Love and Destiny – Part 4

Title                : Love and Destiny [PART 4]

Author            : Shirae Mizuka

Length            : Series (4.159 words)/ on going

Rating             : General

Genre              : Romance

Cast                : Choi Minho (SHINee), Lee Jiyoo (OC), Yong Junhyung (B2ST)

Support Cast : Kim Jonghyun (SHINee), Park Hye Na, Victoria Lee (OC)

Disclaimer      : All casts except OC belongs to themselves.

NOTE:

Pernah dipublish di: http://shiraemizuka.wordpress.com/

oo000oo

Mereka semakin dekat karena sering berbagi cerita dan berbagi tawa. Banyak hal di diri Jiyoo yang membuat Junhyung nyaman dan merasa kalau gadis itu adalah tempat yang tepat baginya untuk berbagi. Gadis itu punya segudang hal-hal konyol yang membuatnya tak bisa berhenti tertawa. Dan bagi Jiyoo, Junhyung adalah Junhyung. Jiyoo tak pernah melihatnya sebagai seorang pengusaha sukses dan Jiyoo juga tak melihatnya dari reputasi Junhyung yang lumayan buruk dalam urusan cinta selama ini. Jiyoo melihat Junhyung dengan caranya sendiri. Baginya Junhyung hanyalah sebatas  pelanggan cake shop yang selalu duduk di pojok dan memesan secangkir kopi pahit.

Junhyung juga ternyata sulit melihat Jiyoo sebagai seorang putri keluarga Lee. Lebih gampang melihat Jiyoo sebagai pelayan mungil yang selalu ceria dan penuh spontanitas. Seringkali gadis itu berbicara asal-asalan namun justru bisa membuat Junhyung tertegun. Kadang-kadang Jiyoo malah sanggup membuat Junhyung berpikir kalau sirkuit pikiran di dalam otak Jiyoo tidak berjalan semestinya sehingga seringkali Junhyung dibuat kaget dengan ulah Jiyoo yang tak terduga. Jiyoo juga mempunyai seribu akal-akal licik untuk mengerjai Junhyung yang membuat namja itu terkadang kehabisan cara untuk membalas.

“Oooh…” Jiyoo melongo panjang membaca tabloid yang terpampang lebar di depannnya. Dari tadi gadis itu memang sibuk dengan tabloid edisi beberapa bulan yang lalu yang ia temukan di dashboard mobil Junhyung. Entah bagaimana kronologisnya, hari ini Jiyoo berhasil memperdayainya untuk mentraktir gadis itu eskrim. Gadis itu penggila eskrim ternyata. Dan untuk itulah sekarang mereka sekedar berkendara sore setelah gadis itu puas menikmati eskrim vanilanya.

Junhyung hanya tersenyum kecil seperti yang sudah-sudah. Kadang-kadang Junhyung memang bingung sendiri bagaimana harus menanggapi pola aneh gadis itu. Seperti sekarang, gadis itu cuek saja membaca gosip miring tentang Junhyung di tabloid itu meskipun Junhyung sedang ada tepat di sebelahnya.

“Tabloid ini mengulas tentang semua gadis yang pernah jadi kekasihmu. Ommoommooo…. model papan atas dan artis semua, ada berapa jumlah mereka? Hanadullset…” Jiyoo tampak khusuk sekali menghitung satu persatu nama-nama gadis yang pernah dekat dengan Junhyung yang dituliskan dalam tabloid. “Eh, ada berapa ini sebenarnya? Aku kesulitan menghitungnya, Junhyung-ah…”

Junhyung geleng-geleng kepala takjub. Dia semakin ragu saja kalau gadis ajaib yang satu ini adalah dongsaeng Victoria. Keduanya terlalu bertolak belakang.

“Banyak. Jadi tidak usah dihitung.” tanggap Junhyung.

Jiyoo kontan mencibir. “Jangan berlagak. Aku tidak akan kagum padamu meskipun kau punya pacar lebih dari seratus selama belum ada Paris Hilton diantaranya.”

Tanggapan Jiyoo itu kembali mengundang tawa Junhyung.

Kekasihku tidak sebanyak itu, Jiyoo-ah… Tahun-tahun belakangan ini aku memang sedang berkonsentrasi untuk mengembangkan usahaku di bidang advertising dan aku juga sedang merintis perusahaan rekaman. Nah, kau tahu sendiri kan kalau baik dunia advertising ataupun rekaman tidak pernah jauh-jauh dari yang namanya model dan artis? Wartawan-wartawan mungkin salah tanggap dengan kedekatan para model dan artis itu denganku.”

Jiyoo mengangguk-anggukkan kepalanya berlagak paham.

