The Heaven Worker – Part 1

The Heaven Worker (1)

Author : Ji I-el

Main Cast : Kim Hee Rin, Choi Minho (Udh kangen sama Minho??) ^^, dan satu lagi kita hadirkan cast baru Jo Kwangmin (Anggap aja ya si Kwangmin seumuran??) ^0^

Support Cast : You will know ^0^

Length : Sequel (yg akan panjang sekali)

Genre : Fantasy

Rating : General

Summary : Kelahiran 2 insan. Aura mistis. Apa ini? Apa itu?

Before story: -“The Ballancer, sekarang aku tugaskan kau agar cepat menyeimbangkan kondisi the Heaven dan the Earth. Dan kau Evil Command dan Hyukkie H. Angle, cepat perintahkan Heaven Police yang lain untuk menertibkan para Cheonsa. Jangan biarkan Cheonsa mengetahui apa yang terjadi. Aku khawatir diantara mereka ada yang nekat seperti Key Fairy.”-

 

***I-el

***AUTHOR POV***

Beberapa lama setelah kejadian yang terjadi di the Heaven, di sisi lain dunia, yaitu the Earth, terdengarlah suara tangisan bayi yang menggema sepanjang lorong rumah sakit. Tangisan yang berasal dari dua kamar bersalin yang berbeda itu membuat para Fairy –peri yang hanya memiliki sepasang sayap- mengepakan sayap beraneka warna mereka karena kesenangan.

Beberapa Fairy menari berputar, beberapa Fairy sibuk berkutat dengan papan yang berisikan formulir data kelengkapan untuk setiap kelahiran di the Earth setiap harinya, dan yang lain sibuk memuji gemas kedua bayi tersebut.

Sementara para Fairy sedang sibuk dalam kebahagiaan mereka, sebagaimana mereka menyambut setiap kelahiran bayi di the Earth, dari tempatnya  The Lord untuk melihat ke bawah the Earth.

      “Kenapa bisa begini? Kenapa bisa sampai terjadi dua kelahiran sekaligus seperti ini?” The Lord terlihat tidak senang dan otomatis membuat Fairy hening seketika. “Panggilkan Man Controller untuk-KU!”

    Tak berapa lama, datanglah seorang malaikat bersayap empat untuk menghadap The Lord. “Taeng Angel menghadap, The Lord.”

      “Dimana Man Controller yang lain?” tanya The Lord begitu menyadari ada satu yang terlewat.

    “Poro Angel sedang menemui Jjong Fairy untuk menanyakan hal ini karena menurut Fairy yang lain hanya Jjong Fairy lah yang mengetahui permasalahan ini,” jelas Taeng Angel.

   “Kalau begitu, kurasa aku bisa mengerti apa yang terjadi sebenarnya.” The Lord terlihat sedang menimang pikiran tentang sesuatu. “Kalau begitu, Thunder Angel, tolong segera kau bawa buku kehidupan untuk kedua bayi itu dan bebaskan Key dan juga Jjong Fairy agar para Fairy bisa segera bertugas.” Dengan wibawanya, The Lord menugaskan Taeng Angel dan Thunder Angel.

     “Baik, The Lord.” Jawab Taeng dan Thunder Angel bersamaan.

** Clouds El Moon **

Sementara itu, di the Earth, sepasang suami-istri sedang berbahagia dengan kelahiran anak mereka. Dengan wajah berseri, si Ibu yang masih terduduk di ranjangnya menimang bayi mungil yang baru dilahirkannya.

 Dengan semburat bahagia, sang ibu memanggil suaminya. “Yeobo, bukankah dia tampan sekali seperti malaikat?”

  “Ya, kau benar, jagiya. Tapi, bukankah dia memang malaikat yang diutus untuk mengisi kekosongan kita setelah lama kehilangan hyeong-nya?” Kata sang suami yang disambut anggukan oleh si istri.

   “Lalu malaikat kecil kita ini akan diberi nama siapa?”

   “Sejak kemarin aku sudah memikirkan untuk memberi nama harabeoji untuk bayi laki-laki kita.” Kata si suami sembari mencoba menggendong bayi di usianya yang tidak muda lagi untuk menggendong bayi.

