Touch Your Heart – Part 13 (End)

Title            : Touch Your Heart Part 13 [END]

Author       : tiara_jinki

Main Cast  : Lee Taemin & Choi Yoona

Other Cast : Onew(Lee Jinki), Choi Yoonra, Choi Minho, Kim Jonghyun and Others.

Length       : sequel

Genre         : Romance

Rating        : PG-15

 

 

 

Yoona tersenyum melihat pemandangan di depan matanya. Ia senang melihat dua orang yang ia sayangi dapat tersenyum bahagia seperti itu. Dan di saat seperti ini, pikirannya kembali mengingat laki-laki itu, Lee Taemin. Kira-kira apa yang sedang di lakukan laki-laki itu? Ia begitu merindukan Lee Taemin. “akhirnya, setelah sekian lama” suara Key mengalihkan pandangan Yoona dari Onew dan Yoonra.

“yeah, senangnya melihat mereka seperti itu. Ngomong-ngomong, di tempat ini hanya aku saja yang tidak mempunyai kekasih”ujar Jonghyun di sertai gelak tawa dari Yoona dan Key.

“hei, kenapa kalian terlihat senang atas kesendirianku ini?”. Jonghyun menatap tajam ke arah Key dan Yoona.

“tidak, oppa. Sebaiknya, kau mencari pasangan. Yeah, jika tidak ingin seperti lalat saat kami semua berada di sini”ucap Yoona.

“memangnya kau tidak? Taemin sedang berada di Italia bukan di Korea, apa kau lupa?”balas Jonghyun, membuat Yoona menghentikan tawanya. Jonghyun benar, Taemin kini sudah menetap di benua Eropa itu. Dan tempat yang ia pilih untuk menetap pun tak tanggung-tanggung jauhnya.

“ah, maafkan aku Yoona. Aku…tidak bermaksud mengatakan itu. Itu keluar begitu saja, mianhae Yoona-ya”ucap Jonghyun saat mendapati raut wajah Yoona yang tiba-tiba saja sendu dan juga tatapan tajam dari Key.

Yoona kembali memasang senyumnya, “gwenchana, oppa. Kajja kita hampiri mereka”. Lagipula, Yoona masih bisa menghubungi Taemin. Laki-laki itu masih ada di dunia ini, itu yang terpenting.

“Chukkae! Senang melihat kalian seperti ini”. Suara Jonghyun membuat Onew dan Yoonra melepas pelukan mereka.

“hah, akhirnya eonnie tidak lagi membohongi perasaan eonnie. Chukkae, oppa, eonnie. Aku dan yang lainnya senang melihat kalian bersatu”. Yoona memeluk Yoonra, ia terlalu bahagia atas yang baru terjadi.

“hei, lihat, semuanya sekarang sudah terbalas, Onew”. Key merangkul Onew, Onew dan Yoonra hanya tersenyum, pipi keduanya kini sudah memerah seperti tomat.

Lee Taemin.

Kembali nama itu terlintas di saat yang cukup bahagia ini. Yoona sedikit menundukkan kepalanya, kenapa laki-lakit itu terus mengusik pikirannya?. Kenapa rasa rindu ini begitu menyesakkan?. Padahal, lelaki itu baru saja pergi.

‘Sungguh, Taemin. Aku ingin memelukmu saat ini. Jika saja kau ada di sini sekarang. Mungkin aku sudah merangkulmu, tersenyum bersama. Dan memandangi langit malam yang indah’.

***

Taemin menggeliat di tempat tidurnya. Sesekali matanya terpejam namun sedetik kemudian kelopak matanya kembali terbuka. Kini, ia menatap langit-langit kamar di mana ia terbaring. Di mana bau obat-obatan cukup mengusik indra penciumannya.

Choi Yoona. Gadis itu selalu terlintas di otaknya, dan karena itu ia selalu gagal untuk tertidur nyenyak. Dirinya begitu rindu dengan gadis itu. Kenapa begitu sesak?. Ia harus menjalani semuanya, lagipula ia bisa mengunjungi gadis itu. Mungkin beberapa kali dalam setahun.

Tapi, jika di pikirkan lagi, itu tidak cukup.

Tentu saja tidak cukup!.

Taemin mendesah kesal, ia bangkit dari tidurnya, mengambil kantong infus dan berjalan menuju jendela kamar. Salju turun, langit Firenze tidak begitu cerah hari ini, bagaimana dengan langit di Seoul?. Hah, melelahkan.

Bagaimana tidak? Setiap hari menahan rasa rindu, bertahan untuk menjalani hidup yang baru di tempat yang baru. Di kehidupan, pasti ada perubahan. “hei, kenapa kau tidak tidur?”suara Taesun mengalihkan pandangan Taemin dari pemandangan di luar.

