Hate Me, Please

Hate me, please…

Author : Charismagirl (@charismaagirl)

 

Genre : Romance, Life, Sad

 

Length : Oneshoot, I think it’s just drabble

 

Main Cast :

  • Choi Minho (SHINee)
  • Kim Sung Ran (Imaginary cast)

 

Support Cast :

  • Lee Jinki (Onew’s SHINee)

AN : Judulnya aneh._. Ini adalah FF daur ulang dari saya yang pernah saya publish di salah satu blog, setelah sebelumnya dengan main cast Kyuhyun-Seohyun, dan sekarang saya ganti, ceritanya sama. Mohon maaf apabila banyak kesalahan, hati-hati typo bertebaran. Jangan lupa ninggalin jejak! Alur cerita punya saya, jangan main jiplak oke? Walopun gak ada yang niat jiplak, karena FFnya gak bagus-bagus amat. Wkwk. Cekidot~

(private blog: www.flamestory.wordpress.com)

“Cobalah membenciku agar kau bisa melupakanku dan rasa sakit ini”

Minho’s House, 20.00 KST

Malam itu, udara luar terasa sangat menusuk. Semua orang merapatkan mantelnya berusaha tidak memberikan celah sedikitpun untuk udara masuk dan menyentuh kulit. Mereka juga berjalan dengan cepat, ingin segera sampai di rumah dan berkumpul bersama keluarga.

Di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, di dominasi warna putih, dengan desain sederhana namun nyaman di pandang. Suasana disini terasa hangat. Awalnya terasa hangat. Sepasang pria dan wanita tengah duduk di meja makan. Semua sudah di rancang oleh sang pria, dia membuat suasana se-romantis mungkin. Tapi gadis dihadapannya mungkin belum menyadarinya. Mereka makan dalam diam. Pria itu menyiapkan pita suaranya untuk bicara. Hal yang penting, sangat penting.

“Sung Ran-ah…”

Gadis itu mendongakkan kepalanya, mencoba menatap pria itu yang terlihat aneh dari biasanya.

“Will you marry me?” Pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah benda kubus kecil berwarna merah beludru. Kemudian dia membukanya dan terlihat lah pantulan kilatan dari benda perak itu dengan berlian di atasnya semakin membuat benda itu terlihat indah.

Sung Ran meletakkan sendok dan garpu yang tadi di pegangnya, dia tampak terkejut. Tentu saja dia terkejut dan itu adalah hal wajar, justru aneh jika responnya biasa-biasa saja. Pria ini melamarnya?

Minho menemukan raut wajah yang berbeda dari Sung Ran, rasa tidak suka? Tidak juga. Hanya saja ekspressinya menampakkan wajah sedih. Dan Minho tidak tahu arti dari ini semua. Dia benar-benar bingung.

“Mianhae,” Gadis itu mengalihkan pandangan, berhenti menatap mata Minho. Karena semakin dia melihatnya dia akan semakin sedih dan sulit untuk menolak. Perkataannya barusan semakin membuat pria di depannya mengerutkan kening. Minho memegang kedua pipi Sung Ran, meminta gadis itu untuk tetap menatapnya.

“Wae Sung Ran-ah, wae?”

“Aku… tidak mencintai Oppa.” Sung Ran berdiri, kemudian melangkah pergi.

Pria itu tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya, tidak percaya. Dalam hatinya mengatakan ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin gadis itu tidak mencintainya. Mereka sudah bersama selama dua tahun. Lalu apa arti kebersamaan mereka selama ini.

“Lalu apa arti perhatianmu selama ini?” Minho mulai terlihat emosi. Diapun ikut berdiri dari kursinya. Nada bicaranya yang setengah berteriak membuat Sung Ran kembali menghadapnya meskipun berjarak beberapa meter.

“Kita hanya teman, Oppa.” Sekarang Sung Ran benar-benar keluar dengan setengah berlari. Apa yang baru saja dia katakan? Air mata mengalir di pipi gadis itu, dadanya terasa sesak, sekarang dia merasa rapuh. Dan semua itu Minho tidak mengetahuinya. Yang dia tahu gadis itu meninggalkannya atau mungkin tidak mencintainya?

Lidah pria itu terasa kelu, dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Dengan sisa tenaganya dia berusaha mengejar Sung Ran. Ya, dia tidak memakai mantel, sarung tangan atau apapun pakaian khas musim dingin, tidak peduli dengan udara yang sangat ekstrim, meskipun suhu mencapai minus dia tidak peduli. Yang dia inginkan hanya gadis itu kembali dan mengatakan bahwa dia hanya bercanda atas apa yang dikatakannya. Dan, langkahnya terhenti sampai dia melihat gadis itu–gadisnya. Berpelukan dengan namja lain. Rahangnya mengeras dan matanya mulai merah. Kedua tangannya mengepal keras.

