Crash – Part 3

Title: Crash (part 3)

Author: Sierra K

Main Cast: Kim Ki Bum (Key), Choi Ji Hyo (this could be you), Lee Jinki, Jung Nicole

Support Cast: Lee Taemin, Kim Jonghyun, Choi Minho.

Length : Sequel

Genre: Friendship, Romance, school life

Rating : PG-13

Summary : we were young, we were in our teens, it wasn’t a real love.

I’ll Be Here, By Your Side

No More Fears, No More Cry

– Gotta Be You, One Direction-

 

Choi Ji Hyo’s POV

Aku memasukkan bola ke dalam ring untuk yang kesekian kalinya. Gagal. Aku gagal. Aku memang sangat payah dalam olahraga satu ini. Padahal, Basket adalah olahraga yang akan di test untuk ujian praktek akhir nanti. Aku menghela nafas, mengambil jarak yang tepat, fokus, dan melemparkan bola berwana orange itu kedalam ring. Gagal, lagi.

Aku melenguh kesal, dan hendak meninggalkan lapangan saat aku mendengar seseorang dari sebelah kiriku, “mau nyerah gitu aja?” Key ternyata sedang duduk di kursi panjang samping lapangan, dengan tangan membawa satu botol air mineral. Aku tidak menghiraukannya, tetap berniat meninggalkannya saat ia berjalan ke arahku.

“Minum dulu. Capek, kan?” tanyanya sembari menyodorkan sebotol air mineral dingin. Aku berterimakasih dan meneguknya, dia hanya memainkan bola basket yang baru diambilnya disampingku.

“coba lebih fokus. Lihat ke arah papan itu, jangan ke ring. Coba juga lebih fokus ke pergelangan tangan. Tanganmu terlihat sangat kaku tadi” komentarnya, dan ia berdiri dibelakangku. Ia memberikan bolanya kepadaku, lalu ia memegang tanganku, tangannya sangat hangat, aku rasa.

Berhasil. Choi Ji Hyo berhasil memasukkan bola kedalam ring. Key bertepuk tangan, senang melihatku berhasil memasukkan bola kedalam ring dengan anggunnya. Ia akhirnya memberiku kesempatan untuk mencoba sendiri, tanpa bantuannya. Dan, berhasil.

“mengerti?” tanyanya sembari mengacak rambutku lembut. Aku mengangguk, dan mengikutinya duduk di tengah lapangan yang dialasi oleh semen, rasanya sangat hangat. Kulihat, Key mengadahkan kepalanya menatap awan dengan berbagai macam bentuk.

“hey, lihat” ucapnya sambil menunjuk matahari yang menuju ke tempat peristirahatannya. Menciptakan berbagai palet warna yang indah dilangit. Aku menatapnya dengan takjub, “kamu suka?” tanyanya, aku mengangguk.

Langit terlihat sangat indah, dengan dia disampingku.

***

“halo” gila, siapa yang menelfon di jam jam seperti ini, jam 2 dini hari? Aku mengangkat dengan malas telfon itu, namun tersentak saat mendengar suara Nicole terisak. Aku langsung duduk dan mendengarkan isakkan Nicole “Nicole-ya, ada apa?” tanyaku panik.

“Key… Jonghyun oppa…” Aku sedikit mengernyit mendengarnya, Perasaan tidak enak tiba-tiba menjalar keseluruh tubuhku. Entah mengapa, aku merasa takut saat mendengar namanya, apalagi diucapkan oleh Nicole dengan terisak, membuat ketakutanku semakin menjadi.

“Jonghyun oppa….” Nicole seperti tercekat, dan aku hanya menunggu perkataan selanjutnya dengan perasaan tidak menentu, “meninggal” Aku tersentak mendengarnya. Kim Jonghyun, kakak Key, meninggal?

“Ji Hyo-ya. Aku mohon temani Key di rumah sakit. Aku tidak bisa pulang begitu saja dari Jepang. Aku mohon, Ji Hyo-ya” Nicole memohon, masih menangis. Aku menenangkannya sesaat, dan menyetujuinya.

Aku meraih kunci mobil ayah dan mengambil jaketku, dan mengambil satu jaket yang berukuran lebih besar dan tebal, lalu melesat ke rumah sakit dengan membawa mobil ayah. Sejujurnya, aku masih tidak percaya, kakaknya Key, Jonghyun meninggal.