Taemin menggeleng dan tersenyum, “tidak, entahlah padahal aku ingin sekali tertidur. Tapi, setelah ku coba. Tidak bisa, selalu gagal”.

“apa ada yang mengganggu pikiranmu?”. Taesun mendekati Taemin, tangannya menepuk punggung Taemin pelan.

“yeah, begitulah”. Kini pikirannya di penuhi dengan wajah gadis itu, tangannya menyentuh kaca jendela yang dingin. Apa di sana sedingin di sini?.

“hem, coba ku tebak. Apakah karena Yoo…yu…siapa nama gadis-mu itu? Ah, iya. Choi Yoona! Apakah karena dia?”.

“hm, yeah”.

Seperti inikah menjalani hubungan jarak jauh? Merindukan orang yang kau sayangi tanpa bisa menyentuhnya, hanya dapat melampiaskan rindu dengan berkomunikasi, tanpa bisa bertemu langsung dengan orang yang kau sayangi.

***

Yoona menyesap teh hangat yang di buatkan Minho untuknya. Rasanya manis dan hangat, cukup mengurangi rasa dingin yang di rasakannya. “Hem, jadi, bagaimana?”Tanya Minho.

Yoona menautkan kedua alisnya, tidak mengerti  apa yang di ucapkan Minho. “apa? Bagaimana apanya?”.

“ehm, hubunganmu dengan Lee Taemin”.

Yoona terdiam sejenak, seharian ini ia belum menghubungi Taemin dan begitu juga sebaliknya, Taemin belum menghubunginya. Entah kenapa. “baik-baik saja”.

“yakin?”.

“iya –tidak”.

Minho menatap adiknya dengan intens, ia tidak yakin dengan jawaban yang di berikan adiknya itu. Ada sedikit keraguan saat Yoona menjawab pertanyaannya. “syukurlah, kapan Taemin akan mengunjungimu?”.

“ehm, entahlah. Lagipula, baru beberapa hari yang lalu ia pergi”.

“aku yakin, kau pasti merindukannya”.

“tentu saja tidak, dia baru pergi beberapa hari yang lalu. –tentu saja iya!.”.

“benarkah, tapi kenapa mukamu begitu lesu. Seperti kau baru kehilangan sesuatu. Kau  pasti merindukannya”.

Yoona menghela nafasnya, matanya menatap cangkir yang berisikan teh itu. Jujur saja, ternyata menjalani hubungan jarak jauh tidak semudah yang ia pikirkan. Merindukan orang yang kau cintai tapi tidak dapat melampiaskannya. “sok tahu”.

“apa kau bilang?  Terus saja berbohong, kau pasti merindukannya”.

Yoona hanya diam tidak membalas perkataan Minho. Pikirannya terlalu penuh dengan lelaki itu. Mengingat semua hal yang pernah di lakukannya dengan Taemin. Dari ia membenci laki-laki itu sampai perasaan itu datang dan tumbuh.

“haha, payah, seorang Choi Yoona ternyata takut dengan cicak”.

“cih, padahal ini bukan cicak asli. Tapi, kau tetap saja takut. Kekeke”.

“ya! Kenapa kau senang sekali melihatku seperti ini?”.

“wae? Apa kau merindukanku?”.

“ayo ikut aku”.

“banyak kenangan yang terjadi di tempat ini”.

“haha, kau juga takut ketinggian ternyata”.

“yang harus kau tahu adalah, aku mencintaimu. Saranghae, Choi Yoona”.

“semuanya berubah, kau, aku dan kehidupanku. Tapi, aku suka perubahanmu”.

“aku akan menetap di Firenze”.

“selamat tinggal, Choi Yoona. Jaga dirimu baik-baik”.

Minho masih menatap adiknya, sedaritadi Yoona hanya melamun. Dan Minho tahu siapa yang sedang di lamunkan adiknya. Lee Taemin, memangnya siapa lagi?. “ya! Jangan melamun Choi Yoona!”seru Minho.

Yoona terkaget dan semua lamunannya tentang Taemin buyar seketika. “eh? Apa?”.

“aish, kau ini. Sudahlah, ayo kita keluar. Aku lelah melihatmu melamun”. Minho bangkit dari duduknya dan menarik lengan Yoona.

“ya! Mau ke mana?”.

“ke mana saja. Yang penting kau tidak melamunkan laki-laki itu terus”.

***

“bagaimana keadaanmu saat ini? Kau sudah baikan?”Tanya Onew.

Taemin menatap langit Firenze yang gelap. Malam ini, bulan hanya sendiri tanpa para bintang yang membantunya. “yeah, aku sudah cukup sehat. Ouh iya, bagaimana hubungan hyung dengan Yoonra nuna?”.

“ehm, sangat baik. Tadi malam aku berkencan dengannya. Hehe, kalau kau?”. Suara Onew terdengar begitu riang. Syukurlah, hati Taemin sekarang lega.

