I’m The Real Humanodevil – Part 4

I’m The Real HumanoDevil – Part 4

Author: Lee Taehyunnie

Main cast:

SHINee Kim Jonghyun

SuJu Lee Sungmin

Gwiboon (Key Girl Ver.)

SuJu Kim Kibum

Support cast:

Other SHINee Members, f(x) member , SNSD members, SuJu Kim Heechul, SuJu Leeteuk, , SuJu Kyuhyun, BoA,TVXQ Changmin, BigBang TOP & Taeyang.

Length: sequel

Genre: Mystery

Rating : PG-13

2 minggu kemudian…

Kasur itu berderit dan bergoyang pelan karna Kim Jonghyun berbaring gelisah di atasnya. Luka di tangan dan wajahnya memang sudah tinggal bekas tapi luka di dada, kaki dan memar di punggungnya belum sembuh sama sekali. Ia berbalik ke kanan. Disana Gwiboon tertidur nyenyak di atas futon*. Lama ia memperhatikan perempuan yang sedang terlelap itu, menyusuri bentuk wajah Gwiboon yang terpahat sempurna. Delapan bulan ‘diasuh’ olehnya baru kali ini Jonghyun menyadari Gwiboon memiliki kulit yang putih bersih tanpa cacat. Rambutnya yang baru saja dicat pirang seolah bercahaya dalam temaram kamarnya, hidungnya yang dibentuk sebaik mungkin oleh Pencipta, garis matanya yang indah dan bibir merah jambunya yang…ah, tidak! Jonghyun mencubit pipinya sendiri menyadari apa yang baru saja ia pikirkan.

“Gwiboonie…” panggilnya lirih. Perempuan itu bergerak, bukan untuk bangkit dan melayani Jonghyun tapi untuk mengganti posisinya memunggungi Jonghyun.

“Yeobo, aku mau pipis…” rengek Jonghyun. Seketika mata Gwiboon terbuka. Dengan malas perempuan itu berdiri sambil mengeluh, “Umurmu berapa sih?” dan Jonghyun hanya menjawab dengan cengiran lebarnya. Gwiboon yang setengah sadar berusaha memapah Jonghyun menuju toilet. “Ppali! Atau kau akan melihatku tidur di depan toilet!” ancam Gwiboon. Terdengar suara tawa kecil dari dalam toilet.

“Lakukan saja! Hati seorang diva tidak serendah itu sampai rela tidur di depan toilet hanya untuk menunggui Dooly** kecil buang air. Dia takkan merelakan kulitnya yang mulus berbau toilet besok!” sahut Jonghyun. Gwiboon mendelik ke arah pintu toilet, ‘orang ini mengejekku ya?!’.

“Ya! Cepatlah!” Jonghyun tersenyum. Ia menatap lurus pada bayangannya di dalam cermin, kembali tenggelam dalam lamunannya. Seketika dadanya terasa sesak. Ia mencengkeram piamanya kuat, tepat dimana luka itu masih bersisa. Kembali ia bertanya pada bayangan dirinya yang seakan mengejek, kenapa ia melakukannya?. Pertanyaan itu membuat kepalanya terasa sakit. Ia mulai mengingat-ingat kejadian dua minggu lalu yang telah menyita waktu luangnya hanya untuk memikirkan apa yang telah dilakukannya.

“Haha! Kim Jonghyun, kau melakukan hal bodoh lagi. Kenapa kau melakukannya? Ada yang salah denganmu? Apa hatimu sudah tidak berfungsi lagi?” bisiknya pada diri sendiri. Dilihatnya bayangan itu seolah-olah menjawab, ‘Ya, kau memang bodoh. Kau sudah melakukan satu lagi kesalahan besar. Kenapa tidak katakan saja agar semua orang tau apa yang sebenarnya terjadi?! Hatimu benar-benar sudah tidak berguna lagi!

Ia menyeringai melihat sosok dengan kepala diperban itu. Ingin sekali rasanya ia tertawa melihat sosok dalam cermin , namun ia urung melakukannya karna ia yakin Gwiboon masih terjaga di luar sana.

Kibum berdiri di depan meja kerjanya dengan tangan di pinggang. Sesekali ia mengacak rambutnya frustasi kemudian duduk kembali di kursinya yang melelahkan. Siapa yang tahu sudah berapa kali ia mengulang-ulang rekaman cctv SM High School tapi belum juga menemukan pembunuhnya. Seseorang telah menghapus bagian penting yang di perlukannya.

