Fate

FATE

 

Author: Han Soon Hee
Main Cast: Kim Kibum (Key/Peureux), Han Soon Hee (Eve)
Support Cast:  Dewa Maree.
Length: Oneshoot
Genre: Romance, Fantasy
Rating: General

Author POV

“Siapa kau?!!” Jerit Eve nyaring. Dihadapannya sekarang, sedang berdiri sesosok makhluk aneh. Tampan? Ya, bisa dibilang tampan. Sangat tampan. Tapi sayangnya, aura yang dikeluarkan dari sosok makhluk didepannya ini menyeramkan. Tidak nyaman. Membuat Eve ingin segera pergi menjauh dari sosok dihadapannya itu.

Sosok itu memakai baju hitam. Atau lebih tepatnya disebut jubah. Jubah hitam yang panjang dan membalut tubuh pria itu dengan sempurna. Eve yakin, jika pria ini menjadi siswa baru di sekolahnya, pasti pria ini akan menggantikan peringkat Max, pria yang dipuja oleh hampir seluruh anak murid di sekolahnya. Tapi, entahlah. Eve bahkan tidak yakin bahwa sosok dihadapannya sekarang adalah manusia.

“Siapa aku? Aku adalah Peureux. Atau kalian bisa menyebutku, Dewa Kematian.” Jawab sosok dihadapannya itu dingin. Entah hanya perasaan Eve atau memang hal itu benar, pria itu sedang tersenyum mengerikan.

Eve berbalik kebelakang. Melihat tubuhnya sedang terbaring lemah dengan banyak sekali darah. Dia ingat, tadinya dia ingin balap motor bersama temannya, tapi karena dia kurang hati-hati, motornya menabrak pembatas jalan dan tubuhnya terpental jauh ke aspal. Eve bergidik ngeri mengingat kembali kejadian itu.

“Jadi sekarang apa? Kau ingin mencabut nyawaku??” Tanya Eve sambil menatap  Peureux dengan kesal.

“Kalian ternyata sudah bertemu, baru saja aku ingin mendahuluimu.” Muncul seorang yang lain, kali ini seorang gadis. Gadis itu memakai gaun yang terbuat dari kain yang sangat lembut. Bahkan Eve sendiri tidak pernah melihat baju seperti itu di bumi. Dia memakai mahkota yang terbuat dari air yang terus mengalir, tapi air itu tidak membasahi tubuhnya sama sekali. Matanya biru terang, terkesan menenangkan dan lembut. Entah dewa apa yang sedang dihadapan Eve sekarang, tapi wajahnya benar-benar sempurna.

“Ya, dan aku harap pilihannya kali ini bisa berubah.” Balas Peureux.

“Ya, tapi meningat dia sudah memilih pilihan yang sama selama 7 kali, itu adalah hal yang mustahil.”

“Aku tahu, tapi dia takdirku. Dan kali ini aku yakin aku akan mendapatkannya.” Peureux tertawa sinis.

“Bisakah kalian berhenti berdebat dan menjelaskan padaku semuanya? Aku benci menjadi orang yang tidak tau apa-apa disini!” Eve menyela pertengkaran ‘kecil’ kedua makhluk didepannya itu.

“Pergilah, biar aku yang menjelaskan semuanya kepadanya.” Mendengar perkataan wanita didepannya, Peureux menurut, dia pergi meninggalkan Eve dan wanita sempurna itu sendirian.

“Jadi, bisa kan kau jelaskan semuanya padaku?”

