Touch Your Heart – Part 12

Title            : Touch Your Heart Part 12

Author        : tiara_jinki

Main Cast   : Lee Taemin, Choi Yoona, Lee Jinki (Onew), Choi Yoonra

Other Cast  : Lee Taesun, Lee Junki, Kim Kibum(Key), Kim Jonghyun, and others.

Length        : Sequel

Genre         : Romance, Family

Rating        : PG

*Taemin’s pov*

Aku tidak pernah suka dengan bau rumah sakit. Memikirkan untuk terbaring di rumah sakit saja tidak pernah terlintas di otakku. Aku menelan ludahku, untuk pertama kalinya aku menjalani operasi. Apakah akan menyakitkan?. Aku menatap Taesun hyung yang sedang menatapku dengan senyumnya. “tenang saja, semuanya akan berjalan dengan lancar”ucapnya.

Aku hanya mengangguk, tak lama dua orang perawat masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk membawaku masuk ke dalam ruang operasi. Bisa ku rasakan detak jantungku yang cepat. Aku menarik udara sebanyak mungkin lalu menghembuskannya, berusaha menenangkan diriku dari pikiran buruk akan operasi yang akan ku jalani.

Lampu-lampu yang menerangi koridor sedikit menyilaukan untukku. Bisakah aku menolak untuk di operasi saat ini?. Anni, tidak, aku tidak boleh. Ingat Lee Taemin, ini semua demi kesembuhan Ayahmu. Mungkin aku akan merasa berguna sebagai anak setelah menjalani operasi ini.

Entah mengapa, aku merasa sudah begitu lama  tidak menatap wajahnya dalam jarak yang cukup dekat ini. Kembali rasa canggung ku rasakan, jantungku semakin berdegup dengan cepat. Dan tanpa ku sadari, air mataku menetes.

Aku tahu, aku merindukannya, aku benci diriku yang selama ini terus berprasangka buruk dengannya. Waktu yang begitu lama, jarak yang terasa amat jauh antara aku dan dia. Kini semuanya tidak terasa lagi. Appa, mianhae.

Aku tahu, seharusnya kemarin atau setibanya aku di sini, aku memelukmu dan tersenyum padamu. Namun, aku tidak melakukannya. Aku tidak tahu mengapa, tapi rasa canggung yang ku rasakan. Membuatku sulit untuk melakukan itu semua. Apa yang harus aku lakukan agar aku dapat lebih terbuka padamu? atau setidaknya bertingkah seperti anak pada ayahnya. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membunuh kecanggungan saat berhadapan dengan kau, appa.

Jarum suntik itu menembus kulitku, mataku perlahan terpejam. Wajahnya semakin lama semakin tidak terlihat. Dan semuanya menjadi gelap.

Aku berdiri di sebuah taman yang tak asing bagiku, salju putih turun dari langit, menghiasi setiap sudut taman ini. Suara gelak tawa yang juga familiar untukku terdengar olehku, mataku menatap ke arah bangku yang sudah terisi oleh tiga orang yang sedang bercengkrama di sana. Namun, aku tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas. Karena saat ini aku berada di belakang mereka.

appa, kajja, kita main salju lagi. Bukankah appa sudah janji denganku?”. Tunggu, aku kenal suara ini, anak kecil itu, bukankah itu aku?.

hei, Taemin. kau sudah bermain salju denganku. Apa itu tetap tidak cukup untukmu?”. Dan anak kecil yang memakai topi wol berwarna biru tua itu, bukankah itu Taesun hyung?.

baiklah, kajja kita bermain perang salju. Yang kalah, harus membeli ice cream. Otthae?”. Sudah jelas suara berat itu adalah dia. Oh, Tuhan, kenapa aku harus melihat ini kembali?.

setuju! Kalau begitu aku tidak akan kalah!”.

ckck, selalu begitu. Kau tahu Taemin-ah, kau menang karena appa dan aku -terpaksa karena perintah appa. Mengalah darimu. Seandainya saja aku dan…”. Masih ku ingat dengan jelas kenangan ini, senyum terukir di wajahku. Aku benar-benar merindukan saat-saat seperti itu.

heish, sudah jangan banyak bicara Taesun. Bukankah kita akan bermain perang salju? Kajja!”. Dan juga, senyum dari wajahnya. Rasanya seperti beratus-ratus tahun tidak melihat senyum lembut itu.

