The Silent Touch of Marriage copy

The Silent Touch of Marriage – Part 6

 The Silent Touch of Marriage – Part 6

Author: Chanchan a.k.a Chandra Shinoda

Main Cast:

  • Kim Hyora (covered by Jessica (SNSD))
  • Kim Jonghyun
  • Kim Kibum (Key)
  • Kim Yong Sang

Beta reader: Tulasi Krisna Maharani

Support cast:

  • Other SHINee members
  • Kim Hyunri
  • Tuan Shi
  • Nyonya Yoon

Special guest: Victoria Song (F(x))

Length: Sequel

Genre: Family, friendship, life, romance, sad

Rating: PG-16

Disclaimer: I don’t own all SHINee members, they are God’s. They belong to themselves and SM Entertainment. I’m just the owner of the story.

***

Annyeong, Maaf ya part ini telat, di sini aku nggak banyak basa-basi. Hanya mengingatkan, part berikutnya udah klimaks, jadi maaf kalau part ini rada kepanjangan. Maaf juga kalau typo-nya banyak T,T

enjoy!

***

 

Kebenaran tetaplah kebenaran, seberapa menyakitkan pun hal itu. Memang mengetahuinya bukanlah hal yang terbaik, namun jika kita tak mengetahuinya sama sekali kita tak akan pernah tahu jalan seperti apa yang harus kita ambil.

Jonghyun membuka matanya ketika berkas-berkas sinar mentari mulai menembus jendela kamarnya. Sesaat ia terdiam ketika menyadari dirinya tengah sendirian di kamar itu. Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Ia terlalu enggan menepis selimut hangat yang melapisi sebagian tubuhnya. Entah bagaimana ia mengungkapkannya, hatinya mulai menerka bahwa semua kesenjangan yang selama ini terjadi akan segera mencapai puncak. Suatu peristiwa besar akan terjadi. Peristiwa itu akan melibatkan keluarga besarnya bahkan orang-orang terdekatnya. Lantas, siapakah korban yang paling tersakiti dengan terjadinya peristiwa itu? Jawabannya hanya ada satu, Kim Yong Sang.

Suara berisik dari arah ruang tamu menyita perhatian Jonghyun. Suara itu milik dua orang yang dikasihinya, Hyora dan Yong Sang. Kegaduhan yang dilakukan Hyora dan Yong Sang membuat Jonghyun tersenyum. Jarang-jarang ia mendengar ibu dan anak itu mempunyai waktu untuk bercanda. Tak ingin membuang waktu, Jonghyun beranjak dari tempat tidurnya. Ia bergegas menuruni anak tangga sambil sesekali menguap lebar.

Benar saja tebakannya, yang kini disaksikannya adalah usaha keras Hyora yang tengah merayu Yong Sang untuk makan tomat.

“Ayolah, Yong Sang-ah, makan tomat ini, satu suap saja.” Hyora mulai patah semangat, tangannya yang memegang sebuah sendok garpu terasa pegal.

Andwae, itu rasanya aneh, Umma!” Yong Sang menggeleng keras. Baginya, tomat yang berwarna kemerahan itu penuh tipu daya. Warnanya saja yang menarik, namun isinya penuh lendir dengan rasa yang tak terbilang asam ataupun manis.

“Hei, kalian sedang apa?” Jonghyun menarik kursi kayu di sebelah Yong Sang. Ia menghenyakkan tubuhnya, bergabung dengan perdebatan ibu dan anak itu.

“Dia tak mau makan tomat ini, Oppa,” Hyora mendesah kesal sambil menunjuk sepotong tomat di ujung sendok garpunya.

Jonghyun tertawa kecil. Ia menatap Yong Sang lalu berkata, “kenapa kau tidak mau makan tomat itu, Sayang?”

“Rasanya aneh!” umpat Yong Sang, tak berselera. Menu sarapan yang buruk. Ia mau makan salad apapun, kecuali benda merah berlendir itu.

Jonghyun memegang pundak Yong Sang. Ditatapnya mata bulat putrinya lekat-lekat. “Ayolah, Yong Sang-ah, umma sudah susah payah memotongnya untukmu. Tomat banyak mengandung vitamin yang bisa membuatmu pintar.”

Hajiman..,”

“Kalau kau tidak mau, tiga hari ke depan appa akan suruh umma untuk membuat salad tomat,” ucap Jonghyun sambil memamerkan garpu berisi tomat di depan wajah Yong Sang. “Mau, tidak?”

Yong Sang bergidik. Benda merah berlendir itu akan menemaninya selama tiga hari ke depan? Tidak.., tidak.., itu tak boleh terjadi. Lebih baik turuti saja keinginan appa-nya daripada ia kehilangan selera makannya.

“Baik, baik, Appa. Kau menang!” Yong Sang meraih garpu di tangan Jonghyun dengan terpaksa. Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Ia segera memasukkan potongan tomat di ujung garpu itu ke mulutnya dan mengunyahnya secepat mungkin.

Umma! Air!” teriak Yong Sang. Meski mengunyahnya tak lebih dari lima detik, rasa manis dan asam yang dianggapnya aneh tetap dapat dirasakan oleh lidahnya. Ia cepat-cepat meneguk air yang diberikan Hyora.

