[Sequel of Last Melody] It Won’t Be The Last [1.2]

It Won’t Be The Last 1.2 (Sequel of Last Melody)

Title                : It Won’t Be The Last 1.2 (Sequel of Last Melody)

Author           : Kim Tae Hyun

Main cast      : Lee Taemin, Lee Jinki, Kim Ki Bum, Choi Minho, Park Hyun Mi, Song Eun Hye

Genre            : Fiction, Drama, Tragedy

Length          : Two Shoots

Rating           : PG-13

Annyeong readers…. *tebar bias* adakah yang merindukan diriku?? :* (reader : jiji bener gue liat ni author.. narsis gila :p )

Masalah buat lo? Eh… ini apaan sih? Udah langsung to the point… Karna banyak yg minta sequel nih saya bawa ff sequelnya last melody. Ratingnya naik yah jadi PG-13. Ada adegan kisseunya pemirsaa.. tapi yang di bawah 13 boleh baca kok ^^;; *plak*  okelah, ga usah banyak bacot, author ga seneng banyak bacot, soalnya @#%&(^%$%  (reader: author sarap. Kabur yook…) Eh, eh maap iya deh janji ga bacot lagi.. Ampuun *reader udah bawa obor, garpu, dan pop corn *eh?  Oya, cerita ini murni KHAYALAN author yang udah numpuk di otak, jerit-jerit minta di taro di netbook.

Hayuu mari..

***

“Oppa, sekarang aku mengerti. Perasaanmu. Hyun Mi, jangan menangis. Kalau kau menangis, dia akan menangis di sana. Dia tidak pergi. Dentingan piano adalah dia. Dentingan piano adalah dia. Dentingan piano adalah dia. Kuatkan dirimu Hyun Mi!”

-End of Last Melody-

***

Hyun Mi berusah sekuat tenaga untuk tidak menangis. Tapi usahanya sia-sia. Kenangan yang kembali di ingatannya membuat air matanya tetap turun. Sekilas ia melihat ke arah audience, mencoba tersenyum, meskipun ia tau, orang-orang bisa melihat dagunya yang bergetar. Ia melihat dengan pandangan kosong ke arah tempat ia duduk tadi di bangku, tepat di sebelah Minho. Tangannya tetap menari di atas tuts piano. Ia melihat senyuman. Senyuman yang begitu hangat dari seseorang yang duduk di sebelah Minho, di tempat ia duduk.  Senyuman yang bisa membuatnya benar-benar tersenyum. Hyun Mi mengerjapkan matanya. Dia tidak boleh tenggelam dalam khayalannya atau dia bisa gila. Ya, senyuman yang ia lihat adalah senyuman Taemin.

Hyun Mi menyudahi permainannya. Ia mengadah ke langit-langit. Darahnya berdesir. Ia mencoba tersenyum melihat audience yang bertepuk tangan. Tapi ia tidak bisa mendengar apapun. “Hyun Mi !” seseorang meneriaki namanya.

***

Taemin berada di tempat yang sangat indah. Bersama kedua orang tuanya yang begitu ia rindukan. Tapi itu hanya sebentar. Tiba-tiba saja ada sebuah surat yang jatuh entah dari mana, mengatakan kalau ia harus bisa membuat seseorang merelakan kepergiannya. Taemin sempat mengumpat dalam hati, bagaimana malakukannya? Tugas yang aneh. Itu berarti ia harus kembali ke dunia. Tapi begitu ia tau orang itu Hyun Mi, perasaannya menjadi aneh.

Singkat cerita, tiba-tiba ia sudah berada di depan gereja dengan setelan jas putih. “Ini di Seoul kan? Aneh,” gumamnya. Tiba-tiba seekor anjing kecil menggonggong di depannya. “Ada apa?” tanya Taemin berjongkok di depan anjing itu. Tapi anjing itu malah meloncat dan Taemin berusaha menangkapnya tapi tidak bisa. Ia memandangi kedua telapak tangannya bisu. “Disana kau rupanya.” Suara anak perempuan itu membuat anjingnnya menoleh. Anak itu berjalan melewati Taemin dan menembusnya. Lalu membawa anjing itu pergi.

“Aku  hantu?” gumamnya setengah tidak percaya. Tapi ia ingat. Ya, dia sudah meninggal.

