Imagination

Title                 : Imagination

Author             : Raemints

Main Cast       : Kim Rae Ni (OC), Lee Taemin

Support Cast   : Kim Bae Gu (OC), Kim Jae Ra (OC), Kim Ki Bum (key)

Lenght             : Oneshoot

Genre              : Romance, Life

Rating             : General/PG-13

Summary        : Disaat semua berbahagia, apakah aku harus ikut berbahagia? Disaat semua bersedih, apakah aku harus ikut bersedih? Aku bukan kalian, aku berbeda dengan kalian….. Aku tidak bisa disamakan dengan kalian.

A.N                  : Annyeong yeoreobun~~ 😀 hm, ini FF pertama yang aku kirim kesini, maaf kalo kurang memuaskan… Happy reading and please comment this story hehehehe ^^

IMAGINATION

Musim dingin tahun ini sangat menusuk. Membuat orang yang bangun untuk memulai aktivitasnya kembali terlelap. Malas. Ya, udara dingin memang selalu membuat orang malas beraktivitas. Membuat orang lebih nyaman berada di rumah. Tapi apa daya, hidup tidak bisa di pause. Harus tetap berjalan seperti biasa, atau kalau kau mau kau bisa men-stopnya. Dengan cara, mati.

“Kim Rae Ni! Ireona! Apa kau tidak ada jadwal hari ini?!” teriak seorang namja sambil menggoyang-goyangkan badan kakak perempuannya yang tergeletak di kasur.

“Aniyo… Choi Seonsaengnim sedang bulan madu.” Balas kakaknya pelan sambil menarik selimut kembali.

“Ya! Tetap bangun Rae Ni ssi!! Antarkan aku ke sekolah…” teriak namja tadi di telinga kakaknya.

“Ya! Kim Bae Gu, jangan teriak di kupingku! Aish jinjja~ kau kan bisa mengendarai motor sendiri!” balas kakaknya sambil mendorong namja itu.

“Aish kalian ini! Rae Ni ah! Cepat antar adikmu ke sekolah. Kau lupa, appa sudah melarangnya membawa motor? Ppalli! Bae Gu bisa terlambat.” Tegur eommanya yang lewat di depan pintu kamar. Dengan mata masih 3 watt, gadis itu menatap adiknya tajam.

“Ppalli noona!” namja itu keluar kamar sambil menahan tawa.

“Cih, kalau ada maunya baru kau panggil aku noona!” seru Rae Ni sambil melempar guling ke arah Bae Gu. Rae Ni pun pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya lalu mengganti baju tidurnya dengan baju yang layak. Walau dia akan mengantar Bae Gu dengan mobil, tetap saja harus rapih. Setidaknya tidak ketara baru bangun tidur.

“Ppalli ppalli! Katanya kau tidak ingin terlambat.” Rae Ni menarik kerah baju adiknya yang sedang memakan sup rumput laut.

“Aish, sabar noona. Ah, tasku! Err~ eomma! Aku berangkat!” serunya sambil berlari keluar rumah dan masuk ke dalam mobil yang sudah standby di depan rumah. Bukannya duduk di tempat kemudi, Rae Ni malah duduk di tempat penumpang.

“Kau yang bawa.” Ujarnya sambil memainkan Iphonenya. Bae Gu pun hanya bisa menggerutu kesal. Selama perjalanan tidak ada yang mereka bicarakan. Radio di mobil pun sibuk memainkan berbagai macam lagu. Rae Ni pun sibuk dengan Iphone ditangannya. Bae Gu mengendarai mobil sambil terkadang menggerutu karna salju yang tiba-tiba meninggalkan jejak di kaca mobil yang membuat dirinya harus ekstra hati-hati.

“Noona! Kau daritadi memainkan Iphonemu terus!” seru Bae Gu.

“So why? Masalah untukmu Bae Gu ah?” tanya Rae Ni sedikit kesal. Namja disampingnya adalah namja terbawel di dunia. Terkadang dia kesal olehnya, walau namja ini adalah adiknya.

