I Will Always Love You – Part 4 (END)

Judul                : I Will Always Love You

Author             : Aya-chan

Main cast        : Choi Minho, Han Ji Eun as You

Support cast    : Choi ahjumma, Choi ahjussi and other

Genre              : Sad Romance

Length             : Chapter (17pages)

Rating              : PG 15-17

A.N                  : Terinspirasi dari lagunya Whitney Houston dan satu FF yang saya lupa judulnya—mianhae. Meskipun mungkin makna asli dari lagunya nggak seperti cerita ini, tapi, tiap kali dengar lagu itu saya selalu menafsirkannya persis seperti cerita yang saya tulis ini. Kamsahanidaaaaa~ pada reader dan admin yang ngepostin. Leave comment okay ^^. Oiya, ff ini juga udah pernah di post di ffshineeshawol.wordpress.com , tapi biar banyak yang baca saya kirim kesini.

Summary

Jika ini takdir Tuhan, kurelakan semuanya

Kuserahkan semuanya

Dengan syarat kau harus bahagia

Kau harus menemukan kebahagiaanmu

 

HAN JI EUN POV

            Aku menarik napas panjang sebelum masuk keruang perawatan Minho. Aura dingin rumah sakit langsung menyeruak, aura yang sangat tidak kusukai. Seakan semua harapan hilang ketika berbaring tidak berdaya diruangan ini.

            Aku melangkah mendekati sisi kanan Minho. Menyentuh tangannya yang tidak dipasang selang infus. Menggenggam telapak tangannya yang terasa dingin. Perlahan, aku menundukkan tubuhku, meletakkan bagian kanan kepalaku diatas dadanya dengan tetap menjaga agar tidak sepenuhnya kepalaku bertumpu didadanya.

            Aku mendengarnya. Debaran jantung Minho yang selalu kusukai. Masih sama, tidak ada yang berubah dari debaran jantungnya, meskipun kini dia terbaring tidak sadarkan diri.

            “Minho Oppa, gomawo. Jeongmal gomaweoyo”. Terimakasih untuk semuanya Minho. Untuk kasih sayang, cinta dan perhatian yang sudah kau berikan. Terimakasih karena sudah menjadikanku Nyonya Choi. Terimakasih karena sudah menjadi orang pertama yang kucintai dan akan kuserahkan diriku padamu.

            “Saranghae” aku mengucapkan kata-kata itu dengan lelehan airmata. Mungkin kini sudah membasahi piyama rumah sakit yang dikenakan Minho. Aku menarik kepalaku, menghapus airmataku dan mengelus kedua pipi Minho yang tidak tertutup masker oksigen.

AUTHOR POV

Ia sudah memutuskan semuanya. Keputusannya sudah bulat. Ji Eun berbaring disebuah ranjang yang diatasnya terdapat lampu operasi. Ia mengarahkan pandangannya pada dokter Kim dan beberapa asistennya yang tengah sibuk mempersiapkan operasi. Sayup-sayup didengarnya bunyi roda brangkar yang didorong. Sesaat setelah itu, pintu besar didepannya terbuka, dan masuklah Minho yang tengah berbaring dengan beberapa orang disampingnya.

            Ji Eun menahan senyumnya ketika Minho dibaringkan didekatnya. Hanya berjarak sekitar 30 centi dari ranjang yang ia tempati. Wajah itu masih sama, nampak tenang namun sedikit lebih pucat dari saat terakhir ia melihatnya tadi siang.

            “Annyeong Ji Eun-ssi, saya dokter Lee, ahli anastesi. Bisakah saya bius anda sekarang?” Tanya seorang dokter yang berdiri diatas kepala Ji Eun.

            “Ah, ne~ aku siap” jawab Ji Eun mantap.

            “Baiklah, Anda hanya perlu menghirup ini dan berhitung dari satu sampai sepuluh, arraseo?” perintah dokter Lee lembut. Ji Eun mengangguk. Dokter Lee kemudian mulai memasang alat pembius diwajah Ji Eun.

            1…2…3…4. Sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya, Ji Eun melihat tangan kanan Minho yang agak terulur. Pelan, Ji Eun menautkan kelingking tangan kirinya dengan kelingking tangan kanan Minho.