Aku memakirkan mobilku dihalaman rumah sakit. Tidak sulit menemukan Key, ia duduk di taman rumah sakit, dengan rambut dan tubuh yang basah kuyup terkena air hujan, tatapannya kosong, dan kuterka pikirannya pun tidak menentu arah. Tertekan.

“eh, ngapain kamu kesini? Ini udah larut” Key seolah berusaha tersenyum dan terlihat seperti biasanya, ceria. Namun, aku bisa menangkap kesedihan dimatanya. Mata tajamnya tidak terlihat berkharisma seperti biasa, ia terlihat kosong.

“Aku turut berduka” ucapku dan duduk disampingnya, menutupi tubuhnya dengan jaket tebal. Aku melihat air mata yang sudah bersatu dengan air hujan, namun sebisa mungkin, ia menutupinya.

“pulang, gih. Aku jadi ngerepotin kamu” ucapnya dengan nada yang ia biasa gunakan. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Seakan-akan ia baik-baik saja. Seakan-akan tidak ada beban berat yang ditanggungnya sekarang.

“kamu gak usah pura-pura, Key-a” aku menunduk dan menggosokkan tanganku yang mati rasa karena udara yang menusuk tulang dan seluruh persendian. Ia mendengus, dan memutar bola matanya.

“lalu, aku harus bagaimana menanggapi semuanya? Menangis meraung-raung? Mengurusi pemakaman sekarang juga?” ucapnya, yang membuat suaraku tercekat ditenggorokan, “atau, aku harus membunuh orang sialan yang menabrak Hyung-ku?” ia terlihat sangat emosi, dengan mata memerah.

“Aku mengerti apa yang kau rasakan” ucapku, seakan membuka rahasia terdalamku, aku jadi teringat Minho oppa yang meninggal sekitar 3 tahun lalu, dengan kejadian yang sangat mirip dengan yang Key alami. Kibum nampak mengernyit tidak mengerti, dan terlihat masih menata emosinya.

“oppa-ku meninggal 3 tahun yang lalu. Ia adalah orang terdekatku. Orang tuaku jarang di rumah, dan ia yang menjagaku. Saat itu, aku duduk disini, sendirian, menangisi kematian Minho Oppa, berharap mengapa bukan aku saja yang meninggal, aku terus menangis semalaman, sehingga air mataku tidak bersisa” mataku berkaca-kaca saat menceritakan cerita lalu itu, “oleh karena itu, aku mengerti, Key-a”

“Tidak usah berpura-pura” bisikku dan aku langsung merengkuh Key dalam pelukanku, berharap semua menjadi lebih baik. Aku bisa merasakan pundakku basah, ia menangis. Dan aku juga merasakan, ia membalas pelukanku, berusaha menghangatkan jiwanya yang membeku.

Dan, kami berpelukan malam itu, dibawah dinginnya hujan dan saling melepaskan luka masing-masing.

***

Sudah seminggu setelah kematian Hyung-nya Key, aku masih melihat jiwa Key yang ceria dan penuh kehangatan. Namun, tidak jarang, aku juga sering melihat Key duduk termangu, tidak mendengar ocehan Nicole, yang berusaha untuk bersimpati terhadap kematian kakak terdekatnya itu.

Kim Ki Bum, tidak usah berpura-pura.

***

Kim Ki Bum’s POV

Aku merasa aku sudah pulih. Aku sudah kembali menjadi ‘Key’ yang ceria dan ekspresif, setelah 2 hari mengurung diri di kamar. Kadang aku merasa kalau Tuhan tidak adil, mengapa ia membawa Jonghyun Hyung pergi setelah ayahku? Dua orang terdekatku. Dua orang yang paling mengerti.

Aku rasa, Nicole juga berusaha bersimpati. Namun, yang aku lihat hanya kasihan, bukan pengertian. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang aku rasa. Ia hanya bisa menenangkanku dari luar, tanpa benar-benar masuk kedalam relung hatiku. Semuanya terasa semu bagiku.