Dengan rasa lelah yang menggerogoti setiap sendi tulangnya ia meneguk sisa kopi yang telah dingin. Sesekali ia memijit dahinya yang terasa sakit. Akhir-akhir ini ia kurang tidur. Seringkali ia mendapati dirinya terjaga di malam hari ketika mimpi buruk menguasai alam bawah sadarnya. Ia menggeleng kemudian membiarkan kepalanya jatuh ke atas meja kerjanya.

Tok…tok…tok…

“Masuk…” ucap laki-laki itu tidak bersemangat. Seseorang masuk dengan senyuman aneh di wajahnya. Orang itu adalah Choi Seunghyun.

“Aku punya dua kabar baik dan satu kabar buruk, mana yang ingin kau dengar lebih dahulu?” kata Seunghyun yang dengan santai menyandarkan tubuh tinggi tegapnya pada dinding di belakangnya.

“Kabar baik?”jawab Kibum dengan nada bertanya. Jarang sekali ada kabar baik untuknya.

“Pertama, mayat yang kau temukan di perpustakaan minggu lalu bukan Yoona. Dia Jung Krystal, dari kelas X B…” Kibum tersentak. Ia melompat dari kursinya dan berlari menghampiri rekan kerjanya itu.

“Jangan bercanda! Itu tidak lucu! Aku melihat sendiri tanda pengenalnya!” protes Kibum tidak percaya. Ia yakin tanda pengenal di dada perempuan itu bertuliskan ‘Im Yoona’ bukan ‘Jung Krystal’ seperti yang dikatakan Seunghyun. Tidak pernah terbesit dipikirannya bahwa yang ditemukan dan ditangisinya bukan Yoona.

“Sayangnya melalui berbagai tes sudah terbukti bahwa mayat itu bukan Yoona tapi Krystal. Beberapa hari yang lalu keluarganya melapor dengan kami bahwa anaknya hilang sejak 16 hari yang lalu.” terang Seunghyun. Kibum terpaksa kembali berpikir keras. Ini artinya masih ada kemungkinan Yoona masih hidup atau perempuan manis itu juga telah dihabisi. Mungkin saja pembunuh itu ingin menyimpan dulu mayat Yoona sampai saatnya ia mengantar mayat itu pada Kibum, siapa yang tahu?.

“Lalu kenapa tanda pengenal Yoona ada pada Krystal?” wajah penuh tanda tanya itu kini menghadap Seunghyun yang hanya menjawab dengan mengangkat bahu.

“Mungkin orang itu ingin kau mengira mayat itu adalah Yoona dan benar, kau tertipu.” perkataan Seunghyun seketika menyadarkan Kibum. Mungkin benar kata Seunghyun, meskipun Krystal merupakan adik perempuan Jessica, ia terkenal memiliki wajah yang sangat mirip dengan Yoona ditambah keduanya teman dekat. Dengan itu si pembunuh menggunakan tubuh  Krystal untuk menipu Kibum. Tapi…kenapa?.

“Lalu?”tanya Kibum. Ia sudah berhenti berkeliling ruangan dan memutuskan untuk mendengarkan kabar baik dan kabar buruk yang dibawa rekannya.

“Lalu apa? Oh, pemilik toserba di samping SM High School memperbolehkan kita untuk mengecek rekaman cctv di depan tokonya. Harabeoji itu menyebalkan. Dia baru mau memberi izin setelah Gain dan Narsha yang memintanya.” ujar Seunghyun dengan nada kesal.

“Maklum, sudah tua. Jadi lupa umur. Lalu kabar buruknya apa?”

“Seperti biasa. Kami tidak menemukan apapun pada besi runcing yang kemungkinan dipakai untuk membunuh Leeteuk sonsaengnim di kantornya.” Kibum menghela napas berat. Ia sudah sering mendengar kabar itu dari setiap orang yang datang ke ruangannya sampai telinganya terasa sakit.

“Hyungnim! Kami menemukan sesuatu!” seru Lee Seunghyun yang tiba-tiba masuk dengan tangan mengacungkan flashdisk-nya tinggi-tinggi. Kibum dan Choi Seunghyun menoleh bersamaan ke arah polisi baru itu.

