(Sequel of Last Melody) It Won’t Be The Last – [2.2]

It Won’t Be The Last 2.2 (Sequel of Last Melody)

Title                : It Won’t Be The Last 2.2 (Sequel of Last Melody)

Author           : Kim Tae Hyun

Main cast      : Lee Taemin, Lee Jinki, Kim Ki Bum, Choi Minho, Park Hyun Mi, Song Eun Hye

Genre            : Fiction, Drama, Tragedy

Length          : Two Shoots

Rating           : PG-13

Ini dia lanjutanya yeorobun……. Happy reading :*

***

Hyun Mi terlonjak kaget dan mundur ke belakang. Ia melihat Taemin berjongkok di depannya, tangan Taemin hampir menyentuh matanya. Taemin yang melihat Hyun Mi terkejut langsung kebingungan dan terkejut juga. “Wae?” tanya Taemin dengan wajah benar-benar kebingungan. “Oppa?” Hyun Mi mendekat ke wajah Taemin tidak percaya. “Wae? Kau bisa melihatku?”. Hyun Mi menatap Taemin tidak percaya. Begitupun Taemin. Hyun Mi mengangguk dengan hati-hati. “Oppa?”

Hyun Mi mengusap matanya, berharap yang ia lihat bukan khayalan. Tapi begitu ia membuka telapak tangannya, tidak ada lagi Taemin. Ia memejamkan matanya dan mengacak-acak rambutnya sambil berteriak.

“Hyun Mi, gwaenchana?” Sepertinya Onew berteriak dari lantai bawah. “A..ani.. Gwaenchana. Aku hanya tersandung,” teriak Hyun Mi berbohong. “Perlu aku ke sana?”

“Tidak usah. Aku baik-baik saja.” . Hyun Mi memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya.

“Jadi, kau bisa melihatku atau tidak?” Taemin jadi semakin kebingungan. Hyun Mi berdiri dan merapikan bed cover Taemin yang berantakan karenanya. Ia memandangi kamar itu sekali lagi. Lalu pergi. “Aneh. Benar-benar aneh.” Dan Taemin masih dengan wajah bingung mencoba tidur kembali.

***

“Aku sudah gila. Benar. Aku sudah gila. Hyun Mi, sadar ! Mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali.” Hyun Mi berbicara pada cermin, lebih tepatnya memarahi dirinya sendiri. Tapi hatinya berlawanan dengan mulutnya. Dia yakin dia melihat Taemin. Ini sudah tiga kali. Di gereja, ia melihat Taemin tersenyum padanya. Di teras rumah, ia melihat Taemin melambai kepadanya. Hyun Mi teringat ketika ia masih amnesia, ketika Taemin melambai di teras dia selalu membalas dengan tatapan sinis. Benar-benar sesuatu yang patut disesalkan. Dan terakhir, tadi pagi, ia melihat seolah-olah Taemin menghapus air matanya dan berbicara. “Hyun Mi kau bisa melihatku?” Hyun Mi mencoba menirukan apa yang ia dengar tadi. “Kenapa bertanya seperti itu? Apa memang dia sebenarnya tidak terlihat lalu jadi terlihat?” Hyun Mi masih berbicara dengan dirinya sendiri di cermin, “tidak Hyun Mi. Mana mungkin. Kau ini memang aneh Hyun Mi. Aku harus berbicara pada siapa? Key oppa? Aniyo.. Dia pasti akan membawa aku ke dokter jiwa, lalu aku divonis benar-benar sakit jiwa, lalu aku tinggal di rumah sakit jiwa dengan orang-orang yang lebih gila dariku dan nanti aku akan berakhir seperti mereka. Gila. Shireo! Minho? Ah.. tidak. Aku hanya akan membuat hatinya sakit. Aku tidak mau membuatnya lebih sakit. Onew oppa? Aku tidak dekat dengannya lagi pula dia pasti akan mengadu ke Key, lalu semua yang tidak aku harapkan, terjadi.  Ya Tuhan! Aku harus apa?”

