Between Two Hearts – Part 9 (End)

Between Two Hearts[9] : Charming Side Of Key (End)

Title : Between Two Hearts

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Choi Minho, Kim Kibum, Lee Serra, Han Sunny

Support Cast : Lee Taemin, Kim Jonghyun

Length : Sequel

Genre : Romance

Rating : PG-15

A. N : Holaaa…ini part akhirnya…leganya aku karena akhirnya aku kepikiran hal yang ‘greget’-nya di part akhir. Tadinya aku mau bikin ini jadi 2 part lagi, tapi ntar part 10-nya malah jadi pendek banget. Yaudah aku tamatin aja di part ini. Happy reading all…^_^

Summary:

Key: “Lalu, apa yang ingin kau lakukan? Marah, dendam pada Serra? Lalu membunuh Serra—tidak rela jika Serra yang hidup dengan memakai jantung Sunny, begitu? Itu artinya kita sama-sama menghancurkan pengorbanan Sunny.”

Serra: “Aku merasakannya juga Key. Lalu sekarang siapa identitasku? Mengapa aku merasa terjebak di antara dua hati? Sekarang, siapa yang sebenarnya membuat jantungku berdebar, mengapa kau?”

+++++

Key’s POV

Ternyata benar, dugaanku tidak meleset, Sunny hamil karena Minho. Yeoja itu…Arrghhh…kebodohan apa yang sedang dilakukannya?

Rasa penolakanku untuk tidak mempercayai hal ini terbantahkan dengan kemunculan Lee Taemin. Ini konyol.

Hyung, memang betul Sunny Nuna bermaksud jahat pada Serra Nuna dan Minho Hyung, aku pun sangat marah saat pertama kali mendengar pengakuannya. Tapi, kisah selanjutnya membuatku dilema sekaligus terharu. Kalian ingin mendengar kisah yang mana dahulu dariku?” Taemin kembali menatapku, aku hanya bisa menatapnya nanar.

Serra, kulihat gadis itu tampak kaget, tidak menyangka bahwa Sunny ingin menyingkirkannya, dan kemudian menggantikan perannya.

“Sebelum dua hal lanjutannya. Aku ingin bertanya, apa tujuannya ingin menyingkirkanku?” kurasa Serra sangat tidak sabar, ia menyerobot pertanyaan Taemin.

“Sabar Nuna. Itulah yang membuatku dilema. Nuna, kau tentu sudah tahu kalau kau bukan putri kandung, yang tidak kau tahu adalah—keluarga aslimu, dan mengapa kau bisa sampai berada di lingkungan keluarga Lee, iya kan?”

Aku hanya menyimak, ini bukan areaku—sudah menyangkut kisah keluarga Serra, aku awam soal ini karena memang Sunny tidak pernah bercerita tentang ini.

“Jadi, maksudmu—aku adalah putri dari keluarga Han, keluarga yang sama dengan Sunny?”

Ne, dan kalian berdua adalah saudara kembar.” Jawaban Taemin sedikit banyak membuatku terhenyak, bukan kaget karena perihal saudara kembar tersebut, tapi karena memikirkan motif Sunny yang paling mungkin.

“Kusela sebentar, sedikit aneh, kenapa Sunny ingin menghancurkan saudaranya sendiri?” Berat, rasanya kepalaku ingin pecah saat mengucapkan pertanyaan itu.

Author’s POV

“Kusela sebentar, sedikit aneh, kenapa Sunny ingin menghancurkan saudaranya sendiri?”

“Itu karena, ah, sebelumnya aku perlu tahu apa hubunganmu dengan Sunny Nuna?”

Taemin berhenti sejenak, ia rasa Key tidak perlu mendengar banyak hal jika memang status Key tidak penting dalam masalah ini.

“Aku? Dia mantan, ani, sebenarnya tidak pernah ada kata putus, jadi kuanggap dia adalah yeojachingu-ku. Sungguh, aku tidak menyangka Sunny melakukan hal seperti ini.” Key mengusap wajahnya sembari menghirup oksigen banyak-banyak, kali ini ia bahkan membuka jendela di ruangannya agar rasa sesaknya sedikit lebih ringan karena kedatangan angin segar.

Geurae, karena kau memang orang dekat Sunny Nuna, kau boleh mendengar cerita ini. Begini, seandainya, posisi kalian ditukar, maksudku—yang saat itu diberikan kepada keluarga Lee adalah Sunny Nuna, maka Serra Nuna akan menjalani kehidupan yang berat—karena kenyataannya kondisi kehidupan keluarga asli kalian tidak mudah.” Taemin melanjutkan kisahnya, kali ini matanya benar-benar menatap Serra dengan tajam.

Pabo! Hanya orang serakah yang berpikir seperti itu. Dengar Taemin, harusnya Sunny bersyukur karena dia yang tinggal bersama orang tua kandung kita….” Serra menangis kali ini, mengetahui kenyataan bahwa orang tuanya sengaja menyerahkannya pada keluarga Lee.

“Tidak seperti itu juga!” Key menyanggah, hatinya sedikit tidak terima karena Sunny dinilai serakah.

“Diam! Aku tidak tanya pendapatmu.” Serra marah. “Bagiku, kekayaan keluarga Lee tidak akan bisa menggantikan posisi keluarga asliku. Semiskin apapun, sesulit apapun, tinggal bersama orang tua kandung sendiri adalah hal yang sangat kudambakan.” Tangis Serra kian pecah.

“Sebentar, Nuna, berpikirlah jernih. Nuna diserahkan kepada keluarga Lee bukan karena mereka tidak menyayangimu, tapi karena kondisi jantungmu. Apa kau pikir biaya berobat itu murah? Sangat mahal…apa kau pikir operasimu itu murah? Intinya Nuna, jangan melihat dari sisi buruknya saja.” Taemin mulai mengambil sikap, menentang pemikiran Serra—yang menurutnya, sangat sempit.

Serra tidak membantah, tapi tetap hatinya terasa sakit walaupun ucapan Taemin ada benarnya.

“Taemin benar, aku melihat sendiri bagaimana perjuangan Sunny untuk bertahan dan bangkit. Andai itu kau, aku tidak yakin kau masih hidup sampai saat ini. Satu lagi, aku sebenarnya sakit mengetahui ini, Sunny mendekati Minho karena ingin menggantikan posisi Lee Serra. Aku sakit karena aku tak dianggapnya, aku bukan siapa-siapa baginya, karena nyatanya aku dikalahkan oleh obsesi Sunny. Tapi memang seperti itulah dia, yeoja penuh obsesi,” Key menambahkan tanpa berani memandang Serra. Sosok Serra mengingatkannya pada Sunny serta sebuah kenyataan pahit yang mengiringinya.

“Satu lagi, yang akan merubah pemikiranmu tentang Sunny Nuna. Dia melakukan semua itu karena dia tidak pernah tahu bahwa jantung Serra Nuna sangat lemah, jadi wajar rasanya jika ia memendam rasa iri yang besar.”

