Do You Know?

Author               : Amy Kamilia

Main Cast          : Choi Minho

Length               : One shoot

Genre                : Romance, friendship, dll. (bingung,hhe ..)

Rating               : PG-15

Description     : Setiap sentuhan yang ia berikan untukku, membuat jantungku berdetak lebih cepat, membuat wajahku merona merah, membuatku menjadi yeoja paling beruntung sedunia.

Inspiration by “ETUDE HOUSE”

Do You Know?

Senyumannya. Tawanya. Sorot matanya. Aku suka! Entahlah, mata besar itu memandang dengan cara yang berbeda. Berbeda dari yang lainnya. Membuat semua orang yang melihat sorot mata itu, tidak bisa mengalihkan pandangannya. Terhipnotis? Ya, memang benar. Jadi siapkan mental jika ingin melihat sorot mata itu. Wajahnya yang tampan dan tubuh tinggi, menambah nilai plus untuk dirinya. Tak heran hampir yeoja di universitasku ini mengaguminya. Tunggu dulu, apa kata ‘hampir’ itu cocok untuk kalimat itu? Sepertinya tidak. Lebih tepatnya, semua yeoja yang ada di universitasku itu mengaguminya. Termasuk diriku. Namun diantara semua yeoja di universitasku, hanya aku yang paling beruntung.

Mian telah membuatmu menunggu lama ..” suaranya yang berat itu membuyarkan lamunanku. Aku hanya membalasnya dengan memberikan senyuman terbaikku, Aku menyodorkan sebotol air minum untuknya. “Gomawo.” Ucapnya lagi. Kemudian ia meneguknya hingga habis.

“Apa latihannya sudah selesai? Ayo kita pulang ..” rengekku manja.

“Kau ini ..” Ia menyentuh puncak kepalaku dan mengacak – ngacak rambutku. Itu kebiasaannya jika aku sudah merengek manja padanya. “Tunggu sebentar lagi ya, aku mau mandi dulu. Kau tidak mau pulang bersama orang yang berbau matahari bukan?” candanya sambil berlalu meninggalkanku yang masih terduduk dibangku penonton di pinggir lapangan basket.

“Jangan lama – lama!” teriakku padanya. Ia segera berbalik dan mengacungkan kedua ibu jari tangannya. Tak lupa diiringi dengan senyuman manisnya.

Oh ya, aku lupa memperkenalkannya. Dia adalah Choi Minho. Orang yang aku ceritakan daritadi. Mari kita lanjutkan cerita yang sempat tertunda karena kedatangannya. Yah, aku bisa dibilang beruntung. Karena apa? Karena aku telah mengenalnya sejak aku masih duduk di bangku sekolah. Dan selama itu pula, aku mengaguminya. Lebih dari seorang teman. Lebih dari seorang sahabat. Aku pikir itu hanya rasa suka yang terjadi pada anak sekolah. Tapi aku sadar ternyata pikiranku salah. Ternyata perasaanku lebih dari itu.

Bolehkah aku menyalahkannya? Ya, semua ini salahnya. Andai saja sikapnya tidak seperti ini padaku, mungkin rasa itu tidak akan pernah tumbuh dalam diriku. Tersenyum padaku, tertawa bersamaku, merangkulku, menggenggam tanganku, memelukku, mengancak – ancak rambutku. Setiap sentuhan yang ia berikan untukku, membuat jantungku berdetak lebih cepat, membuat wajahku merona merah, membuatku menjadi yeoja paling beruntung sedunia.

“Ayo kita pulang ..” ucap Minho yang sudah rapih dengan kemejanya. “Karena kau telah menungguku latihan basket, aku akan membelikanmu es krim. Eotteo?”

“Kebetulan sekali, aku sedang ingin es krim. Kajja ….”  Ajakku sambil menarik tangannya. Minho mengikutiku tanpa protes.

“Dari dulu kau belum berubah ya? Selalu saja bisa digosok dengan es krim.” Minho mencubit kedua pipiku gemas.

“Biar saja ..” aku menjulurkan lidahku dan Minho malah mencubit hidungku. Kebiasaan yang tidak pernah ia lewatkan sekali pun. Kemudian ia tertawa puas.

Aku memperhatikannya yang berjalan di sampingku. Setiap lekuk wajahnya. Entahlah, apa aku tidak salah lihat? Senyuman itu tidak pernah luput dari wajahnya. Senyuman yang aku sukai.

Wae? Ada yang salah di wajahku?” tanyanya. Aku tertangkap basah sedang mengamatinya. Hmm .. mengamatinya atau menikmatinya ya? Hahahaha ..

“Apa ada yang terjadi hari ini? Kau tidak henti – hentinya tersenyum.” Ucapku berterus terang. Minho hanya menggelengkan kepalanya namun senyuman itu belum juga hilang. “Lalu ada apa? Ayo ceritakan padaku ..” aku menarik – narik lengan kemejanya.