Hyun Mi teringat ia masih punya buku harian. Ia lalu menumpahkan apa yang ia pikirkan ke dalamnya. Tak tanggung-tanggung, ia menulis sampai lima lembar. Setelah menulis, ia kembali menyimpan buku hariannya ke dalam laci meja riasnya. Sudah jam sepuluh. Ia harus tidur, karena Minho berjanji mengajaknya ke makam Taemin untuk meletakkan bunga. Semua itu Minho lakukan hanya untuk membuat Hyun Mi tenang.

***

Taemin berjalan menuju ke taman berharap ia bisa menjernihkan pikirannya lalu berfikir bagaimana cara membuat Hyun Mi melupakannya. Ia duduk mengamati bayangannya sendiri di becekan air bekas hujan semalam.

Aku harus bisa melepaskan Hyun Mi. Ya. Harus. Dan setelah aku melepasnya, lalu aku harus apa?Ah, kalau aku hanya bisa melepaskannya saja, tapi tidak dengan Hyun Mi, percuma saja. Tidak, tidak percuma. Kalau aku sudah selesai dengan semua ini, aku jadi tidak keberatan melihat Hyun Mi dan Minho akan hidup bahagia selamanya.

Lamunan Taemin buyar begitu melihat Hyun Mi dan Minho berjalan berdua dan Hyun Mi membawa bunga. Taemin yang akan beranjak dari bangku taman dan akan mengikuti mereka, mengurungkan niatnya. Ia merelakan memberikan privasi untuk mereka berdua. Ia menganggapnya langkah pertama melupakan Hyun Mi.

Ia sudah sampai tengah hari duduk di sana, memikirkan bagaimana caranya membuat Hyun Mi melupakannya tapi hasilnya nihil. Ia tidak menemukan jalan keluar apapun. Merasa lelah, ia pun kembali ke rumahnya, setidaknya untuk tidur siang, lalu kembali berfikir.

Di rumah ia mendapati hyungnya sedang menonton TV. Tas dan buku kuliahnya ia geletakkan di sofa. Taemin ikut duduk di sofa kosong tepat di samping Onew, ikut menonton. Ia tidak bisa mengitung lagi berapa kali ia menguap. “Hyung, kenapa kau betah sekali menonton berita nasional, hah?” Taemin pun beranjak menuju kamarnya, tapi mendengar bel pintu berbunyi, ia mengikuti Onew membuka tamu. Dan, Hyun Mi lah yang datang.

“Ada apa?” tanya Onew sambil mempersilahkan masuk. “Eum, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertamu. Kau keberatan?”. Onew tersenyum ringan, “Tidak. Mau teh?”. “Boleh.” Onew pergi ke dapur, sementara Hyun Mi duduk termenung dan tanpa ia tahu, Taemin sedang memperhatikannya tepat di sampingnya. Tidak lama Onew datang dengan dua cangkir teh. “Gomawo. Emm, oppa, bagaimana rasanya? Maksudku setelah Taemin oppa pergi?”

“Seperti kau lihat. Rumah ini sepi. Tapi aku mencoba tenang, tidak terlalu memikirkannya. Percaya saja, ia bahagia di sana,” jelas Onew. Hyun Mi tersenyum sebentar, “Aku berharap aku bisa begitu, tapi sayangnya tidak bisa.”

“Kenapa?” tanya Onew penasaran. “Aku tidak tau. Tapi apa kau berjanji tidak akan mengatakannya kepada siapa-siapa?” Hyun Mi menatap Onew dalam. “Mengatakan apa?”

“Aku pernah melihat Taemin. Tiga kali. Bahkan ia berbicara padaku. Itu yang membuatku tidak bisa melupakannya.” Mata Onew membesar mendengar pernyataan Hyun Mi, “Jinja?”. Hyun Mi menceritakan semua apa yang ia alami selama ini.