“Taemin-ssi, pertanyaanku—satu lagi. Apa kau tahu dimana Sunny berada sekarang?” Suara Key sedikit terbata, ada getaran hebat yang menelusup masuk saat mengucapkannya, sesuatu yang dirasakannya tidak baik.

“Di sana.” Taemin mengarahkan telunjuknya dengan lemas pada sosok Serra.

“Maksudmu?” Key dan Serra sama-sama terhenyak, masing-masing tenggelam pada interpretasinya akan pernyataan Taemin.

+++++

Key masih tak bergeming walau sedari tadi Jonghyun terisak di sampingnya dan berulang kali mengutuki kebodohan Sunny. Jonghyun tidak menyangka kalau Sunny memiliki sebuah obsesi mengerikan—ini sekaligus membuatnya mengutuki diri sendiri, mengapa tidak pernah menyadari gelagat aneh Sunny.

“Ya! Beraninya kau tak mengacuhkanku? Kim Kibum, sekarang katakan padaku, sikap apa yang harus kita ambil?” Jonghyun emosi menghadapi Key yang hanya terpaku seperti orang bodoh di depan jendela ruangan tempat mereka berada kini, kamar Key.

Hyung, jangan seperti anak kecil yang sikapnya harus diarahkan. Kau harus menentukannya sendiri. Lagipula, memangnya kita bisa apa? Toh Sunny sudah tiada—memilih pergi untuk menebus kesalahan besarnya. Kita bisa apalagi, Hyung!” Key berang, gerah melihat orang yang lebih tua darinya—justru mengangis berurai air mata seperti anak kecil.

“Kau ingin pasrah terhadap kematian Sunny, huh?” Jonghyun tidak terima.

“Lalu, apa yang ingin kau lakukan? Marah, dendam pada Serra? Lalu membunuh Serra—tidak rela jika Serra yang hidup dengan memakai jantung Sunny, begitu? Itu artinya kita sama-sama menghancurkan pengorbanan Sunny.”

Jonghyun terpojokkan, seketika amarahnya menguap—setuju dengan ucapan Key, ia tidak akan menghancurkan  pengorbanan Sunny, tidak boleh ada dua Sunny yang meninggalkan dunia ini.

“Biarlah jantungnya tetap hidup bersama tubuh yang lain. Yang terpenting, Sunny tetap hidup di sini, di hati kita. Sekarang, ada baiknya kau kembali ke rumahmu, sudah tidak ada lagi yang perlu kau urus di sini hyung…Aku akan menjaga Sunny yang ada di dalam tubuh Serra….”

“Huh, kau mengusirku, Key? Dongsaeng kurang ajar!” Jonghyun menatap mata Key dengan matanya yang sudah sembab kemerahan.

“Ah…bukan, aku tidak bermaksud, sungguh. Aku hanya ingin kau menggunakan waktumu dengan baik.” Key panik, merasa kelepasan bicara—membuat Jonghyun salah menginterpretasikan makna ucapannya.

Tak lama Jonghyun tersenyum tipis, sedikit sendu. “Hanya bercanda. Ne, kau benar. Kita harus berhati besar menerima kepergian orang yang kita sayang. Satu hal yang bisa kita lakukan, menjaga warisan terakhir Sunny—dalam tubuh Serra.” Jonghyun tersenyum lagi, berusaha ikhlas menerima semuanya.

Ne, Hyung tak perlu khawatir. Aku tahu apa yang harus kulakukan, menjaga warisan Sunny.”

+++++

Author’s POV

Kacau, kepalanya terasa berat bagaikan ditindih ratusan ton batu—sedikit berlebihan memang perumpamaannya, tapi memang seperti itulah yang Serra rasakan. Penuturan Taemin membuat isi kepalanya bertambah kacau. Sekarang, apa ia masih boleh membenci Sunny? Sosok yang sempat menghancurkan rumah tangganya—di satu sisi, jantungnya yang kini berdetak, adalah milik Sunny.

Tidak, seharusnya aku berterima kasih pada Sunny, bukan membencinya lagi. Kenapa hal seperti ini harus terjadi? Membuatku berada pada pilihan yang sulit. Orang boleh menganggapku berlebihan—tapi, sebenarnya ada rasa sakit yang sangat dahsyat karena suatu hal, pahit.

 

Pikiran-pikiran yang saling bertentangan memenuhi seluruh rongga kepalanya. Tidak juga menemukan kesimpulan akhir mengenai keputusan hatinya.

Sembab, entah berapa banyak air mata yang telah terurai sejak datang ke rumah. Ia merasa matanya sangat berat untuk di buka.

Ah, tidak, tidak boleh tidur, ada yang harus dibicarakan dengan Minho, tekad Serra dengan sekuat hati. Ia beranjak dari tepi jendela kamarnya, tidak ingin lagi menghabiskan waktu dengan melamun, menangis, dan terpaku bodoh seperti orang kehilangan harapan.

Kakinya dipaksa melangkah menuju dapur, menghampiri wastafel—membasuh wajahnya sepuas mungkin. Setelah merasa dinginnya air dapat meredam tangisnya, ia membuka pintu kulkas, mencari-cari buah, makanan, atau minuman yang dapat menyegarkannya—nihil, ia belum belanja, pikirannya terlalu kalut untuk mengingat tugasnya sebagai seorang istri.

Ckrekk,

Terdengar suara pintu ruang tamu terbuka, “Serra, I’m coming!” Minho berseru riang, memberikan sapaan hangatnya untuk Serra yang biasanya sudah menanti.

Tidak ada jawaban, Minho tersenyum simpul. Ah, mungkin sedang mandi, pikir Minho.

Perutnya yang sudah mengeluarkan bunyi pun menyeret langkahnya menuju ruang makan, tidak ada apapun tersaji di atas meja, Minho masih mencoba tersenyum—memaklumi kondisi istrinya yang belum lama keluar dari rumah sakit.

Seharusnya ia jangan dulu memberhentikan pembantunya, menyesal—merasa bersalah karena telah menuruti keinginan Serra yang mengimpikan menjadi istri baik, yang mengurus suaminya dengan tangan sendiri.

Ia melangkah ke dapur, bermaksud untuk sekedar memasak mie instan. Didapatinya Serra sedang terpaku menghadap kulkas, memegang tengkuknya sembari memijat-mijat pelan. Minho tersenyum lagi, ia merasa tahu apa yang harus dilakukan.

Ssstttrt,

Tangan Minho melingkar di pinggang Serra, memeluk gadis itu dari belakang—membuat Serra makin terpaku. Satu tangan Minho pindah dari posisi semula, beranjak ke leher Serra—menyingkirkan tangan yeoja itu dari tengkuknya, “Biar aku yang usap.” Bisik Minho lembut.