Air mata membasahi pipiku, tak dapat ku tahan tangis ini lagi. Banyak waktu yang ku lewatkan tanpanya dan hyung. Dan aku baru menyadarinya saat ini. Tahun-tahun yang ku lewati tanpa suara mereka, hari-hari yang ku lewatkan tanpa senyum dari wajah mereka, menit demi menit yang ku lewatkan dengan perasaan benci pada mereka. Aku menyesal, sangat menyesal atas sikap konyol yang telah ku jalani untuk waktu yang lama.

hyung! Kau curang! Aku tidak bisa terima ini. Kita ulang permainannya!”. Sosoknya yang dulu benar-benar ku rindukan.

mwo?! Tidak bisa, aku tidak curang. Hei, Taem…”. Dan jika aku di berikan permintaan, aku ingin kembali ke masa lalu. Di saat kebahagiaan masih melengkapi keluargaku. Di saat umma masih ada.

baiklah. Kita ulang permainannya”. Dia yang selalu menatapku dengan kasih, senyum lembut yang terus terukir di wajahnya saat dia menatapku.

appa!”.

“yeay! Kajja, kita ulang permainannya. Hyung, sudah, kita ulangi saja permainannya”.

Taesun, turuti saja permintaan adikmu”. Aku ingin memeluknya saat ini.

Dalam sekejap mata, aku berpindah tempat dan saat ini aku berada dalam sebuah rumah. Tak jauh dari tempatku berdiri, terdapat meja makan yang sudah terisi oleh makanan. Bangkunya pun juga sudah di duduki. Seorang wanita datang menghampiri meja itu dengan mangkuk yang cukup besar di tangannya.

Itu umma. “Samgyetang sudah siap!”. Suara itu, suara lembut dan terdengar riang itu. Aku sangat merindukannya.

wah, sepertinya enak!”.

“harumnya…Umma masakanmu memang nomor satu!”.

“bolehkah samgyetang ini untukku semua? Ayolah, Chaerin-ah, aku sangat lelah hari ini”. Kehangatan yang dulu selalu ku rasakan, aku ingin merasakannya lagi. setelah, sekian lama aku tidak merasakannya.

ya, makanan ini akan kita makan bersama. Walaupun kau lelah Junki, tapi anak-anak tetap harus memakan masakanku ini. Jadi, mungkin lain kali saja. hehe”. Tawa itu, sudah lama tak ku dengar.

huh, baiklah”.

Seandainya, dulu mereka tidak berpisah. Seandainya dulu, umma tidak memintanya untuk berpisah, semuanya mungkin tidak akan seperti ini. Aku memejamkan mataku, suara itu mulai terdengar, suaranya yang berat dan riang itu.

hiks, eomma andwae! Andwae! Kau tidak boleh pergi! Jebal, jangan tinggalkan aku sendiri! Eomma!”. Aku membuka mataku, kini aku berdiri di sudut kamar di mana umma menghembuskan nafas terakhirnya. Kenapa aku harus melihat ini kembali?.

Taemin-ah, kau tidak sendirian. Masih ada aku, Hyunji ahjumma, Kibum, Jonghyun dan masih banyak lagi yang menemanimu”. Saat itu Onew hyung menyentuh bahuku dan menatapku dengan hangat. Senyumannya itu membuatku cukup tenang saat itu.

tidak! Semuanya berbeda! aku hanya ingin bersama eomma! Eomma, ireona! Jebal ireona!”. Mataku terpaku menatap sosok yang sedang memerhatikan diriku –Aku yang masih berumur 7 tahun-  dari jendela kamar. Aku terkaget saat melihat dia sedang berdiri dengan tatapan sendu ke arahku, air mata membasahi pipinya. Jadi, saat itu dia ada di luar kamar? Tapi, kenapa dia tidak masuk?.

Junki, masuklah. Taemin membutuhkanmu”. Itu suara Hyunji ahjumma, astaga kenapa ahjumma tidak memberitahukannya padaku?.

tidak, lebih baik aku di luar saja. Melihatnya dari sini saja, aku tidak sanggup”.

tapi, kau lihat sendiri kan. Taemin benar-benar terpukul saat ini. Seharusnya sebagai ayahnya kau menenangkannya”.

ada Onew, Hyunji. Lagipula, aku terlalu takut akan kemarahan Taemin saat dia melihatku. Kau tahu kan, sudah dua tahun aku tidak menemuinya. Biarlah seperti ini, Hyunji”.

Junki…”.

lagipula, di matanya, aku bukanlah ayah yang baik dan pada kenyataannya memang begitu, bukan?. Aku memang pecundang”. Dia tersenyum getir, kepalanya tertunduk dan air mata masih meluncur dari pelupuk matanya.

Tidak, saat itu aku tidak mempunyai pemikiran seperti apa yang dia pikirkan. Saat itu, aku benar-benar mengharapkan sosoknya untuk memelukku dan mengusap punggungku. Rasa benci itu belum datang padaku. Bodoh, kenapa dia berpikiran seperti itu?.

bukan ini yang di inginkan Chaerin”.

yeah, bukan mauku juga. waktu yang membuat semuanya seperti ini”.