“ku rasa baik-baik saja”.

“apa kau sudah menghubunginya hari ini?”.

“belum”.

Tangan kiri Taemin bergerak membuka kaca jendela, membiarkan angin malam menyapanya dan meninggalkan rasa dingin pada indra perabanya. “jinja? Ada apa? Tidak biasanya, sedang ada masalah?”.

Mata Taemin terpenjam sesaat, ia cukup menikmati udara dingin dari luar. “entahlah, saat ini, aku begitu merindukannya. Aku…aku rasa aku tidak sanggup untuk menjalaninya. Entahlah hyung, aku sendiri juga bingung”.

Taemin menghela nafasnya, perasaannya saat ini benar-benar tidak karuan. Entahlah, ia sangat merindukan gadis itu namun, jika menjalani hubungan jarak jauh ini. Ia tidak begitu sanggup. “apa? Jadi, maksudmu kau ingin mengakhirinya?”.

“tidak. Tentu saja tidak! Aku hanya begitu merindukannya, rasanya begitu sesak tidak melihat wajahnya. Ah, sudahlah. Bye!”. Taemin mendesah kesal, semua hal cukup menyebalkan saat ini.

Sekarang, apa yang harus di lakukannya?. Ah, iya benar, ia belum menelfon Yoona seharian ini. Jari-jarinya mulai mengetik nomor ponsel Yoona. Dan tak menunggu waktu lama, suara yang begitu ia rindukan terdengar. “ya! Kenapa lama sekali?!”.

Taemin tersenyum, walaupun suara itu terdengar begitu kesal, entah mengapa selalu membuat ukiran senyum di bibirnya. “hehe, maaf. Apakah kau menunggu telfonku seharian ini?”.

Taemin berjalan menuju sofa yang terletak di samping ranjangnya. Kantong infus ini benar-benar merepotkan. “tentu saja. Kenapa kau baru menelfonku?”.

“kenapa kau tidak menelfonku saja? Kenapa harus menunggu telfon dariku?”.

“kau kan laki-laki. Jadi…kau yang harus memulainya”.

“memangnya harus selalu aku? Kau dapat dari mana paraturan seperti itu?”.

“aish, sudahlah tidak usah membahas tentang ini. Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah baikan? Ouh iya, keadaan appa-mu bagaimana? Kirimkan aku fotomu saat ini. Eng…aku. Hm, merindukanmu. Sudah yah, jangan lupa mengirimkan fotomu! Bye!”.

Taemin tersenyum lebar, gadis itu pasti sedang mengatur nafasnya. Tentu saja Taemin tahu kenapa Yoona langsung mengakhiri percakapan yang sangat singkat itu. Gadis itu gugup mengatakan kalau dia merindukan dirinya. Taemin dapat membayangkan semburat merah di pipi Yoona. “baiklah, as your wish Choi Yoona”.

*satu bulan kemudian*

Musim salju hampir berakhir, waktu berjalan begitu cepat dan tak terasa musim salju akan segera pergi.  Bunga-bunga dengan warna-warna yang begitu indah akan bermekaran. Namun, bagi Choi Yoona waktu berjalan begitu lamban. Semuanya begitu berbeda, tanpa laki-laki itu di dekatnya, semuanya tidak begitu menyenangkan.

“ternyata, terkadang laki-laki menyebalkan”gerutu Hyo Min yang baru saja duduk di depan Yoona.

Yoona menatap Hyo Min bingung, sepertinya sahabatnya ini sedang ada masalah dengan Key. “ada apa? Kau sedang bertengkar?”.

Hyo Min menghela nafasnya, “yeah, dia tidak mau menemaniku pergi ke toko buku. Padahal, jika dia memintaku untuk menemaninya berbelanja aku selalu menurut. Tapi, kenapa dia tidak? Menyebalkan”.

“itu hanya masalah sepele. Tidak perlu di besar-besarkan”.

“tapi, tetap saja. Sudahlah, bagaimana dengan hubunganmu dan Taemin?”.

Yoona mengalihkan pandangannya dari Hyo Min, matanya menatap keluar jendela perpustakaan. Hari ini cukup cerah, matahari mempertunjukkan sinar keemasannya, dan udara tidak begitu dingin. Seharusnya dia senang, tapi entah mengapa masih ada sesuatu yang membuat hatinya terasa hampa. “cukup baik. Setidaknya, kami belum pernah bertengkar hebat”.

“kapan dia ke sini? Apakah di awal musim semi?”Tanya Hyo Min lagi.

Yoona menghela nafasnya, ia belum menanyakan hal itu pada Taemin. “molla”.

“kau belum menanyakannya pada Taemin?”.