Taemin memutuskan untuk masuk kedalam gereja, “Hyun Mi?” ia menyipitkan matanya. Ia melihat Hyun Mi bermain piano di depannya.

“Ya, dia Hyun Mi. Ia menangis. Duduklah di sana.” Suara itu membuatnya kaget. Ia melihat ke sampingnya. Anak perempuan yang membawa anjing  tadi menunjuk ke arah bangku paling depan disebelah Minho. Taemin mengerinyitkan keningnya. “Eun Hye imnida.” Anak perempuan yang terlihat campuran Korea dan wajah Eropa bermata abu-abu itu berbicara pada Taemin tanpa menatapnya, ia melihat Hyun Mi juga. Taemin masih bingung. “Ne. Taemin imnida. Tunggu, bukannya aku ini.. eum.. hantu?” tanya taemin. Gadis itu mengangguk “Aku lebih senang memanggilnya ‘arwah’. Hantu terdengar  terlalu menakutkan”. “Tapi kenapa-“

“Aku bisa melihatmu. Dan maaf soal tadi, aku melewatimu”  Anak itu tiba-tiba berlari ke tempat orang tuanya. Sepertinya itu tetangganya yang baru pindah sebelum ia meninggal. Anak itu tersenyum sekilas ke Taemin. Taemin balas tersenyum dan pergi ke bangku yang ditunjuk anak tadi. Tepat di sebelah Minho. Ia juga melihat Onew dan Key. Ia duduk di sana dan mendengarkan permainan piano Hyun Mi. Ia melihat Hyun Mi tersenyum ke arahnya. Taemin balas tersenyum. Tapi senyuman Hyun Mi hanya sebentar. “Kenapa Hyun Mi seolah-olah bisa melihatku? Apa aku memang terlihat?” Taemin mencoba melambaikan tangannya di depan Minho. Tapi tidak ada reaksi. “Ini benar-benar aneh.”

Taemin yang masih kebingungan mendengar suara tepuk tangan. Dan ia dengan spontan ikut bertepuk tangan. Oh, ternyata Hyun Mi sudah selesai. Hyun Mi berusaha berdiri sambil merapikan kertas berisi partitur-partitur nada. Tapi, ia tiba-tiba terjatuh. Hyun Mi pingsan. Dengan spontan Key bediri, “Hyun Mi !”.

Onew dan Minho menyusul. Taemin pun ikut berdiri mengikuti mereka. Key menggoyangkan badan Hyun Mi. Taemin berusaha menangkup wajah Hyun Mi, tapi tidak bisa. Key pun langsung menggendong Hyun Mi, Onew dan Minho mengejar Key. Kertas berisi partitur itu berhamburan.

***

Taemin menerawang kamar Hyun Mi yang di penuhi foto-foto Hyun Mi dari kecil sampai sekarang. Ia juga melihat foto-fotonya bersama Hyun Mi. Dari mereka anak-anak sampai foto yang terakhir diambil, sehari sebelum ia ke New York. Tepat di sebelahnya adalah foto Hyun Mi dan Minho. Di foto itu Hyun Mi mengecup pipi kiri Minho. Mereka terlihat bahagia. Tanpa disadari air matanya jatuh. Rasanya ia ingin kembali hidup. Dan seharusnya yang ada di foto itu adalah dia.

Taemin menoleh ke Hyun Mi yang masih pingsan di kasurnya. Key dan Minho sudah disana selama ia pingsan. Hyungnya? Mungkin sudah dirumah. Taemin menatap tangan Minho yang diam-diam menggenggam tangan Hyun Mi, lalu mengusapnya pelan.

Taemin terdiam sebentar memandangi pemandangan pahit itu.

Ia duduk di pinggiran kasur dan mencoba melakukan hal yang sama dengan Minho. Tapi tangannya menembusnya. Taemin menghela nafas frustasi. “Saranghae Hyun Mi.” Taemin menatap Hyun Mi dalam. Tidak lama, tangan Hyun Mi yang berada di samping Taemin bergerak. “Hyun Mi?” tanya Taemin berharap mata Hyun Mi terbuka. Tapi sepertinya Key dan Minho tidak menyadari apa-apa.

