Forward – Part 3

Title: Forward

Author: HeartLess & Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast:

  • Lee Jinki
  • Kim Heera
  • Kim Jonghyun

Length: Multi Chaptered

Genre: Romance, Life, Social Issue

Rating: PG-15

Note:

The story is written all based to Author’s POV

Disclaimer:

We don’t own all idols/artists. They are belongs to God, their family, and their agency. We put their names only for the purposes of this fanfiction.

***

 

 

***

 

Wanita itu duduk bersandar di sebuah sofa yang terlihat empuk dengan menyilangkan kaki dan sebelah tangannya diletakkan di penyangga tangan untuk menopang dagu. Ia menatap seolah mengejek pada seorang pemuda yang berdiri di hadapannya, membuat namja itu merasa seperti sedang diremehkan; diintimidasi oleh tatapan sombong yang jelas-jelas merendahkannya.

“Jadi?” Ucapan wanita itu sengaja dibuatnya menggantung.

Terlihat dengan sangat jelas rahang Jonghyun mengeras, tatapan matanya dialihkan ke sudut lain ruangan; menghindari untuk menatap raut menyebalkan yang membuatnya muak itu. Ia bersumpah kalau bukan karena hal-hal yang mendesak, ia tak akan pernah sudi merendahkan dirinya seperti ini. Ia sungguh sangat membenci senyum wanita itu – senyum yang seolah sedang merayakan kemenangan.

“Huh, baiklah. Walaupun kau tidak menjawab, aku tahu kau pasrah. Berhubung sekarang aku sedang sibuk, datanglah ke apartemenku empat hari lagi,” titah wanita itu dengan gayanya yang penuh kuasa.

Dengan wajahnya yang mendongak, ia meletakkan jam tangan bertabur berlian di atas meja. “Itu untukmu, tapi empat hari lagi.” Senyuman sinis tersungging di wajahnya yang terlihat awet muda.

Jonghyun menghirup dan menghembuskan napas dari hidungnya dengan irama tak beraturan, rasa sesak di dadanya hampir seperti rasa sesak seorang pelari marathon yang baru saja tiba di garis finish. Ruangkerja yang dilengkapi pendingin ruangan pun terasa sangat panas baginya.

Ia masih terpaku, memejamkan matanya, dan menahan napas cukup lama. Terkadang ia berharap ini semua hanya mimpi buruk dan begitu ia terbangun maka semuanya usai. Sayangnya bukan, ini bahkan baru dimulai—atas pilihannya sendiri.

Berusaha menghimpun segenap kekuatan, ia akhirnya berkata, “Baiklah, aku akan datang sesuai waktu yang kau minta.”

Setelah itu ia pergi tanpa undur diri, seolah tak ingin membungkuk hormat ketika mengucapkan salam perpisahan. Tidak, hatinya tidak akan pernah tunduk pada wanita itu sekalipun kini separuh dirinya akan menjadi tawanan wanita itu.

***

Hanya imitasi, katanya agar tak layu dimakan waktu. Kini semua itu ia tempatkan di ruang belajarnya—sebuah ruang kecil terpisah yang ada di sebelah kamarnya— pada sebuah pot keramik dengan tataan yang apik.

Satu, dua, tiga, empat, lima, ah, lebih. Setiap tangkai mawar aneka warna itu punya cerita tersendiri. Bagaimana Jonghyun memberinya semangat—untuk memulai awal baru setelah kegagalan—dengan memberikan mawar kuning, bagaimana Jonghyun memberikannya warna merah-putih sekaligus dan ia mengatakan bahwa itu adalah simbol penyatuan. Juga ada saatnya di mana warna pink diberikan oleh Jonghyun sebagai wujud kekagumannya pada Heera sekaligus rasa bahagianya karena Heera berada di sisinya. Dan momen yang tak terlupakan, ketika warna putih itu Heera terima setelah suara indah Jonghyun selesai menyenandungkan sebuah lagu cinta untuknya. Katanya, mawar putih adalah lambang cinta sejati.

Mengenang semua itu membuat Heera tidak kuasa membuat pikirannya fokus pada notebook-nya. Draft proposal yang harus dieditnya masih dibiarkan menunggu.

Ia merasa dirinya bagaikan orang tolol yang harus rela menjilat ludahnya sendiri. Bagaimana tidak? Sejak dulu ia selalu berkoar-koar bahwa cinta tidak selayaknya dijadikan hambatan untuk melangkah, cinta hanyalah pelengkap hidup—bukan sesuatu yang harus dielukan apalagi dipikirkan setiap saat.

Ia baru tahu sisi lain cinta setelah lama tak bertemu Jonghyun, cinta itu berkorelasi positif dengan kerinduan—semakin besar cinta yang tertanam, semakin mudah merasakan rindu. Baginya waktu tujuh hari tidak bisa dikatakan sebentar jika kaitannya adalah menunggu Jonghyun, namja itu sukses membuatnya gila menahan rindu yang membuncah.

Ia rindu panggilan dari Jonghyun ketika malam tengah merayap seperti ini. Rupanya melewati gelap dengan hanya bertemankan suara jangkrik dan suara angin yang menyapu pepohonan bisa menjadi hal yang menjemukan bagi pencinta alam sepertinya dalam kondisi seperti ini.

“Baiklah, aku yang duluan.” Ia memutuskan setelah agak lama berpikir.

Ia mempertimbangkan untuk menghubungi Jonghyun lebih dulu. Biasanya ia tidak menghubungi seorang namja duluan tanpa kepentingan yang urgent—baginya, terkesan agresif. Tapi karena kuatnya perasaan takut akan kehilangan dan khawatir sekaligus, ia menepis gengsinya. Bukankah sebagai seorang ‘kekasih’ ia punya hak untuk mencemaskan orang yang disayanginya itu?

Tuttt, tutttt,

Cukup lama menunggu tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya Heera memutuskan untuk menyerah. “Ah, mungkin dia lelah dan sudah tertidur pulas.” Ia mencoba berpikir positif dan memahami namja-nya.

Bukan Heera namanya jika ia berpasrah diri begitu saja. Setidaknya pesan singkat mampu menyalurkan rasa rindunya pada Jonghyun.

To: Prince Jonghyun

Jjong, bagaimana kabarmu? Apakah semuanya berjalan lancar? Jjong, apa kau pernah mendengar istilah ‘laut  tidak akan indah tanpa terumbu karang’. Apa kau paham maknanya? Bagiku, kau adalah terumbu karangku—bagian kecil yang memberikan pengaruh besar pada keindahan hidupku. Apakah hal yang sebaliknya berlaku, Jjong? Kau tidak ingin bertemu terumbu karangmu?

Selamat malam Jjong. Semoga esok lebih baik untukmu, untukku, dan untuk kita.