Yoona menggeleng, sejak kemarin ia belum menghubungi Taemin. Begitu pun sebaliknya. Terkadang Yoona berfikir, apakah ia akan sanggup menjalani hubungan seperti ini untuk waktu yang lama?. Apakah ia akan sanggup menahan rindu yang terkadang membuatnya sesak?. Apakah ia bisa melakukannya? Ada keraguan dalam hatinya saat Yoona ingin mengatakan pada dirinya sendiri kalau ia sanggup melakukan itu semua.

Hyo Min terdiam sejenak, matanya memperhatikan wajah Yoona yang sedikit murung itu. Ada apa dengan Yoona? Apakah sahabatnya ini juga sedang bermasalah dengan hubungannya?. “kau sedang bertengkar dengan Taemin?”.

“tidak. Hubungan kami, baik-baik saja”.

“lalu?”.

“apa?”.

Hyo Min masih menatap wajah Yoona. “tampaknya kau tidak begitu senang hari ini. Ada apa? Ada masalah?”.

Yoona mengalihkan perhatiannya dari pemandangan di luar jendela. Matanya kini beralih pada Hyo Min yang sedang menatapnya. Seulas senyum tipis terbentuk di bibir Yoona. Mengisyaratkan kalau dirinya baik-baik saja. Walaupun sebenarnya, ada sedikit yang membuat senyumnya tidak selebar biasanya. Lee Taemin dan hubungan jarak jauh yang ia jalani. “tidak ada. Nan gwenchana”.

Hyo Min tersenyum, syukurlah kalau Yoona baik-baik saja. “syukurlah, hei, ayo kita pergi. Aku bosan”.

“ke mana?”.

“hem, ke tempat biasa. Kajja!”.

Hyo Min menarik lengan Yoona, sebelum bibir Yoona mengeluarkan sepatah kata untuk menjawab ajakan Hyo Min. Yoona hanya bisa menghela nafas, tetap saja ada sesuatu yang berbeda. Walaupun mentari bersinar terang, walaupun semua orang yang di sayanginya selalu ada untuknya. Tanpa lelaki itu, semuanya terasa hampa. ‘Lee Taemin, aku begitu merindukanmu setiap hari. Lagi-lagi, aku merasakan hampanya hariku tanpa laki-laki yang membuatku merasakan perasaan ini. Kau dan Lee Jinki, sungguh, kenapa kalian berdua senang sekali membuatku seperti ini?. Lee Taemin, setidaknya kau masih ada di dunia ini. Aku merindukanmu..’.

***

Semburat jingga menghiasi langit senja di Firenze, Taemin menengadahkan kepalanya untuk menatap langit senja. Sudah satu bulan ia menjalani hubungan jarak jauh dengan Yoona. Rindu yang selama ini ia tahan dalam hatinya terkadang membuat dadanya begitu sesak.

Setiap hari, ia melewati pagi dengan suara Yoona dari ponselnya, menatap langit yang terkadang cerah. Siang hari, ia lewati dengan Taesun dan ayahnya, dan juga dengan suara Yoona yang ia dengar dari ponselnya. Sore hari ia lewati dengan duduk di bangku taman dan menatap langit senja, tak lupa dengan suara Yoona dari ponselnya. Dan malam hari ia lewati dengan mengobrol bersama Yoona lewat saluran telefon, menatap langit malam yang terkadang di hiasi oleh bintang-bintang dan bulan.

Namun, dua hari ini, semua aktivitas itu tak di lakukannya. Mungkin, ia butuh waktu untuk mengurangi rasa rindu yang begitu besar. Agar membuatnya dapat bernafas dengan lega.

Todoke to your heart

Egake all your dream

Hibike to your heart

Kanae all your dream

Ponselnya berdering, mengganggu ketenangan yang sedang di rasakannya. Tangannya bergerak mengambil ponsel yang tersimpan di saku celananya. Di lihatnya nama yang tertera di layar handphone-nya. ‘My Star’, gadis itu menelfonnya. Tak perlu berpikir panjang, ibu jari Taemin menekan tombol hijau di keypad ponselnya. “hei! Kenapa kau tidak menelfonku dua hari ini?”.

“maafkan aku. Apakah kau merindukanku? Hm, aku hanya ingin menenangkan pikiranku. Maaf yah”.

Taemin kembali menatap langit, gumpalan-gumpalan awan berjalan dengan pelan, bentuk-bentuk dari awan itu berbeda-beda. Salah satu dari awan yang mengambang di langit itu berbentuk seperti wajah gadis itu. Wajah Yoona. “aku…tentu saja aku merindukanmu! Setiap hari Lee Taemin! Ng, bisakah…kau datang ke Seoul?”.

Taemin terdiam sejenak, gadis itu tentu saja merindukannya, begitu juga dengan dirinya. Tapi, jarak yang begitu jauh membuatnya harus menahan rasa rindu itu. “maafkan aku, Yoona-ya..”.

