Love is Blind

Author: Boram.Onyu

Main Cast: Park Jiyeon (T-ara), Choi Minho (SHINee), Park Jiyong (OC)

Length: Stand alone ( 2704 words )

Genre: Angst, romance

Rate : General *woow, ratenya turun*

Recommended Song : Bigbang-Blue, Davit Guetta ft Usher-Without You

U’d better read this before :  Love is Blind-end of tragic love-

 

            Jiyeon merapatkan jaketnya. Meski musim semi sudah mulai, tapi tubuhnya masih tetap saja merasa dingin. Langkah kakinya melambat, tepat berhenti di depan beberapa bunga yang bermekaran. Bunga anggrek berwarna ungu, yang bergelantungan manja di tangkainya membuat kedua sudut bibirnya tertarik mengulum senyum. Tangannya maju ke depan, hendak meraih bunga-bunga itu. Tapi seketika tangannya berhenti, seiring air matanya yang mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.

            “Jiyeonni… “

            Jiyeon berbalik ke arah sumber suara. Seorang pria dengan berjas putih berdiri tegap sambil tersenyum. Kedua tangannya disampirkan ke belakang. Jiyeon ikut tersenyum.

            “ Minho ah… “

            Minho manyun. Jiyeon yang melihatnya berusaha menahan tawa gemasnya.

            “ Aku lebih tua tiga tahun darimu! “

            “ Lalu? “

            Minho melotot. Mendapat reaksi datar begitu dari Jiyeon, kembali ia memanyunkan bibirnya.

            “ Oppaaa~ “

            Akhirnya, kata yang sudah lama ditunggunya itu keluar dari mulut Jiyeon. Minho girang setengah mati. Kemudian, kedua tangannya yang tersembunyi dari tadi dimajukan pada Jiyeon. Rangkaian bunga-bunga dalam buket itu cukup mengejutkan Jiyeon.

            “ Satu tangkai anggrek, tak sedikitpun kau keluar dari pikiranku. Lima tangkai bunga lili. Karismamu benar-benar menarikku jatuh lebih dalam padamu. Dan tujuh tangkai bunga primrose, untuk pertama kalinya, aku merasa ada seseorang yang bisa membuatku melupakan segalanya, membuatku detak jantungku bekerja lebih keras, hingga seakan-akan bisa berhenti berdetak saat itu juga. “

            Jiyeon tertegun. Ini bukan pertama kalinya ia diberi bunga, atau dibacakan syair-syair puitis dari pria. Ia sudah muak dengan kata-kata gombal dari tiap pria yang menggodanya. Tapi, kenapa? Kenapa justru saat Minho yang mengatakannya ia tak merasa muak lagi? Malah ia sangat ingin mendengar kalimat-kalimat itu dari mulut Minho lagi.

            Mendapat endikan dari Minho, Jiyeon segera meraih buket bunga itu. Aroma wangi bunga-bunga itu menghipnotisnya. Sementara itu, Minho memasukkan tangannya ke dalam saku jasnya, lalu dikeluarkannya sekotak kecil dengan pita berwarna putih di atasnya. Lantas ia membuka kotak itu, menampilkan sebuah bundaran perak dengan garis emas di tengahnya. Tatahan berlian putih  di tengahnya memantulkan sinar di mata Jiyeon. Dengan gerakan dramatis, Minho perlahan berlutut.

            “ Park Jiyeon maukah kau menghabiskan seluruh sisa hidupmu hanya denganku, menjadi pendamping hidupku? Menjadi seorang Choi Jiyeon? “

Air mata itu tak kunjung berhenti. Jiyeon masih betah berdiri di sana, tetap memandangi bunga-bunga itu dengan pandangan mengabur. Sepasang tangan yang besar dan hangat menariknya ke dalam pelukannya. Di sana, dalam dekapan yang sangat hangat itu Jiyeon menangis keras. Ia meraung-raung sambil mengeratkan kedua tangannya memeluk pria itu.

“ Menangislah, Jiyeon, menangislah jika itu membuatmu lebih baik. “

Jiyong, oppa Jiyeon, terus menepuk punggung adik kesayangannya itu berkali-kali mencoba memberinya ketenangan. Dan saat itu juga, wanita itu kehilangan alam sadarnya, membawanya ke sebuah alam mimpi yang membuatnya melupakan segala keresahannya.

