2NE, SCENE 3 SHOT 2: Dia yang Tak Bertanggung Jawab

2NE, SCENE 3 SHOT 2: Dia yang Tak Bertanggung Jawab

Written by Zikey

.:: This events depicted in this story are fictitious. Any similarity to any person, institution, or events is merely coincidental ::.

Main Cast: Kim Jonghyun, Chae Yoo Jin, Song Joong Ki

Guest Star:

– G-Dragon a.k.a Kwon Jiyong

– Lee Taemin

– Lee Jinki a.k.a Onew

– Bang Min Soo

Supporting Cast:

– HaninB as Chae Yoo Bi (Kakak Yujin)

– Chae Inna (Keponakan Yujin)

Ayachan as Lee Yoon-Ai (Rookie Star)

– Alfi as Han Hye Jin (Sekretaris)

Genre: Angst, Mystry, Family, Life

Length: Sequel – Stand Alone

Rating: General viewing, but some language might not suitable for age under 15.

Pesan Zika: SELAMAT HARI LEBARAN!!! ^O^. Mohon maaf setulus-tulusnya ya kalau aku pernah buat salah sama kalian, pembaca atau staff. Selamat menikmati hari suci lebaran, mohon maaf lahir dan batin untuk semuanya ^o^. Ayachan, pinjem namanya yaaa ^^ hehehe. Aku gak tau bias kamu siapa, tapi sih aku berharap kamu oke aja kalau aku pinjem nama kamu buat pair sama Tetem.

It seems that we’re already too late
Has our love already ended
Please at least say anything to me
We truly loved each other, can’t turn back?

[2NE1 – It Hurts]

SMA Seni Anyang, Gyeonggi-do

“Yoon Ai, besok ada acara?”

“Kalaupun ada, kamu harus mengkosongkan jadwal hari itu.”

“Iya, kami mau menghabiskan waktu denganmu. Ya? Kita jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan.”

“Kemana? Tempat para gigolo?” sahut Ai asal, membuat teman-temannya tertawa.

“Ayolah Yoon Ai, semenjak pacaran dengan si kurus-tukang-nari itu kita jadi kehabisan waktu jalan-jalan bersama,” protes temannya.

“Boleh saja, asalkan aku diberi fasilitas lengkap, 100% memuaskan,” tantang Ai.

“Apa sih yang tidak untukmu? Masalah menjemput, urusan Dong Ju. Masalah traktiran, ada Jung Il. Nah, masalah yang memuaskan sih, ada aku,” kata Hwa Ni dengan dada membusung, disambut jitakan sadis ketiga sohibnya dan Ai sendiri.

“Dengar ya pangeran-pangeranku, jam terbangku sudah habis. Aku memutuskan untuk pensiun.”

“Alaaahh, pasti bukan pensiun kan? Hanya terikat janji untuk memberikan segalanya kepada si kurus itu. Curang sekali! Padahal kami duluan yang menemukanmu, tapi sekarang hanya dia yang boleh ‘memakai’-mu.” Lagi-lagi Dong Ju protes.

“Berapa besar sih bayaran dari si kurus?” Jung Il angkat bicara.

“Sembarangan! Aku belum pernah melakukan apa-apa dengannya, tahu? Kalaupun nanti iya, yaaa bayarannya… cinta.” Ketiga laki-laki yang duduk di sekeliling Ai bersusah payah menahan muntahannya agar tidak berceceran, sementara Ai terbahak-bahak.

“Mustahil kalian belum melakukan apa-apa.” Ai lagi-lagi menjitak Hwa Ni.

“Eh pangeran, aku kan sudah bilang mau pensiun. Berkat seseorang, aku memutuskan untuk memberikan sisanya ini kepada suamiku.” Ai tiba-tiba teringat dengan dialognya waktu itu, ketika ia mengobrol berdua dengan Yujin dan merasa tersihir. Berjanji untuk berubah, dan tidak menghabiskan sisa harga dirinya bersama orang lain lagi.

“Siapa orangnya? Laki-laki?”

Ai mendengus, “Memangnya harus selalu laki-laki yang berhubungan denganku?” Dong Ju menganga.

“Jadi, kamu juga melayani perempuan?!” Ai memukul kepala Dong Ju gemas.

Aura ceria yang sedang berterbangan, menari, berkeliling di seluruh penjuru kelas mendadak runtuh ketika suara dehaman seseorang menggetarkan suasana. Sedikit dongkol, tetapi Jung Il dan teman-temannya memilih menyingkir. Biar bagaimanapun, Ai sudah milik orang lain.

“Ada apa sih? Wajahnya serius begitu.” Tanya Ai merasa sedikit aneh.

“Tidak apa-apa, hanya tidak senang gadisku dikerumuni lalat-lalat sampah seperti mereka.” Ai memukul lengan kekasihnya pelan.

“Tidak boleh begitu, mereka orang-orang pertama yang menyapaku sewaktu mendaftar kemari. Anggap saja mereka pahlawanku. Baru selesai latihan, ya?” Ai baru akan menyeka keringat yang mengalir di pelipis kekasihnya, ketika pergelangannya dicengkram dengan kuat. “A-ada apa sih?”

“Besok ikut denganku, aku mau mengajakmu ke tempat yang menarik,” katanya dingin.

“Ingin kencan? Kalau begitu santai saja, kenapa serius seperti itu sih?” sahut Ai berusaha tertawa, renyah.

 

Apartement Yoo Bi, Suwon-Si

Yujin merintih tertahan, antara menahan rasa nyeri dari air dingin yang merendam tangan kanannya dan rasa nyeri karena memukul tembok semalam. Ia lupa kalau ia sedang proses pembelajaran mengatur emosi secara cerdas, jadi untuk menurunkan emosinya, Yujin memilih untuk melampiaskan pada tembok.

Sebelumnya Yoo Bi sudah meneguk ludah tegang, mengingat Yujin sangat tempramen dan mudah stress emosional. Terakhir kali, Yujin mencapai puncak stress emosional hingga pingsan ketika ia memaksa diri untuk ingat kejadian selama dua tahun yang ia lupakan. Semuanya langsung khawatir namun mengerti, kalau Yujin buruk dalam mengontrol emosinya dan ia selalu memaksa diri dan keadaan untuk berjalan sesuai rencananya.

“Sini aku beri obat, supaya bengkaknya tidak terlalu parah.” Melihat Yoo Bi masuk ke kamarnya Yujin malah kesal. “Mau diobati tidak?!” omel Yoo Bi saat Yujin menarik tangannya menjauh. “Soal yang semalam aku minta maaf,” ujarnya sambil mengolesi obat di bagian tulang metacarpal yang membentur tembok dan membuat Yujin meringis nyeri.

“Aku dan Jiyong itu—“

“Sudahlah, jangan dibahas. Aku malas mendengarnya, aku pulang ya!” tidak peduli tangannya baru setengah terolesi obat, Yujin langsung menyampirkan tasnya di pundak kemudian keluar dari hanok-nya bahkan tanpa pamit pada sang ibu yang sedang memasak untuknya dengan riang.

Rumah Yujin, Buam-dong

“Aku pulang.” Joong Ki mengerjap kaget, matanya benar-benar berat. “Eh, oppa tidur di sofa?” Joong Ki masih belum cukup sadar untuk menjawab, sedang bersusah payah bangun dari tidurnya dan meregangkan ototnya.

“Jam 7 pagi,” suara paraunya terdengar sebelum menguap, “Dan kamu baru tiba di rumah.” Yujin hanya bisa cengengesan.

