Namja – Part 4

Namja- Part4

Title : Namja

Author : Bibib Dubu

Beta-Reader: Kim Nara

Main Cast :

  • Kim Kibum
  • Park Hana
  • Park Ha In
  • Kim Heera
  • Kim Jonghyun
  • Kim In Young

Support Cast : Lee Jinki, Key’s Eomma, Park Yoochun

Length : Sequel

Genre : Friendship, Family, Romance

Rating : PG – 15

A.N : Kisah ini terinspirasi dari beberapa film Korea dan novel. Tapi alurnya tetap pemikiranku.

***

Summary:

Menyesal? Seringkali seseorang merasa menyesali sesuatu, namun tidak lama ia akan melakukan kembali kesalahan serupa. Jadi apa gunanya rasa sesal dan permintaan maaf itu?

Namja – Part 4 : An Idiot

Belenggu diri, jadikan kau hanya mematung. Tidak sadar apa yang tengah terjadi dan berputar di sekitarmu, kau seolah menutup mata sekalipun sebenarnya kau bisa saja tahu jika kau mau.

Hari telah berganti, namun kau masih sama seperti kemarin. Hingga akhirnya sesuatu menyudutkanmu, membuatmu kian dirasuki rasa bimbang yang bercampur dengan perasaan kecewa, dibalut rasa kesedihan mendalam karena kau merasa orang lain yang tidak memahami dirimu.

Tahukah kau? Untuk merubah dunia, kau harus mulai dengan merubah dirimu. Jangan selalu ingin dimengerti jika nyatanya kau tidak tahu pasti apakah jalan yang kau tempuh selama ini menyesatkanmu atau tidak.

Layaknya kerbau yang hanya mampu berpasrah diri ketika dipecuti oleh tuannya, kau hanya berjalan mengikuti takdir. Hei! Padahal kau punya banyak pemandu jalan kalau kau mau menerima uluran mereka. Pikiranmu begitu terkungkung. Kau tidak berbeda dengan seorang ‘idiot’, meskipun sebenarnya kau sama sekali berbeda dengan mereka dari segi intelegensi.

***

Pagi adalah waktu di mana manusia berada pada kondisi terburu-buru. Tidak selalu, tetapi rasanya nyaris terjadi pada mayoritas. Terlebih di rumah ini, kegaduhan selalu terdengar setiap pagi.

Suara minyak panas yang terdengar kuat setelah seekor ikan dimasukkan ke dalam penggorengan, suara teriakan seorang eomma yang menyuruh anak sulungnya bersiap untuk sekolah, suara seorang balita yang merengek meminta dibuatkan susu, juga suara seorang namja yang berteriak menanyakan apakah ada yang melihat gitar kesayangannya karena siang ini ia harus tampil di sebuah cafe.

“Ha In-ah, tolong buatkan susu untuk Su Bin!” Terdengar teriakan kasar sang eomma yang tengah sibuk menyuruh anak sulungnya agar mau dipakaikan seragam sekolah. “Eomma, mianhae… aku tidak bisa membantu di dapur, Yoora sedang susah diatur.” Kali ini ia berkata tanpa berteriak kasar karena yang sedang ia ajak bicara adalah orang tuanya.

Ne, tenang saja. Urus saja dulu anakmu.” Terdengar jawaban dari dapur.

Ini adalah rumah Ha In, penghuninya cukup banyak. Selain Ha In, ada eomma-nya, sosok yang tengah menggoreng ikan di dapur tadi. Ada eonni dari Ha In,  Sun Young, yang sudah berkeluarga namun ditinggal pergi oleh suaminya setelah anak ketiganya lahir ke dunia. Sun Young inilah sosok eomma yang sedang sibuk membujuk anaknya—Yoora—untuk bersiap ke sekolah. Namdongsaeng dari Ha In, Park Sang Hyun, namja yang menanyakan gitarnya tadi. Masih ada  Seul Rin, anak kedua dari Sun Young yang masih terbaring lemah di sofa karena tubuhnya sedang diserang demam sejak semalam. Seorang lagi, bukan anggota keluarga melainkan penghuni yang baru empat bulan belakangan menyewa sebuah kamar di rumah ini, dia adalah Park Yoochun.

Hanya ada dua namja di rumah ini, Sang Hyun dan Yoochun. Sosok appa di rumah ini telah tiada sejak satu tahun yang lalu karena menderita gagal ginjal. Tulang punggung keluarga ini adalah Nyonya Park. Setiap harinya ia berjualan ikan di pasar. Sementara Sun Young, ia tidak bisa bekerja full karena masih punya tiga anak kecil. Ia hanya berjualan baju via internet, dan juga membuat roti setiap harinya untuk kemudian dijual di toko sahabatnya—dalam hal ini Sun Young dibantu oleh seorang ahjumma yang merupakan tetangga sebelah rumah.

Eonni, aku sedang mencari obat penurun demam untuk Seul Rin. Kau yakin obatnya masih ada?” Ha In berteriak dari lantai atas.

“Sun Young-ah, biar aku yang buatkan susu.” Yoochun keluar dari kamarnya, sudah rapi dengan kemeja dan celana bahan berwarna coklatnya, lengkap dengan jas yang masih belum terpakai benar-hanya disampirkan di bahu.

Oppa, kau harus ke kantor. Sudah jangan habiskan waktumu untuk terlibat dalam kesibukan kami!” Sun Young berseru galak.

“Sun Young-ah, kenapa kau selalu seperti itu? Tidak bisakah kau ramah padaku dan menerima uluran bantuanku sekali saja? Separah itukah rasa bencimu pada namja?”

Ani, aku hanya tidak ingin orang luar terlibat!” Sun Young menjawab ketus, kali ini sembari menggendong paksa Yoora menuju tempat sepatu.