“Cih, aku sudah sampai noona.” Balas Bae Gu sambil memakai jaketnya kembali. “Aku pergi.” Lanjutnya, lalu Rae Ni keluar dari mobil.

“Bae Gu ah, chakkaman. Di dompetmu sisa berapa lembar?” tanya Rae Ni yang ditatap oleh Bae Gu. Rae Ni pun hanya cengengesan.

“Kau mau meminjam uangku lagi? Kemarin kau su−”

“Ya ya ya, bawel banget sih. Sana sekolah! Belajar yang benar.” Potong Rae Ni yang sudah bosan sambil mendorong Bae Gu pergi dari hadapannya. Dia pun memasuki mobil dan menjalankannya.

***

“Hello hello your shiny boy~” dering hanphone berbunyi.

“Ne, waeyo eonnie?”

“Yak yeoja kecil! Kemana saja kau? Aku butuh mobilku!” seru orang disebrang.

“Cih, mobilmu darimana. Jelas-jelas yang kubawa itu mobilku.” Jawab yeoja itu sambil membolak-balikkan baju di depannya.

“Ah ne, maksudku itu. Aku pinjam mobilmu boleh kan? Dan cepatlah pulang. Jaga rumah!”

“Ya! Kau menyuruhku pulang lalu kau pergi berduaan dengan Heechul oppa? Cih.” Yeoja itu tersenyum pada pegawai yang lewat di depannya.

“Oh ayolah Rae Ni ah. Atau kau jemput aku di halte dekat rumah kita, lalu kau antar aku ke Hadeel and Greteel, setelah itu kau bebas kemanapun. Eotte?” tawar orang yang dipanggil eonnie oleh Rae Ni.

“Setelah itu berikan aku 30 ribu won.”

“Dasar yeoja mata duitan. Arra! Tapi dalam 5 menit kau sudah harus sampai!”

“Ne ne eonnie..” Rae Ni menutup teleponnya dan memasukkan Iphonenya ke dalam tas. “Ini semua berapa?” tanya Rae Ni di kasir.

“9000 won.” Jawab kasir itu sambil tersenyum. Rae Ni mengeluarkan uang 10 ribu wonnya. “Gamsahamnida nona.” Kasir itu pun memberikan 1000 won Rae Ni. Rae Ni hanya membalas dengan anggukan dan membawa barangnya pergi.

“Key hyung! Jangan bilang kau ingin membeli sepatu keluaran terbaru.” Seru seorang namja sedikit kencang. Membuat Rae Ni menoleh dan terdiam menatapnya. Taemin? Tanyanya dalam hati. Lalu mendekati namja itu.

“Lee Taemin?” sapa Rae Ni pelan. Namja tadi pun menoleh dan terkejut.

“Kim Rae Ni? Wah, bagaimana kabarmu chagiya?” tanya Taemin.

“Chagiya… Apa itu masih berlaku?” tanya Rae Ni mengawang. Keduanya pun terdiam sambil saling menatap satu sama lain. Key yang penasaran dengan gadis di depannya pun mulai kesal melihat mereka.

“Ya Taemin ah. Siapa gadis ini?” tanyanya penasaran.

“Ah, dia…” Taemin tersadar dari bayangan-bayangan masa lalunya.

“Aku mantan yeojachingunya. Kim Rae Ni imnida, salam kenal.” Jawab Rae Ni sambil tersenyum.

“Ah, mantan? Berarti kau bisa menjadi milikku.” Ujar Key asal. Taemin pun menoleh terkejut.

“Ya hyung! Kau tidak boleh, dia milikku.” Jawab Taemin yang ditatap dengan tatapan tajam Rae Ni. “Ah, mianhae.” Lanjut Taemin.

“Hahaha, tenang saja Taemin ah. Aku tidak akan mengambilnya, bagaimana dengan Ki Hyun nanti.” Jawab Key sambil terkekeh dan pergi meninggalkan mereka. Mereka kembali terdiam berdua.