Junki, Chaerin berpisah darimu karena tidak ingin melihatmu bersedih di saat dia tiada. Dia pasti tidak menginginkan hubunganmu antara Taemin seperti ini. Dia ingin kau tetap berada di sisi Taemin. Junki, ayolah, Taemin membutuhkanmu”.

apa kau yakin? Sudahlah, Hyunji. Ku rasa, tidak ada gunanya aku masuk ke dalam. Sepertinya aku harus pergi, ouh iya Hyunji. Taesun sudah berada di rumah –Rumah Chaerin. Dia menunggu kalian di sana. Dia akan menginap satu malam, besok aku akan menjemputnya.”.

Rasanya aku ingin berteriak padanya saat ini juga, tapi percuma jika aku berteriak pun tidak ada yang mendengar. Aku mendesah, kenapa dia benar-benar yakin kalau aku membencinya saat itu?. Harusnya, ia mendengar perkataan Hyunji ahjumma. Bodoh, benar-benar bodoh!.

maafkan aku, Aku tidak bisa menjaga Taemin dengan baik. Aku tahu Chaerin-ah, aku memang seorang pecundang. Aku tidak pantas untuk menyandang gelar Ayah baik untuknya lagi. Aku…sungguh menyesal”. Aku ingat, saat itu tanpa sengaja aku melihatnya sedang menaruh sebucket bunga lily putih di atas makam umma. Namun, aku tidak menyadari bahwa dia sedang menangis saat itu. Saat melihat wajahnya aku langsung pergi.

Kesalahanku dia menjadi seperti ini. Aku bisa menerimanya, menerima jikalau dia benar-benar membenciku. Walau sebenarnya, hatiku benar-benar sakit”. Seharusnya dia mendampingiku sejak Umma pergi. Tapi, dia terlalu takut. Semuanya bersalah, jika semuanya tidak mengandalkan egonya, mungkin tidak akan seperti ini.

seandainya saat itu kau memberitahukannya padaku. Seandainya kau tidak menyembunyikannya dan kita tetap bersama. Mungkin, tidak akan seperti ini”. Tapi, semuanya telah terjadi. Dan baik aku maupun orang lain tidak dapat mengubahnya.

tapi, aku tahu. Semuanya juga bukan kehendakmu. Tidak ada yang menginginkan seperti ini. Tidak sepenuhnya kau yang bersalah. Aku juga bersalah”.

Sudah cukup, Tuhan, ku mohon aku tidak ingin melihat kenangan itu lagi. Rasa bersalahku, penyesalanku akan semakin bertambah. Dan rasa kehilangan itu semakin membuatku sesak. “Taemin-ah”.

Aku terdiam, suara itu. Benarkah itu dia?. Kepalaku masih belum bergerak ke arah sumber suara. “apa kau tidak merindukan eomma?”.

Tentu saja aku merindukannya, aku sangat merindukannya. Dia memakai dress yang menjuntai sampai bawah lututnya, wajah itu masih bersinar, tatapan hangat yang sudah lama tak ku lihat kini dapat ku lihat. “eomma! Bogoshippeoyo!”. Aku memeluknya dengan erat, melepas rindu yang selama ini ku rasakan.

Tangannya yang lembut menepuk punggungku dengan pelan. “nado, Taemin-ah. Kau sudah besar sekarang”. Suara lembut darinya, dapat ku dengar lagi saat ini.

“maafkan eomma karena tidak bisa menemanimu selama ini”. Senyum itu, aku merindukan semua darinya.

“gwenchana, masih ada yang menyanyangiku di dunia. Jadi, aku tidak begitu kesepian. Yeah, walaupun jauh di lubuk hatiku. Aku benar-benar merasa kesepian. Setiap hari merasakan seperti ada sesuatu yang hilang”. Keluarga, yeah itu yang hilang.

“keluarga, kau kehilangan sosok ayah dan kakak, bukan?”. Aku mengangguk, kepekaan hati seorang ibu pada anaknya sudah tidak dapat di ragukan lagi.

“maaf, karena eomma, semuanya menjadi seperti ini”.

Tanganku menyentuh pergelangan tangannya, bibirku membentuk sebuah senyum. Senyum tulus yang terbentuk atas keinginan hatiku. “eomma, kau tidak salah. Tuhan telah merencanakan seperti ini”.

“kau sudah banyak belajar Taemin”. Guratan halus di wajahnya terlihat, namun tak menghilangkan kecantikan dirinya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Mataku menatapnya dengan intens. Memperhatikan setiap lekuk wajahnya, tidak ada yang berubah masih seperti dulu. Yang berbeda hanyalah raut sendu yang dulu ku lihat kini tidak terlihat. “Appa-mu, kau masih membencinya?”.

“tidak, hanya saja…”. Aku tidak sanggup melihat wajah itu, terlalu canggung.

“hanya saja kau merasa canggung?”. Aku mengangguk, rasanya begitu kaku di depannya.

“seiring waktu, canggung itu akan hilang”. Senyumku melebar saat melihat senyuman yang menenangkanku. Ku harap itu akan terjadi, karena bagaimanapun juga aku ingin hubunganku dengannya sepeerti dulu. Di mana aku dapat dengan mudahnya menggenggam tangannya, memeluknya, mengobrol dengannya, ah, perbubahan ini tidak aku suka.