“Aku ke toilet sebentar. Jaga Hyun Mi,” ucap Key dan langsung meninggalkan mereka. “Ne.” Jawab Minho singkat. Minho mengelus wajah Hyun Mi pelan. “Ya ! Kau mau apa?” bentak Taemin. Minho  tetap megelus wajah Hyun Mi. Mulut Hyun Mi bergerak seperti akan mengatakan sesuatu. “O..oppa”. Taemin dan Minho terkejut. Seulas senyum tersungging di bibir Minho. “Taemin oppa, nado saranghae.” Senyum di bibir Minho perlahan hilang. “Hyun Mi, kau mendengarku?” tanya Taemin berusaha memegang pipi Hyun Mi. “Bukalah matamu. Kasihan Key. Ia menunggumu sudah lama.”

Key datang dan langsung duduk di samping Minho yang masih terpaku mendengar apa yang Hyun Mi katakan saat mengigau. “Oppa..”. Ajaib, perlahan mata Hyun Mi terbuka ia tersenyum kepada Key. “Hyun Mi.. Kau sudah bangun. Kami benar-benar mengkhawatirkanmu.” Kata Key mengusap kepala Hyun Mi. “Aku melihatnya, oppa. Dia tersenyum padaku tadi.” Key menatap Hyun Mi dalam dan berusaha tersenyum, “dia sudah bilang dia tidak benar-benar pergi. Dia selalu ada bersama kita.” “Benar sekali !” Taemin menyahut gembira lalu kembali memerhatikan orang-orang di depannnya.

Hyun Mi menoleh ke Minho. Minho memaksakan untuk tersenyum manis. Key yang menyadari hal itu, langsung mengerti. “Aku bisa meninggalkan kalian berdua dulu.” Key pergi dan menutup pintu.

Hyun Mi menangis, “Mianhae oppa, mianhae..”. Minho tersenyum, “gwaenchana”. Hyun Mi duduk bersandar di dinding kamarnya. “Oppa, naega nappeun yeoja. Aku tau kau itu namja ku. Tapi, jujur  bukan hanya kau yang kupikirkan, tapi juga Taemin. Aku ini memang yeoja jahat, oppa. Aku mencintai Taemin.” Tangis Hyun Mi pecah. Taemin dan Minho terdiam. Tapi Minho tetap berusaha tersenyum. “Kenapa oppa tidak meninggalkanku saja dan mencari yeoja yang lain? Yeoja yang hanya melihatmu.” Air mata Hyun Mi tambah deras. “Neomu saranghae. Karena itu aku tidak mau meninggalkanmu. Aku bisa menunggumu. Gwaenchana. Uljima”.

“Bagaimana kalau aku tidak bisa menerimamu atau siapapun nanti?”

“Aku akan senang kalau kau senang.”

“Aku tidak akan mengikatmu. Kalau kau ingin pergi tidak apa-apa.”

“Arra.”

“Gomawo.”

Minho mengecup kening Hyun Mi pelan, “Saranghae.” Hyun Mi terdiam sejenak dan terlihat ragu. “Na.. Nado” ia memeluk Minho dan menangis, “Mianhae, jeonmal mianhae. Aku tidak bisa mencintaimu sepenuhnya. Mianhae.” Hyun Mi benar-benar menangis. Ia merasa bersalah atas perkataanya yang seharusnya tidak ia katakan.  Minho berbisik pelan di telinga Hyun Mi, “gwaenchana”.

Taemin menunduk, lalu menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Melihat Minho mencium Hyun Mi, dadanya terasa sakit. Sangat sakit. Kenapa bukan dia yang melakukannya.

***

Taemin menendang-nendang batu yang ada dihadapannya, tapi tetap saja batu itu tidak berpindah posisi. Masih kesal dengan apa yang ia lihat sendiri dua hari yang lalu. Tapi tiba-tiba ia teringat kenapa ia kembali ke sini. “Aku harus membuatnya meralakanku pergi. Tapi bagaimana?” Taemin mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Dengan melupakanmu.”

Taemin terlonjak kaget mendengar seseorang berbicara padanya. Oh, ternyata anak itu lagi. “Kyaa! Kapan kau datang?” jerit Taemin. “Baru saja.”

“Tapi aku tidak melihatmu.”

“Geurae?” gadis itu berbicara dengan ekspresi datar.

