I’m The Real Humanodevil – Part 5

I’m The Real HumanoDevil – Part 5

Author: Lee Taehyunnie

Main cast:

SHINee Kim Jonghyun

SuJu Lee Sungmin

Gwiboon (Key Girl Ver.)

SuJu Kim Kibum

Support cast:

Other SHINee Members, f(x) member , SNSD members, SuJu Kim Heechul, SuJu Leeteuk, , SuJu Kyuhyun, BoA,TVXQ Changmin, BigBang TOP & Taeyang.

Length: sequel

Genre: Mystery

Rating : PG-13

“Hah…hah…b-bagaimana ini?! A-apa yang harus ku lakukan?! Ayolah Kim Gwiboon!” Gwiboon mengerang kesal. Ia menggigiti bibirnya sambil mencengkeram ponsel. Matanya melirik ke kanan dan kiri memastikan tidak ada siapa pun yang mengikutinya. Masih dengan tangan gemetaran ia membuka pintu apartemen kecilnya.

Ia masuk dengan langkah gontai sebelum mendudukkan dirinya di depan meja makan. Deru napas masih terdengar dari mulutnya dan keringat terus mengalir membasahi wajahnya. Ia menelan ludah sambil menatap ngeri foto di layar ponselnya, Seunghyun yang tengah berdiri tenang membelakangi lubang besar dengan seorang lagi di depannya. Kepalanya menggeleng. Tidak, ia tidak mungkin bisa bertahan di depan orang-orang asing yang menatapnya tajam sementara ia menjelaskan apa yang ada di layar ponselnya sekarang.  Membayangkannya membuat bahu Gwiboon gemetar. Matanya dipenuhi keraguan dan otaknya sibuk memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan.

Gwiboon tahu ia harus melakukannya agar semua cepat berakhir dan tidak ada lagi yang menjadi korban keegoisan manusia ini. Tapi sesuatu di hatinya membuat yeoja berambut pirang ini ragu untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia takut setelah semua itu terjadi sesuatu miliknya akan hilang dan tidak menutup kemungkinan hal itu adalah nyawanya sendiri.

Yeoboseyo?” ucapnya setelah  merasakan ponsel ditangannya bergetar.

“Gwiboonnie, aku di luar. Tolong bukakan pintu!” suara Jonghyun terdengar dari ponsel itu. Gwiboon hampir terjatuh dari kursinya ketika suara Jonghyun yang berat sampai di gendang telinganya. Ragu-ragu ia berjalan ke arah pintu. Tapi belum juga ia memutar knob pintu ponselnya kembali bergetar.

“Iya, tunggu sebentar. Kenapa buru-b…”

“Kim Gwiboon…” napas Gwiboon tercekat tepat ketika kalimatnya dipotong oleh suara berat penelponnya. Ia memutar knob pintunya hati-hati agar tidak  ada suara yang menggetarkan gendang telinga. Perlahan ia mengintip melalui celah kecil yang dibuatnya.

Sosok itu, Kim Jonghyun, berdiri membelakangi pintu. Ia tampaknya sedang menghubungi seseorang.

“Tutup mulutmu atau sesuatu akan terjadi!”

Tut…tut…tut…

Kalimat singkat itu membuat Gwiboon semakin berkeringat dingin. Ia mendapati Jonghyun menjauhkan ponselnya kemudian memasukkannya ke dalam saku celana. Ia terlihat akan berbalik membuat Gwiboon cepat-cepat menutup pintu.

“B-bagaimana ini?!” ia menghentakkan kakinya panik sambil berpikir.

“Gwiboonnie! Aku tau kau ada di belakang pintu itu jadi sekarang bukalah!” panggil Jonghyun dari balik pintu. Gwiboon menguatkan dirinya seraya meraih knob pintu. Tapi sebelum ia menyentuhnya tiba-tiba pintu itu terbuka, menampakkan sosok Jonghyun yang mengenakan kaus putih dan mantel hijau tua.

Seketika angin malam yang dingin menyeruak masuk membuat telapak tangan Gwiboon membeku. Di hadapannya Jonghyun berdiri dengan dahi berkerut. Ia kemudian masuk setelah melepas boot hitamnya dan bertanya, “Ada apa denganmu?”. Gwiboon menggeleng sambil terus menatap ngeri ke arah Jonghyun.