“semoga”.

Umma kembali mendekapku ke dalam pelukannya, aku membalasnya. Walau aku tahu ini tidaklah nyata, namun setidaknya bertemu dirinya yang sudah lama pergi memberi perasaan bahagia yang tak terhingga. “Eomma sangat bahagia jika kau bahagia. Ingatlah, semua orang tua akan selalu bahagia dan tersenyum ketika melihat anaknya bahagia. Taemin, ayahmu sangat menyanyangimu. Eomma harap kau bisa memeluknya setelah ini. Selamat tinggal”.

Kilauan cahaya dari lampu yang menerangi ruangan ini adalah yang pertama kali ku lihat. Lalu di susul dengan wajah Taesun hyung yang menatapku dengan cemas. “Taemin-ah, kau sudah sadar? Apa yang kau rasakan? Apakah ada yang sakit? Apa kau haus? Atau lapar? Sungguh, kau membuatku cemas”rentetan pertanyaan darinya menyambutku dari mimpi yang sangat indah.

Aku menarik bibirku untuk tersenyum, “aku tidak apa-apa. Memangnya sudah berapa hari aku tidak sadar?”.

“tiga hari! Kau membuatku tidak bisa tidur. Kau harus mentraktirku sekeluarnya dari rumah sakit”tuntutnya dan memasang senyum di wajahnya.

Yang benar saja, harusnya dia yang mentraktirku. “aku adalah adikmu. Aku tidak mau”.

“haha, hanya bercanda”.

“bagaimana keadaan…ehm appa?”, hatiku kini resah akan keadaannya. entahlah itu terjadi begitu saja.

Taesun hyung terdiam sejenak lalu memperlebar senyumnya. “baik, dia sudah sadar. Kau ingin melihatnya?”.

Tidak, mungkin tidak saat ini. Aku tidak yakin jika rasa canggungku akan menghilang saat di depannya nanti. Lagipula, kondisi tubuhku masih lemah. “mungkin besok”.

*Taemin’s pov end*

***

“bagaimana keadaan Taemin?”. Onew menghela nafasnya, sudah –mungkin ratusan kali Yoona menanyakan hal yang sama padanya.

“molla. Taesun belum menghubungiku lagi”. Jawaban yang keluar dari mulut Onew tidak bisa menghilangkan resah yang sedang di rasakan Yoona.

“aish, anak itu. Membuat orang tidak tenang saja”gumam Yoona, Taemin belum sadar selama 3 hari ini dan itu benar-benar membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.

“tenanglah, anak itu akan baik-baik saja”

“bagaimana bisa? Sudah tiga hari oppa, tiga hari!”. Onew menepuk bahu Yoona pelan, sudah belakangan ini Yoona mengganggu malamnya dengan pertanyaan mengenai Taemin. Yeah, Onew mengerti tapi setidaknya tidak sampai mengganggu waktu istirahatnya.

“aish, baiklah. Aku akan menelfon Taesun sekarang. Dan jebal, berusahalah untuk tenang. Aku risih melihatmu seperti ini”pinta Onew dan menelfon Taesun. Ia sudah lelah dengan ketidak tenangan Yoona.

“yobossaeyo, Onew?”.

“maaf, jika aku mengganggumu –lagi. bagaimana keadaan Taemin saat ini?”. Onew sudah berpuluh-puluh kali menelfon Taesun dalam satu hari ini. Menanyakan hal yang sama setiap ia menelfon Taesun.

“ouh, dia. Dia sudah sadar. Apa kau ingin berbicara padanya?”. Onew tersenyum girang, matanya melirik ke arah Yoona.

“ok”.

Lalu Onew menyodorkan ponselnya pada Yoona yang sedang menggigit kuku ibu jarinya. “dia sudah sadar. Bicaralah padanya”ucap Onew dan seperti yang di perkirakannya Yoona akan terkejut.

“jinjayo oppa? Akhirnya…”. Yoona mendesah lega, rasanya hatinya sudah tenang mendengar berita dari Onew.

“yobossaeyo”. Akhirnya Yoona dapat mendengar suara itu lagi.

“ya! Kau namja menyebalkan. Kenapa senang sekali membuatku resah?!”ujar Yoona melepaskan semua rasa resah yang tadi melandanya.

“hehe, maaf. Apakah kau begitu mengkhawatirkanku?”.

“bodoh! Bagaimana keadaanmu saat ini? Apakah masih lemas?”. Nada suaranya melembut, Yoona tentu saja mengkhawatirkan keadaan Taemin sampai-sampai semua makanan terasa hambar di mulutnya.