“Aku tidak tahu, masalahnya aku tidak mengerti soal bisnis…” tanggap Jiyoo cuek. “Jelaskan saja pada Victoria eonnie, dia pasti mengerti. Jangan-jangan itu alasannya selama ini Victoria eonnie tidak mau menerima cintamu karena ia masih menyangka kau adalah seorang playboy. Kalau aku, mau kau sendiri yang mengaku-ngaku menjadi playboy padaku, aku tidak akan percaya.”

Wae?” tanya Junhyung bingung.

“Cih, namja yang minumnya hanya kopi pahit tidak pantas jadi playboy.” jawab Jiyoo sambil memandang Junhyung remeh. Gadis itu begitu yakin dengan jawabannya meskipun alasan yang dikemukakannya itu sama sekali tidak logis.

“Aissshhh, jaga mulutmu anak kecil!” tanggap Junhyung sambil memelototi Jiyoo dengan gemas.

Jiyoo balas melotot geram. “Siapa yang anak kecil?!” protes gadis itu keras. Junhyung kontan menunjuk Jiyoo dengan tampang polos. Jiyoo bertambah geram lagi. Dia menggulung-gulung tabloid di tangannya dan siap memukulkannya ke kepala Junhyung. Baiklah, hanadullse

“Kau benar, Jiyoo-ah.” ucap Junhyung tiba-tiba. Ekspresinya jadi serius. Terpaksa Jiyoo membatalkan niatnya untuk memukul kepala Junhyung.

“Benar apanya?” tanya gadis itu bingung.

“Victoria memang tidak menyukai mawar.”

“Ah, soal itu… ne, tentu saja! Victoria eonnie-ku, aku hampir tahu semua hal tentang dia.” tanggap Jiyoo kelihatan bangga.

“Kalau begitu kau mau jadi cupidku?”

Cupid?” Dahi Jiyoo berkerut tak mengerti.

Ne. Makhluk kecil bersayap yang selalu menancapkan panah cintanya pada manusia sehingga manusia bisa jatuh cinta satu sama lain itu… Aku pikir kau bisa membantuku menancapkan panah cinta di hati Victoria…”

Jiyoo terdiam sejenak. Tak menyangka Junhyung akan meminta hal itu padanya.

“Tapi… aku bukan cupid. Aku bahkan tidak punya sayap.” tanggap Jiyoo lemah. Ada sesuatu yang membuatnya tak sanggup menatap mata Junhyung.

“Bagiku kau punya, Jiyoo-ah. Kau punya sepasang sayap yang transparan dan tak terlihat. Ayolah Jiyoo-ah, kau tidak perlu benar-benar membawa-bawa busur dan anak panah segala, cukup dengan jadi penasihat cintaku saja berarti kau sudah jadi cupid cintaku. Lagipula, kau nanti pasti tidak akan menyesal punya saudara ipar sepertiku.” Junhyung membujuk dengan yakin.

Belum ada yang selama ini yang membuat Jiyoo kehilangan kata, tapi kini ia mengalaminya. Gadis itu terdiam lama dan tak kunjung menemukan sesuatu yang harus ia ucapkan pada Junhyung.

“Kau diam maka kuanggap setuju.” putus Junhyung kemudian.

Dan Jiyoo masih terdiam. Tapi hatinya sibuk memaki diri sendiri.

Pabo!

Jeongmal pabo Jiyoo-ah…

oo000oo

Memang sesuatu hal yang bodoh dan konyol mengharapkan cinta seseorang sementara orang itu jelas-jelas mencintai orang lain. Suatu hal yang benar-benar sia-sia. Dari awal, sejak Jiyoo menyaksikan Junhyung datang ke apartemen Victoria dengan sebuket mawar dan senyuman yang mengembang cerah, maka tak pernah ada keraguan dihatinya untuk meyakini bahwa namja itu memang mencintai eonnie-nya. Bahwa memang mungkin tak akan ada tempat untuk dirinya.

Tetapi ternyata juga bukan perkara mudah untuk berpura-pura tidak berharap setelah apa yang Jiyoo lakukan selama berbulan-bulan belakangan ini. Kehadiran Junhyung selalu memaksa pandangannya untuk terus mengamati dan menikmati setiap gerak Junhyung. Tak ada yang luput dari perhatian seorang Jiyoo jika menyangkut Junhyung. Apalagi ternyata setelah banyak berbagi tawa, hatinya justru semakin terpaut.

Kini permintaan Junhyung malah membuat Jiyoo kian tersudut. Meski ia tak pernah mengiyakan, namun ia juga tak sanggup menolak.

“Berhenti berlagak jadi orang patah hati, Jiyoo. Ini sungguh bukan Jiyoo yang seperti biasanya. Lagipula apa buruknya jadi cupid untuk orang yang kau suka?” bujuk Jiyoo pada dirinya sendiri.

Gadis itu menarik napas dalam dan mencoba membiarkan paru-parunya menikmati udara pagi. Setelah energinya kembali, gadis itu tersenyum lebar dan mulai melangkahkan kakinya lagi. Paginya hari ini harus dimulai dengan sesuatu yang indah. Patah hati dan bersedih tak akan merubah apapun.