“Taemin ssi, apa aku masih berarti untukmu?” tanya Rae Ni memecah keheningan. Taemin pun terkaget dengan pertanyaan Rae Ni.

“Hello hello your shiny boy~”

“Ah ne eonnie. Ah, ne ne… Disini macet. Tunggulah sebentar oke?” Rae Ni sibuk dengan teleponnya. “Mianhae Taemin ssi, aku pergi dulu.” Rae Ni pun meninggalkan Taemin sendiri.

“Apa kau masih berarti untukku? Tentu saja Kim Rae Ni pabbo!” lirih Taemin lalu menyusul Key.

***

Rae Ni menghentikan mobilnya di depan sebuah taman. Taman itu sangat sepi karna salju menutupi berbagai sudut taman itu. Dia pun keluar dari mobil membawa earphone dan ipodnya. Lalu duduk di salah satu ayunan disana dan memasang earphone beserta menyetel lagu. Yeoja itu tau udara hari ini cukup dingin, tapi entah kenapa dia sedang ingin duduk di ayunan taman ini. Terlihat cukup nyaman untuk mencoba membayangkan masa lalunya.

~ Flashback ~

“Ah, yeoja itu? Dia teman smpku.” Seru seorang gadis.

“Jinjjayo? Ah, coba ceritakan tentangnya. Kudengar, dia yeoja yang tidak menyenangkan.” Tanya gadis lainnya.

“Ne, dia memang tidak menyenangkan. Sangat jutek.”

“Ah benar! Kau pernah mengalami hal buruk dengannya? Aku juga.” Gadis yang lainnya pun menyetujui.

“Apa apa apa? Oh ayolah, ceritakan padaku.”

“Yah~ saat itu aku pertama kalinya ditembak seorang namja dan aku sangat senang karnanya. Aku pun bercerita pada yeoja itu. Kau tau apa responnya setelah aku bercerita panjang lebar?” Gadis itu menarik nafas. “Senangnya. Hanya satu kata itu! Hyaa~ lebih baik aku bercerita pada yang lainnya kalau tau responnya begitu.”

“Ah, bahkan aku pernah bercerita padanya tentang mantan namjachinguku yang pergi ke jepang. Aku menceritakannya se-detail mungkin dan itu menghabiskan beberapa menit untukku bercerita. Dan kau tau apa yang dia katakan?” gadis yang lain ikut berbicara dan berhenti seketika. “Sabar ya. Ya! Hanya itu yang dia katakan. Dan aku menjadi kesal karnanya.”

“Wah, kalau begitu lebih baik aku  menjauhinya.”

***

“Kau sedang apa disini Rae Ni ah?” gadis bernama Rae Ni pun menoleh.

“Melihat awan.” Jawabnya singkat.

“Apa menariknya melihat awan mendung seperti ini?”

“Menurutku menarik.”

“Tapi awan itu sangat kelabu hampir hitam. Tidak ada menariknya.”

“Kalau menurutmu tidak menarik, kau tak perlu melihatnya Taemin ssi.” Balas gadis itu.

“Ah baiklah. Maafkan aku.” Taemin merasa bersalah. “Kau tidak pulang?”

“Itu kan bukan urusanmu.” Jawab gadis itu masih melihat awan. Lagi-lagi Taemin dibuat diam olehnya.

“Ah, pantas saja semua orang menjauhimu. Kau terlalu jutek.” Lirih Taemin pelan tapi masih terdengar oleh Rae Ni. Gadis itupun menatap Taemin tajam.

“Kalau kau tak suka padaku, kau bisa pergi dari hadapanku. Ah, lebih baik aku yang pergi.” Ujar Rae Ni sambil pergi meninggalkan Taemin.

“Ah, dia mendengarnya?” Taemin merasa bersalah. “Mianhae Rae Ni ah, aku tak bermaksud.”