“Aku tertidur, dan lupa mengabari oppa. Apa oppa menungguku semalaman?”

“Tidak,” Yujin tentu saja langsung cemberut, ia pikir Joong Ki mengkhawatirkannya. “tapi aku tidak bisa tidur karenamu. Aku terbangun jam 3 dan mulai panik, kemudian aku tersiksa karena tidak bisa tidur,” katanya sedikit kesal, membuat Yujin kembali cengengesan.

“Maaf, aku pasti menyusahkanmu. Kenapa tidak menghubungiku saja?”

Like a thousand times!” Yujin buru-buru merogoh tasnya dan menyalakan ponselnya, dalam waktu lima detik daftar panggilan tak terjawab muncul dan membanjiri layar ponselnya.

“Ehehehe, maaf, tidak ada suaranya.”

Joong Ki mencibir, “Buang saja ponselmu!”

Yujin langsung merajuk. “Ah, oppa, jangan marah! Hanya akan terjadi sekali, janji.”

“Terserah. Sudah sana mandi, cepat pergi kerja. Eh iya, aku kan mau jadi orang-orang sepertimu, apa namanya? Broadcaster ya? Nah, tapi aku dapat tawaran main iklan. Menurutmu bagaimana? Aku jadikan batu loncatan saja ya,” katanya cuek.

“Benarkah?” pekik Yujin riang. “Tunggu…. OPPA!!! IYA… OPPAAAA!!! AAAAAAAAAA!!!!” Joong Ki tersentak kaget kemudian melongo kebingungan ketika Yujin berjingkrak-jingkrak dengan girang. Menggoyang-goyangkan lengannya dan berlompatan tidak karuan.

“Oh tuhan… sungguh, terima kasih banyak telah menurunkan malaikatmu padaku.” Joong Ki memicingkan mata. Yujin sekarang bisa bernafas lega, tidak menyangka ia bisa sebodoh ini melupakan siapa yang tinggal bersamanya. Song Joong Ki, ia kan sedang menjalani program master di broadcasting!

Oppa…,” katanya serius, setelah berseluncur dengan lututnya hingga kini duduk berlutut di hadapan Joong Ki. “Oppa, aku tahu oppa adalah pangeran tertampan di negeri ini, aku juga rela jadi alasan ketika oppa ingin putus dengan para putri itu, dan—“

Get straight, pleaseee…”

“Tunggu oppa, nanti gak seru. Oppa mencintaiku kan?” Joong Ki menggeleng. “OPPA!” dengan gemas Yujin memukul Joong Ki yang tengah terbahak. “Jadilah kruku, tim intiku, orang di balik suksesnya film-filmku. Mau kan?” akhirnyaaaa….

“Tapi aku belum berpengalaman, lulus saja belum.” Tolak Joong Ki.

“Aku akan mengajarimu oppa, dan lagian aku sudah sering bercerita soal ini-itu denganmu, aku juga sering meminta pendapat darimu, oppa. Kita sering sejalan dan satu pikiran, apa salahnya jika oppa menjadi kru ku secara legal?” Yujin memelas.

“Memangnya untuk apa sih mencari kru begini? Biasanya kamu santai saja tidak punya kru tetap.”

“Aku akan ikut Su FFP, event film terbesar seantero Korea. Aku baru mencari tahu informasinya dan sungguh luar biasa! Gengsinya, hadiahnya, kontraknya, ya ampuuunn! Aku pokoknya harus ikut! Pendaftaran sebentar lagi dimulai… dan pagi ini aku baru dapat satu kru… menyedihkan.”

“Kalau aku mengajak kruku juga bagaimana?”

Yujin langsung berbinar-binar. “Benarkah?”

Joong Ki mengangguk yakin. “Sejak tugas pertama, kami sudah diminta memilih teman yang akan menjadi kru selama menuntut ilmu ini, dan untungnya mereka cocok denganku. Hasil-hasil kerja tim kami juga selalu dapat nilai bagus dan selesai tepat waktu. Salah satu dari temanku bahkan kakak-nya pekerja cabutan di stasiun TV, sempat ikut sebuah proyek film besar.” Mata Yujin semakin berbinar.

CALL!” Yujin langsung mengecup pipi Joong Ki dan memeluk laki-laki dengan senyum luar biasa mempesona itu seerat mungkin.

Mendadak, Yujin merasa bersemangat untuk berkerja hari ini, dan tidak bisa menunggu lebih lama. Ia ingin Joong Ki cepat-cepat menjadi rekan kerjanya dan ingin ceppat-cepat mendaftar untuk Su FFP supaya bisa pamer. Pasti akan menyenangkan.

 “Tunggu! Apa ini?” Yujin langsung meneguk ludah ketika Joong Ki menangkap pergelangan tangan kanan-nya. “Cepat mandi, nanti aku beri obat.” Yujin langsung menghela nafas lega, Joong Ki selalu tahu apa yang Yujin pikirkan.

Lantai 2, Junko Pizza, Hongji-do.

“Makanlah, manager-mu bilang dua hari ini kamu tidak makan apa-apa, padahal jadwal kerjamu sedang penuh.” Jonghyun terlihat semakin tidak bergairah, caranya bersandar pada kursi amat menyedihkan. “Tidak ada gunanya terus memikirkan gadis itu, ia sudah di luar jangkauanmu. Masih banyak ikan di laut, apa salahnya—“

“Tidak ada ikan yang seperti itu, hyeong. Semua orang tahu, di laut sana, masih ada seribu ikan yang berenang. Tapi, apa ikan yang dulu aku miliki ada lebih dari dua?”

“Mungkin tidak persis, tapi setidaknya sejenis.”

Hyeong tahu, satu hal yang tidak pernah bisa ditaklukan oleh laki-laki?” Jonghyun mengangkat wajahnya, “Kesepian. Aku kesepian hyeong, rasanya lebih buruk dari mati.”

“Jangan sembarangan, kamu bahkan belum pernah sekarat. Aku tidak pernah bisa mengerti jalan pikiranmu, Kim Jonghyun. Berkali-kali, Joon menawarkan untuk menyelidiki siapa yang menyebabkan kematian gadismu, tapi hingga saat ini tidak pernah kamu berniat mencari tahu.”

“Karena tidak ada gunanya, hyeong! Balas dendam, atau melihatnya dihukum mati juga tidak akan mengembalikan Yunaku,” kata Jonghyun dramatis.

“Astaga, semakin kacau saja pikiranmu. Jika itu saja kamu pikir tidak berguna, lalu kenapa hingga saat ini masih menangisi kepergian Yuna? Itu lebih tidak berguna dan tidak masuk di akal, tahu?”

“Karena aku gagal menjaganya, hyeong. Kalau ini, sudah mengenai hati, tidak ada yang tidak berguna jika bicara hati.”

Jika tidak ingat setelah ini ia akan menemui klien, mungkin jaksa di hadapan Jonghyun ini akan mengacak-acak rambutnya sendiri. Lee Jinki, dengan nama samaran Onew—tidak tahu nama itu muncul dari mana. Jaksa senior, statusnya lebih tinggi dari Joon teman Jonghyun. Onew ini teman sekolah Jung Hyun, namun lebih dulu mengenal Jonghyun dari pada Jung Hyun mengenal adik iparnya.

“Terserahlah,” sahut Onew diplomatis. Ia kemudian menarik satu potong pizza, kemudian menggigit kecil bagian ujung. “Aku dengar juga kamu semakin keras dengan orang-orang yang memasang earbud sambil beraktifitas.”