“gwenchana, lagipula  berkomunikasi seperti ini saja, aku sudah senang”.

Suara itu seperti menutupi rasa kecewa, Taemin menghela nafasnya. “apa kau kecewa?”.

“mwo? Tentu saja tidak. Aku mengerti, bukankah aku tidak boleh egois? Di sana keluargamu membutuhkanmu. Terutama ayahmu, bukankah kalian sudah lama tidak bertemu? Ayahmu pasti sangat merindukanmu. Satu bulan tidak cukup untuk melampiaskan semua rindu. Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu dan keluargamu di sana?”.

Taemin tersenyum, ia tahu Yoona pasti kecewa karena dirinya tidak dapat pergi ke Korea untuk menemui dia. “terima kasih karena sudah mengerti. Semuanya baik. Hubungan kami juga semakin baik. Kalau kau? Bagaimana keadaan semuanya di sana?”. Tapi, Yoona mengatakan sendiri jika dia baik-baik saja, cukup membuat hati Taemin senang.

“bukankah dalam sebuah hubungan kita tidak boleh egois?. Aku juga harus memikirkan dirimu, bukan hanya diriku saja. Ouh, aku? Semuanya baik-baik saja. Onew oppa dan Yoonra unni semakin dekat. Hem, kalau Key oppa ku rasa dia ada sedikit masalah dengan Hyo Min. Jonghyun oppa, dia cukup kesepian. Kau tahu, dia selalu mengeluh karena kesendiriannya dan semua orang yang sibuk dengan pasangannya masing-masing. Haha, hei, hiburlah dia Taemin-ah..”.

“jinjayo? Baiklah, aku akan menelfonnya nanti”.

Diam sejenak, Taemin memperhatikan sekitarnya. Ternyata salju mulai turun, desiran angin dingin mulai terasa. Taemin memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan angin yang cukup dingin. “Taemin-ah”.

Jika saja, Yoona ada di sampingnya saat ini. Mungkin ia dapat tersenyum lebar, hatinya pun juga akan lebih tenang. Tatapan gadis itu, senyumnya, dan juga suaranya, selalu membuat hatinya tenang. “nde?”.

“aku…aku selalu merindukanmu. Rasanya, setiap hari terasa berbeda tanpamu. Tapi, aku cukup bahagia bisa mendengar suaramu. Saranghae”.

Taemin membuka kelopak matanya, kata itu seperti sihir, dalam sekejap dapat membuat senyumnya merekah dan juga membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. “nado saranghae, Choi Yoona”.

Percakapan pun berakhir, tak di dengar lagi suara gadis itu. Taemin masih memasang senyumnya, suara Yoona yang indah itu mengucapkan kata yang dapat membuat tubuhnya menjadi aneh.

Bibirnya menjadi tak lelah untuk tersenyum, jantungnya berdetak kencang, dan telinganya hanya tidak dapat mendengar apapun di sekitarnya, hanya suara Yoona yang mengucapkan saranghae yang dapat terdengar. Mungkin, ia seperti orang gila saat ini, tapi semua orang tahu cinta dapat membuat seseorang menjadi gila.

Yeah, itu yang sedang ia alami saat ini.

Cinta, Choi Yoona, rindu, hubungan jarak jauh, semuanya dapat membuatnya gila. Seperti halnya kata saranghae yang di ucapkan Yoona barusan.

‘Choi Yoona, aku selalu mencintaimu dan merindukanmu. Kau adalah gadis pertama yang membuatku dapat merasakan bagaimana indahnya cinta. Sesaknya merindu. Karenamu, dunia ini menjadi lebih indah’.

^^^

( 5 tahun kemudian)

Salju kembali turun hari ini, langit tidak begitu cerah, mentari seakan mengumpat di balik gumpalan awan gelap. Choi Yoona menghela nafasnya, matanya memandangi salju yang turun dari langit. Sudah satu bulan Taemin tidak menghubunginya lagi, ia dan Taemin lost contact. “hei, kenapa kau begitu lesu?”, suara Yoonra membuat Yoona mengalihkan perhatiannya dari salju.

“unni, laki-laki itu belum menghubungiku selama satu bulan!”. Yoona memeluk Yoonra yang sedang berdiri di sampingnya. Yoonra mengusap rambut Yoona, yeah Yoonra tahu gadis yang sedang di peluknya ini sangat merindukan Taemin.

“mungkin, dia sedang sibuk dengan kuliahnya”. Dan ia juga tahu kenapa Taemin tidak menghubungi Yoona selama satu bulan ini.

“tapi, setidaknya dia menghubungiku sesekali. Tapi, ini tidak. Menyebalkan!”.