Yoochun menggeleng heran, ia tidak lagi memaksa dan akhirnya memilih pergi ke dapur. Ia bisa mengerti bahwa Sun Young sedang berbohong, ia tahu betul bahwa yeoja ini masih trauma setelah ditinggalkan oleh pasangan hidupnya. Yoochun melihat bagaimana tiga bulan yang lalu Sun Young bertengkar hebat dengan nampyeon-nya.

“Bibi, biar aku yang menggantikan pekerjaanmu. Sikap Sun Young terhadapku masih seperti biasanya, mungkin lebih baik Bibi yang membantunya saja.”

“Baiklah, mungkin aku yang mencari obat saja. Biar Ha In yang membuat susu, dia terlalu lama mencarinya.”

Eonni, sudah kutemukan obatnya! Aku ambilkan minumnya dulu di dapur.” Tidak berselang lama suara teriakan Ha In dan derap langkahnya menuruni anak tangga mulai terdengar.

Nyonya Park yang mendengar teriakan itu segera merubah tujuannya, dari yang semula akan menggantikan tugas Ha In, kini ia melangkah ke kamar Su Bin. Bocah mungil berambut keriting itu masih tidak ingin membuka matanya, meringkuk dalam selimut. Tugas Nyonya Park adalah membangunkannya dan membujuk agar bocah itu mau minum susu.

Langkah Ha In tertahan ketika ia menjejakkan kaki ke dapur, melihat sosok pujaannya tengah berurusan dengan percikan minyak yang muncul setelah seekor ikan dimasukkan. Ia segera mengambil segelas air putih, kemudian berujar panik, “Oppa, tunggu sebentar, aku berikan ini ke eonni dulu. Kau tidak boleh berada di posisi itu,” tandasnya cepat. Tidak lama ia sudah menghilang, Yoochun hanya tersenyum geli.

“Ha In-ah, kau tidak melihat gitarku?” Tidak mendapatkan jawaban dari Sun Young, kali ini Sang Hyun bertanya pada Ha In.

Ha In mematung, tangannya berkacak pinggang, wajahnya sudah menampakkan kekesalan. “Ya! Park Sang Hyun, dengar! Pertama, aku nuna-mu, bisakah kau memanggilku dengan sopan? Kedua, aku tidak menyentuh ataupun melihat gitar laknatmu itu. Ketiga, kau sungguh tidak tahu diri, orang lain sedang sibuk harusnya membantu!” Ha In berlalu dengan kesal, bermaksud menghampiri Sun Young.

“Ya! Ha I…n, ah, baiklah, Nuna, jangan pernah menyebut benda itu dengan predikat laknat. Melalui gitar itu, setidaknya aku meringankan beban keluarga ini dengan menafkahi diriku sendiri, minimal seperti itu.” Sang Hyun tidak terima dengan ucapan Ha In, ia buru-buru memilih keluar dari rumah yang membuat kepalanya sakit ini.

Ha In tidak memedulikan teriakan adiknya itu, kini ia sibuk membantu Sun Young memegangi anak bungsunya agar obat bisa masuk ke dalam mulut bocah itu.

“Sarapan siap!” Yoochun berseru ceria dari arah dapur, tangannya sibuk memegangi dua piring ikan yang siap disantap hangat oleh keluarga itu.

Mendengarnya, Ha In menjadi teringat janji kecilnya tadi, ia buru-buru menghampiri Yoochun begitu urusan Su Bin selesai. “Oppa, ah… aku jadi merasa bersalah karena telah merepotkanmu.”

“Tidak apa, aku hanya memberikan bantuan kecil. Kajja, kau harus sarapan. Aku berangkat duluan ya?” Yoochun menanggapi sembari mengacak pelan rambut Ha In.

“Hei, Oppa tidak sarapan? Eh, aku baru sadar, kau tidak pernah sarapan ya?”

“Aku? Tenang saja, aku sarapan di luar. Oh ya, tugas kuliahmu sudah selesai? Jangan sampai aku mendengar kabar bahwa kau disindir dosen killer musuh bebuyutanmu itu ya.” Yoochun tergelak, ia teringat cerita Ha In mengenai dosennya yang satu itu.

“Sedikit lagi Oppa, ada waktu jeda nanti, akan kuselesaikan. Semalam mataku sudah tidak kuat,” jawab Ha In.

Yoochun mengangguk pelan, menggigit bibir bawahnya sesaat. “Oooh, ne. Ha In-ah, pastikan nanti sore kau ada di rumah, arasseo?”

Ha In mengangguk, seulas senyum terpancar dari wajahnya begitu Yoochun pergi. Rasa cinta begitu membutakannya, sekalipun ia tahu harusnya rasa itu tidak pernah dan tidak boleh dinamakan ‘cinta’. Dia tahu, bahwa kebodohanlah yang sedang dilakukannya sekalipun ia sama sekali tidak mendamba, sekalipun selamanya ia hanya akan mencinta dalam diam. Ha In terima jika ada orang yang mangatakan ‘idiot’ pada dirinya.

***

Menengoklah ke belakang, lalu lihat pada dirimu yang saat ini. Jika rasa sesal itu ada, maka pernahkah kau berpikir bahwa sebenarnya kau bisa menjadi siapapun yang kau mau? Selama bumi masih bersahabat dengan matahari yang menyinarinya secara teratur, maka kau masih punya kesempatan.

Lalu, setelah sesal dan menengok ke masa yang telah lalu, apa yang kau sadari? Sampaikah kau pada kesimpulan yang mengatakan bahwa semua hal yang tidak berhasil kau raih, tidak pernah lepas dari sebuah rasa yang disebut ‘pengecut’? Sedikit saja rasa itu ada, maka keyakinan yang ada pada dirimu akan berkurang walau sedikit. Keyakinan yang penting, keyakinan bahwa dunia baik-baik saja, dan kita bisa menyetir nasib kita ke manapun kita mau.

Sederet kalimat yang Jinki tuliskan dalam secarik memo sebelum dirinya berpamitan pada namja itu semalam, kembali mendorong Heera untuk mengeluarkan semua keberanian dan keyakinan yang belakangan terakumulasi secara tidak sadar di sudut hatinya.