            5…6…7…8. Ji Eun sudah tidak bisa melanjutkannya lagi. Ia benar-benar telah kehilangan kesadarannya. Akan tetapi, kelingkingnya yang terpaut dikelingking Minho sama sekali tidak jatuh. Kedua kelingking itu tetap saling bertaut sepanjang operasi.

~~~

            Seoul, 4 jam kemudian.

            Minho mulai membuka matanya ketika dia merasakan hawa hangat yang menerpa wajahnya. Mengerjap-ngerjap beberapa kali. Dia mulai bisa menangkap kalau hawa hangat itu berasal dari pemanas ruangan yang ada didekat kepalanya.

            Minho mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan lumayan terang itu. Kerena sinar matahari sore menembus kaca jendela besar disamping tempat Minho berbaring. Kemana Ji Eun? Hanya itu yang langsung dipertanyangan Minho ketika matanya hanya menjumpai ibunya yang tengah tertidur di sofa.

            “Eugh!” lengkung Minho sambil menahan nyeri dipunggungnya. Dia berusaha duduk menegakkan tubuhnya. Hal ini membuat Choi ahjumma terjaga dari tidurnya.

            “Minho anakku~” beliau langsung menghampiri Minho dan memelukkanya.

            “Eomma, aku merasa lebih sehat” kata Minho.

            “Syukurlah” ujar Choi ahjumma sambil melepaskan pelukannya.

            “Eomma, mana Ji Eun?” Tanya Minho.

            “Em, ia… ada… di.. eh—“ jawab Choi ahjumma sambil tergagap. Ia benar-benar bingung harus mengatakan apa pada Minho tentang keadaan Ji Eun.

            “Eomma, ada apa dengan Ji Eun?” Tanya Minho lagi, kali ini dengan nada khawatir. Choi ahjumma tidak menjawab dan malah beranjak menuju meja kabinet yang berada disamping sofa. Mengambil sesuatu berwarna putih dan menyerahkannya pada Minho. Sebuah surat. Minho mengerutkan kening namun enggan bertanya lebih lanjut. Dia lebih memilih membuka surat itu.

            Dibagian amplop belakangnya Minho mendapati sebuah tulisan tangan yang rapi. Dia sangat mengenali tulisan tangan itu, tulisan tangan Ji Eun.

            ‘Untuk cintaku sepanjang masa, Choi Minho’ Minho tersenyum membacanya. Dia segera membuka surat itu.

            Annyeong Minho Oppa ^^

Kuharap ketika kau membaca surat ini, kau sudah sadar dan merasa lebih sehat. Baiklah, aku akan memulainya. Ehem..ehem!

            Oppa, kau ingat saat pertama kali kau datang dihadapanku dan menyatakan cintamu? Itu adalah keajaiban dalam hidupku. Saat itu aku hampir menyerah dan benar-benar merasa telah menjadi seorang poor Han Ji Eun. Tapi, kau malah datang dan membuatku merasa kalau aku diperlukan dan diperhitungkan dihadapanmu.

            Oppa, saat-saat menjadi kekasihmu adalah saat-saat yang paling mendebarkan bagiku. Saat kita berjalan berdua dan kau menggenggam erat tanganku. Aku sangat bahagia, Oppa.

            Oppa, ketika aku mengetahui penyakitmu, tidak pernah terpikir untuk pergi dari sisimu. Saat itu hal yang paling aku inginkan adalah tetap melihatmu bahagia, hidup dengan tenang hingga hari tuamu. Demi apapun, aku hanya ingin kau hidup lebih lama dan bahagia.

            Minho menyeka airmatanya yang entah sejak kapan merembes dipipinya.

            Oppa, saat kita menikah, sekali lagi kau menciptakan keajaiban dihidupku. Ketika kau mengucapkan janji setiamu dihadapan Tuhan rasanya saat itu aku ingin sekali menangis. Aku sangat takut akan kehilanganmu. Aku tidak sanggup kalau harus melihatmu lebih dulu meninggalkanku.

            Kau segalanya bagiku. Yang kumiliki hanya dirimu. Aku tidak bisa jika harus melihatmu menderita, kesakitan atau semacamnya. Setiap hari, setiap aku bangun dari tidurku, harapanku hanyalah kau bisa bahagia dan berumur panjang, Oppa.

            Kemudian aku berpikir, jika aku yang lebih dulu meninggalkanmu, bagaimana caranya agar aku bisa terus berada didekatmu. Karena aku tidak bisa jika jauh darimu. Hingga, terpikirlah cara ini. Dan sekarang aku sudah yakin kalau dengan begini, aku tidak akan jauh darimu dan kau bisa terus bahagia.

            Oppa, terimakasih karena sudah menerimaku dihidupmu. Terimakasih sudah menjadikanku wanitamu. Terimakasih karena sudah menjadi orang terpenting dalam hidupku. Terimakasih sudah memberikanku kecupan manis. Terimakasih untuk semua pelukan yang kau berikan. Jeongmal kamsahamnida Oppa.