Yoonra tersenyum, “bersabarlah, Taemin pasti mempunyai alasan kenapa dia tidak menghubungimu sebulan ini”. Ia melepas pelukannya, matanya menatap wajah Yoona. Mata milik seseorang yang begitu baik hati mendonorkan kedua bola mata yang begitu berharga pada Yoonra.

“sudahlah. Aku tidak ingin memikirkan laki-laki menyebalkan itu. Ouh iya, bagaimana dengan persiapan pernikahanmu dengan Onew oppa?”Tanya Yoona dan kembali duduk di tempatnya, di ikuti dengan Yoonra yang duduk di hadapannya.

“semuanya berjalan dengan lancar. Hah, Yoona-ya, jika memikirkan aku berdiri di altar bersamanya membuatku begitu gugup”.

“aku yakin Umma-ku juga merasakan hal yang sama sepertimu, unni. Aku jadi iri padamu unni, setiap hari kau dapat bertemu dengan Onew oppa. Jalan bersamanya, kencan, hah…sedangkan aku, bertemu dengan laki-laki itu hanya beberapa kali”.

“hei, setidaknya kau masih dapat berhubungan dengannya lewat telefon kan?”.

“hem, hanya saja jika tidak bertemu dengannya ada sesuatu yang berbeda.”. Semuanya akan lebih menyenangkan jika Yoona dapat menatap wajah Taemin setiap hari.

Yoona mendengus, Yoonra dan Onew akan menikah besok. Key dan Hyo Min telah bertunangan. Jonghyun dan kekasihnya juga sudah bertunangan. Sedangkan dirinya belum melangkah sejauh itu. Semuanya cukup membuatnya iri. Dan belakangan ini, laki-laki itu juga membuatnya kesal. Dia tidak menghubungi dirinya.

“Lee Taemin! Ada apa denganmu?!”.

***

Onew melirik jam tangan yang menghiasi pergelangan tangannya. Sudah jam sepuluh dan orang itu tak kunjung datang. “kenapa lama sekali? Dia bilang jam sepuluh”. Onew mendesah kesal, orang itu membuatnya menunggu lama.

“hyung!”. Suara yang begitu familiar di telinga Onew membuat Onew menoleh kepalanya ke sumber suara.

Orang yang di tunggunya akhirnya datang. Onew memeluk orang itu sesaat dan tersenyum. “akhirnya kau datang juga”.

Orang itu tersenyum lebar, “hehe, aku begitu merindukanmu hyung. Ouh iya, besok kau menikah kan?”.

“ne. kau juga akan menyusulku kan?”.

Orang itu hanya menyengir tanpa membalas perkataan Onew. Pipi orang itu memerah.

“hei, lihat! Pipimu sudah seperti tomat. Haha”.

“ya! Hyung. Sudahlah, aku lelah hyung”.

“ok, kajja kita ke rumah”.

***

Dentingan piano mengalun dengan lembut, Yoonra berjalan dengan anggun menuju altar di mana Onew tengah berdiri menunggunya. Onew tersenyum lebar saat melihat Yoonra. Gadis itu sangat cantik hari ini. Semua orang juga terpesona akan kecantikan Yoonra. Tak terkecuali Yoona yang memandangi Yoonra. Walaupun suasana hatinya hari ini tidak begitu baik.

Yoonra sampai di altar, Onew dan Yoonra saling berpandangan. Jantung keduanya berdegup dengan cepat. “apakah kau, Lee Jinki bersedia untuk hidup bersama dengan Choi Yoonra sampai ajal menjemput?”ucap sang pendeta.

“iya, aku bersedia”jawab Onew, matanya tak lepas dari wajah Yoonra.

“apakah kau, Choi Yoonra bersedia untuk mendampingi Lee Jinki sampai ajal menjemput?”.

Yoonra mengangguk, “ne, aku bersedia”.

Suara tepuk tangan pun terdengar. Semuanya tersenyum atas kebahagiaan Yoonra dan Onew. Yoona tersenyum, sementara pikirannya melayang membayangkan dirinya berdiri di sana dengan Taemin. Pasti akan sangat membuatnya bahagia. “agasshi, maukah anda menemaniku?”. Suara seseorang di sebelahnya membuat perhatiannya teralihkan.

“kau siapa?”. Yoona menautkan kedua alisnya, suara laki-laki di sampingnya begitu familiar di telinga Yoona. Seperti suara laki-laki itu, Lee Taemin. Wajah laki-laki ini tertutupi oleh topi hitam di kepalanya.

“tenang saja, aku orang baik-baik. Agasshi mau menemaniku tidak?”.

Belum sempat Yoona menjawab ajakan laki-laki itu. Tangannya sudah di tarik oleh laki-laki yang cukup aneh itu. “ya! Apa yang kau lakukan”ujar Yoona sedikit berbisik agar tidak merusak suasana bahagia ini.