“Ada apa ini? Dua Seunghyun datang padaku, apa kau juga ingin mengatakan padaku bahwa aku telah ditipu, ada harabeoji yang menyebalkan dan kalian belum menemukan bukti apapun? Kalau begitu Choi ini sudah mengatakannya.” Lee Seunghyun menggeleng cepat dan berlari ke meja kerja Kibum. Ia bergegas membuka file dari flashdisk-nya dan mengisyaratkan rekannya untuk mengikutinya.

“Menurut keterangan beberapa siswa, semuanya sudah pulang pukul 4 sore kecuali beberapa siswa yang punya jam tambahan, hukuman, keperluan tugas dan bimbingan saja yang tidak pulang. Dalam video milik harabeoji itu kami temukan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Saat pukul 08.00 malam beberapa siswa melewati kamera itu. Pukul 09.45 malam ada seorang siswa yang keluar dari gerbang SM dengan pakaian yang berantakan. Kemudian sepi sampai pukul 10.04 malam, saat itu muncul mobil berwarna hitam dengan kecepatan tinggi. Seingatku hyungdeul berada di sana sekitar jam itu.” Seunghyun menatap kedua hyungnya lekat-lekat. Kibum hanya terdiam sampai suara Choi Seunghyun membuyarkan mereka dari pikiran masing-masing.

“Ne. Aku melihatnya.”

“Kemana?” tanya Kibum.

“Sepertinya Sungai Han. Kalau tidak salah mobil itu keluar dari samping SM. Aku ingat plat mobilnya.” ujar laki-laki itu sambil menyamankan posisinya di tepi meja. Kibum memperhatikan wajah Choi Seunghyun yang kelewat santai. Jauh berbeda dengan Lee Seunghyun yang dahinya sudah berkerut. Hati-hati Kibum mendekati laki-laki bertubuh tegap itu. “Apa yang membuatmu sesantai ini?” tanyanya heran. Lee Seunghyun ikut mendongak dengan alis tertaut.

Choi Seunghyun tersenyum penuh arti seraya memasukkan tangannya kedalam saku jasnya. Detik berikutnya ia mengeluarkan dua plastik yang masing-masing berisi kertas kumal dan beberapa helai rambut. Kibum membelalakkan matanya tak percaya sementara Lee Seunghyun membuka lebar mulutnya.

“Ya! Kau bilang tidak menemukan apapun!” sungut Kibum. Choi Seunghyun terkikik geli melihat ekspresi kedua rekan kerjanya.

“Aku bilang ‘tidak menemukan apapun pada besi runcing yang kemungkinan dipakai untuk membunuh Leeteuk sonsaengnim’, aku tidak bilang kami tidak menemukan apapun di kantornya.” ulangnya dengan fasih. Ia berusaha keras menahan diri untuk tidak menertawakan wajah kedua rekannya yang semakin aneh.

“Sini berikan!” Kibum merebut kedua plastik itu masih sambil memelototi Choi Seunghyun.

Annyeong haseyo! Jaljinaesseo? Bagaimana karyaku kali ini? Bagus? Bagus? Bagus? Hahaha, tidak perlu memuji, saya jadi malu~. Oh, bagaimana keadaan Yoona sesungguhnya? Apa sudah menyiapkan acara pemakaman untuknya? Kalau iya saya diundang tidak? Jahat sekali kalau sampai tidak diundang. Saya ingin memberikan penghormatan terakhir pada si ‘Yoona’ itu. Dan…sekedar pemberitahuan, mungkin kita akan jarang bermain karna tugas liburan musim dingin saya menumpuk. Mianhaeyo…’ seperti itulah isi kertas kumal yang dibungkus plastik itu membuat Kibum gemas. Kibum heran, orang ini bicara seolah mereka sedang membuat istana pasir bersama atau bermain salju di halaman rumah. Apa orang ini tidak berpikir bahwa dia sudah menumpuk dosanya sendiri dan terancam dipenjaran –jika tertangkap – atas semua pembunuhan sadis yang dilakukannya?. Lee Seunghyun menggelengkan kepalanya melihat tulisan itu.

“Anak zaman sekarang. Bunuh orang dibilang mainan. Dia kira penjara itu enak?” ujarnya seperti seorang ibu-ibu yang melihat sepasang anak sekolah berpelukan. Choi Seunghyun hanya menyeringai menanggapi omelan Lee Seunghyun. Kibum sendiri sibuk mengetuk meja dengan jarinya. Ia ingat sebelum Yoona menghilang ia sempat bertanya apa ia mengenal tulisan di kertas itu –karna merupakan kegemarannya menghapal gaya penulisan orang lain. Dan sepertinyaYoona tahu saat melihat ekspresi terkejutnya. Tapi sayang, tidak ada yang tahu dimana dan bagaimana Yoona sekarang.