***

 

Melesat kilat, sama cepatnya dengan kerjapan mata. Tanpa perlu perantara kabel, pesan itu sampai pada orang yang dituju. Jonghyun berhenti melamun memandangi langit malam dari balkon rumahnya, ia menoleh sebentar melihat layar ponselnya tapi kemudian tidak membuka pesannya. Ah, bukan balkon sebenarnya, ia dan keluarganya memang menyewa sebuah rumah yang letaknya di atas rumah sang pemiliki bangunan tempatnya berteduh ini, rumah di atas atap. Tempatnya terduduk di lantai—saat waktu baru saja menunjukkan pergantian hari ini—mungkin lebih tepat disebut sebagai teras rumahnya.

Hyung, mau camilan?” Minho datang dengan sebungkus stick keju di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang ponsel. “Hyung, lampu ponselmu menyala, kenapa pesan masuknya tidak segera dibaca?” tanyanya setelah melirik pada ponsel yang ada digenggaman Jonghyun.

Jonghyun menggeleng pelan, memaksakan senyum kecilnya muncul. “Sedang tidak ingin,” jawabnya singkat.

“Coba aku yang baca, bolehkah? Kalau begitu tolong pegang handphone-ku sebentar.” Tanpa menunggu izin Jonghyun, Minho sudah menukar ponsel digenggamannya dengan ponsel Jonghyun. Sementara ponselnya sendiri ia berikan pada Jonghyun.

Jonghyun ingin melarang, tapi dengan sikapnya yang seperti itu hanya akan membuat Minho mencurigai bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam pikiran Jonghyun. Ia hanya bisa mengalihkan arah wajahnya dari Minho, tidak ingin bertemu pandang dengan sahabatnya itu. Ia tidak sanggup menjawab pertanyaan Minho yang mungkin akan terlontar sebentar lagi.

Hyung? Ini dari Heera. Kenapa kau tidak ingin membacanya? Kalian sedang ada masalah?”

“Sudah kubilang, sedang tidak ingin. Kami sedang tidak ada masalah. Kesalahan ada ada diriku, tapi aku rasa ini adalah hal yang hanya boleh kusimpan sendiri,” jawab Jonghyun dengan nada yang dibuatnya santai.  Ia tidak ingin emosinya tertangkap Minho.

Tangan kanan Jonghyun merogoh bungkusan snack yang dibawa Minho, memasukkan  stick itu ke dalam mulutnya walaupun sedang tak ingin makan, ia hanya berusaha mencari kegiatan lain. “Ini enak,” komentarnya sambil terus mengunyah, berbasa-basi.

Hyung, kau tidak mau berbagi cerita? Lalu apa gunanya kau memintaku untuk menemanimu malam ini? Aku sampai berbohong pada eomma-ku, menolak ajakannya minta ditemani datang ke midnight sale malam ini.”

“Hei? Berbohong? Sebentar, memangnya sejak kapan eomma-mu tinggal di Korea? Bukannya sejak SMP kau tinggal bersama bibimu?” Otak Jonghyun merespon cepat.

“Haha, bukan hal penting yang perlu kuceritakan. Lagipula aku pernah bilang padamu, kan? Kita ini berkebalikan. Kau sangat dekat dengan eomma-mu, sementara aku tidak. Sekalipun ia berusaha sekuat mungkin mendekatkan diri padaku—pandanganku rasanya sulit diubah, aku hanya menghargai dan menghormatinya karena bagaimanapun dia adalah orang yang telah mengandungku, melahirkan aku ke dunia ini meskipun aku tidak tumbuh dalam asuhannya.” Minho terkekeh ragu di akhir kalimatnya.

Ia bukannya tanpa beban mengucapkan semua itu. Hanya saja, bagi Minho, memikirkan hal yang akan sulit berubah adalah hal yang sia-sia. Dalam hal ini, eomma-nya memang telah berusaha meraih hatinya, tapi ada beberapa alasan yang membuat Minho tidak ingin terlalu peduli padanya.

Jonghyun menghela napas berat. Ia merasa bahwa dirinya sangat beruntung karena memiliki seorang eomma yang baik. Dengan segala masalah yang menghimpit keluarganya, setidaknya ia masih merasakan betapa besar kasih sayang seorang ibu.

Minho, sejak kecil sahabatnya itu sudah kehilangan ayah—lalu eomma-nya memutuskan pergi ke Jepang dan menjadi seorang data consultant di sebuah perusahaan asing. Minho dititipkan pada bibinya dan tumbuh di bawah asuhan keluarga bibinya.

Hyung, kadang aku berpikir, aku ini ibarat sebutir gula. Harusnya aku adalah bagian manis dalam hidupnya. Namun karena hanya sebutir, maka aku ini tenggelam begitu saja dalam lautan kehidupannya,” lanjut Minho bercerita lagi, kali ini ia yang tidak berani menghadapkan wajahnya pada Jonghyun, ia tidak ingin sahabatnya melihat setitik cairan bening di ujung matanya.

“Entahlah, aku tidak berada di posisimu. Aku mengerti, mungkin kau masih belum beradaptasi dengan eomma-mu karena kalian sudah lama tidak bertemu dan hanya berhubungan melalui telepon setiap ada momen besar seperti hari raya saja. Tapi, kau jangan menganggap dirimu hanya sebutir gula. Anggaplah dirimu sebagai seekor serangga, hewan kecil yang berperan dalam penyerbukan bunga. Kau hanya seorang anak— terkesan kecil—tapi kau akan sangat berarti untuk kehidupan eomma-mu selanjutnya. Mungkin benar kau pernah dicampakkan, tapi bukankah manusia itu bisa berubah?”

“Mungkin benar. Kalau begitu biarkan hatiku berubah juga, mungkin aku hanya butuh waktu. Sejauh ini aku belum merasa dekat dengannya. Hei Hyung, kau serius tidak ingin membaca sms dari yeoja-mu? Aku belum berani membacanya, siapa tahu isinya tentang masalah  kalian.” Pada akhirnya Minho memang mencoba mengalihkan pambicaraan.

“Minho-ya, mungkin aku akan putus dengannya,”Jonghyun menanggapi kilat, tidak ingin kalimatnya tertahan.

Mwo? Hyung, kenapa kau berpikir seperti itu? Kau bilang tidak ada masalah dengannya, kan?” Minho terperanjat, ia menjadi penasaran dengan isi pesan Heera.

Minho segera membuka pesan yang dari tadi belum ia buka karena berharap Jonghyun membukanya lebih dulu. Membacanya dengan hati-hati karena Heera memang menggunakan bahasa konotasi. Ia mengangguk pelan, setidaknya ia menyimpulkan sesuatu setelah itu.

Hyung, kau putus karena merasa bosan setelah lama tidak bertemu dengannya?” tanya Minho kemudian. “Aku tidak percaya jika kau adalah orang seperti itu.”

“Salahkah jika aku menjawab iya?”

***

Hei kau bocah imut, tidak usah cemas. Kau tidak perlu mengingatku setelah ini, anggap aku tidak pernah bertemu denganmu. Kau hanya butuh menjadi bocah manis, tidak perlu ada orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

Kini, untuk yang kesekian kalinya ia terbangun dari tidurnya. Mimpi buruk itu meninggalkan bekas berupa bulir keringat yang berjatuhan dari wajahnya.