“Bagaimana, rasanya enak, kan?” tanya Jonghyun sambil tersenyum kecil.

Yong Sang tak menjawab. Ia menunduk, wajahnya merah padam.

“Kalau begitu, sisa salad tomatnya untuk bekal makan siangmu saja, ya?”

“Yaa, Appa!” Yong Sang melancarkan pukulan-pukulan kecilnya pada Jonghyun, membuat namja itu pura-pura kesakitan. Cukup lama berlangsung hingga Jonghyun balas menggelitiki Yong Sang hingga gadis kecil itu tak berdaya lagi untuk menyerangnya.

Ayah dan anak itu begitu akrab, pikir Hyora. Ia yang hampir setengah jam merayu Yong Sang sama sekali tak membuahkan hasil. Namun, Jonghyun, ahh… tidak, Hyora buru-buru menepis kecemburuannya. Jonghyun memang pintar bergaul, wajar kalau mudah baginya untuk menarik simpati orang lain.

Ting Tong..,

“Biar aku saja yang buka.” Hyora beranjak dari tempat duduknya, ia bisa lebih cemburu lagi jika berlama-lama di sana.

Hyora menarik gagang pintu dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain merapikan bagian bawah kaosnya yang ia anggap kurang rapi. “Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?”

Annyeong, Hyora-ya!” Suara bengek yang beberapa waktu lalu hanya didengar Hyora lewat telepon kini menyapanya dengan sigap.

“Jinki Oppa?!” seru Hyora, terdengar setengah kaget. “Tumben pagi-pagi kemari?”

Sebelah alis Jinki terangkat. Kenapa memang jika ia bertamu pagi-pagi? Reaksi Hyora seperti melihat hantu saja.

“Hanya kebetulan lewat, barusan aku ke toko dekat sini. Kemarin waktu umma dan appa datang aku tidak bisa ikut, sebagai gantinya, sekarang saja aku mampir,” terang Jinki, masih dengan ekspresi ‘memangnya aku tidak boleh kemari mendadak?’

“Ayo masuk!” ajak Hyora sembari menarik lengan Jinki.

“Terima kasih,” sambut Jinki, menerima ajakan Hyora dengan senang hati.

Jika dilihat sekilas, kondisi rumah ini tak menunjukkan bahwa sedang ada perang dingin antara Jonghyun dan Hyora. Jinki bisa mendengar tawa canda Jonghyun dan Yong Sang dari ruang tengah. Jika ia bukan kerabat dekat ketiga orang itu, ia pasti akan berasumsi kalau mereka adalah keluarga yang normal dan harmonis. Namun, pada kenyataan ia adalah kerabat dekat. Semua bentuk sapaan atau pun candaan lebih mengarah pada akting. Kata normal dan harmonis masih terletak dalam satu tanda tanya besar untuk status mereka.

“Ngomong-ngomong, kau masih memakai pakaian rumah, tidak berangkat kerja?” tanya Jinki, sedikit melihat Hyora masih mengenakan baju kaos dan celana selutut.

“Hari ini ulang tahun perusahaan, aku diizinkan datang lebih siang. Yah, hanya pesta kecil-kecilan untuk anggota intern saja,” ucap Hyora seadanya. Mereka memasuki ruang tengah dan bergabung bersama Jonghyun dan Yong Sang.

“Oh..,”

Annyeong, Jinki Hyung!” sapa Jonghyun, kembali iseng dengan kegiatannya menggelitiki Yong Sang.

Annyeong, Jonghyun-ah!” Jinki membalas sapaan Jonghyun sembari menarik kursi di sebelah Hyora. “Err, kau juga belum berangkat ke rumah sakit? Sudah jam berapa ini?”

“Aku jaga siang, Hyung,” ujar Jonghyun. Ia berhenti menggelitiki Yong Sang, membiarkan gadis kecil itu kembali ke tempat duduknya sambil mengatur nafas.

Tumben, pikir Jinki. Ini mungkin akan menjadi kesempatan bagus jika mereka bisa melewatkan waktu berdua.

“Hei, kalau begitu, boleh aku yang mengantar Yong Sang?” Jinki menawarkan diri.

Jinccayo? Aku mau, Ahjussi!” seru Yong Sang bersemangat. Ia seolah lupa pada rasa geli yang masih berbekas di tulang iganya.

Oppa, biar aku saja. Kau bisa kesiangan!” tolak Hyora. Jam kerja Jinki satu jam dari sekarang. Dia seorang manager. Apa kata bawahannya jika ia sampai terlambat?

“Apa salahnya aku mengantar keponakan semata wayangku sekali-sekali? Lagipula kalian jarang punya waktu untuk berdua, iya kan?” Jinki berdalih. Ia mengangkat tubuh Yong Sang, menggunakan lengan kirinya sebagai penopang untuk menggendong anak itu.

“Ya… memang.” Hyora mendecakkan lidahnya. “Tapi, Oppa tidak tahu di mana sekolah Yong Sang, bukan?”

Jinki terdiam. Benar juga. Jangankan di mana, nama sekolah Yong Sang saja ia lupa-lupa ingat. Namun, ini tak boleh menjadi penghalang. Ia harus mengantar Yong Sang agar adik perempuan dan iparnya punya kesempatan berduaan. Mungkin itu bisa sedikit mengurangi kecanggungan hubungan mereka yang masih berada dalam status ‘galau’.