    “Memang siapa nama beliau?” Tanya sang istri dengan mata yang penuh perhatian menatap anaknya yang terpejam dan sesekali memasukan genggaman tangan kecilnya ke mulut.

   “Choi Min-ho. Bagaimana menurutmu? Bukankah itu nama yang sangat bagus?”

    “Ne, itu nama yang sangat gagah. Aku harap malaikat kecil kita ini kelak akan tumbuh menjadi malaikat besar dan gagah untuk sekitarnya.”

  “Min-ho ah, kau suka namamu tidak, adeul?” tanya sang ayah pada anaknya yang masih kemerahan tersebut.

Walau si kecil tidak banyak respon fisik yang terlihat, tapi jauh di dalam tubuhnya ia menunjukan kesukaannya pada nama itu.

** Clouds El Moon **

Lain halnya dengan pasangan suami-istri sebelumnya, di sebelah mereka adalah pasangan suami-istri lain yang kelihatannya agak bersitegang.

   “Yeobo. Lihatlah anak perempuan kita sangat cantik?” Tanya sang istri pada suaminya yang berdiri agak jauh dari ranjang istrinya.

      “Hhh.. aku pikir anak laki-laki.” Kata sang suami kesal dan buang muka ke jendela di dekatnya.

      “Yeobo, tidakkah kecantikannya bak malaikat ini meluluhkanmu?” si istri mulai terisak menatap bayi perempuannya yang tidur tenang dengan dekapan hangat ibunya.

Dengan sangat perlahan, sang istri mencoba bangkit dengan tetap menahan gendongannya.

   “Kau mau apa?” Dengan sigap sang suami menahan istrinya yang mencoba berdiri dari ranjang.

      “Aku hanya ingin berjalan ke arahmu tadi, tapi sepertinya aku tidak kuat.”

        “Sini. Biar aku gendong dia, dan kamu berbaring di ranjangmu.” Dengan otodidak, sang suami mengambil bayinya dan membiarkan istrinya untuk kembali berbaring.

    Sambil menatap suaminya yang ragu dengan bayi yang baru saja dilahirkan, si istri mengambil napas untuk membuka suara, “aku juga tadinya kecewa karena tidak bisa memberikan anak laki-laki untukmu, tapi ini kan diluar kendali kita sebagai manusia.

      “Sekarang aku justru mau berterima kasih pada bayi kita ini karena telah lahir dari rahim yang seharusnya sudah tidak kuat lagi untuk mengandung.” Lanjut si istri seraya membelai pipi halus bayi yang tengah digendong suaminya. “Aku pikir kita tidak akan lagi mendengarkan rengekan anak-anak sejak hari itu, hingga akhirnya dokter bilang bahwa secara ajaib aku hamil dan bisa bertahan sampai selama ini hingga aku melahirkan, bukankah itu berkah yang luar biasa?” Tangis si istri sudah tidak dapat dibendung lagi.

Dengan tangan kanan yang bebas, sang suami membelai rambut istrinya yang setengah terduduk sambil membujuk agar istrinya tidak menangis. “Uljimma. Baiklah seperti katamu aku akan menerima kehadirannya di rumah dengan tangan terbuka.”

       “Gomabda, yeobo. Sekarang, apa kau ingin memberikannya nama?”

       “Kau saja.”

      “Baiklah. Kalau begitu nama bayi kecil kita Kim Hee-rin. Hai Hee-rin ah.” Sapa sang istri pada anaknya.

        “Apa artinya?”

      “Dengan lafal bahasa Inggris dibaca ‘Here in’, bukan? Maksudnya, biarlah dia bertumbuh menjadi malaikat yang mengisi disini..” Sang istri memegang nama anaknya. “Dan disini.” Lanjutnya sambil menyentuh dadanya dan suaminya.

Dada, dimana perasaan manusia diletakkan oleh yang kuasa. Manusia menyebutnya hati, tapi bukan hati yang secara harfiah adalah alat pencernaan manusia, melainkan temapat dimana kita merasakan sehat atau sakit non fisik yang menyerang apa yang kita –manusia penghuni bumi- sebut perasaan berada.