“Jadi dia yang membuatmu harus meninggalkanku huh? Kim Sung Ran!” Pria itu membalikkan badannya. Semuanya terlalu sakit untuk dilihatnya dan ini semua terlalu cepat.

Sung Ran berlari tanpa arah, hingga dia berhenti di depan rumah sakit. Seseorang yang dikenalnya hampir masuk mobil. Seorang dokter muda dengan wajah tampan, berwajah lembut dan senyum yang menawan. Dia berlari lalu memeluknya.

“Sung Ran-ssi, kau kenapa?” tanya Dokter itu.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak ingin dia mencintaiku. Aku tidak ingin dia sedih karena mencintaiku. Biarlah aku membuatnya membenciku dan itu akan membuatku bisa pergi dengan tenang.” Ucap Sung Ran disela isakkannya.

“Meskipun kau tahu bahwa dia tidak akan bisa berhenti mencintaimu?”

“Dia pasti bisa membenciku.”

“Sung Ran-ssi, Minho, … dia mengejarmu, dia mengikutimu.” Bisik Dokter itu setelah dia melihat pria yang berjarak beberapa meter dari tempat berdirinya sekarang. Dia mengenalnya, Sung Ran selalu menceritakan tentang pria itu, memperlihatkan fotonya. Dia, pria yang sangat dicintai Sung Ran, bahkan melebihi hidupnya sendiri.

Sung Ran tidak ingin membalikkan badannya, dia terlalu takut pertahanannya runtuh. Dia takut setelah dia melihat pria itu dia akan berlari dan memeluknya. Dan dia tidak ingin itu terjadi. Yang dia lakukan justru semakin merapatkan pelukkannya dengan Onew–dokter yang merawatnya.

Minho melangkah gontai masuk ke dalam rumahnya. Melepas sepatu dan membiarkannya tergeletak di lantai. Dia merasa sebagian jiwanya telah hilang, tidak ada semangat untuk tetap meneruskan hidup. Dia menatap meja makan sebentar. Benda kubus itu masih berada disana dengan keadaan terbuka. Dia bersumpah akan membuang benda itu. Mungkin pilihannya hanya ada dua. Membuangnya atau membuat benda itu melingkar di jari Sung Ran, gadis yang hampir membuatnya gila bahkan sekedar melihat senyumnya saja.

Minho’s House, 07.15 KST

Matahari mulai meninggi, menandakan hari baru segera di mulai. Semua orang diluar sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Kicauan burung terdengar sangat bersemangat. Tapi tidak dengan pria itu. Dia masih berbaring di tempat tidurnya. Dia memang menutup matanya tapi dia tidak tidur. Sebenarnya dia ingin, tapi tidak bisa. Bayangan wajah gadis itu dan peristiwa tadi malam terus menghantuinya.

Pria itu membuka matanya dengan malas, kemudian mencoba untuk bangkit. Tidak ada yang ingin dia lakukan hari ini. Dia menatap figura fotonya bersama gadis itu yang terletak di atas meja, sedetik kemudian dia menutupnya. Dia tidak ingin mengenang gadis itu lagi. Terlalu dalam gadis itu menusuk hatinya. Dan dia yakin tidak ada cara untuk mengembalikan hatinya lagi. Tidak ada–selain menikahi gadis itu.

Hospital, 08.00 KST

Suara pendeteksi detak jantung terdengar seirama dan menakutkan. Seorang gadis terbaring lemah disana. Wajahnya yang putih semakin terlihat pucat. Dia tidak tahu apakah keputusan yang diambilnya adalah benar. Yang dia tahu dia berusaha sekuat mungkin untuk menjadikan pria itu membencinya. Dan dia akan merasa lebih tenang untuk pergi.

Dokter muda yang biasa merawatnya masuk dan mulai mengecek keadaannya. Dia menggelengkan pelan kepalanya. Keadaan gadis ini semakin memburuk. Sejak dia mengecek keadaanya empat bulan lalu. Sel kanker di tubuhnya semakin menyebar. Dia tidak tahu sampai dimana gadis ini akan bertahan. Tapi perasaannya mengatakan bahwa tidak lama lagi.

Bagaimana mungkin dia bisa bertahan tanpa seseorang yang mencintainya berdiri disampingnya dan memberinya semangat untuk hidup. Dokter ini bahkan tidak habis fikir dengan keputusan yang diambil gadis ini untuk membuat orang yang dicintainya menjadi benci padanya.