“Err, Yong Sang yang akan memberitahuku, kalian tenang saja!” Jinki berdalih lagi. Yong Sang sudah setengah tahun bersekolah di sana. Ia mestinya ingat jalan dari rumah ke sekolahnya.

“Biarkan saja, Hyora-ya. Di sana ada Victoria. Dia teman lama Jinki Hyung, bukan? Sekalian biarkan mereka bernostalgia. Lagipula jarak sekolah Yong Sang dari sini tidak lebih dari 500 meter.” Jonghyun menyetujui ucapan Jinki. Ia lalu melirik Yong Sang sambil berkata, “kau hafal jalannya kan, Sayang?”

Yong Sang mengangguk. “Kajja, Ahjussi!”

***

Hampir 15 menit sejak kepergian Jinki dan Yong Sang, namun belum ada pembicaraan antara Jonghyun dan Hyora. Tak ada topik yang bisa mereka bahas, atau untuk sekedar basa basi saja seperti tak ada yang menarik. Jonghyun lebih tertarik mengambil kacamatanya di meja di samping rak buku sementara Hyora mengelap meja yang terkena tumpahan salad.

Jonghyun masih belum bicara saat mengelap lensa kacamatanya hingga di benaknya terbesit perkataan Hyora kalau hari ini adalah ulang tahu perusahaan Kibum. “Kau tidak ingin bantu-bantu di perusahaan?” tanya Jonghyun, mendatarkan nada bicaranya agar terdengar hanya sekedar ingin tahu.

Hyora menghela nafas. Ia mulai menumpuk satu per satu piring kotor di atas meja. “Kemarin aku lembur. Aku ingin lebih santai hari ini. Tidak banyak yang bisa kulakukan di sana. Lagipula sudah ada Hyunri. Dia bisa melakukannya sendiri,” jawabnya sambil berjalan ke arah dapur. Ia meletakkan piring-piring itu di samping washtafel, mengatur air yang mengalir dari keran lalu mulai mencuci barang pecah belah itu satu persatu.

Jonghyun tak memberi respon jawaban. Hyora sendiri tak begitu peduli dengan apa yang akan diucapkan Jonghyun. Fokus dengan piring cucian jauh lebih penting untuk saat ini.

Tepat ketika Hyora selesai mencuci gelas bekas Yong Sang, ia teringat ucapan Jinki. Kali ini mereka memiliki kesempatan untuk berdua. “Err, Oppa, mau kubuatkan susu?”

Jonghyun menoleh ke arah dapur. “Boleh, aku ke halaman belakang. Kau bawakan saja ke sana,” ucapnya sambil membenarkan letak gagang kacamatanya kemudian beranjak pergi.

Percakapan yang tidak buruk, pikir Hyora. Kedua bahunya refleks terangkat. Ia mengambil kotak susu bubuk yang tersisa setengah dari dalam kulkas. Tiga sendok makan susu dan 1 sendok teh gula cukup membuat minuman tinggi kalsium itu terasa enak di lidah. Hyora menyetujuinya saat mencicipinya sedikit. Sebagai sentuhan terakhir, Hyora mengambil sebuah nampan sebagai alas. Selain menjaga etika, nampan itu akan membantunya menghindari panas dari gelas kaca yang terkena imbas air panas yang ia gunakan untuk menyeduh susu tersebut.

“Ini, susumu.” Hyora meletakkan susu buatannya beberapa inchi di depan Jonghyun.

Gomawo,” ucap Jonghyun pendek tanpa beralih dari pekerjaannya.

Ya, pagi-pagi sudah buka sobotta[1], rajin sekali!” Hyora meninju pundak Jonghyun. Sobotta? Atlas anatomi[2] dengan tebal ribuan halaman itu ia buka pagi-pagi begini?

Jonghyun terperanjat. Kedua alisnya mengernyit. “Ne? Aku melakukan ini tiap kali aku dapat giliran jaga malam atau jaga siang.”

“Oh,” Tawa di wajah Hyora berubah canggung. Satu lagi ketidakpeduliannya terbongkar di sini. Ia bahkan tak tahu apa kebiasaan Jonghyun di pagi hari ketika senggang. Urusan perusahaan membuatnya terlihat semakin jauh dari kehidupan keluarga.

“Mengapa kau suka anatomi tulang manusia, Oppa?” Hyora mengalihkan pembicaraan. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, memperhatikan gambar yang juga tengah dicermati oleh Jonghyun.

“Entahlah.” Kedua bahu Jonghyun terangkat. “Bagiku mereka terlihat seperti satu kesatuan. Misalnya aku analogikan mereka,” Ia menunjuk sebuah tulang pada anggota gerak bagian bawah. “Tibia (tulang kering) dan fibula (tulang betis), mereka suatu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Anggap tibia adalah seorang suami, dan fibula seorang istri. Seandainya salah satu dari mereka patah bayangkan apa yang terjadi? Rasa sakitnya akan menjalar ke seluruh tubuh,”

Penjelasan ini.., jelas-jelas Jonghyun sedang menyinggung kemungkinan dalam keluarga mereka. Apakah ia benar-benar hanya memberikan sebuah analogi atau sengaja membidikkan anak panah untuk menyinggung Hyora?