Yeoja itu hanya diam, tidak protes maupun mengiyakan, dan pada akhirnya Minho mengusap-usapnya lembut, sesekali memberinya tekanan agar ketegangan yang Serra rasakan berkurang.

“Sudah selesai, Choi Minho-ssi?” Serra bertanya dingin, membuat gerakan tangan Minho membeku seketika.

“Serra-ya, mengapa kau mendadak menggunakan kata yang formal?” Minho mengernyit heran, merasa ada yang aneh pada kalimat, maupun nada suara Serra.

“Siapa yang sedang kau usap, kau pijit, dan kau peluk tadi?’ Serra makin meninggikan suaranya, ia mulai berang.

Mwo? Tentu saja aku ingin memberikan layanan sore istimewa untuk anae-ku. Kau keberatan?” Minho makin tidak mengerti.

Anae-mu,  Lee Serra? Atau Han Sunny?” Serra menyeringai sinis.

“Apa maksudmu? Kau sedang marah padaku?”

“Coba pikir dan ingat. Kau, berubah sikap—ah, maksudku, kau berubah menjadi orang yang sangat memedulikanku sejak kapan? Sejak aku siuman pasca operasi, apa kau merasa tidak aneh?”

Minho’s POV

“Coba pikir dan ingat. Kau, berubah sikap—ah, maksudku, kau berubah menjadi orang yang sangat memedulikanku sejak kapan? Sejak aku siuman pasca operasi, apa kau merasa tidak aneh?”

Masalah apa lagi yang menimpa rumah tangga kami? Mengapa di saat aku berjuang untuk mencintainya, ia justru mempertanyakan perasaanku? Tidak bisakah ia memberiku waktu, sedikit ruang untuk meyakini diri sendiri kalau aku memang mulai mencintainya? Bukannya justru memojokkanku dengan pertanyaan seperti itu.

“Serra-ya, kau meragukanku?” Aku kesal dibuatnya, tidak habis pikir mengapa peristiwa seperti ini harus ada.

“Tentu. Kau juga bahkan perlu ragu pada dirimu sendiri. Sekarang, saat kau melihatku, siapa yang sedang kau lihat? Aku, atau justru sosok Sunny yang terbayang—atau bahkan terasa olehmu?”

Pedas, sejak kapan ucapannya menjadi tajam seperti itu? Ia bukan Serra yang kukenal, yang lemah lembut dan santun kata-katanya. Ya, kalau seperti ini, ia mirip Sunny.

Ne, kau benar. Kenapa aku baru sadar kalau yang kulihat adalah Sunny, bukan Serra.” Aku menjawab jujur, berharap ia menyadari sikapnya yang kelewatan.

Tanganku disingkirkannya kini, aku menarik tubuhnya kasar—memaksanya untuk menghadapku. Kudapati ia yang tengah berlinang air mata, wajahnya yang sudah berminyak karena keringat, dan pipinya yang sudah merah padam.

Aku tidak ingin melihatnya seperti ini, menangis sekaligus menampakkan wajah yang dikuasai aroma kebencian untukku—seolah bersiap menikamku detik ini juga.

“Huh, tentu saja, karena aku—ani, separuh ragaku adalah milik Sunny. Dan alasan mengenai rasa kepedulian, rasa sayang, dan sikap romantismu yang mendadak muncul sejak aku keluar dari rumah sakit adalah, karena kini jantung Sunny ada di dalam tubuhku, membuat aku masih bisa berdiri hingga detik ini.”

Oh Tuhan…kenyataan mengerikan apa lagi ini? Yeoja nenek sihir itu pendonor jantung bagi Serra?

Serra’s POV

Kulihat ia masih terpaku, tidak membalas apapun ketika aku menyampaikan sebuah fakta yang sebenarnya berat untuk kuakui juga.

“Kali ini kau ingin berkelit seperti apa lagi, Minho-ssi?” Aku tak sabar menunggu jawabannya, aku yakin dia bingung menjawabnya, karena hatinya mengakui pesona Sunny.

“Aku tidak berkelit. Beri aku waktu dua hari untuk berpikir. Sementara waktu aku akan menginap di rumah yeodongsaeng-ku.”

Kulihat matanya memerah, tapi raut wajahnya masih tegas, membatu. Tidak sedikitpun kutangkap rasa kesedihan. Tentu, untuk apa ia bersedih? Ia memang tidak mencintaiku, dan inilah peluangnya untuk menceraikanku.

“Berpikirlah,” jawabku singkat.

Air mataku kembali tumpah. Kututup wajahku dengan telapak tangan, tidak ingin Minho melihat air mataku lagi.

Ia menarikku mendekat padanya, memelukku dalam dekapan erat, ingin berontak—namun tenagaku sudah terlanjur terkuras untuk menangis.

Oh Tuhan…harusnya aku bahagia. Ini pelukan yang sudah kuidamkan sejak lama, pelukan kehangatan dari tubuh kekarnya. Tapi sayangnya, ini bukan sepenuhnya untukku—ia hanya iba padaku, atau memperlakukanku sebagai Sunny. Aku pun cukup kesal pada diriku, mengapa aku tidak bisa mempercayainya penuh, tidak bisa berpikir positif saja tentangnya dan tentang cinta yang hinggap mendadak pada rumah tangga kami?

“Aku pergi, jagalah dirimu selama dua hari ini. Jangan drop lagi.” Ia mengelus puncak kepalaku pelan, dapat kurasakan kelembutannya menjalari setiap jengkal tubuhku.

Makin sakit rasanya. Harusnya ia tak usah memelukku, tak usah mengusap kepalaku, karena nyatanya ia minta waktu berpikir, artinya ia memang ragu—perasaan cintanya padaku sangat tipis, atau bahkan tidak ada— makanya ia berpikir. Bukankah begitu logikanya?

+++++

Author’s POV

Ditekannya bel rumah tersebut tiga kali, belum ada sahutan. Ia tidak menyerah, sekali lagi diulangnya—berharap sang tuan rumah memberinya pintu.

Harapannya terwujud, tak lama pintu terbuka—orang yang membukanya mematung, tidak percaya melihat kedatangan sang tamu.

Pagi masih bercengkrama hangat dengan penduduk bumi, burung masih asyik berceloteh ria menyapa dedaunan yang berembun. Lalu ada apa gerangan sang tamu menemui dirinya?

“Boleh aku masuk, Serra-ssi?” tanya sang tamu.

“Masuklah, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu juga,” jawab sang tuan rumah, berusaha bersikap ramah dengan membuang jauh-jauh berjuta rasa penatnya.

Ctrekkk,

Pintu di kunci kembali oleh sang tuan rumah—khawatir ada yang masuk, mengingat yang akan dibicarakannya adalah hal yang privat.

Thanks telah membukakan pintu. Serra, ah, tidak bisa, aku tidak bisa memanggilmu Serra, karena kau tetap Sunny-ku. Selamanya, selama jantung itu masih berdetak.”