“Ya! Kamu baik-baik saja?” Jonghyun bertanya lagi, sekarang dengan mendekati Gwiboon. Perempuan itu mundur selangkah. Ia mengangguk menandakan dirinya sekarang baik-baik saja. Jonghyun memicingkan matanya curiga.

“Kau seperti baru saja melihat…setan?” Gwiboon menelan ludah melihat Jonghyun yang menyeringai padanya. Setan, setan, setan. Di kepalanya tiba-tiba terlintas sebuah buku yang ditemukannya di kamar Jonghyun,’I’m The Real HumanoDevil’. Ia sempat membaca beberapa bagiannya dan ia yakin dirinya telah –dan mungkin akan –mengalami hal yang sama seperti yang tertulis di salah satu bagian buku itu.

“Umh, J-Jonghyun, ada apa malam-malam ke sini?” Gwiboon balik bertanya, mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ah, itu. Aku hanya lewat daerah sini tapi kemudian aku jadi merindukanmu. Bagaimana kalau malam ini gantian aku yang menginap di sini?” jantung Gwiboon seolah berhenti berdetak. Tidak, ia sekarang tidak sedang ingin menemani Jonghyun tidur.

“T-tapi kamarku kecil. Mana muat menampung kita berdua? Lebih baik kau pulang saja,ya?” Gwiboon tertawa kecil, kedengaran sangat terpaksa.

“Ne? Kau mengusirku?” tanya Jonghyun sambil sedikit memajukan bibir bawahnya.

“Bukan! Bukan begitu!”

“Kalau begitu aku akan menginap di sini. Tenang saja, kau bisa tidur dikasurmu. Aku akan tidur di sofa.”

Gwiboon menggigit bibir bawahnya sambil terus mencoba memejamkan mata. Ia melirik ke arah jam digital di samping kasurnya yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Astaga, kenapa ia belum juga bisa tidur padahal tubuhnya sudah terasa remuk?. Bola matanya bergerak ke arah dimana Jonghyun berbaring. Sosok itu kemudian memutar kembali kejadian beberapa jam yang lalu.

Flashback…

Gwiboon tengah berjalan menyusuri jalanan kota Seoul. Ia baru saja keluar dari sebuah pusat perbelanjaan dan akan menuju rumahnya yang tidak jauh dari pusat kota.Ia berlari-lari kecil melewati sebuah taman ketika dirasanya udara malam sudah semakin dingin. Tapi sesuatu menghentikan langkahnya. Ia mundur perlahan, mengintip dari balik pohon tak jauh dari sesuatu yang menarik perhatiannya. Sosok itu, Choi Seunghyun, sepupu terdekatnya tengah berdiri berhadapan dengan sosok lain yang membelakangi Gwiboon.

Gwiboon terkikik pelan sebelum mengeluarkan ponselnya dan memotret Seunghyun dari kejauhan. Tapi seketika saat foto itu tersimpan dalam memori ponselnya ia sadar ada lubang besar tepat di belakang namja itu.

“Choi Seungh…” tenggorokkan Gwiboon tercekat. Ia melebarkan matanya ketika mendapati Seunghyun tiba-tiba jatuh ke dalam lubang yang ada di belakangnya. Kemudian sosok lain di tempat itu berbalik membuat Gwiboon segera merunduk panik.

“Astaga, itu kan…apa yang ia lakukan di sini?!”Gwiboon mencengkeram tas belanjaannya panik. Ia sesekali mengintip ke tempat dimana sosok itu berdiri sambil terkekeh. Setelah sosok itu selesai dengan apapun yang dikerjakannya, ia berbalik dan menatap tajam tepat ke arah dimana Gwiboon bersembunyi. Entah apa yang terjadi hingga kaki Gwiboon tak kuasa bergerak dan lidahnya kelu. Ia hanya berjongkok sambil memeluk erat belanjaannya berharap tidak terjadi apapun padanya.

Derap langkah kaki itu sangat dekat hingga menggetarkan gendang telinganya. Sosok itu semakin mendekat sampai-sampai Gwiboon bisa mendengar napasnya yang berat. Gwiboon merunduk semakin dalam, seolah-olah dengan begitu sosok itu tidak akan melihatnya. Setelah mengumpulkan keberanian, Gwiboon tiba-tiba bangkit dan segera lari dari tempat itu. Namun telinganya masih dapat mendengar suara papan yang menutupi lubang itu diketuk keras. Dalam hati ia berdoa agar Seunghyun akan baik-baik saja.