“Sebelumnya perkenalkan, aku dewa Maree atau yang biasa disebut dewa air. Saudara dari dewa Flamee, dewa api, ibumu. Flamee adalah istri dari dewa Lumikha. Yang mempunyai kedudukan tertinggi di sini. Kau mungkin tidak akan ingat ini, tapi dulu kau juga hidup disini, namamu Heiwa yang dikenal sebagai dewa kedamaian. Pada saat itu, kau ingin turun ke bumi karena bosan dengan semua fasilitasmu disini. Dewa Lumikha menentangmu, tentu saja. Tapi karena kau bersikeras, ibumu akhirnya membantumu turun ke bumi. Peureux tadi adalah takdirmu. Setiap dewa mempunyai takdirnya masing-masing yang sudah digariskan. Dan begitu kau menjadi manusia, takdir itu tentu saja dihapus. Sebenarnya Dewa Lumikha yang memilih tempat kelahiranmu. Seperti yang terakhir, dia memilih Amerika sebagai kota kelahiranmu. Dewa Lumikha memilihkan silsilah keluargamu dan memastikan bahwa hidupmu di bumi nyaman.” Eve melongo sesaat lalu mengerjapkan matanya untuk mengembalikan kesadaran.

“Apa kau pikir aku percaya dengan segala hal konyolmu itu? Dengar, aku baru berumur 16 tahun, dan kau bilang aku pernah menjadi dewa?? Dewa sepertimu bahkan sepertinya sudah berumur ratusan bahkan ribuan tahun. Sekarang, bukankah aku harusnya di surga? Bukan malah berhadapan dengan dewa sepertimu?” Eve mengeluarkan semua keraguannya dalam untaian kalimat yang panjang.

“Terserah kau mau percaya padaku atau tidak. Sekarang kau harus menghadap Dewa Fides. Ayo ikut aku.” Tanpa memperdulikan pertanyaan beruntun dari Eve, Maree berjalan menuju kearah pintu cahaya yang muncul entah darimana. Maree berbalik begitu menyadari bahwa Eve tidak mengikutinya.

“Kau mau ikut tidak? Ups, sepertinya kau tidak punya pilihan. Kau memang harus ikut denganku.” Maree mengulurkan tangannya kearah Eve dan sedetik kemudian, tubuh Eve terangkat tinggi.

“Hey!! Apa yang kau lakukan?! Cepat turunkan aku!”

***

“Skarang kau mempunyai dua pilihan Eve. Tinggal disini dan menjadi dewa kembali atau kau memulai kehidupan barumu sebagai manusia. Sebaiknya kau memilih sekarang, agar tidak memakan waktu yang lama.” Dewa Fides menatap Eve tidak sabar. Dalam hatinya, sebenarnya dia berharap Eve ingin kembali menjadi dewa lagi. Tapi di sisi lain, Dewa Fides tahu kalau itu adalah hal yang mustahil. Selama 7 kali berturut-turut, Eve memang tidak pernah berubah. Pilihannya selalu menjadi manusia.

“Sebelumnya aku punya pertanyaan.” Eve mengangkat wajahnya menatap mata hijau zamrud milik Dewa Fides.

“Silahkan..”

“Jika Peureux adalah takdirku di sini. Lalu bagaimana dengan takdirku di bumi? Aku ingin melihatnya.”

“Tidak ada.” Jawab Dewa Fides singkat. “Kau tidak mempunyai takdir selain Peureux. Karena itu selama 7 kali kau hidup di bumi, kau tidak pernah menikah. Takdirmu satu-satunya hanyalah Peureux. Begitu juga dengannya, takdirnya hanyalah kau.” Dewa Fides melanjutkan ucapannya melihat kening Eve berkerut tidak mengerti.

“Apa itu berarti aku tidak akan menikah juga jika aku menjadi manusia nanti? Sebenarnya, berapa catatan terlama aku tinggal dibumi?”

“Catatan terlama adalah 23 tahun. Pada saat itu kau tinggal di Jerman.”

“Ah… begitukah? Tapi, biarlah. Aku ingin tetap mencoba menjadi manusia sekali lagi.”

“Baiklah… Kalau begitu, sebaiknya kau ikut aku sekarang.” Eve tidak sempat berkata apa-apa lagi, karena tiba-tiba seperti ada cahaya yang menariknya masuk ke tempat lain.