Dulu dia hanya bocah lugu berusia sepuluh tahun, tidak mengerti apapun dengan apa yang dikatakan wanita itu setelah malam menjadi saksi bisu atas awal mula kisah kelam yang cukup memberikan pukulan bagi hidupnya. Malam itu dia hanya mengangguk polos dan paginya ketika diberi perintah oleh orang itu, ia sempat berpikir ‘memangnya semalam terjadi apa? Rasanya aku hanya tertidur pulas’.

“Hhh, kenapa harus teringat lagi?” rutuknya kesal.

Ia memutuskan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, berharap setelah itu pikirannya segera membaik.

Di depan cermin wastafel ia terpaku, menelisik wajahnya dan kemudian titik fokus pikirannya beralih pada matanya sendiri. Cermin tidak pernah berbohong, yang tampan dikatakan tampan, sebaliknya yang buruk rupa tidak akan dipuji—cermin tidak seperti program Graphic Editing yang dapat berdusta. Benar, cermin tidak pernah berbohong, itulah yang membuatnya terkadang membenci menangkap sosoknya sendiri terpantul dari benda tersebut. Terlebih memandang ke dalam matanya sendiri, melalui bayangan yang diperhadapkan padanya di atas cermin.

Mata itu, ia membencinya. Sejak lama ia tidak menyukai matanya, bukan karena buruk bentuknya, melainkan membenci apa yang terpancar dari sorot matanya sendiri.

Sorot mata yang memendam banyak hal, sorot mata yang menyiratkan banyak luka, sorot mata yang akan menjelaskan pada semua orang—tentang apa yang mengendap di hatinya—jika ada orang yang benar-benar memperhatikannya.

Kejadian malam itu, di mana dirinya yang masih lugu dan tak mengerti banyak hal tentang kebusukan dunia, adalah hal yang menjadi dalang atas semua ini. Memberikannya beban sekaligus merantai kebebasannya.

Sesaat kemudian ia merasa bagaikan seorang pengecut. Belenggu kelam membuatnya tak berani berharap pada satu hal. Bukan hanya menyiksa pikirannya, tapi juga raganya.

Ia kemudian merenung, mempertanyakan perasaan yang sudah lama mendekam di hatinya, hanya berani ia tempatkan di pojok hatinya. Seringkali, ia tidak ingin rasa itu berkelanjutan, terkadang mengakhiri sesuatu adalah jalan terbijak untuk dipilih.

Ya! Kim Heera! Jangan kau ganggu pikiranku lagi! Aku lelah!” Ia berteriak berang, menarik-narik rambutnya sendiri sekuat mungkin.

Sesaat kemudian ia bersandar di tembok yang ada di hadapan cermin tadi, tubuhnya terasa lemah—seakan ingin merosot ke lantai. Tapi karena tak ingin terjatuh, ia kembali menegakkan badannya, mengepalkan jemari tangan kanannya dan menghimpun segenap emosinya di dalam lima jari panjangnya itu.

Bruaghhhh

Prangggg

Cermin polos tanpa dosa itu pun menjadi sarana pelampiasan rasa frustasinya. Darah segar yang mengalir dari  punggung tangannya pun tidak ia hiraukan. Ia puas melihatnya. Rasanya ia ingin mengutuki apa yang tersimpan di dalam dirinya. Membiarkan darah itu terus menjalar membasahi badan wastafel, ia merasakan kepuasan tersendiri.

“Kumohon, Tuhan, aku tidak ingin ini berlanjut. Rasanya terlalu sakit membohongi diri sendiri, aku mencintainya, tapi aku tidak bisa membiarkan ini. Tuhan, darah saja bisa berhenti mengalir. Lalu bagaimana agar derasnya rasa cinta ini dapat kubendung di suatu tempat dan membuatnya menjadi sesuatu yang tak bergerak—hanya terdiam tenang?” mohonnya pilu.

Isak tangisnya membuncah, suaranya yang pelan menjadi lebih keras; bergaung mengisi seluruh ruangan kamar mandi.

Hyung, apa yang terjadi?” Tidak lama terdengar teriakan dari luar, membuatnya segera menghentikan tangisnya karena tidak ingin terdengar siapapun.

“Aku? Ah, tadi hanya kaca pecah,” jawabnya dingin, tentu saja apa yang dikatakan barusan adalah sebuah kebohongan.

Hyung? Serius? Buka pintunya, aku tidak percaya!”

“Pergilah, aku sedang tidak ingin seseorang mengusikku. Biarkan aku sendiri malam ini, kau tidur saja.”

Hyung, buka!”

“Tidak. Sekali kubilang tidak, artinya tidak. Pergi, atau kau akan membuatku tidak akan keluar dari kamar mandi semalaman!”

***

Tidak butuh waktu lama baginya untuk mematut diri di depan kaca, hanya memastikan rambutnya terkuncir rapi dan wangi parfumnya tidak terlalu menyengat. Ia segera meraih tasnya dan sebuah tas lainnya yang berisikan notebook. Tidak ada buku tebal yang ia bawa hari ini, ia sedang tidak ingin punggungnya menjadi nyeri karena membawa textbook ratusan halaman. Ia yakin kalaupun ia membawanya, benda itu hanya akan jadi beban yang terasa sia-sia, mood-nya sedang tidak bersahabat untuk diajak membaca tulisan berbahasa Inggris.

Ia terduduk sebentar di tepi ranjangnya, meraih dua buah scrapbook yang masih tergeletak begitu saja setelah semalam ia pandangi isinya. Beberapa menit dihabiskannya untuk meraba bagian cover-nya dengan hati gamang, ia merasa buku ini menyimpan banyak kenangan bersama Jonghyun.

Scrapbook itu, yang satu adalah hadiah dari Jonghyun ketika ulang tahunnya. Isinya adalah kumpulan lirik lagu yang ditulis Jonghyun dan foto-foto Heera sejak keduanya pertama kali bertemu. Yang satu lagi adalah hasil buatan bersama dalam rangka memperingati hari jadi mereka yang pertama, setahun menjalin kisah asmara.

Mengenang semua itu membuat Heera memutuskan untuk menelepon Jonghyun, suara Jonghyun dirasanya dapat meredam semua kerinduannya. Ia rasa, berbincang singkat dengan Jonghyun adalah hal yang harus dilakukannya agar tidak terus dibayangi oleh perasaannya yang tidak menentu seperti ini.

Calling,

Prince Jonghyun

 

Tut…tuttt…tutt, trek

 

Diangkat! Heera tersenyum girang. Setelah Jonghyun tidak membalas pesannya semalam, harapannya  kali ini adalah mendapatkan penjelasan dari Jonghyun mengenai absennya namja itu.

“Jjong! Ya! Kau tega sekali padaku. Ah, sebelum aku mengoceh lebih lanjut, aku ingin menanyakan kabarmu dulu. Kau sehat, Prince?” Tempo bicara Heera sangat cepat, saking senangnya karena akhirnya ia bisa bicara dengan namja-nya.

“Hmmm,” jawaban di seberang sana sangat singkat, dan Heera tahu bahwa itu adalah suara Jonghyun.