“Gwibonnie-“

“Kyaaaa!!!” teriak Gwiboon histeris. Ia melompat dari tempat tidurnya dan berusaha melindungi tubuhnya dengan bantal.

“Ya! Kau kenapa?” tanya Jonghyun khawatir. Ia bergegas mendekati Gwiboon yang gemetar di samping kasur dengan isakan-isakan kecil dari bibirnya. Tangan Jonghyun terjulur menyentuh bahu perempuan yang terlihat sangat ketakutan itu, yang hanya dibalas dengan tendangan kuat dari kaki Gwiboon.

Tiba-tiba matanya mendapati Gwiboon menggenggam erat ponselnya seperti akan menelpon seseorang. Segera Jonghyun menyambar ponsel ditangan Gwiboon, namun perempuan itu tetap bersikeras mempertahankan ponselnya.

“Apa yang ingin kau lakukan, Kim Gwiboon! Apa kau sudah gila?! Jangan bilang kau akan melakukan itu!” bentak Jonghyun. Gwiboon meraung-raung masih mencoba mempertahankan ponselnya. Tapi dengan keadaannya yang rapuh dan kacau Jonghyun dengan mudah mendorong tubuhnya, membuat ponsel itu akhirnya berada di tangan Jonghyun.

Tangisan Gwiboon semakin hebat. Ia mencengkeram piyamanya berusaha mengembalikan kekuatannya. Seolah tak peduli, ia membiarkan air mata membanjiri wajah dan kerahnya, masih berusaha merangkak mendekati Jonghyun.

“Biarkan…hiks a-aku…Jong-hyun…hiks S-Seunghyun…kembalikan ponselku, Kim Jonghyun-” pinta Gwiboon masih diiringi isakan. Tangannya yang basah oleh keringat menggapai-gapai Jonghyun yang duduk di depannya.

“Hentikan! Kita berdua akan mendapat masalah besar jika kau melakukannya!” teriak Jonghyun. Ia mendekat dan bicara tepat di depan wajah Gwiboon, “Kau tidak ingin kita mendapat masalah kan, Gwiboonnie?”. Gwiboon menggigit bibir bawahnya dan mengangguk lemah.

“Tapi aku ti-dak ingin…hiks keadaan menjadi uh semakin b-buruk…dan a a-aku tidak ing-in…hiks kehilangan-mu…”Gwiboon merunduk sambil menggigiti kukunya. Jonghyun hanya menanggapinya dengan segaris senyuman hangat seraya mengelus kepala Gwiboon lembut.

“Tenang, semua akan baik-baik saja. Aku bisa mengatasi semua ini.” Jonghyun meraih tubuh Gwiboon yang gemetar ke dalam pelukannya. Dirasanya jantung Gwiboon perlahan melambat juga kausnya yang mulai basah oleh cairan berlendir. Ia dengan hati-hati menaikkan Gwiboon ke kasurnya dan menutupi tubuh lemah itu dengan selimut.

“Jonghyunnie, kenapa kau melakukan-…”

“Aku tidak punya jawaban untuk itu, Gwiboonnie. Tidurlah.”potong Jonghyun cepat. Ia beranjak dari kamar Gwiboon setelah memberikan senyuman terbaiknya. Setelah berada cukup jauh dari kamar Gwiboon, Jonghyun berhenti sambil menatap ponsel merah muda di tangannya.

Mianhaeyo, Gwiboonnie. Aku punya alasan kenapa aku melakukan ini,” ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 2.45 dini hari. Hari minggu telah berakhir dua jam lalu yang artinya ia harus segera tidur. Ia segera meraih saklar lampu yang ada di depannya.

“Maaf sudah membuatmu masuk dalam masalah ini.” dan tempat itu kembali temaram dan hanya diterangi oleh seberkas cahaya yang menyusup lewat kaca jendela.

Suasana sedih menyelimuti sebuah pemakaman. Sanak keluarga, kerabat dan orang-orang kepolisian berkumpul mengelilingi pusara Choi Seunghyun yang masih basah. Gwiboon berdiri di samping ibunya sambil terisak. Jonghyun yang bungkam hanya menatap kosong ke arah makam itu di samping Nyonya Kim. Kibum, Lee Seunghyun, dan Victoria berjejer di sisi lain makam dengan kepala menghadap tanah, masih khusyuk berdoa.