***

“Rae Ni ah, kau tau? Aku diterima audisi SM Entertaintment! Ah, senangnya..” Taemin kembali mendekati Rae Ni yang saat ini duduk di atap sekolah.

“Senang sekali.” Jawab Rae Ni singkat sambil menoleh ke arah Taemin. Taemin pun hanya bengong.

“Ya Rae Ni ah. Apa kau tidak bisa menunjukkan rasa bahagiamu ketika aku berbahagia?” tanya Taemin yang gemas dengan yeoja di depannya. Banyak gosip beredar di sekitarnya dan itu bukan sekadar gosip, tapi kenyataan. Dan dia mencoba merubah yeoja ini. Tapi semua tak semudah membalikkan telapak tangan.

“Apa aku harus merasa bahagia atas kebahagiaanmu?” tanya Rae Ni. “Bagaimana kalau aku malah merasa sedih?” tanyanya lagi.

“Sedih? Sedih karna apa?” bukannya menjawab, Taemin malah membalas dengan pertanyaan.

“Karna saat ini aku merasa akan kehilanganmu. Dengan kau menjadi artis, kau akan sibuk dengan duniamu dan meninggalkanku. Kau akan pergi menjauhiku. Dan kau akan menghilang perlahan dari hidupku. Kau tidak akan lagi kembali ke hadapanku.” Taemin mendengar dengan seksama dan akhirnya dia mulai mengerti dengan yeoja ini. Mata yeoja di depannya sudah berkaca-kaca.

“Aigo Rae Ni ah. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu tetap di sisimu. Dan kau tetap akan di sisiku. Percayalah padaku.” Taemin memeluk yeoja di hadapannya dengan lembut. “Berarti, apakah kau mencintaiku Rae Ni ah?”

“Tentu saja Taemin pabbo. Aku menyukaimu sejak dulu kau mendekatiku.”

“Ah, senangnya… Hehe.” Gumam Taemin sambil kembali memeluk Rae Ni. “Kalau begitu, sekarang kau adalah yeojaku.”

“Ne, oppa. Hehehe.” Rae Ni tersenyum jahil.

“Hahahaha, ya… Kau terlihat cantik kalau begini.”

“Berarti sebelum-sebelumnya aku terlihat jelek, begitu?” Rae Ni sewot mendengar ucapan Taemin. Taemin pun tergelak melihat perubahan sikap yeoja di depannya.

“Hahahahaha…. Memang aku berkata seperti itu? Aish yeoja ini… Kau selalu terlihat cantik di mataku.” Jawab Taemin sambil mencubit pipi Rae Ni. Rae Ni pun menggembungkan pipnya. Taemin tersenyum melihatnya.

“Chagiya, mulai sekarang kau bisa menceritakan semuanya padaku. Ara? Jangan lagi kau pendam sendiri.” Rae Ni menoleh kaget. Melihat Taemin yang tersenyum tulus padanya, membuat dirinya mengangguk. Dan mulai mempercayai namja di depannya.

“Saranghae oppa.”

“Na do saranghaeyo Kim Rae Ni.”

***

“Chagi, kau tau gosip yang beredar di sekolah bukan?” tanya Taemin.

“Ne, aku tau. Gadis tidak menyenangkan. HAHA.” Rae Ni tertawa miris.

“Ya, kau terlihat menyedihkan berkata demikian.” Balas Taemin. “Memang kenapa kau bersikap seperti itu?” tanya Taemin memberanikan diri.

“Oppa benar-benar ingin tau?” Rae Ni malah balik bertanya.

“Yah, itu kalau kau ingin bercerita padaku. Kalau tidak mau yasudah.” Jawab Taemin.

“Aku tidak ingin berbahagia ketika orang lain bahagia dan aku tidak ingin bersedih ketika orang lain sedih.” Jawab Rae Ni pelan.

“Wae? Kenapa tidak ingin?”