“Keluarga akan turut merasakan rasa sakit itu. Begitu, bukan?” tanya Hyora, sedikit ragu. Ia memperhatikan wajah Jonghyun dengan seksama saat menjelaskan analogi itu. Dan hasilnya, datar. Oh tidak, Hyora tak bisa menerkanya. Ekspresi Jonghyun lebih terlihat seperti dosen daripada orang yang ingin mengungkapkan kekesalannya.

Puas dengan penjelasan itu, Jonghyun menatap Hyora. Tiba saatnya ia ke puncak dari analogi itu. Ia menghembuskan nafas sesaat kemudian berkata, “Lalu, kau tahu, bagian tubuh mana yang akan merasakan dampak yang paling fatal?”

Hyora menelan ludahnya, terasa pahit. Dengan perasaan mulai berkecamuk ia menjawab, “kaki?”

“Kau benar, dia tak akan bisa berjalan lagi, jika tidak segera diobati” Jonghyun mengangguk.

“Analogi kaki itu anak mereka, bukan?”

“Iyap, kau benar!” Deg, Jonghyun terdiam. Analogi macam apa yang ia berikan barusan? Aish, itu membuatnya menyadari sesuatu saat mimik wajah Hyora merubah.

Ya, mengapa matamu berkaca-kaca, jangan katakan kau takut melihat gambar-gambar cadaver[3] di sobotta ini?” Jonghyun memalingkan wajahnya. Jangan, jangan sampai pagi ini rusak dengan analogi seenak jidatnya itu.

Ne? Hahaha, tidak begitu juga.” Hyora kembali meninju pundak Jonghyun. Tak berbeda dengan Jonghyun, ia sendiri tak mau percakapan itu menjadi perdebatan. Tak ada yang salah dengan analogi, Jonghyun berhak memikirkan dan menjadikannya acuan jika itu memang membuatnya memahami pelajaran dengan lebih baik. Dan orang-orang tak harus menanggapinya dengan serius untuk itu.

“Ngomong-ngomong, analogimu bagus,” puji Hyora. Ia memamerkan senyum manisnya.

“Hei, aku peraih peringkat terbaik di bagian anatomi waktu kuliah dulu,” ujar Jonghyun sambil mengacak rambut Hyora.

“Baik, baik, Raja Cadaver.” Hyora menangkap tangan Jonghyun. Bukan karena ia tak suka rambutnya diacak. Entah mengapa, ia ingin menggenggam tangan namja itu. Hanya ingin, dan sisanya… entahlah….

“Lalu, kenapa malah beralih profesi menjadi ahli kandungan?” Hyora mengalihkan pembicaraan lagi. Masih berhubungan dengan pembicaraan barusan. Yah, setidaknya ia masih punya bahan obrolan daripada menggenggam tangan Jonghyun dalam diam seperti pasangan muda yang baru jadian.

“Entahlah, mungkin saat itu aku berpikir menjadi dokter kandungan bisa menyelamatkan dua nyawa. Jadi, pahalanya dua kali lipat, bukan?” Jonghyun tersenyum bangga. Memang dalam pekerjaannya ia memakai jas putih, namun dalam imajinasinya ia membayangkan ada sepasang sayap di punggungnya Lalu ia akan menunggangi seekor unicorn dan menghampiri pasiennya secepat kilat. Dalam kata lain, ia adalah seorang malaikat penyelamat.

Hyora menghembuskan nafas panjang. “Mulai lagi,” cibirnya berbisik. Jika sudah seperti ini, ia menarik kembali kata-katanya tentang kehebatan Jonghyun. Apakah benar kuliah hampir sepuluh tahun dan ditemani buku-buku dengan jumlah halaman minimal 300  membuat dokter atau pun mahasiswanya bisa menjadi gila? Oh, Hyora tak ingin menjawabnya, berikan saja pendapatmu sendiri setelah melihat Jonghyun.

Yaa, itu keuntungannya. Bagaimana kalau ada yang meminta aborsi? Kau bisa membunuh dua orang sekaligus!” Kali ini Hyora melontarkan cibirannya lebih keras, membuat Jonghyun terdiam dan menampakkan ekspresi dongkol di wajahnya.

Yaa! Kalau yang itu lain lagi soalnya,” celetuk Jonghyun sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Hahaha.” Hyora terkekeh. Sekarang jadi satu lawan satu.

Seperti apakah perbincangan yang mereka lakukan? Baik Jonghyun ataupun Hyora, keduanya menikmati pembicaraan mereka. Terlebih untuk Hyora, setelah sekian lama ia merasakan kembali kehangatan persahabatannya dengan Jonghyun. Meski hanya sebuah pembicaraan singkat, ia bisa merasakan Jonghyun tetap apa adanya dan kehangatan persahabatan dengan namja itulah yang membuatnya bisa berekspresi dengan bebas dan bisa seenaknya bertingkah.

***

“Nah, kita sampai. Wah kau penunjuk jalan yang hebat, Yong Sang-ah!” puji Jinki sambil memarkir mobilnya di sebelah utara lapangan.