“Aaah molla. Kau Eun Hye, kan?”. Eun Hye hanya mengangguk singkat. “Bisa kita duduk di sana?”. Eun Hye mengangguk lagi. “Bagaimana kalau kau memperkenalkan diri dulu?”

“Song Eun Hye. Setengah Prancis. Umurku 10 tahun.” Eun Hye sama sekali tidak menatap Taemin.  “Eum.. Jadi kau memang bisa melihatku? Atau hanya merasakan? Atau hanya mendengar?”

Eun Hye menoleh ke arah Taemin, tepat di matanya. Mata abu-abu terlihat sedikit seram, tapi tidak dengan senyumnya. “Semuanya.” Jawabnya singkat. “Sejak kapan kau bisa, eumm.. melihat eum..”

“Molla.” Taemin bingung dengan anak ini. Anak ini aneh. Kalau menjawab hanya seperlunya. Taemin jadi merasa canggung. “Jadi, bukannya aneh kalau orang-orang melihatmu bicara sendiri?”

“Bahkan mereka menganggapku gila.”

Aku harus berbicara apa lagi?

Mereka terdiam melihat kendaraan berlalu-lalang. “Kau harus membuatnya melupakanmu.” Eun Hye bicara denga tiba-tiba. Taemin menoleh ke arahnya, “Apa?”

“Hyun Mi. Kau harus membuatnya melupakanmu. Lalu kau bisa pulang.”

“Maksudmu Hyun Mi harus bersama orang lain? Seperti itu?”

“Pintar sekali.” Taemin melongo. Mwo? Berarti itu Minho. Ani ani ani..

“Ada cara lain?” Taemin mengiggit bibirnya berharap Eun Hye mengangguk. Tapi sayangnya tidak. “Aku sudah sering menemui arwah bernasib sepertimu. Dan mereka melakukannya. Berhasil. Terserah saja, kau mengikuti atau tidak.” Taemin menghela nafas.

“Aku harus pergi. Oh ya, kalau kau butuh tempat tidur, ibuku mengizinkanku membawa teman.”

Taemin mengulas senyum dipaksakan, “Ah, ani. Gomawo. Sepertinya tempat tidurku di rumah belum di bereskan. Aku bisa tidur di sana.”

Eun Hye tersenyum singkat lalu pergi. “Hhhh, bersama Minho? Kenapa malah aku jadi yang tidak rela? Aku tidak mau melepaskan Hyun Mi !”

Taemin menyipitkan matanya. “Ya! Mau kemana mereka?!”. Taemin langsung berlari mengikuti Minho dan Hyun Mi yang berjalan kaki berdua. Taemin berjalan di belakang mereka. Ia melihat Hyun Mi tersenyum. “Jadi secepat ini kau melupakan ku, hah?” Taemin menggerutu di belakang Hyun Mi. “Aku sudah bisa pulang kalau begini.”

Mereka tiba di sebuah toko bunga. Hyun Mi menunjuk bunga berwarna kuning dan melihat Minho seolah-olah bertanya, bagus tidak? Minho mengangguk dan tersenyum. Setelah membayar merak pergi lagi. “Mau kemana kalian?”

Taemin tertegun ketika mereka sampai di tempat yang dimaksud Minho dan Hyun Mi. Ini  makamnya. Mereka berjongkok di depan batu nisan. Hyun Mi meletakan bunga kuning tadi di depan batu nisan, “Untukmu oppa.” Taemin berjongkok di sisi lain, “Untukku? Gomawo.” Ia menatap wajah Hyun Mi. Sepertinya Hyun Mi menangis lagi. Ia menyesal sudah mengumpat tadi.

“Oppa, mianhae. Aku masih menyesal, waktu itu aku kasar sekali kepadamu. Seharusnya aku tidak seperti itu kan? Aku memang nappeun yeoja,” tangis Hyun Mi. Minho berbisik kalau Hyun Mi tidak boleh terus menerus menyalahkan dirinya. Sementara Taemin terdiam memandangi batu nisannya sendiri.

Hyun Mi menatap Minho memohon, lalu Minho mengangguk. Hyun Mi meraba batu nisan itu, “Oppa, saranghae. Jeongmal saranghae.” Air mata Hyun Mi tumpah lagi. Lalu Hyun Mi bersandar di pundak Minho dan menangis di sana. Taemin hanya terdiam.