Dari kejauhan ia melihat Key yang tengah bercakap riang dengan Hana, sesekali tawa mereka melesat keluar. Heera sudah menebak kalau di waktu seperti ini, pada hari ini, sahabat-sahabatnya itu akan berada di tempat ini. Tapi hari ini ia tidak menemukan Ha In. Tadi siang yeoja itu sempat mengirim pesan singkat yang mengatakan bahwa hari ini ia harus pulang cepat.

Sekali lagi Heera menggeleng, membuang jauh rasa gentar yang berbisik halus di dasar hatinya. Ia harus berani, yang akan ia lalukan nanti mungkin akan menyakitkan. Tapi apalah arti sakit jika hasil yang dicapai dapat mewujudkan perubahan besar yang baik?

“Kau tahu Key, apa yang membuat seseorang tidak pernah berkembang? Pada dasarnya kita memiliki peluang yang sama. Hanya saja, ada orang yang mampu memecahkan kaca penghalang, ada yang terus dibayangi rasa pesimis. Menurutmu, kau yang mana?”

Key tertegun mendapati Heera yang tiba-tiba menghampirinya dan menodongkan pertanyaan seperti tadi. Perbincangannya dengan Hana mendadak terhenti.

“Heera-ya, di antara sekian jenis karakter manusia, kau adalah orang yang paling tidak punya perasaan.” Hana menatap Heera sengit.

Heera menarik sebuah kursi, duduk, lalu membalas tatapan Hana sembari tersenyum. “Hana-ya, apa salah yang aku katakan barusan? Memang betul kan, di dunia ini ada manusia yang tidak pernah maju karena mereka terlalu pesimis. Bisa kau tunjukkan di mana letak salahnya?”

“Heera-ya. Aku bukan orang yang mudah menyerah, memangnya dalam peristiwa apa kau melihatku menyerah?” Key yang sejak tadi merenung, kini angkat bicara dengan nada penuh semangat. Key ingin mencairkan suasana, ia tidak ingin lagi melihat pertengkaran dua sahabatnya.

“Bagus, itu baru sahabatku, pegang ucapanmu. Sekarang Key, apa kau merasakan perlu ada perubahan dalam dirimu?” Heera memajukan kursinya, mendekatkan wajahnya ke tubuh Key. “Ahh, iya, Hana-ya, jangan ikut menjawab. Ini pertanyaanku untuk Key, dialog ini hanya milik kami berdua.” Sesaat kemudian Heera melirik pada Hana yang memang terlihat akan ikut bicara.

Key terkekeh, lebih tepatnya memaksakan tawanya tersebut. “Oh, Heera-ya, aku tidak mengerti maksudmu. Hhh, ayolah… aku tidak merasa ada masalah. Kurasa kalian berdua yang sedikit bermasalah, kenapa kalian terkesan seperti dua orang yang sedang adu mulut?”

“Key, aku serius!” Heera menekankan intonasi bicaranya. “Key, apa kau sungguh tidak merasa ucapan Jonghyun ada benarnya? Ah, aku terus terang saja supaya tidak berbelit-belit. Kau tidak seperti namja sejati, kau tidak maskulin, bahkan gerak tubuhmu tidak mencerminkan itu. Cukup! Pikirkan lebih dalam lagi. Aku ada janji dengan Jinki!” Entah mengapa Heera menjadi sangat emosi. Ia tahu ini salah, tapi mulutnya justru menentang hatinya. Yeoja itu menggebrak meja, lalu pergi dengan langkah yang dipercepat.

“Hhhhh….” Key mengusap wajahnya yang terasa memanas. Tidak lama ia bangkit, meraih tas jinjingnya. “Aku juga pergi, selamat sore Hana-ya. See You tomorrow.”

Hana memandang punggung Key dengan perasaan getir, melihat sosok Key yang kian menjauh. Siku tangan kirinya menekuk, di pergelangan tangannya terdapat tali tas—dibiarkan tergantung begitu saja tanpa digenggam oleh jemarinya.

“Memang tidak maskulin, tapi biarlah kau tetap sesuai aslinya…,” lirih Hana pelan. “Key!” Ia memutuskan untuk memanggil nama namja itu, bermaksud mengatakan sesuatu.

Key berbalik, wajah datarnya yang Hana tangkap. “Ada apa?” tanya Key singkat.

“Tidak usah memikirkan yang tadi. Jadilah senyaman yang kau inginkan, arasseo?” Hana berteriak penuh semangat.

“Hu’um,” sahut Key ragu, kembali berjalan meninggalkan Hana yang hanya mampu mengusap keningnya yang basah.

***

Ada satu titik di mana kau begitu ingin melempar jauh semua perasaan yang mendekam di dasar hatimu. Bukan tidak berani mencinta, hanya ingin menjadi realistis. Terkadang, jatuh cinta itu ibarat berada di dunia dongeng dan orang yang dicintai tak ubahnya pangeran di dunia itu. Hanya di negeri dongeng kau bisa mendapatkannya, tidak di dalam dunia nyatamu.

Ha In tidak ingin berdiri lebih lama di tempatnya ini, rasanya memilukan. Seperti diangkat ke angkasa, lalu mendadak dihempaskan ke dasar jurang. Sore ini ia begitu ingin pulang cepat ke rumah setelah seharian tadi teringat morning message dari Yoochun. Ia begitu berharap bisa melewati satu sore indah lagi bersama namja itu, dan yang lebih parah, ia bahkan berimajinasi lebih dalam memaknai maksud ucapan Yoochun itu.

Semuanya seperti membeku. Bedanya bukan rasa dingin yang menjalar, hanya rasa sesaknya saja yang terasa mengunci semua syaraf di tubuh. Hal yang pertama Ha In lihat ketika pertama kali menjejakkan kaki di pekarangan rumahnya adalah, sosok Yoochun yang tengah menjelma menjadi seorang ayah. Namja itu tengah menggendong bayinya, berusaha meredam tangis tubuh mungil itu dengan lantunan lagu anak-anak. Di kaki Yoochun, ada bocah mungil lainnya yang tengah memeluk lutut sang ayah, rambut si bocah bergoyang-goyang ringan seiring dengan tubuhnya yang menggelayut manja di kaki ayahnya itu.

