A Ghost Inside Me – Part 7

 

Title :           A Ghost Inside Me  Part 7

Author :             Park Ara

Main Cast :       Choi Minho, Hwang Su Ji, Key, Jung Cheon Sa

Support Cast :  Kim Jonghyun, Lee Jinki, Hwang Dong Joon (Su Ji-Appa), Geum Jin Ah (Su Ji-   

                            Eomma), dan     masih terus bertambah…

Length :             Sequel

Genre :              Fantasy, Friendship, Romance

Rating :              PG 15

Sekarang Su Ji membalas tatapan Key. Ia juga memperlihatkan senyumnya. Namun senyum itu perlahan berubah menjadi senyum angkuhnya lagi. “Kau tidak perlu melakukannya, karena sudah ada orang lain yang berusaha melakukannya untukku. Key-ssi..” cetus Su Ji pelan, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka ketika ia menyelesaikan kalimatnya itu.

“Nugu?”

Su Ji hanya tersenyum tanpa berniat menjawabnya. Lalu ia pun berjalan menjauhi Key. Meninggalkan namja itu yang masih bertanya-tanya.

Minho melayang-layang di depan sebuah balkon kamar. Ia berusaha melihat ke dalam, namun ia tak menemukan sebuah suarapun disana. Minho mengerutkan keningnya samar. Apakah Cheon Sa tidak mempercayainya? Apakah ia tak percaya dengan apa yang dikatakannya melalui bibir Su Ji? Atau… Cheon Sa sudah jatuh cinta pada namja itu?

Akhirnya Minho memutuskan untuk menginjakkan kakinya di balkon itu. Ia masih melihat-lihat melalui tirai putih di jendela kamar Cheon Sa yang agak transparan. Karena tak menemukan apapun juga, ia pun memasuki kamar itu. Minho berhasil menembus kaca dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat akrab di ingatannya. Ia ingat, ia sering ke kamar ini dulu. Dan saat-saat bersama Cheon Sa adalah momen yang paling membahagiakan, yang tak akan hilang dari ingatannya kecuali ia amnesia.

Minho mengembangkan sebuah senyum di wajahnya yang tampan. Bahkan ia bisa mencium bau Cheon Sa disana. Entah pembauannya yang tajam setelah menjadi roh atau memang kamar itu kental dengan aroma tubuh Cheon Sa, namun ia merasa sangat merindukan yeoja itu.

“OPPPAAAA!!!” teriak Cheon Sa membuat Minho terkejut. Minho pun mencari-cari Cheon Sa hingga keluar kamarnya. Ia menuruni tangga di rumah Cheon Sa dengan cepat dan menemukan Cheon Sa di lantai bawah.

“Oppa andwae…!!” rintih Cheon Sa sambil memeluk kaki Jonghyun. Ia menangis keras sampai matanya membengkak.

Minho pun langsung berlari ke arah Cheon Sa dan berusaha memeluknya. Namun sekeras apapun usahanya, ia tak akan bisa melakukannya.

“Oppa…” rintih Cheon Sa lagi. Dari sudut bibir kirinya terdapat aliran darah dan terdapat luka lebam di area mata kanannya juga. Minho hanya bisa melihat Cheon Sa dalam diam. Hatinya sangat ingin menolong, namun raganya sama sekali tak mendukungnya.

“KENAPA KAU MELAKUKAN SEMUA ITU, HUH?!” bentak Jonghyun sambil menendang wajah Cheon Sa hingga yeoja itu jatuh tengkurap di lantai.

“ANDWAEEE!!!” teriak Minho sekuat tenaganya. Namun percuma, karena tak ada yang bisa mendengarnya. Ia pun mendekati Cheon Sa. Tepat pada saat itu wajah Cheon Sa menghadapnya. Minho meneteskan air matanya. Wajah kekasihnya kini telah berubah mengerikan. Luka lebam, darah, air mata… semua ada disana. Minho mengangkat tangannya. Perlahan ia mengarahkan tangannya ke pipi Cheon Sa, mencoba menghapus air matanya. Tapi tetap saja tangannya tak mampu menyentuh setitikpun air mata Cheon Sa.