“Kau tau? Sebenarnya setiap aku ke kamarnya Taemin, aku juga merasakannya. Tapi tidak melihatnya. Ku kira hanya aku yang merasakannya,” tambah Onew. “Oppa, kau takut?” tanya Hyun Mi. “Untuk apa takut? Dia adikku.”

Taemin heran, kenapa dua orang ini mengaku bisa tau dia ada. Dia ini arwah. Kenapa ada yang tau? Tapi, selagi mereka tidak takut, bukan terlalu masalah untukknya.

***

Sudah lebih dari seminggu ini, Hyun Mi terus mengunjungi Onew. Hanya untuk menghibur dirinya sendiri. Onew ternyata orang yang sangat hangat. Ia sering menceritakan apapun yang terjadi  ke Onew. Entahlah, tapi berada di dekat Onew ia merasa nyaman. Ia merasa ia telah menghabiskan waktunya lebih banyak bersama Onew dari pada Minho. Paling ia bertemu Minho hanya pagi hari, menemaninya ke makam Taemin untuk meletekkan bunga di sana. Ia merasa kalau Onew membuatnya tenang sama rasanya bersama Taemin. Dari senyumnya, cara ia berbicara, cara menatapnya, semuanya sama dengan Taemin. Itulah yang membuatnya tenang dan nyaman berada di dekat Onew.

Taemin yang berada di dekat mereka pun juga merasa hal yang sama. Ia menjadi bingung dengan sikap Hyun Mi kepada hyungnya. Hyun Mi sering sekali tersenyum beberapa hari ini. Begitupun hyungnya. Meskipun tidak jarang Taemin sering mendapati Hyun Mi menangis karena mengingat dirinya. Taemin juga sudah bisa membiarkan Hyun Mi dekat dengan orang lain. Sebagian besar hatinya sudah merelakan Hyun Mi. Hanya ada sedikit yang terasa sakit.

***

Jam empat sore. Seperti biasa Hyun Mi mampir ke rumah Onew. “Hyun Mi, aku baru ingat. Taemin pernah bilang padaku, kalau ia ingin sekali menyanyikan sambil memainkan piano lagu ini untukkmu,” Onew menyerahkan partitur nada ke Hyun Mi. ‘The Name I Loved’ judulnya. “Aku ingin sekali mendengarkannya,” Hyun Mi menatap Onew tapi pandangannya melihat, Taemin lah yang akan bermain. “Aku bisa melakukannya,” Onew menawarkan diri. Sementara mereka duduk di bangku piano, Taemin menontonnya dari belakang.

Onew menarik nafas panjang, lalu mulai memainkannya sambil bernyanyi.

My hands become colds as the memory of love coldly draws near. It becomes painful. I don’t want to be unfair to you any longer. Knowing that i can’t love you, who is close to me, who can’t look at me. It’s hard to wait. I can’t stand it anymore. Since it won’t be achievable.

The name i loved. Became too distant as i went out to call it. I now write that name down. I’m on verge of tears. I want to hide within my self. Remember that day now. Where all i could do was loving. BECAUSE UNACHIEVABLE LOVE IS STILL LOVE. *arti lirik the name i loved

Hyun Mi lagi-lagi menangis mendengar lirik lagu itu. Setidaknya itulah yang Taemin rasakan waktu itu. Ia terus menangis selama Onew menyanyikan lagu itu dengan suaranya. Sementara Taemin, entahlah, tapi dadanya terasa sakit.

Tidak ada lagi suara. Hening. Yang ada hanya ada isakan tangis. “Hyun Mi, gwaenchana?” Onew menoleh ke Hyun Mi yang menunduk. “Hyun Mi, lihat aku, jebal.” Hyun Mi menoleh dan menatap Onew. Onew menghapus air mata Hyun Mi, “Jebal, jangan menangis.”

Wajah Onew mendekat ke wajah Hyun Mi. Chu ! Onew mencium Hyun Mi. Taemin yang melihat kejadian itu diam. Wajahnya datar. Otaknya bilang kalau ini tidak apa-apa, toh dirinya sudah bisa melepaskan Hyun Mi, tapi dadanya sakit sekali.