 

****

           

            Langit-langit putih, semua perabotan serba putih, ditambah aroma obat menyadarkan Jiyeon dimana ia sekarang. Sosok oppanya yang tertidur dalam kondisi duduk di sampingnya membuatnya tersenyum.

Park Jiyong, oppa yang terpisah darinya sejak ia masih berumur tiga tahun, kini selalu menemaninya. Berada di sisinya, memberikannya dorongan pada Jiyeon untuk melewati masa-masa terberatnya.

“ Kau sudah bangun? “

Jiyeon tersadar dari lamunannya, dengan segera ia menyungingkan senyum. Senyum terpaksa yang terlihat hambar di mata Jiyong.

“ Kau lapar? “

“ Anio, aku masih kenyang. Oppa makan saja dulu. “

“ Kau harus makan, Jiyeon. “

“ Oppa, jangan memaksaku. Aku akan makan sendiri jika aku lapar. “

Jiyong mendengus. Kekeraskepalaan Jiyeon seringkali membuatnya jengkel. Jiyeon memang sudah makan, tapi itu hanya beberapa suap. Itupun dipaksa Jiyong.

“ Kalau begitu, aku pergi dulu. Jangan kemana-mana! Kau istirahat di sini saja. “

Jiyeon mengangguk. Kemudian Jiyong pun  keluar setelah mencium kening adiknya itu. Ditinggal Jiyong, mata Jiyeon kembali menerawang ke atas. Sesaat kemudian, ia tersentak dan segera turun dari bangsalnya.

****

            Tangan kecil itu mengelus kepala pria yang terbaring lemas di pembaringannya. Ia masih saja tertidur, fisiknya masih enggan menunjukkan tanda-tanda jika ia akan segera sadar. Sementara tubuhnya masih dipenuhi dengan alat-alat kedokteran yang menempel di badannya. Pemilik tangan kecil itu tersenyum perih.

“ Minho ah. Sampai kapan kau mau baring begini? “

Jiyeon masih mengelus kepala Minho yang tetap diam.

“ Rambutmu sudah sangat panjang. Bukannya kau pernah bilang berambut panjang itu sangat gerah? “

Jiyeon menarik kursi di sampingnya, lalu mendudukkan dirinya. Digenggamnya tangan Minho yang makin kurus. Lalu di sandarkannya kepalanya di samping tangan Minho. Matanya tak lepas dari wajah Minho yang makin menipis.

Minho memang masih hidup. Saat ia terjatuh setelah peristiwa bunuh dirinya, seorang security melihatnya dan cepat memasukkan ke dalam ruang ICU. Untungnya, proses operasinya berhasil, meski otaknya lumpuh karena tubrukan keras di otak belakangnya.

Dan terhitung sudah empat bulan lebih sejak peristiwa itu, Minho tak kunjung sadar. Dan selama itu pula Jiyeon tetap di sana, menjaga suaminya tanpa lelah. Ia juga mengontrol perusahaan Minho dari sana, di dekat Minho yang terbaring lemas, dibantu oleh oppanya, Jiyong.

“ Minho, ah. Aku akan menjadi Choi Jiyeon, untuk saat ini, dan untuk masa-masa berikutnya. “

Senggukan Jiyeon mulai terdengar, lalu berubah menjadi tangis. Tangis yang terdengar sangat menyedihkan, bahkan Jiyong yang mengintip dari balik kaca pintu ikut menangis. Tentu, ia merasakan perih yang dirasakan adiknya.

“ Minho, jebal. Bangunlah. Aku mohon, berjuanglah. Berjuanglah agar kau bisa bertahan, demi aku Minho. Demi aku, Choi Jiyeon mu. Dan anak kita. “

Jiyeon belum bisa mengontrol emosinya. Ia tetap terus menangis, lalu tangan kirinya mulai mengelus perutnya. Lima bulan, usia janin dalam kandungannya. Tangan Minho sedikit bergerak, Jiyeon tersentak. Kepalanya terangkat cepat, matanya yang sudah berkaca-kaca, tak henti menatap wajah suaminya itu. Namun tiba-tiba monitor di sampingnya berbunyi nyaring, menunjukkan detak jantung Minho yang perlahan melambat.

“ Minho, Minho… “

Tombol kecil yang menempel di dinding dekatnya ditindisnya berkali-kali. Tak berapa lama seorang dokter dan beberapa orang suster segera datang. Jiyeon mundur, lalu segera keluar dari ruangan Minho. Di luar, Jiyong segera menarik Jiyeon dalam pelukannya.