“ARRRKKKGGGHHHH!!!” teriak Minho frustasi. Ia menjambak rambutnya sendiri. Ia merasa begitu lemah dan tak berguna. Kenapa disaat seperti ini, ia malah tidak bisa melindungi Cheon Sa.

“M… Minho…” gumam Cheon Sa tiba-tiba.

Minho menatap Cheon Sa. Wajahnya menggambarkan sebuah harapan besar. “Noona? Noona kau mendengarku?”

“Minho…”

“Kenapa kau masih menyebut nama itu huh?!” seru Jonghyun geram. Ia kembali menendang Cheon Sa dengan kakinya.

Minho langsung bergerak ke depan tubuh Cheon Sa, berusaha menangkal tendangan Jonghyun. Tapi lagi-lagi usahanya gagal. Kaki Jonghyun tetap mengenai tubuh Cheon Sa hingga yeoja itu semakin melemah. “YAAA!!!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA NOONAAAA?!!!” teriak Minho di depan wajah Jonghyun. Ia menggerak-gerakkan tangannya, berusaha memukul badan Jonghyun.

“M… Minho…” bisik Cheon Sa lemah.

“Noona?” ucap Minho. Ia terkejut dan berlutut di depan badan Cheon Sa ketika yeoja itu terpejam pingsan. “Noona….” panggilnya lirih. Cheon Sa bahkan tak membuka matanya sedikitpun. Minho mengepalkan tangannya erat-erat. Ia menatap tajam ke arah Jonghyun. Matanya dipenuhi kilat-kilat kemarahan. “Kim Jonghyun…” gumamnya penuh dengan kebencian.

Su Ji berjalan sendirian ke luar hotel. Namun ketika ia sampai di lobby, tiba-tiba tiga orang yeoja menghampirinya. Su Ji mengerutkan kening. Ia tahu yeoja-yeoja itu pasti mempunyai niat jahat padanya.

“Ya, Hwang Su Ji! Kau masih bisa setenang itu menatap kami?” kata salah seorang di antara mereka yang berambut pirang emas.

“Apa yang kalian inginkan?” balas Su Ji setenang mungkin. Ia tidak mau kelihatan gelisah karena dengan begitu maka tiga orang yeoja sialan ini akan semakin berani padanya.

Yeoja berambut pirang itu memberi isyarat pada kedua temannya untuk menangkap Su Ji. Tsk, Su Ji malah tersenyum meremehkan. Ia benar-benar merasa tidak takut meskipun yeoja-yeoja kini telah memasukkannya ke dalam mobil dan membawanya ke suatu tempat. “Apa kalian akan membunuhku?” ujar Su Ji sambil memicingkan matanya.

“Diam kau!” bentak si yeoja berambut pirang.

“Terserah kalian. Namun jika aku mati, maka kalian bertigalah yang akan kuhantui sampai mati!” ancam Su Ji menyeringai lebar. Kedua yeoja di sampingnya terlihat khawatir, ya Su Ji dapat menebak hal itu melalui raut wajah mereka yang memucat.

“Aisssh diam kau!” sentak si yeoja berambut pirang berusaha meredam suasana.

Minho memperhatikan Cheon Sa yang sedang mengompres lukanya sendiri dengan air es. Air mata masih sesekali menetes dari kedua matanya yang sayu. Minho ingin menyentuhnya. Setidaknya, ia bisa menyeka air mata Cheon Sa dengan tangannya sendiri. Agar Cheon Sa bisa merasakan kehadirannya disini, agar Cheon Sa tidak merasa sendiri.

“Noona, jangan menangis lagi,” ujar Minho lembut. Ia menatap wajah Cheon Sa, berharap ada tanda-tanda jika Cheon Sa mendengarnya. Namun sepertinya harapannya kosong.

“Noona, aku ada disini. Kau tidak sendirian. Noona..”

“Kenapa kau tidak datang Minho?” sela Cheon Sa yang tiba-tiba berbicara sendiri. Minho terkejut dan wajahnya langsung berseri-seri.

“Noona, kau dapat mendengarku?”

“Kenapa kau tidak datang saat aku dijodohkan? Kenapa kau tidak datang dan menghancurkan semuanya?” cerca Cheon Sa sambil menangis.