Onew melepaskan ciumannya tapi ia memegang wajah Hyun Mi, menjaga jaraknya tetap dekat, mata mereka saling menatap. “Oppa, aku bisa merasakan ada Taemin disini,” bisik Hyun Mi. Taemin yang bisa mendengarnya terkejut, kenapa Hyun Mi bisa tahu. Ia bingung mau kemana. Akhirnya ia memutuskan untuk bersembunyi di balik sofa. Semoga saja membantu, tak lama ia mendengarkan Onew berbisik, “aku tidak merasakan apapun.”

Seperti kebetulan atau tidak, ternyata Minho berada tepat di depan pintu. Ia bisa melihat jelas Onew dan Hyun Mi di depan piano dan ia juga bisa menebak, mereka telah berciuman. Hyun Mi dan Onew langsung menyadari keberadaan Minho dan Hyun Mi langsung menjauhkan diri satu sama lain. “Oppa, aku harus pergi.” Hyun Mi berdiri dan mendekati Minho. Minho mencoba tersenyum tulus kepada Hyun Mi, meskipun dadannya sakit. “Oppa bisa kita bicara?” Minho mengangguk dan mereka keluar. Taemin keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat hyungnya menumpukan kepala ke pianonya. Ia terlihat menyesali apa yang telah ia lakukan.

***

“Oppa, mianhae.” Hyun Mi menangis sampai ia tidak kuat menahan dirinya sendiri hingga ia jatuh terduduk di depan Minho. Minho ikut duduk dan merangkul Hyun Mi. “Gwaenchana.” Lagi-lagi kata itu yang keluar dari Minho. “Oppa, aku selalu menyakitimu, aku sudah meminta maaf, tapi aku terus menyakitimu. Kenapa kau tahan dengan yeoja jahat seperti aku? Kenapa?” tangisan Hyun Mi pecah. Minho mengalihkan pembicaraan, “jadi, kau mencintai tiga namja sekarang?” nada bicara Minho lembut sekali tidak ada nada marah dalam pertanyaannya. Ia juga menghapus air mata Hyun Mi yang menetes deras. “Tidak. Masih sama. Oppa dan.. Taemin. Onew oppa? Aku tidak tau kenapa. Aku tidak mencintainya tapi aku merasa nyaman dengannya. Oppa, kalau kau marah tinggalkan saja aku disini sendirian. Tidak apa-apa. Aku pantas mendapatkannya.” Hyun Mi tidak bisa menghentikan tangisnya. “Tidak. Mana mungkin aku tega membiarkan kau menangis sendirian,” kata Minho seraya menguatkan rangkulannya. “Aku sudah menyakiti oppa berulang kali.” “Aku tidak merasa sakit sama sekali.” Minho mengecup puncak kepala Hyun Mi. “Oppa aku ingin pulang. Aku ingin menenangkan diriku sendiri. Aku janji akan menemui oppa empat hari lagi.” Minho mengangguk dan mengantarkan Hyun Mi pulang. Tidak ada Taemin di sana, karena ia pergi ke tempat lain.

***

Taemin berlari ke rumah Eun Hye sambil berfikir kenapa orang-orang bisa menyadari keberadaannya. Atau dia ini memang terlihat? Beruntung sekali Eun Hye sedang duduk di ayunan di depan rumahnya. Ia tersenyum, tidak seperti biasanya. “Eun Hye, boleh aku tanya sesuatu?” Eun Hye mengangguk. “Kenapa orang-orang mengaku bisa melihatku atau merasakanku? Tapi kadang-kadang tidak?” Eun Hye menarik nafas panjang, “Oppa, apa kau sadar kapan mereka bisa melihat atau merasakanmu?” Taemin mencoba berfikir tapi ia tidak tahu. “Mereka bisa merasakanmu ketika memikirkanmu dan bisa melihatmu ketika mereka menangis untukmu.” Taemin mengangguk mengerti.