Yong Sang tak menjawab. Ia hanya memamerkan sederet gigi susunya. Bangga, namun bingung harus berkata apa. Ia membuka pintu mobil lalu bergegas keluar. Tangannya menggenggam tali ransel sementara pandangannya mulai menjelajahi penghuni sekolah. “Itu Minho dan Victoria Seonsaengnim. Ayo ke sana!” Ia menemukan sosok yang dicarinya sedang bercakap-cakap di dekat loby.

Yong Sang mendahului Jinki berlari. Namja itu masih berdiri di tempatnya. Setelah Yong Sang menyebut nama Victoria entah mengapa ia menjadi sedikit gugup. Perlahan Jinki melangkahkan kakinya mengikuti Yong Sang. Mungkin sejarahnya yang agak kikuk menghadapi wanita membuatnya menjadi canngung seperti sekarang ini. “Ayolah, Jinki. Dia hanya teman SMU-mu.” Jinki membesarkan hatinya. “Hanya saling menyapa dan berbasa basi, tidak sulit,”

Annyeong haseyo, Sonsaengnim, Minho-ya!” Yong Sang menyapa guru dan sahabatnya. Seperti biasa, ceria dan semangat.

Annyeong, Yong Sang-ah..,” Victoria membalas sapaan gadis kecil itu dengan nada keibuannya. Kedua mata bulatnya menyipit saat mendapati orang yang mengantar Yong Sang bukan Jonghyun ataupun Hyora. “Kau… Jinki Oppa?”

Ne, apa kabar?” Jinki menyeringai canggung. Ia menggaruk kepala bagian belakangnya tak karuan, melampiaskan semua rasa kikuknya di sana dan berharap anggota tubuhnya yang lain tetap bereaksi dengan normal.

“Baik, tumben kau mengantar Yong Sang, mana Jonghyun dan Hyora?” Sekali lagi Victoria tersenyum, diiringi kedua alis mengernyit saat menanyakan di mana ayah dan ibu Yong Sang.

“Mereka di rumah. Aku sendiri yang berinisiatif untuk mengantar Yong Sang. Err, mereka jarang punya waktu berdua.” papar Jinki jujur. Ya, dia tak punya alasan lain.

“Aku tahu, pilihan yang bijak,” aku Victoria. Mungkin ia tak tahu banyak, namun beberapa kejadian yang ia saksikan antara Jonghyun, Hyora, dan Yong Sang cukup membuatnya tahu bahwa keluarga itu memiliki persoalan yang rumit.

Annyeong haseyo, Ahjussi. Choi Minho imnida,” Minho memperkenalkan dirinya saat ada jeda antara percakapan Jinki dan Victoria.

Ne, Lee Jinki imnida.” Jinki menatap anak laki-laki itu, tersenyum. Ia mengamati kedua manik besar dan lekuk wajahnya. “Kau tampan,” komentar Jinki

“Gomawoyo.”

“Yong Sang-ah, apa dia pacarmu?” Jinki menundik pundak Yong Sang dan sukses membuat wajah gadis itu beserta Minho berubah menjadi merah padam.

Yaa, Ahjussi!”

Oppa, kau masih saja seperti zaman SMU dulu. Iseng sekali.” Victoria mendecakkan lidahnya. Ia menoyor pundak Jinki dengan ekspresi menahan tawa.

“Haha, habis mereka serasi.”

“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Taeyeon Eonnie? Bagaimana hubungan kalian?” tanya Victoria semangat. Hampir saja ia melewatkan hal yang selalu ia tanyakan jika bertemu Jinki waktu SMU.

“Mereka akan menikah dalam waktu dekat ini, Seonsaengnim!” seru Yong Sang. Ia melirik Jinki dan menunjukkan bahwa dirinya juga bisa mengerjai orang lain.

Yaa, kau anak kecil, tau apa urusan orang dewasa?!” Jinki mencubit gemas pipi Yong Sang. Anak-anak zaman sekarang memang cepat dewasa, pikirnya.

“Wah, jinccayo? Jangan lupa undang aku nanti!”

“Tentu. Kau sendiri, kapan akan menikah?”

“Entah, aku masih ingin sendiri. Aku suka bersama anak-anak. Lagipula namjachingu-ku tidak ingin tergesa-gesa,” ujar Victoria, wajahnya terlihat tersipu saat mengucapkan beberapa kata terakhir.

Yaa, daritadi bicara soal menikah,” Yong Sang menyela. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap guru dan pamannya seolah mereka lebih kekanak-kanakan daripada dirinya dan Minho.

“Mereka kan baru bertemu setelah sekian lama, Yong Sang-ah,” papar Minho sopan. Ia mengangguk hormat pada Jinki dan Victoria sembari menarik lengan seragam Yong Sang, memberi isyarat untuk segera pergi dari sana.

“Baiklah, kalau begitu kami ke kelas duluan. Gomawo sudah mengantarku, Ahjussi.”

“Sama-sama.” Jinki menatap punggung Yong Sang dan Minho yang terlihat semakin menjauh. Tidak, tepatnya ia hanya menatap punggung Minho. “Hei, Vic, anak laki-laki itu, berapa usianya? Gaya bicaranya dewasa sekali.”