Tapi ternyata pagi ini bukan Jiyoo sendiri yang langit paginya diwarnai mendung kelabu. Baru saja Jiyoo memasuki halaman cake shop tempatnya bekerja, gadis itu sudah berpapasan dengan Minho yang baru saja keluar dari cake shop. Namja itu menekuk wajahnya dalam-dalam dan berjalan gontai.

Beberapa hari ini Minho memang kerap datang ke De’Licious demi mencari keberadaan Hye Na. Namja itu menyangka para pegawai De’Licious berbohong kepadanya tentang pengunduran diri Hye Na.

“Hei, pagi yang indah ya?” sapa Jiyoo mencoba ramah.

Minho spontan menghentikan langkah, mengangkat wajahnya dan menemukan Jiyoo sedang berada tepat di hadapannya. Namja itu hanya menatap Jiyoo meskipun ia tak menjawab sapaan Jiyoo. Dari mata Minho, Jiyoo menangkap ada luka yang dalam disana.

“Jangan sampai patah hati membuat pagi ini kelihatan suram,” lanjut Jiyoo lagi. Kali ini gadis itu juga melemparkan sebuah senyuman yang terlihat begitu getir. Entah kenapa Jiyoo merasa dia sedang menasihati dirinya sendiri.

Minho tersenyum sinis.

“Tahu apa kau?” gerutu Minho.

“Percaya saja, aku tahu seperti apa rasanya,” tanggap Jiyoo. Tanpa sadar tatapan gadis itu sudah melayang jauh. Bayangan Junhyung kembali mengusiknya.

Minho tertegun. Ada apa dengan gadis ini?

Gwenchana?”

Jiyoo tersentak. Gadis itu buru-buru melepaskan tawa kecil. Dia baru saja menasihati Minho, namun justru dia sendiri yang jadi mengingat-ingat sesuatu yang membuatnya sedih.

“Kenapa tertawa?” tanya Minho lagi mendapati tingkah Jiyoo yang semakin ganjil.

“Hanya teringat sesuatu yang lucu,” tanggap Jiyoo. “Sudahlah, pokoknya ini pagi yang indah. Tak peduli kau bersedih pagi ini, tidak akan ada yang berubah di sekelilingmu. Rasa sakitmu tak akan merubah apapun. Jadi nikmati saja, lalu bersiaplah untuk bangkit lagi.”

Setelah berucap begitu, Jiyoo melanjutkan langkahnya masuk ke cake shop.

Annyeonghaseo….. Selamat pagi!” sapa gadis itu keras.

Di luar, Minho masih mengikuti Jiyoo dengan pandangannya dan mendengar gadis itu memberi ucapan selamat pagi dengan begitu bersemangat saat membuka pintu cake shop. Mau tak mau Minho tersenyum kecil. Andai saja semuanya bisa semudah yang yang gadis itu katakan…

oo000oo

Victoria memperhatikan beberapa lembar kertas yang ada di hadapannya dengan seksama sambil sesekali meneguk tehnya. Kertas-kertas itu bukan berisi laporan proyek ataupun laporan keuangan seperti yang biasa ia periksa. Kertas-kertas itu hanya berisi perjanjian bisnis yang mengorbankan hidupnya.

Dari awal Victoria memang sudah menduga pasti akan datang saat ini. Saat dia disuguhkan kertas-kertas berisi data calon suaminya dan dia tak punya banyak pilihan untuk menolak. Maka nantinya pernikahan itu tak akan lebih dari perjanjian bisnis.

Saat Victoria menangkap sosok dongsaeng-nya yang memasuki restoran tempat mereka berjanji untuk bertemu itu, gadis itu langsung menyimpan kertas-kertas di hadapannya. Hari ini, ia memang telah berjanji untuk bertemu dengan Jiyoo.

Annyeong, eonnie…” Jiyoo menyapa ramah dan memberinya kecupan di pipi.

Victoria menyambut dongsaeng-nya itu dengan senyuman. Jauh di lubuk hatinya, dia sebenarnya merasa iri pada Jiyoo. Andai saja ia punya separuh saja dari keberanian yang dimiliki dongsaeng-nya itu, Victoria juga pasti sudah nekat keluar dari keluarga Lee. Ia merasa lelah menjadi boneka yang terus menerus dikendalikan. Victoria bahkan tak punya hak untuk membuat pilihan atas hidupnya sendiri. Sementara Jiyoo, meskipun harus bekerja keras dan tak selalu bisa mendapatkan apa yang ia mau, tapi ia punya pilihan untuk menentukan hidupnya sendiri dan ia bisa bahagia.

Eonnie sedang ada masalah ya?” tanya Jiyoo ingin tahu. Sepertinya ia bisa menangkap ada yang lain dalam ekspresi Victoria.