Melihat dua kejadian manis yang terjadi di the Earth tersebut, para Fairy yang akan disibukkan dengan mengurusi perlengkapan si bayi tersebut tiuh bertepuk tangan. Bukan hanya the Earth, The Heaven juga selalu bahagia ketika menyambut baik kejadian-kejadian manis yang terjadi walau dikenyataannya mereka tidak tahu bagaimana perasaan manis tersebut menurut deskripsi manusia.

** Clouds El Moon **

Sejak peristiwa kelahiran yang terjadi tepat di awal musim panas bagi Korea tersebut, malaikat dari keluarga Kim tumbuh menjadi seorang Hee-rin yang cantik dan bertalenta. Setiap tumbuh kembangnya menjadi detik-detik membahagiakan bagi kehidupan orang tuanya dan menjadi suatu hal yang tak boleh terlewatkan.

Seperti saat Hee-rin kecil pulang sekolah dengan badan yang basah kuyup karena ditempa air langit. Ibunya yang saat itu memang sedang berada di rumah sangat terkejut ketika melihat jejak sepatu yang basah di lantai rumah.

     ‘Jang ssi, kenapa Hee-rin bisa basah kuyup begini?’ tanya sang Ibu kepada pengasuh anaknya.

        ‘I-itu, nyonya besar.’ sang pengasuh terbata.

       Anaknya itupun menarik ujung baju Ibunya, ‘eomma, jangan marahi Jang ahjumma. Aku saja yang terlalu bersemangat untuk memperlihatkan ini.’ Kata Hee-rin kecil dengan ceria sambil memperlihatkan sebuah tropi bercetakan 1st Winner.

  ‘Ige mweoyeyo?’ Tanya Ibunya setelah berlutut menyejajarkan pandangannya dengan anaknya.

    ‘Hari ini aku ikutlomba menari dan saking senangnya, aku berlari ke rumah begitu mobil berhenti tanpa menggunakan payung.’ Jelas anaknya. ‘Aku mau memberikan ini untuk, eomma.’

Mendengar ucapan polos anaknya, nyonya Kim terharu dan memeluk Hee-rin.

      ‘Ya sudah, kalau begitu kamu mandi dulu sama Jang ahjumma, biar ini eomma yang simpan.’ Perintah nyonya Kim dengan air muka yang tenang ketika itu.

Namun, berbeda dulu dengan sekarang, perhatian orang tuanya kepada Hee-rin tidak lagi terasa hangat seiring bertambahnya umur Hee-rin. Kini, begitu terasa heningnya rumah mewah yang ditempati Hee-rin bersama dengan Ibu Jang yang sejak dulu mengasuhnya dan juga suaminya yang merupakan supir pribadi untuk Hee-rin. Orang tuanya? Mendadak mereka menjadi sangat sibuk, dan hal ini sering disalahartikan oleh Hee-rin.

Tokk.. Tokk. Tokk..

   “Agassi, ireona. Hee-rin agassi, anda bisa terlambat di hari pertama sekolah.” Suara ketukan yang beradu dengan suara panggilan dari Jang.

Hari ini entah mengapa Hee-rin merasa enggan meninggalkan tempat tidurnya.

Tiba-tiba angin kencang berhembus masuk ke dalam kamar Hee-rin hingga membuat bed cover yang menghangatkan dirinya jatuh ke lantai.

   “Eh, kok selimutku turun sih?” kata Hee-rin sambil menarik kembali selimutnya melekat.

Wusshh..

Lagi-lagi angin kencang menyusup masuk melalui jendela yang terbuka sangat lebar. Kali ini angin tersebut membuat buku notes bersampul kulit warna biru muda yang berada di meja belajar di samping tempat tidur milik Hee-rin terbuka lembaran demi lembarannya. Kemudian, berhenti pada satu lembar yang tertulis dengan menggunakan tinta spidol merah bertuliskan: No Late in 1st day!!

      Dengan mata yang masih terkatup-katup, Hee-rin melihat tulisan yang terekam dengan font yang besar. “Hhhh..” Hee-rin bernapas gusar dan berjalan ke arah pintu kamarnya, lalu membukanya. “Iya Jang ahjumma, aku akan siap dalam waktu 15 menit.”