“ Minho akan baik-baik saja, tenanglah. “

****

            Perut Jiyeon mulai membesar. Tentu saja karena usia kandungannya sudah delapan bulan lebih. Tapi kecantikannya tak juga luntur. Buktinya, beberapa pria yang kebetulan ada di butik bayi itu beberapa kali meliriknya.

“ Semuanya sudah dibayar, Princess. “

Jiyeon tersenyum manis pada Jiyong. Tangannya meraih tangan Jiyong yang memegang beberapa kantong peralatan bayi.

“ Tidak boleh. Wanita hamil mana boleh kerja yang berat-berat. “

Jiyeon memanyunkan bibirnya, kemudian ia menjepit tangannya di lengan Jiyong.

“ Aigo, kalau kau nempel gitu orang-orang bisa mengira kau adalah istriku. Aku tidak akan laku, Yeon. “

Jiyeon mengacuhkan omelan oppanya. Ia makin mendekat ke tubuh Jiyong.

“ Jangan kekanakan begini, Jiyeon! Barang-barang keponakanku ini sangat berat, jangan menambah beban lagi. “

Jiyeon kehilangan kesabarannya. Dengan langkah dipercepat ia meninggalkan Jiyong yang sibuk mengimbangi langkahnya mengejar Jiyeon dan peralatan bayi di tangannya.

“ YA! Kau mau kemana? “

“ Mau kemana lagi! Keponakanmu ini sudah mengamuk minta makanan. “

Langkah Jiyong terhenti. Kemudian senyum lega terpancar dari wajahnya. Akhirnya, keceriaannya perlahan telah kembali.

****

            Jiyeon mengganti baju Minho dengan pelan. Cukup sulit ia melakukannya di saat perutnya sudah membuncit seperti ini. Ia mengangkat handuk kecil dari baskom yang berisi air hangat, kemudian dengan sangat hati-hati ia mengusap tubuh Minho, takut jika salah satu selang infusnya akan terbuka.

Senyumnya tak kunjung lepas dari wajahnya yang makin chubby. Kondisi Minho makin lama makin membaik. Dokter memutuskan hanya menyisakan selang infus dan alat bantu pernapasan saja di tubuh Minho. Bahkan, jari-jarinya sering bergerak kecil ketika tangannya diarahkan ke perut Jiyeon.

Setelah selesai melap basah tubuh Minho, ia kembali memakaikan baju pada Minho. Lalu ia duduk bersandar di kursi. Akhir-akhir ini ia sering sekali merasa lelah. Mungkin saja karena usia kandungannya sudah menghampiri sembilan bulan.

Bukk. Ia tersenyum kecil ketika tendangan kecil terasa di perutnya. Dielusnya perutnya itu penuh kasih sayang. Tapi sayang, tendangan itu tak kunjung mereda. Jiyeon menjengit, kenapa tubuhnya seperti sakit semua. Peluh keringat di dahinya makin banyak, ia gemetar. Kontraksi di perutnya makin menggila.

Sebelah tangannya menggenggam erat tangan Minho, dan tangan lainnya berusaha meraih kenop kecil di sampingnya. Apa daya, tangannya tak sampai. Baru saja ia akan berdiri, tapi tubuhnya seperti terikat oleh rantai besi di kursi itu. Jiyeon menarik napasnya susah payah, sementara keringatnya mulai membanjiri tubuhnya.

“ Jiyeon, waktunya ma… “

Jiyong bergegas menghampiri Jiyeon yang hampir kehilangan kesadarannya. Terburu-buru ia mengangkat tubuh Jiyeon yang sangat berat, tapi entah kekuatan dari mana dengan mudahnya tubuh Jiyeon bisa diangkatnya.

Pelan-pelan Jiyong meletakkan tubuh Jiyeon yang sudah merintih kesakitan. Kalimat-kalimat doa mulai melantun dari bibir tipisnya, sementara ia berdiri di depan pintu kamar bersalin.

Di ruang lainnya, sepasang tangan bergerak pelan seiring matanya yang terbuka. Mata itu mengerjap sedikit, mencoba membiasakannya terkena sinar lampu di atasnya. Matanya berputar, kemudian tangannya yang lemah bergerak ke atas membuka alat bantu pernapasannya.