“Hari ini tidak terjadi apa – apa. Lebih tepatnya belum terjadi apa – apa ..” aku kembali menatapnya dengan dahi yang berkerut. “Dan kau akan menjadi orang pertama yang akan tahu. Maka dari itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Ucap Minho sambil merangkulku.

“Memangnya kita mau kemana?” Minho tidak menjawab pertanyaanku. Malah senyumannya semakin menjadi – jadi. Aku yang kesal mencubit pinggangnya cukup keras.

“Auuuuuuu!” ringisnya. “Mengapa kau mencubitku?”

Aku mendengus kesal. “Es krim-ku mana? Aku tidak akan ikut denganmu jika kau tidak membelikanku es krim.” Ancamku.

“Oh aku lupa, hhe .. baiklah kita beli es krim, setelah itu kau ikut denganku. Arra?

Tunggu sebentar .. Jangan berpikir aku dan Minho berpacaran. Karena memang kenyataannya seperti itu. Aku dan Minho tidak berpacaran. Aku dan dia hanya bersahabat. Untuk sekarang ini kita masih bersahabat. Tentu saja aku berharap memiliki hubungan yang lebih dari itu dengannya. Namun aku sadar betul, semua itu akan terjadi jika ia pun memiliki perasaan yang sama denganku. Kalau tidak?

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia tahu aku memiliki perasaan yang lebih terhadapnya. Apa aku masih bisa berjalan disampingnya seperti ini? Bercanda bersamanya dan yang lainnya. Hmm .. itulah yang aku takutkan selama ini. Mungkin hubunganku dengannya akan berubah. Tidak akan pernah sama lagi seperti dulu. Jadi, lebih baik aku simpan perasaan ini bukan? Agar kau tetap disisiku. Walaupun hanya sebatas sahabat, tapi tak apalah .. Aku pengecut ya? Biarlah. Biarkan aku dan hatiku yang tahu tentang perasaan ini.

“Mengapa kau hanya memandangi es krim-nya? Kau tidak suka?” tanya Minho. Rupanya ia sedang memperhatikanku. Ya, es krim pemberiannya kini sudah berada di tanganku namun tanpa sadar aku belum menyentuhnya sama sekali.

Ne? ah aniyo hhe ..” ucapku dengan cengiran khasku. “Oh ya, kita sebenarnya mau kemana? Kau belum menjawab pertanyaanku yang satu itu.”

“Taman bermain.” Jawabnya singkat sambil menarik tanganku. Menuntunku agar aku tetap bersamanya dan tidak meninggalkannya.

Ya! Aku bukan anak kecil yang senang main seluncuran.” Aku menjitak kepalanya.

“Siapa yang mau mengajakmu main seluncuran?” Minho mengusap – usap kepalanya yang dijitak olehku. “Aku hanya ingin ke sana. Banyak orang yang mengatakan pemandangan sore hari di taman bermain itu sangat indah.” Jelas Minho.

Minho kembali menggenggam tanganku, aku hanya bisa pasrah mengikuti keinginannya. Sesampainya disana, ternyata taman bermain itu sedang sepi pengunjung. Kami berdua memutuskan untuk duduk di sebuah kursi taman yang berhadapan langsung dengan seluncuran di taman bermain itu. Ya, memang benar kata Minho. Pemandangan disini memang sangat indah. Langit yang berubah warna menjadi orange kekuningan tampak begitu jelas dihadapanku. Begitu romantis.

Gwaenchana? Mengapa kau terlihat gugup sekali?” aku memperhatikan wajahnya yang diselimuti oleh kegugupan. Bahkan senyuman yang sedari tadi ia pamerkan, tidak terlihat sama sekali.

Minho tak menjawab pertanyaanku, namun ia membalas menatapku. Tatapan mata itu .. Entahlah, aku tak bisa membacanya, namun yang jelas jantungku kembali berpacu dengan cepat. Sebenarnya apa yang akan Minho lakukan disini? Aku yakin tujuannya kemari bukan hanya untuk memandangi langit saja, tapi apa? Tiba – tiba saja ia menundukkan kepalanya dan kembali terdiam. Aku yang tidak suka dengan sikapnya yang seperti ini, segera aku melepas tas punggungku dan menariknya menuju seluncuran.

“Temani aku bermain seluncuran.” Pintaku yang tak peduli ia mau bermain seluncuran atau tidak.

“Kau bilang, kau tidak suka bermain seluncuran, lalu mengapa mengajakku bermain seluncuran?” akhirnya Minho mengeluarkan suaranya juga setelah kami menjejaki kakinya di taman bermain ini. Sepertinya ia sudah kembali lagi.

“Ya sudah kalau kau tidak mau main, aku saja ..”