Victoria tersenyum tipis. Jinki adalah orang kesekian yang berpendapat demikian tentang Minho. “Dia seumuran dengan Yong Sang. Yah, hanya saja, dia punya ciri khas sendiri.”

***

Hyora melirik jam tangannya. Pukul 10:30 PM. Astaga? Hampir lima jam ia duduk di kursi kayu sejak acara makan-makan dimulai. Pantatnya terasa panas. Ia menopang wajahnya dengan tangan kanannya yang ia rasa masih memiliki tenaga. Merayakan ulang tahun perusahaan secara intern ternyata tidak lebih sederhana ataupun lebih baik daripada turut mengundang pihak luar. Keduanya sama saja harus membuatnya dikelilingi para pemabuk yang beberapa di antaranya mulai meracau atau bahkan pergi ke toilet untuk sekedar memuntahkan isi perut mereka.

 “Hyora-ssi, mengapa hanya makan sedikit? Tubuhmu hampir seceking ikan teri. Ambilah bulgogi[4] atau ramyeon[5]. Jarang-jarang kita berkumpul bersama. Ayo, jangan sia-siakan,” ucap Tuan Shi, salah seorang atasan dari bagian keuangan, membuat pandangan Hyora kembali terfokus bahwa ia sedang ada di dalam sebuah acara.

“Hei, dia kan masih ibu muda, wajar kalau masih ingin menjaga bentuk tubuh. Nanti putrinya pasti ingin meminta adik. Kalau tubuhnya melar, nanti suaminya enggan.” Nyonya Yoon, pegawai dari bagian pemasaran, kurang menyetujui usulan Tuan Shi.

“Hh, dasar wanita zaman sekarang.” Tuan Shi hanya menggeleng, tak berkomentar lagi.

“Baik, aku akan tambah lagi.” Hyora tertawa kecil, senang juga masih ada yang memperhatikannya dalam acara ini. Ia mengambil lima potong bulgogi dan meletakkannya dengan teratur di mangkuknya. Baru ia akan melahap daging kecoklatan itu, ia melihat pemuda di sampingnya tengah mengamati gerakannya dengan seksama dan itu refleks membuatnya berhenti. “Key, kenapa melihatku seperti itu?”

“Err, tidak. Lanjutkan saja makanmu.” Yang ditanya, Kim Kibum segera memalingkan wajahnya. Aish, kebiasannya itu begitu sulit untuk dihilangkan.

“Key, kau mau bulgogi lagi?” tawar gadis di sebelahnya, Kim Hyunri. Gadis itu tampaknya menyadari kelakuannya barusan, dan ia tentu tidak menyukainya.

“Boleh, tolong ambilkan untukku!”

***

Jonghyun membalikkan koran yang akur menjadi temannya malam ini ke halaman 20. Sesungguhnya ia tak benar-benar fokus membaca. Ekor matanya lebih sering melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 10:50 PM. Jari kakinya mulai bergesekan dengan cepat, bingung dan resah. Apa yang masih dilakukan Hyora pada jam seperti ini?

Appa, mana Umma?” Suara serak dari arah kamar tidur membuat Jonghyun segera meletakkan surat kabarnya.

“Masih di kantor, Yong Sang-ah. Ada apa? Mengapa wajahmu pucat?” tanya Jonghyun dengan alis mengernyit.

Yong Sang tak menjawab. Ia hanya mengucek sebelah matanya lalu kembali berjalan ke kamarnya.

Jonghyun bergegas menghampiri Yong Sang. Tak biasanya ia terbangun pada jam seperti ini. Ia mendapati Yong Sang tergolek di atas tempat tidur, matanya terpejam dengan paksa. Nafasnya memburu sementara pelipisnya mengeluarkan keringat dalam bentuk titi-titik air. Jonghyun meraba kening Yong Sang. Seketika itu kecurigaannya terjawab. “Astaga, badanmu panas!”

Yong Sang tak merespon keterkejutan ayahnya. Ia bahkan menurut saja saat Jonghyun memberinya satu sendok paracetamol[6] sirup. Ia tak terlalu peduli dengan kondisi tubuhnya saat ini. Entah mengapa ia merasa rindu dengan Hyora. Tiba-tiba saja rasa itu muncul dan memenuhi ruang di dadanya.

“Kau makan apa saja hari ini?” tanya Jonghyun sambil mengusap puncak kepalanya.

“Aku beli es krim di sekolah,” jawab Yong Sang pendek.

“Hhh, cuaca sedang buruk, Yong Sang-ah.” Jonghyun menghela nafas. Sama halnya dengan Yong Sang, ia sendiri tak ingin terlalu banyak bicara saat ini.

“Maaf,” Yong Sang berbisik. “Kenapa Umma belum pulang?”

“Mungkin para karyawan masih mengobrol. Jarang-jarang kan mereka berkumpul dengan santai?” ucap Jonghyun tersenyum, berusaha menghibur gadis kecilnya. Meski tak sepenuhnya tepat seperti yang dikatakannya, setidaknya ia benar mengenai orang-orang perusahaan Kibum yang tengah berkumpul bersama.