“Sung Ran-ssi, bagaimana keadaanmu?”

Gadis itu hanya tersenyum lemah.

“Kau yakin tidak akan memberitahu Minho tentang ini?”

“Tidak.” Dia menatap bandul kalung yang di pegangnya. Sebuah benda pemberian Minho. Kemudian menggenggamnya dengan sisa tenaga yang dia punya. Dia yakin benda ini bisa menguatkannya di sisa-sisa hidupnya.

Onew merasa kasihan dengan gadis ini. Dia harus melakukan sesuatu. meskipun dia tahu Sung Ran tidak menginginkannya. Tapi dia harus melakukannya. Harus.

Minho’s House

 

Minho berada di ruang tengah. Dia duduk disofa dan menyandarkan tubuhnya disana. Tangannya memencet-mencet remote televisi yang dipegangnya. Matanya memandang lurus pada televisi yang dari tadi terus berpindah-pindah chanel. Sebenarnya dia tidak benar-benar sedang melihat tivi. Karena semuanya terasa membosankan. Bahkan acara kesayangannya pun dia lewatkan begitu saja. Yang lebih aneh, benda hitam persegi panjang yang sangat disayanginya tergeletak begitu saja di atas meja. Tidak ada keinginan untuk menyentuhnya sama sekali. Jiwanya bukan disini. Belum sehari dia berpisah sudah begitu tersiksa. Dan rasanya dia ingin mati saja.

Pria itu beranjak dari duduknya, menuju kamar mandi. Dia tidak tahu apa yang ingin dilakukannya di dalam sana. Bukannya ingin mandi. Melepas pakaian pun dia tidak ingin. Dia menyalakan shower. Membiarkan tetesan air yang turun membasahi wajahnya. Berharap semua kenangan indah akan luntur seiring dengan air yang terus mengalir ditubuhnya. Berharap dia bisa melupakan gadis itu. Tapi tidak. Justru sekarang air itu bercampur dengan air mata di wajahnya. Pria itu … menangis?

Dan dia tidak ingin beranjak dari sini. Terhitung sudah setengah jam lebih dia berada di kamar mandi. Jari-jarinya mulai putih memucat dan sedikit mengkerut. Tubuhnya pun mulai melemah. Dia baru ingat sejak tadi malam, tubuhnya belum diasup makanan sedikitpun. Dia sadar segala perbuatannya ini bisa membuatnya sakit atau berakhir pada kematian. Dia tidak peduli. Jika saja gadis itu meminta maaf dan kembali bersamanya mungkin dia akan kembali hidup normal. Jika tidak, dia bersumpah dia siap mati sekarang.

Suara telepon membuatnya menoleh ke pintu. Dia mendengus kesal, benda itu sudah mengganggunya. Dia sedang tidak ingin bicara pada siapapun. Benda itu terus berbunyi sampai akhirnya berhenti. Hanya sedetik karena di detik berikutnya benda itu kembali berdering. Minho menghela nafas dan merasakan begitu sesak saat dia bernafas. Sekarang oksigen pun terasa tidak bersahabat dengannya. Atau mungkin saluran pernafasannya sudah kehilangan fungsi?

Dia keluar dari tempat itu, mengambil handuk dan mengeringkan rambutnya. Kemudian mengangkat telepon.

“Yeoboseo.” Ucapnya terdengar lemah.

“Minho-ssi?” Tanya seorang namja diseberang sana. Minho tidak menyahut. Dia tidak menginginkan panggilan dari siapapun. Selain gadis yang dia cintai. Dia hampir meletakkan gagang telepon sebelum dia mendengar nama seseorang yang dikenalnya disebut. Seseorang yang membuatnya hampir gila seharian ini.

“Aku dokter yang menangani pasien bernama Kim Sung Ran, aku Lee Jinki.” Yah, siapapun nama dokter itu, dia tidak peduli. Sung Ran? Pasien? Apa maksud ini semua.

“Bisakah kita bertemu?”

Minho menyusuri jalan menuju café yang telah mereka janjikan. Samar-samar terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya. Tubuhnya yang lemah dengan mudah menambrak siapapun yang berjalan dihadapannya. Tidak sedikit dari mereka yang di tabraknya berteriak kesal. Dan dia hanya mengabaikannya.

Sesampai di café dia mengedarkan pandangan dan melihat seseorang berpakaian putih itu melambai. Dokter itu? Yang memeluk Sung Ran?. Minho berjalan kearah Onew dan duduk di depannya.

“Kau, namjachingu Sung Ran?” Dan yang membuat Sung Ran meninggalkanku, sambung Minho dalam hati. Sangat jelas kalau dia terlihat tidak suka dengan pria ini. Kalau saja dia mengabaikan etiket, pria di depannya ini sudah menerima pukulan dari tangannya.