“Seunghyun, suruh mereka memeriksa DNA-nya lalu cocokkan dengan siswa yang datanya sudah ku berikan! Ah, plat mobil itu juga!” perintah Kibum sambil menyodorkan bungkusan plastik itu entah pada siapa.

“Kau menyuruh siapa?” tanya Choi Seunghyun yang ditambah anggukkan Lee Seunghyun. Kibum mendengus geram, “Kalian berdua.” jawab Kibum akhirnya setelah beberapa kali menghela napas.

“Lalu apa yang hyung lakukan?”tanya Lee Seunghyun merasa bahwa Kibum tidak dapat pekerjaan sama sekali.

“Memangnya kau pikir video ini mau diapakan?” tanya Kibum kesal. Lee Seunghyun hanya nyengir kuda sebelum mendorong Choi Seunghyun keluar ruangan Kibum.

Pagi yang dingin di kota Seoul. Semalam turun salju yang membuat kota ini diselimuti hamparan putih hampir di setiap sudutnya. Pohon-pohon yang meranggas berjejer rapi dipinggir jalan bak pengawal yang mengiringi setiap pejalan kaki. Toko-toko di sepanjang jalan berlomba-lomba menarik pelanggan dengan bau masakan mereka yang mengepul dari jendela. Suara bola-bola salju yang berterbangan ditambah gelak tawa anak-anak semakin meramaikan jalanan kota Seoul. Tidak sedikit orang-orang yang ingin menikmati suasana musim dingin ini, termasuk kedua orang yang tengah berjalan menyusuri kawasan pertokoan ini.

“Kalau tahu begini lebih baik aku naik mobil. Apanya yang bagus dari jalan kaki?”dengus Jonghyun kesal.

“Jjongie-ya! Mau makan apa? Mumpung diluar bagaimana kalau jajangmyeon?” tanya Gwiboon antusias. Jonghyun menatapnya risih dan memilih untuk tidak banyak bicara. Dia tidak ingin kalimat yang keluar dari bibirnya malah membuat perempuan ini semakin ribut.

“Hei! Bagaimana kalau ke café itu? Mereka baru buka kemarin!” tunjuk Gwiboon semangat pada salah satu café di seberang jalan. Café itu bernuansa shocking pink dan shy coral dengan dinding floral yang penuh pita polkadot, sungguh menyilaukan mata seorang Jonghyun. Dengan cepat laki-laki itu menggeleng membuat Gwiboon di sampingnya mengerucutkan bibir.

“Kalau mau ke sana pergi saja sendiri atau ajak Taemin. Anak itu mungkin akan senang mendapat boneka barbie dan balon pink dari karyawan café itu,”

“Huft! Taeminnie mengomeliku habis-habisan kemarin sampai-sampai kami jadi tontonan orang-orang. Dia membuang boneka barbie ke jalan sampai terlindas mobil lalu meletuskan balon pinknya…”cerita Gwiboon. Jonghyun mendapati wajah Gwiboon yang memelas berada sangat dekat dengan wajahnya. Ia mendengus kesal sebelum menarik tangan Gwiboon ke tempat yang diinginkannya.

Bugh!

Belum sempat Jonghyun menyebrang tiba-tiba dirasakannya tangan Gwiboon terlepas. Ia berbalik dan mendapati Gwiboon tengah berdiri berhadapan dengan seseorang , kelihatannya tidak sengaja bertabrakan. Tapi bukannya meminta maaf orang itu kabur seperti melihat hantu.

“Jonghyun, bukankah itu Lee Sungmin teman sekelasmu?” tunjuk Gwiboon. Jonghyun memicingkan mata sebelum menaikkan bahu.

“Entahlah. Mungkin hanya mirip saja.”

Kini keduanya sudah berada di dalam bus. Gwiboon duduk di samping Jonghyun sambil membentangkan senyumannya lebar-lebar dengan kedua tangan memeluk kotak ayam goreng dari café Le Rose, terlihat sangat gembira. Namun Jonghyun sebaliknya. Ia duduk di samping jendela memangku boneka Barbie Nutcracker dan menggenggam balon pink berbentuk hati dengan wajah sebal. Ia melirik ke arah Gwiboon yang tengah bertingkah seperti seorang model iklan.