Setelah mencuci muka, menggosok gigi, dan juga mengganti baju tidurnya dengan seragam sekolahnya yang baru, Hee-rin duduk di depan meja riasnya. Ia memandang dirinya yang tanpa terasa telah berumur 17 tahun. Baginya mungkin umur itu adalah pertanda bahwa wajahnya akan menua dan sifatnya menjadi dewasa, tapi tidak bagi dimensi lain yang belum Hee-rin ketahui yaitu masa yang paling mereka tunggu.

Akhirnya, ia turun menuju ruang makan. Jemari-jemari kecilnya menarik kursi yang tersusun rapi di sekitar meja makan yang cukup menampung 10 orang untuk duduk makan bersama. Tapi, siapa kira kalau dia akan menghabiskan masa-masa remajanya tanpa orang tua yang senantiasa menanyakan keadaannya setiap kali pulang sekolah?

    “Silahkan, Hee-rin agassi!” Ibu Jang mempersilahkan dan disambut dengan senyum.

      “Oh ya, bisakah ahjumma duduk di sini bersamaku?” Hee-rin menepuk kursi di sebelahnya. “Ada yang ingin aku bicarakan.”

      “Anio. Mana boleh seperti ini, agassi. Saya dilarang untuk..” Kalimat ibu Jang terpotong.

      “Gwaenchana. Apa ahjumma yang telah lama bersamaku tidak bisa duduk bersebelahan walau hanya sebatas makan?” sambil berkata demikian, Hee-rin mengisyaratkan pelayannya yang lain untuk pergi.

     “Ba-baik, agassi,” dengan gugup dan perasaan canggung, ibu Jang duduk. “A-agassi, tadi apa yang anda ingin bicarakan?”

Hee-rin mengambil selembar roti untuk dirinya dan selembar lagi di letakan untuk ibu Jang.

A-agassi.”

Menutup telinga, itulah yang mencoba Hee-rin lakukan ketika ia mengolesi selai coklat pada rotinya dan roti yang ia berikan pada ibu Jang tadi.

   “Kamsahamnida, agassi,” ucap ibu Jang tulus karena perlakuan majikannya. “Tidak nona, terima kasih,” tolak ibu Jang saat Hee-rin menawarkan keju yang ia parut di sebuah piring kecil.

     “Aku mau tanya, ahjumma,” ucap Hee-rin disela-sela kunyahan rotinya. Kepalanya menoleh ke arah ibu Jang yang juga ikut mengunyah roti yang disiapkan nona kecilnya dengan agak takut. “Apa ahjumma seumuran dengan eomma?

Ibu Jang menelan terlebih dahulu rotinya yang telah lumat, kemudian berkata, “iya, nona. Ada apa?”

   “Perrfect!!” seru Hee-rin dengan mulut yang masih penuh dengan potongan roti. “Aku panggil ‘eommonim’ saja, ya? Soalnya akhir-akhir ini aku merindukan eomma.”

Tepat sasaran, tanpa lika-liku, apalagi basa-basi adalah sifat alamiah Hee-rin.

      “Ta-tapi..” belum selesai kalimat itu terucap, Hee-rin memotongnya.

     “Tidak pakai ‘tapi’. Sekarang, eommonim ikut mengantarku ke sekolah ya? Ini kan hari pertamaku. Setidaknya, jadilah waliku.”

    Ditariknya paksa ibu Jang yang bahkan masih belum bisa menyambungkan seluruh kata-kata Hee-rin yang cepat dan bersemangat.

Di dalam mobil, ketika perjalanan menuju sekolah baru telah berlangsung sejak beberapa detik yang lalu, Hee-rin meminta ibu Jang mengusap kepalanya seperti yang biasa dilakukan Mrs. Lee.

Hee-rin menatap kosong dengan kesadaran yang penuh.

      “Katanya aku ini adalah malaikat mereka, tapi kenapa sekarang mereka malah sibuk sendiri?”

    “Nuguyeyo, agassi?” masih tetap membelai, ibu Jang melakukannya dengan sangat lembut.