“Menurutmu?” Victoria balik bertanya.

“Sepertinya begitu,” Jiyoo mengangkat bahu, “tapi kalau tentang masalah bisnis, aku tidak akan bisa membantu eonnie.Aku tidak tahu menahu kalau soal bisnis. Aku cuma bisa berharap eonnie bisa segera menyelesaikan apapun masalahnya.”

Victoria tertawa ringan, “Thank you for your hope,” sambutnya.

Setelah keterdiaman sesaat, Jiyoo mulai lagi berujar, “Hmm… namja yang datang ke apartemen eonnie waktu itu…”

“Junhyung maksudmu?” tangkap Victoria cepat, tak membiarkan Jiyoo menyelesaikan kalimatnya sendiri.

Ne, Junhyung. Dia kekasih eonnie?”

Victoria menyambut pertanyaan dongsaeng-nya dengan tawa.

“Junhyung memang baik. Dia pintar merayu dan dia senang mondar-mandir mengikutiku kemana aku pergi meski dia itu—asal kau tau saja, dia salah satu pengusaha muda paling sibuk di negeri ini— tapi untung saja aku belum termakan rayuannya. Jadi anieyo, dia bukan kekasihku.”

“Jadi… eonnie berpikir Junhyung itu playboy?” Setidaknya itulah yang ditangkap Jiyoo dari jawaban kakaknya, Victoria berpikir bahwa Junhyung seorang playboy.

Sepasang alis Victoria bertaut, “Ani. Aku kenal Junhyung dari kami masih kuliah, meski kesannya memang dia orang yang seperti itu, tapi aku tahu kalau dia tidak seperti itu. Dia tipe namja yang bisa berkomitmen,” bantah Victoria.

Jiyoo diam sejenak, “Aku rasa… Junhyung suka pada eonnie dan dia serius.”

Victoria semakin heran. Apa yang membuat dongsaeng-nya mendadak peduli tentang masalah ini?

“Kau kenal Junhyung, Jiyoo-ah?”

“Sebenarnya, ya… Junhyung sering datang ke cake shop tempatku bekerja.”

“Aaah… dia pasti menghasutmu agar mau membujukku dan aku mau menerimanya, bukan?” tebak Victoria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Jiyoo tertawa, “Kurang lebih seperti itu… Dia bilang aku cupidnya.”

Victoria ikut tertawa, “Tahu begini, lebih baik aku tidak memberitahunya kalau kau adalah dongsaeng-ku,”

“Makanya lain kali jangan beri tahu siapapun lagi soal siapa aku sebenarnya, eonnie.” celetuk Jiyoo. “Tapi eonnie benar-benar tidak ada niat untuk mencoba menerima Junhyung? Eonnie tidak menyukainya sedikitpun?” kejar Jiyoo kemudian

Victoria mengeluarkan lagi kertas-kertas yang tadi disimpannya dan mengibas-ngibaskan kertas itu, “Akumenyukainya atau tidak, tidak akan berpengaruh. Aku akan bertunangan. Dan Junhyung bukan calonnya.”

Jiyoo mencibir. Dia pikir Victoria hanya sedang bergurau. Victoria juga yakin dongsaeng-nya itu pasti tak percaya dengan apa yang ia katakan barusan, tapi ia tak peduli. Ia tak berniat menjelaskan panjang lebar lagi pada Jiyoo. Karena seperti yang ia katakan, siapapun yang ia cintai tetap tak akan berpengaruh. Pilihan sudah ditentukan orangtuanya. Maka Junhyung atau siapapun akan sama saja hasilnya.

oo000oo

Untuk kesekian kali Minho duduk di belakang stir mobilnya tanpa melakukan apapun, hanya diam dan melihat. Menjaga jarak antara mobilnya yang terparkir dengan cake shop De’Licious namun tetap mencari tempat yang nyaman untuk bisa mengamati. Untuk saat ini dan mungkin untuk seterusnya juga, hanya dengan seperti ini dia bisa menyelidiki keberadaan gadis yang dicintainya. Minho tahu, Hye Na begitu mencintai De’Licious. Dan entah bagaimana, hanya dengan begitulah Minho merasa dirinya bisa merasa terhubung kembali dengan Hye Na.

Kemarin Hye Na sempat menghubunginya lewat telpon. Gadis itu tidak bicara banyak, ia hanya menghubungi Minho untuk mengakhiri semua yang terjalin diantara mereka secara sepihak. Dan sejujurnya Minho sangat kecewa. Bukan kecewa karena perbedaan status sosial antara dia dan Hye Na, tapi kali ini ia kecewa pada gadis yang ia cintai dengan sepenuh hati  itu. Meski eomma-nya kerap mengelak, Minho sebenarnya yakin eomma-nya yang menekan gadis itu untuk meninggalkannya. Dan Minho kecewa Hye Na menyerah begitu saja pada eomma-nya dan pada keadaan. Padahal Minho bersedia meninggalkan apa yang sudah ia punyai sekarang demi gadis itu. Ia rela meninggalkan semua hartanya jika memang Hye Na meminta demikian. Tapi Hye Na justru menolak untuk berjuang bersamanya sampai akhir dan malah memilih untuk mengakhiri semuanya. Minho sendiri sudah lelah membujuk Hye Na. Rasanya cintanya hanya sedang bertepuk sebelah tangan. Tahun-tahun yang sudah ia dan Hye Na lewati dari masa-masa SMA dulu sekarang mau tak mau harus dilupakan.