Sudah hampir setengah jam mereka disini. Hyun Mi tetap mengelus pelan nisan itu. “Aku egois ya?” tanya Taemin kepada dirinya sendiri. “Aku tidak ingin melepaskanmu. Tapi aku tidak bisa melihatmu menangis terus Hyun Mi. Hhhh… eotthoke? Aku harus membiarkan Minho bersamamu kan? Iya. Harus. Tapi caranya?”

Angin bertiup kencang. Minho mengadah ke langit, “Hyun Mi, sebentar lagi hujan. Bagaimana kalau pulang? Aku tidak bawa payung.” Hyun Mi mengangguk. Lalu mereka pergi.

Taemin tetap membuntuti mereka berdua. Tapi Taemin berbelok masuk ke rumahnya. Berdiri di depan teras, memandangi teras rumah Hyun Mi di mana Minho sedang memegang bahu Hyun Mi, mengatakan sesuatu yang tidak bisa Taemin dengar. Lalu Minho pergi dengan mobil yang ia parkir di rumah Hyun Mi. Setelah mobil Minho pergi, Hyun Mi menatap teras rumah Taemin. Taemin yang masih di sana, melambaikan tangannya. Tapi, Hyun Mi malah menangis. Taemin berteriak, “Uljima !!”. Tapi, Hyun Mi perlahan memutar badannya, masuk ke rumahnya.

Taemin menghadap ke pintu yang tertutup. Memikirkan caranya masuk. Maklum saja, selama ini dia menginap di rumah Hyun Mi. Dia ingin memperhatikan Hyun Mi dan juga dia tidak tau mau tidur di mana. Tapi ia tidur di sofa. Mana mungkin ia tidur di kamar Hyun Mi atau di kamar keluarganya yang lain di rumahnya.

“Astaga! Aku lupa aku hantu. Aku bisa menembusnya.” Taemin tersenyum menikmati keuntungan menjadi hantu. Ia masuk ke kamar Onew dan mendapati hyungnya sedang tertidur. “Aku tidak pernah melihatnya tertidur sepulas ini. Biasanya kalau ia tidur siang aku selalu mengganggunya. Hhhh, mianhae hyung.”

Taemin naik ke lantai dua. Menembus pintu kamarnya, dan mendapati kamarnya rapi. Seingatnya, terakhir ke kamarnya, kamarnya tidak serapi ini. Tapi tidak ada satupun barangnya yang di buang. Taemin menatap ke jendelanya, kalau tidak salah, disini tempat dia berdiri terakhir di kamarnya, melihat Hyun Mi keluar bersama Minho, lalu pingsan. Taemin menghela nafas. Ia berbaring di ranjang. Suara hujan terdengar sampai kamarnya. Lelah.

***

“Jam berapa ini?” Taemin bangun sambil mengusap matanya. Dengan masih mengantuk, ia berusaha duduk. Taemin tersenyum. Rasanya ia kembali hidup. Ia menoleh jam dinding. Sudah jam 9. Kalau dia masih hidup, ia pasti sudah ada di kampus. “Taemin, kau ini sudah mati. Ingat?” tanyanya kepada diri sendiri.

Tiba-tiba pintu terbuka dan Onew masuk. Ia memandangi kamar Taemin, lalu duduk di tepi kasur. Taemin mendekatinya, “Annyeong hyung.. Tidur nyenyak?”. Tidak ada jawaban dari Onew. Ia hanya memandangi kamar Taemin, sambil mendesah pelan. Onew terlihat menahan tangis. “Hyung..”

Bel pintu berbunyi. Onew langsung turun membukakan pintu. “Hyung, tolong tutup pintunya!”. Tapi Onew malah melesat turun tanpa menutup pintunya. “Aiih, bahkan setelah aku mati saja, dia tidak mau menutup pintu kamarku. Ck.”

Suara langkahan terdengar di tangga. Dan pintu kamar terbuka lebih lebar. Taemin menelan ludah melihat siapa yang datang. Hyun Mi ! Dan tentu saja Onew.