“Gwibonnie…” panggil Jonghyun pada perempuan itu, membuatnya berhenti memuji ayam goreng di tangannya.

“Ne?”

“Malam ini aku ke rumah Onew hyung. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya.”

“Ummm, baiklah. Tapi kau harus pulang sebelum pukul 8 malam!”

Hari semakin gelap di sebuah mini market, Choi Seunghyun tengah memandangi lemari pendingin di depannya. Ibu-ibu di belakangnya sibuk berbisik-bisik membuat Seunghyun sulit berkonsestrasi memilih minumannya.

“Seunghyun-ssi.” Seunghyun berbalik mendapati seseorang memanggilnya. Orang itu bertubuh pendek, memakai syal putih, topi hitam, mantel coklat kebesaran dan celana longgar. Seunghyun memicingkan mata. Apa aku mengenal orang ini? Pikirnya.

“Apa aku mengenalmu?” tanya Seunghyun ragu. Orang itu tersenyum kemudian berjalan mendekati Seunghyun yang kini sudah menggenggam dua kaleng soda.

“Kau tidak mengenalku, dan aku baru saja mengenalmu. Bisa kita bicara di jalan? Ada yang ingin aku katakan.” ujar orang itu sambil mengulurkan tangannya yang detik berikutnya di sambut oleh Seunghyun ragu.

Kedua orang itu berjalan beriringan menyusuri jalan kota Seoul yang mendadak lengang. Seunghyun masih belum bisa mengalihkan perhatiannya dari sosok di sampingnya. Orang itu tetap tersenyum lebar sepanjang jalan. “Baik, apa kau benar-benar mengahafal plat mobilku?” tanya orang itu tiba-tiba ketika mereka sampai di sebuah taman.

Seunghyun menatapnya bingung, “Apa maksudmu?”.

“Haha! Mobil hitam yang tiba-tiba muncul dari samping SM High School pada pukul 10.04 malam dua minggu yang lalu.” ujar orang itu sambil menyeruput kopi hangat di tangannya.

Seunghyun melompat ke samping setelah mendengar apa yang dikatakan orang itu. “Jangan-jangan kau- ah!”

Bruk!

Kalimat Seunghyun dengan cepat dipotong oleh sebuah lubang besar yang beberapa saat lalu berada tepat di belakangnya. Ia menatap ngeri pada dinding tanah yang tinggi dan juga tanah basah yang pertama kali menyambut tubuhnya. ‘Sial! Dia benar-benar mengatur timing yang tepat’.

“Jangan-jangan apa hah? Menurutmu aku pembunuhnya? Ya, benar! Benar sekali! Actually, I’m the main character in this show! Scriptwriter-nya pastilah tengah duduk tersenyum sambil memakan popcorn menonton akhir penampilanmu!” seru orang itu dari atas sana. Ia mengangkat sebuah pintu kayu besar dan mengayunkannya di hadapan Seunghyun. “Sampai jumpa, Seunghyun ssi…di neraka!”

Seunghyun merasakan air yang banyak tumpah di atas dadanya. Seketika lumpur dari air dan tanah di dalam lubang itu membanjiri tubuh Seunghyun. Laki-laki itu berdiri dan mulai mencoba memanjat dinding tanah yang licin dan tinggi meskipun punggungnya terasa patah.

“Bhahahaha! Sia-sia, Seunghyun ssi! Hadapi saja kenyataan ini! Kau tidak akan pernah menyebutkan nomor plat mobilku di pengadilan sebagai barang bukti!” seru orang itu tepat ketika air telah mencapai pangkal leher Seunghyun. Seolah ditarik oleh air yang dingin dan pilu itu tangan Seunghyun terlepas dan tenggelam. Ia berusaha berenang ke permukaan namun terhenti oleh sesuatu yang membentur kepalanya. Sial, orang itu sudah menutup lubangnya dengan pintu kayu.

Tenggorokkan Seunghyun tercekat. Ia mulai merasakan sesak di dadanya yang kehabisan oksigen ditambah lagi sekujur tubuhnya mulai kram. Meski sakit ia terus mencoba memukul pintu kayu itu yang toh tidak akan pernah terbuka. Ia mulai membayangkan bagaimana tubuhnya yang pucat, berkeriput dan berbau busuk muncul ke permukaan ketika seseorang membukanya, membuatnya bergidik. Lebih parah lagi jika tubuhnya yang membiru itu diangkat kemudian dimutilasi dan diawetkan sebelum dikirim ke kantornya.