“Jjong? Ada yang salah pada dirimu? Kenapa jawabanmu terkesan aneh?” Heera menyadari bahwa respon Jonghyun sangatlah aneh. Sepengetahuannya, Jonghyun adalah tipikal namja yang ramah. Tidakkah mengherankan kalau jawaban Jonghyun hanya sesingkat itu? Ini tidak seperti Jonghyun yang biasanya.

“Jjong, kau tidak menjawabku? Jangan buat aku khawatir, jebal,” Heera memohon, jemarinya menggaruk-garuk lamban dagunya yang tidak gatal.

Hening, tidak ada balasan dari Jonghyun. Heera menjadi kesal karena merasa tidak dihiraukan. Tiga detik kemudian ia memutuskan untuk mengakhiri panggilannya sembari mengendalikan pikirannya, mencoba membuang jauh-jauh prasangka buruknya tentang Jonghyun.

“Ah, mungkin saja tadi itu dia masih tidur, jadi bicaranya dalam kondisi setengah sadar,” ucapnya pada diri sendiri.

Tidak lama ia segera melirik jam tangannya, menyadari bahwa ia harus segera sampai di kampus untuk menyelesaikan sedikit lagi proposal yang semalam sempat terbengkalai.

Nuna, kau lama!” Lengkingan suara Kibum terdengar, menusuk telinganya.

Ah iya, seketika ia sadar kalau hari ini ia memang meminta agar Kibum menjemputnya. Ia tidak yakin akan baik-baik saja jika ia harus mengemudikan mobil sendiri kepalanya terasa migrain setelah tubuhnya dipaksakan terjaga hingga pukul tiga pagi, mau tak mau ia harus mengerjakan proposalnya sekalipun pikirannya sedang tidak jernih.

Heera berlari menuruni anak tangga, memasang senyum ‘ampuni aku’ pada sepupunya itu, “Gomawo sudah mau menjemputku, Kibum-ah. Ayo kita berangkat!”

“Huh, tampangmu imut sekali kalau memasang wajah seperti itu.” Kibum berpura-pura marah atas keterlambatan Heera, “lain kali jangan buat aku menunggu!” lanjutnya sambil meraih satu buah apel yang ada di meja ruang televisi.

Ne, ara ara. Aku hanya terlambat tujuh menit dari waktu yang dijanjikan. Tunggu sebentar lagi, aku mau mengambil kopi kalengan dulu,” pinta Heera sembari melangkah ke dapur.

Sementara Heera ke dapur, Kibum duduk, dan membaca koran edisi kemarin yang ada di meja TV. Matanya bergerak mencari judul berita yang menarik.

“Kibum-ah, malam ini kau kosong tidak? Bagaimana kalau kau menginap di sini? Rasanya aku sedang butuh teman berbincang.” Suara Heera membuyarkan konsentrasi Kibum, ia belum sempat membaca satu berita pun.

Ia memainkan bibirnya sebentar lalu meletakkan koran. “Baiklah, demi nuna-ku yang malang dan kesepian ini. Eh Nuna, sejak kapan kau menjadi seperti ini? Biasanya kau tidak pernah merasa tak punya teman? Bukankah buku dan notebook adalah teman setiamu? Lagipula, di mana Jonghyun? Biasanya setiap malam kalian sa—”

“Ya! Sudah jangan banyak tanya, oke?” Heera memotong, ia tidak ingin Key mengingatkannya lebih lanjut mengenai absennya Jonghyun.

“Issh, ya sudah. Hei Nuna, kulihat kau sering sekali minum kopi? Apa kau tahu bahwa kopi itu berdampak buruk untuk ginjal,otak, dan jantungmu?” Key merebut kaleng kopi yang dipegang Heera.

Ne, aku tahu,” sergah Heera sembari mengambil kembali kopinya dari Key. Ia kemudian melanjutkan dengan tempo cepat, “Zat Kafein pada kopi dapat menghambat enzim-enzim yang membantu proses pembentukan memori dan juga menurunkan kemampuan respon syaraf dan otak. Mengonsumsi lima sampai enam cangkir kopi sehari menyebabkan peningkatan resiko serangan jantung sampai dengan dua kali lipat. Kafein dapat menyebabkan kerusakan dan kemungkinan terjadinya keabnormalan DNA dengan menghambat mekanisme perbaikan DNA. Kafein yang bercampur air akan merangsang ginjal untuk mengeluarkan air lebih banyak daripada yang kita minum. Debaran jantung akan meningkat bila terlalu banyak minum kopi, karena dalam kadar tertentu kafein dapat mempengaruhi susunan saraf pusat di otak. Dengan adanya efek peningkatkan denyut jantung tersebut, maka minum kopi dalam jumlah banyak tidak dianjurkan untuk penderita hipertensi dan sakit jantung. Adakah yang terlewat olehku, sepupuku yang cerewet?”

“Ada, masih banyak sebenarnya. Kau belum sarapan kan, Nuna? Kafein juga meningkatkan produksi asam di lambung sehingga tidak dianjurkan minum kopi sebelum makan,” Key menambahkan, telunjuknya ia tempelkan pada perut Heera. “Ada lagi, aku pernah baca, katanya kopi tidak menyebabkan stroke. Justru orang yang minum dua sampai tiga cangkir kopi sehari memiliki resiko terkena stroke 19% lebih rendah daripada yang tidak.”

“Sebenarnya, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang hanya memiliki sisi negatif. Kopi juga punya manfaat. Katanya kopi dapat mengurangi resiko terkena penyakit Alzheimer dan Parkinson, serta resiko terkena batu ginjal. Di satu sisi kopi memang dapat menumpulkan memori untuk jangka panjang, tapi ternyata kopi dapat membantu meningkatkan memori jangka pendek. Dalam jumlah kecil, kandungan kafein dapat membantu meningkatkan efek obat-obatan yang berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit sementara. Dan menurut Harvard Women’s Health, mengonsumsi kopi beberapa cangkir sehari dapat mengurangi resiko diabetes tipe 2 sebesar 50%. Kopi juga dapat mengurangi resiko kerusakan fungsi hati.” Bak pakar kesehatan, Heera menanggapi ucapan Key. Tangannya  ia letakkan persis di bawah dagu, berpose meyakinkan.

Nuna, sebenarnya banyak kesimpang-siuran mengenai khasiat dan dampak negatif dari kopi. Ada temanku, mahasiswa jurusan statistika. Dia bilang, yang menjadi penyebab perbedaan hasil penelitian adalah metode yang digunakan. Si peneliti A dan peneliti B boleh saja berkoar-koar mengenai hasil penelitiannya, tapi sebenarnya yang tidak pernah ditanyakan masyarakat adalah metode yang digunakan untuk penarikan sample-nya, populasi mana yang diamatinya, metode yang digunakan untuk menganalisis yang kemudian akan menyebabkan perbedaan kesimpulan.”