***

Eve mengerjapkan matanya beberapa kali akibat berada di tempat yang penuh dengan cahaya. Sejauh ini, yang dilihat Eve hanyalah cahaya putih. Tidak ada benda diruangan ini. Bahkan Eve sangsi jika ruangan ini mempunyai dinding.

Eve membalikkan kepalanya begitu mendengar derap langkah dibelakangnya. “Hai… Kita bertemu sekali lagi.” Dia melihat Maree sedang berjalan kearahnya dengan gemulai. Senyum indah menghiasi wajahnya, membuatnya terlihat seribu kali lebih cantik. Dan kecantikannya itu benar-benar tidak manusiawi.

“Sekarang saatnya untuk membuat dirimu yang baru.” Dewa Maree merangkul pundak Eve hangat dan menuntun gadis itu selangkah demi selangkah. Dewa Maree menutup matanya sebentar dan mengulurkan tangan. Tangannya seperti memegang sesuatu yang tembus pandang. Dan benar saja, sebuah mesin yang cukup besar tiba-tiba saja muncul di depan Eve sekarang. Bentuknya sederhana dengan layar yang cukup besar dan alat untuk mengontrolnya. Hampir mirip dengan game yang sering Eve temui di bumi dulu.

“Kau harus memilih seperti apa wajah yang kau inginkan nanti. Semuanya akan kau urus disini. Mulai dari kota kelahiranmu, semuanya bisa kau pilih.” Terang Dewa Maree.

“Whoa! Benarkah?? Ini luar biasa!” Pekik Eve kegirangan.

“Kau benar-benar persis seperti dirimu yang dulu. Dulu juga kau seperti ini. Selalu saja kagum dengan alat ini.” Gumam Dewa Maree pelan. Sedangkan Eve masih asik dengan ‘mainan’ barunya itu. Dia melukis dirinya seindah mungkin. Pasti menyenangkan jika aku memiliki wajah yang sempurna nanti. Bisik Eve dalam hati.

“Kau tahu? Alat ini mirip dengan satu game yang pernah kumainkan di bumi dulu! Aku bisa memilih rambutku, bentuk wajahku, sifatku, semuanya!!” Lagi-lagi Eve melontarkan kekagumannya.

“Dewa selalu diberi yang terbaik bukan?”

***

“Sekarang apa?” Tanya Eve tidak sabar pada Dewa Maree. Dia baru saja selesai membuat dirinya yang baru.

“Kita hanya perlu menunggu sebentar. Alat teleportasimu akan selesai sebentar lagi.” Dewa Maree menjawabnya lembut.

Eve berbalik begitu mendapati aura yang tidak enak namun nyaman disekelilingnya. Dan benar saja, dibelakangnya sekarang sedang berdiri Peureux. Menatapnya kosong. Tapi entah kenapa, Eve dapat merasakan tatapan lain dari mata Dewa Kematian itu. Tatapan yang sama sekali tidak dimengertinya. Tatapan yang membuat perutnya terasa melilit.

“Aku harus memberikan kalian berdua waktu untuk berbicara.” Dalam hitungan detik, Dewa Maree menghilang entah kemana. Membiarkan Eve berdua saja dengan Peureux di ruangan kosong berwarna putih ini.

Perlahan, Peureux mendekat dan duduk disamping Eve. Matanya yang berwarna hitam pekat itu memandang lurus kedepan. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi hal itu terlihat benar-benar membebani pikirannya sekarang.

“Apa kau benar-benar akan pergi?” Peureux bertanya pada Eve tanpa menatap wajah gadis itu.

“Ya… Tentu saja. Disini memang menarik, tapi tidak cukup menarik untuk membuatku tinggal.” Eve menjawabnya dengan enteng.

“Selama tujuh kali berturut-turut selalu saja begini. Kenapa kau tidak pernah ingin menjadi dewa lagi??”