Pantas saja. Tapi tunggu dulu, mereka bericuman dan …. Hyun Mi bisa merasakanku.

Merasa kurang puas dengan jawaban Eun Hye, Taemin membuka mulut untuk bertanya, tapi Eun Hye ternyata sudah masuk ke rumahnya.

Ia jadi teringat, Hyun Mi harus melupakannya dengan bersama orang lain. Tapi orang yang ia cintai itu siapa? Minho atau Onew. Bagaimana cara menyelesaikannya?

Mereka bisa melihatku ketika menangis. Apa benar aku harus melakukannya? Ya, hanya ini jalan keluarnya.

***

Taemin berjalan menuju kamar Hyun Mi. Semua lampu sudah dimatikan. Wajar saja, ini sudah jam sembilan malam. Tepat di depan kamar Hyun Mi, ia menjadi ragu untuk masuk. Ragu untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang ia dapatkan tadi sore. Ya, kalau ia mendapati Hyun Mi sedang menangis karenanya ia akan menampakkan dirinya dan berbicara. Tapi, bagaimana kalau ini hanya membuat Hyun Mi tambah tidak bisa melupakannya dan ketakutan? Tapi tidak ada salahnya mencoba.

Dan seperti keberuntungan, Hyun Mi benar sedang menangis di pojokan kamarnya. Ia ingin memastikan apa Hyun Mi menangis untuknya atau bukan, lantas ia memanggilnya. Hyun Mi menoleh dan itu berarti benar ia sedang menangisinya. “Hyun Mi, ini aku Taemin. Ini bukan khayalanmu. Ini nyata. Ini benar aku. Tolong jangan teriak atau apapun. Ini benar aku. Arra?” Hyun Mi yang terkejut berusaha mengusap matanya agar ia bisa memastikan ini nyata atau bukan. “Hyun Mi jangan dihapus. Tetaplah menangis! Jangan dihapus,” Taemin buru-buru mencegah Hyun Mi. Dan Hyun Mi yang masih mematung  hanya terdiam, shock, tapi ia menuruti semua apa yang dikatakan Taemin.

Tetaplah menangis! Apa-apaan ini?

“Oppa?” Hyun Mi menangis, tapi bukan karena perintah Taemin, melainkan dia memang menangis. Ini pertama kalinya ia melihat Taemin lebih dari dua puluh detik. Ia mencoba memeluk Taemin, tapi ia menembusnya. Wajah ketakutan muncul diraut wajahnya. “Aku arwah. Jangan takut. Ini benar-benar aku, Taemin. Aku hanya punya waktu malam ini dan kita harus bicara. Jangan hapus air mata itu atau kau tidak bisa melihatku.”

“Oppa, tapi kenapa-” Hyun Mi tidak bisa melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya tiba-tiba sakit. “Hyun Mi aku datang karena kau. Kau harus membantuku pulang. Hanya kau yang bisa.”. “Maksudmu?” tanya Hyun Mi sambil mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Taemin. “Aku datang ke sini karena kau tidak bisa melepaskanku. Aku diusir sampai kau bisa melepaskanku. Kau harus melupakanku.”

“Oppa, mianhae, aku selalu menyusahkanmu. Tapi untuk melupakanmu aku tidak bisa. Saranghae.”

“Kalau kau mencintaiku, bantu aku. Hanya lupakan aku saja. Aku ini sudah mati Hyun Mi. Kau harus melupakanku. Ini bukan duniaku lagi Hyun Mi. Aku tidak bisa berada disini terus.” Alasan Taemin yang ia berikan kepada Hyun Mi adalah bohong. Alasannya adalah agar Hyun Mi tidak menangis lagi. Hanya itu. “Tapi bagaimana, oppa?” Suara Hyun Mi sudah tidak bisa terdengar jelas lagi. Tenggorokannya seperti tidak bisa mengeluarkan suara. “Katakan, kau mencintai Minho atau Onew?” tanya Taemin menatap Hyun Mi dalam. “M..m..maksudmu?”