“Hyung!” bisik Seunghyun sambil menyenggol Kibum di sampingnya.

“Hm.” jawab Kibum singkat, tak berniat melakukan pembicaraan disaat seperti ini. Victoria yang tertarik melirik lewat sudut matanya.

“Hasil tesnya sudah keluar dan data yang hyung minta sudah ada.”ujar Seunghyun masih dengan berbisik. Ia menunjuk laki-laki yang berdiri di seberang mereka. “Orang itu Kim Jonghyun. Dia yang muncul dalam rekaman pukul 9.45.”.

Kibum melirik ke arah yang ditunjuk Seunghyun. Di sana seorang laki-laki tengah berdiri dalam diam memandangi makam di depannya. Bukankah laki-laki ini yang datanya juga ia dapat dari kepala sekolah Jung?.

“Tsk, kau dengar Kibum ssi? Jangan remehkan intuisiku!” Victoria tiba-tiba angkat bicara sambil mengangkat sedikit dagunya, merasa menang.

Kibum mengangkat sedikit sudut bibirnya, “Tahan dulu arogansimu, Victoria ssi. Kita masih punya bukti lain.” dan ia terkekeh pelan mendapati Victoria menatapnya benci. Ia melanjutkan tanpa mempedulikan Victoria yang tengah menggerutu, “Bagaimana dengan yang lain, Seunghyun ssi?”

“Rambut itu milik Lee Seungyeon yang bersekolah di tempat yang sama dengan Kim Jonghyun, Yoona dan Victoria. Dia keponakan Mr. Lee. Lalu menurut keterangan warga di sekitar Tapgol Park mereka melihat anggota gang EXO malam itu berkumpul di sana.” lanjut Seunghyun.

“Bawa mereka ke kantorku hari ini juga!”perintah Kibum cepat. Kali ini matanya tak lagi menatap gundukan tanah basah tempat jasad kedua rekannya beristirahat, tapi laki-laki di depannya yang kini tengah sibuk menenangkan ibunya. Pemikirannya beberapa waktu lalu bukan tanpa alasan. Laki-laki itu punya masalah pada psikisnya –entah masih ringan atau sudah mencapai tingkat waspada. Dia juga punya masalah dalam pergaulan. Meskipun punya empat teman dekat tapi ia juga memiliki musuh yang jumlahnya lebih banyak. Kalau bukan tersangka, paling tidak ia menjadi saksi mata.

Dua orang itu tengah duduk berhadapan di salah satu meja café. Salah satunya tengah menatap cemas ke arah laki-laki di depannya. Sementara itu yang lain hanya duduk diam memainkan garpu ditangannya.

“Onew oppa, penyakitku sudah semakin parah. Organ pentingku sudah mulai digerogoti dan rambutku mulai rontok. Apa yang harus ku lakukan agar rambutku tidak mengganggu kita berdua?” kata Seungyeon pelan. Onew menghela napas berat sambil menyendok pudingnya.

“Entahlah.” jawabnya datar.

“Waktuku hampir habis dan oppa masih bersikap seperti ini padaku? Apa yang ku lakukan selama ini masih kurang untukmu? Bukankah aku sudah melakukan semua yang oppa inginkan?” tanya Seungyeon dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia menggenggam erat syalnya mencoba menahan tangis agar tidak pecah di saat seperti ini.

“Aku tidak menyuruhmu melakukannya.”kembali Onew membalas dengan datar. Kali ini sambil memainkan gelasnya.

Mwo? Kau lupa? Kau yang memaksaku melakukan semua ini!” nada suara Seungyeon meninggi. Ia menatap tak percaya laki-laki di depannya yang tengah membuang muka.

“Aku juga punya alasan lain,” lanjutnya. Onew masih terlihat tak peduli atau lebih tepatnya tidak mau peduli.

“Aku…aku menyukai oppa-“

“Lee Seungyeon!” seru seorang laki-laki bertubuh tegap yang tiba-tiba masuk. Seungyeon berbalik mendapati beberapa orang berseragam menatap tajam ke arahnya. ‘B-bagaimana mungkin?’ batinnya. Ia melihat sekilas ke arah Onew yang juga tampak terkejut.

“Kami dari kepolisian. Kami diperintahkan untuk membawamu ke kantor kami segera!” ujar laki-laki itu. Ia meraih tangan Seungyeon yang sedikit meronta.

“Apa yang kalian inginkan?! Aku…aku tidak melakukan apapun!”