     “Eommaneun, appaneun,” kemudian Hee-rin menghela napas pendek, kemudian berkata lagi, “apa mereka tidak tahu kalau aku kesepian?”

       “Nona, sekarang anda kan sudah dewasa. Sudah menginnjak kelas 2 High School, jadi seharusnya nona mengerti. Bukankah nyonya dan tuan Lee itu bekerja keras agar anda bisa tetap hidup serba ada sampai saat ini?” nasehat ibu Jang dengan sangat bijaksana.

       “Ohh..  Jeoneun adeul aniyeyo saenggangkhae isseuka (Aku pikir karena aku bukan anak laki-laki),” ibu Jang tertegun sesaat mendengarnya, kemudian menenangkan perasaan Hee-rin dengan mengelus rambut nonanya itu dengan penuh kelembutan.

        Tak lama dari itu, mobil yang mereka tumpangi berhenti.

       “Nona, sudah sampai.”

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

***Hee-rin POV***

Aku berjalan ringan dari depan pintu gerbang sekolah, menuju ke dalam sekolah. Dengan senyum tipis yang telah aku persiapkan sejak beberapa hari yang lalu, agar aku tidak terlihat angkuh di hari pertama menjadi murid baru di sekolah ini, dan juga tidak terlihat terlalu murah agar tidak banyak yang menggodaku nantinya.

Tanpa memerhatikan sekelilingku, tiba-tiba

Bukk..

       “Ouchh..” Aduh, tulang ekorku sakit!!

“Oops.. O ouw..” Aku menjengkangkan leherku untuk melihat kepada si pemilik suara berat tersebut.

Dia diam. Hanya memperhatikan aku yang masih terduduk di tanah.

Apa dia serius tidak menolongku??

Gwaenchana?” muncul suara laki-laki lain.

Aku menoleh ke arah berlainan dari posisi leherku sekarang.

Tangannya terulur kepadaku, “ayo, berdiri!” katanya dengan tulus.

     “Ne?” aku gelagapan menanggapi keramahannya. Sepertinya hal ini adalah yang pertama bagiku.

         Dia, laki-laki yang tiada kutahu namanya tetap mengulurkan tangannya.

Aku meraih uluran kebaikan itu dan berdiri tegap. Kemudian, aku membersihkan debu-debu tanah yang menempel di rok. Tunggu, kemana laki-laki satunya yang tadi menabrakku? Benar-benar tidak sopan. Membiarkan orang lain melakukan sesuatu yang seharusnya dia lakukan.

       Aku tersenyum ramah begitu menyadari laki-laki baik di sebelahku masih menatapku intens.

       Dia mengajakku berjalan bersama, “sepertinya kau bukan warga sekitar sini,” katanya sambil terus mengamat-amati wajahku.

       “Ne? A~ memang bukan. Nae ireumeun Hee-rin iyeyo. Aku memang baru pindah ke Seoul,” aku berjalan sambil menunduk, seperti orang yang mencari koin di tanah. “Ah iya, apa wajahku terlihat sangat asing? Atau terlihat seperti gadis desa?” tanyaku penasaran.

      “Bukan. Bukan itu. Hanya saja, aku bahkan tidak melihat riasan sama sekali di wajah putih meronamu. Ini bukan kebiasaan anak-anak di kota ini, kurasa,” jelasnya.

       Kata-katanya tadi sukses membuat aku panas, sipu, atau apa ada hal lain yang bisa mewakilkannya?

         Kami berhenti tepat di depan ruang kepala sekolah.

        “Oh ya, kurasa kau pasti harus bertemu kepala sekolah dulu, kan?” aku mengangguk menyetujui. “Kalau begitu, aku tinggal, ya? Bye.”

** Clouds El Moon **

       Aku melangkah menuju kelas yang diberitahukan oleh kepala sekolah saat aku menghadap tadi.

Krekk

       Pintunya berdecit ketika aku membukanya. Segera saja semua pasang mata menatapku dan juga seseorang yang sepertinya ada di belakangku entah sejak kapan. Aku menolehkan kepalaku, ah ternyata dia si namja baik hati itu.

     “Ah kau lagi, kenapa kau bisa masuk ke kelas ini sih? Seonsaengnim  bosan melihatmu,” keluh seorang yang yang mengakui dirinya seorang seonsaengnim.