“Hhhh…Kibum-ah, mengapa masih sepagi ini topik pembicaraan kita suda sangat berat? Aku sedang suntuk sebenarnya. Baiklah, belakangan aku sering minum kopi untuk menahan mataku yang terasa masih ingin dipejamkan. Lain kali aku akan menghindarinya. Tapi semalam aku tidur jam tiga dini hari, rasanya tidak akan kuat kalau pagi ini aku tidak minum kopi. Dan jangan lanjutkan protesmu kalau kau tidak ingin waktu kita habis lebih banyak. Ayo berangkat!”

Tangan Heera segera menarik jaket yang Kibum kenakan, bermaksud meredam mulut cerewet Kibum yang jika dibiarkan—maka akan merembet pada topik lainnya.

“Ya! Nuna, jangan tarik-tarik! Di mana harga diriku jika ada yang melihat namja keren sepertiku takluk diperlakukan seperti ini?” Kibum protes.

“Isshh, ini rumahku, rumah kuburan. Mana ada orang lain selain para pekerja yang ada disini?”

***

Menggigil, bukan kedinginan ataupun demam—lebih tepat jika dikatakan bahwa hal itu disebabkan oleh kekacauan cara berpikirnya. Tangannya mendekap tubuhnya sendiri, sekuat yang ia mampu. Ia terlihat sangat mengenaskan dengan tatapan kosongnya yang tertuju pada pemandangan di luar mobilnya. Ia seperti orang tanpa tenaga, matanya sayu dan tubunya tidak sanggup untuk ditegakkan.

Tapi hasratnya yang begitu tingggi, berhasil membuat tubuhnya terpaksa harus bersedia didudukkan di dalam kelas kuliah. Ia belum memikirkan alasannya jika Heera bertanya mengenai kondisinya yang terlihat kacau. Memikirkan yeoja itu membuatnya dilema setengah mati. Ada sedikit penyesalan karena telah  membuka pintunya untuk menjalin hubungan pertemanan yang cukup akrab dengan yeoja itu.

Dia bahkan tidak dapat berjalan sendiri, Taemin memapahnya hingga ia terduduk di kelas. Mata Taemin menangkap sosok yeoja cantik yang sedang berkutat dengan notebook-nya di barisan belakang.

Yeoja itu menyadari bahwa ada dua orang pendatang baru, ia sedikit heran karena sebelumnya ia tidak pernah melihat salah seorang dari mereka. Tidak lama ia memperhatikan orang yang satunya lagi, merasa ada yang tidak beres pada diri orang itu. Yeoja itu adalah Heera, kini ia memutuskan untuk menghampiri dua orang tadi—meninggalkan sementara pekerjaannya.

“Jinki-ya, kau sedang tidak enak badan?” Heera berdiri di hadapan Jinki, mengamati baik-baik wajah Jinki yang terlihat pucat.

Jinki hanya menggeleng, ia tidak tahu harus menjawab apa karena nyatanya ia memang tidak ingin menceritakan keadaan dirinya, tubuh ringkihnya itu ia sembunyikan rapat dalam balutan coat. Taemin yang menyadari bahwa Jinki sengaja menghindari pertanyaan temannya ini, segera melemparkan senyum pada Heera.

 “Annyeong haseyo, Lee Taemin imnida.” Taemin memperkenalkan diri dengan sedikit ekspresi kikuk di wajahnya.

“Ah ne, aku Kim Heera. Hmm, marga kalian berdua sama. Apa kalian kakak beradik?” Heera membalas, kemudian terdiam sejenak. “Taemin ssi, Ada apa dengan Jinki?” Ia akhirnya memutuskan untuk bertanya lagi walau sebenarnya ia sudah menerka bahwa Jinki memang sengaja tidak menjawab pertanyaan pertamanya.

“Tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir,” Taemin menjawab, suaranya sengaja dibuat dingin agar Heera tidak mendesak lagi tentang masalah ini.

Hyung, aku harus pergi. Hubungi aku kalau kau mau pulang nanti.” Berbicara sejenak kepada Jinki, kemudian beralih kembali kepada yeoja yang menghampiri mereka tersebut, tersenyum tipis dan memilih beranjak dari sana mengingat ia sendiri punya kepentingan lain. Taemin mengangguk sekilas memohon diri dan berjalan menjauh.

Heera mengernyit sedikit bingung. Apakah kedua bersaudara ini memang sedikit susah dalam berinteraksi dengan orang lain? Atau ada sesuatu—yang tidak biasa—yang membuat namja yang lebih muda tadi bertingkah sedikit tidak bisa dimengerti seperti tadi? Entahlah, ia memilih duduk di sebuah kursi tepat di samping Jinki kemudian.

Hening. Baik Heera maupun Jinki tidak ada yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Berharap bahwa Jinki akan mengatakan sesuatu duluan ternyata adalah sebuah hal yang percuma. Demikian membuat Heera menghela napas sejenak lalu menoleh pada namja tersebut, menatapnya meski ia tau bahwa tatapan tersebut tidak akan dibalas.

Menyadari bahwa ia sedang diperhatikan, entah bagaimana deru napas Jinki semakin meningkat. Ia memang biasanya tidak terlalu nyaman ditatap lama oleh orang lain. Tapi kali ini beda. Perasaan ini lebih dari sekedar perasaan tidak nyaman. Ada sesuatu yang benar-benar mengganggu dirinya. Sementara hanya menunduk, ia merasakan aliran darah dalam dirinya seolah semakin cepat, begitu pula dengan detak jantungnya. Ia seperti terserang anxiety dan nausea sekaligus. Dadanya bergemuruh dan seperti ada sesuatu yang mengaduk isi perutnya, membuatnya merasa mual. Tanpa disadarinya keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

“Hei…,” ujar Heera terpotong, “apa kau baik-baik saja?” Menyadari raut wajah Jinki yang sedikit aneh dan warna kulitnya yang memucat juga keringat yang mengalir dari pelipisnya, membuat Heera semakin yakin bahwa namja di hadapannya ini tidak sedang baik-baik saja.

Reaksi alamiah sebagai seorang yang menganggap orang lain sebagai teman, tangan Heera mencoba menyentuh dahi Jinki—bermaksud memastikan apakah temannya ini sedang sakit atau sejenisnya.

“Braaakk!!” Kursi itu terjatuh ke belakang lantaran Lee Jinki berdiri tiba-tiba dengan kasar, membuat yeoja yang tadinya hendak memeriksa keadaannya itu urung meraba kening Jinki dan terperanjat.

Deru napas Jinki semakin cepat dan emosinya entah kenapa menjadi tidak stabil. Ia melirik ke arah Heera sekilas tapi kemudian cepat-cepat kembali memalingkan wajahnya ke tempat lain seolah yang diliriknya barusan adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Vertigo mendadak menyerangnya kini. Sementara Heera masih menatapnya dengan terheran, Jinki berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya, memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya kuat lalu segera beranjak dari sana dengan sedikit terhuyung. Yang ia butuhkan sekarang adalah tempat di mana ia bisa mengistirahatkan diri tanpa diganggu siapapun.