Laki-laki itu tidak menoleh atau menjawab pertanyaan Yoona. Laki-laki itu melepaskan genggaman tangannya ketika mereka berdua sudah berada di luar gedung. “ya! Kau ini siapa?!”Tanya Yoona kesal dengan perlakuan laki-laki aneh yang tidak di kenalnya.

Yoona menatap wajah laki-laki yang sedikit tertutupi oleh topi, namun masih dapat ukiran senyum di wajah lelaki itu. Salju turun dari langit, desiran angin menerpa tubuh mereka berdua. “hai, apa kabar? Maaf yah”ucap laki-laki itu.

Mata Yoona sedikit membesar, suara itu terdengar dengan jelas, senyum itu, Lee Taemin. “Taemin?”.

Laki-laki yang ada di hadapannya melepaskan topi yang di kenakannya. Taemin menatap Yoona dengan senyum lebar di bibirnya. “kau begitu cantik hari ini, Yoona-ya”. Taemin mengedipkan sebelah matanya, membuat pipi Yoona memerah.

“kau.. aku sungguh membencimu! Kau menyebalkan! Kau sangat menyebalkan Lee Taemin!”seru Yoona, melampiaskan semua kekesalannya pada Taemin.

Taemin menarik Yoona ke dalam pelukannya, membuat Yoona dapat mendengar degupan jantungnya yang begitu cepat, memberikan kehangatan pada Yoona di tengah hembusan angin dingin. “maafkan aku. Yoona-ya, aku sangat merindukanmu..”.

“pabo! Apa saja yang kau lakukan sebulan ini? Huh? Aku sungguh merindukanmu seperti orang gila. Tahukah kau, setiap hari begitu membosankan untukku. Lee Taemin, satu bulan tanpa suaramu begitu menyesakkan! Tidak tahukah kau tentang semua itu?! Kenapa kau membiarkanku begitu merindukanmu? Apa kau senang melihatku seperti itu?”. Yoona menitikkan air mata, ia begitu merindukan Taemin. Pelukan ini, senyuman di wajah Taemin, suaranya, wajahnya, dia bahkan hampir gila karena merindukan Taemin.

Taemin hanya tersenyum mendengar semua kekesalan Yoona. Tentu saja ia selalu memikirkan semua itu. Lagipula, ia mempunyai alasan mengapa ia tidak menghubungi Yoona selama satu bulan. “tentu saja aku tahu. Choi Yoona, aku juga merasakan apa yang kau rasakan”.

Taemin melepaskan pelukannya, memandangi wajah Yoona sejenak kemudian berlutut di depan Yoona. Membuat Yoona terkaget. Taemin mendongakkan wajahnya, tangannya mengambil sesuatu di dalam saku celananya. “Taemin-ah, apa yang kau..”. belum sempat perkataan Yoona selesai terucap, Taemin telah menghentikannya dengan cincin yang ada di tangannya.

“Satu bulan ini, aku mempersiapkan diriku untuk melakukan hal ini. Aku bukanlah namja yang romantis. Aku tidak bisa melakukan ini tanpa persiapan. Aku selalu gugup jika membayangkannya. Yoona-ya, Maukah kau mendampingku selama aku masih bernafas dalam dunia ini? Berada di sampingku selama mentari dan bulan menyinari dunia ini? Maukah kau?”.

Keduanya saling berpandangan, angin dingin yang menerpa tak lagi terasa, waktu bagaikan berhenti. Bumi seakan berhenti berputar. Jantung keduanya berdetak sangat cepat, mungkin lebih cepat daripada kuda yang sedang berlari. “aku…”. Yoona membentuk senyuman lembut di bibirnya.

“tentu saja aku mau, Lee Taemin”jawab Yoona dan membalikkan tubuhnya, ia begitu gugup saat menjawabnya.

Taemin bangkit dan kembali memeluk Yoona dari belakang. “terima kasih Yoona-ya, terima kasih untuk semuanya”bisik Taemin tepat di depan telinga Yoona.

Yoona membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Taemin. “terima kasih Lee Taemin, terima kasih karena tidak meninggalkanku. Dan membuatku merasakan indahnya cinta”.

Jarak antara wajah Taemin dan Yoona begitu dekat. Hidung mereka bersentuhan, mata mereka saling menatap satu sama lain. Taemin begitu gugup, dan dalam sekejap mata tanpa di sadarinya, bibirnya sudah mendarat dengan mulus di bibir Yoona.

Yoona tidak terkaget dengan apa yang di lakukan Taemin. Hatinya begitu merindukan laki-laki di depannya. Yoona membalas ciuman itu, melepaskan semua rindu yang di tahannya. Begitu hangat, pelukan ini, ciuman ini, rindunya kini terbalas.