       “Aish.. Shin seonsaengnim saja yang iseng. Kemarin kan anda mengajar middle school, kenapa sekarang jadi di high school? Jadi, ini jelas bukan salahku, kan?” Aku menggelengkan kepalaku mendengar ketusan namja baik hati yang berdiri di sebelahku.

     Seonsaengnim berjalan ke arahku, dengan takut-takut aku bertahan di tempatku berdiri, “kalau murid baru ini, apakah anda bisa memperkenalkan diri anda?”

       Aku mengangguk mantap dan memutar arah pandangku kepada teman-temanku, “Umm.. Nae ireumeun Hee-rin iyeyo. Kim Hee-rin.”

      “Ki-Kim Hee-rin, putri tunggal dari pasangan pengusaha ekspor-impor dan pengacara internasional dari Daegu itu, bukan?” Seonsaengnim memastikan.

       Aku mengangguk untuk mengiyakan.

      “Suatu kehormatan bagi sekolah kami ini, Kim agassi,” kata seonsaengnim lagi.

     “Ani. Anio. Panggil aku selayaknya murid biasa saja. Aku bosan sekali dipanggil begitu di Daegu, makanya aku pindah ke Seoul,” jelasku.

     Aku harap mereka bisa mengerti. Aku bosan, ya sudah sangat bosan dengan kehidupan di dalam sangkar emasku itu. Aku ingin suasana yang baru.

      “Baiklah, kalau begitu Hee-rin ah bisa duduk di samping Min-ho ya.”

Aku melihat namja baik hati tersebut melambai ke arahku. A~ rupanya dia bernama Min-ho.

Aku duduk di bangku yang berada di sebelah Min-ho.

       “Annyeong,” dia mengulurkan tangannya. “Aku lah yang bernama Minho,” kata namja itu lagi melanjutkan perkenalannya, dan akupun menyambut tangan itu lagi.

       Aku mengambil duduk di sampingnya. Setelah mengedarkan senyum santaiku, dan berjabat tangan dengan beberapa murid lain yang duduk di dekatku, aku melemparkan pandanganku ke namja yang duduk sebaris denganku di dekat jendela.

          ‘kalau sedang diam, dia manis juga,’ batinku.

Eh? Apa sih yang kau pikirkan. Ah, ada-ada saja.

** Clouds El Moon **

Saat ini aku sedang menjelajahi pusat pertokoan untuk membeli barang-barang baru untuk kamarku. Aku memasuki setiap toko yang memajang barang-barang yang menurutku lucu, mulai dari mebel sampai pernak-pernik kecil.

     “Tolong barang-barang ini diantar sekalian dengan meja rias itu, ya? Ini alamatnya,” pintaku pada karyawan toko mebel tersebut sambil menyerahkan selembar kartu nama.

     Akupun memberikan semua belanjaan yang menggantung di pergelangan tanganku kepadanya untuk diantar ke rumah.

       Setelah yakin bahwa barang-barang diangkut untuk diantar ke rumah, akupun keluar dari toko. Diseberang toko aku melihat Shin seonsaengnim dengan pemandangan yang tidak biasa. Ia berjalan dengan seorang wanita, mungkin istrinya, entahlah, tapi yang membuatku bingung adalah bayangan mirip api berwarna agak kelabu yang mengelilingi tubuhnya.

    ‘Apa jangan-jangan di sini cuma aku yang bisa melihatnya, ya?’ rutuk batinku.

      Kulihat perlahan wajah seonsaengnim memucat. Geez!! Dia tiba-tiba sakit atau kenapa sih? Kalau dipikir-pikir sih, aku yakin warna api-api itu pertanda tidak baik, tapi apa? Aku tidak mengerti hal-hal semacam ini.

  Melihat Shin seonsaengnim berjalan biasa saja dengan wanita di sampingnya, akupun melanjutkan perjalananku menuju ke halte, tempat aku meminta supirku menjemputku. Tapi, aku kembali teringat dengan Shin seonsaengnim, aku takut ada hal-hal aneh yang terjadi. Apa aku susul saja ya?