Semua ini terlalu menyakitkan bagi namja itu. Bahkan untuk sekedar memutuskan hubungan mereka pun, Hye Na enggan menemuinya.

Dan mungkin kini Minho memang harus menghadapi kenyataan. Victoria, gadis yang telah dipilih orantuanya itulah kenyataan yang harus dihadapinya saat ini.

oo000oo

Tak ada satupun diantara mereka yang berniat untuk memulai percakapan. Keduanya menghabiskan makanan pesanan masing-masing dalam keterdiaman. Mereka seperti tengah hanyut dengan pikirannya masing-masing. Hidangan-hidangan lezat yang di terhidang di meja restoran Perancis super mewah itu seakan terasa begitu hambar di lidah keduanya.

Atas perintah nyonya Choi, eomma-nya Minho, Jonghyun ternyata telah mengatur sebuah makan malam untuk Minho dan calon tunangannya. Maka disanalah mereka sekarang. Di sebuah restoran Perancis super mewah. Keduanya sama sekali tidak menolak acara itu, namun bukan berarti keduanya juga menjalaninya dengan senang hati. Mereka menjalaninya hanya sebagai suatu kewajiban belaka.

“Bukankah ini sangat membosankan?” Victoria akhirnya angkat bicara, mengakhiri senyap yang berkuasa diantara mereka sejak tadi.

Minho tersentak dan mengangkat kepalanya. “Mwo?” tanya namja itu tak mengerti.

“Aku bertanya bukankah seperti ini sangat membosankan?”

Minho tersenyum kecil, “Ne,” jawab namja itu menyetujui, “memang sangat membosankan.” sambungnya.

“Tapi aku sama sekali tak berniat untuk mengakhiri ini.” gumam Victoria. Tatapannya tertuju penuh pada steak yang sedang dipotongnya. Ketika kemudian gadis itu mengangkat kepalanya menatap Minho, dia bertanya, “Bagaimana denganmu?”

Minho tak segera menjawab. Sepasang alisnya terangkat. “Na ddo. Aku juga tidak. Kau pasti tau bagaimana kacaunya Choi Coorporation tanpa Lee Company.” tanggap namja itu datar.

Victoria tersenyum kecil, “Kau juga pasti tahu bagaimana kacaunya Lee Company tanpa Choi Coorporation.” balas Victoria. Dan keduanya sama-sama tertawa pahit, menertawakan nasib mereka yang sama-sama harus mengorbankan hati demi sebuah ambisi.

“Ceritakan sesuatu tentang keluargamu.” pinta Minho kemudian.

Alis Victoria terangkat. Dia tak yakin kalau Minho benar-benar ingin tahu tentang keluarganya. Lagipula namja itu pasti sudah membaca data-data tentang Victoria sama seperti saat Victoria diberi tumpukan kertas berisi latar belakang Choi Minho. Ia pikir mereka sudah cukup saling mengenal hanya lewat kertas-kertas data diri itu.

Sebelum Victoria bereaksi, Minho angkat bicara lebih dulu, “Well, kalau kau menolak, asistenku sebenarnya sudah pernah memberi kertas-kertas berisi semua hal tentangmu. Mungkin lain kali bisa kubaca lagi,”

Victoria tersenyum tipis, “Sepertinya memang lebih bagus kau baca saja daripada mendengarnya langsung dari mulutku. Tidak ada yang menarik dengan keluargaku.” ujar Victoria. Gadis itu menghela nafas sejenak, “Kecuali mungkin dongsaeng-ku,”

“Kau punya dongsaeng?”

“Ah, memangnya mereka tidak mencantumkannya di ‘curriculum vitae’ yang kau terima? Atau kau yang tidak membacanya?”

Dahi Minho berkerut, “Entahlah. Mungkin aku yang tidak membacanya dengan benar.”

“Sayang sekali, padahal dia satu-satunya orang yang kuanggap paling menarik di keluarga kami. Namanya Jiyoo.”

Dahi Minho berkerut sesaat. Seketika bayangan gadis bertubuh mungil yang sempat menolongnya saat ia mabuk dulu terlintas begitu saja dalam kepalanya. Tapi tentu saja menurutnya Jiyoo yang dimaksud Victoria berbeda dengan Jiyoo yang ia tahu. Gadis bertubuh mungil itu terlalu sederhana untuk menjadi bagian keluarga Lee. Heh, mana mungkin keluarga Lee membiarkan salah satu putrinya menjadi seorang pelayan cake shop?