Menyadari ada Ha In datang dan masih mematung di dekat tangga dekat teras, Yoochun berinisiatif menyapa yeoja itu lebih dulu, “Ahhh, Ha In-ah. Perkenalkan, ini malaikat kecilku, Yoohwan. Dan ini putri sulungku, namanya Yeorin. Ayo beri salam pada temanku, Yeorin-ah….”

Menelan ludah, itulah hal berikutnya yang diperbuat oleh Ha In. Tidak lama langkahnya mendekat ragu menuju orang yang menyapanya tadi. “Annyeong Yeorin… aku Ha In, anak pemilik rumah ini. Wah… pipimu sangat mirip dengan appa-mu.” Tangan Ha In gemas mencubiti gundukan di pipi bocah itu dengan posisi tubuhnya yang berjongkok.

Ha In mencoba bersikap senormal mungkin, menyapa ramah. Ia memang sudah tahu kalau momen seperti ini suatu saat nanti harus siap ia terima, ia tahu bahwa selama ini ia jatuh cinta pada seorang namja yang sudah berkeluarga. Meskipun rasa sakit itu menjalar kencang, Ha In berusaha meneguhkan hatinya.

“Chunnie-ya, aku membawakan sukiyaki kesukaanmu dari rumah, ayo kita santap bersama penghuni rumah yang lain.”

Tubuh Ha In kembali menegang mendengar suara yeoja yang baru pertama kali didengarnya itu, ia sudah bisa memastikan siapa yang berbicara barusan. Benar saja, tidak lama muncullah sosok eomma dari kedua anak yang sedang bersama Yoochun itu. Dari wajahnya terlihat bahwa ia bukan hanya berdarah Korea, ada sedikit ciri khas keturunan Jepang terpancar.

Sosok itu tersenyum melihat Ha In yang terjongkok di hadapan Yeorin. “Ooo, kau pasti Ha In. Annyeong haseyo, Yuki imnida, bangapseumnida.” Ia memperkenalkan dirinya dengan sopan.

Yuki menjulurkan tangannya pada Ha In, sementara tubuh Ha In masih mematung tidak menunjukkan gerak. Melihat gelagat itu, Yoochun menjadi tidak enak hati, sedikitnya namja itu bisa menebak hal apa yang tengah berkecamuk di pikiran Ha In hingga yeoja itu tidak merespon.

“Ha In-ah, aku tahu kau pasti sangat lelah. Kau selalu tampak seperti orang bingung jika tubuhmu sudah melewati batas kemampuannya.” Yoochun berusaha membuat suasana aneh itu menjadi wajar, setidaknya agar Yuki tidak menyadari gelagat aneh Ha In beserta perasaan macam apa yang Ha In punya untuk Yoochun.

“Aaa… mianhae Yuki ssi, konsentrasiku sedang kacau. Aku Ha In, salam kenal. Ah iya, tubuhku sangat lelah, aku mau mandi terus langsung tidur.” Ha In buru-buru bereaksi setelah otaknya mulai tersadar.

Yuki hanya mengangguk lalu melirik pada Yoochun seolah bertanya ‘dia kenapa?’, dan hanya dibalas oleh gelengan pelan kepala suaminya itu. “Tidak tahu pasti, mungkin terlalu lelah,” jawab Yoochun pendek.

***

Sore masih setia menemani sang hari, matahari masih berbaik hati untuk memberikan sedikit terangnya untuk warga Korea. Awan pun tidak berontak untuk mengeluarkan butiran air beningnya. Cerah, membuat perasaan Hana membaik.

Selepas kepergian Key, Hana tidak berpikir untuk bergegas pulang. Ia masih ingin menikmati atmosfer kampus, tempat terbaik yang menurutnya pernah ada. Ya, untuk yang pertama kalinya yeoja itu memiliki sebuah kelompok aman, yang biasa disebut ‘gank’. Meskipun saat ini kisah persahabatan itu sedang dilanda masalah, tapi Hana tetap merasa kuliah adalah momen terindah untuk urusan pergaulannya. Setidaknya ia bisa menjadi lebih manusiawi dengan tidak selalu membenamkan diri dalam tumpukan buku-bukunya.

Entah apa yang membawanya pada gedung itu, bangunan yang merupakan pusat kesenian di kampusnya. Saat ini sedang diadakan pameran lukisan di tempat itu, tepatnya sejak tiga hari yang lalu. Ia membiarkan kakinya melangkah bebas, tidak menentu arah. Ia pun membiarkan tubuhnya berhenti di tempat yang menarik matanya untuk mengamati lebih lanjut. Beberapa kali ia berhenti di depan lukisan-lukisan yang menurutnya bagus. Entahlah, ia memang bukan orang yang mengerti kualitas sebuah lukisan, ia hanya menyerahkan penilaiannya pada sang mata.

Ini adalah lukisan kelima yang membuatnya terkesima. Dasarnya hitam pekat, lalu di atas kanvas tersebut hanya tergores wujud seorang bocah dengan pose aneh. Kepala bocah itu terletak di bawah, sementara kakinya menjulang tinggi ke atas. Sementara itu tangan bocah tadi membentang, seolah sedang menikmati posenya itu, ditambah dengan mata bocah itu yang memejam damai.

“Yang itu judulnya ‘An Idiot’,” ujar seseorang yang datang dari arah belakang, Hana tahu itu suara siapa.

Mata Hana kemudian menyusuri setiap centi lukisan tersebut, ingin mencari tahu siapa pelukisnya. Ia menduga si pemilik suara tadilah yang membuatnya. Benar saja, di bagian bawah kanvas, dengan torehan cat putih, terdapat inisial ‘KJH’ yang terkesan dibuat dengan goresan lidi karena garisnya yang terlihat begitu tipis.