Heera hanya bisa diam menatap bingung—benar-benar bingung—seiring dengan Jinki yang berjalan menjauh. Apa yang sudah diperbuatnya hingga mendapat reaksi seperti itu? Apakah dirinya terlalu mencampuri urusan orang lain? Rasa kesepiannya, Jonghyun, dan kini sikap aneh Jinki. Sekarang ia benar-benar ingin menarik napas dalam-dalam, ingin melupakan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya sejenak. Terlalu berpikir menjadikannya dirundung perasaan tidak menentu. Semua masalah kian menari-nari di kepalanya, memborgol otaknya dalam kepungan ‘anak panah’ yang siap melesat tanpa kompromi, hingga ia tak berkutik ketika harus dikalahkan oleh sesuatu yang bernama ‘perasaan’.

***

Konsentrasinya benar-benar tidak berada pada tingkat yang normalnya. Penjelasan dosen seharian ini bagaikan angin lalu. Ia mau tak mau melakukan perbuatan yang sama dengan yang dilakukan anak-anak penghuni barisan belakang—mengabaikan dosen dan melakukan kegiatan lain bersama notebook-nya— karena deadline proposalnya adalah sore ini. Proposal tersebut akan didiskusikan dalam rapat kepanitiaan jam empat nanti.

Hembusan napasnya sangat panjang ketika ia baru saja duduk di taman belakang fakultas setelah membeli bento di kantin fakultas. Memandangi isi-isi yang terdapat di dalam kotak itu. Jajaran omelet egg, chicken karaage, beef sausage dan nasi di dalam kotak bento tersebut membuatnya bersyukur karena akhirnya ia punya kesempatan untuk mengisi perutnya, ia punya waktu satu jam lagi hingga agenda rapatnya menanti. Ia memang tahu kalau menunda makan akan berdampak buruk terhadap sistem pencernaannya, tapi apa daya jika waktu sedang mendesaknya.

Makanan itu dikunyahnya dengan perlahan, ia tahu bahwa melahap makanan dengan cepat cenderung meningkatkan berat badan dibandingkan dengan mengunyah makanan sebanyak 20 kali kunyah setiap suapnya, mengunyah dengan terburu-buru bisa menimbulkan tekanan dan gangguan pada pencernaan atau penyerapan nutrisi.

Di tengah bersantapnya itu, Heera teringat Jonghyun. Mulai timbul keinginannya untuk menelepon namja-nya itu sekali lagi, biasanya Jonghyun sedang senggang pada sore hari. Setelah menimbang beberapa saat, ia pun meraih ponselnya dan menekan angka satu untuk tombol panggil cepat, tertaut pada nomor ponsel Jonghyun.

Cukup lama ia menunggu hingga akhirnya terdengar tanda bahwa panggilannya sudah diangkat. “Yeoboseyo, Jjong…,” sapanya pelan, ia sedikit khawatir jika nantinya Jonghyun mengabaikannya lagi.

Dan benar saja, sapaannya hanya dibalas dengan keheningan, hanya melodi lagu “Two Is Better Than One” milik Boys Like Girls ft Taylor Swift sayup-sayup terdengar.

Lagu itu adalah lagu kenangannya, lagu yang pernah Jonghyun senandungkan di malam hari saat namja itu meneleponnya.

I remember every look upon your face, the way you roll your eyes, the way it taste

You make me hard for breathing

Cause when i closed my eyes and drift away, I think of you and everything’s okay

I finally hard believing

That maybe it’s true i can’t live without you

Maybe two is better than one

There’s so much time to figure out the rest of my life and you’ve already got me coming undone

Now i’m thinking two is better than one

 

Berdua lebih baik. Memiliki pasangan akan membuat kita merasa tidak sendiri; memiliki teman berbagi; mengurangi perasaan tersudut, terpojok atau semacamnya. Itu yang pernah Jonghyun katakan padanya.

Mata Heera mulai basah, ia menghela napas panjang—sedikit mengutuki dirinya yang mendadak terkesan seperti orang berkarakter melankolis saat ini. “Jjong, lagu ini membuatku rindu. Maukah kau menyanyikannya sekali lagi untukku? Aku ingin mendengar suara indahmu.”

Tidak ada jawaban, hanya deretan lirik pendongkrak rasa rindu yang ditangkap telinga Heera, membuatnya sukses meneteskan air mata.

“Jjong, ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi sangat menyebalkan, huh?”

“Jjong, kau sedang sibuk? Atau jangan-jangan kau sedang sakit?”

“Jjong, jangan buat aku frustasi. Kau tahu aku tidak suka diabaikan!”

Makin lama emosi Heera makin meningkat, Jonghyun baginya kini adalah orang yang sangat menyebalkan karena namja itu tidak memberi respon sedikitpun. Setidaknya kalau Jonghyun sibuk, dia bisa bilang dan memberi penjelasan singkat seperti ‘aku sedang sibuk, bisakah kita berbincang lain waktu?’, Heera menggerutu dalam hati.

Rasa kesalnya berubah menjadi aliran air mata yang kian deras. Ia kemudian menyadari bahwa tempatnya duduk kini adalah tempat umum, maka ia buru-buru menghapus air matanya sebelum ada orang yang melihat.

“Jjong, beri aku sedikit jawaban…jangan buat emosiku makin meninggi, hari ini aku sedang tertekan.” Heera bertekad ini adalah kalimatnya yang terakhir. Kalau Jonghyun tidak juga merespon, maka ia akan menyudahi komunikasi yang terkesan satu arah ini.

“Kita bertemu dua hari lagi, jam lima sore di restoran tempat kita terakhir kali bertemu.”

Tuttt,tuttt,tuttt,

Sambungan terputus, sukses membuat Heera meneteskan air matanya lagi, kali ini ia memutuskan untuk menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Jjong, kau marah padaku? Karena apa?”

To Be Continued

Maaf kalau penjabaran tentang kopinya terlalu panjang, hanya ingin berbagi info melalui tulisan ini😀

Ditunggu masukannya ya? Makasih buat semua yang baca😀

Glossarium:

  • Anxiety: rasa cemas berlebihan yang menyerang seseorang membuat tangan dingin dan sebagainya. Biasanya terjadi karena efek samping obat atau efek psikologis dan traumatis
  • Nausea: istilah untuk mual dalam bahasa kedokteran
  • Vertigo: rasa pusing yang terjadi secara tiba-tiba efek dari gangguan keseimbangan. Gejala umum: rasa pusing seperti kepala berputar biasanya disertai mual dan muntah. Umumnya terjadi karena ada gangguan organ pengatur keseimbagan (biasanya pada Central Brain / Otak kecil)

Source:

Info tentang arti warna mawar:

Link

Info tentang dampak kopi:

Link 1

Link 2

Link 3

Link 4

Info tentang dampak negatif mengunyah makanan dengan terburu-buru:

Link 1

Link 2

Yang penasaran tentang diabetes tipe 2, bisa liat di sini:

Link

Makan Terburu-buru tidak baik (ada satu lagi tapi lupa dan ga ketemu lagi):