Minho terdiam. Ia seperti kehabisan kata-kata. Apa yang dikatakan Cheon Sa? Ia merasa tidak mengerti apa-apa soal perjodohannya.

“Andai kau menuruti keinginanku untuk bertemu di taman. Andai kau tidak lebih mementingkan temanmu daripada aku,” lanjut Cheon Sa membuat Minho termangu. “Mungkin nasibku akan sedikit lebih baik dari hari ini…”

Minho hanya menatap Cheon Sa dalam diam. Ia baru ingat, kalau Cheon Sa pernah mengajaknya bertemu di taman dekat sekolah. Namun karena seorang temannya memintanya untuk membantu mengerjakan tugas, maka ia tak bisa memenuhi permintaan Cheon Sa itu. “Mianhae, noona…” ucapnya penuh sesal.

Cheon Sa pun kembali menangis. Ia menundukkan kepalanya dan menangis tersedu-sedu tanpa ada yang memeluknya sama sekali. Minho merutuki dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa bersalah. Ia telah mengantarkan kekasihnya sendiri ke gerbang penderitaan dan kini ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. “Noona, mianhae. Jeongmal mianhae…”

“Kau bodoh Minho-ya!” seru Cheon Sa seolah menyahutnya.

Minho tak membalasnya lagi. Apa yang dikatakan Cheon Sa benar, ia memang bodoh, sangat bodoh. “Mianhae…” ucapnya terakhir kali dengan suara sangat pelan, bahkan hampir seperti bisikan.

Si yeoja berambut pirang dan kedua temannya yang lain mendorong tubuh Su Ji dengan kasar ke tembok. Lalu tanpa buang waktu lagi ia memukuli Su Ji dengan membabi buta, tanpa memberi celah pada Su Ji untuk berontak.

“YA!” seru Su Ji dan sebuah pukulan kembali mengenai wajahnya untuk terakhir kali. Ia menatap yeoja di depannya itu dengan mata berkilat-kilat penuh kemarahan. Nafasnya menggebu dan darah segar keluar lubang hidung dan sudut bibir kirinya. “MWOYAAAA?!!” teriak Su Ji tepat di depan wajah yeoja berambut pirang.

BUG! Satu pukulan lagi mengenai wajah mulus Su Ji. Pukulan itu sukses membuat warna biru di area mata kanan Su Ji.

“KAU BISA DIAM TIDAK?!” bentak yeoja itu. Ia membalas tatapan Su Ji dengan tak kalah garangnya. “Kau tahu kenapa aku melakukan hal ini padamu, huh? ARA?!” sentaknya sambil mencengkeram rahang bawah Su Ji hingga yeoja itu tak mampu berbicara apa-apa. “KARENA KAU MENDEKATI KEY! KENAPA HARUS KAU YANG MENJADI PACARNYAAAA?!!!!” lanjutnya sambil melepas cengkeramannya dengan kasar.

Su Ji mengangkat ujung bibir kirinya yang sebenarnya terasa perih. “Ternyata ini yang mau kau bicarakan?” ujar Su Ji dengan nada menantang. “Kasihan sekali kau? Aku saja, tidak usah melakukan apa-apa Key sudah mendekatiku. Tapi kau? Kau bahkan harus membunuhku terlebih dahulu agar bisa mendapatkannya…”

PLAK! Tamparan yang terasa panas di pipi Su Ji membuat yeoja itu menghentikan kata-katanya. “Diam kau! Kalau kau berbicara seperti itu lagi, aku tak segan akan menembakmu, ara?” yeoja berambut pirang itu menyeringai sengit. Ia mengangkat sebuah pistol di tangannya.

Su Ji tak melakukan pembalasan lagi. Saat ini sikapnya adalah siaga kalau-kalau yeoja itu nekat menembaknya dengan pistol itu.

“Sekarang katakan padaku. Kau harus meninggalkan Key, ara?”

BUG! Tiba-tiba sebuah tendangan yang sangat kuat berhasil mengenai tangan yeoja itu hingga pistolnya terbuang. Dua yeoja yang lain refleks melihat ke arah orang yang menendang ketuanya dengan panik.