“Rasanya seperti pertama kali masuk kamarnya,” Hyun Mi tersenyum kepada Onew. “Tapi kau sering masuk ke kamarnya. Bahkan kau pernah masuk tanpa izin ketika Taemin sedang tidur dan dia topless. Membangunkannya, dan mengajaknya jalan-jalan. Lucu sekali.” Kata Onew tersenyum mengenang. “Geurae?” tanya Hyun Mi setengah tidak percaya. “Tentu saja kau tidak ingat. Taemin benar-benar tersipu setelah itu.” Onew tertawa pelan. Hyun Mi tersenyum memandang kasur kosong –yang tidak benar-benar kosong itu. “Yak. Hyung ini. Kenapa diceritakan? Aish, itu memalukan.” Taemin berdiri disamping Onew dan menjitaknya. Tapi tentu saja Onew tidak merasakan apa-apa.  “Aku bisa meninggalkanmu sekarang. Kalau ada perlu aku ada di bawah.”. Hyun Mi mengangguk. Onew langsung pergi dan dia menutup pintu kamar.

Hyun Mi berjalan mengelilingi kamar. Memerhatikan semua sudut, barang-barang yang ada. Ia berhenti di depan lemari. Kebetulan tidak dikunci. Hyun Mi memandangi baju-baju Taemin yang tergantung rapi di sana. Ia meraih satu baju. Memandanginya lama lalu menciumnya. Hyun Mi tersenyum sambil berbisik, “bogoshipo”. Karena penasaran, Taemin ikut mencium bajunya. “Ini bukan harum parfumku, kau tau? Ini harum pelembut baju yang dipakai ahjuma. Menurutku baunya aneh. Kau suka ya? Minta saja. Pasti dikasih.”

Hyun Mi beralih ke meja belajar. Dia menatapi buku-buku tebal yang tersusun rapi. “Oppa, aku ingin melihatmu belajar.” Hyun Mi mendesah. “Aku juga ingin ditemanimu belajar. Tapi ingat ketika kau menemaniku belajar? Kau mencoret-coret PR ku dan aku harus membuatnya ulang. Tapi aku tidak marah, kok. Tenang saja.” Taemin menatap wajah Hyun Mi. Dia sadar ia benar-benar mencintai Hyun Mi. Tapi kenapa semuanya jadi seperti ini?

Hyun Mi meraih figura foto tepat di depannya. Foto dia dan Taemin. Ia tersenyum lebar melihat fotonya tapi hanya sebentar. Ia malah mengusap foto Taemin yang tersenyum lebar. “Kau lebih memilih menunggu keong keluar dari cangkangnya ketimbang berfoto denganku. Kau itu lucu sekali Hyun Mi.” Taemin tertawa pelan. Lalu ia mengamati buku tulis yang di ambil Hyun Mi. “Aigo, jangan buku yang itu.”

Hyun Mi membuka buku itu lembar per lembar. Di depannya ditulis ‘catatan matematika’. Tapi hanya dua lembar saja berisi angka-angka. Selebihnya berisi nama Park Hyun Mi. Ada gambar hati disana, atau tulisan ‘jeongmal saranghae Hyun Mi’ sampai dilembar terakhir. Hyun Mi lagi-lagi tersenyum. Ia lalu meninggalkan meja belajar dan duduk di tepi kasur. Ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang. Ia membuka matanya dan air matanya membasahi pipinya. “Kenapa menangis lagi? Kau lebih cantik tersenyum.”. Taemin berjongkok dihadapan Hyun Mi.

“Hyun Mi, uljima.”

Hyun Mi terlonjak kaget dan mundur ke belakang. Ia melihat Taemin berjongkok di depannya, tangan Taemin hampir menyentuh matanya. Taemin yang melihat Hyun Mi terkejut langsung kebingungan dan terkejut juga. “Wae?” tanya Taemin dengan wajah benar-benar kebingungan. “Oppa?” Hyun Mi mendekat ke wajah Taemin tidak percaya. “Wae? Kau bisa melihatku?”. Hyun Mi menatap Taemin tidak percaya. Begitupun Taemin. Hyun Mi mengangguk dengan hati-hati. “Oppa?”

-To be continued-

Lanjutannya ada di It Won’t Be The Last 2.2 !!! Keep on reading :*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

4 thoughts on “[Sequel of Last Melody] It Won’t Be The Last [1.2]”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s