“Sepertinya hubungan kalian baik,” komentar Minho pada akhirnya.

Ne, hubungan kami baik, tapi hubungannya dengan orangtua kami kurang baik. Dan baginya keluar dari rumah adalah hal yang paling waras untuk dilakukan.”

Minho diam tak menanggapi. Dia merasa Victoria juga tidak sedang mengharapkan tanggapannya. Apa yang terjadi antara ia dan Victoria kini tak lebih sekedar basa-basi. Meski Victoria akhirnya bercerita tentang dongsaeng-nya, Minho yakin kalau gadis itu tidak benar-benar sedang membuka diri. Sama halnya dengan apa yang ia lakukan kini.

“Oh ya, aku sudah selesai. Apa kita punya acara lain setelah ini?” tanya Victoria kemudian setelah meletakkan sendok dan garpunya lalu meneguk sedikit minumannya.

“Aku rasa cukup untuk hari ini. Mungkin kita bisa langsung pulang.” tanggap Minho sesopan mungkin dan masih penuh basa-basi.

“Aku pikir memang sepertinya lebih baik kita langsung pulang.” timpal Victoria menyetujui. “Aku harap kau tidak keberatan mengantarku, aku tidak membawa mobilku…”

Ne, tentu saja, aku tidak keberatan.”

Dan seperti itulah pertemuan pertama antara Victoria dan Minho berakhir. Mereka sadar bahwa mereka tidak mempunyai ketertarikan terhadap masing-masing. Namun mereka juga sadar mereka tetap harus menjalankan peran masing-masing. Meskipun hambar dan penuh basa-basi. Toh, dari awal mereka memang sudah tahu semua itu tak akan lebih dari perjanjian bisnis yang melibatkan dua keluarga.

Bisnis, that’s it. Dan bisnis tetaplah bisnis.

oo000oo

Beberapa hari kemudian…

Siang itu, Jiyoo hanya bisa terperangah. Ia tidak menyangka akan menemukan Hye Na berdiri di depan pintu De’Licious dan tersenyum padanya.

“Hye Na-ya…” seru Jiyoo seraya berlari memeluk sahabatnya itu. “Aku tahu kau pasti kembali…” katanya seraya melonggarkan pelukannya.

Hye Na hanya tersenyum kecil. “Tidak Jiyoo-ah… Aku kesini hanya mau berpamitan pada kalian. Aku sadar tidaklah benar jika aku pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan kalian…” gumam Hye Na.

Jiyoo terdiam sesaat. “Kau mau kemana? Bukankah kau hanya akan menetap di Busan? Busan tidak terlalu jauh, aku yakin masih bisa mengunjungimu sesekali…” tanya gadis itu cemas.

Hye Na terdiam. Perlahan ditariknya Jiyoo kesudut cakeshop dan duduk berhadapan. Ia tahu ia harus bicara panjang lebar bersama Jiyoo. Sementara itu para pegawai De’Licious hanya membiarkan keduanya tanpa berniat mendekat. Mereka ingin memberi waktu kepada Jiyoo untuk berbicara terlebih dahulu dengan Hye Na. Karena memang Jiyoo-lah yang paling dekat dengan Hye Na selama mereka bekerja di De’Licious.

“Aku harus ke Jepang, Jiyoo-ah. Aku memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studiku kesana…” ujar Hye Na membuka suara setelah mereka duduk berhadapan di pojok cake shop. Agak menjaga jarak dengan keraiamaian pengunjung cake shop.

Jiyoo tercenung.

“Kau tega sekali padaku Hye Na-ya.” sahutnya berat. “Kau sudah banyak membohongiku. Aku bahkan tidak tahu sama sekali tentang perihal hubunganmu dengan Choi Minho. Kau tidak pernah bercerita padaku dan membuatku terlihat begitu bodoh sebagai sahabatmu. Lalu sekarang kau mau pergi begitu saja?”

Hye Na terdiam, “Aku terpaksa Jiyoo-ah… Aku dan Minho memang menjalani hubungan kami secara diam-diam. Aku tidak ingin siapapun tahu tentang hubungan kami karena itu dapat membahayakan orang-orang di sekitarku. Nyonya Choi tidak pernah menyukai hubungan kami…”

‘Kali ini kabar mengejutkan datang dari dua keluarga pengusaha pemilik dua perusahaan besar Korea; Choi Coorporation dan Lee Company. Kabarnya kedua pewaris dari dua perusahaan tersebut telah mengikat hubungan pertunangan. Hingga saat ini belum ada konfirmasi dari kedua pihak keluarga, namun kedua pewaris keluarga tersebut; Choi Minho dan Victoria Lee telah sempat beberapa kali kedapatan sedang berdua.’