“Bagaimana kalau orang itu, yang bernama Key atau Kibum, mengganggu Umma lagi?” Laki-laki itu, orang yang pertama kali ia temui tengah adu mulut dengan appa-nya. Sejak saat itu hatinya langsung memberi citra buruk tentang Kibum, dan entah mengapa kali ini bayangan yang seperti mimpi buruk itu membuatnya memiliki sebuah prasangka tak enak.

“Tidak, Sayang. Jangan pikirkan yang macam-macam. Tidurlah, besok kau harus sekolah.” Jonghyun berusaha meyakinkan. Tidak hanya untuk Yong Sang, ucapan itu ia tujukan lebih besar untuk dirinya. Semoga saja tak akan terjadi sesuatu yang buruk.

***

Lima menit menjelang pukul sebelas malam kondisi hampir tak tekendali. Racauan para karyawan yang mabuk, membuat Hyora ingin mengeluarkan isi perutnya. Ditambah bau alkohol yang menyengat, semakin menguatkan keinginannya untuk pergi ke toilet.

“Pelayan, bisa tambah satu gelas soju[7] lagi? Hik.” Aish, bahkan Kibum, orang yang selama ini selalu disanjungnya, tak dapat menahan diri dengan kenikmatan dan kehangatan yang diberikan oleh belasan cangkir soju.

“Baik, Tuan.” Pelayan yang kebetulan berada di dekat Kibum mengiyakan permintaannya dan bergegas pergi.

Yaa, berapa gelas yang sudah kau habiskan, Key? Wajahmu bahkan sudah merah padam!” sergah Hyunri. Gadis itu rupanya risih juga melihat keadaan Kibum.

“Kau bilang apa?” dengan susah payah Kibum mengangkat kepalanya yang sejak tadi terbenam di sela-sela lipatan kedua lengannya. Ia menatap Hyunri seksama dengan kedua mata merahnya. “Hyunri-ya, kenapa sekarang kau ada tiga? Hik.”

“Astaga, dia mulai berhalusinasi.” Hyunri mendesah kesal, ia menyibakkan poninya sebagai tanda ia hampir meluapkan emosinya.

“Ngomong-ngomong, kau cantik hari ini, Hyunri-ya, hik. Mau tidur denganku nanti di apartement? Hik.” Kibum mengulurkan tangannya ke arah Hyunri, namun dengan sigap gadis itu mencegahnya dan membuat lengan Kibum kembali terjatuh begitu saja tanpa ada tenaga untuk menahannya.

 “Aish, dia mulai melantur!”

Pelayan tadi datang dengan satu cangkir soju. Tangan terampilnya memegang bagian bawah cangkir itu. Ketika ia hendak memberikan cangkir itu pada Kibum, Hyora mencegahnya. “Letakkan saja di sini, manager sudah mabuk.”

“Hei, aku bukan suamimu, hik. Jangan larang aku sesukamu, hik. Kemarikan soju-nya.” Kibum mengangkat lagi kepalanya dengan susah payah. Tangannya berusaha menggapai soju yang dijauhkan oleh Hyora, namun ia keburu teler sebelum tangannya sempat meraihnya.

Tit… tit… tit… ponsel Hyunri berdering.

Ne, Appa? … Begitukah? .., Baik, aku akan ke sana sekarang.”

“Hyunri-ssi, apartement-mu bersebrangan dengan apartement manager, bukan? Bisa kau antar dia dia pulang?” tawar Tuan Shi. Acara makan-makan tampaknya berakhir jam ini. Hanya sedikit karyawan yang masih bertahan dengan kewarasannya, jadi tak mungkin untuk dilanjutkan.

“Maaf, aku harus ke rumah sakit. Umma-ku sakit, sekarang aku harus menggantikan appa menjaganya,” tolak Hyunri halus. Ia bergegas mengemasi barang-barangnya. “Aku pergi dulu!”

“Kalau begitu, Hyora-ssi, kau  saja yang mengantarnya.” Ucapan Tuan Shi sukses membuat kedua bola mata Hyora membulat, hebatnya Hyunri bahkan menghentikan langkahnya dan kembali menatap ke arah mereka.

Ne? Kenapa tidak menyuruh bagian keamanan atau yang lain?” Hyora ragu dengan tawaran semacam itu.

“Banyak karyawan yang mabuk, petugas harus mengantar mereka. Aku juga akan membantu. Lagipula kau dekat dengan manager. Tak apa, antar saja dia ke apartement-nya,” desah Tuan Shi, ia seperti tak punya pilihan.

Hyora merasa tak tega melihat Tuan Shi dan bagian keamanan lain jika dibebankan lagi dengan tugas mengantar Kibum. Hyora memandang Hyunri yang belum meneruskan langkahnya. Gadis itu tak memberi ekspresi apapun di wajahnya. Ia hanya terlihat seperti berkata ‘lakukan saja sesukamu.’

Ne, baiklah.”

***

Pukul setengah dua dini hari. Jonghyun mengusap wajahnya. Ia mendesah berkali-kali. Tangannya meremas kuat ponsel yang digenggamnya. Ingin sekali ia membanting benda itu. Yang membuatnya ingin meledak adalah, ponsel Hyora sampai saat ini tak bisa dihubungi.