“Lepaskan dia!” suruh orang itu pada kedua yeoja yang masih menahan tangan Su Ji. Mereka menurutinya dan langsung menghampiri tubuh ketuanya yang sedang kesakitan.

Su Ji menyipitkan matanya. Ia belum bisa melihat wajah orang itu karena gelap hingga orang itu mendekatinya. “Gwaenchana?”

Su Ji sedikit terkejut saat melihat siapa yang menolongnya. Kenapa ia bisa ada disini? Kenapa ia bisa tahu kalau ia sedang dikeroyok yeoja-yeoja itu?

“Kkaja!” ajak orang itu sambil menggandeng tangan Su Ji.

“Key…” ucap Su Ji sambil menahan tangannya.

“Nanti aku jelaskan!” sela Key cepat lalu membawa Su Ji berlari meninggalkan tempat itu tanpa buang waktu lagi.

Su Ji tetap mengunci mulutnya rapat-rapat meskipun sekarang ia dalam perjalanan ke hotel dengan mobil Key. Sesekali Key melirik khawatir ke arah Su Ji. Hatinya terasa sangat tersiksa ketika melihat wajah Su Ji dipenuhi dengan luka. Tapi yang mengganjal di pikirannya sampai sekarang adalah, kenapa Su Ji terlihat tetap tenang meski mungkin saja sekelompok yeoja tadi akan membunuhnya?

“Gwaenchana?” tanya Key entah untuk yang kesekian kalinya.

“Mm,” jawab Su Ji pelan. Ia memandang jalanan Tokyo yang masih ramai malam itu. lampu-lampu jalan membuat bola matanya terlihat cerah.

“Kenapa tadi kau tidak melawan?” tanya Key tak mampu menutupi rasa penasarannya.

“Bukan urusanmu,” jawab Su Ji acuh tak acuh.

Key menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan. Memang perlu kesabaran tinggi untuk menghadapi yeoja ini. “Keurae, lalu apa kau menerima begitu saja kalau tubuhmu disakiti orang lain?”

“Aku tak ingin membahasnya..”

Kali ini Key benar-benar kehabisan kesabarannya. Ia pun menghentikan mobilnya ke tepi jalan dengan tiba-tiba. Membuat Su Ji sedikit terkesiap.

“Apa yang kau lakukan?” seru Su Ji dengan wajah cemas.

Key tersenyum sinis. “Jadi begini caranya menakutimu?”

“Tidak lucu Key!”

“Siapa yang ingin membuatmu tertawa?” balas Key memandang lurus ke mata Su Ji. “Kenapa? Kenapa kau tidak juga mau menerimaku? Kenapa kau selalu menganggapku sebagai angin di sekitarmu? Apa salahku Su Ji-ya?!!” bentak Key.

Su Ji terdiam. Ia tak menyangka namja yang selalu terlihat ramah di depannya bisa berlaku seperti ini sekarang. Apa selama ini ia memang sudah keterlaluan? “Maaf,” ucap Su Ji singkat. Ya, mungkin hanya itu yang paling tepat ia katakan sekarang.

“Aku tak menyuruhmu meminta maaf Su Ji. Aku hanya ingin kau mau berbicara dengaku. Hanya itu, kenapa kau tak mau melakukannya?” terang Key mengungkapkan semua yang ada didalam otaknya.

Su Ji menatap kedua mata Key yang berubah sayu itu. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu kenapa ia begitu membenci Key. Bukankah selama ini namja itu hanya melakukan hal-hal yang baik padanya? Meski terkadang dengan cara yang tidak ia sukai.

Tiba-tiba Key memegang bahu Su Ji dan mendekap yeoja itu dalam pelukannya. Ia membelai rambut panjang Su Ji dengan lembut. Anehnya Su Ji tidak menolak pelukan itu. Ia hanya diam sembari merasakan deru nafas Key yang cepat di telinganya. Su Ji hanya merasa Key pantas memeluknya setelah apa yang ia lakukan selama ini.

“Mianhae…” ucap Key entah untuk apa.

Su Ji memejamkan matanya. Mungkin, ia memang harus mencobanya. Membuka hatinya untuk namja ini..