“Lukisan itu menggambarkan pikiran kebanyakan orang, terlalu idiot dan kerdil. Seolah yang benar mutlak itu hanya yang sesuai dengan isi otak mereka, dan parahnya mereka menikmati kondisi pemikiran mereka itu sehingga dunia terus berada dalam kegelapan.” Orang itu, Kim Jonghyun, ia menjelaskan dengan santai.

“Aku tidak bertanya,” sahut Hana dingin. Entah mengapa ia sulit bersikap normal pada namja yang satu ini.

“Dengan senang hati aku menjelaskan untuk nona penggemar lukisanku ini,” bisik Jonghyun di telinga Hana.

“Aku bukan penggemar lukisanmu!” tukas Hana kilat, ia menekuk wajahnya, kesal.

“Kalau begitu kau penggemar pelukisnya. Apa aku salah, hmm?” Tingkah Jonghyun kian menjadi, ia bahkan memposisikan wajahnya pada jarak yang sangat dekat, di sebelah wajah Hana.

“Bukan juga. Untuk apa aku menggemari orang yang bahkan tidak memiliki rasa percaya diri terhadap karyanya sendiri, dan bagaimana juga aku menyukai sebuah lukisan yang dibuat dengan hati ciut?” Hana tersenyum puas, bagaikan penuh kemenangan karena ekspresi wajah Jonghyun terlihat kalah telak.

“Perkataanmu tidak salah, pelukis seperti diriku tidak pantas untuk dikagumi.” Suara Jonghyun melemah, ia berjalan mundur, sedikit melebarkan jaraknya dengan Hana.

Hana merasa bersalah. Tapi, ia memang berkata seperti tadi bukan karena lukisan Jonghyun yang tidak bagus, melainkan ada perasaan sedih saat memandangnya yang kemudian Hana pikir sebagai buah dari permasalahan yang dipendam pelukisnya.

“Jonghyun-ah! Kau namja bukan? Kau menghina Key tapi bahkan menurutku, seorang pengecut sepertimu tidak pantas disebut namja. Kau lihat ini, kau hanya menuliskan inisial namamu dengan ukuran huruf yang sekecil ini, ditambah dengan tipisnya goresan tersebut. Kau seolah tidak yakin pada dirimu, pada kemampuanmu, pada pemikiranmu, juga pada karyamu! Kau terlalu tidak berani menurutku.”

Jonghyun terdiam. Semua yang dikatakan Hana tidak dapat ia pungkiri, kalimat Hana itu seperti menghantam hati. Tidak dapat berkelit, namun keegoisannya membuat ia tidak ingin terus ditindas oleh kalimat pedas yeoja di hadapannya ini. “Benar, aku tidak percaya diri. Tapi, kenapa kau tidak mengakui saja kalau lukisanku ini memang bagus?”

Hana mencibir sesaat, kemudian ia tertawa geli. “Cih, sesungguhnya orang baik itu tidak akan pernah minta orang untuk mengakui kebaikannya. Permisi, aku lelah, lebih baik aku pulang sekarang.”

***

Kalau tidak ingin disebut bodoh, maka ia pantas disebut konyol. Key tidak berpikir sebelumnya kalau ia sanggup melakukan ini. Sekalipun dalam hidupnya, ia tidak pernah menjejakkan kaki ke tempat hiburan malam. Bahkan selama ini ia sangat mengutuki tempat itu, Key sangat benci tempat yang menurutnya layak disebut neraka dunia itu. Bagaimana tidak? Isinya adalah para manusia yang lebih pantas dijuluki setan, meskipun wujudnya memang tidak mirip seperti makhluk pembangkang itu. Klub malam, diskotik, atau apapun istilah halusnya—jika memang ada sebutan lain—tempat itu tetap saja merupakan titik yang seringkali menjadi awal kehancuran manusia karena pergaulan bebas yang hampir bisa ditemukan di berbagai sudut ruangannya.

Alkohol? Wine? Soju? Sake? Ah, apapun istilahnya—Key tidak pernah mau meminumnya selama ini, sejak kecil eomma-nya mendidik dirinya untuk tidak meminum apapun yang memabukkan. Tapi tidak pada malam ini, ia bahkan sudah menghabiskan satu botol soju dan aksinya itu sukses membuatnya terombang-ambing dalam dunia imajinasi. Jelas, ini pertama kalinya ia mengenal seperti apa rasa soju—orang yang tidak biasa menenggak minuman itu tentu saja akan mudah mabuk.

Ucapan Heera, ucapan Jonghyun, pertengkaran Hana-Heera, kalimat In Young, serta pelukan dan tangis eomma-nya terasa berputar-putar dalam kepalanya. Bercampur-aduk, suaranya seolah bertumpuk-tumpuk hingga bunyi tumbukannya yang membuat Key berteriak frustasi.

Eomma… aku ini namja? Heera-ya, Hana-ya, In Young-ah, ayo katakan bahwa aku ini bukan banci… Lihat, aku bahkan berani kesini, bukan lagi ke salon ataupun mall. Ini tempatnya para namja, kan? Apa perlu aku menyewa seorang gadis untuk menemaniku malam ini?” Ia meracau, sasarannya adalah bartender yang baru saja memberinya satu botol soju tambahan pesanan Key.

Tangan Key mendarat di dagu sang bartender, seorang ajusshi berusia sekitar 40 tahun. Ajusshi itu sedikit terkejut karena mendadak ada seorang pengunjung yang menaruh tangan di dagunya, membuat dagu itu terdongakkan. Ia pada awalnya tidak terlalu peduli, rasanya kejadian ini sangat wajar mengingat ia bekerja di tempat yang tidak pernah bisa lepas dari pesona alkohol.