Link

38 thoughts on “Forward – Part 3

  1. hhmmm…
    agk bngung sbenerx,ap krn bhsany yg berat atw krn mataq yg ngantuk berat…
    jd,smw orang dsni pux masalah…d mulai dr jonghyun,minho.jinki dan jg heera..walau mslh heera dipicu sm hub.x dg jjong
    yg bkin pnasaran d part ni adl…cp wanita yg d tmui jonghyun d awl crt sm rasa frustasi jinki,knp keadaanx bs separah it cm krn mikirin heera…

    udh mulai msk knflik kah…knp aq bacanya msh flat2 aja,mksdx blm ad knflik yg menguras emosi gt…

    1. Eonni, ini menurutku ga gitu berat sih, ga terlalu banyak filosofi2😀
      tapi ga tau juga sih, tiap orang beda2

      belom masuk konflik, masih pengantar. Lambat ya? Akhir2 ini aku pribadi lagi suka pake alur lambat. Tp kemaren aku udah ngeh dan ngajakin Vero Eon buat mulai masuk inti, biar ga kepanjangan, hhe…

      makasih ya eonni udah baca plus komennya. Jgn bosen2 ya😀

  2. aku lupa crita sblumnya, dan ff ne pnuh dg tka teki kurasa..atau apkah otakku yg trlalu lamban ya…

    tp dtggu lanjtannya.pnasaran knapa dg mreka smua..

    1. emang belom dijelasin bener2 kok😀

      makasih ya udah baca n komen 2x
      maaf kalo lama terbitnya sampe lupa ceritanya, akhir2 ini kesibukan Vero Eon n aku makin parah😀

  3. akhirnyaaa…part 3 muncul juga

    kayaknya nggak ada typo deh *garuk2 kepala* sejauh ini nggak ada kalimat yang mengganjal juga
    di sini semua tokohnya punya masalah ya? udah berasa konfliknya
    heera terlihat lebih manusiawi dan keliatan ceweknya, di part2 sebelumnya dia terlalu ideal sih
    dan jinki… aduh, kenapa sih karaktermu itu kompleks sekali?

    dan jujur aja, bagian yang paling bikin aku excited adalah bagian diskusi heera dan kibum *ahaha, aku banget* apalagi tentang stroke tuh, judul TA saia itu mah *abaikan*
    ketahuan kalau author2nya melakukan riset dengan serius, ngasih referensi pula di bagian bawah😀

    “….Dia bilang, yang menjadi penyebab perbedaan hasil penelitian adalah metode yang digunakan. Si peneliti A dan peneliti B boleh saja berkoar-koar mengenai hasil penelitiannya, tapi sebenarnya yang tidak pernah ditanyakan masyarakat adalah metode yang digunakan untuk penarikan sample-nya, populasi mana yang diamatinya, metode yang digunakan untuk menganalisis yang kemudian akan menyebabkan perbedaan kesimpulan.”

    like this! juga jenis desain studi, besar populasi nilai interval kepercayaan, interpretasi parameter yang diteliti, dan banyak faktor lainnya. *jadi inget evidence-based medicine*

    ff ini bikin aku excited banget nget nget, kutunggu lanjutannya😀

    1. Ehhh, kok kamu udah TA aja sih? cepet amat? kuliah jurusan apa toh? aku yg angkatan lebih tua aja belom ngungkit2 skripsi. baru semester 8 urus itu.

      desain studi, besar populasi nilai interval kepercayaan, interpretasi parameter yang diteliti, dan banyak faktor lainnya. itu ga usah dimasukin mi, ntar tambah berat. Orang yg ga pernah dapet statistik ntar nanya, apa itu desain studi, apa itu interval kepercayaan, dan…bkn interpretasi parameter mi, tapi pendugaan parameter. nah ntar pada bingung juga apa sih maksud parameter di sini. Cukup sekilas lewat aja ah, aku ga mau pada mumet gr2 statistik (aku sendiri mumet ama jurusanku itu), inget ff-ku ICBY part 3 ada statistiknya jadi pada bingung mi.

      lanjutannya…hmmm, ditunggu aja, ga yakin cepet sih mi. Nungguin namja aja mi mending, hhe

      1. farmasi, angkatan 2008..hehehe, udah lulus malah
        iya, itu maksudnya bukan buat ditambahin di cerita kok, cuma kesimpulanku setelah membaca beberapa jurnal aja.. *saking excited-nya jadi begini deh*
        o..iya, pendugaan parameter, ya? aku cuma belajar biostatistik 2 sks sih, jadinya ya pas2an. thx atas koreksinya bib
        okesip, dua2nya aku tunggu. mana yang duluan update aja deh😀

  4. Huh…tarik napas…buang napas…
    Lumayan berat…tp aku sukaaaa….
    Kopi nya emg kepanjangan tuh…tp msh bisa di bayangkan soalnya yg ngomong heera ma key…*emang cerewet kan…plakk #dtabok key ma heera..
    Mkin penasaran ma mslhnya jinki…jd mduga2..tp takut salah jg…hehehe
    Jjong jg kbngetan…ms telp d angkat tp ga ngomong…skali ngomong…eh,ditutup.. »Yg nelp siapa,yg nutup siapa…ihh,,pengen jitak kplnya jjong..

    Kolaborasinya daebak nih…emg ga bs d boongin klo pakar2 nya ngumpul jd satu…*nunjuk 3nama diatas…
    semangat ya nglanjutin forwardnya…fighting

    1. penjelasan tt kopi mungkin lebih nyaman krn dibuat dalam bentuk dialog ya eon?

      Ahaha, ditambah lagi Key yg ngomek, cucok deh tante *colek Key* #digamparlockets

      jjong-nya udah keburu ditarik ama si kim nara sebelom kita jitakin eon😛

      makasih ya buat semangatnya, makasih udah mampir n sidernya ga lagi kumat😀

  5. banyak pertanyaan, jjong kenapa? Apa gara2 pekerjaan barunya itu? Tiba2 bgt sikapnya berubah
    Jinki satu lagi, tapi kyaknya jinki punya masa lalu gelap ya? Yg bikin dia jd sperti sekarang.. Tertutup gitu?

    Penjelasan ttg kopi dan cara mengunyah makanan nya gomawo kak.. Haha, nambah tau~

    Ini ff udh aku tunggu2 dan akhrnya update *horeee
    Next part jgn lama2 yah kak ^^

    1. Eeee, aku emosi. Modemku lemot amit2.

      Lanjutannya diusahain cepet, agak susah karena yang nulis duaan sih. Masalah waktu dan kesepakatan bersama.