            Oppa, mianhamnida karena tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu. Karena aku masih sering bersikap kekanak-kanakan. Maafkan aku karena tidak sanggup memberikanmu seorang Choi junior. Inilah hal yang paling membuatku merasa bersalah padamu Oppa..

            Mianhae mianhae mianhae mianhae Minho Oppa.

 

            Oppa, ketika kau sudah bisa memaafkanku. Aku punya beberapa perintah untukmu. Pertama, kau harus mengemasi semua pakaianku, setelah itu aku boleh mendonasikannya atau memberikannya pada orang lain. Kedua, untuk buku-bukuku yang berada dirak, pilah-pilihlah yang mana yang penting, setelah itu kaupun boleh mendonasikan buku-buku yang sudah tidak terpakai. Ah, aku lupa. Lakukanlah juga perintah pertama pada sepatu dan tasku. Arraseo?

            Lalu kemudian, hal yang paling penting yang harus kau lakukan adalah, mencari seseorang yang akan menggantikan Han Ji Eun dan memberikanmu seorang Choi junior. Kau harus mencari kebahagianmu Oppa! Hal ini harus benar-benar kau laksanakan Oppa! Aku akan sangat marah kalau kau tidak melaksanakannya.

 

            Baiklah, kuakhiri saja suratku yang seperti drama televise ini kekeke~. Baiklah Oppa, maafkanlah aku dan aku mencintaimu sampai kapanpun. ‘CHU’

 

NB: mintalah penjelasan pada dokter Kim tentang keadaanku.

Han Ji Eun—

            “Sudah sadar Minho-ssi?” sapa dokter Kim yang baru saja datang keruangan Minho. Dan dokter Kim menangkap itu, sisa-sisa airmata di wajah Minho dan Choi ahjumma.

            “Dokter Kim, bisa jelaskan padaku tentang keadaan Ji Eun?” Tanya Minho nanar sambil memandang wajah dokter Kim. Dokter Kim menghela napas. Dia tahu, cepat atau lambat Minho pasti akan meminta penjelasan darinya.

            “Ji Eun-ssi, beberapa hari sebelum kalian menikah, ketika kau juga dirawat disini,” dokter Kim memulai ceritanya. Minho mengangguk, mengingat kapan tepatnya kejadian itu.

            “Ia melakukan pemeriksaan denganku. Ia mengeluh tentang rasa sakit yang seringkali ia rasakan ketika menstruasi dan buang air kecil. Akupun curiga dengan kadaannya dan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Dari situ, kami mengetahui kalau Ji Eun menderita kanker serviks stadium lanjut. Saat pertama kali mengetahuinya, Ji Eun-ssi sangat terpukul. Ia terus menangis diruanganku.”

            “Dua hari kemudian, ia kembali padaku dan ingin melakukan tes kecocokan sumsum tulang denganmu. Entahlah, apa yang melatarbelakangi ia melakukan hal itu. Aku menuruti keinginannya dan hal yang tidak pernah kusangka terjadi. Entah bagaimana, sumsum tulang belakang Ji Eun sangat cocok dengan sumsum tulang belakangmu.”

            “Ji Eun-ssi lalu memintaku untuk merahasiakan keadaannya. Aku menyanggupinya. Tapi kemudian, ia juga memintaku untuk melakukan operasi pendonoran sumsum tulang belakangnya padamu apabila keadaanmu sangat kritis. Dan hal itu baru saja terjadi tadi siang. Aku hanya berusaha menepati janji pada Ji Eun dan mewujudkan permohonannya. Tuhan lah yang telah mengatur semua ini, Minho-ah. Ketahuilah, selama operasi jemari kalian saling terpaut. Tidakkah ini sebagai tanda kuatnya cinta kalian?” dokter Kim mengakhiri ceritanya.

            Minho merasakan dadanya bergemuruh. Butiran airmata sudah lepas, dia tidak bisa menahannya lagi. Ji Eun, dia kehilangan Ji Eun. Ia kehilangan wanitanya. Kekasih hatinya. Mulut Minho hanya mampu menggumamkan nama Ji Eun dengan bahu yang bergetar keras menahan tangis.

            Mianhae Ji Eun, jeongmal mianhae. Karena aku hanya memperdulikan keadaanku tanpa menyadari keadaanmu jauh lebih buruk dariku. Maafkan aku yang bodoh ini, Ji Eun. Yeobo, aku harus bagaimana? Sangat sulit jika tidak ada kau disampingku. Bisakah aku tetap hidup?.

            “Minho-ssi, uljima… kau bisa bangun? Apa kau ingin melihat Ji Eun?” Tanya dokter Kim. Minho mengangguk. Dokter Kim membantunya bangun dan duduk dikursi roda. Kemudian membawa Minho kerumah duka yang menjadi salah satu fasilitas rumah sakit ini bersam Choi ahjumma.