Mata Serra kembali basah, benci semua orang menganggapnya sebagai Sunny.

“Key, bisakah kau tidak berbeda dengan Minho?” Serra pasrah, tidak ada gunanya ia marah lagi. Namun tetap saja, hatinya teriris—mengapa yang dicintai oleh dua namja itu adalah Sunny?

“Tidak beda dalam  hal apa?” Key bertanya santai, tangannya meraba-raba sebuah lukisan abstrak yang tergantung di salah satu dinding di ruang tamu rumah Serra.

“Sebesar itukah keistimewaan seorang Han Sunny, sampai-sampai kau, dan yang membuatku sakit—Minho pun mencintai Sunny, bukan aku?”

“Jelas beda. Sejak dulu hingga detik ini, memang Sunny yang aku cintai, kalau Minho aku tidak tahu. Dan, memang Sunny meninggalkan warisan di dalam tubuhmu. Jantung, kau bayangkan, jantung adalah organ terpenting. Juga, melalui detak jantung kita dapat merasakan kehidupan, perasaan, dan isi hati seseorang. Aku bisa merasakannya, milik Sunny. Kau ingin merasakannya juga?” Key tersenyum simpul, tapi kali ini ucapannya mulai serius.

“Merasakan apa?” Serra bengong—tak mengerti maksud Key.

Lagi, entah sudah berapa kali, Key menarik paksa tubuh yeoja—bukan Sunny kali ini, tapi Serra, pemilik jantung Sunny.

Key mendekapnya erat. Ia meletakkan wajahnya di bahu Serra, terdiam—menikmati perasaan lega ketika rindunya yang membuncah, kini tersampaikan.

“Aku mendengarnya, merasakannya, detak jantung Sunny. Sekarang, apa kau bisa merasakan detak jantungku? Apa kau bisa merasakan kesungguhan hatiku? Aku tidak peduli siapa kau kini, dari dulu yang kucintai memang Sunny. Tidak berubah. Dan dia bersama tubuhmu kini, jadi selamanya kau adalah Sunny-ku, aku akan mencintaimu—dua hati, kau dan Sunny. Lalu kau, apa kau merasakan—ah, bukan kau, tapi jantungmu. Apakah detaknya bertambah cepat? Berdebar menerima pelukanku?”

Dua hati? Serra tertegun. Ya, ia merasakannya juga—di antara dua hati. Ia tidak bisa berbohong—saat ini jantungnya berdebar, sekaligus merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Key.

“Aku merasakannya juga Key. Lalu sekarang siapa identitasku? Mengapa aku merasa terjebak di antara dua hati? Sekarang, siapa yang sebenarnya membuat jantungku berdebar, mengapa kau?” Serra makin terkesiap, tenggelam dalam pelukan Key—dan memeluknya balik.

“Kalau Minho ragu, aku tidak ragu. Kau maupun Sunny adalah satu, tidak dapat dipisahkan, ah, aku saja yang tidak bisa membedakan. Serra, bolehkah aku memanggilmu Sunny?”

“Lakukanlah Key, aku memang Sunny-mu….” Serra menyerah. Bagaimana pun, ia merasa nyaman bersama Key, mungkin bukan dirinya—tapi Sunny yang menyatu dalam dirinya.

Lagipula, ia menyerah dengan perasaannya pada Minho. Karena sampai kapan pun, Minho tidak akan bisa mencintainya. Buktinya sudah bukan sebulan atau dua bulan, melainkan beberapa tahun. Ia hanya akan menyakiti dirinya sendiri jika terus mengharapkan Minho.

“Tetaplah seperti ini untuk sementara, Key. Buat aku tenang dalam dekapanmu.” Air mata Serra turun, entah air mata apa yang kali ini mengalir, Serra tidak mengerti. Yang ia tahu, ia membutuhkan Key saat ini, selama Minho belum memutuskan.

+++++

Minho’s POV

“Sekarang, kalian harus bicara baik-baik.”

Aku memandangi wajah penuh kedewasaan itu, tampangnya sedikit galak kali ini.

“Jinki Hyung, ada apa? Mari masuk dulu.” Aku mengajaknya masuk, tapi tidak menyapa Serra yang datang bersamanya, sedikitpun tidak. Bukan karena marah padanya, tapi khawatir ia tidak memedulikannya dan justru melemparkan ucapan ketus lagi, tidak enak perang dingin di hadapan Jinki hyung.

“Aku sudah tahu masalah kalian. Minho, apa kau sudah punya keputusan?” Jinki hyung bertanya, lebih tepatnya menodongku. Tapi ia masih menghormatiku, setidaknya ia menerima ajakanku untuk masuk ke dalam rumah adikku ini.

“Sudah. Tadinya aku akan ke rumah untuk bicara dengan Serra, tapi berhubung kalian sudah datang, aku bicara saja di sini.”

Oppa, aku ingin pergi.” Serra tampak meronta, ingin melepaskan tangannya dari cengkraman Jinki, ia tak berani memandangku sedikitpun.

Aku masih bisa menangkap matanya yang memerah sembab, menyesali perbuatanku karena membuatnya harus menunggu dua hari, sama saja dengan membiarkan air matanya turun dua hari lebih lama. Apa aku orang jahat? Ya, aku merasa diriku sangat jahat.

“Tidak, bicara sekarang, sampai jelas. Aku akan menahanmu di sini.” Jinki hyung tetap keras kepala, dan sepertinya aku harus bersyukur Jinki hyung ada di sini.

Aku mencoba tersenyum pada Serra, berharap semua kerutan wajahnya menghilang—berganti dengan senyuman ramah sebagai balasan untukku.

Sia-sia. Ia tidak membalasku, dan justru menunduk takut. Serra-ya, apa aku sangat menyakitimu? Membuatmu tersiksa? Seolah aku ini adalah monster yang akan melumatmu, membuatmu menunduk ketakutan.

Hyung, bisa tinggalkan kami berdua? Aku pastikan pembicaraan ini tuntas.” Kali ini aku yang melepaskan tangan Jinki hyung dari tangan Serra.

Ne, aku hanya berpesan, kalian harus sama-sama dewasa. Aku tidak tahu perasaanmu, Minho. Tapi aku tahu pasti Serra mencintaimu dari dulu sampai sekarang.”

Serra bereaksi, menggeleng kuat-kuat. Kau kenapa Serra-ya? Mengingkari pernyataan terakhir Jinki hyung?

Serra’s POV

Ne, aku hanya berpesan, kalian harus sama-sama dewasa. Aku tidak tahu perasaanmu, Minho. Tapi aku tahu pasti Serra mencintaimu dari dulu sampai sekarang.”

Jinki Oppa, mengapa kau mudah mengambil kesimpulan? Sekarang justru aku yang ragu dengan perasaanku, bukan ragu, tapi… terjebak.