***

Onew kembali mengikuti Yoonra dari belakang. Selalu seperti ini, tapi apa yang bisa di perbuatnya? Gadis itu tidak ingin dirinya berada di dekatnya, sungguh menyesakkan. “sudahlah, aku tahu kau mengikutiku”. Ucapan Yoonra membuat Onew terkaget, bagaimana tidak ? gadis itu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke belakang.

Onew masih diam, tidak menjawab apapun agar gadis itu kembali melanjutkan langkahnya. Namun, Yoonra melangkahkan kakinya mendekat kepada Onew. “aku mohon, Onew, berhentilah seperti ini”, suara itu terdengar sendu. Onew tak tahan mendengarnya, tangannya menarik Yoonra ke dalam pelukannya.

“bukankah sudah lama kita tidak berpelukan seperti ini? Apa kau tidak merindukan kenangan-kenangan itu? Selama ini aku merindukannya dan berharap aku bisa bertemu denganmu. Yoonra-ya, sampai kapanpun kau adalah sahabatku, tidak perduli kau terus menolakku, aku tetap akan berada di sampingmu. Karena, tidak ada kata ‘akhir’ dalam persahabatan”. Onew mengeratkan pelukannya, membiarkan Yoonra mendengarkan degupan jantungnya yang tidak terkendali.

Yoonra hanya diam, saat ini air matanya sudah meluncur membasahi pipinya. Jika terus seperti ini, mungkin perasaannya terhadap Onew tidak akan menghilang. Dan itu yang di takutkan Yoonra. “bisakah kau melepaskan pelukanmu? Aku tidak bisa bernafas”ujar Yoonra.

Onew tidak melakukan apa yang di pinta oleh Yoonra. Ia masih memeluk Yoonra, melepaskan semua rasa rindu yang selama ini di pendamnya. “satu menit. Hanya satu menit, Yoonra-ya. Jebal..”. Walau rindunya tidak dapat terbalaskan sepenuhnya, namun setidaknya pelukan ini akan mengurangi rasa rindu itu.

Sebenarnya Yoonra sangat merindukan pelukan ini. Ia juga merasakan apa yang di rasakan Onew. Setiap hari, waktu berjalan begitu lamban baginya. Setiap hari, ia begitu tersiksa karena merindukan suara khas Onew. merindukan setiap hal yang ia lakukan bersama Onew. Ia benar-benar merindukan semuanya. “Onew…”.

Onew melepaskan pelukannya, kini kedua tangannya beralih pada bahu Yoonra. kedua bola matanya menatap mata Yoonra. Tatapan kosong itu dapat ia lihat kembali. “Yoonra, karena aku ini sahabatmu, aku selalu berada di sampingmu. Selalu siap untuk menahanmu ketika terjatuh, bersedia meminjamkan bahuku untukmu menangis, dan selalu siap untuk mengusir kesepian yang kau rasakan. Tidak perduli kau terus menolakku, tidak perduli kondisimu saat ini. Aku akan selalu berada di sampingmu”.

Yoonra yakin saat ini Onew pasti melihat air matanya. Air matanya kini meluncur tak terkendali. Kenangan yang ingin ia buang kini teringat kembali. “hajiman…”.

Onew terus memperhatikan wajah Yoonra dan menunggu Yoonra melanjutkan perkataannya. Ingin rasanya ia mengusap air mata yang terjatuh itu. “aku takut, aku takut sesuatu itu akan berkembang lebih jauh dan hanya menyisahkan perih padaku”lanjut Yoonra dan melepaskan tangan Onew dari bahunya.

Onew tidak mengerti apa yang di katakan Yoonra. “selama ini, aku berusaha untuk melupakanmu dan juga perasaan ini. Kau tahu, rasanya begitu sulit. Aku tahu, aku ini begitu lemah, aku buta. Semuanya gelap di mataku. Dan aku juga tahu, aku tidak pantas untuk menjadi seseorang yang selalu berada di sampingmu. Aku terlalu lemah. Onew, tahukah kau kalau selama ini aku juga mencintaimu?! Mencintaimu tanpa bisa berkata apapun padamu. Hanya menyimpannya dan berusaha untuk menguburnya. Namun, sekarang, kau menggalinya kembali dan membuatnya tidak bisa menghilang”.

Yoonra membalikkan tubuhnya dan berlari. Berlari walau ia tidak bisa melihat apapun. Berlari walau semuanya gelap di matanya. Saat ini, ia hanya ingin sendiri. Ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Sementara itu, Onew  masih berdiri mematung di tempatnya. Terkaget dengan apa yang baru di katakan Yoonra tadi. gadis itu, mencintainya?.

***

Kini, Taemin hanya bisa diam dengan kepala tertunduk. Kecanggungan itu masih belum menghilang. Ia masih belum bisa untuk menatap wajahnya. “terima kasih Taemin”, suara itu terdengar lemah namun masih terasa kasih di dalamnya.

“tidak perlu terima kasih. Ini sudah menjadi kewajibanku”. Taemin melirik ke arah wajah itu, senyum sedang mengembang di bibirnya. Taemin tersenyum tipis.