            Minho sampai dan seketika dia melihat sebuah peti yang penuh bunga mawar putih diatasnya. Ditengah-tengah ruangan terpajang sebuah foto Ji Eun yang berukuran sedang bersama beberapa lilin dan bunga mawar putih. Minho ingat, foto itu dia ambil ketika mereka tengah melakukan fitting baju pengantin. Meskipun foto itu hanya menampakkan Ji Eun secara close-up, tapi Minho tahu ia tengah memakai gaun pengantinnya.

Choi ahjussi menghampirinya, “ Minho anakku, Ji Eun pergi dengan senyuman” ucap lelaki tua itu sambil mendekap Minho dari samping. Sudah tidak mampu lagi menahan tangisnya.

            “Minho-ssi, terimakasih sudah sangat membahagiakan Ji Eun” seorang wanita dengan pakaian biarawati membungkuk hormat pada Minho. Minho mengenalinya sebagai pengasuh Ji Eun semasa dipanti asuhan.

            “Minho-ssi, kami turut berduka cita. Semoga Anda kuat dan terimakasih sudah membahagiakan Ji Eun” sekelompok wanita seumuran Ji Eun juga membungkuk hormat pada Minho. Mereka pasti teman-teman Ji Eun dipanti asuhan, pikir Minho.

            Minho kembali memandang peti tempat Ji Eun berbaring dengan tenang. Ji Eun, lihatlah semua orang yang begitu mencintaimu ada disini. Jika ini memang takdir Tuhan untuk kita, aku ikhlaskan kepergianmu, nae yeoja. Pergilah dengan tenang. Dan tinggallah disurga dengan damai. Aku akan segera menyusulmu hidup dikedamaian.

CHOI MINHO POV

            Seoul, 1 tahun kemudian.

            Aku menapaki jalan menanjak diperbukitan Gwenggo-jo. Tempat peristirahatan Ji Eun. Sambil membawa sebuket bunga mawar putih kesukaan Ji Eun. Aku mengedarkan pandanganku. Tempat yang sunyi dan nyaman sekali, apalagi dengan pemandangan pohon-pohon yang dedaunannya mulai mengering. Ji Eun pasti betah beristirahat disini. Kakiku menyetuh undakan batu kelabu yang ditengahnya terpahat nama Han Ji Eun dengan tinta perak.

            “Nae sarang, aku datang. Sedang apa kau disana eoh?” tanyaku sesaat setelah meletakkan buket bunga didepan nisannya.

            “Masih setia menungguku kan?” sekali lagi aku bertanya. Aku tersenyum. Jika Ji Eun masih bisa menjawab ia pasti akan memukul kepalaku terlebih dahulu. Dan kemudian dengan mulut yang dipoutkan menjawab pertanyaanku barusan. Mengatakan kalau ia tidak mungkin bosan menungguku karena ia mencintaiku.

            “APPA!” suara kecil yang belakangan mengisi hari-hariku berteriak. Dengan terengah-engah ia berlari kearahku dan meletakkan sekeranjang apel didepan nisan Ji Eun.

            “Ji Hyun-ah, ayo beri salam pada Eomma!” perintahku. Gadis kecil dengan gaun putih selulut itu lalu membungkuk dalam. Membuat rambut sebahunya berjatuhan kewajahnya.

            “Annyeong Eomma,” ia menyapa dengan nada manja pada ibu angkatnya yang tengah terbaring damai. Membuatku mengacak-acak rambutnya. Aku menarik Ji Hyun kepangkuanku.

            “Ji Hyun-ah, kau ingin mengatakan sesuatu pada Eomma?” tanyaku. Ia mengangguk.

            “Eomma, eomma adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat. Dan Appa adalah lelaki paling tampan yang pernah aku lihat. Aku tidak ingin punya Eomma lagi, karena Eommaku hanya ada satu, yaitu Han Ji Eun Eomma” Ji Hyun berkata dengan mulut kecilnya yang mirip dengan Ji Eun. Anak ini memang memiliki banyak hal yang membuatnya mirip dengan Ji Eun. Dari mulut, alis, gaya cerianya, bahkan cara marah dan menangisnya. Ji Eun, kau bilang aku harus menemukan kebahagianku ‘kan? Inilah kebahagianku Ji Eun, Choi Ji Hyun, ia membuat seolah-olah kau masih ada disini, sayang.

            “Ah, Eomma,” aku kembali memandang Ji Hyun. “Aku berjanji akan menjaga Appa, Appa tidak akan menikah dengan siapapun lagi Eomma. Aku janji!” kata Ji Hyun dengan mantap sambil mengepalkan tangannya. Aku tergelak dan mencium pipinya.

            “Yaa! Ji Hyun-ah, bagaimana kalau Appamu mau menikah lagi?” Tanya ibuku yang baru saja sampai bersama Ayahku.

            “Ani, Appa hanya akan menikah dengan Eomma, halmoni” jawabnya dengan mulut yang dipoutkan. Persis dengan Ji Eun.

            Ji Eun, kau dengar? Ji Hyun akan menjagaku untukmu. Tunggulah aku dan Ji Hyun, nae sarang. Kita akan saling bertemu di surga dan memulai kehidupan keluarga kecil kita, batin Minho.