“Karna aku takut, ketika aku berbahagia karna mereka bahagia. Aku takut rasa bahagiaku akan melebihi mereka dan aku takut rasa bahagia mereka akan berkurang.” Rae Ni menarik nafas. “Aku juga takut rasa sedihku melebihi rasa sedih mereka. Aku takut rasa sedih mereka semakin berlarut dan membuat mereka terpuruk. Aku takut.” Taemin terpaku menatap yeojachingunya.

“Aigo, gadis yang baik. Kau benar-benar yeoja baik Rae Ni ah.” Rae Ni menatapnya dengan tatapan bertanya. “Kau seharusnya tunjukkan saja apa yang kau rasakan. Ketika kau berbahagia karna mereka bahagia, berbahagialah. Ketika kau bersedih karna mereka sedih, bersedihlah.”

“Tapi ak−”

“Kau tak perlu takut.” Potong Taemin. “Ketika rasa bahagia mereka berkurang, kau bisa mengajaknya lebih berbahagia dari sebelumnya. Dan ketika rasa sedih mereka semakin berlarut, kau bisa menghiburnya dengan segala cara.”

“Tapi kalau itu semua tidak berhasil? Kalau ternyata aku tidak berhasil membuatnya lebih bahagia? Kalau aku tidak berhasil menghiburnya?” tanya Rae Ni.

“Kau ingat, manusia adalah makhluk sosial. Kau tidak sendiri di dunia ini. Kau bisa meminta bantuan orang lain. Kau bisa menceritakan kebahagiaannya pada orang lain. Dan kau juga bisa meminta orang lain membantumu menghiburnya.” Jawab Taemin. Rae Ni menatap Taemin. Taemin membalas tatapannya dengan tersenyum. Sekali lagi, senyum ini yang membuatnya percaya dengan kata-kata namja yang dicintainya.

“Oppa, maukah kau berjanji tidak akan meninggalkanku?” tanya Rae Ni.

“Tentu saja aku mau. Dan aku berusaha untuk menepatinya.” Jawab Taemin pasti.

“Janji?” Rae Ni menunjukkan jari kelingkingnya.

“Janji!” seru Taemin sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Rae Ni.

~Flashbak End~

***

“Kau sedang apa disini Rae Ni ah?”

“Bermain ayunan.” Jawab Rae Ni singkat tanpa menoleh.

“Apa asiknya main ayunan di musim dingin begini?”

“Sangat asik, oppa tidak tau?” Jawab Rae Ni dan belum ingin menoleh mentatap orang yang menyapanya. “Kau bisa mati kedinginan disini. Dan semua harimu akan berhenti.” Lanjutnya dengan senyum miris.

“Oh ayolah Rae Ni ah, maafkan aku.” Orang yang dipanggil oppa itu berjongkok di depan Rae Ni. Memohon maaf dengan tatapan bersalah.

“Oppa mengkhianatiku. Oppa tidak menepati janji.” Air mata Rae Ni mengalir.

“Mianhaeyo…. Jeongmal mianhaeyo Kim Rae Ni ah. Apalagi yang bisa kulakukan untukmu?” Namja itu menghapus air mata yeoja di depanya. Rae Ni menerima perlakuannya. “Aku sudah berusaha semampuku. Tapi semuanya diluar kehendakku.”

“Oppa tau? Aku takut aku tidak bisa menjalani hidupku. Aku takut aku tidak bisa mengikuti kata-kata oppa.”

“Rae Ni ah, yeojachinguku yang paling cantik. Kau bisa, kau pasti bisa. Untuk apa kau takut? Kau harus semangat! Kau pasti bisa membuat orang disekitarmu bahagia. Percayalah chagiya…”

“Aku tidak bisa tanpa oppa. Oppa harus di sisiku kalau oppa mau aku semangat, kalau oppa mau aku percaya.” Rae Ni menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Merasakan aliran air matanya. Merasakan nafas yang menderu disetiap air matanya yang mengalir.