“apa… sekarang kau sudah bisa menerima semuanya?”tanya Junki, membuat Taemin mendongakkan kepalanya dan menatap wajahnya.

“yeah, tentu. Maafkan aku”. Namun sedetik kemudian Taemin kembali menundukkan kepalanya. Ia masih terlalu canggung.

“untuk apa? Appa yang bersalah Taemin. Kau tidak bersalah, untuk apa meminta maaf?”.

“bukan hanya appa yang bersalah. Aku juga bersalah, semuanya juga.”. Taemin menarik oxygen sebanyak yang ia bisa. Berharap kecanggungan yang melandanya berkurang. “jika saja, umma tidak berfikiran seperti itu dan tidak memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian. Jika saja aku tidak membencimu. Jika saja, appa dan hyung masih tinggal di Korea. Mungkin, saat ini suasananya tidak akan seperti ini”.

Taemin mengangkat kepalanya dan berusaha untuk menatap wajah itu. Wajah yang sudah lama tak di lihatnya. Bibirnya berusaha keras untuk membentuk seulas senyum. “ayo kita mulai. Kita mulai semuanya dari awal, aku ingin keluargaku seperti dulu lagi, appa”ucap Taemin dengan senyum lebar di wajahnya.

***

“cih, sekarang lihat siapa yang lebih sering bersama dengan yeoja”ujar Jonghyun saat melirik ke arah Key dan Hyo Min yang sedang duduk berdua yang tak jauh dari tempatnya.

Yoona tertawa geli, namun terhenti saat Jonghyun menatapnya dengan sinis. “wae? Apa yang lucu?”tanya Jonghyun kesal. Sepertinya sekarang bukan hanya wanita saja yang menstruasi.

“ya, oppa. Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat kesal begitu? Kau cemburu dengan mereka berdua?”goda Yoona, Jonghyun mendengus kesal dan menyesap minumannya. Mencoba mendinginkan kepalanya.

“anni. Hanya saja, sudahlah. Tidak usah di bahas. Ouh, dia datang. Hei! Onew!”, senyum terlukis di bibir Jonghyun saat matanya mendapati Onew masuk ke dalam restaurant. Yoona tidak menyapa Onew hanya memperhatikan raut wajah Onew yang terlihat tidak begitu bahagia.

Onew menarik udara sebanyaknya, lalu membentuk seukir senyum. “hei, Jonghyun, Yoona. Ah, mereka juga di sini”.

“yeah, pasangan baru”sahut Jonghyun malas dan menyesap minumannya lagi.

Yoona masih diam dan memperhatikan wajah Onew. Kedua bola mata Onew sedikit memerah, sepertinya dia baru saja menangis. “gwenchana oppa?”tanya Yoona pelan.

Onew menoleh ke arah Yoona, ia mendengar suara Yoona yang memanggilnya namun tidak mendengar dengan jelas apa yang di katakan Yoona. “nde?”.

“apa yang baru terjadi?”tanya Yoona lagi.

Onew terdiam, senyum nyaris memudar. Matanya kembali menahan air mata untuk terjatuh. “tidak ada apa-apa”.

Yoona tahu, ia mengerti jika Onew sudah seperti ini. Berarti ada sesuatu yang baru terjadi padanya. Walau Onew berkata ‘tidak ada apa-apa’ tapi ia tahu kalau Onew berbohong. Dan Yoona dapat menebak apa yang membuat Onew seperti. Choi Yoonra, gadis yang di cintai oleh Onew.

“baiklah, aku mengerti.”gumam Yoona. Lalu, selang beberapa detik kemudian ia bangkit dari duduknya dan menarik lengan Jonghyun.

“mwo?”tanya Jonghyun, Yoona hanya mengedipkan sebelah matanya dan melirik ke arah Onew.

Alis Jonghyun bertaut, ia masih tidak mengerti dengan isyarat yang di berikan Yoona. “sudah ikut saja”ucap Yoona. Jonghyun menurut dan tidak bertanya lagi. Ia tidak mau terlalu ambil pusing dengan isyarat Yoona.

***

“mwo? Kau mau aku melakukan apa Yoona? Ouh, tidak-tidak. Aku tidak mau”ujar Jonghyun saat mendengar ide dari Yoona.

“sshht, jangan berisik oppa. Nanti dia dengar”. Yoona menempelkan telunjuknya di bibirnya. Meminta Jonghyun untuk tidak berisik, bisa gawat jika Onew mendengarnya.

“hei, itu terlalu susah. Kenapa bagianku begitu sulit? Kenapa harus aku yang membujuk Yoonra untuk menemui Onew? kenapa harus aku yang menjemputnya? Kenapa tidak kau saja?”.

“aish, aku tidak tahu alamat rumahnya. Sudahlah, oppa. Terima saja. Aku lelah melihat raut wajah Onew oppa yang seperti itu. Lagipula, bukankah kau pintar merayu?”.