      Aya makasih ya udah mampir ^^

  6. “Makanan itu dikunyahnya dengan perlahan, ia tahu bahwa melahap makanan dengan cepat cenderung meningkatkan berat badan dibandingkan dengan mengunyah makanan sebanyak 20 kali kunyah setiap suapnya,” pantesan aku gak bisa gemuk ya -.-”

    ceritanya jinki blm dibahas kan ya? hehe lupa
    kl aku jadi heera, pas nelpon jonghyun yg kedua kalinya pasti aku cuma diem doang, apalagi setelah dipanggil jonghyunnya gak nyautin apa-apa… diam, dan mendengarkan apa yg terdengar sbg latarnya, mungkin selain lagu yg lagi terputar itu ada suara-suara lain yg bisa terdengar, sesenggukannya jonghyun mungkin?

    ff ini emang selalu bikin pembacanya menyerukan, WOW. ditunggu kelanjutannya🙂

    1. Nah aku kebalikan eon, ngunyahnya bentar–maen telen aja, jadi gemuk deh.

      Iya emg belom banyak dibahas eon. Trus, pas nelpon itu emang suara lagu itu yang terdengar, Jjong engga sesenggukan juga, masa cengeng banget ya cowo.

      Makasih banyak eonni udah mampir ^^

    1. hwah.. Info2nya TOP!!
      Ada apa ya dgn jinki??
      Aigoo.. Moment terakhir heera-jjong bikin aku nangis.. Jjong n heera sama2 frustasi ych..
      Feel-nya dapet bgt..
      Next ditunggu..

  7. Info-infonya brguna bgt buat lbih mnjga ksehatn nnti aku praktekin deh hehe🙂
    Tlisnnya sperti biasa bgus bgt, bkin aku ktagihan bcanya untuk next partnya aku tnggu ya thor klo bsa jgan lma2 dan info2 tntang kshatan lainya dimsukin lg biar akunya tmbah pnter bca ff eoni ^-^v

  8. digaris finish >> di garis finish

    nafas >> napas

    midnight sale… hahaha klo ajak key kyknya bisa tuh.. gak ada penolakan.. wakaka

    melalui bayangan yang diperhadapkan padanya di atas cermin. >> diperhadapkan… agak rancu sama penggunaan afiksasinya…

    soal kopi.. bikin puyeng juga..
    intinya.. jgn dikonsumsi secara berlebihan..
    dlm agama pun gtu kan.. yg brlbhn itu gak baik… ea ea ea..

    heera n key.. ooohhh
    seperti aq n key… /plaaakkk

    apakah jinki jatuh cintrong sm heera?
    ou ou ou ou
    ditunggu lanjutannya…

    1. sippo, makasih banyak buat koreksinya, uri suhu *ditabok

      Nah nah, yg diperhadapkan mestinya gimana toh? aku juga sempet mikir tapi bingung mau diganti apa, ada saran? btw2, eke bukan anak bahasa jadi mau tanya, afiksasi apaan sih?

      Makasih eonni udah nyempetin mampit😀

      btw hidden aku lanjutin jadinya, ga mau ngecewain yg terlanjur baca ^^

      1. aduh suhu.. berasa tua ya.. di kepalaku suhu itu berkepala botak .___.v

        nah itu.. aku jg gak tau yg pas apa… dihadapkan?
        soalnya hmpir gak pernah dgr ‘diperhadapkan’
        pake 2 awalan itu.. di n per

        afiksasi = pengimbuhan
        prefiks = awalan
        infiks = sisipan
        konfiks = awalan n akhiran
        *1 lagi apa ya? bentar mikir dulu*
        …………………. oh!
        sufiks = akhiran

        1. Kan eonni emang udah tuaaa, ekeekek~

          Errr, jadi apa yak?

          Ooo, aku lupa tuh istilah2nya. Bentar kalo udah nemu ganti yang pas diedit deh

          Makasih eonniiii

  9. yeay! akhirnya ff favoritku muncul juga xD

    lebih berat dibanding yang kemaren tapi dapet info baru lagi🙂
    jeda buat next part-nya jangan terlalu lama ya thor! penasaran dengan rahasia JongYu hehe🙂

  10. eonnie pernah ga baca novel dunia sophie karya Jostein Gaarder? menurutku FF ini serupa dengan novel itu karna sama2 ada filosofinya. walau cukup berat sih bacanya.

    keren deh nih FF, banyak info menarik tentang kesehatan, sosial dll. Keren!
    masih bingung sama karakter Jinki. trus knp Jjong tiba2 jadi dingin sama Heera? aigoo aku jadi penasaran

    next part jangan lama2 yaa…

    1. Kalo aku pribadi belom pernah. Kalo Vero Eon aku ga tau pernah baca engga? Si Eonni ini sering baca buku kykna

      Karakter Jinki perlahan bakal lebih jelas kok😀

      Makasih ya udah mampir… part 4 diusahain secepat mungkin. Agak susah mengingat Vero Eon kayakna jauh lebih sibuk daripada aku😀 *colek orangnya*

  11. ninggalkan oxygent dulu ah~ hehe ^^
    menurutku, ini FF paling berbobot yang pernah aku baca eon. udah gitu, dari segi bahasa rapi banget! stiap bahasa yg dituangkan disini feel nya dapet ^^
    dan yang paling mengesankan itu, isi dari ceritanya ini loh.. ckckck. hanya mampu berdecak kagum.. *icieileeh
    aku punya permintaan sblum menutup komen yg kyk asap asap kreta api ini(alay dah). cepetan lanjutin ke chapter selajutnya ya eon! *muka melas ^^v
    oke deh, udh tuntas ngasih oxygent nya.. buat two authors, semangat terus ya ngelanjutin ni FF !😉

  12. Hhhhh… hela nafas dulu. Part ini bikin nyesek.
    Omo! Jjong mau mutusin Heera? waeyo?
    aku jadi ngerasa yakin nih kalo Ajhumma yang dibenci Jjong itu eommanya Minho.
    & Jinki, agak brt blg ini. Mm.. mgkinkah dia pernah ngalamin plecehan wktu kcil? aku ga yakin jg sih tapi pas baca :

    “Dulu dia hanya bocah lugu berusia sepuluh tahun, tidak mengerti apapun dengan apa yang dikatakan wanita itu setelah malam menjadi saksi bisu atas awal mula kisah kelam yang cukup memberikan pukulan bagi hidupnya. Malam itu dia hanya mengangguk polos dan paginya ketika diberi perintah oleh orang itu, ia sempat berpikir ‘memangnya semalam terjadi apa? Rasanya aku hanya tertidur pulas’.”

    bagian ini ngingetin aku sma ff yg prnah aku baca, lupa judulnya apa. di ff itu ada bagian yg intinya agk sm kayak yg di atas itu. di ff itu krakter castnya hmpir sm kayak Jinki di sini & itu karena dia prnh ngalamin plchan wktu kcil. Hmm.. Mollayo, aku tunggu next partnya aja dehh
    Fighting ne thor!!!😉

  13. Miris. Ap yg trjadi pd Jinki my bebih? Sakitkh dy?
    Trauma psikologiskah, ato ad kejadian d masa lalu yg bikin dy jd depresi kek gini. Sampe menutupi prasanny sm Heera sekalipun, duh, alangkah tega kedua author ini menjadikanmu setragis ini bang Nyu.
    Yaoloh, it si Jjong, ap engkau bermain api sm tante” genit it? Gak lepel amat, mending Jjong main” sm dongsaeng imut” mcam sy ini *slapped

    Duh, ini BAGUS! AWESOME! Narasiny, ilmuny. Ish, suka deh sm ff ini.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s