“Noona! Apa yang kau lakukan disini?!” teriak seorang namja yang berlari menghampiri Rae Ni. “Kau mau mati kedinginan he?” tanyanya sambil melepaskan syal yang dipakainya. Rae Ni melepaskan tangan dari wajahnya.

“Bae Gu ah, mana Taemin oppa?” tanya Rae Ni. Bae Gu yang selesai memakaikan syal pada noonanya, terdiam.

“Noona, kau sudah gila?” tanya Bae Gu.

“Yak! Aku waras Bae Gu ah. Mana Taemin oppa? Dia tadi disini.” Rae Ni berdiri dan mencari Taemin ke segala sudut taman.

“Noona!!” teriak Bae Gu sambil menahan tangan Rae Ni agar tidak pergi. “Taemin hyung sudah meninggal setahun lalu! Apa kau tidak ingat?! Noona, sadarlah…” Bae Gu menggoyang-goyangkan badan Rae Ni.

“Kau! Apa yang kau katakan he? Jelas-jelas Taemin oppa ada disini, menghiburku. Dia yang menghapus air mataku!” Rae Ni meneriaki Bae Gu.

“Kau sudah gila noona! Sudahlah, kita pulang!” Bae Gu menarik tangan Rae Ni.

“Shireo! Aku mau mencari Taemin oppa. Kau pulang saja sendiri.” Rae Ni mencoba melepaskan tangannya dari Bae Gu.

“Pulang!!” Teriak Bae Gu sambil menarik Rae Ni dengan kasar ke dalam mobil. Dengan cepat dia menyalakan mobil dan pulang ke rumah mereka. Selama perjalanan Rae Ni hanya diam melihat keluar jendela. Bae Gu bingung melihat kakaknya bisa begini. Setaunya, Rae Ni sudah tidak lagi memikirkan Taemin.

“Loh? Bae Gu ah. Kau menyuruhku pulang, tapi kenapa kita berbelok kesini?” tanya Rae Ni ketika Bae Gu membelokkan mobil. Yang ditanya hanya diam menatap jalan. “Hahh, kau ini sok serius.” Rae Ni kembali menatap jalanan yang mereka lewati. Tiba-tiba Bae Gu menghentikan mobilnya di depan pemakaman umum.

“Ayo noona, kita turun.” Ajaknya sambil turun dari mobil. Rae Ni yang bingung hanya menuruti kata-kata Bae Gu. Seingatnya, orang terdekatnya belum ada yang meninggal. Dia mengikuti kemana Bae Gu berjalan. Dan Bae Gu pun berhenti disebuah makam. “Noona, kau lihat?”

“Ini…. Bae Gu ah….” Rae Ni menatap makam itu. Kakinya tak lagi kuat menopang beban tubuhnya. Dia terjatuh lemas. Air matanya mengalir deras.

“Noona, gwaenchanayo?”

“Bae Gu ah.. Aku ingat, aku ingat semuanya.” Rae Ni menangis lebih keras dari sebelumnya. Bae Gu hanya bisa diam melihat kakaknya. Taemin hyung, noona masih mengingatmu. Maafkan aku yang belum bisa menjaga noona seperti kau menjaganya. Semoga kau tenang disana hyung. Ujarnya dalam hati.

***

Sesampainya di rumah Rae Ni langsung masuk ke kamarnya. Bae Gu pun langsung membersihkan dirinya. Eommanya menyiapkan makan malam. Setelah selesai membersihkan dirinya, Bae Gu ke kamar kakaknya.

“Noona, aku masuk ya.” Bae Gu membuka pintu kamar kakaknya. “Noona, gwaenchanayo? Eomma membuatkanmu teh hangat.” Rae Ni pun membuka selimutnya dan bangun meminum teh hangat buatan eommanya.

“Gwaenchana Bae Gu ah.” Rae Ni meneguk tehnya lagi. “Tadi aku bertemu Taemin oppa. Ku kira dia sudah kembali. Lalu Jae Ra eonnie memintaku menjemputnya. Lalu aku duduk di taman dan mengingat masa-masa aku bersama Taemin oppa. Taemin oppa datang dan menghiburku lalu meminta maaf padaku. Setelah itu kau datang.”