Jonghyun menatap sinis ke arah Yoona saat mendengar perkataan Yoona. Yang benar saja?! meminta Yoonra untuk menemui Onew bukanlah hal yang mudah, seperti meminta makanan pada patung. “shireo, terlalu sulit”.

“kau bisa berbohong oppa. Bilang saja, bila kau ingin mengajaknya pergi ke café karena tidak ada yang bisa menemanimu atau apalah”usul Yoona, ia lelah mendengar penolakan Jonghyun.

Jonghyun berpikir sejenak, baiklah, demi Onew ia akan melakukannya. Lagipula, dia juga tidak ingin melihat tatapan sendu dari Onew. Ia menghela nafas. “baiklah, aku akan melakukannya. Malam ini, di tempat ini. Semuanya akan beres”.

***

Onew melirik ke arah jam tangan yang menghiasi pergelangan tangannya. Sudah satu jam dan Yoona belum muncul. Ia mendesah kesal, tadi sore gadis itu menyuruhnya untuk datang ke restaurant dengan pakaian yang rapih. Tapi, sampai saat ini yang menyuruh tak kunjung datang. “apa dia hanya membohongiku?”gumam Onew.

Pintu terbuka, seketika Onew menoleh ke arah pintu. Namun, belum sempat ia melihat siapa yang datang. Lampu restaurant ini mati tiba-tiba. Membuatnya tidak bisa melihat apapun. Ada apa ini? Ia menjadi bingung. Sedari ia datang ke tempat ini, tak ia temukan satu orang pengunjung pun. Sebenarnya apa yang terjadi?.

Dentingan piano terdengar olehnya, tunggu, sebenarnya ada apa ini?. Lampu kembali menyala dan begitu juga dengan degupan jantungnya. Jantungnya yang kembali berdetak tidak karuan. Yoonra, gadis itu kini sedang duduk di hadapannya. Dengan menggunakan gaun berwarna putih serta rambutnya yang ia biarkan tergerai. Membuat Yoonra begitu cantik di mata Onew. “h-hei, Yoonra”.

Yoonra terkejut saat mendengar suara Onew. Di mana dia saat ini?. Bukankah ia bersama Jonghyun tadi. Tapi, ia tidak merasa Jonghyun ada di sampingnya saat ini. “di mana ini?”tanya Yoonra, ia bangkit kembali dari duduknya.

“tenang saja, kau berada di restaurant. Kenapa kau berdiri?”.

“aku ingin pergi”. Tangan Onew seketika menahan Yoonra untuk pergi. Ia tidak ingin gadis itu pergi.

“wae? Sudahlah, kau duduk saja di sini lagipula, aku sedang lapar. Kau harus menemaniku. Tidak ada penolakan”ujar Onew.

Yoonra terdiam sesaat, debaran jantungnya kian cepat, ia ingin pergi dari tempat ini namun tubuhnya malah duduk kembali.

Onew hanya menatap Yoonra, mengamati wajah Yoonra. Tidak ada senyum di wajahnya. “syut…syut…Onew”. Ada seseorang yang memanggilnya dari belakang, Onew pun menoleh dan mendapati Jonghyun dan Key sudah berada di belakangnya. Key memegang setangkai bunga mawar putih sedangkan Jonghyun tidak memegang apapun.

“hei, ungkapkan perasaanmu. Buatlah Yoonra menerimamu, lakukan sesuatu yang romantis”ucap Jonghyun berbisik agar Yoonra tidak mendengarnya.

Key menyerahkan setangkai bunga itu pada Onew. “aku tahu kenapa dia seperti ini. Dia merasa tidak pantas untuk berada di sampingmu. Dan sekarang waktunya untuk kau menyakinkan Yoonra. Menyakinkan gadis itu kalau dia sangat pantas untuk berada di sampingmu”.

Onew tersenyum melihat kedua orang yang dekat dengannya menyemangatinya. “terima kasih. Aku akan melakukannya”.

Onew kembali menatap Yoonra, ia bangkit dan menarik tangan Yoonra. “ya! Mau apa kau?!”tanya Yoonra sedikit berteriak, kaget dengan perbuatan Onew.

Onew melepaskan tangan Yoonra, sedetik kemudian di taruhnya setangkai mawar itu di tangan Yoonra. Lalu ia duduk di depan piano dan jemarinya mulai menekan tuts piano yang menghasilkan nada yang lembut dan indah.