Lalu, malam itu, Ji Hyo menemaniku. Ia mengerti perasaanku, karena ia pernah mengalaminya. Ia mengerti semuanya, dan ia benar-benar menyentuh ke dalam hatiku yang paling dalam, seakan-akan menghidupkan kembali nyawa yang telah lama pergi.

“Jagi?” Nicole mengibaskan tangannya dihadapan wajahku. Aku baru saja sadar kalau aku barusan melamun, tidak mendengar sama sekali ocehan-ocehan Nicole yang tidak berhenti. Aku hanya tersenyum kaku, “ya, ada apa?” aku mengelus rambut halusnya yang semakin lama semakin hilang getarannya, tanganku tidak seperti tersetrum listrik, tidak seperti dulu.

Nicole mengerucutkan bibirnya sebal, ia memang selalu membesar-besarkan masalah. Seperti saat ini, contohnya. Ia tidak menyadari, bahwa sifatnya yang satu ini membuatku sebal. Awalnya, aku berpikir kalau dia sangat cute saat seperti ini. Namun, semua terasa palsu sekarang.

Dan soal Ji Hyo, dia adalah gadis yang tidak macam-macam. Dia tidak peduli dengan hal-hal sepele seperti ini. Dia selalu berpikiran realistis, tidak suka membesar-besarkan masalah. Seperti saat malam itu, ia hanya memberitahuku untuk tidak berpura-pura, tidak memaksa. Dan..

Sekali lagi, hanya ia mengerti.

Jung Nicole’s POV

            jagiya” sapa Key dengan nada ceria seperti biasanya, mencium pipiku dan tersenyum. Aku senang melihatnya kembali, tidak murung seperti beberapa hari yang lalu. Aku mencubit pipinya gemas, hari ini pertandingan basket antar sekolah dimenangkan kembali oleh sekolah kami, dengan ia sebagai kapten tim.

congratulations!” aku berteriak dengan nada ceria, dan ia hanya tersenyum simpul. Okay, ia tidak sepenuhnya terlihat ceria. Terkadang ia terlihat dingin, seperti sekarang ini. Apakah ia hanya senang karena ia memenangkan basket hari ini, dan hari hari yang lainnya ia terlihat dingin?

Ia menggamit tanganku, berjalan melalui koridor sekolah yang penuh sesak, melihat Ji Hyo yang sedang duduk disamping Jinki yang sedang membaca buku, lalu aku menatap Key, matanya nampak mengekori sosok Ji Hyo dari kejauhan, lalu kembali berjalan lurus seakan tidak terjadi apa-apa.

Ia masuk kedalam mobil dan aku masuk, duduk disebelah kanannya. Kalau dulu, ia selalu menggenggam tangan kiriku erat, dan satu tangannya lagi mengendalikan stir mobil. Namun, sekarang, kedua tangannya mencengkram erat stir mobil, tidak berbicara satu patah kata pun. Biasanya, ia selalu mempunyai hal-hal yang tidak terduga untuk membuatku senang, atau lelucon-lelucon yang ia dapat tadi disekolah. Semua berubah, tidak seperti dulu.

jagi” aku mencairkan suasana. Ia hanya menengok sebentar, lalu tersenyum. Aku tidak tahu harus berkata apa. Biasanya ia membalas perkataanku, serius atau terkadang hanya guyonan. “saranghae” bisikku pelan. Ia hanya tersenyum simpul dan menengok sekali lagi, “nado, jagi

Ia mencintaiku dan selamanya tidak akan berubah.

***

Lee Taemin’s POV

Hari ini hari Sabtu. Hari yang paling seru untuk bersantai ria. Menonton DVD, mempelajari gerakan dance terbaru, atau bermain games. Namun, hari ini aku tidak bisa melakukan itu semua. Hari ini, aku menemani Ji Hyo-Jinki dan pasangan Nicole-Key pergi ke bioskop.

Tadinya aku sempat menolak, namun mengingat Ji Hyo yang memaksa, dan…… ia berjanji untuk mentraktir, dengan semangat aku melesat pergi ke bioskop yang baru dibuka 2 hari yang lalu itu.

Sekarang aku sudah melihat pasangan android Ji Hyo dan Jinki yang masih asyik membaca buku di tempat seperti ini. Dan pasangan siam Nicole-Key yang nempel 24 jam tidak terpisahkan. Hari ini, kami menonton film romantis yang sangat disukai oleh Nicole. Diam-diam, aku melihat Key yang tersenyum ke arah Ji Hyo. Ji Hyo tersenyum balik.