“Kurasa hari ini kau sedang kacau noona. Sudahlah, setelah makan malam kau istirahat. Aku tidak tega melihatmu seperti ini.” Bae Gu berdiri hendak keluar dari kamar noonanya.

“Bae Gu ah… Taemin oppa menyuruhku bersemangat dan membuat orang sekitarku bahagia.” Ujar Rae Ni sebelum Bae Gu benar-benar keluar dari kamarnya. Bae Gu terdiam mendengarnya.

“Kalau begitu, turuti kata-katanya. Kau harus semangat noona. Hidupmu masih panjang. Film yang kau buat belum selesai.” Ya, Bae Gu beranggapan hidup itu seperti sebuah film yang sutradara dan pemerannya adalah diri kita. Bae Gu pun keluar dan menutup pintu kamar Rae Ni.

“Ada apa dengannya Bae Gu ah?” tanya Jae Ra.

“Ah, noona. Apa tadi kau menyuruhnya menjemputmu?” tanya Bae Gu pada kakak tertuanya. Jae Ra mengernyitkan dahi.

“Menjemputku? Ani, sejak pagi aku pergi bersama Heechul oppa.”

“Oh, berarti memang itu semua hanya khayalan Rae Ni noona.” Bae Gu pergi meninggalkan Jae Ra yang bingung.

“Ya! Bocah tengik! Jawab pertanyaanku dulu, baru pergi.”

~TAMAT~

N.b                  : maaf ya kalo bikin jangka waktu ny kecepetan, aku bingung mau digimanain lagi hehehe kalo bikin series takut ny mandek tengah jalan… J) terimakasih bagi yang membaca, annyeong~~ ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

Advertisements

13 thoughts on “Imagination”

  1. wah wah wah…
    ternyata taemin sudah meninggal ya? tapi taemin meninggal karena apa?
    jadi, semua yang Raeni alami habis nganterin adiknya itu cuma khayalannya dia?
    owh, keren keren…
    nice story… ^_^

  2. Ide ceritanya menarik. Makanya kok Raeni ga ditungguin kakaknya, ternyata emang cuma imajinasi toh, haha. Nice 🙂

    Tulisannya lumayan rapi, tapi waktu diberi tau Taemin sudah mati itu feel-nya kurang dapet, mungkin karena terlalu tiba2 kali ya? Atau emang aku yg kurang konsentrasi juga, hehe.

    Keep writing ^^

  3. Jd smuanya cman hayalan ckckck smpah aku smpet bngung bcnya mklum aja otak ku lola untuk menerka hehe 😀
    Trus brkrya ya thor jgn bsen2 ngehibur para readers disni, dan ku tunggu slalu ff mu slnjutnya ^^

  4. Ga nyangka TaeMin udah meninggal.
    Kalau TaeMin udah meninggal terus Key.
    Wah khayalannya liar banget.
    Atau frustasi berlebihan.

    Pada waktu TaeMin diberitahu meninggal, feelnya kurang dapat.
    But after all semuanya bagus author.
    Penataan rapi, ada 1 kata yang typho.
    Keep writing author.
    Semoga lebih baik lagi kedepannya.

  5. dari tadi aq mikir, imaginationnya dimana??
    taunya setelah bae gu blg taemin udh mninggal,, kaget.
    ga nyangka aj kalo ternyata raeni cuma berkhayal.
    ckck.
    bagus ceritanya,, tp kok ga di sampein yaa taem meninggalnya knp?
    good job bwd authornya yaa 🙂

  6. Yaaahh~
    kenapa Taemin meninggal thor?? Wae ?
    Aku agak kaget tbtb aja Taemin disini meninggal u.u

    overall baguss ! Nice ff aku suka idenya ^^;;
    keep writing and Hwaiting !

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s