“Itu kondisi terakhir Yuna, aku tidak mau orang-orang mengalami hal yang sama. Tapi kenapa susah sekali sih mereka itu berubah? Ya ampun!” Jonghyun meneguk air mineralnya.

Hyeong, bantu aku membuka kasus yang aku ajukan waktu itu.”

“Kim Jonghyun, aku kan sudah bilang… kasusnya sudah kadaluarsa, dan data-datanya tidak bisa diakses sembarangan. Kasus itu, ada orang dalam yang menjaganya rapat-rapat sehingga semua data musnah begitu saja, aku mana bisa meminta hakim untuk membuka kasus kadaluarsa yang bukti atau saksinya saja tidak ada.”

“Setidaknya, selidiki dulu. Melihat temanku tersiksa bertahun-tahun begitu, aku semakin tidak tega. Ayolah hyeong… bantu kami cari bukti dan data-datanya.”

“Akan makan banyak waktu, jika tidak resmi, aku pasti tetap mendapat tugas. Lalu kapan aku menyelidiki kasusmu?”

“Kapanpun hyeong sempat!”

“Ck… memangnya siapa temanmu itu?”

“Chae Yoo Jin, generasi ke 20 keluarga Chae. Sebenarnya ia keluarga Han, tapi berubah marga setelah diadopsi keluarga Chae.”

“Chae? Generasi ke 20? Chae pemilik konstruksi besar di Korea?!”

“Hah?”

Lantai 1, Junko Pizza, Hongji-do.

“Hidangannya masih panas ya, jadi saya letakkan di sini. Jika ada sesuatu bisa langsung panggil saya, selamat menikmati.”

Gadis menarik berwajah familiar di mata orang-orang yang terlihat kacau ini hanya mengangguk dengan tatapan kosong pada papan nomor meja, menarik rasa simpati pelayan yang barusan mengantarkan makanan. Tanpa kacamata yang melekat, gadis ini persis seperti seorang aktris muda pendatang baru yang sedang naik daun itu. Ah, tapi si pelayan tidak ingin memperhatikannya lebih lama, supervisor-nya sudah memberi isyarat agar ia kembali pada pekerjaannya.

Pelanggan lain masuk ke dalam restoran pizza terkenal ini, sepasang kekasih sepertinya? Oh bukan, itu si sutradara baru yang menggarap serial TV perdananya dengan sempurna, berjalan berdampingan dengan seorang laki-laki.

“Yoon Ai!” tentu Yujin langsung mengenali aktrisnya. Semenjak kasus perang dunia ketiga tak bersejarah yang terjadi di gedung 2NE antara Yoon Ai dan Yujin, membuat keduanya malah semakin dekat. Belakangan ini Yujin terlalu sibuk untuk kembali mengirimi kabar pada Ai, begitu juga dengan Ai sendiri.

Namanya Yoon Ai Lee, remaja berumur 18 tahun yang baru saja mutasi ke sebuah sekolah seni terbaik daerah Anyang, dan menjadi pemeran pendukung dalam serial TV perdana Yujin. Belakangan ini sering muncul sebagai bintang iklan atau model brand baju-baju remaja. Ia terkenal karena ramah, ceria, dan supel, semua orang menyukainya. Kecuali mereka yang sirik dan tidak suka melihat ada yang lebih baik dari mereka.

“Kamu kenapa?” tanya Yujin khawatir ketika ia dan Joong Ki sudah duduk dengan nyaman di hadapan Ai. “Serius deh, jangan buat aku semakin khawatir begini. Belakangan tidak menghubungimu, tiba-tiba melihatmu begini kan aku jadi seram. Apa sedang butuh waktu menyendiri? Jika iya baiklah, aku dan temanku duduk di sana. Datanglah jika butuh sesuatu, kita bisa mengobrol selama apapun.” Joong Ki baru akan membantu Yujin berdiri ketika tangan Ai langsung menangkap lengan Yujin.

“Temani aku,” katanya lirih, membuat Joong Ki mengangguk pada Yujin kemudian mereka duduk saling diam. Joong Ki ingin jadi tak terlihat agar kedua gadis ini bisa mengobrol dengan leluasa, namun Yujin tidak mengizinkan. Ai ingin berfikir dulu, perlukah ia memberitahu Yujin tentang ini, namun otaknya tak juga memberi jawaban. Yujin ingin terus mendesak Ai agar lekas memberitahunya tentang apa yang terjadi dan membuat Yujin mengurangi rasa penasaran dan khawatirnya, namun ia tahu Ai butuh waktu. Sehingga mereka tetap saling diam untuk beberapa menit, hingga pizza yang tadi masih mengepul itu kini nyaris kaku.

“Positif…,”

“Apa?”

“Hamil….” Suaranya berbisik, nyaris tak terdengar bahkan oleh orang yang duduk di sebelah Ai sekalipun, mungkin hanya semut yang hinggap di sekitar wajahnya yang dapat mendengar. Namun, bagi Yujin gadis ini mengatakannya dengan amat jelas dan seolah keras-keras, seperti meledak. Hati Yujin langsung berdesir, bukan simpati, prihatin, khawatir atau apa, ia marah dan benci. Pada kenyataan itu dan pada saat-saat seperti ini, seolah tuhan belum puas membuatnya mendengar kabar Yoo Bi hamil, kini tuhan mengulang saat-saat menyebalkan ini.

Tidak ada suara yang menghampiri telinga Joong Ki, bahkan angin enggan berbisik padanya. Melalui gerak bibir ragu Ai, sorot mata sendu dengan kaca berkilat-kilat yang siap pecah itu, lelaki ini mengerti apa yang terjadi. Ia jadi ingin marah, ingin segera berlari mencari siapa laki-laki yang tidak tahu bagaimana cara menghormati perempuan ini. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menyentuh tangan kedua gadis ini, meremasnya perlahan, memintanya untuk tidak mengingat hari dimana hal seperti ini terjadi.

Joong Ki pun berada di sisi Yujin kala itu, ketika dengan penuh kebencian, penyesalan, kesedihan, dan kemurungan, Yoo Bi bilang ia hamil dan kekasihnya menghilang. Ia tahu benar seluruh energy negative dengan riang masuk ke dalam tubuh dan pikiran Yujin, membuat gadis ini tidak bisa disentuh, dan hanya menunggu ketika akhirnya roket diterbangkan.

“Kamu janji mau berubah,” akhirnya Yujin bicara, nadanya seperti menuntut apa yang mestinya ia dapatkan.

“Aku sudah berubah, aku sudah berubah. Aku benar-benar berubah, mereka tahu dan mereka mendukungku. Ini bukan mereka, tapi dia. Orang yang aku pikir akan selalu percaya padaku, berdiri di sebelahku hingga kapan pun, merangkulku setiap saat, dia justru menyerang tanpa alasan dan menghancurkan semua benteng yang kami bangun susah payah sejak pertama pacaran. Ini menjijikan!” suaranya bergetar, ia tetap tegar, tidak setetes pun air mata itu mengalir. Membuat Joong Ki ingin menepuk punggungnya dan mengatakan, ‘semua akan baik-baik saja, percaya padaku’.