“Bukankah sudah jelas? Tempat ini tidak cukup menarik untukku. Berikanlah aku satu alasan mengapa aku harus tinggal disini.”

“Karena kau adalah takdirku. Dan aku kira kau sudah tahu hal itu.” Peureux menolehkan kepalanya kesamping dan menatap Eve dalam. Dia ingin mendekap gadis itu lama-lama, ia merindukannya. Sangat. Namun, ia cukup tahu bahwa Eve sama sekali tidak mengingatnya sekarang.

Eve hanya terpaku selama beberapa detik karena Peureux yang tiba-tiba menatapnya seperti itu. Tatapan matanya benar-benar dalam. Menakutkan dan menenangkan di saat yang bersamaan. Tiba-tiba saja seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perut Eve. Dan ia menyukai perasaan itu.

“H..hanya karena itu?” Eve tergagap karena belum dapat meredakan jantungnya yang berdetak gila-gilaan.

“Apa aku punya alasan lain untuk menahanmu disini?”

“Tidak, karena itu jangan memaksaku untuk tinggal disini. Kau mungkin memang takdirku. Tapi, aku bahkan baru bertemu denganmu. Jadi tidak mungkin aku lebih memilih untuk tinggal disini dan meninggalkan kehidupan di bumi yang menyenangkan.” Jawab Eve enteng.

“Begitu?” Balas Peureux dengan suara datar.

“Mmm..” Gumam Eve pelan. Dia bahkan tidak yakin dengan perasaannya sendiri.

“Aku memang tidak bisa memaksamu. Dari tahun ke tahun kau selalu seperti itu. Sangat keras kepala.”

“Keras kepala?!” Eve berkata dengan kesal. “Bukankah kau takdirku? Seharusnya kau mengatakan hal-hal yang romantis!”

Peureux tertawa, dan anehnya hal itu membuat kemarahan Eve meluap entah kemana. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu tertawa dan sudahkah Eve mengatakannya? Mempesona. Sempurna. Menyilaukan. Hanya itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan pria itu.

“Romantis seperti itu sama sekali bukan gayaku!” Ujar Peureux lagi.

“Ya… Aku dapat melihatnya.” Eve membalasnya dengan nada mengejek.

“Tapi untuk kali ini… Kali ini saja… Bisakah kau merubah keputusanmu?” Ucap Peureux tiba-tiba dengan nada lebih serius dari sebelumnya.

Eve terdiam, untuk sesaat sebagian dari dirinya menginginkan untuk tinggal. Namun sebagian yang lain ingin meninggalkan tempat ini.

“Maaf.” Ujar Eve, ia ingin tinggal bersama pria ini. Namun, di sisi yang lain ia merindukan bumi.

Kilatan kecewa terlihat dari mata Peureux, namun secepat kilatan itu datang, Peureux mengubah ekspresinya kembali menjadi datar, lalu tersenyum. “Tidak apa-apa. Tapi, bolehkah melakukan satu hal lain?”

Karena Eve percaya akan pria itu, ia mengangguk singkat. Tanpa berkata apa-apa, Peureux menarik Eve ke dalam pelukannya, menghirup aroma gadis itu dalam-dalam. Gadisnya. Ya, ini gadisnya. “Aku merindukanmu.” Gumam Peureux singkat. Hatinya terasa lebih ringan begitu wangi bunga dari tubuh Eve menyeruak dalam indranya. Meskipun gadis ini hanya akan kembali selama beberapa saat setelah bertahun-tahun, tidak apa-apa. Dia akan menunggu gadis itu dengan setia.

Peureux memundurkan wajahnya dan menatap wajah Eve dalam. Ia menyentuh wajah Eve dengan lembut dan hati-hati, seolah gadis itu akan pecah karena sentuhannya. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya, memperkecil jarak diantara mereka berdua.