“ Jiyeonni… “

Ditariknya selang infus di tangannya dengan paksa. Pandangannya berputar. Ia ingin sekali bangkit dari bangsal itu, tapi sayangnya tubuhnya menolak perintah dari otaknya. Terbaring selama sembilan bulan lebih membuat otot persendiannya kaku. Alhasil, ia terjatuh ke samping.

“ Omo, tuan Choi… “

Suster yang kebetulan akan mencek kondisi Minho segera menghampiri Minho yang mengaduh kesakitan.

“ Yeonni… “

Suster itu terlihat bingung, kemudian ia menindis kenop di tangannya mengisyaratkan agar perawat lainnya akan membantunya. Cengkraman di bahu suster itu membuatnya histeris, belum lagi wajah kesakitan Minho yang terlihat menyeramkan baginya. Beberapa perawat lainnya berdatangan, membantu Minho kembali berbaring di atas bangsalnya.

“ Dimana dia? Istriku dimana? “

Suara Minho terdengar lemah. Minho mencengkeram tangan salah satu perawat itu, mengiba meminta jawaban dari pertanyaannya. Perawat di belakangnya angkat bicara.

“ Ah, Jiyeon ssi. Em, maksudku nyonya Choi. Kudengar ia kontraksi. “

“ Mwo? “

“ Dia akan melahirkan. “

****

            Jiyeon menarik seprei kasur dengan keras. Erangan dari mulutnya tak kunjung berhenti. Beberapa kali ia hampir pingsan, sampai Jiyong harus masuk ke dalam ikut menenangkan adiknya.

“ Hanya salah satunya yang bisa diselamatkan, bayinya atau ibunya. “

Jiyong mengepalkan tangannya. Urat-urat lehernya menonjol, sementara gemerutuk giginya mulai terdengar.

“ Anakku.. Anakku.. Selamatkan anakku. “ Jiyeon tersenyum lemah pada Jiyong.

“ Aku mohon oppa.  Aku mohon. “  Jiyong menggeleng keras.

“ Tidak, kau bisa memilikinya lagi nanti. “

“ Minho, dia… “

“ Dia akan sadar, Jiyeon. Kalian akan memiliki anak nanti… “

Jiyeon menggeleng, kemudian ia mengerang. Antara rasa sakit di perutnya dan hatinya yang terus meronta ingin menyelamatkan anaknya. Jiyong segera keluar dari ruang bersalin itu sambil menunduk lemas.

“ Tidak! Jangan bunuh anakku! Jiyong oppa! “

Jiyong menutup telinganya. Air matanya sudah tak bisa ditahannya. Dalam isakannya itu, terlihat sepasang kaki yang bersandar di kursi rodanya tepat di depan ruang bersalin. Jiyong mengangkat kepalanya, dan ia kaget setengah mati. Pria berkursi roda itu, yang didorong oleh seorang suster mengiba pada dokter agar bisa dimasukkan.

“ Dia istriku! Biarkan aku masuk! “

“ Jangan bercanda tuan. Suami nyonya Choi ada di sana. “

Si dokter menunjuk ke arah Jiyong. Alis Minho terangkat, apa mungkin Jiyeon sudah menikah lagi? Tapi kenapa ia merasa sangat familiar dengan wajah itu. Sementara Jiyong tak mampu berkata apa-apa, ia masih terlarut dalam prasangkanya, mengira jika pria di sampingnya bukanlah Minho.

“ Aku tak peduli dia suaminya! Yang jelas aku ingin bertemu dengannya! “

Aaaargh! Si dokter cepat masuk ke dalam ruangan mendengar jeritan Jiyeon, yang juga membuat Minho dan Jiyong panik bersamaan.

“ Suster, tolong bawa aku masuk. “

Jiyong mendorong Minho masuk ke dalam tanpa persetujuan dokter lebih lanjut. Melihat kondisi Jiyeon yang hampir kehilangan seluruh kesadarannya, Minho merapat ke arahnya. Ia menggenggam tangan istrinya itu dengan erat. Mata Jiyeon beralih ke tangan yang digenggamnya, lalu ke arah Minho. Ia kaget setengah mati, tapi kemudian ia tersenyum.

“ Kuuu.. at… kan dirimu. Kau biii… sa melaku… kannya.  “

Jiyeon mengangguk lemas mendengar ucapan terbata-bata dari suaminya. Kemudian, Jiyong pun segera mengeluarkan Minho sesuai perintah dokter.