Aku menggeleng kuat, ingin rasanya mengingkari ucapan Jinki oppa tadi.

Apa kau tahu kenapa aku merasa terjebak? Aku benar-benar terperangkap dalam permainan dua hati. Di satu sisi, rasa cintaku pada Minho masih besar. Tapi rasa takut membuatku menyerah, menenggelamkan diri pada kehangatan Key.

Oh Tuhan…aku berdosa besar. Menyakiti dua orang, juga menentang sebuah norma…

Flashback

Pagi yang cerah, sinar matahari yang menembus masuk melalui ventilasi kamarku membuat suasana menjadi hangat.  Aku bangun, merasa seluruh tubuhku sangat linu. Kusibak selimut yang membalut tubuhku. Omo, mengapa terasa ada suhu hangat di bagian pinggangku? Andwaeeeee, apa yang kulakukan semalam?

Kubuka bagian selimut yang menutupi gundukan panjang di sebelahku, seorang namja masih melingkarkan tangannya di pinggangku, matanya masih terpejam dengan senyuman damai yang terulas di wajahnya. Ia, namja yang kupinjamkan piyama Minho semalam, setelah kaos dalamnya dibasahi keringat deras, sayangnya dia bukan Minho, dia pencuri! Aku bahkan belum pernah melakukannya dengan Minho!!

Kusingkirkan tangan namja itu dengan segera, ia hanya bergumam tidak jelas, masih bermimpi mungkin. Sementara aku? Menangis sesenggukan, merasa berdosa atas semua dosaku, merasa bersalah pada Minho juga.

“Key, irona…,” bisikku lirih, lemah, tak tahu harus berbuat apa.

“Sunny-ah, kau menangis?” Namja itu bangun, menggeliat, bangkit, lalu duduk di sampingku, di tepi ranjang.

“Semalam, apa yang kita berbuat?”

Key masih terdiam, bisa kudengar suaranya menelan ludah, saking heningnya suasana di ruangan pada detik ini.

“Key…apa yang kita lakukan semalam?” Kata-kataku masih sama, dan ia kembali tidak menjawab.

Key meraih pundakku, kali ini aku menepisnya keras, tidak ingin lagi terhanyut dalam kehangatan dan kelembutan Key.

“Jangan lagi, Key. Kalau kau memang mencintaiku, ah, entah siapapun yang kau cintai, aku bingung.” Aku makin terjebak dalam kebuntuan berpikir, isi kepalaku masih terseret pada relung dosaku dan beberapa detik kemudian terseret pada bayangan sosok Minho.

“Mengapa kau menangis? Hmmm, kau menyesal?” Key bertanya lembut.

“Ya! Aku menyesal!” Aku justru membalas kelembutannya dengan ucapanku yang bernada kasar. Aku begitu marah pada diriku yang bodoh ini, marah juga pada Key.

“Baiklah…aku pulang, tidak akan mengusikmu. Kalau kau menyesal, berarti memang hatimu untuk Minho, bukan untuk seorang Kim Kibum.” Kulihat matanya mulai basah, tapi belum ada air yang tumpah dari sepasang bola hitam bening itu.

“Segampang itukah kau menyudahi perbuatanmu?” Aku marah, kesal mendengar ucapannya yang seolah tak bertanggung jawab.

“Lalu apa maumu? Kalau kau ingin pertanggungjawabanku, dengan senang hati kulakukan. Jika kau memilih Minho, selamanya aku akan tutup mulut.” Ia menatapku sendu kini.

Aku kembali luluh, merasakan sorot mata Key yang dipenuhi cinta yang berada diambang kepedihan. Ia tulus, bahkan bersedia bertanggung jawab? Berarti Key serius, tidak hanya menyalurkan nafsunya sebagai namja. Lalu, apa yang harus kulakukan? Siapa yang harus kupilih?

“Aku mencintai Minho, Key…,” jawabku pilu. Ya, pilihan yang sulit, butuh waktu lama memikirkannya.

Sehangat apapun Key, aku sadar, yang sedang merasakan kehangatan Key adalah Sunny, bukan aku. Yang kucintai adalah Minho, selamanya Minho.

“Baiklah…aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh. Kalau nanti ada sesuatu yang tumbuh, terlahir ke dunia ini, rawatlah dia, anggaplah dia adalah warisan Sunny—” Ia menahan ucapannya, membuat keheningan kembali menyeruak.

“Aku tidak berbohong, Sunny sangat mencintaiku—dia pernah bilang kalau suatu hari nanti—dia ingin menikah denganku, memiliki anak dariku. Dan nyatanya, yang semalam bersamaku adalah Sunny, bukan kau. Jika kau keberatan, aku bersedia merawatnya dengan senang hati, karena bagaimanapun aku berperan dalam penyatuan dua sel itu. Semuanya terserah padamu.”

Aku terdiam seribu bahasa, memandang Key takjub sekaligus pilu. Key, jawabanmu  membuatku ingin menangis lebih kencang. Dilema, sakit, sekaligus merasa terharu pada ketulusanmu….

Flashback End

Minho mengajakku ke kamar tamu—kamarnya menginap sementara di rumah adiknya ini. Aku berjalan gontai, mau tidak mau menurut, ingin menghindar rasanya. Aku tidak sanggup menghadapi Minho, melihat senyumnya, melihat ketenangannya kini.

Hatiku bergejolak tidak beraturan, makin menjadi—terasa seperti genderang yang bertalu-talu tanpa irama yang jelas. Tunggu, ini hatiku yang bergejolak, bukan jantungku.

“Serra-ya, mari kita menggunakan kepala dingin, bicara dari hati ke hati. Dengarkan penjelasanku, jangan memotong.”

Aku mengangguk pelan, lemas. Masih bolehkah aku menggantungkan harapan setinggi langit? Berharap mendengar jawaban yang melegakan dari mulut Minho—bahwa yang dicintainya adalah aku, bukan Sunny. Seperti aku yang telah memilihnya, bukan Key.

Key, arrrggghhh…apa yang harus kuperbuat? Kuharap tidak akan tumbuh benih akibat perbuatan semalam. Kalaupun terlahir, aku yang harus merawatnya? Inikah bentuk terima kasihku pada Sunny yang telah memberikan jantungnya padaku? Mewujudkan impian Sunny yang katanya sangat mencintai Key dan ingin memiliki anak dari Key?

“Memang benar, selama pernikahan kita, aku tidak mencintaimu, tapi bukan berarti aku membencimu. Rasa sayangku hanya rasa sayang seorang kakak pada adiknya. Tapi, semuanya berubah, aku yakin. Berubah saat hari itu kau tumbang di dekat pintu depan rumah kita, bukan saat kau siuman setelah operasi.”

“Minho-ya….” Aku merasa bersalah pada Minho.