Matsugu futari wo terashita

Yuuyake kirameiteru

Ima made kanjita koto nai kurai

Mune no fukaku ga atsui

Hitori demo heikisa nante

Iikikase nagara

Jibun ni uso wo tsuite

Sugoshite kita keredo kore karawa

Kimi dakewo hanasanai

Nandomo nandomo utauyo

Taisetsu na kimino tameni

Kono yo de hitotsu no tashikana

Takara mono Believe in love, You’re the only love forever…

(Shining right our eyes

The glittering sunset

Inside my chest, profound love

Like nothing I have ever felt before

If I say to my self that I’m fine on my own

I’m telling a lie

I’ve been passing time like this

But from now on, You’re the only one I’ll never part from

Time and time again, I’ll sing for you, my precious one

The single most undeniable treasure in this world

Believe in love, you’re the only love forever)

Onew berhenti menggerakkan jari-jarinya,  ia menarik udara sebanyaknya dan menghembuskannya. Matanya beralih pada Yoonra yang sedang berdiri tak jauh darinya. Tetesan bening menghiasi wajah itu. Wajah yang dulu selalu di lihatnya. Onew bangkit dan menghampiri Yoonra. Ibu jarinya bergerak menghapus cairan bening itu. Lalu di dekapnya Yoonra ke dalam pelukannya.

“Yoonra-ya, walau saat ini semuanya berbeda. Tapi, perasaanku padamu tidak akan pernah berubah. Tidak perduli bagaimana kondisimu saat ini. Aku tetap akan menjagamu dan berada di sampingmu. Setidaknya, jika kau kembali menolakku, aku akan tetap menjadi sahabatmu. Saranghae, Yoonra-ya”.

Yoonra tak bisa lagi menahan isakan tangisnya, dalam pelukan Onew yang hangat ia menangis sejadi-jadinya. Semuanya, rindu, perih, beradu satu saat ini. Ia begitu mencintai Onew, dan mungkin saat ini ia harus mengakhiri semuanya. Ia tidak bisa lagi membohongi perasaannya. “Onew…”.

“aku, tapi, aku tidak pantas untuk berada di sampingmu”ucap Yoonra lirih.

Onew mempererat pelukannya, “kenapa tidak? Kau begitu sempurna untukku, malah, aku yang merasa tidak pantas untuk berada di sampingmu”.

Yoonra terdiam, tak terdengar lagi isakan darinya. Namun, air mata tetap menetes dari pelupuk matanya. “Yoonra-ya, kau begitu spesial untukku. Jadi, untuk apa kau merasa tidak pantas untukku? Kenapa kau selalu menganggap dirimu lemah? Kau tahu Yoonra, kau itu begitu kuat. Ku rasa, jika aku menjadi dirimu. Aku tidak sanggup untuk hidup dalam kegelapan. Sedangkan, kau dapat hidup tanpa cahaya sedikit pun. Bukankah itu berarti dirimu begitu tegar dan kuat? Kau tidak selemah yang kau pikirkan”.

“Onew…”. Yoonra mencoba mengukir seulas senyum, “nado saranghae”.

Onew tersenyum lebar mendengar dua kata yang begitu indah di telinganya. Akhirnya, setelah sekian lama. “terima kasih Yoonra. Aku akan menjagamu dan takkan ku biarkan setetes air mata terjatuh dari pelupuk matamu”.

——————————————TBC———————————————————–

Gimana readers dengan part ini? Jelekkah? Haha, pasti iya. Hem, sebenarnya rencana awalnya aku pengen tamatin di part 12 ini. Tapi, karena kepanjangan-_- jadi 13 part deh. So, next part adalah part terakhir buat ff ini. Gomawo buat semua readers yang mau komen dan baca ff abal-abal ini. Don’t forget to leave your comment^^. *bow*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “Touch Your Heart – Part 12”

  1. Aigooo udah mau tamat lagi :O
    Ayoo thor 1 part lagiii 😀
    Akhirnyaa yoonra terima onew juga suiitsuiit :p haha daebaak daebaak ayo lanjuut 1 paart lagi

  2. yeay.. Maniss.. Maniss..
    Akhirnya.. Slese juga ururan onew-yoonji.. Dri kmrn2 aq gregetan bgt ama 2 orang itu..
    Haha.. Jjong sewot jadi jomblo.. ‘oppa, masih ada aku kq.. Aku menantimu di sini’

    last part ditunggu..

  3. di tunggu part terakhirnya ya thor..
    akhirnya onew-yoonra bisa bahagia juga ya.
    tapi taeminya kasian tiap telfonan sama yoona pasti kupingnya sakit kkekeke 😀
    di tunggu ya thor 🙂

  4. Gasabar eon nungguin ini cerita keke
    pas pertama kali ngebaca part 1 aku kira main castnya onew sm yoona ternyata sihandyboy taemin wihiii
    tetep lanjut ya eon , ditungguuu
    annyeong ^^

  5. Gasabar eon nungguin kelanjutan ni crita keke
    pas pertama baca yn part 1 aku kira main castnya onew sama yoona eh ternyata sihandyboy taemin wihiiii
    lanjut ya eon , ditungguu
    annyeong ^^

  6. Good..nice…
    tapi lebih banyakin ttg si taemin dong thor….*kangen taemin*pllakk
    Ditunggu smpe endingnya ya thor ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s