Taemin melepaskan bibirnya dan menatap Yoona kembali. Tersenyum memandangi wajah Yoona yang selalu di rindukannya. “Yoona-ya”.

“hem?”.

“saranghae”ucap Taemin lembut.

“nado saranghae, Lee Taemin”.

Taemin kembali mencium Yoona, merasakan manisnya bibir Yoona, mendengar nafas mereka yang tidak beraturan. Di tengah salju yang turun, di tanggal yang sama saat ia pertama kali bertemu dengan Yoona. Semua hal terasa begitu indah saat ini.

‘Ini memang aneh jika ku pikirkan. Cinta begitu aneh dan membingungkan. Dulu, tak pernah ku pikirkan kalau aku akan merasakan perasaan ini denganmu. Pertengkaran yang terjadi antara kau dengan aku. Sikap dinginmu. Penolakan akan laki-laki yang di dekatmu. Tapi, bukankah kita tidak dapat membohongi perasaan kita sendiri?. Aku mencintaimu, itulah hal yang ku ketahui. Dan, tanpamu entah mengapa hariku terasa tidak begitu indah’.-Taemin

‘untuk kedua kalinya aku merasakan perasaan ini. Perasaan yang begitu aneh, dan tak ku sangka kaulah orangnya. Cinta pertamaku, dia begitu lembut, senyumnya mampu membuatku tenang dalam sekejap mata. Jika di pikirkan, seharusnya aku mencintai orang yang sedikit mirip dengannya. Namun, Kaulah orang yang telah membuatku merasakan cinta itu. Dengan cara-cara aneh-mu itu. Dengan semua kejahilanmu. Lama waktu berlalu, membuatku menyadari, kau dan cinta pertamaku itu tak jauh berbeda. Satu hal yang sama darimu dan dia. Kalian memiliki senyuman yang membuatku begitu tenang. Aku mencintaimu, itulah yang ku rasakan saat ini’. –Yoona.

*The End*

Otthae readers? Apakah part terakhir ini begitu mengecewakan?. Yeah, aku tahu pasti mengecewakan-_-. Hem, maaf yah kalau sangat mengecewakan. Soalnya, aku ngelanjutin ini di sela-sela ujian. Kekeke, habis aku gak ada ide lagi. Aku udah kehabisan ide buat part ini. Ok, walaupun ff ini begitu buruk, butut, gak bagus dan abal-abal. Jangan lupa buat comment dan like yah^^.  Aku sangat berterima kasih buat semua readers yang mau nge-baca + comment ff ini. Kritik dan saran akan aku terima kok. Jadi, kalau ada yang mau kritik tentang ff yang gak jelas ini. Silahkan, jangan sungkan-sungkan.

Gamsahamnida *bow* 😀

 

 

Advertisements

13 thoughts on “Touch Your Heart – Part 13 (End)”

  1. Yaampun bagus banget eon terharu deh pas baca bukannya lebay tapi emang kalo dibayangin buat siapa aja pasti ngiri
    buat ff lagi ya eon yn maincastnya taemin hehe
    Annyeong ^^,

  2. OMOOO udah selesaai *nangis sesegukan*
    Waktu baca di tengah2 aku udah baca pelan2 karena inget ini part terakhir haha.. Aigoo romantis banget ngebayangin taemin ga ngehubungin sebulan tiba2 dateng dan ngelamaar XD
    Aku kepikiran gimana nanti taem sama yoona nikahnyaa lucu banget 😀
    Ayo thoor lanjuut ff lainnyaa daebaak XD

  3. Hwaaa akhirnya ff ini slesai dn brhasil mmbutku snyam-snyum sndiri, snggu end’a so sweet bgt thor bkin aku iri cba aku sma minho oppa kya gtu #plak
    Trus brkrya ya thor di tnggu slalu kryamu slanjutnya! ^-^v

  4. Waahh, cieee ciee cieee #apaan? Taemin nya so sweet banget. Mereka sekarang udah gak malu-malu lagi buat menyatakan perasaan mereka. Author, buat after story nya dong. Bolehh kaah?? FF nya gak mengecewakan kok thor. Bagus banget malah. Keep writing ya.
    😀

  5. omonaaaa~ =3
    demi apaa.. endingnya sweet bangeeeet.. aaaaa~ XD
    daebak buat authornya yang bkin aku ikut2an deg2an kalo udh ada bagiannya yoona sama taemin.. ❤

  6. Omona! FFnya daebak banget eonnie! Ini aku terharu banget liat taemin ama yoona yang bisa LDR 5 tahun.. Sama onew yoonra juga. Mereka so sweet banget! Aku seneng baca FF ini. Walaupun awalnya ada nyeseknya. Tapi akhirnya happy ending :””D
    Lanjutkan karyamu lagi eonnie! (9′-‘)9

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s