“Mengapa kau diam saja, huh? Tidak bisakah kau memberi jawaban?” Key bertanya kasar. “Hei, Heera-ya, Hana-ya, In Young-ah, kalian belum tahu rasa soju itu seperti apa, kan? Aku sudah. Kau harus mencobanya juga.” Masih dengan tangannya yang setengah mencengkram dagu sang ajusshi, Key menuangkan soju dari botol baru tadi ke gelasnya. “Ayo Cantik, minum ini.” Kini mulut sang ajusshi itu Key paksa agar terbuka, kemudian ia menumpahkan soju ke dalamnya hingga tidak bersisa di gelasnya tadi.

Sang ajusshi berdecak miris setelah Key telah melepaskan cengkrama di dagunya. Ia berusaha mengerti bahwa jiwa sang pengunjung aneh itu hanya sedang tidak berada di dalam tubuhnya.

“Anak muda, kau sepertinya sedang berimajinasi. Omong-omong, kau sedang apa di sini? Mencari pembuktian diri? Kau salah, namja sejati tidak seharusnya berada di tempat ini. Namja sejati tidak akan… ah, sudahlah, percuma aku bicara karena kau sedang mabuk berat.”

“Hei? Kau bilang apa?” Key mendekatkan wajahnya ke wajah ajusshi tadi, menelisik wajah tua itu dengan matanya yang ia paksakan terbuka. “Mwo? Kau seorang namja? Lalu… kemana Heera, Hana, In Young, dan… eomma-ku? Tidakkah kau melihat mereka pergi barusan?” Bertanya lagi, kali ini matanya setengah memejam.

Sang bartender berdecak dan menggeleng pelan. “Tuan, kau datang bersama siapa? Kurasa kau tidak terbiasa minum. Sebaiknya kau hubungi temanmu untuk menjemput.”

Mwo? Teman? Ani, ani, aku ini namja, aku kuat dan mampu berjalan sendiri.” Mendadak bangkit, kemudian meletakkan sejumlah uang di meja bar.

Langkahnya jelas terhuyung, namun ia tetap menampik uluran bantuan dari sang bartender tadi, ia begitu ingin melangkah dengan kekuatannya sendiri.

“Aku, Kim Kibum, Key, atau apapun namaku. Mulai hari ini aku bukanlah banci, bukan namja yang dapat dipandang sebelah mata lagi.” Ia terus meracau sepanjang kakinya melangkah keluar dari bar, merapal kalimat tersebut bagaikan berusaha mengingat mantra ajaib yang bisa membuat dirinya mendadak berubah.

“Aku ini namja! Kalau tidak percaya, mari lihat kelaminku? Mari bercumbu denganku dan kita buktikan kalau aku berhasil menghamilimu!”

Tertatih, kakinya melangkah. Tidak peduli orang di sekitar menertawakannya, tidak peduli orang di seberang sana mencibirnya. Ia terus mengucapkannya tanpa henti. Ia kemudian mendekati seorang yeoja yang kebetulan melintas, menarik dan memeluk paksa tubuh yeoja itu. Mendaratkan bibirnya paksa dan mencengkram kuat pipi yeoja tadi.

Dengan segenap kekuatannya, si yeoja memberontak sembari berusaha meredam tangisnya sendiri. Ia mendorong tubuh Key hingga tersungkur ke jalanan. Key mengusap pelan ujung bibirnya, di tengah kesadarannya yang kian kacau, ia berusaha bangkit. Yeoja itu berlari menjauhi Key yang tak mampu mengejarnya.

“Buahahaha….” Key kemudian terbahak, merasa puas dengan apa yang telah diperbuatnya. Ia kembali melangkah limbung, keadaan sekitar tidak lagi jelas di matanya.

Brukkkk,

Tubuh Key menabrak sesuatu, tertahan pada objek yang ditabraknya itu. “Hei! Kalau tidak biasa minum, jangan berlagak jagoan.” Rupanya Key bukan menabrak benda, melainkan orang.

“Heh? Hehehehe… tidak ap..aa, sesekali saja. Ugh, rasanya tidak enak… tapi…aku ingin lagi! Aku… candu? Inikah yang dinamakan kecanduan? Ooouu, pantas saja eomma-ku selalu memperingatkan agar aku tidak menyentuh minuman keras.” Di sela kesadarannya Key masih berbicara, artikulasinya sudah tidak jelas.

Key mendongak, melihat wajah lawan bicaranya yang masih menopang tubuhnya dan membawanya semakin menepi. Ia bagaikan orang yang terpesona, takjub melihat penampilan orang yang ditabraknya tadi. “Keren!” pekiknya asal.

“Ken, dia sudah terlalu kacau. Tanyakan saja di mana rumahnya,” Kali ini suara seorang yeoja yang sayup-sayup tertangkap telinga Key.

“Rumah? Mwo? Tidak, aku sedang tidak ingin pulang…. hei… kalian siapa? Mengapa kalian begitu keren?” Berusaha membuka matanya lagi, Key menelisik penampilan beberapa orang yang ada di dekatnya itu. “Satu, dua, empat, mwo? Empat? Hei, bukankah habis dua itu lima? Wohoho… iya lima, eomma-ku tidak mungkin salah mengajari. Kalian berlima ini siapa?”

“Isssh, dia sudah terlalu kacau, berbahaya kalau berkeliaran di jalan sendirian. Panggilkan taksi saja dan minta pada supirnya agar mengantarkan bocah ini ke rumahnya. Alamatnya… mungkin dia membawa kartu pengenal?” Seseorang yang lain bicara, sukses membuat Key memberengut sembari mengusap mata dengan jari manisnya.

“Ken, sepertinya orang ini sedang bermasalah dengan rumah, seperti kita. Sementara, bawa dia ke markas saja. Kurasa akan terjadi pertengkaran hebat jika dia pulang ke rumah dengan keadaan kacau seperti ini. Bagaimana?”

Kelima pasang mata itu tertuju pada Ken. Jumlah mereka bahkan bukan lima seperti yang Key katakan, mereka berkesimpulan sama, namja mabuk itu sudah terpenjara penuh dalam jeratan alkohol.