“Aku sudah melihatnya semua Hyun Mi. Piano, ciuman tadi. Aku sudah melihatnya.” Hyun Mi kembali terisak, “oppa, maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku merasa, yang tadi menciumku adalah kau. Aku tidak mencintai Onew. Aku bersamanya karena Onew mirip denganmu. Aku juga tidak bermaksud mempermainkan Onew. Hanya-” Taemin mencoba merangkul Hyun Mi sebisanya, mencoba membelai Hyun Mi, “Aku tau itu. Aku bisa merasakannya. Kalau kau ingin bersama hyungku, cintailah dia sebagai dirinya sendiri, jangan sebagai aku. Kalau kau bersama hyung, aku tidak akan marah.”

“Itu berarti aku harus bersama Minho?”

“Tanya dirimu sendiri. Hyun Mi, hanya kau yang bisa menolongku.”

Hanya kau yang bisa menolong dirimu sendiri.

“Aku akan mencoba. Setelah ini semua, kau akan pergi? Tidak akan kembali kesini?” Taemin mengangguk, “Aku akan beristirahat dengan tenang. Apa kau tega membiarkan aku di tempat ini?” Hyun Mi menggeleng singkat, membuat air matanya jatuh lebih cepat. “Karena itu, mulai besok dan seterusnya, jangan pernah menangis untukku lagi. Kau harus melupakanku. Kau harus membuang semua tentangku. Anggap saja aku tidak pernah ada. Kau janji?” Hyun Mi terdiam, tidak menjawab. “Hyun Mi, jebal. Aku percaya padamu.” Hyun Mi, mengangguk dan menangis lagi. Taemin melepaskan rangkulannya, ia tersenyum kepada Hyun Mi, tapi dadanya sakit. Sangat sakit. “Hyun Mi, hanya itu. Aku percaya padamu. Aku tidak akan berada di dekatmu lagi agar kau bisa melupakanmu. Annyeong Hyun Mi.” Taemin melambaikan tangannya sebelum ia berjalan.

“Oppa, jangan pergi. Aku mohon, hanya malam ini. Setidaknya biarkan aku melihatmu sampai aku tidur. Lalu aku berjanji aku akan melakukan apa yang kau minta. Aku janji. Hanya malam ini saja. Temani sampai aku tidur.”. Taemin terdiam, tapi ia tidak kuat melihat air mata memohon Hyun Mi, “Ne. Tapi kau harus janji ya?”

Ini demi kau sendiri Hyun Mi.

Hyun Mi naik ke kasurnya. Menyelimuti dirinya sendiri. Taemin duduk di kursi, di samping ranjang Hyun Mi. Hyun Mi menatap Taemin, ia mencoba menggenggam tangan Taemin meskipun ia tau, tangannya tidak benar-benar menyentuhnya. “Oppa, bogoshipo,” Hyun Mi tersenyum sambil berusaha mengeluarkan air matanya demi bisa melihat Taemin. “Jadi selama ini benar yang aku lihat itu kau?” Taemin mengangguk dan tersenyum. “Saranghae,” bisik Hyun Mi. Taemin buru-buru meletakkan jari telunjuknya di depan mulut Hyun Mi, “Andwae. Jangan mencintaiku mulai dari sekarang. Arra?” Hyun Mi menarik nafas panjang, menahan isakannya, “Arraseo. Oppa, tapi kau juga harus janji padaku, saat aku sudah melupakanmu, kau jangan melupakanku disana.” Taemin mengangguk sambil membelai kepala Hyun Mi. “Hyun Mi, ketika kau besok bangun, aku tidak ada disini, aku tidak akan berada di dekatmu. Karena itu, jangan menangis. Dan ingat, kalau kejadian ini bukan mimpi. Ini nyata.”