~~~THE END~~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “I Will Always Love You – Part 4 (END)”

  1. Hiks, trharu bca’a thor TT-TT
    bner2 cnta abdi romantis BANGET!
    Krya slnjutnya di tnggu ya thor jgn lpa yg rmantis kya gni kekeke ^-^v

  2. Wuhhh. Daebak.
    Nangis aku bacanya, hiks.
    Kasihan banget si minhonya.
    Ji hyun kok appa nya ngga boleh nikah lg sih.
    Padahal aku sama minho kan udh fitting baju pernikahannya#loh pllaakk hahaha. Kita tunggu ff yang lainnya yah

  3. huhuhu. kesian minho ditinggal jieun. *peluk minho. #plaakkk digampar jieun. hehehehe. bagus author!! keren keren keren

  4. Okay, dari awal baca fanfic ini udah kaya ada insting(?) bakal sad ending.. Dan ternyata?? T.T
    Nyesekkk paraahh… Sampek nangis bacanya bener ga boonk deh thor.. u.u
    Nice fanfic!! Eh, author musti tanggung jawab loh udah bikin readersnya nangis *dikandangin –”
    Keep writing author ^^9

  5. jadi maksudnya minho pengen cepet mati gitu?
    terus aku gimana? #loh 😮

    nice story thor,
    sepuluh jempol buat author 🙂

  6. Ketemu ff minho lagi nih… tapi yang cast ceweknya jiyeon kok dah jarang ya??? padahal aq suka ff sejak baca between coin, love n life loh….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s