Yujin berjalan tanpa tenaga, nyawanya seperti melayang tidak jelas sejak kemarin. “Sekarang lihat dirinya, yang susah payah tidak menangis karena dia-yang-tak-bertanggung-jawab. Betapa berat untuk menjalaninya sendiri, dan meski sebenci apapun ia pada lelaki itu… jika suatu saat lelaki itu kembali, dan ia ingin bertanggung jawab. Ai bilang ia akan menerimanya meski terlambat, demi kebaikannya. Lalu, apa urusanmu menghalangi kebaikan Yoo Bi?” paparan Joong Ki semalam tidak berhenti mengganggu pikirannya. Meski ia konsenterasi mendengarkan lagu yang mengalun dari ponselnya, pikiran itu tetap mengganggu.

Yujin merogoh saku blazernya kala merasakan ponselnya bergetar, membaca pesan masuk selagi menunggu lampu pejalan kaki menghijau.

Min Soo: Pagi ^^, hari ini apa kegiatanmu?

Yoo Jin: Mood-ku buruk, jangan ganggu aku

Min Soo: Ada apa? Ceritakan padaku jika butuh tempat berbagi. Mau bertemu? Aku akan menemanimu, selama apapun.

Yoo Jin: Tidak usah, terima kasih. Hari ini aku mau ke Suwon, ke rumah kakakku. Nikmati saja akhir pekanmu, jangan pikirkan aku

Min Soo: Aku khawatir, mau aku jemput? Aku antar ke Suwon?

Yoo Jin: Aku baik-baik saja, jangan pikirkan aku

Lampunya hijau, tinggal 15 detik, ia tidak memperhatikannya. Ponselnya berbunyi, menutup recent chats nya dengan pop up incoming call, mengganti alunan lagu Always-nya Big Bang dengan I Will dari The Beatles. Sambil cepat-cepat menyeberang, ia menyentuh gambar bulat warna hijau di layarnya.

“Yujin, kamu di mana? Biar aku menjemputmu sekarang, kita ke Suwon bersama,” kata Min Soo setengah berteriak, karena kebisingan di sekitar Yujin membuatnya ragu gadis ini mendengar kalimatnya. Yujin mengerutkan alis, berusaha memfokuskan pendengarannya pada suara Min Soo di telepon, namun suara-suara kontraktor yang sedang membangun gedung itu amatlah menganggu.

“HOY!” nyaris seperti jeritan, meletup di telinga Yujin dan kemudian menyerap seluruh kebisingan dan menyisakan dengungan menyakitkan di telinganya. Yujin bersumpah ia tidak bercanda, ia seperti berada dalam film yang diperlambat dengan gambar hitam putih. Tidak ada yang bisa ia dengar kecuali suara dengungan dan samar suara yang berteriak memanggilnya. Seolah penyebrangan menjadi amat jauh, Yujin mulai disergap ketakutan. Ini gejala apa? Pertanyaan itu berputar terus selagi kakinya berusaha sekuat mungkin berlari.

Seluruhnya berjalan lambat, semuanya, kakinya pun tak bisa bergerak lebih cepat, tapi detik dalam lampu penyeberangan itu berjalan amat normal. Ia mulai khawatir dengan apa yang terjadi, tidak ada yang bisa memberinya jawaban. Tepat ketika ia menoleh pada suara yang sejak tadi samar berteriak padanya, sedetik kemudian hantaman kuat membuatnya kehilangan keseimbangan.

Ia bukannya menabrak sesuatu, ia yakin, seseorang baru saja menarik tangannya tanpa belas kasihan dan menyebabkan tubuh mereka saling berbenturan. Tubuhnya berputar beberapa kali, benar-benar tidak bisa kembali seimbang, kemudian ia terhempas keras di atas aspal.

“YUJIN!” seluruh kebisingan jalan raya itu kembali menyergap telinganya, membuatnya terkejut dengan suara keras yang tiba-tiba masuk ke telinganya. Semuanya kembali normal. Sangat menyebalkan! Ia baik-baik saja, lalu tadi itu apa?!

“Kamu gila ya?! Aku sudah bilang kan? Jangan dengar lagu, jangan main ponsel! Kamu sudah bosan hidup atau mau mencoba mati? Kalau jalan itu lihat-lihat, makanya! Konsenterasi! Kamu mau menambah jumlah kecelakaan lalu lintas ya? Bagaimana kalau tadi aku tidak menarikmu?!” Yujin masih terkejut, dengan semua yang tadi terjadi padanya tanpa sebab, dan dengan keberadaan laki-laki di hadapannya ini, tapi diomeli seperti itu membuatnya jadi ikut tersulut emosi.

 “Ya sudah tidak usah menolong! Marah sih, marah, tapi liat situasi dong! Tidak lihat aku masih kaget? Atau jangan-jangan tidak peduli aku masih terkejut? Mau sok pahlawan, atau apa? Aku juga tidak minta bantuanmu kok! Memangnya kamu siapa? Seenaknya marah-marah! Mau memutus hubungan kerja? Silahkan! Dasar menyebalkan!” tapi kemudian Yujin terkejut dengan cercaannya barusan. Ia keterlaluan, ia tidak sopan. Biar bagaimanapun, Jonghyun menyelamatkannya. Apa-apaan ini?

“Baiklah, besok-besok aku akan membiarkanmu mati karena earbud dan ponsel bajingan itu.” Nadanya dingin dan tajam, tiba-tiba saja Yujin merasa kesepian, suara Jonghyun tadi… ia belum pernah mendengar sahabatnya itu berbicara dengan nada dan tatapan mata seperti itu. Ia terpekur hampa ketika punggung tempatnya bersandar itu berjalan menajauh. Semakin besar ketidakmengertiaannya pada sikap Jonghyun yang selalu marah besar kepada orang-orang di sekitarnya yang selalu berjalan dengan earphone menyumbat telinga.

Rumah Yoo Bi, Paldal-gu, Suwon.

Yujin merasa laki-laki di hadapannya ini tidak perlu tahu mengenai masalah ini, tapi otaknya memaksa, ia butuh seseorang yang bisa memberi tanggapan secara objektif. Yang tidak begitu mengenal seluk beluk kehidupannya, keluarganya, atau apapun. Dan meski lelaki ini telah memberi tanggapan objektif, hati Yujin tidak bisa terima. Ia tidak bisa sependapat atau bahkan sekedar mengiyakan sebagai rasa hormat dan terima kasih karena telah memberi tanggapan, tidak bisa.

“Menurutmu, lebih baik besar tanpa ayah atau besar bersama seorang ayah yang kembali setelah meninggalkanmu beberapa tahun?” Yujin ingin segera menyahut, tapi hatinya langsung bimbang.

Saat terjadi insiden hampir tertabrak tadi, ia tidak sengaja bertemu dengan Min Soo. Rupanya Min Soo sedang berada di café sekitar sana dan mendengar keributan, yang kurang lebih sama seperti suara yang ia dengar melalui hubungan telepon dengan Yujin. Ketika mendekat ke lokasi, ia berpapasan dengan Yujin.

“Lebih baik tanpa ayah. Apa gunanya? Dia sudah pergi, untuk apa kembali lagi? Karena sudah tidak punya tempat lain untuk dituju? Karena aku pelarian?” Min Soo langsung mengerti, Yujin bukan orang dengan aura terbaik.

“Setiap orang punya cara, punya jalan, dan punya usaha yang berbeda. Cara berfikirmu, cara berfikirku, caramu melihat, caraku melihat, jalan yang kamu lalui hingga tiba di sini, jalan yang aku lalui hingga tiba di sini, usahamu untuk sukses, usahaku untuk sukses.” Iya, Yujin tahu, ia sangat mengerti soal itu, tapi ia tidak bisa menerima.

