggap kalau kau adalah yeoja yang tak mudah untuk didekati. Hm, aku menjadi semakin penasaran padamu.”

Su Ji masih terdiam. Meskipun hatinya mulai tertarik mendengar cerita Key. Tapi ia merasa masih waras hingga tidak mau mempermalukan dirinya sendiri.

“Minho pernah berkata padaku, kalau kau adalah yeoja yang selalu menyendiri…”

Su Ji termangu. Minho? Apakah selama perasaannya benar, kalau Minho memang sudah mengintainya sejak lama?

“Jujur, sejak Minho berkata seperti itu, aku mulai menyukaimu. Kenapa? Karena aku juga pernah memiliki nasib sepertimu. Sendiri, tak ada yang mau berbicara denganku. Ditambah, orang-orang disekitarku malah menganggapku sombong.”

Tatapan Su Ji datar ke depan. Tapi bibirnya membentuk senyum kecil, sehingga Key tidak menyadarinya.

“Aku ingin menyelamatkanmu, Su Ji-ya. Aku ingin membawamu keluar dari dunia itu. Kau tahu, dunia itu cerah. Mereka selalu menantimu,” ungkap Key sambil menatap Su Ji penuh simpati.

Sekarang Su Ji membalas tatapan Key. Ia juga memperlihatkan senyumnya. Namun senyum itu perlahan berubah menjadi senyum angkuhnya lagi. “Kau tidak perlu melakukannya, karena sudah ada orang lain yang berusaha melakukannya untukku. Key-ssi..” cetus Su Ji pelan, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka ketika ia menyelesaikan kalimatnya itu.

“Nugu?”

Su Ji hanya tersenyum tanpa berniat menjawabnya. Lalu ia pun berjalan menjauhi Key. Meninggalkan namja itu yang masih bertanya-tanya.

To be Continued…

J  Woaaa… sampai juga di part 6! Ottohkae? Cocok gak ya Key dan Su Ji? Apa Key berhasil membuat Su Ji mencintainya?

J  Lalu, bagaimana dengan kelanjutan cerita Minho-Cheon Sa? Apakah mereka tetap akan saling mencintai? Tunggu next part! =D

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “A Ghost Inside Me – Part 6”

  1. Authooooor!!!
    Akhirnya keluar juga part 6 nya. Huaaaaa lama amaaatt. XDD
    Tapi gak papa, aku puaaaas banget….
    Moga moga itu Su Ji suka ama Key, biar Minhonya buat aku huahahahah #pletakkkk
    Next jangan lama-lama yak thorr!! XDD

  2. key sama su ji???
    sepertinya bagus juga….
    su ji meskipun minho sudah menolong, tak ada salahnya kan kalau key juga ikut membantu…
    dua orang lebih baik daripada satu orang…
    ditunggu lanjutannya…

  3. kkyyyaa..
    ternyata minho udah ngincar suzy..??
    trus cheonsa noona..?
    addduuuhh suzy kenapa swot bener deket key..
    padahal key oppa kan baik..
    kkeeyy oppa hwaiting….

  4. HUAAAA :3
    aku suka part ini. Kekekeke minho bkin kesel suji, key juga. Ckckckc -_-
    tp lucu ish 😀 agak ga suka sm tingkah key kali ini -3-
    daebak 😀 next part neee

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s