“Bukan. Kau sudah salah paham Minho-ssi.”

“Katakan padaku, kenapa Sung Ran bisa menjadi pasienmu? Setahuku dia tidak menderita penyakit apapun.”

“Aku tahu sebagai seorang dokter sebenarnya aku dilarang membicarakan hal rahasia dari pasien seperti ini, tapi … ku rasa aku harus mengatakannya padamu.” Onew menghela nafas, mencari kata-kata yang tepat untuk dikatakannya.

“Sung Ran… Dia…” Dokter itu menelan air ludahnya sebelum meneruskan, “Menderita penyakit kanker stadium akhir.”

“Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Jangan bercanda seperti ini. benar-benar tidak lucu.”

“Apa wajahku seperti sedang bercanda?” Onew menunjuk wajahnya sendiri.

Minho kembali menggelengkan kepalanya yang sudah terasa pusing. Kemudian dia memijat keningnya. Mengapa semuanya terjadi begitu cepat, tanpa dia mengetahuinya.

“Itulah sebabnya mengapa Sung Ran ingin kau membencinya.”

“Karena penyakitnya?” Minho hampir tidak percaya dengan alasan Sung Ran meninggalkannya.

“Dia bilang, dia tidak ingin kau mencintai yeoja yang hanya sebentar menemani hidupmu.”

“Bodoh! Seharusnya dia tahu bahwa aku tidak mungkin bisa membencinya.”

Ponsel Onew berbunyi.

“Ne? Aku akan segera kesana.” Onew berdiri, kemudian berkata, “Sung Ran, dia… kritis.”

Minho menunggu dengan gelisah di depan ruang rawat Sung Ran. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Dia sadar keadaannya sedang tidak bak-baik saja. Tapi apa pedulinya, dia lebih mementingkan yeoja yang berada di dalam sana. Sedang meregang nyawa. Dia mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya di lantai. Harus berapa lama lagi dia menunggu? Rasanya ingin menerobos masuk saja.

Dan dokter itu pun keluar, Minho segera berdiri.

“Aku tidak tahu keajaiban apa yang terjadi padanya, yang pasti kami sudah berusaha sebaik mungkin. Sebenarnya keadaanya sangat lemah. Tapi… masuklah.” Onew berlalu pergi.

Minho masuk. Bunyi mesin pendeteksi detak jantung sangat terdengar di ruangan itu dan itu membuatnya semakin pusing. Dia melihat Sung Ran membuka matanya. Gadis itu terkejut dengan apa yang dilihatnya.

“Oppa??”

Kyuhyun langsung duduk di samping tempat tidur Sung Ran. Dia memegang tangannya. Erat. Pria itu menumpukan kedua sikunya di atas ranjang dan dengan kepala menunduk. Tidak ada yang dikatakannya. Semuanya sudah jelas. Terlalu jelas kalau pria itu menginginkan gadis itu kembali padanya.

Kita tidak pernah tahu kapan jantung ini akan berhenti berdetak. Yang kita tahu detik ini kita masih bisa bernafas dan didetik berikutnya … entahlah.

Jika saja waktu bisa terulang lagi. Sungguh dia ingin membahagiakan gadis di depannya ini. Tapi gadis itu terlalu egois. Dia bahkan tidak menceritakan tentang penyakitnya ini. Dan dia juga tidak tahu kalau pria itu tidak akan bisa bahagia tanpa dirinya.

Oppa, berjanjilah kau akan bahagia.” Suara Sung Ran terdengar parau. Minho mendongakkan kepalanya. Dia menatap mata gadis itu.

“Aku tidak akan bisa bahagia tanpamu.”

“Kalau begitu cobalah membenciku, dengan begitu Oppa bisa melupakanku dan melupakan rasa sakit ini.” Sung Ran tersenyum lemah. “Katakanlah kalau Oppa membenciku!”

Minho tidak mengatakan apapun.

“Jebal…”

Pria itu menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa mengatakannya. Sebenarnya dia bisa saja berbohong dan mengatakan apa yang diinginkan gadis itu, tapi tidak dalam situasi seperti ini.

“Kalau begitu bahagialah, Oppa.”

Suara panjang dan monotone itu seakan membunuh pria yang berada diruangan itu. Dia tahu apa yang terjadi. Dan dia berharap segera dibangunkan dari mimpi buruk ini. bukan. Ini terlalu nyata, karena sakitnya sangat terasa. Dan entah sejak kapan cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya mengalir begitu saja.