Eve sedikit kaget begitu merasakan bibir dingin Peureux di bibirnya. Bibir itu terasa dingin dan lembut. Peureux melumat bibir Eve, mencoba menyalurkan perasaan rindunya yang membuncah. Berharap Eve mengerti, dan gadis itu memang bisa merasakannya. Lumatannya pada bibir gadis itu melembut, dan akhirnya berhenti. Ia menarik wajahnya menjauh, memperhatikan wajah gadisnya sekali lagi. Mencoba menghafal mata cokelat almond yang selalu menjadi favoritnya. Meskipun ia tahu bahwa ia tidak akan pernah melupakannya meskipun gadis itu pergi selama seribu tahun sekalipun. Ingatan dewa kuat.

“Aku harus pergi.” Bisik Peureux. “Selamat bersenang-senang di bumi.” Dan pria itu menghilang. Meninggalkan Eve dengan kekalutan hatinya.

“Kau mencintainya…” Dewa Maree yang entah dari kapan menggantikan Peureux dan duduk di samping Eve berkata dengan lembut.

“Jangan konyol. Aku bahkan baru melihatnya sekarang. Jadi kemungkinan aku jatuh cinta padanya adalah 0.0001%” Jawab Eve cuek. Meskipun ia tahu, bahwa ia sedang berbohong.

“Baru melihatnya sekarang? Tidak.. Kalian dulu sangat akrab. Bahkan jauh lebih akrab daripada yang kau bayangkan.” Dewa Maree menjulurkan tangannya kedepan dan muncullah kaca transparan di depan Eve sekarang. Bentuknya benar-benar mirip dengan sebuah proyektor. Tapi yang membedakan adalah, proyektor ini terbuat dari kaca dan melayang di udara.

Proyektor itu menyala dengan sendirinya. Eve melihat sosok yang sangat cantik di proyektor itu. Jika dibandingkan dengan Dewa Maree, maka Dewa Maree betul-betul tidak ada apa-apanya. Disamping wanita tersebut, seorang laki-laki yang tampan duduk menemaninya. Mereka bercanda tawa bersama dan terlihat sangat menikmati pembicaraan mereka.

Gambar di proyektor itu berganti. Kali ini memperlihatkan seorang gadis yang sama sedang menangis dan pria disampingnya kelimpungan untuk menghiburnya.

“Gadis itu… adalah kau. Dan pria yang sedang menenangkanmu adalah Peureux. Dulu, kau selalu memanggilnya dengan nama Key. Itu adalah nama Inggrisnya. Hanya kau satu-satunya orang yang dia perbolehkan untuk memanggilnya seperti itu.”

Setelah itu, Dewa Maree menjelaskan segala sesuatunya dengan detail. Bagaimana kehidupan Eve dulu, dan seberapa dekat dia dengan Peureux. Hal itu membuat dada Eve terasa makin sesak.

“Baiklah, kita terlalu banyak berbincang. Alat teleportasimu sudah selesai. Kau bisa kembali ke bumi sekarang.”

“Tunggu sebentar, apa aku bisa minta satu hal lagi??”

“Tentu saja. Apa itu?”

“Bisakah kau tidak menghapus ingatanku? Aku masih ingin mengingat semua yang ada disini, ayahku, kau, dan…” Ucapan Eve terhenti sebentar. “Dan Key itu..”

“Baiklah, sebenarnya ini dilarang. Tapi tenang saja, aku bisa membantumu. Jangan memberi tahu siapapun mengenai bantuan ini oke?”

“Baiklah…”

Dewa Maree memegang kepala Eve lembut dan menyalurkan sebagian kekuatannya pada Eve. Jika Eve mempunyai kekuatan lebih, maka ingatannya tidak akan hilang.

“Baiklah, berangkatlah sekarang..”

***

18 tahun kemudian…

Soon Hee terlihat sedang berjalan dengan santai di sebuah taman kota yang cukup ramai. Kamera canggih tergantung di lehernya. Dia mengamati sekitarnya sambil sesekali membidikkan kameranya pada objek yang dianggapnya menarik. Sesekali dia tersenyum puas ketika melihat hasil bidikannya itu.