 ****

            Minho menatap bayi kecil dalam tabung kaca itu dengan mata berkaca-kaca. Kondisi bayinya yang lemah, membuat ia harus menetap lebih lama di ruang inkubator itu. Tangannya dimasukkan ke dalam celah tabung itu, mengelus pipi bayinya dengan sangat lembut.

“ Cantik, persis seperti Jiyeon. “

Minho mengeluarkan tangannya pelan. Tiba-tiba saja hatinya mendidih. Jika saja fisiknya tak selemah ini, ia pasti akan meninju pria di sampingnya tanpa ampun. Bagaimana bisa, ia menikahi Jiyeon sementara ia tahu suaminya terbaring di rumah sakit. Rahangnya mengeras, sedetik kemudian telinganya memerah, menandakan kemarahannya yang dipendamnya.

Jiyong mendorong kursi Minho keluar dari ruangan itu, jelas ia tahu Minho dalam kondisi yang sangat marah sekarang. Dan ia juga tahu, kontrol emosi Minho yang buruk bisa membahayakan kondisi anak yang baru dilahirkan dua jam lalu itu.

“ Jadi, dengan kondisimu sekarang, apa kau pikir kau bisa melindunginya? “

Tangan Minho terkepal mendengar ucapan Jiyong yang terdengar sangat menyindirnya.

“ Kau bahkan merasa marah? Sadarlah, kau tak pantas untuk dia! Kau pikir aku tak tahu?! Kau menyiksa Jiyeon, Minho ssi! Kau, kau bastard! Suami macam apa kau yang tega melukai istrinya sendiri? Kau lebih terlihat seperti seorang kriminal dibandingkan manusia! “

Jiyong megap, ia sudah tahu kenyataan itu sejak dulu. Sejak ia bertemu dengan Jiyeon pertama kalinya sepulangnya ia dari Jerman. Dari gerak-gerik Jiyeon yang terlihat ketakutan tiap kali suaminya menanyakan keberadaannya, bahkan ia melihat sebuah bekas cekikan di leher Jiyeon.

Kepalan tangan Minho mengendur. Ia menunduk sejenak, kemudian tersenyum miris.

“ Kau benar. Kau memang lebih pantas bersama Jiyeon. “

Minho melirik ruang inkubator, melihat bayi kecil itu bergerak pelan. Ingin sekali ia dinyatakan sebagai ayah dari bayi itu, tapi tentu saja itu tidak mungkin.

“ Itu adalah anakmu, Minho ssi. “

Minho berbalik ke arah Jiyong. Matanya yang semula redup, tiba-tiba bersinar cerah, tapi kemudian sendu lagi melihat wajah Jiyong, wajah pria yang dianggapnya sebagai suami Jiyeon kini. Jiyong tersenyum geli, bagaimana bisa pria di depannya masih menganggapnya sebagai suami Jiyeon.

“ Namaku Park Jiyong. Aku adalah oppa Jiyeon, Minho ssi. “

Mata Minho membulat. Bagaimana bisa, ia tetap terpaku meski Jiyogn mulai tertawa geli.

“ Amarahmu benar-benar tak terkontrol. Kau harus kembali ke psikiatermu. “

Jiyong berlutut di depan Minho, sekedar menyamakan tingginya.

“Karena itu, aku mohon, jangan muncul di depannya, sampai kau benar-benar sembuh, Minho. “

Refleks, mulut Minho terbuka lebar. Tentu ia sangat tidak bisa menerima permintaan Jiyong tadi.

“ Jiyeon sangat mencintaimu, apa kau mau melukainya lagi? “

Minho menunduk, kemudian mengangguk lemah. Melihat itu, Jiyong memeluk tubuh Minho sambil menepuk punggung Minho dengan pelan.

“ Antar aku ke kamar Jiyeon, hyung. “

Jiyong melepas pelukannya cepat, kemudian menatap Minho tak percaya. Sementara itu, seulas senyum lembut mengembang di bibir Minho, membuat Jiyong tentu membalas senyuman itu.

****

“ Oppa? Minho, dia dimana? “

Jiyong mengusap matanya yang masih terasa ngantuk. Ia melirik ke arah lain, sekedar menghindar dari tatapan menuntut dari Jiyeon.

“ Oppa, dia sudah sadar kan? Dia dimana? “

“ Dia pindah rawat ke Jepang, Yeon. “

“ Mwo? Bagaimana bisa, aku, aku melihatnya oppa. Dia menggenggam tanganku. “

“ Kau hanya berhalusinasi. “

“ Tidak, tidak mungkin! “

“ Yeon, ini demi kebaikan Minho. “

Jiyeon menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia menangis keras. Setengah percaya dengan ucapan Jiyong tadi, tapi kemudian ia bisa segera mengontrol emosinya.