Mengapa hari kemarin harus ada? Mengapa untuk mendengar pengakuan cintanya—aku harus terseret dalam permainan kotor lebih dahulu?

Aku cengeng. Ya, aku sangat melankolis, nyatanya sekarang aku menangis.

“Jangan memotong…dengarkan sampai selesai.” Ia meminta dengan lembut, sementara jemarinya menyentuh wajahku, menghapus air mataku.

“Saat kau koma, kritis, aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu, belajar mencintaimu. Karena bagaimanapun, aku telah bersedia menerima perjodohan, menikahi kau. Berarti, aku harus bertanggung  jawab. Awalnya hanya rasa tanggung jawab, tapi aku berani bersumpah, aku benar mencintaimu kini. Jadi, jangan pernah meragukan perasaanku lagi sekalipun gosip kencang di luar sana menerpa rumah tangga kita lagi.”

Aku memeluk Minho, menumpahkan air mataku yang makin membuncah di bahunya. “Mianhae…aku meragukanmu, tidak akan kulakukan lagi.”

“Jadi, mulai sekarang, serahkan seluruh jiwa ragaku untukku, nampyeon-mu. Jadilah Nona Choi yang baik, yang mencintaiku dengan segala kekuranganku.”

Aku mengangguk. Jiwa, ya…hanya jiwaku yang utuh. Karena ragaku lebih dulu kuserahkan pada pemilik hati yang lain.

FIN

+++++

Otte? Butut banget ga? Sejujurnya aku kurang suka kisah ini, abis romance banget—aslinya aku ini buta romance. Aku tipe orangg yang ga terlalu mikirin cinta-cintaan, cuek, terus sok bisa-bisanya bikin cerita romance. Oya, di part ini ga ada pesen moral—aku bener-bener lagi ga jadi orang bijak  #emang pernah bijak? Boro-boro. Maaf kalo masih nemu typo, ngeditnya dalam keadaan genting soalnya.

Nah, sekarang ngerti kan maksud judul Between Two Hearts? Kalo belum, baca lagi! #maksa.

Okelah, aku cuma mau pesen, minta kritik sarannya ya….dan, no sequel.

Don’t be silent reader. OK?

 

Epilog:

Hari minggu, hari di mana aktivitas kantor dihentikan sejenak karena hari ini adalah hari untuk keluarga. Terlebih, Tuhan sedang menitahkan matahari-Nya untuk bersinar cerah, menghangatkan tubuh, menghantarkan sinarnya yang kaya vitamin D agar merangsang pertumbuhan bocah cilik itu, bocah yang tengah berlarian riang bersama Minho, hanya untuk mengejar kupu-kupu yang berterbangan di taman depan rumah.

Sementara, di tepian taman—seorang yeoja tersenyum melihat gelagat suaminya dan pangeran ciliknya. Ia menyeruput susu dari gelas di hadapannya, mengelus-elus perutnya yang makin membuncit, berisikan calon kehidupan baru yang ia rajut bersama untaian manik-manik cinta dari suaminya, Minho.

Sebuah mobil berhenti, pengemudinya tersenyum dari balik kaca hitam mobil, menyaksikan bocah yang sedang berlarian itu—yang tidak lama kemudian berhenti berlari karena menyadari kedatangannya.

Yeoja itu, Lee Serra, menaruh gelas susunya, memberanikan diri mendekati tamunya, walau jantungnya masih berdetak kencang setiap kali berada di dekat sang tamu. Ia berjalan pelan, berusaha meredam kinerja jantungnya dahulu—jelas, tersusul oleh sosok mungil yang berlari dengan penuh semangat.

“Key Ajusshi!!” pekik bocah itu riang, berhambur menyambut orang yang masih berada di dalam mobil—sedang melepas sealtbelt-nya.

Minho berlari mendahului sang bocah lalu mengangkat tubuh mungil itu dan berjalan mendekati mobil Key. “Selamat datang di rumah kami, Key. Ingin ikut bermain bersama kami?” tawar Minho dengan semangat begitu Key sudah keluar dari mobil.

Ne, tentu saja, aku sudah lama tidak menikmati hari mingguku karena pekerjaan kantor. Mari bermain!” Key ikut gembira, meraih bocah yang ada digendongan Minho ke tubuhnya, lalu mengelus-elus rambut halusnya.

Morning, Key.” Serra menyapa dengan intonasi yang dibuat senormal mungkin.

“Pagi Sunny, ah, Serra maksudku.” Key tertawa kecil, masih mengelus sosok mungil yang sedang bersamanya.

“Sung Hyun, kau tidak keberatan kan aku ikut bermain?” Key bertanya dengan wajah gemasnya, memandangi Sung Hyun yang kian hari makin tumbuh sehat.

Ne, tentu saja. Aku senang bermain bersama Ajusshi,” Sung Hyun menjawab ceria, mencubit-cubit pelan pipi Key dengan jemari mungilnya.

“Sung Hyun-ah, jangan panggil aku Ajusshi. Panggil aku… Key appa. Arasseo?” Key memegangi jemari mungil Sung Hyun kini.

“Key Appa?” Minho dan Serra bersuara bersamaan.

Minho menatap Serra, Serra menatap Key, Key menggedikkan bahu—menatap Sung Hyun, terkekeh santai.

Ne, Key Appa,” jawab Sung Hyun menuruti permintaan Key.

“Anak pintar….” Key memeluk Sung Hyun gemas, mencium pipi bocah itu berkali-kali. “Kau mirip appa-mu,” bisiknya di telinga Sung Hyun.

Epilog End

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

66 thoughts on “Between Two Hearts – Part 9 (End)

  1. lho? lho? lho? jadi sunghyun itu anaknya key atau minho? *readerlemot*
    terserah deh anak siapa… –”

    endingnya keren~ kayaknya aku gak nmu typo deh.. tulisannya rapi kok😉
    eh, tapi kalo anak yg di perut serra pas epilog itu anak minho beneran kan?
    jadi sunghyun itu anaknya key? ooouu… baru ngerti sekarang… hehehe…

    daebak~ romancenya kerasa kok~ walau sebenernya aku emang gak begitu peduli ttg cinta-cintaan… tapi pas bagian-bagian galaunya serra sama minho kerasaaaa sekali…

    fighting!!! ^^

    1. Iya kaloyg diperut Serra sih jelas anak Minho. Kalo yang bocah itu, errr, gimana yang baca deh mau memaknai seperti apa😛

      Makasih yawww udah mampit😀

    1. Maap baru balesin lagi, baru bisa pegang lepi lagi soalna

      Ehehe, emang lebih suka yg gantung2 sih dasarnya aku

      Makasih ya udah mampirrrr😀

  2. sunghyun itu anak key ya?
    Klw yg d kandungan serra psti anak minho?
    Sedih banget sih serra d anggap sunny, klw menurutku walaupun jantung milik sunny tp raga milik serra. Jadi key harusnya ga berhak suka ma serra trus anggap dia sunny.. Hehehe maaf ya banyak omong