“Ini masalahnya, bukan masalahmu. Meskipun kamu adikknya, berharap yang terbaik untuknya, tapi tidak banyak yang bisa kamu sentuh. Ia hidup untuk dirinya sendiri, bukan untumu, tidak ada alasan untuk menolak kembalinya laki-laki itu atau memaksa kakakmu tetap menjadi orang tua tunggal. Bukannya itu tidak bijaksana?”

Bang Min Soo (23), hanya ia dan Joong Ki yang selalu membuatnya tidak bisa berhenti terpesona dan merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya meski sedang marah atau apapun. Leader Teen Top ini kembali mengemas perabotan milik Yoo Bi, membiarkan Yujin berfikir. Yoo Bi sedang keluar sebentar, mengurusi penyewaan mobil bak untuk perabotannya.

“Ayo, bantu aku masukan ini ke mobil.”

“Min Sooya, berarti aku menjilat ludahku sendiri?”

“Tidak, kalau bicara soal saling memaafkan. Tidak ada kata menjilat ludah sendiri atau pecundang, yang ada hanya kelapangan hati.” Katanya bijak sambil mengangkat dua kardus yang ditumpuk. “Hey, kamu tidak mau membuka pintu untukku?” Yujin mengerjap lalu segera berlari untuk membuka pintu.

Yujin memicingkan matanya, ketika telah jelas melihat wajah itu, kakinya berhenti melangkah sebentar kemudian lanjut berjalan. Ia benar-benar tidak ingin ambil pusing dengan menyapa laki-laki itu atau bahkan menoleh padanya, ia hanya perlu cepat-cepat memindahkan barang ke hanok orang tuanya.

“Yujina, itu tamu kakakmu?”

“Biarkan saja,”

Min Soo berdecak, bukannya sok tahu, tapi reaksi Yujin menyatakan orang itu bernama Jiyong. Apa salah-nya sih sekedar menyapa? “Selamat sore, anda mencari Yoo Bi nunim?”

“Sore, aku… ya, aku mencarinya, dia di rumah?” Min Soo menggeleng dan mengisyaratkan gadis itu sedang keluar, kemudian suara hantaman antar kardus terdengar membuat keduanya menoleh. Min Soo tahu Yujin mencuri pandang dari sudut matanya dan kesal karena ia menyapa Jiyong, tapi hey, kita harus sopan!

“Tidak apa-apa, aku biasa soal dia,” ujar Jiyong bahkan sebelum Min Soo berusaha memperbaiki suasana.

“Masuklah, sebentar lagi nunim pasti pulang.” Jiyong tersenyum kemudian mengikuti Min Soo masuk ke dalam rumah.

“Yoo Bi akan pindah ke rumah ibunya?” Min Soo mengangguk kemudian mempersilahkan Jiyong duduk.

“Aku harus membantu Yujin, maaf ya,” Min Soo membungkuk sedikit kemudian menyusul Yujin yang sudah masuk sambil menghentak-hentakan langkah dari tadi.

“Yujina!” Min Soo baru akan menegur Yujin lagi, tapi kemudian ia mendengar suara Yoo Bi di luar. Min Soo cepat-cepat lari ke luar untuk menyambut Yoo Bi, sebelum ia dapat masalah.

“Sudah pulang?”

“Iya,” mata Yoo Bi menangkap gambar mobil lain tidak jauh dari mobil Min Soo. Siapa pemiliknya? Dengan cepat mata Yoo Bi langsung mengunci target, Kwon Jiyong?!

“Itu… tamu itu baru datang, maaf ya aku lancang mempersilahkan masuk. Aku tidak enak kalau langsung mengusir, jadi aku menyuruhnya untuk menunggu nunim di dalam. Tidak apa-apa kan?”

“Mmm itu, aku sudah dapat mobilnya, jadi kalian bisa pulang sekarang. Maaf ya merepotkan, barang-barangnya berikan pada kurir saja, biar mereka pindahkan ke dalam mobil.”

“Tidak usah! Aku dan Min Soo sudah susah payah memindahkan ke mobil, biar kami bawa barang yang di mobil Min Soo ke rumah. Kalian menyusul saja, kami duluan.” Yoo Bi sebenarnya terkejut, harusnya Yujin memaksa tetap di tempat karena ada Jiyong… tapi… ia mau pergi lebih dahulu? Apapun alasannya, Yoo Bi tidak ingin ambil pusing, yang pasti ia bersyukur Yujin memilih untuk pergi dari pada tinggal.

“Ya sudah, ini, tadi aku beli beberapa gulung kimbab dan dua porsi teokbokki. Jangan lupa di makan ya.”

“Terima kasih banyak nunim, hyungnim, aku duluan ya!” Min Soo tersenyum kemudian membungkuk sedikit.

“Aku pergi!” kata Yujin ketus kemudian menyusul Min Soo. Kemudian tidak ada yang saling bicara selama perjalanan menuju rumah Hae Sun, kecuali ketika Yujin menunjukkan arah.

“Hey, Yoon-yang…,” Yujin reflek menahan nafas, kaget, jantungnya nyaris merosot. Bukan karena suaranya atau apa, tapi… Yoon-yang? Astaga! Seumur-umur hanya Joong Ki yang memanggilnya demikian, dan itu panggilan sayang dari Joong Ki untuknya.

Tidak, tidak… Yujin! Berfikir jernih! Kalau bagi Joong Ki oppa mungkin itu panggilan sayang, karena aku seperti adiknya. Tapi untuk Min Soo, mungkin dia cuma asal panggil. Tenaaangg, stay cool.

“Sabtu ini mau nonton? Ada film bagus. Kamu suka film yang seperti apa? Drama, horror, thriller, misteri, action, atau apa?” Yujin meneguk ludah sebelum menjawab.

Film bagusnya jenis apa?”

Thriller,” Yujin reflek menggeleng keras. Terakhir kali ia nonton film thriller, ia mual sampai empat jam, tidak nafsu makan hingga sehari penuh, dan tidak bisa tidur. “Kalau begitu kita nonton yang drama saja,” astagaaaa… Yujin semakin ingin berguling-guling. Ada apa dengan Min Soo hari ini?

Rumah Yujin, Buam-dong

Yujin melempar tasnya dengan riang ke sofa. “Senangnya hatiku… ye ye ye~ besok nonton bioskop!”

Joong Ki mendesis. “Dasar anak kecil, nonton bioskop saja senang.” Yujin bersedekap, memasang wajah paling menyebalkan miliknya.

“Besok aku akan jalan dengan laki-laki paling keren!” sombongnya.

“Ooohh, jadi sekarang sudah berpaling dariku?” goda Joong Ki membuat Yujin reflek bersemu.

“Iya dong, untuk apa menunggu orang yang tidak bertanggung jawab, sudah membuatku jatuh cinta padanya tapi tidak membalas. Huh! Aku tidak akan jatuh cinta pada laki-laki yang tidak sejati!” katanya lantang, merubah air muka Joong Ki menjadi serius.

“Jadi, kamu sudah tidak memandangku sebagai laki-laki lagi? Sudah tidak mencintaiku? Dan… apa katamu barusan?” Katanya lambat-lambat sambil berjalan mendekat, membuat efek menegangkan.

“Aku bukan laki-laki sejati ya?” bisiknya membuat Yujin merinding, kerlingan menyeramkan di mata Joong Ki membuat Yujin tiba-tiba serasa menciut.

“Jadi di matamu, aku sudah bukan laki-laki yang memiliki peluang untuk menyukai gadis sepertimu? Oh, atau… kamu sudah tidak khawatir lagi aku bisa menyentuhmu kapan saja?” suaranya semakin berat, semakin mamacu jantung Yujin. Sakit, jantungnya berdegub terlalu keras, wajah Joong Ki terlalu dekat, Yujin jadi sakit kepala.