Hye Na membisu. Ia bahkan tidak bisa menyelesaikan lagi kalimatnya. Suara dari televisi yang dibiarkan hidup di sudut cake shop itu tampak begitu mengganggunya. Matanya nanar menatap layar televisi.

Sementara itu Jiyoo ikut membeku di tempat. Kakaknya bertunangan?!

Jiyoo terkecoh. Ternyata Victoria tidak sedang bercanda saat ia mengatakan kalau ia akan bertunangan ketika mereka bertemu beberapa waktu yang lalu. Ocehan eonnie-nya yang mengatakan bahwa ia akan punya tunangan sepertinya tak sekedar bualan. Tidak tanggung-tanggung calon kekasih Victoria adalah Minho. Hal itulah yang lebih mengagetkan Jiyoo. Terlebih Jiyoo pertama kali mengetahui berita tentang perjodohan Victoria dengan Minho itu dari televisi tepat saat dia sedang bersama Hye Na. Dan Jiyoo yakin, melihat ekspresi Hye Na sekarang, sepertinya gadis itu juga baru mendengar berita itu.

Namun reaksi yang ditunjukkan Hye Na saat mendengar berita itu ternyata sangat jauh di luar dugaan Jiyoo. Hye Na hanya menoleh dan tampak tertegun sejenak menatap layar televisi yang dipasang di sudut De’Licious. Lalu seolah-olah Hye Na tidak pernah mengenal wajah namja yang hanya tampak melalui cuplikan-cuplikan sekilas di televisi itu, dia melengos dan kembali menatap Jiyoo yang berada di hadapannya.

Sementara itu Jiyoo hanya bisa mendesah. Semua ini benar-benar kacau. Eonnie-nya yang dicintai oleh Junhyung sampai Jiyoo sendiri dimintai tolong oleh Junhyung untuk membantu kemajuan hubungan cintanya, malah akan bertunangan dengan Minho. Dan yang perlu digarisbawahi, Minho adalah kekasih Hye Na, sahabatnya sendiri. Lalu Jiyoo sendiri mencintai Junhyung yang mati-matian mencintai Victoria. Tidak ada yang lebih kacau dari ini.

Meskipun di televisi belum ada ditayangkan kepastian mengenai hubungan Victoria dan Minho baik itu dari pihak Victoria maupun Minho sendiri, Jiyoo sangat yakin apa yang sedang ditayangkan di telelvisi kini bukanlah sekedar gosip saja. Minho yang seorang calon pewaris perusahaan dari keluarganya jelas adalah pilihan yang tepat bagi orangtua Jiyoo sebagai calon suami Victoria. Hubungan itu pastilah hanya atas dasar bisnis belaka dan sama sekali bukan karena cinta. Dan Jiyoo pikir, seperti biasa, eonnie-nya yang penurut itu, tidak akan menolak keinginan orangtua mereka. Sesuatu yang mungkin bisa dilakukan oleh Jiyoo yang adalah seorang pemberontak sejati.

Lepas dari apapun alasan hubungan antara Victoria dan Minho, Jiyoo jadi memikirkan Junhyung. Apa yang harus ia katakan pada Junhyung? Sudah tahukah Junhyung mengenai berita ini? Bisakah namja itu menerima keadaan saat ini dan melepaskan cintanya pada Victoria?

Dan Jiyoo mendapati hatinya merasa begitu sesak saat menyadari tak ada satupun dari pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya itu yang mampu dijawabnya. Hatinya kontan merasa sakit. Kemudian satu pertanyaan baru mendadak muncul dalam benaknya; kenapa bukan dia saja yang dicintai oleh Junhyung?

“Kenapa kau melamun, Jiyoo-ah?”

Jiyoo tersentak dengan pertanyaan Hye Na. Jiyoo langsung menoleh pada Hye Na yang kini menyeruput segelas jus di depannya.

“Yang di tivi barusan bukankah itu kekasihmu, Hye Na-ah?”

Ani. Dulu iya, tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah putus dengan Minho.” jawab Hye Na tampak tak acuh. Jiyoo tak menemukan ada kilatan luka di mata Hye Na.

Waeyo? Padahal yang aku lihat, Minho sangat mencintaimu Hye Na-ah. Selama kau tak ada, dia terus-terusan mencarimu kesini. Memarkir mobilnya tak jauh di depan hingga larut malam. Aku bisa melihat betapa besar keinginannya untuk bertemu denganmu. Dia kelihatan begitu putus asa. Kau tahu, aku bahkan sempat menemukannya tak sadarkan diri setelah ia menghabiskan banyak sekali soju. Cintanya sangat besar padamu, aku sangat yakin.”