“Su Ji? Kau kenapa?” tanya Hwayoung panik saat Key membawa Su Ji masuk ke dalam kamarnya.

Su Ji hanya tersenyum tipis, kemudian Key mendudukannya di tepi ranjangnya. “Tunggu sebentar,” suruh Key lalu berjalan ke arah lemari es dan mengambil beberapa es batu disana. “Hwayoung, kau punya handuk kecil?”

Hwayoung menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia berjalan ke tas kopernya dan mengeluarkan handuk kecil. “Ini,” ucapnya sambil memberikan handuk itu.

Key pun mendekati Su Ji dan duduk di kursi di depan yeoja itu. Key memeras handuk itu dan perlahan menempelkannya pada luka Su Ji dengan hati-hati.

“Aaah,” rintih Su Ji sambil memegang sudut mata kanannya.

“Mian,” ucap Key. Ia kembali mengompres luka wajah Su Ji dengan lebih hati-hati.

Su Ji menatap wajah Key. Rautnya menunjukkan kalau namja ini begitu tulus menolongnya. Gerakannya pun sangat lembut dan hati-hati. Seolah gerakan yang sedikit kasar akan membunuhnya. Lalu Su Ji memegang tangan kanan Key yang tengah sibuk mengompres lukanya itu.

“Wae?” tanya Key.

Su Ji pun membalikkan kepalanya ke arah Hwayoung yang terdiam melihatnya dari tadi. “Hwayoung-ah, mian. Tapi bisakah kau tinggalkan kami berdua?” pintanya dan untunglah Hwayoung mengerti. Tanpa banyak bertanya yeoja manis itupun keluar dari kamar membiarkan Su Ji dan Key berdua.

“Ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Key sepeninggal Hwayoung. Ia kembali melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda.

“Apa kau tidak membenciku?” ucap Su Ji pelan, hampir terdengar seperti sebuah bisikan.

Key mengerutkan keningnya. Ia berhenti menempelkan handuk di wajah Su Ji sejenak dan menatap yeoja di depannya dengan yakin. “Kenapa kau menanyakan hal itu? Bukankah kau sudah tahu jawabannya?”

“Kenapa kau melakukannya? Bukankah aku selalu menolak keberadaanmu?” tuntut Su Ji tanpa mengalihkan matanya dari wajah Key.

Key tersenyum. Lalu tangannya bergerak mengelus kepala Su Ji sekali. “Kau tidak mendengarkan ceritaku di lift dengan baik ya? Aku menyukaimu karena aku pernah menjadi seperti kau.”

“Hanya itu?”

Key termangu, ia memikirkan apa yang harus dikatakannya.

“Kalau seperti itu, bukankah banyak orang yang hidupnya sepertiku?”

“Tapi kau berbeda. Entahlah, aku seperti menyukaimu karena sesuatu yang tidak bisa kumengerti sampai sekarang. Dan ketika kau menghindariku, hal itu justru membuatku semakin ingin mendekatimu,” jelas Key panjang lebar.

“Apa kau tulus?”

Key termenung kaget. Ia merasa kedua mata Su Ji memperlihatkan sebuah kesedihan yang sangat. Yeoja itu seperti sudah menderita bertahun-tahun lamanya. Dan tiga kata terakhir yang ia ucapkan, seperti menggambarkan sesuatu yang telah menimpanya selama ini. “Ne, percayalah padaku,” jawab Key dengan mantap. Ia pun tersenyum dan kembali mengompres luka Su Ji.

Su Ji memilih diam dan membiarkan Key melakukan kegiatannya lagi. Sekarang ia merasakan semua tubuhnya mendadak lemah dan tak berdaya. Apakah benar yang Minho katakan selama ini? Kalau Key memang orang yang baik? Tapi jika begitu, Su Ji malah berpikir kalau ia tak pantas untuk Key. Keurae, Key terlalu baik untuknya. “Key-ya, aku ingin tidur…”

Minho menampakkan dirinya di dalam kamar Su Ji. Ia tersenyum senang ketika tak ada orang lain selain dirinya dan Su Ji yang sedang tidur membelakanginya.

“Su Ji-ya,” panggil Minho. Ia yakin Su Ji tidak sedang tidur.