“Sekedar informasi, laki-laki bisa melakukan apapun terhadap wanita tanpa perlu perasaan cinta. Mengertikan maksudku? Jadi, aku bisa saja menyentuhmu tanpa izin meskipun tidak ada rasa sama sekali.” Joong Ki menyeringai.

Yujin menundukkan kepalanya dalam-dalam begitu melihat bibir milik Joong Ki hanya 5cm di hadapannya, dan masih bergerak mendekat. “Kalau sudah begini keadaannya,” bisiknya menggoda.

“Aku jadi kecewa, dan aku hanya bisa bilang… selamat.” Joong Ki mundur beberapa langkah sebelum tertawa terbahak-bahak, menikmati pemandangan wajah merah Yujin yang tidak karuan itu.

OPPAAAAA!!!!” suara Yujin menggelegar, membuat Joong Ki semakin terbahak-bahak.

“Apa sih? Aku kan cuma mau bilang selamat, akhirnya si polos Yujin yang seumur hidup baru satu kali menyukai laki-laki yaitu Song Joong Ki, akhirnya berhasil move on.” Ledek Joong Ki sambil tertawa dan menghindar dari pukulan-pukulan Yujin.

“Yoon-yanga, aku pulang dengan pizza. Lapar?” Joong Ki menutup pintu dengan kakinya, kemudian berjingkrak menuju dapur. Baru ia akan meraih piring, telinganya menangkap suara roda koper.

“Yoon-yang, mau kemana? Bulan ini tidak ada camp musim panas kan?”

I’m going, aku tidak akan tinggal denganmu lagi.” Gadis remaja dengan rambut dikuncir menyerupai buntut kuda paling lurus, kembali menarik kopernya.

“Kenapa tiba-tiba?” dengan sigap Joong Ki menangkap lengan Yujin. “Jelaskan padaku ada masalah apa, kita bicarakan baik-baik. Apa tentang gadis-gadisku?” Joong Ki meminta jawaban, dan ketika mata itu menatapnya dingin, ia mengerti. “Ayolah Yujin, bukannya kita pernah diksusi soal ini? Kenapa masih mempermasalahkan juga? Apa ada yang mengerjaimu?”

“Aku hanya lelah penasaran, kapan oppa akan berubah. Dan aku sudah malas menjadi pengganggu di antara oppa dan gadis-gadismu itu, aku sudah menyerah melihat mereka sakit hati. Tidak ingin lagi aku terlibat.”

“Apa aku juga menyakitimu? Apa aku juga mempermainkanmu?”

“Tidak, hanya aku yang berlebihan. Karena itu, lebih baik aku pergi.”

“Apa kamu menyukaiku? Selama ini menyimpan rasa padaku?”

“Temui aku jika sudah bertemu dengan gadis yang sesuai.” Katanya tidak berperasaan kemudian kembali berjalan.

“Bagaimana jika aku tidak akan pernah menemuinya? Jika aku tidak akan pernah mendapatkan gadis yang sesuai? Apa kita tidak akan bertemu lagi?”

“Cobalah buka matamu, jangan hanya bermain dengan gadis-gadis. Gunakan hatimu,”

“Maafkan aku. Mempermainkan perempuan, menyakiti mereka, menjadikanmu kambing hitam, menyakitimu, membuatmu memiliki rasa untukku, tidak bisa mencintaimu lebih dari adik perempuan. Maafkan aku. Aku mencoba berubah, tapi inilah diriku. Selamanya akan begini, tidak bisa mencintai makhluk tuhan yang disebut wanita, seindah apapun wujudnya. Hati ini, hanya tidak akan pernah bergerak untuk kalian. Karena itu, maafkan aku,”

Yujin menoleh perlahan, berusaha mengerti apa maksud Joong Ki barusan. “Semua laki-laki bisa mencintai perempuan jika mau, laki-laki mana yang tidak suka perempuan?”

“Laki-laki yang seperti kami, Yoon-yanga, laki-laki seperti kami yang tidak bisa menyukai kalian atau bergairah ketika melihat lekuk tubuh kalian.”

Yujin tetap melongo, setiap mengingat hari itu, pernyataannya dan pernyataan Joong Ki, membuat otaknya terpekur. Ia menyesal namun senang mengetahui fakta itu, ia jadi lebih nyaman bergerak di hadapan Joong Ki, namun, ia harus rela cintanya tidak terbalas. Bertahun-tahun Yujin berusaha merubah perasaannya, tapi selama Joong Ki masih di hadapannya, hidupnya akan terasa lama.

 “Yoon-yang, cepat! Aku mau menggunakan toilet juga… astagaaaa! Harus aku bilang berapa kali sih? Minum air yang banyak, dan rajinlah makan sayuran!” omel Joong Ki dari luar. Yujin mengerutkan wajahnya sekali lagi, mendorong keluar hingga… aaaahhh… lega.

“Iya, iya! Bawel!” sahut Yujin setelah menekan tombol flash. Melotot kesal sebelum mengizinkan Joong Ki masuk. “Hirup yang dalam ya! Selamat menikmati baunya!” seru Yujin girang sebelum berlari menuju kamar, meninggalkan Joong Ki yang sejurus kemudian kembali keluar dan terbatuk.

“Astaga, aku kerancunan. YAH! CHAE YOO JIN!! SIALAANN!!” Yujin tertawa bagaikan iblis dari dalam kamar, menikmati pembalasan dendamnya yang sukses dijalankan.

SMA Gapyeong, Gyeonggi-do.

“Eh, Taemin, malam ini ayo ke kelab?” Taemin mendengus, memandang dengan matanya yang mendelik melalui cermin.

“Eh, bodoh! Memangnya kamu pikir aku kerja paruh waktu untuk hura-hura? Orang tuaku juga tidak mencari uang untuk aku habiskan dengan para gadis kegenitan itu,” sembur Taemin.

“Taemin, kamu tidak sedang kesurupan hantunya anak-anak culun kan?” Taemin menggunting ujung rambutnya.

“YA! Kalian bosan hidup ya?!” ancamnya sambil mengacungkan gunting mengkilat itu, membuat teman-temannya meringkuk ketakutan. “Aku cuma perlu bertahan sampai kita lulus dan kuliah, tahu? Setelah itu aku akan kembali main di kelab. Kalian pikir aku dilahirkan untuk tidak lulus ujian? Dasar idiot!”

Meski sekolah baru, gerombolan pembuat onar di sekolah ini langsung menunduk ketika Taemin pertama kali menginjakkan kakinya di sini. Lee Taemin, merupakan ketua perkumpulan anak nakal di Seoul. Berkali-kali pindah sekolah tentu membuatnya semakin terkenal, dan berkali-kali dihormati sebagai pemimpin. Namun tahun ini dan di sekolah ini, Taemin sungguh tidak berminat bergabung dengan kumpulan ini. Alasannya, ujian.

“Bos, ada yang mencarimu.” Masih fokus mencari bagian yang harus ia gunting, Taemin menanggapi tak acuh.

“Aku tidak terima tamu, suruh ia buat janji dulu baru datang mencariku.”

“Seorang perempuan, dari gayanya ia pasti remaja Seoul. Tapi sepertinya aku tidak asing bos, seperti pernah melihatnya di TV.”