Jonghyun beranjak ke kamar. Ia mengobrak-abrik meja tempat Hyora menyimpan arsip-arsip tentang perusahaannya. Sebuah buku kecil dengan panjang tak lebih dari 15cm menjadi harapan terakhirnya, catatan kecil tempat Hyora menyimpan nomor ponsel teman sekantornya. Ia mulai membuka satu-persatu halaman buku mungil itu dan mencari nama seseorang yang kira-kira bisa ia hubungi.

Butuh 3 menit pencarian hingga ia berhenti pada sebuah nama di halaman ke 35, Kim Hyunri. Tanpa basa-basi Jonghyun mencoba menghubungi nomor gadis yang ia ketahui sebagai salah satu sekretaris Kibum.

Yeoboseyo?” Terdengar suara di ujung sana, lembut dan hampir berbisik.

Ne, yeboseyo, kau Kim Hyunri?” Jonghyun memastikan pemilik suara itu adalah orang yang ia cari.

Ne, anda siapa?”

“Aku Kim Jonghyun, suami Hyora. Bisa kau keraskan sedikit volume suaramu?” pinta Jonghyun, ia kesulitan mendengar suara Hyunri yang terkesan seperti orang yang akan mati besok.

Mianhae, tidak bisa. Aku sedang berada di bagian interna[8] rumah sakit.”

Ne? Kau tidak ikut merayakan ulang tahun perusahaan?”

“Aku ikut. Ada apa?”

“Kau tahu di mana Hyora?” Cukup basa-basi yang mereka lakukan. Jonghyun langsung ke inti permasalahan.

Ne? Dia belum pulang?!” Suara Hyunri terdengar sedikit mengeras. Ia mulai punya firasat tak enak tentang ini.

“Belum,” jawab Jonghyun pendek.

“Err, tadi setelah acara berakhir, manager kami, Kibum, mabuk. Aku diminta mengantarnya pulang, tapi aku menolak, aku harus menjenguk ibuku. Akhirnya pihak perusahaan meminta Hyora yang mengantarnya karena banyak karyawan lain yang mabuk. Petugas harus mengantar mereka,” jelas Hyunri panjang lebar.

Oh tidak, ini mimpi buruk. Jonghyun hanya fokus saat mendengar Hyunri mengatakan Hyora mengantar Kibum pulang. Sisanya ia tak peduli.

“Jam berapa Hyora mengantar Kibum?” Volume suara Jonghyun berkurang, ia mulai membuat berbagai praduga tentang apa yang dilakukan Kibum dan Hyora sekarang.

“Pukul sebelas malam tadi,” ucap Hyunri dengan suara bergetar.

Ne.., baiklah, terima kasih.” Jonghyun mematikan ponselnya setelah itu. Ia merebahkan kepalanya pada sandaran di sofa. Kedua tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. Apapun bisa terjadi kali ini. Dan seperti apa perkara yang akan menghadangnya, ia harus menguatkan dirinya. Ia harus siap.

TBC


[1] atlas anatomi yang wajib dimiliki mahasiswa kedokteran

[2] ilmu yang mempelajari struktur bagian tubuh makhluk hidup (dalam konteks ini khususnya manusia)

[3] pendonor jasad untuk penelitian kedokteran

[4] Makanan berbahan dasar daging khas Korea

[5] Mie ramen khas Korea

[6] obat penurun panas

[7] minuman distilasi asal korea

[8] penyakit dalam

©2011 SF3SI, Chandra.


Officially written by Chandra, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

120 thoughts on “The Silent Touch of Marriage – Part 6

  1. sumpah, aku menghayati banget baca part ini..
    apalagi part depan udah klimaks, jadi penasaran apa yang terjadi nanti 0.0
    ditunggu deh lanjutannya, hwaitting, Chandra!!

  2. Waaaaa…..
    eouni nyesek bngt jd jonghyun nya
    kasian yongsang nyaT_T
    ditunggu part selanjutnya jangan lama2 ya eon…
    Maaf jg baru komen…
    Hehe…

  3. serius, part in nyesek banget……
    aish, si key, sumpah berasa pengen nikam si key… #ambilParang.Bacok

    hoaa….
    kasihan yonsang, kasihan jong… mereka berdua.. :'(…
    arghh, semakin penasaran dgn kelanjutannya, bagaiman reaksi jong saat hyora pulang? kelanjutannya hubungan mreka berdua? apa mrka akan bercerai? aishhh, jangan sampeeee…😥
    ditunggu kelanjutannya oen.. hwaiting…🙂

  4. Plak…Plak…(tabok Key sama Hyora bolak-balik)!
    Bikin jengkel stengah idup tu org bedua (key/Hyora,sp lg…)
    Jjong, yg sabar,ya. demi Yonsang… mdh2an bener2 nggak trjadi apa2 antara Key ama Hyora. wlaupn trjadi apa2, dgn senang hati aku siap jadi ibunya Yonsang… (dikejer blingers, dijambak readers… nasib-nasib…)
    Aku harap next partnya segera, Oen… Jgn biarkan readers setiamu mnunggu trlalu lama, spt aku menunggu dudanya JJong disini… (aisshhh… ngaco lg!)
    Mianhe…, deep bow…
    Oenie daebak!!!!!

  5. key lg mabuk, hyora d suruh nganterin k apartement.a.. hal buruk apa yg akan terjadi.. huaaahhhhh andweee.. kasian jonghyun..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s