“Ne?” jawab Su Ji pelan.

“Kau harus pulang ke Korea,” beritahu Minho membuat Su Ji membelalakkan matanya, namun ia tak membalikkan badannya.

“Untuk apa?”

“Aku membutuhkan tubuhmu, Su Ji-ya. Aku ingin menyelamatkan noona,” jelas Minho memohon.

Su Ji tersenyum pahit. Bagaimana bisa Minho selalu menyuruhnya untuk melindungi Cheon Sa? Sial, sungguh beruntung yeoja itu. Ia memiliki seorang kekasih yang sangat menyayanginya bahkan sampai ia meninggal sekalipun. Tapi haruskah Su Ji ikut andil dalam masalah Minho dan Cheon Sa juga? Lupakan dulu masalah pemberian nyawa itu. Di luar itu, apakah Minho berhak memperlakukannya seperti ini?

“Kenapa kau diam Su Ji?”

“Aku sedang ingin tinggal di Tokyo. Aku tidak bisa melakukannya Minho,” jawab Su Ji membuat Minho tak menyangka kalau yeoja itu akan menolaknya.

“Su Ji-ya, Cheon Sa noona sedang dalam bahaya. Ternyata ia disiksa oleh Jonghyun. Kita harus menyelamatkannya. Ayolah Su Ji. Kau tidak boleh egois…”

Egois? Air mata Su Ji menetes. Baru kali ini Minho mengatakan kata-kata yang membuat perasaannya terluka. Su Ji memang tidak menghakimi namja itu. Tapi kenapa Minho tak bisa sedikit mengerti perasaannya? Seolah yeoja yang hidup di dunia ini hanya Cheon Sa. Sedangkan ia tak pernah dipedulikan sedikitpun.

“Su Ji-ya!”

“KENAPA KAU BERTERIAK PADAKU HUH?!” teriak Su Ji sambil berbalik dan berdiri menatap Minho. Nafasnya cepat dan kemarahan memuncak di otaknya.

“Su Ji-ya, kau…”

“Mwo? Kau terkejut? Baru kali ini kau merasa bersalah? Kenapa kau selalu melindungi Cheon Sa tanpa memperhatikan keadaan tubuhku? Kenapa Minho?!” hardik Su Ji tanpa berpikir lagi.

Minho termangu. Ia benar-benar buta akan apa yang telah terjadi pada Su Ji selama ia pergi tadi. “Kenapa dengan wajahmu?” tanyanya hati-hati.

“Kenapa kau bertanya? Apa pertanyaanmu bisa mengobati lukaku? Dan setelah itu kau akan menyerahkan tubuhku pada Jonghyun? Agar Jonghyun berhenti memukuli Cheon Sa dan beralih memukuliku sebagai umpannya? Irreohke?”

Minho menelan ludahnya. Ia melihat Su Ji benar-benar marah. Terlihat jelas pada raut wajah dan bola matanya. Serta air mata yang entah sejak kapan mulai mengalir itu. “Mianhae…” ucapnya lirih.

Su Ji menangis sekerasnya. Kemudian ia menjatuhkan dirinya di lantai dan terus menangis sejadi-jadinya. Ia menumpahkan seluruh kekesalannya disana. “Minho kau jahat…” gumamnya di sela-sela tangis menyakitkan itu.

Minho tak berani mendekati Su Ji. Entah, tapi melihat yeoja itu menangis dan terluka ikut membuat hatinya sakit. Apa karena mereka satu nyawa? Mungkinkah bisa terjadi seperti itu? Sungguh, baru kali ini ia merasa menjadi orang paling jahat di dunia. Ia sadar, Su Ji tetap seorang manusia biasa dengan tubuh yang lemah, tidak sekuat dirinya. “Maafkan aku Su Ji…”

Su Ji belum terbangun dari tidurnya. Minho membiarkan yeoja itu tertidur pulas. Ia tahu Su Ji sangat kelelahan karena peristiwa kemarin. Serta luka di wajahnya itu… apakah penyebabnya? Siapa yang memukuli Su Ji hingga ia terluka?