Taemin mendesis kesal. “Idiot, memangnya aku bertanya jenis kelamin dan asalnya? Cepat usir dia!” baru anak buahnya akan menurut, seorang perempuan menerobos masuk.

“Lee Taemin, kita harus bicara.”

“Lee Yoon Ai?”

—Dia yang Tak Bertanggung Jawab, Continued—

Sneak peek:

“LEE TAEMIN!”

“Apa lagi sih?”

“Brengsek!”

“Eh, memangnya semua wanita sepertimu sudah latihan mental ya? Kamu tidak menangis? Tidak sakit hati? Oh… jangan-jangan sudah siap, atau sudah biasa dengan hal semacam ini? Neo jeongmal chisa hada (kamu benar-benar murahan).”

“Silahkan masuk, kita bicara di dalam.”

“Tunggu Yujina, kamu masih marah? Karena kita batal nonton?”

“Itu bukan alasan untuk marah, aku tahu kamu orang sibuk. Mau masuk  atau tidak?”

“Ayo berkencan,”

“Aku cuma mau hidup dengan bebas, dad, mengertilah! Ada apa sih? Kenapa kalian selalu bersikap berlebihan? Menjagaku terlalu ketat, mengganggu proses sosialisasiku, dan menahan agar aku tidak lagi terapi untuk memulihkan ingatanku. Jangan-jangan ada sesuatu yang kalian tidak ingin aku ketahui.”

“Semua ayah pasti menjaga putrinya sebaik mungkin, terlebih, kamu pernah kecelakaan. Tidak akan aku biarkan hal itu terulang, mengerti?”

 “Kalau begitu temui Yoo Bi, secepatnya. Anaknya, tetaplah cucu-mu, dad. Setelah itu aku baru mau berhubungan denganmu lagi. Oh, satu lagi… jangan pernah coba-coba ikut campur dalam kompetisi ini. Aku harus bertanding dengan baik dan jujur!”

“Pastikan Kwak-ssi mengawasi putri-ku dengan baik!”

Kataku:

  1. Nunim dan hyeongnim itu merupakan panggilan untuk orang yang lebih tua di luar keluarga.
  2. Rookie Star itu bintang/artis/idola baru yang masih berusaha meniti karir di dunia hiburan.
  3. Tinggal satu shot lagi untuk Scene 3, jangan lupa baca ya ^^
  4. Sekali lagi, untuk segala kekurangannya mohon maaf, dan aku menerima segala bentuk kritik ataupun saran
  5. Feel-nya gak dapet ya? Udah aku bolak-balik edit, tetep aja aku gak ngerasa srek sebenernya sama scene ini. Yaaaa jadi aku berusaha buat cepet-cepet ngelewatin scene 3😀.
  6. Min Soo? Siapa tuh? Tenang… aku kenalin di shot ketiga kok ^^
  7. Sudah terjawabkah siapa yang gay di spoiler kemarin? Kekeke~
  8. Next shot itu aku ngenalin kru-nya Yujin alias temen-temennya Joong Ki. Ada yang mau request? Misalkan kalian mau Eunhyuk jadi salah satu temen Joong Ki, atau G.O? Kalau ada, silahkan seperti biasa tulis aja di kotak komen yaaa ^o^

Untuk kekurangannya harap maklum ^^, stay 2NE for the 3rd shot, PPYONG! ^o^. Oh ya, terima kasih sudah mampir <(^-^)>

©2012 SF3SI, Zikey.

Officially written by Zika, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

 

 

28 thoughts on “2NE, SCENE 3 SHOT 2: Dia yang Tak Bertanggung Jawab

  1. Ahh…kren thor!😄 Tp di part ini emang krang dpt feelnya, tp kyanya part 3 bkal mnegangkan dn pnuh emosi…
    kalau msalah yg guy mnurut aku si joongki *eh iya kn?*
    Dn buat yg jd tmnya jongki bleh anak shinee yg laen gk? Aku cman ska sma shinee doang keke ^-^v

    Part 3 nya jgan lma2 ya thor pnasaran bgt sma part itu!🙂

    1. Kyaaaaaaa… sorry baru bales say :(( feelin bad
      Makasih jadi yg pertama komen ^O^

      Iya ya? Pppfftt… aku edit lagi deh scene lain supaya gak mengecewakan🙂
      Semoga aja, amin deh hoho
      Iya… memang Joong Ki kan? Itu di atas udah aku bongkar kekeke
      Anak SHINee lain udah punya role masing2 di FF ini😦

      Aku usahain cepet yaaa, udah selesai sebenernya cuma masih disunting ulang hehehe
      Makasih banyak ya udah mampir dan komen
      smooch

  2. hmmm, joong ki gay. Ckck.
    Eh aq jd penasaran, jiyong d ff ini wujudnya kyk apa ya? Pinky hair? Wkwkwk

    aq girang krn akhirnya mulai ada pengantar menuju masalah inti.
    Ayo ga sabar masuk intinya😀

    1. Jiyong disini……. *blushed* totally charming kayak di My Heaven. Tahu kan? Yang rambutnya mirip Jang Geun Suk gitu xD aaaaaa //mimisan

      Iyep, aku percepat nih pengantarnya, harusnya baru pengantar di scene 3😀
      Eh iya, ngeliat komen Kak Bibah kali ini pendek antara lega sama khawatir hehehe
      lega karena mikir ‘Oohh scene ini berarti gak typo’ tapi lama-lama jadi khawatir ‘jangan2 Kak Habibah udah capek koreaksi ff ku :((‘
      kkeeke
      anyway, thanks a lot loh udah setia banget mampir ke FF ku😀
      smooch

    1. Aku sendiri aja amaze sama bagian itu xD
      somehow, gak nyangka aku bisa nulis adegan selebay itu hahahha
      Makasih udah mampir ya say, makasih banyak juga atas pujiannya
      xoxo

  3. Oooo ternyata yang positif hamil itu Ai. Hmm~
    Pantesan Yujin kalem kalem aja selama ini, orang Joongki nya gay. Lucu pas baca bagian Yujin di isengin sama Joongki, yang baru pulang terus girang karna diajak nonton. Wahaha. Jadi penasaran, kalo gay, pasangan gay nya Joongki siapa ya?
    Eh, ada Taemin. Butuh kerja keras buat bayangin Taemin dengan karakter seperti itu. kkk~ /payah

    Eits, itu di sneak peek Yujin diajak kencan? Lucu deh kayanya bayangin Yujin kencan. akakakak. Aaaah, jadi selanjutnya Ayahnya Yujin mulai muncul. Asik! Makin deket sama masalah inti! Yeay!

    Kru-nya Yujin? Kak, Heechul kak! Biar gila ntar kru-nya. Heboh deh😄 wkwkwk /plak/

    Waaa ditunggu Kak next shot nya!