“Ne oppa. Oppa, annyeong.” Taemin mengecup dahi Hyun Mi, lalu Hyun Mi memejamkan matanya, hingga akhirnya ia benar-benar tertidur pulas

***

Butuh waktu lama untuk Hyun Mi melakukan semua apa yang diminta Taemin. Perlahan namun pasti ia bisa melakukannya. Setelah ia benar-benar membuang kenangannya bersama Taemin. Termasuk, ia membakar foto-fotonya bersama Taemin. Ia juga sadar kalau ia hanya mencintai Minho, bukan Onew.  Beberapa minggu yang lalu, ia mengatakan yang sebenarnya kepada Onew. Dan Onew mengerti meskipun Onew menyalahkan dirinya sendiri yang terlanjur menyukai Hyun Mi. Yang Hyun Mi tau, beberapa hari setelah ia mengatakannya, Onew berpamitan kepadanya, bahwa ia akan tinggal di Gwangmyeong untuk waktu lama. Setelah Hyun Mi hampir berhasil melupakan Taemin, yang hanya perlu lakukan adalah mencintai Minho.

Di waktu yang Hyun Mi perlukan untuk melupakannya, Taemin tetap berada di kamarnya atau sekedar berjalan-jalan di taman. Ia juga jarang melihat Eun Hye. Terakhir bertemu ketika ia berjumpa dengan tidak sengaja ketika Eun Hye berjalan-jalan bersama orang tuanya. Ia hanya sesekali melihat Hyun Mi. Yang ia tau, Hyun Mi tidak pernah menangis lagi. Ia sering tertawa bersama Minho. Ini bagus. Hyun Mi tidak menangis lagi itu adalah hal yang bagus. Ia juga bisa pulang secepatnya. Dan ia bisa menebak Hyun Mi dan Minho akan hidup bahagia selamanya.

Hari ini tepat dua bulan semenjak pertemuan singkat antara Hyun Mi dan Taemin. Taemin memutuskan, ia akan pulang hari ini dan tidak akan pernah kembali kesini. Tidak akan melihat Hyun Mi lagi sampai suatu saat nanti. Ia juga tidak lupa berterima kasih atas bantuan Eun Hye. Sekarang, ia tepat di sebrang jalan dari tempat Hyun Mi dan Minho berdua duduk di bangku taman. Taemin mengamati mereka dengan tersenyum. Tapi sebagian kecil hatinya sakit. Ia bisa melihat sekarang mereka sedang mengambil foto mereka berdua. Senyum bahagia di wajah mereka, tidak ada wajah sedih atau mata Hyun Mi yang sembab. Semua sudah kembali seperti sedia kala.

Annyeong.

***

Hyun Mi melihat fotonya yang baru saja ia ambil. Hyun Mi tersenyum melihat hasilnya yang bagus. Tunggu dulu, di foto itu, mereka tidak berdua. Ada Taemin di foto itu. Tapi hanya Hyun Mi yang melihat, Minho hanya melihat foto mereka berdua. Hyun Mi tau di sana benar ada Taemin. “Oppa, tunggu. Aku pergi sebentar.” Hyun Mi berniat untuk berterimakasih kepada Taemin dan mungkin mengucapkan selamat tinggal. Ia berlari kecil menyebrangi jalan itu.

“Hyun Mi awas!!”

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNN !!!!!!

“Aaaaaaaaaaaaaaaa!!”

Kejadian itu berlangsung sangat cepat di mata Minho dan Taemin. Minho segera berlari ketengah jalan menghampiri Hyun Mi yang tergeletak di tengah jalan. Seketika, jalanan itu dibeceki darah segar.  Minho berusaha membangunkan Hyun Mi. Tapi mata Hyun Mi tetap terpejam. Sementara, pengendara mobil itu dengan cepat menelfon panggilan darurat.

Taemin yang berada di sebrang jalan tidak mampu berbuat apa-apa. Melihat kejadian yang begitu cepat dan mengerikan itu membuatnya badannya bergetar dan terjatuh. Ia menangis. Perlahan ia mencoba berdiri, berjalan, meninggalkan taman yang sudah di penuhi kebisingan orang-orang, sirine polisi dan ambulan.