Perlahan Minho menghampiri Su Ji. Ia menggerakkan tangannya ke arah wajah Su Ji tanpa menyentuhnya. Apakah sakit? Kenapa kadang kala yeoja itu terlihat sangat menyedihkan? “Apa kau lelah?” gumam Minho.

Su Ji tak bergeming. Ia tetap terpejam membisu. Minho berpikir sejenak. Apa ia harus melakukannya? Mungkin, ia bisa membiarkan Su Ji beristirahat hari ini. Biar Minho yang menjalani kehidupan Su Ji untuk sementara. Sesaat kemudian Minho pun tersenyum. Ia memajukan wajahnya ke wajah Su Ji dan mencium bibir yeoja itu dengan lembut..

Choi Minho POV

Aku membuka kelopak mata Su Ji secara perlahan. Aissh, rasanya sakit sekali. Dan badan ini… kenapa terasa sangat lemas? Apa Su Ji tidak mengisi perutnya sejak kemarin malam? Ah, mungkin saja mengingat apa yang telah menimpanya. Lalu aku berjalan ke arah kaca dan melihat wajah Su Ji yang terluka. Sekarang aku dapat menyentuh luka lebam di mata kanan Su Ji. Dan aku langsung merintih pelan karena sakit yang kurasakan.

Ting tong…

Aku menoleh ke arah pintu. Siapa yang datang? Lalu aku berjalan mendekati pintu dan membukanya. Kedua mataku langsung menemukan sesosok Key yang datang bersama seorang pelayan. Ada apa dengan mereka berdua? Kenapa aku merasa mereka sudah seakrab ini tanpa sepengetahuanku?

“You have a special breakfast, miss!” seru Key ceria. Kemudian ia menyuruh pelayan itu pergi setelah memberikan uang tip. “Kau lapar kan?” tanya Key sambil mendorong meja dorong itu masuk ke dalam kamar.

Aku hanya mengikutinya dari belakang. Apakah Su Ji sudah merubah sifatnya? Apa ia sudah tidak sombong lagi pada Key?

“Ya, kenapa kau malah berdiri disana. Ayo makan dan kita pergi jalan-jalan!”

Jalan-jalan? Bahkan Key sudah berani mengajak Su Ji pergi berdua dengannya? Aku semakin bingung dengan semua ini. Bagaimana aku bisa menjalankan tubuh Su Ji sementara aku buta tentangnya?

“Su Ji-ya, kau lihat itu?” seru Key sambil menunjuk sesuatu dengan jari telunjuknya. Aku mengikuti arah jari Key dan langsung melihat menara yang berdiri kokoh. “Kau mau kesana?”

Aku beralih menatap Key. Sahabatku ini terlihat sangat bahagia. Ya, tentu saja karena hari ini ia sedang bersama Su Ji, yeoja yang dicintainya. Tapi sialnya, aku malah tidak tahu apa-apa.

“Su Ji-ya, kau senang?” tanya Key. Wajahnya ceria sekali. Bahkan selama aku mengenalnya aku tidak pernah melihat wajah Key yang sebahagia ini.

“Ne,” jawabku akhirnya. Lalu aku menatap pemandangan luas di luar sana. Kami memang sedang menaiki kereta gantung. Ya, walaupun sebenarnya aku heran. Bukankah Key memiliki phobia dengan ketinggian? Aneh sekali.

“Su Ji-ya, aku sangat bahagia hari ini,” ungkap Key sambil memandang wajah Su Ji penuh arti.

Aku mengepalkan tanganku erat-erat. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak, tidak seperti ini seharusnya. Aku harus keluar dari tubuh Su Ji sekarang juga. Walau bagaimanapun, Su Ji berhak menikmati hidupnya. Benar, ia harus mendengar sendiri apa yang akan Key ucapkan.

Fussshh… Akhirnya rohku keluar dari tubuh Su Ji. Aku melihat Su Ji sedikit kebingungan. Apalagi dengan Key dan tiba-tiba saja ia sudah berada di dalam kereta gantung. Aku hanya berharap semoga ia tidak takut dengan ketinggian.

“Key sedang mengajakmu kencan,” beritahuku agar Su Ji tak kebingungan lagi.