“Eo? Hujan? Sepertinya aku harus pulang.” Soon Hee itu memasukkan kameranya kedalam tas kecil yang ia bawa. Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya untuk pulang, seorang pria tiba-tiba saja berjongkok dihadapannya dan mengikat tali sepatunya yang memang sempat terlepas tadi. Sedangkan Soon Hee itu hanya melihatnya heran karena ia sama sekali tidak mengenal pria tersebut.

“Maaf, siapa kau?” Tanya Soon Hee waspada. Takut kalau ternyata pria yang dihadapannya adalah orang jahat.

“Aku? Tebaklah siapa aku…”

“Maaf, tapi sepertinya aku tidak mengenalmu dan aku harus buru-buru pulang sekarang.” Dengan cepat Soon Hee berjalan meninggalkan pria yang menatapnya sambil tersenyum manis.

“Apa kau tidak ingat denganku? Orang yang sudah setia menunggumu selama ribuan tahun?” Teriak pria itu.

Sesaat, gadis itu berhenti berjalan. Perkataan pria itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang sudah lama melekat di hatinya dan hingga sekarang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Soon Hee berbalik, mendapati pria itu sedang menatapnya ramah.

“Key?” Tanya Soon Hee ragu.

“Kau lupa perjanjianmu dengan dewa Maree. Kau harus berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ingat?”

“Ini benar-benar kau?” Pria itu tidak menjawab pertanyaan Soon Hee. Hanya terus menatap matanya dalam. Mata coklat almondnya yang tidak pernah berubah.

“Aku merindukanmu. Sudah 18 tahun kau tahu? Apa kau tidak tahu betapa susahnya aku mendapatkan izin untuk menjadi manusia sepertimu?” Kata pria itu terang-terangan. Kemudian menarik Soon Hee kedalam dekapannya. Menyegarkan ingatannya mengenai wangi memabukkan gadis itu. Meskipun ini yang kedelapan kalinya Soon Hee ke bumi, hal-hal dasar yang disukainya tidak pernah berubah.

“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi.” Gumam Soon Hee. Ia merasa terlalu senang, sampai-sampai perutnya terasa aneh.

“Bukankah kita harus berpura-pura saling tidak mengenal? Ayo kita mulai semuanya dari awal.” Mendengar perkataan pria didepannya, Soon Hee hanya tersenyum.

“Han Soon Hee” Soon Hee mengulurkan tangannya sambil tersenyum hangat.

“Kim Kibum” Pria yang bernama Kibum itu menyambut uluran tangan Soon Hee dengan ramah.

“Nama yang jelek. Aku lebih suka panggilan Key-ku.”

The END

P.S : WAH! Kkkkkk~ HOAAAAAH XD Gimana FF ini? Gaada konflik yah? Maklum ini FF lama hasil dari ngubek-ngubek laptop. Aku harap kalian suka deh sama FF ini^^ Kritik dan sarannya aku tunggu ya^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “Fate”

  1. bagusss.. ff oneshot yg menarik. joayoo ^^b
    tapiiiii gw rada gak sreg ama si eve. hmm gimana yahh.. kurang gereget gitu dianya. hahaha ngomong apa saya 😛

  2. bikin sequelnya dong thor..
    kisah mereka saat jadi manusia..
    akhirnya agak ngegantung gimanaa gitu..

    keseluruhan bagus ceritanya =D

  3. Haha..lucu sekali Soon Hee atau Eve itu. Emh, bisakah buat after story nya? Jika tidak bisa, tidak apa-apa.
    😀

  4. Wakakak kenapa saya ngeblush begini-____-
    Eve nya kekeuh amat dah mau tetep jadi manusia wkwkw
    Key super setiaa huaaa *o*
    Keren kereeen!:D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s