Taemin berjalan meskipun ia tidak tau kemana. Ia mencoba untuk tidak menangis. Dari kejauhan, ia bisa melihat seseorang berlari mendekatinya. Perempuan yang mengenakan gaun yang sangat cantik. Perempuan itu memeluk Taemin sampai Taemin terdorong kebelakang.

“Oppa!”

“H..Hyun Mi?”  Perempuan itu tersenyum lebar, ia menangguk bahagia. “Kita akan bersama selamanya oppa. Hidup bahagia selamanya.”

Taemin yang masih terkejut itu mencoba mencerna kata-kata yang ia dengar tadi.

“Oppa, kita berdua sama. Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Aku tidak tau kalau aku-” Belum sempat Hyun Mi menyelesaikannya, Chu ! Taemin mengecup bibir Hyun Mi.

“Gomawo oppa. Saranghae.” Hyun Mi tersenyum ketika Taemin melepaskan ciumannya.

“SARANGHAE PARK HYUN MI !! SARANGHAE !!!!!!!!”

“NADO SARANGHAE LEE TAEMIN !!!!!!!!”

Mereka berteriak di jalanan yang kosong berulang kali.

“Ohok !” Hyun Mi sampai tersedak karena terlalu kuat berteriak. “Oppa, ayo kita pergi. Kau masih ingat kan janjimu, bermain piano untukku?” Hyun Mi menatap Taemin menyelidiki.

“Mana mungkin aku lupa. Kita bisa bermain piano selamanya!”

***

“Hhhhh, oppa, aku ingin melihat keponakanku. Pasti mereka lucu-lucu.” Hyun Mi merengek kepada Taemin manja. “Kita tidak bisa kembali kesana, chagi. Aku juga ingin melihat mereka.” Taemin mengecup puncak kepala Hyun Mi yang bersandar dibahunya. “Ne. Aku tau. Tidak apa-apa. Aku bahagiaaaaaaa sekali disini.” Hyun Mi tertawa pelan. “Oppa, ayo mainkan satu lagu lagi. Baru aku mau tidur,” rengek Hyun Mi lagi. Taemin hanya menggeleng tertawa melihat tingkah laku Hyun Mi dan memainkan piano besar itu lagi.

Ya, ini sudah lima tahun semenjak kepergian Taemin dan Hyun Mi. Mereka hidup bahagia berdua. Sementara Onew dan Key yang bernasib sama, kehilangan adik mereka, merasa benar-benar kehilangan. Tapi sekarang, mereka sudah bahagia dengan keluarga mereka masing-masing dan anak-anak mereka yang lucu. Dan Minho, ia dengan cepat merelakan Hyun Mi. Karena ia masih teguh dengan pendiriannya, ia akan bahagia apabila Hyun Mi bahagia. Dan sekarang? Ia bahagia dengan perempuan yang ia pilih.

-End-

Wakakakakak…. bagaimana readers? Maaf ya kalau ceritanya tidak berkenan di hati anda *author muntah dengan gaya bicara author* Huwoooo.. author ngarep banget abis baca pada tinggalin jejak.. Comment like oxygen mamen *eh? Ini beneran endnya ya.. curcol dikit yah.. Author nangis waktu nulis lirik The Name I Loved. Soalnya ff last melody sama yang ini inspirasinya dari lagu the name i loved sama quasimodo.. Itu lagu, sumpah nyentuh banget.. hiks hiks hiks.. nanti author datang lagi dengan ff lainnya… gomawo for reading.. annyeong :* :*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “(Sequel of Last Melody) It Won’t Be The Last – [2.2]”

  1. gya.. Ujungnya rada2 gimanaa gtu.. Taemin-hyunmi bahagia.. Tpi onew, minho n key kehilangan.. Walaupun akhirnya happy end juga..
    Good job, chingu..
    Ditunggu karya berikutnya..

  2. huuu ini ff nya nyentuh bangett !!
    aku kira hyun mi bakal sama minho ternyata sama taem juga 😀
    daebak thor ff nya 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s