Aku meninggalkannya begitu saja dan mulai menaiki setiap anak tangga seluncuran itu. ketika sampai di puncak seluncuran, aku mencoba untuk melirik Minho namun ia sudah tidak berdiri di tempatnya tadi. Ternyata ia berada di belakangku hanya saja seorang yeoja menjadi pemisah diantara kami. Tas punggungnya pun sudah ia lepaskan dan disimpan disamping tas punggungku. Aku memutuskan untuk segera meluncur ke bawah, kemudian kembali menunggu giliranku berseluncur lagi tepat di belakangnya. Ya, aku akan mengerjainya hahahaha .. Namun sebelum itu, aku menghampiri tas punggungku untuk mengambil botol air minum. Yah, terkadang aku merasa haus setelah memekan es krim. Mungkin Minho juga.

“Minho tang … …”

Ketika aku hendak melemparkan botol minum kepadanya, tanganku tiba – tiba saja terhenti di udara. Waktu berhenti berputar untuk beberapa saat. Mataku membulat besar seakan untuk memastikan penglihatanku tidak salah. Dan memang benar, tak ada yang salah. Minho mencium yeoja itu. Yeoja yang berdiri di belakangku saat aku bermain seluncuran. Minho menciumnya! Kedua tangannya mendekap tubuh mungil yeoja itu, tak membiarkan yeoja itu menjauh darinya satu centimeter pun.

Buuukkkk!

Botol minum itu terjatuh dari genggaman tanganku. Dan suara itu juga berhasil membuat dua orang yang sedang bercumbu itu menghentikannya. Hanya saja, untuk beberapa saat. Tak lama kemudian mereka melakukannya lagi! Berciuman lagi! Sontak membuat tanganku membungkap mulut agar tidak menjerit. Menjerit menahan setiap sayatan – sayatan pisau tajam di hatiku.

Seperti inikah rasanya melihat seseorang yang kita cintai menemukan orang yang dicintainya? Tapi bukan kita? Aku membutuhkan udara untuk bernapas. Namun percuma! Begitu banyak udara di sekelilingku tapi tetap saja aku sulit untuk bernapas! Tenggorokanku seperti dicekik kuat. Bahkan dada ini terasa begitu sesak. Sampai akhirnya aku merasakan pandanganku mulai memburam karena mataku yang sudah tidak bisa menahan rasa sesak ini. Air yang sedari tadi aku bendung di pelupuk mataku, kini jatuh bebas membasahi pipiku.

Air itu untuk pertama kalinya keluar dari sudut mataku. Aku menangis karena dirinya. Dirinya yang tak pernah sekalipun terlintas dibenaknya tentang diriku yang menyukainya. Ah .. maksudku mencintainya. Ingin rasanya memaki dirimu dan mengatakan semuanya. Mengatakan apa yang seharusnya aku katakan sejak dulu! Apakah kau tahu, aku selalu memikirkanmu? Apakah kau tahu, jauh di dalam lubuk hatiku, aku berharap kau menjadi milikku? Apakah kau tahu, aku MENCINTAIMU?Ya, kau tak pernah tahu itu, karena aku terlalu takut untuk mengungkapkannya padamu. Menggungkapkan isi hatiku selama ini …

THE END^^

Ditunggu kritik dan sarannya .. gomawo J

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Do You Know?”

  1. Thor,sequel dong,alur cerita nya menarik..oh ya thor,minho mau ngomong apa sih ke ‘aku’ pas ditaman itu pas di menatap ‘aku’ dengan serius itu,udah ah komen nya aq bingung mau komen apa,pokok nya daebak dah buat nie fanfic.keep writing

  2. minho kau menyebalkan???!!! apa kmu ga ngerti perasaan sahabat ndiri?? dan bisa2.a ciuman lgi stelah ketauan??? omona!!! kau ini!!*gorok flamers masal*

  3. endingnya nyesek banget thor..
    Ada typo harusnya disogok malah digosok..
    Itu doang kok typonya menurut saya hehe.
    sequel dong, jelasin sebenernya minho ngajak k taman itu mau ngomong apa..

  4. huweeeeee~ sedih pisan T^T
    TISU MANA TISU? MANA HAH? #riweuh

    yaampun sedih. Ini etude-nya yang bagian kiss minho sama sandara yak? #sotau

    tapi… aku masih bingung sebenernya siapa cewe yg minho cium. Pacarnya kah? terus gimana perasaan minho ke sahabat ceweknya itu sebenernya…

    i need a sequeeeeeel huahahaha

  5. Aduhhh… nyesek bangettttt…
    Sumpah deh 😥

    Hik hik hik… *ngelap ingus*

    Aku kira Minho bakal nyatain perasaannya sama cewek itu, ternyata malah cium cewek laen,
    Haduh haduh, kerasa banget sakit hatinya thor

    Daebak euyyy!
    Terusin karya selanjutnya thor 😀

  6. kayanya minho ngajak ke taman cuma mau bilang kalaw dia mau nembak cewe ya??
    bagus ko ceritanya, tp sayang sad ending, buat sekuelnya lg dong!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s