Dan sekarang dalam ruangan itu yang terdengar hanya suara isakkan dan jeritan yang tertahan.

Angin musim dingin tidak membuat pria itu beranjak dari tempatnya berdiri. Menahan sesak di dadanya dan matanya yang terus terasa panas. Pohon-pohon disekitarnya menemaninya dalam diam. Mereka seakan mengerti dengan apa yang dirasakan pria itu.

Dia menatap nama yang terukir itu.

RIP, Kim Sung Ran.

Dia berbalik dan cairan bening itu kembali mengalir di pipinya yang pucat untuk kesekian kalinya.

Kim Sung Ran, gadis pertama yang membuat detak jantungku berdegup tak beraturan. Gadis pertama yang membuat darahku mendesir cepat. Gadis pertama yang membuatku merasakan indahnya sebuah cinta. Gadis pertama yang membuatku tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan. Aku memang bukan pria yang pantas untukmu, tapi aku mencoba menjadi pria yang layak berdiri disampingmu, pria yang bisa menjagamu, pria yang selalu menemanimu setiap detik dalam hidupmu. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Tuhan tidak mengizinkan aku untuk melakukan itu semua dalam waktu yang lebih lama. Semoga kau bahagia disana dan aku berharap Tuhan mempertemukan kita di surga, hingga kita bisa hidup abadi dengan cinta yang kita punya.a

FIN

© Charismagirl

HUAA!! Bagaimana? Jelek ya? -__- apa Minho kurang tersiksa? Huahaa *ketawa epil* atau sad-nya kagak ngena? Typo betebaran? Comment yaa… BTW, thanks for read^^ *bow*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “Hate Me, Please”

  1. kasian banget minho… Tp kok ada kata kyuhyun? Typo tuh thor..
    Ditunggu karya yg lainnya..
    Keep writing..

  2. ada yang salah dikit. itu masih ada nama kyuhyunnya. hehe. bagus bagus, penulisannya rapi, tingkat ke-typo-an(?) nya juga cuma pas bagian yang aku sebut itu aja. *menurut saya loh :P* hehe.

  3. Stu kta buat ff ini, mngharukan…typo cman stu *udah di sbutin sma kmen di atas* pnulisa kta2nya? Eumm…kren bgt thor! *ksih jmpol* d^-^b
    Udah sgitu ja kmenku bingung si mau kmen apa lg ffnya keren si boo! Krya slnjutnya di tnggu ya thor! XD

  4. wahahaha typo ada kyuhyunnya!! aku langsung bingung sampe baca berulang-ulang kali xD ngakak. tapi gpp.
    ini ff nya cukup menghayati banget yah :”3 sedih aku baca nya. ditunggu karya ff selanjutnya ya thor^o^

  5. kasian amat ya si Minho,:'( tpi kok ak blum dpt feel sad.a ya? saran aku,lbih baik dimasukin aja kenangan mnis mreka. trus,pas ending minho langsung inget sweet memory.a biar lbih Jleb!
    tpi selebihnya,daebak^^ i like it:-) *maaf kebanyakan kicau*^^v

  6. Nice ff thor 🙂 Tapi ada typo. Ada nama kyuhyun, terus kata di bagian terakhir itu, ‘punya.a’ seharusnya bukannya ‘punya’, ya thor? hehe 😀
    Tapi aku suka ff nya bagus! keep writing~

  7. gak perlu bilang ada typo kyuhyun kan? di komen udah banyak ini ya hihi.

    wuaaaaa. Sedih. Tapi kurang jleb gimanaaaa gitu (?)

    YA AMPUUUUN ONEW JADI DOKTER DONG! DOKTER GANTENG WAAAAAAA #teriak2 gaje

    “Apa wajahku seperti sedang
    bercanda?” Onew menunjuk wajahnya
    sendiri. —> gatau kenapa pas scene (?) ini aku bayangin onyu muka sangtae gitu -_-v muehehe

  8. yaah.. maap T.T saya baru baca komen kalian (karena saya baru tau ini dipublish)._.//

    iyaa typo… aarrghhh KYUHYUN!! kau kenapa nyempil?! *dilempar batu*
    iya nih saya kurang teliti pas ngeditnya._.a maafkan sayaaa *sujud2*

    @all reader : makasih udah baca, makasih juga koreksinya. gara2 Kyuhyun *.__.//plak* FF sad ini jadi agak komedi ==a, banyak yg ngakak kayaknya.
    dan Onew memang dokter ganteng, karena muka dia yg paling cocok jadi dokter trus pake baju putih gitu u,u

    maaf juga ya yg protes kurang panjang 🙂

    kamsahamnidaaaaa~!!! *boww*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s