“Bawa dia ke tempat kita, biar aku yang naik taksi bersamanya, salah satu dari kalian bawa motorku saja.” Orang bernama Ken itu akhirnya angkat bicara setelah berpikir sejenak. Ia kemudian meraih tubuh Key bangkit dan memapahnya berdiri.

Andwae!! Lepaskan aku! Aku ingin jalan sendiri.” Dengan sisa-sisa tenaganya, Key memberontak. Ia berhasil melepaskan diri dari tangan-tangan yang berusaha menopang tubuhnya tadi. Kakinya dipaksa melangkah cepat meninggalkan sisi jalan.

“Aaaaaaaaaaa.”

Teriakan, membahana, menguasai setiap jengkal wilayah tersebut dengan bunyinya yang memekakkan. Tubuh Key yang terhuyung dalam keadaan setengah sadar tadi terserempet sebuah motor, terhempas ke badan jalan, terseret, suara gesekan dengan kasarnya begitu memilukan.

“Ken! Apa yang harus kita lakukan!?”

***

Plakkkk,

“Katakan lagi!”

“Menyesal? Seringkali seseorang merasa menyesali sesuatu, namun tidak lama ia akan melakukan kembali kesalahan serupa. Jadi apa gunanya rasa sesal dan permintaan maaf itu?” Hana mengulang ucapannya, kali ini tanpa memandang wajah orang yang dimaksud, ia terlalu marah.

“Dia sungguhan menyesal! Tidak bisakah kau menaruh kepercayaan pada sahabat sendiri?” Ha In menyentak Hana dengan kasar, sebuah tamparan rasanya tidak dapat meluapkan rasa kesalnya.

Di satu sisi Ha In kesal dengan Hana yang memojokkan Heera di tengah situasi genting seperti ini, di sisi lain ia memang kecewa pada Heera sekalipun sahabatnya itu sudah menyesali perbuatannya. Untuk kedua kalinya ia merasa menjadi orang bodoh hari ini. Setelah kejadian tadi sore, kini Ha In mendadak menyesali mengapa dirinya tidak menyempatkan hadir di tengah ketiga sahabatnya hari ini, siapa tahu ia bisa meredakan pertengkaran tadi siang antara Heera dan Hana.

“Dengar, aku beberapa kali berusaha menyela ucapannya, ingin ia menyadari bahwa perkataannya itu hanya akan menyakiti Key. Tapi tingkahnya justru semakin menjadi. Aku tidak peduli, tidak peduli apakah Key itu tidak macho, atau bahkan jika Key itu adalah banci. Apalah gunanya predikat itu, huh? Selamanya Key adalah sahabatku, apapun, dan bagaimanapun Key. Tapi Heera? Cih, sok peduli, sok bijak, terlalu teracuni Jinki.” Emosi Hana kian memuncak, dirinya terlanjur muak mengingat kalimat Heera untuk Key tadi siang. “Nyatanya sekarang apa yang terjadi pada Key?” lanjut Hana jengah.

“Aku minta maaf. Aku menyesal, aku tidak pernah berpikir Key akan merasa setertekan ini hingga dia…ah, apa yang bisa kulakukan untuk menebus rasa bersalahku ini?”Heera mengusap air matanya.

“Isssh, sudah. Heera-ya, yang bisa kita lakukan hanyalah berdo’a untuknya. Jika kelak Key masih diberi kesempatan hidup, maka yang harus kita lakukan adalah tidak mengucapkan kalimat, tidak melakukan tindakan, dan sikap yang dapat membuat Key tertekan.” Ha In mencoba bersikap tenang sekalipun dadanya bergemuruh kencang, perasaannya sangat tidak menentu hari ini.

“Key masih hidup! Harus!” Teriakan parau membahana di atap rumah sakit tersebut. Suaranya tidak lama kian menghilang, bercampur dengan hembusan udara.

Ketiganya melirik ke arah sumber suara, terhenyak penuh harap. Dokter bilang kepala Key membentur trotoar dan namja itu kehilangan banyak darah, baik dari keningnya maupun dari sekujur anggota tubuhnya yang bergesekan dengan aspal kasar.

Brukkkk,

Orang yang berteriak tadi terjatuh lunglai, tubuhnya mendarat di lantai dalam waktu singkat, disambut dengan teriakan bercampur isak tangis tiga yeoja yang sedang beradu mulut tadi. “Bibi!”

To Be Continued

Hhhh, akhirnya *lap keringet*, tiga kali revisi dan sekarang aku nyerah, ga tau part ini butut engga. Makasih banyak buat Nandits yang ga bosenan nge-beta-in ff yg beberapa kali diubah ini. Lup U pull ah, Ndits.

Oya, kalo ada yang udah baca di wp-ku, aku ngerombak di bagian cara Key kecelakaan. Baru nyadar ada yang janggal setelah nulis part 6.

Yaudah, ditunggu masukannya. Part 5 bakal keluar kalo aku udah kelar bikin part 6, kemaren udah jadi tapi dirombak habis-habisan karena ada yang ga logis alurnya😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

33 thoughts on “Namja – Part 4

  1. yak! Key miris bgini..
    Jjong kna tohok hana.. Baguslah.. Setidaknya dia sadar sdikit dri sikapnya..
    Aku suka pesan2 moralnya..
    Next.. Next..

  2. Heheu, iya sih miris.
    Jjong, aku jg gatel mau bgd ngomelin dia klo jd Hana

    Iyooo, next part ditungguin ya eonnn
    Makasih banyak udah mampir😀

  3. itu yg pngsan trakhr nykapx key kan…
    bener katanya,key emg harus hdup.
    ckckck…miris bgt nasib key,tp smga dg ni heera g lg mojokin key…
    suka bgt sm hana dsni,teges bgt…prtama jjong yg klah telak omonganx,trz abz it glran heera…

  4. astagaaa~
    ada ff sebagus ini malah kulewatkan, hm. belum fokus baca nih, mesti baca dari part 1 dulu biar afdol kan yah.
    bingung soalny, itu si Yoochun manggil nuna ke Hain, terus Hain jg manggil oppa ke Yoochun. mungkin karena ak belum baca part sebelumny kali.