    1. Kei ^O^
      Benar sekli hohoho
      Tapi tetep aja, karena di Amerika punya rommate beda kelamin santai aja, Yujin tetep jadi santai sama Joong Ki, gay ataupun bukan
      Pasangannya? Ada gak yaaaa…. better reread the teaser, nanti kamu langsung found out kisah Joong Ki kok😀
      Aku yang nulis juga susah itu ngebayanginnya

      Yeaaayy! kekeke~

      Oh iya bener, Heechul.. sip sip!
      Okeeeyy… stay tune yaaa ^O^
      makasih banyak udah mampir terus komeeenn
      xoxo

  4. eh ituuu *nunjuk support cast* haha… gomawo kak zikey :3

    Taemin, yiahhh… bad boy kamu mas.. ckck -,-
    Satu yang bikin aku bahagia lagi, Lee Jinki sudah tampil.. yeah, jadi Jaksa lagi yah~

    jadi, Joongki gay? jadi penasaran siapa pasangannya.. hhe

    eh, iya, Jonghyun itu masih ga bisa move on dari Yuna ya? terus Yuna itu meninggal kecelakaan gitu ya~
    shot 3 aku tunggu, penasaran sama masalah intinya nih kak ^^

    1. Harusnya aku yang bilang makasih loh
      Bingung mau minta izin lewat mana, sempet nyari di twitter tapi raqu heheh jadi nekat aja

      aaaahhh jadi bias kamu Onew toh yayaya, sori ya jadi sama tetem hehe

      He-eh he-ehe😀
      Siiipp, publish ASAP ^-^
      makasih ya udah mampir
      xoxo

      1. nggak papa banget kak, ikut nangkring di 2NE juga udah seneng ^^ lagian Taemin juga aku suka… krn aku suka semua member SHINee *maruk😀

  5. Huaaaaa!!! Keren!! Intinya mana nih?? aku kok belum bisa nebak2…
    apa lagi itu, Ya ampun… setiap scene bakal banyak cast baru nih, tapi bagus deh, biar gak bosen😀

    Aigooo… Taeminku jadi bad boy… *ditimpuk taemints*
    Tapi dia jadi manly banget di situ..
    kakak zikey memang double jempol deh😀

    Hah? aku gak nyangka banget Joong Ki itu gay lho :O
    Dan Min Soo, apa dia suka sama Yujin?
    Dan Jonghyun juga kah?

    Aih… aih…
    Author satu ini memang bisa bikin penasaran

    Duh aku jadi banyak oceh di sini… tapi tak apalah😉
    semangat ya kak buat ffnya😀

    FIGHTING!!

    1. Memang begitu model ceritanya ^^ setiap scene bisa ada kisah baru atau cast baru, yang habis muncul hilang lagi😀

      Kekeke.. hah jadi manly? Perasaan dia baru muncul sedikit:/
      emang deh kalau istrinya tahu aja xD
      Makasih jempolnya *simpen jempol An*

      Gak nyangka? Yeeeeyy~
      Min Soo? Suka gak yaaaaaa… kita liat di shot berikutnya😀
      Jonghyun? Tergantung permintaan pembaca deh kalau yang itu keke

      Sip, semangat!! ^O^
      Makasih banyak udah mampir dan komen
      xoxo

      1. Hahaha, jadi timbul tenggelem ya kak😀

        Hehehe, iya nih An ngerasa Taemin beda aja gitu🙂
        Ah kak zikey tau aja *pukul pukul* *dilempar sendal jepit*

        An setuju kak kalo Jonghyun sama Yujin!!😀
        Sama Joong Ki juga kak! *loh?*

        Wehehehehe, An gak tau mau ngerequest siapa buat jadi temen krunya si Joong Ki
        Klo salah satu member EXO bisa kak?
        Hehehe, gak apa-apa ya kak
        An request satu orang aja deh.. ekekekekek

        Oke, sama-sama kak, keep writing😉

  6. yujin itu yuna?? ntah knpa ngeliat sneak peeknya aku kepikiran itu.

    but, aku sllu suka ff ini, apalagi karakter yujin+joongki, itu benar2 menghibur.

    keep writing!

    1. Jangan-jangan krna namanya sama-sama dari huruf Y? kekeke

      Uwaaaaa makasih yaaaa xD
      Siiipp!!! Keep writing!

      Makasih banyak udah mampir dan komen
      xoxo

  7. Jonghyunnie~ move on lah dari yuna… Kan ada akuuuuu *kedap kedip genit* #plak

    wuaaaaah. Dae to the bak!🙂

    rrrr, aku masih agak gimanaaa gitu sama jongki yang gay.

    widih taem. Apa yang terjadi dengan dirimu nak?

    ditunggu shot 3-nyaaaaaa ^^

    1. Iya itu Jjong, moove on laaahh~ hehe

      Nanti juga get used to it😀
      Kan gay nya gak terlalu aku sorot, cuma intinya dia gak suka cewek. Dan dia adalah gay yang sukanya main cewek kekeke

      Siiipp, ASAP deh yaa ^^
      Makasih udah mampir dan komen😀

  8. uaa.. shot 2 kereen

    akhirnya Yujin dapet kru.. aku mau ada Mir ama Lee Joon dong. itu Jonghyun kasihan yaa..
    entah kenapa sifatku mirip sama Yujin gampang marah kekeke..

    oh iya awalnya kukira Min Soo itu cewe lo ternyata dia cowo jadi kaget. dan juga Taeminnieku jadi bad boy jangan2 dia yg hamilin Yoon Ai.

    omo.. next shot buaruaaan

    1. Yaeeeyy~😀

      Lee Joon???? Kan dia udah muncul di Scene 1, gak baca yaa?? hayooo??
      Aku juga kok xD .. karakter Yujin nih yang doyan marahnya, aku banget hahaha

      Min Soo? Ada emangnya ya cewek yang namanya Min Soo? ooppss O.Oa
      Siap booooosssss~

      Makasih banyak ya udah mampir ^O^
      xoxo

  9. aah keren banget!!! eman sih kurang dapet feel-nya hehe tapi bikin penasaran kelanjutannya!

    berarti yang gay itu Joong Ki kah?😮 kasian sekali si Yujin ckckck *mian thor rada lupa sama part sebelumnya xD*

  10. baru baca nih.
    iiiiiih malas banget~
    masa joongki jadi gay.
    aaah, ya sudahlah nasib nasib. Lain kali jgn kasih peran maruk gitu dong yah Zika😀

    ak penasaran sm past ny jjong, apa dy kehilangan ceweny gara” make headset gitu.
    heem, main topikny jangan lama dong. masa reader cantik ini mau dibiarin nunggu lama :p

  11. Baruuuuu baca lagi FF ini😀
    Mianhaeeee ^^
    Baru pengen baca-baca lagi soalnya *ehh jadi curcol*
    Ini udah mau masuk masalahnya kan?
    Yey!!!!!
    Makin kesini makin kerennnnn…
    Itu Joongki Gay? :O
    Dan Jinkiiiiiiiiiiii… Hwaaaaaa jadi jaksa *peluk suamii tercinta*
    Semangaaattt zikey!!!!!

  12. dear zikey author yang kece badai!!!!!!!!!!
    ahirnya bisa mbaca part 2 ini. its been long time tapi puas banget.
    ehm.. komennya apa yaaa.. keke~~
    sekarang yau deh kenapa jonghyun ga suka liat orang pake earbud, tapi masi binggung kenapa cewenya mati…
    terus minsoo itu c.a.p yaa?? ada hubungan apa mereka?
    joongki itu ada rahasia juga ya?? dia ga gay kan yaa… jangan dong, jangan yaa…
    terus onew-nya baru teaser aja itu yaa…
    nah loh, taemin jadi semacam bad boy kahh???

    aaaakkkk aku penasaran banget. ditunggu part selanjutnya. ta kira yujin bakal sm jonghyun loh.
    temennya joongku boleh infinite sunggyu ato woohyun ato L aja… kekek~~
    fighting buat zikey author. maap klo komennya panjang *deep bow

    1. Iya, maaf ya menunggu lama. Aku lagi berjuang keras buat nabungin part2nya nih biar gak kejar tayang🙂
      btw, makasih loh udah mau mampir
      setia banget komen pula ^^

      Next will published ASAP🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s