Mengapa ya, akhir akhir ini aku melihat hubungan antara Key-Ji Hyo semakin aneh? Seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan, tetapi aku tidak tahu itu apa. Memang sih, mereka masih jarang mengobrol, dan mereka hanya saling tersenyum saat mereka berpapasan. Namun, semenjak kejadian Hyung-nya Key meninggal, seringkali aku melihat mata Key yang sedang mengekori sosok Ji Hyo, walaupun sebentar.

Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dari kami semua?

***

Choi Ji Hyo’s POV

Tengkukku terasa pegal, mencari CD One Night Only diantara tumpukkan CD yang lainnya di satu kotak besar sangat menyebalkan. Padahal, katanya, mereka baru meluncurkan album terbarunya, dan sekarang itu semua sudah sold out?

Jika kau menanyakan Jinki, ia sekarang sudah pulang, pergi bimbel. Dan Nicole, ia sedang mencari CD Jessie J yang di taruh di kategori Top Artist. Sedangkan aku, sedang mati-matian mencari CD band indie dikumpulan kotak-kotak. Diskriminasi.

I bet you’re looking for this” seseorang menyodorkan CD yang aku buru dari tadi dihadapanku. Aku memekik senang, dalam hati. Dan melihat siapa yang telah menemukan CD most wanted itu, Kim Ki Bum. Lelaki itu tersenyum kikuk, “stok-nya tinggal satu lagi”

“kamu gak beli?” tanyaku. Ia hanya menggeleng, dan tersenyum. Tuhan, mengapa tiba-tiba jantungku berdetak cepat dan darahku berdesir begini hebat? Errr…. apakah ini yang dinamakan, jatuh cinta? Dalam arti yang sebenarnya?

“aku tau kamu suka One Night Only. Aku tau kamu nempelin foto George Craig dibalik locker-mu” kekehnya, sedangkan aku merutuk dalam hati, bagaimana ia tahu? Benar-benar terlihat sangat konyol, aku dikenal sebagai gadis penyuka rumus, dan sekarang ia mengetahui kalau aku adalah fans berat George Craig?

Tiba-tiba saja, seseorang menyenggolku, membuatku oleng dan kehilangan keseimbangan. Aku terhuyung kebelakang, aku menutup mataku, bersiap-siap menerima hentakkan sakit dari lantai yang cukup keras dibawahku.

Dan tiba-tiba juga, Key menggapaiku, menahan punggungku dengan tangannya yang kurus—namun kokoh—itu. Kini, wajahku berhadapan dengan wajahnya, Aku bisa melihat sedikit scar yang terletak dibawah mata sebelah kirinya. Kulit putih susunya, bibir berwarna pink dengan bentuk yang unik, mata kucing yang tajam, hidung mancungnya. Terlihat sangat jelas. Bahkan, aroma cologne Kibum menyeruak dihidungku. Aku mencoba melepaskan pelukannya, namun ia malah mengeratkan pelukannya. Menarikku lebih dekat ke wajahnya.

i don’t see the ending of this. I see, forever” ucapnya. Aku yakin ia keceplosan, wajahnya memerah dan buru-buru melepaskan pelukannya, “thanks” suaraku bergetar, pipiku memerah, dan aku langsung lari ke kasir.

Aku menguatkan hatiku kalau ia memang benar-benar tidak sengaja.

Namun, aku merasa sangat senang saat ia mengatakannya, dihadapanku.

TBC

Gimana, gimana? Ceritanya udah ketebak, kan? Oh ya, maaf ya disini Minho sama Jjong cuman numpang lewat dan…. meninggal dengan tragis hehehehe.

Comments are available. J

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “Crash – Part 3”

  1. wah,beneran nih…key mulai menebar benih2 maslh…
    tp wspada aja key…tuh,tetem udh curiga dan kykx nicole jg…
    seru nih…c4 d post y lanjutanx…

  2. Serü euy seru…….
    Tapi bahasanya yg dipake pas percakapan mereka terlalu mirip bahasa kita sehari hari… padahal ceritanya udah bagus…
    Tapi bagus thor ^^ dtgu nextnya

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s