“Kami memerlukan keterangan anda sebagai saksi mata.”.

Kibum menghela napas berat untuk yang ke sekian kalinya. Entah sudah berapa lama ia duduk di kursinya menunggu jawaban dari Seungyeon. Yeoja itu tetap mengunci mulutnya tanpa sedikit pun mengangkat wajahnya.

“Seungyeon ssi, kamu tidak perlu takut. Orang-orang kepolisian akan melindungimu sebagai saksi. Kamu hanya perlu menjelaskan dimana anda malam itu. Kalau memang kau tidak sedang berada di SM malam itu dan terbukti benar maka kau tidak perlu datang ke sini lagi. Jadi tolong katakan di mana Seungyeon ssi ketika Leeteuk sonsaengnim dibunuh?” Kibum berusaha terlihat tenang dan tidak menakut-nakuti Seungyeon. Namun yeoja itu masih terlihat ragu untuk membuka mulut.

“Ayolah Seungyeon ssi. Apa kamu mau semua orang mati satu persatu karna kau tidak mau membantu kami?”bujuknya lagi. Kali ini ia mendapati Seungyeon tersentak dan segera menegakkan badannya. Yeoja itu menatap Kibum dengan kedua bola matanya yang melebar.

“Apa dengan kesaksianku kasus ini bisa selesai?”tanyanya dengan wajah yang sedikit cerah. Kibum menanggapinya dengan anggukan dan senyuman, membuat yeoja itu semakin senang. ‘kau harus segera mengakhiri semua ini, Lee Seungyeon! Sebelum kau mati dan membusuk di dalam tanah’ Seungyeon tersenyum. Ia menelan ludah dan menarik napas dalam-dalam.

“Aku memang berada di sana bersama kakakku malam itu. Kami sedang berada di perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Kemudian aku berkata pada Sungmin oppa kalau aku ingin pulang. Dia menyuruhku pulang lebih dulu dan aku menurutinya. Ketika sampai di dekat tangga aku mendengar suara ribut dari ruang konseling. Aku langsung saja ke tempat itu dan…” Seungyeon menggantungkan kalimatnya. Ia terlihat berkeringat dan berkali-kali menarik napas.

“Dan?” Kibum menajamkan pendengarannya. Ia melihat ketakutan di mata Seungyeon.

“Dan aku melihat Jonghyun sunbaenim. Dia memukuli Leeteuk sonsaengnim dengan tongkat besi dan menggunakan sarung tangan. Aku terkejut dan hampir terjatuh ketika sunbae melihatku. Ia menjambak rambutku dan mengancam akan membunuhku dan Sungmin oppa jika aku mengadukannya ke polisi. Aku terkena kanker otak dan sebentar lagi mati, aku tidak peduli jika dia benar-benar membunuhku. Tapi Sungmin oppa…aku tidak mungkin membiarkannya mati di tangan orang kurang ajar sepertinya!” ucapnya dengan penekanan di akhir kalimat.

Gotcha!’Kibum memekik dalam hati. Intuisi Victoria selama ini tidak salah. Hanya tinggal mengumpulkan beberapa bukti lagi untuk menyeret Kim Jonghyun ke penjara. “Lalu setelah itu? Apa yang Jonghyun lakukan padamu?”.

“Dia mendorongku sampai jatuh dan melanjutkan apa yang dilakukannya. Aku melihat sendiri dia memukuli Leeteuk sonsaengnim, menghancurkan lehernya dengan ujung besi yang runcing dan memotong jari-jarinya. Aku tidak bisa bergerak atau bahkan bersuara. A-aku terlalu takut untuk melakukan sesuatu. Dia…dia…” tangis Seungyeon pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isakan yang keluar dari bibirnya terdengar pilu dan penuh rasa takut. Beberapa polisi wanita yang juga berada di ruangan itu matanya ikut berair melihat gadis itu menangis sesenggukkan.

Kibum menatapnya simpati. Ia kemudian mendekat dan mengelus rambut perempuan yang dikenalnya sebagai keponakan Mr.Lee, seorang atasan di sini. Ia menyadari kenapa banyak sekali rambut Seungyeon yang di temukan di sana, rambut yeoja itu sudah mulai rontok oleh penyakitnya.

“Tenanglah. Kami akan segera menghentikannya setelah semua bukti terkumpul.”Kibum tersenyum lembut sebelum menyuruh polisi wanita di ruangan itu membawa Seungyeon keluar.