    1. Anaknya siapa yaa? Hehe… monggo dinilai masing2 itu anak siapaa?
      Nah klo yg di kandungan itu emang anak Minho

      Aku… lebih ngerasa sedih krn Key baek banget. Hadeuhhh, untuk yg kesekian kalinya aku bikin nasih Key kurang beruntung😦

      Makasih ya say udah mampirrr.
      Btw km kelahiran taun berapa? Aku mesti manggil eonni ya yaa?😀

  3. nah lho…
    hepi atw sad ending nih…
    ending ff ni kykx laen dr yg laen d…kesanx baik key maupun minho sm2 bs ”dapetin” serra…
    wlwpun agk dongkol jg cz serra lbh milih minho ktmbng key…
    it sung hyun ankx key y…

    keren bib…
    plg nggak aq g hrz berurai air mata nangisin nasib key…

    1. Hepi dan sad bersamaan eon, hehe…

      Nah ini yg kumaksud aku akan sedikit berbaik hati sama Key, ga beruntung tp ga sedih2 amat juga, ehehe… *peluk Key*

      Sung Hyun anaknya siapa? Hehe, gimana yg baca aja mau nganggep anak siapaa

      Makasih eonni udah setia mampir di ff2 ku, jgn bosen2 yaaa😀

    1. anaknya siapa aja bisaaa, tergantung orang mikirnya kayak apa aja deh😀

      Wahh, fans berat Minho sih pasti girang yaa? Aku yg notabene cintanya ama Onyu n Key mah sedih sebenernyaa, hehe…

      Makasih banyak ya udah mampirr😀

  4. Asik asik asik😀 akhirnya end, dan endnya bagus pisan euyyy
    Author yang daebak!

    Aku suka semua tokoh di sana, mereka memiliki kepribadian masing2, dan sifat maupun perasaan tersampaikan dengan bagus lewat kata2mu thor🙂

    Dan pesannya, daleeemmm banget😛

    hehehe, lanjutkan karya2mu yang lain thor
    saya tunggu, dan selalu ditunggu😉

    1. Bagus ya? Syukurlahhh…

      Aku seneng kalo ff-ku kerasa bermakna di hati yang baca ^^

      Makasih Nisaa, ff yang lain ditunggu aja yaa?😀

  5. Kyaaa~ slesai jga akhirnya ff nih slesai, endnya bner2 kren sngguh mngharukn, feelnya dpt bgt ahh…pkonya 2 jmpol dh buat bibib d^-^b

    1. Nahh, sekarang ngerti kan eon apa maksud komenku di page talk talk talk? Jadi ini emang sedih n bahagia di saat yang sama, hehe…

      Iyaaa, namja segera terbit eonn, mampir yaaa

      Makasih banyak eonni udah setia mampirr😀

  6. Ahirnya setelah kutunggu2 ff ini
    keluar jg,
    aduuh keren buanget thor, yah walopun sebenarnya krang ikhlas krna serranya ga’ dpet key tp, tetep keren kok thor, thor ffmu emang slalu keren. . .

    1. Aku juga agak2 ga ikhlas sih, ehehe…

      Eh, km baca ff-ku yang laen? Aku yg baru liat username km, ato km ganti nama, atau emang aku yang pikun? hehe…

      Makasih banyak yaa udah mau mampirrr😀

  7. klo ak jdi minho pasti skit ati bgt!! knp bsa hamil anak orang?? tpi daebak!! aku suka. bner2 kerasa dilemanya. keep writing ya thor!!

  8. waaaa… mulianya hati suamiku key😛. jadi makin cintaaaaaaaa deh. hehehee. eung, kalo menurut aku yang sunghyun itu anaknya key? iya ga bibib eon? hehee. mian, aku gajago tebak2an. hohoh. ff nya bagus!!! aku suka!! apalagi sama karakternya suamiku key disini, hatinya mulia banget!!! u,u. hehehehe. aku juga suka sama karakternya serra, karakternya aku banget!!!! tegas tapi kurang bijak *nah lho gimana tuh?* hoho. pokoknya aku suka sama ff ini!!! huahahaha😛. aku tunggu karya selanjutnya^^🙂

    1. Jiaah, ngaku2 sebagai istri Key.

      eh eh, Serra menurutku ga cukup bijak dan ga cukup tegas juga sih

      Iyaa, makasih ya Anggie udah mampir ke ff ini, ff yg lain ditunggu aja yaa😀

  9. End juga, bagus endingnya gag nyangka kalo Serra goyah karena jantung Sunny yang berdebar hanya untuk Key T..T. Tapi aku suka ama endingnya Serra ama Mino bersatu lagi… kalo dipikir2 ini kayak karma, Mino menggambil apa yang berharga dari Sunny dan Key mendapatkannya dari Serra…

    aku cuma nemu satu kok typonya ‘ jantung adalah
    orang terpenting.’ Itu kayaknya maksudnya organ terpenting, itu aja…#mian kalo salah ^^V

    Seneng banget baca ff yang konfliknya complicated… DAEBAKK!!!

    1. Iya, hukum karma memang berlaku kan?

      Ocee, typo-nya udah diperbaiki, thx banyak ya😀

      Makasih ya Fa, udah ngikutin ff ini ^^

      Jangan bosen mampir ke ff-ku dan ff2 lainnya di sf3si ini yaa

  10. Yey end !!
    Btw, authornya kok selalu buat cast Key nya kayak gini ya!! selalu menjadi orang yang mengalah dan gak dipilih (?) *inget Kiyun*
    Aaaaa eomma~
    Yaa!! Apakah Minho tau kalo Serra dan Key pernah… #abaikan
    Emm.. totally ff ini keren kok🙂 Aku selalu nunggu kelanjutannya.
    Buat ff baru lagi ya thorr!!
    *ppyong*

    1. Emmm, sebenernya beda sih karakter Kiyun n Key d ff ini.
      Ujung nasibnya juga ga sama persis, hehe…

      Lahh, itu kan ada ff-ku yg judulnya namja sama forward yang belom tamat. Mampir yaa ke ff-ku yg laen😀

      Makasih banyak udah ngikutin ff iniii ^^

  11. Aku slalu suka ending versinya bibib….kekekkkk…
    Biar deh gantung,,,tp gantungnya keren…haha…
    Ahh…Key…aku jg between two heart ma kamu…onyu bentar yahh..minggir dulu..hahaha…plakk #ngekkk

    Biarin aja mino nya ga tau smp seumur hidup tuh anaknya key….hahaha… *ketawa evil

    Bib,,,namja…namja…namja…
    Nglirik key nya lg kumat …hahaha
    *pengaruh teaser key dazzlinggirl🙂