Hye Na tersenyum kecil, “Justru itu, Jiyoo-ah…”

Dahi Jiyoo berkerut-kerut menandakan kebingungannya. Dia tak mengerti apa yang dimaksud dalam ‘justru itu’ yang diucapkan oleh Hye Na itu. “Maksudmu?”

“Minho sangat mencintaiku, aku juga tahu itu. Tapi… aku tidak yakin kalau cintaku juga sebesar itu padanya,” gumam Hye Na.

“Jangan bilang kau meninggalkan Minho demi uang yang ditawarkan oleh nenek lampir itu!” seru Jiyoo.

Ani. Aku tidak mengambil sepeserpun uang mereka, Jiyoo-ah. Jangan salah sangka.” Hye Na mendesah sesaat. “Aku sudah lama kenal Minho, semenjak kami masih SMA. Awalnya aku memang sangat yakin kalau aku memang mencintainya, tapi lama-lama perasaanku padanya hilang perlahan-perlahan. Kalau sampai kemarin aku masih dengannya, maka itu mungkin cuma karena hanya ada dia bersamaku sudah jadi kebiasaan bagiku.”

Jiyoo terdiam, tidak tahu harus berkomentar apa. Untuk masalah serumit ini, Jiyoo yang sebenarnya masih buta dalam hal cinta, tidak mau berlagak terlalu sok tahu.

“Aku kira kau begini karena orangtuanya Minho tidak menyetujui hubungan kalian. Kalau alasan yang satu ini yang kau gunakan untuk melepas cinta Minho, aku tidak bisa terima. Sudah bukan masanya lagi cinta melihat strata sosial.”

Hye Na kembali tersenyum kecil. “Kau bisa bicara begitu karena kau tidak berada di posisi orang kaya seperti orangtuanya Minho, Jiyoo-ah. Coba saja kau bayangkan, kalau kau yang jadi eomma-nya Minho. Kau punya perusahaan raksasa dan anakmu satu-satunya malah tergila-gila pada seorang gadis miskin yang jadi pelayan di sebuah cake shop dan anakmu itu bahkan rela meninggalkan semua hartanya demi gadis miskin itu. Padahal dalam anganmu sudah ada sederetan nama rekanan bisnis yang siap dijadikan besan.”

Huh, Hye Na tidak tahu saja kalau Jiyoo juga memiliki sebuah rahasia besar. Orangtua Jiyoo sendiri juga menganut paham yang sama dengan orangtua Minho. Terbukti kini Victoria eonnie yang jadi korban ambisi mereka untuk berbesan dengan rekan bisnis. Dan seumur hidupnya mungkin Jiyoo tidak akan mengerti apa pentingnya menjadikan rekan bisnis sebagai besan. Memangnya kenapa kalau besannya bukan rekan bisnis melainkan orang biasa?

Namun di depan Hye Na, Jiyoo tak mengatakan apapun. Dia merasa sekarang sudah bukan saatnya lagi untuk memperdebatkan masalah ini. Jadi akhirnya Jiyoo cuma bertanya, “Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang Hye Na-ah?”

“Kalau aku masih tetap disini, Minho tidak akan pernah mau mencoba untuk melupakanku. Makanya aku memutuskan untuk ke Jepang dan mengambil beasiswa itu.”

“Jadi kau benar-benar akan berhenti dari De’Licious?” tanya Jiyoo kaget.

Ne, itu pilihan terbaik yang aku punya demi kebaikan Minho. Gadis yang dipilih oleh orangtuanya saat ini sudah sangat tepat baginya.”

Jiyoo membisu. Ia tidak tahu sekarang harus berbicara apa lagi.

-to be continue-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “Love and Destiny – Part 4”

  1. “Berhenti berlagak jadi orang patah hati, Jiyoo. Ini sungguh bukan Jiyoo yang seperti biasanya. Lagipula apa buruknya jadi cupid untuk orang yang kau suka?” bujuk Jiyoo pada dirinya sendiri.

    seriusan nih nanya apa buruknya jd cupid org yg disukain? buruk bgd, aplg kl punya sakit asma, makin nyesek deh buat napas 😦

  2. Aaaaaahh jadi tambah rumit rumit rumit..,,
    Jiyoo ntar sama spa??
    Minho sma Victoria??. T.T
    Lanjut thor..

  3. uwaah…aq suka ama karakter jiyoo, ceria2 gmn gtu.
    Ah emang ni orang tua demenny ngejodohin mulu.
    Eonni… Aq pernah nyangkut k wp eon tp blm sempet baca. Kt tmenku ff eonni rame, makanya pnasaran.

    Aq mau baca lanjutanny lg ya… 😀

  4. cerita makin seru makin keren makin rumit semuanya serba makin deh
    mei suka sekali sma karakter-nya si jiyoo walaupun dia lagi sedih atau lagi apalah pokoknya dia tetap ceria tersenyum sama seperti mei kkk
    tapi di part ini ceritanya buat mei galau ah

    part 5 i’m coming~ kkk

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s