Su Ji menatapku penuh tanda tanya. Namun suara Key kembali menarik perhatiannya sehingga mau tidak mau yeoja itu harus menatap Key di sampingnya.

“Baru kali ini kau mau pergi denganku dan rasanya sangat menyenangkan Su Ji-ya,” ujar Key lagi. Aku melihat Su Ji masih bingung melihat Key. Apakah ia terlalu shock? “Aku mencintaimu, Su Ji-ya…”

Bingo! Dugaanku benar kan? Key akan mengatakan hal itu. Aku pun memperhatikan benar-benar. Apa yang akan dikatakan yeoja itu? Kenapa ia terdiam? Apakah ia tidak mau menjawab?

Tiba-tiba aku merasakan sayapku berkembang. Sebenarnya hal ini tidak aneh, namun kenapa aku merasa sakit pada pundakku dan… bulu-bulu sayapku jatuh berguguran? Apa yang terjadi padaku? Apa ada sesuatu kesalahan yang kulakukan hingga membuatku seperti ini?

“M… Minho!” seru Su Ji yang langsung berdiri dan membuatku terkejut. Gawat, kenapa ia menyebut namaku? Dan Key, dia terlihat bingung. Tuhan, bagaimana ini? Kenapa semuanya menjadi seperti ini?

To be Continued…

J Aigoo… apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa semuanya akan terbongkar?

J Lalu, bagaimana nasib Jung Cheon Sa? Apakah ia akan tinggal diam dan menerima begitu saja? Atau… Minho akan menolongnya?

J Bocoran, di next part bakal ada uri maknae Lee Taemin!!! 😀

J Tunggu next partnya ya!!! Keep reading!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

18 thoughts on “A Ghost Inside Me – Part 7”

  1. KIYAAAAAAAAAAAA AUTHOR AIII LUPHHH YUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU XDD
    Huwahhhhh KEY KEY KEYYYY!!!! XDD *astagah, w jadi lockets sekarang kiyahhh*
    Thor, thor, kalo aku bayangin Su Ji Miss A gpp yak?? Wkwkwk, biasku di Miss A dia soalnya huohohohoooo
    What?? Taemin??? Oke oke !!! Hiyahhh makin seru deh kalo ada dedek ituu huahahahahaha….
    Ayo.. Lanjut lanjut… Awas lanjutannya lama thor!! XDD #dibunuh

  2. AIGOOO aku udah was2 kirain next part itu udah end ternyata enggaaa haha 😀
    Asiik ada taemiin :*
    Ayo ayo thoor lanjuut! Kenapa minho?? Su ji keceplosan deh ._. Ayoayoo lanjut 😀

  3. JONGHYUN! KAU! *tendang jjong* *dihajar blingers*
    hyaaaaa scene kereta gantung itu! Minho kenapaaaa *peluk minho (modus) XD
    wakakaka itu tiga yeoja semprul ngapain tuh pake ganggu suji segala ckckckc. Dasar ediannn (?)
    ayo ayo next parrrttt *beli popcorn

  4. ya ampun minho knapa??
    ngeri bgt tuh cewe 3 main’x ma pistol n gebukin org..

    asikkk uri taemin bakal muncul juga..
    ga sabar nunggu lanjutannya…
    nect ff…

  5. huaaa.. Aku lagi kepincut key..
    KEEEEYYYYYY.. Aku mau dong jadi su ji sesaat..
    Aigoo.. What happen with you, jjong?? Knp jadi bgtu??
    Next.. Next..
    Ditunggu..

  6. Next….ga sabarrrrrrr…
    Makin bikin penasaran aja nih….
    Minho knp????bulu2 sayap nya bguguran?jd selama ini minho punya sayap ya??ahh…aku klewatan…
    Jjong knp kau sesadis itu???huaaaaa….

  7. iiihhh jjong… jht… blum nikah tp udh ngelakuin kdrt.. ckckck

    nah nah.. mino… itu bulu2 sayapnya berguguran.. jgn2 ada hubungannya sm suji. key yg mnytkn prsaannya pd suji…

    apa klo suji jatuh cinta pd key.. ato nerima key. dy gak bisa nolong mino lg??

    wew.. makin seru..
    ayo next part… hahaha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s