    Bib, tunggu diriku yah di tiap next part atopun part sebelumnya #apanih
    pokokny, ak ninggalin jejak dulu lah.

    1. He? Yang manggil ‘nuna’ ke Ha In itu Sang Hyun, bukan Yoochun kok😀

      Iyapp, baca dari part 1 dulu aja biar nyambung asal-usulnya, hehe
      Ditunggu atuh ya kunjungannya

      Makasih banget udah mampir ke ff ini ya ^^

  5. Akhirnya aku baca part 4 nya… Penasaran siapa itu Ken?
    Bagaimana kelanjutan percintaan Ha In?
    Dan apakah kecelakaan ini akan mengubah Key sedikit banyak?
    Next part nya ditunggu banget…

    1. Iya, titik awal 😀

      Nah loh baru nih ada yg penasaran ama kisah di Ha In, hehe…

      Tungguin aja ya next part-nya, makasih udah mampir ^^

  6. ya iya key harus hidup, kl dia mati ntar ceritanya siapa yg dibahas di fanfic ini? :p

    jleb banget lah si hain pas ketemu istri dan anaknya yoochun, apa rasanya itu……

    gak ngerti maksud lukisannya jjong :p
    hana kata-katanya selalu nusuk apa cuma kalo lagi marah aja nusuknya?

    1. Nah, bener banget. Kalo Key mati, trus maksud judul ep ep ini apa dong? hehe

      Nah iya, Hana nusuk kalo lg marah, apalagi klo ketemu Jjong bawaannya sensiii mulu

      Makasih ya udah mampir, jgn bosen2 ^^

  7. key.. Emg miris, tertekan bgt dia pasti. Heera kok ya frontal bgt ngomongnya, tp emg waktu key menjinjing tasnya.. Itu sangat cewe aku rasa, hhe

    Lanjutannya ya kak, ditunggu

    1. Ceweeee banget. Euhh, tp akhir2 ini Key yg asli terlihat macho yah? Wkwkw

      Iya sip, lanjutannya udah ada sih sebenernya, ditunggu aja

      Makasih ya Aya udah mampir ^^

      1. nah setuju, key yg sekarang emg lebih macho kak.
        makasih ya kak bibib udah ngasih pelajaran buat aku nulis dari tulisannya🙂

  8. Permisi thor,aku mau sdkit kritik..
    Main catsnya kan in young,kok malah dia yg jarang mncul??
    Malah,kbnyakan muncul yg support cats nya?!
    Aku harap part slnjutx lbih dominan in young nya..Gomawo~

    1. Nahh, iya benerrr. Aku juga baru nyadar pas di part 5. Gini, ada sedikit pergeseran cerita soalnya. Nah, mulai part 5 atau 6 gitu ya, aku ga cantumin In Young lg. Makasih loh ya kritikannya. Sebenernya In Young emang belom bnyk aku masukin juga sihh, ntar ada jatahnya ^^^

      Makasih banyak udah mampir juga yaa😀

  9. finally..bs baca+komen XDD
    kmrn di warnet dh baca stgh…tp abs itu diajak plg -__-
    haduh..si key kecelakaan!?….trs yg ditampar tuh sapa??heera yaa???sorry eon,,aq krg ngerti..hehe ._.v
    yg pas si key mabukk..kata”nyaa .__.,,,abis 2 tuh 5??pinter banget yaa -__-“…
    in young kemana???*nyari di kantong*,,koq gg mncl sih eon??hehee….gg th napa aq sll suka bagiannya jjong-hana,,kata”nya hana tuh ‘jleb’ bgt..n i like it XDD

    aq tgu part 5.a eon^^

    Hwaiting!😀

    1. Lah… emang agak ga jelas sih ya? Jd yg nampar itu Ha In, yg ditampar Hana. Yang bilang “Katakan Lagi” itu Ha In, yang ngulang itu Hana #ribetSendiri

      Ahaha, namanya juga orang mabuk. Besok2 Key mesti diajarin ngitung kali yaaa :p

      Ne, part 5 segera tayang😀

  10. bibib unnie rajin kali alesin komen satu2…. jangan re-sign dong, unn…. btw, aq mulai baca cerita ini sejak yg ketiga n feelny dapet banget. key bner2 pas utk jadi model cerita ini. aq jadi penasaran ama lanjutannya, kyknya bakal ada tokoh baru, y?? hehe… tapi bneran terasa deg-deganny waktu tau uri Key oppa kecelakaan…. jangan mati, y! jangan mati! pleasssse…. *lebay mode on*

    1. Kan readers juga udah nyempetin komen, aku juga harusnya balesin dong😀

      Iyaa, ada cast baru emang ^^

      Key ga mati atuh… kalo mati, ntar siapa main cast ff ini? Tamat dong ntar, hhe

      Makasih ya udah mampir k ff ini. Jgn bosen2 yaa

  11. Omo! Key!!! Ya ampunn untuk yg kesekian kalinya nyesek aku bacanya.
    Kasian Key😥
    berhubung aku bacanya pas tengah malam gni jd aku ga bisa komen banyak
    pkoknya next partnya ditunggu dehh, jangan lama-lama yaa😉

  12. muncul lagi😀

    meen, ini keren woy…
    gak sia” pulsa ponsel abis gara” baca ini dulu.

    itu si kibum napa sih di endingnya T__T

    yaoloh, ini konflik friendshipnya kental banget. serasa ingat jaman” masih sma dulu.
    wahwah bib, part 5 manaaaaa~
    aku mau bacaa

  13. wah, kasian key nya
    key itu bukan banci kooo *ga rela key dibilang banci*
    wah next partnya dtunggu yaa
    oh iya, kenalin aq reader baru😉

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s