Namun walau bagaimanapun, air yang gelap itu tetap masuk ke dalam rongga hidung dan mulutnya sampai ia tersedak. Pasrah, apa itulah satu-satunya keputusan yang harus dipilihnya sekarang dimana tubuhnya terasa cacat dan dadanya begitu sesak?. Jawabannya adalah ‘ya’ karna kemudian pendengarannya ikut hilang diikuti dengan penglihatannya. Semuanya hitam, sunyi, dan hampa.

Pyuhngsaeng gyuhte isseulge (I do) Nuhl

Yeobose…”

“Kibum ssi! S-seunghyun…hah hah…tidak…rumah…nya…” Kibum mengerutkan keningnya bingung. “Bicara yang benar, Taeyang ssi.”

“Hah, tunggu! Tadi aku menelpon Choi Seunghyun untuk menanyakan plat mobilnya tapi ponselnya tidak aktif. Aku mencoba ke rumahnya tapi hanya ada ibunya saja dan dia bilang Seunghyun ke mini market dua blok dari rumahnya. Aku menelponnya lagi, kali ini diangkat. Anehnya bukan suara Seunghyun yang menjawab tapi lagu Island Baby*** dan seseorang yang berbisik, ‘find me’. Bagaimana? Apa aku harus me…gyaaaaaa!”

Pletak!

Kibum menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Suara jeritan masih terdengar. Ia mengangkat telpon itu lagi dan berkata, “Taeyang ssi, gwenchana?”.

“K-Kibum…ssi, kau…ugh mendengarku? P-pembu…nuhnya…d-dia…y-akh!”suara itu terdengar lemah dan jauh. Sepertinya ia telah menjatuhkan ponselnya.

“Taeyang ssi! Katakan kau baik-baik saja! Taeyang ssi!” teriak Kibum panik. Ia hampir tidak sadar semua orang di terminal menatap bingung ke arahnya. Kibum membungkuk meminta maaf terutama pada seorang harabeoji yang hampir jantungan di dekatnya. Perhatiannya kembali beralih pada ponselnya ketika suara hembusan napas terdengar dari sana.

Eomma ga seom geu neul e gul tta reo ga myeon, a gi ga hon ja nam a jip eul bo daga. Pa do ga deul ryeo ju neun ja jang no rae e, pal be go seu reu reu reu jam i deom ni da…” Kibum tersentak. Seorang namja telah menyanyikan lagu Island Baby. Bukan suara Taeyang meskipun ia tahu Taeyang juga memiliki suara yang bagus. Suara orang ini lembut dan indah, membuat perasaanya sekarang campur aduk antara senang dan khawatir. Senang karna kemungkinan pembunuhnya adalah laki-laki – meski tidak banyak membantu, khawatir pada rekannya yang entah bagaimana sekarang.

“…eomma neon mo raet gil eul, dal ryeo op ni dah…find me.” dan sambungan terputus. ‘Bagus!’ Kibum berdecak kesal. ‘Kemarin Yoona, lalu Seunghyun dan sekarang Taeyang?!’.

TBC

*futon : tempat tidur asal Jepang yang biasa digelar di lantai

**Dooly : tokoh dinosaurus dalam lagu Baby Dinosaur Dooly (Minho-Hello Baby ep 1)

***Island Baby : lagu nina bobonya Korea, dinyanyikan SHINee di SHINee World Concert (yang Onppa pake sayap 0.0)

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

5 thoughts on “I’m The Real Humanodevil – Part 4”

  1. part 3nya udah dipublish kah? kalau uda kasih linknya dong ga ketemu soalnya. soalnya ga ngerti ceritanya kalau ga ada part sebelumnya. jadinya sekarang aku belum baca.. –“

  2. ini udah laaaaamaaaaaaaaaaaaaaa banget ff’a, sekitar thn 2011 ya? padahal aku dulu suka banget ama ff ini tp gara2 gak pernah di post part 4’a aku kira gak bakal dilanjutin.. author jgn lama2 ya post part 5’a, FIGHTING

  3. kyaaaa…..
    Udah skian lama aq nunggu kelanjutan ff nie, akhirna dipublis juga,
    Ff na DAEBAK bnget deh, author na jg,. ^^
    aq yg bca ja jg ngikut degdegkan,
    Kira2 sapa ya yg jd pembunuh..?!
    Tp part 3 na k0k gk da ea,.?!
    Blm dipublis ato gmana..?!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s