      “Hey, kita bertemu lagi, rupanya,” sosok tangan kekar menarikku, ketika aku hendak menyebrang.

      Aku menoleh takut-takut ke belakang, “Minho ya?!” seruku tidak percaya.

      “Apa yang kau lihat? Heum?” tanyanya sambil celingak-celinguk?

     “Ah?? Itu. Ituu.. Tidak ada!” seruku agak bingung diawalnya. “Sedang apa di sini?” aku mengajukan pertanyaan pengalih.

       “Main,” jawabnya singkat, “kau sendiri?” tanyanya lanjut.

       “Umm.. hanya membeli kebutuhan kamar baru.”

       Agak sepi sebentar, lalu aku berkata lagi, “Minho ya, aku pergi ke halte dulu, ya? Bye!” kataku sambil setengah berlari.

      Aku meninggalkannya masih terbengong, kemudian aku melihat lambaian tangannya.

     Sesampainya di rumah, aku kembali terpikir dengan Shin seonsaengnim. Wajah pucatnya tadi menakutkan sekali. Rupanya seperti manusia yang terjangkit virus berbahaya. Akupun berusaha untuk menhapus bayangannya, tapi sosok itu selalu kembali menghantam otakku. Ah, mungkin dengan mandi akan sedikit membantuku melupakannya.

Tokk.. Tokk tokk..

      “Nona Kim! Tolong, buka pintunya!”  suara Jang eommonim terdengar dari luar kamar. Ada apa ya?

        Akupun membuka pintu kamarku, “ada apa eommonim?”

      “Ini kiriman mebel yang nona pesan. Meja riasnya mau segera diganti, nona?” tanya Jang eommonim.

        Aku melihat para pelayan rumah sudah bersiap mengangkat meja rias baruku.

     “Oh ya sudah. Letakkan tepat di posisi meja rias lamaku. Lalu, Jang eommonim boleh mengambil meja rias lamaku itu, jika eommonim mau. Kalau belanjaan yang lainnya, letakkan saja di atas tempat tidur,” instruksiku sebelum aku masuk ke kamar mandi. “Oh ya, Jang eommonim, jangan lupa untuk mengeluarkan isi meja riasku dulu, ya?” tambahku.

     Tak berapa lama setelah mandi, masih dengan baju handuk yang kukenakan, aku duduk di depan meja rias baruku. Saat aku memandang wajahku, wajah Shin seonsaengnim kembali muncul, kali ini bukan hanya ada di dalam pikiranku, tapi wajahnya seperti masuk ke dalam cermin. Padahal saat aku mandi tadi, aku hampir melupakannya.

     “Entah kenapa lututku terasa lemas dan perutku kram kalau ingat sosoknya. Aku merasa ada yang kurang baik,” kataku pada diriku sendiri.

    Oke, sudahlah. Besok juga pasti lupa kok dan besok pasti Shin seonsaengnim akan baik-baik saja.

** Clouds El Moon ** Clouds El Moon **

Tara~~

Satu part udah kelar. Hum.. gimana? Masih bingung mau jadi apa sih nih FF?

Ahaha..😀 Sabar ya J

Dan maaf kalau lama sekali, aku sibuk dan benar-benar sibuk, daripada aku ga mood buat bkinnya, jadi aku kumpulin mood dulu kadang-kadang ^^

Gimana puasanya? Udah ada yang bolong?

Bagi yang menjalankan, selamat menunaikan ibadah puasanya ya?

Dan bagi yang ga menjalankan, mari kita menghargai temen-temen kita. Psst.. jangan kayak aku waktu SMA, makan es krim di sepanjang jalan dari sekolah mau ke rumah saking ga ingetnya kalau lagi bulan puasa. Harr.. Harr..😄

Oh ya, jangan lupa comment ya? Karena comment like oxygen dan bagaimana kamu berkomunikasi dengan authornya ^^

Pai pai ^^

-bow-

Author: Ji I-el

©2011 SF3SI, Ji I-El.