    1. Omaigad eon, tadi baru di kasih tunjuk sama Nandits poto teasernya. Aaaaaak, aku meniru jejakmu eon. Kita selingkuh masal yuks ama Key. Onyu? Kita balsemin dulu biar awet tak lekang waktu #apadeh
      Aaa, Key kerenya ga ketulungan di teaser ituuuu *seretKey
      Lah, kok jadi bahas Key. Ga apa deh, lop u deh tante key

      Mino, ga apa deh nasibnya kubikin sial. abisnya di ff2 dia tuh hoki mulu n terkesan terlalu perfect hidupnya😛 #MantanPacarYang KurangAjar

      Namja 4 udah ada kok, namja 5 menyusul yaaa. Aku lagi nulis namja 7 tp belom kelar n masih ngerasa ada yg kurang logis di part 6-nya

      Makasih eonni udah mampir 2 kali di ff ini😀

      1. Namja 4 udh ada?dmana..dmana?
        Selingkuh massal??hahaha…ngakak bacanya…
        Tp ga tega jg klo onyu d balsemin…aplg td hbs dgr in your eyes nya onyu…jd melting abisss dger suaranya…. Aaaaaaaaaa ….
        *bener2 dah between two hearts nya…key…onyu…key…onyu….

        Mslh mino,,,setuju banget nget nget….hahaha…

  12. “Dan, memang Sunny meninggalkan warisan di dalam tubuhmu. Jantung, kau bayangkan, jantung adalah orang terpenting.” -typo, organ jadi orang
    “Tetaplah seperti ini untuk sementara, Key. Buat aku tenang dalam sekapanmu.” -sekapan? atau dekapan?
    jahat banget kalo sekapan mah…..

    kirain cuma sampe minho ngomong itu doang endingnya, eh ada epilognya…
    tapi itu sunghyun anaknya siapa ya? gak dikasih ciri-cirinya sih… coba ada ciri matanya sipit apa belo, jadi bisa ketebak itu anaknya siapa….

    between two hearts aku kira cuma minho yg terjebak antara serra dan sunny, tapi setelah merhatiin posternya lagi emang lebih mengarah ke serra yg hatinya bergetar utk minho tapi jantungnya berdetak keras utk key🙂
    selamat bibib, sudah menyelesaikan ff ini…
    ditunggu ff selanjutnya🙂

    1. Iyaa, kelewat waktu edit. Udah dibenerin kok😀

      He? Kalo dari poster, aku niatnya mau mengesankan kalo semua main cast di ff ini terjebak di antara dua hati. Minho terjebak di antara Sunny dan Serra. Bagitu Juga Key dan Serra. Kecuali Sunny aja yang engga merasa terjebak😀

      Iya nih, rasanya kalo udah nyelesain satu ff itu legaaaa banget. Ada perasaan deg-deg-an tiap satu part-nya terbit, takut berasa butut gimanaa gitu😦

      Makasih ya udah setia mampir di ff2 ku🙂
      Jangan lupa mampir ke Ff Namja dan Forward😀

  13. huaaa,akhirnya terbit juga kelanjutannya..
    daebak thor..
    secara ga langsung si minho dpt balesan dari seera..
    ditunggu FFnya yg terbaru ya ^^d

  14. ‎​안녕 bibib eon, msh inget aku?:mrgreen:
    Ah iya, mian bbrpa part trkhir BTH aku jarang komen u.u

    Back to the story….. Aaaaaaa~ gila! Aku gak nyangka ini ending BTH bkln kyk gini. Brrti crtnya mrka impas dong, d awali sm minho-sunny dan d akhiri key-serra._._.

    Aaaaa~ pkknya msh speechless aja smpe saat ini, crtanya kok jadi gini? :O
    Tapi bagus sih aku setuju serra ttep milih minho, mskpun rada dilema juga soalnya key baik bngt. Tp bgmnapun yg key liat itu kan ttep sunny bknnya serra._._.

    At last, ffnya bibib eon emng slalu unexpected deh! Daebakk~! ^^

    1. Komen tambahan lagi nih eon, sung hyun itu anak key ya? Woaaah beneran jadi? Dan minho bener2 gak tau soal itu?._._.

      1. Inget atuh, masa lupa

        Iyap, impas. Semua perbuatan ada imbasnya kan?

        Sung Hyung, errr, menurutmu anak siapa?😀

        Nah loh, unexpected beda kan sama unpredictable. Unexpected mah tidak diharapkan. Apa aku yg salah ya?

        Makasih banyak ya Mahdaa udah setia ngikutin ff ini

        Jangan bosen2 mampir k ff-ku yg laennya😀

  15. Sung hyun anaknya Key kan?!
    Iihh sumpah deh thor aku rada gimanaaa gitu ama ending-nya.
    Hhh.. molla aku bingung tp yang jelas ada susuatu yg buat aku kurang puas dgn ending-nya ._.v tp setidaknya aku senang Serra-nya milih Minho😀
    Hmm.. Seperi biasa always daebakk, dr semua ff mu yg udah aku baca 1 pun ga ada yg bisa ketebak endingnya d^^b selalu penuh kejutan.
    OnKey dehh.. ditunggu karya daebak selanjutnya😉

    1. Endingnya jelek atau gimana eon? Ga apa bilang aja eon ^^

      Makasih eonni ya udah setia mampir di ff2-ku, ff lainnya ada Namja ama Forward (Duet sama Heartless eon), mampir lagi ya:D

  16. sunghyun itu anaknya key kan
    minho tau ga ya klo itu anaknya key??
    jadi serra msh berdebar klo ketemu sm key
    tp dia cintanya sm minho
    jadi bingung
    tp aku setuju serra sm minho
    kalo sm key serra akan terus d anggep sunny pdhal biar gmn pun jg dia ttp serra
    cuma jantungnya aja yg milik sunny
    *ngomongapasih

  17. baru ngeh kalo uda tamat..
    dan baru comment #mian
    entah kenapa sedih sama key disini, sedihnya berasaa banget.. dari dia balik uda nga pernah ngobrol enak ma sunny, tau2 mati aja..
    udah sama jjong aja deh #ship jongkey mode

  18. ending~
    hhoho
    kirain aku selesai sampe ‘FIN’ doang~
    ternyata ada lanjutan sam tuntas tas-nya😀
    daebak ceritanya~
    meskipun masih ada typo-dikit- yg bertebaran :p hehe
    keep writing thor🙂

    1. iya banyak yah typonya, maapin yahhh

      cerita ini menurutku butut, tp syukurlah kalo km menikmati. Thanks berat ya udah mau baca ff ini dan ninggalin jejaknya ^^

  19. author nim maafkan diriku yg baru koment di part terakhir ini;;_;;)v

    keren sekaleee ceritanyaaa
    padahal ff lama tp baru baca.-.
    walau ada bbrp typo tp aku suka gaya bahasa plus plotnya~

    keep writing!!~~
    btw forward kpn dilanjutㅠㅠㅠㅠ

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s