“ Anakku, bagaimana? “

Jiyong tersenyum lembut, kemudian ia mengangkat tubuh jiyeon ke atas kursi roda menuju ruang inkubator. Jiyeon yang tak mengerti perlakuan oppanya, menatap Jiyong bertanya-tanya, tapi Jiyong mengabaikannya. Dengan semangat ia mendorong kursi roda itu. Setibanya di depan ruang inkubator, Jiyeon kembali menangis. Sebuah gelang kecil dengan kertas kecil bertuliskan “ Choi Jiyeon” membuat ia larut dalam keharuannya. Dengan tangan gemetar ia menyentuh tabung kaca itu.

“ Oppa, dia namja atau yeoja? “

“ Yeoja, berikan ia nama Min… “

“ Choi Min Ji, oppa. Itu namanya. “

Jiyong tertegun. Ia baru saja akan mengatakan nama yang sudah diberikan oleh Minho, tapi ternyata Jiyeon sudah menyebut nama yang persis dengan maksud Minho. Jiyeon mulai memasukkan tangannya di lubang kecil itu, lantas dengan lembut ia membelai wajah anaknya.

“ Minji ah, tumbuhlah dengan baik. Temani eommamu, ya. Kita akan menunggu Minho appa bersama-sama. Kau akan menemaniku kan? “

Sementara di luar kamar, Minho yang terduduk di kursi rodanya tak sangup menahan tangisnya.

“ Aku sudah siap, suster. “

Senyum lembut terkulum dari bibir Minho. Tangannya menggenggam erat sandaran tangannya. Dan lagi, ia kembali mendesah panjang.  Tidak, ia tak ingin melukai Jiyeon lagi. Ia tak akan membalas kasih sayang dari istri yang sangat dicintainya itu dengan luka lagi. Ia percaya, Jiyeon akan selalu menunggunya. Takdir yang akan membawa mereka kembali bersama, itu yang menjadi sandarannya kini.

FIN

Note:

Akhirnya, next storiesnya jadi juga. Lanjutan lagi? Lagi? Bersabarlah readerku yang setia, soalnya masih ada proyek stand alone yang lainnya #sok. Hehe, doakan aja hasilnya bagus nanti.

Last, RCL woy! RCL! Love yaaa~ :*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

47 thoughts on “Love is Blind”

  1. wow!!! mana authornya??? tanggung jawab dah bkin ak nangis gara2 ff ini!!
    hehe.. daebak!! critanya keren. ini jga ttg kesetiaan ya?plus,cast nya cantik >> jiyeon

  2. membuatku detak jantungku bekerja lebih keras, — typo dikit ya kak, maksudnya “membuat detak jantungku…” mungkin yah?

    Ini sambil baca sambil mengingat cerita yg sebelumnya.. Cuma pas end, jd pnsran minhonya bisa sembuh total ga?
    Lanjut ya kak, ditunggu~

  3. Mino jahat ya sebelum dia sakit?*manggut2

    Aku belum baca yang ‘Love is
    Blind-end of tragic love-‘.mau tak cari n baca dulu…

  4. Lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut lanjut LANJUT chingu :DDDD
    Aku penasaraaaaaaaaaaaaaaaannnnnn banget nget nget nget >,,,<
    DAEBAKK~! chingu 🙂

  5. o, ternyata ini kisah chronicles yah. Aku suka banget pas adegan minho ngelamar jiyeon. malah bayangin jiyeon itu adalah aku kekkekke. Next part unni, jangan lama yah!

  6. Daebak!!!
    tp,, knp gak dilanjutin aja langsung?? kan q jd penasran tingkat kecamatan … minho mau pergi kmn ? nanti’y hrs happy end loh!!!!
    wajib sequel,!!! ditunggu secepatnya 😀

  7. Wah aku baru baca ff ini. Ada cerita sebelumnyakah? Soalnya ada kata-kata ‘next series’ dari author’s note-nya. Ketinggalan banget dongs.
    Ffnya seru, pas banget lagi dengerin lagu, meskipun bukan lagu yang direcommend di atas, tapi lagunya pas juga. Jadi makin galau.
    Aku kira akhirnya bakal bener-bener sedih. Ternyata nggak. Syukurlah ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s