Officially written by Iza, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “The Heaven Worker – Part 1

  1. itu.. itu.. bayangan mirip api berwarna agak kelabu itu callen angle kan?

    dan juga Hee Rin itu bakal jadi the helper kah? soalnya diakan bisa liat yg gituan

    oh iya aku masih bingung dia ini angle ato angel (malaikat) maksudnya..

    sekiaan dulu deh komennya.. next part buruuuan..

    1. ANGEL mksdku ahahaha😀
      Itu salah ketik, ahahahah typonya banyak bgt =.=”
      Umm pokoknya liat saja nanti ^^
      Thanks for ur comment ^^

  2. crita.a bkin penasaran . .
    biasa.a minho d gambarkn sbagai org yg cold n cool tpi d ff ini malah dia ramah . . waah thor beneran mw bkn ff yg beda yaah ttg bang minho . .
    bayangan api kelabu it apaan siih thor
    lanjuut thor??

    1. Um bayangan itu hanya imajinasi saja, aslinya ga begitu krn aku ga bs mendiskripsikannya😄
      Umm aku emg slalu merusak karakter asli SHINee ditiap FFku😄
      HAHAHAHA😀
      Well, makasih bnyk ya atas comment nya ^^

  3. Hehehe jujur aku blum trlalu ngerti sma in crita *mklum otak’a lola* tp kyanya si critanya sru!🙂 part slnjutnya ditnggu ya! ^-^v

    1. Umm iya, ditunggu saja ya gmn kelanjutannya. Oh ya jgn lupa baca before story-nya ^^
      Muwehehehe…
      Thanks for ur comment ya? ^^

  4. Wow d(O_O)b
    bagus nih… Fantasy-nya terasa!
    Weelll, minhonya ramah sekali ngehehehe😄 agak beda.
    Trus aku suka kata-katanya, bener-bener kayak penulis sejati yg bkin buku-buku dgn pamor mendunia🙂 good job😀

    soal part 1 ini mgkn aku masih kagumnya sama cara pembawaan cerita ya🙂
    ayo part 2 ditunggu ne🙂 fighting!

    1. Ho-oh aku emg mau buat karakter Minho yg beda”, aku udh brhasil bikin minho j pemarah, jd cuek, skrng ramah😄
      Sangat tdk biasa kan? ^^
      Umm ini blm kerasa sih imajinasinya, tp akan terasa di part” berikutnya ^^
      Thanks buat commentnya🙂

  5. Kim Hee Rin?
    Ya ampun thor itu nama korea aku lohh😀
    eumm aku jg blm trlalu ngerti, tp aku suka ceritanya
    aku penasaran nihh, bayangan mirip api berwarna agak kelabu yg dilihat Hee Rin apa yakk? karakter Minho disini beda bgt dgn yg biasanya. wkt baca ini aku coba bayangin minho dgn karakter yg ramah tp yg ada aku malah kbyang mukanya Onew Hhehhe ^^v
    OnKey deh thor next partnya ditunggu😉

    1. Iyakah?
      Umm tp ada rahasia loh dibalik nama itu nantinya ^^
      Kekeke…
      Dan akan terbongkar di part trakhir sepertinya ^^
      Umm jgn bayangin muka Onew, nantii tokoh”nya ketuker semua dong?^0^
      Mkasih krn sdh comment dan baca ya? ^^

      1. iyaa, nama itu temenku yg kasi tau sih..
        wahh ada rahasianya? Part akhir? yah masih lama dong thor..
        Hhehe abisnya karakternya Minho disini beda bnget sih,😀 tp aku coba bayangin Minho deh
        Ne, sama-sama thor🙂

        1. Iya, hrs bisa bayangin Minho, jgn yang lain” dong ^^
          Kekeke..
          Umm ya tunggu aja deh, ada apa dibalik nama itu nantinya😄
          Kekeke ^^
          Thanks ya msh mmblas komenku ^^

  6. wow!! it’s awesome!! fantasy nya kerasa… pembawaan alurnya jga asik,ga kecepetan tpi jga ga lambat. ak suka dgn karakter minho yg 180° beda ma aslinya. like this.entah knp ngebayangin minho dgn skap ramah kayaknya ga cocok ma mukanya yak?? atw memang krn ak yg terbiasa ngeliat minho yg “charismatic”? ditunggu part slanjutnya..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s