Masih terisak Seungyeon bergegas menginggalkan ruangan itu. Namun tanpa sepengetahuan siapa pun, gadis itu tersenyum puas di balik telapak tangannya.

Sore itu sekumpulan remaja tengah menghabiskan waktu luang di Tapgol Park. Mereka mengenakan pakaian bernuansa gelap dan style­-nya sedikit mencolok. Beberapa orang yang lewat ada yang tersenyum, menjerit kecil, atau berbisik-bisik tidak jelas menanggapi eksistensi sekumpulan remaja yang berwajah ‘tak biasa’ itu.

Mereka memang cukup terkenal di Gwansu-dong sebagai sebuah gang yang berkuasa. Isinya adalah remaja-remaja dari kalangan menengah ke bawah yang berwajah entertainer. Meskipun pemimpin gang itu terlihat ramah –Kim Joonmyun atau dikenal sebagai Suho, tapi sebenarnya mereka bukan remaja baik-baik seperti yang terlihat. Taemin dan Minho pernah hampir saling bunuh dengan anggota gang itu karna mereka terus berteriak “Taemin neomu yeppo~ Minho neomu pabo~” setiap mereka berdua melewati Tapgol Park. Untung saja Gwiboon datang dan menceramahi mereka semua.

Beberapa orang berseragam berjalan tegap memasuki area Tapgol Park. Mereka menghampiri gang yang menamai mereka sebagai ‘EXO-K’ itu. “Kim Joonmyun, bisa ikut kami sebentar?”

Suho yang saat itu membelakangi mereka berbalik dan menatap mereka tanpa ekspresi. Baekhyun yang duduk paling ujung menyenggol Chanyeol yang berada di sampingnya, “Apa kau, Kai dan Sehun membuat masalah lagi?” tanyanya curiga. Chanyeol yang juga bingung menggelengkan kepala.

“Mungkin D.O?”

Buk!

Chanyeol meringis merasakan perutnya ditinju keras oleh D.O. Sedangkan pelakunya hanya memberi tatapan aku-tidak-melakukan-apapun ke arah Chanyeol.

“Apa yang akan kami dapatkan kalau kami mengikuti kalian?” tanya Suho enteng.

“Kalian akan dapat kebebasan jika terbukti tidak bersalah. Tapi kalau sebaliknya, kalian akan dipenjara.”jawab pimpinan orang-orang berseragam itu dingin.

“Tsk, apa tidak ada tawaran yang lebih baik?” Suho tertawa mengejek diikuti seringaian dari anak buahnya –kecuali Sehun yang memilih untuk tidak peduli.

“Jika ini merupakan pembunuhan berencana, kalian akan dihukum mati.” polisi itu balik menyeringai. Polisi lain di belakangnya –yang berwajah mirip dengan polisi-polisi difilm Bollywood– menyilangkan tangannya di depan dada dan membuat gerakan seolah-olah ia akan menebas remaja-remaja di depannya.

Suho dan teman-temannya berpura-pura tersentak dan membuat wajah terkejut seolah takut oleh perkataan polisi itu. Kemudian Kai maju dan meraih bahu polisi yang ternyata lebih pendek darinya. “Kami ikut denganmu.”ujarnya santai lalu mengajak anggota gang yang lain untuk mengikutinya.

Semua beranjak kecuali Sehun. Ia duduk dengan gelisah dibangku taman. Orang pertama dan satu-satunya yang menyadarinya adalah  Suho. Ia berhenti dan memandang Sehun bingung.

“Ada apa denganmu? Kau takut?”tanya Suho. Sehun menggeleng pelan. Tidak biasanya Sehun seperti ini. Ia seharusnya yang paling semangat dan agresif soal menghadapi polisi.

“Lalu? Hei, kau penipu paling hebat di EXO. Tidak perlu gugup. Bukankah kau berhasil membodohi polisi-polisi itu berkali-kali?”Suho kembali bertanya, heran dengan anggotanya yang satu ini. ‘Hyung pabo! Kalau kasusnya begini aku tidak mungkin berbohong! Ditambah lagi tersangkanya sudah menculik Lu Han!’ ingin rasanya Sehun berteriak seperti itu di depan hyungnya, namun urung ia lakukan karna di depannya ada tiga polisi. Dengan sedikit keberatan ia berdiri dan mengikuti langkah hyung-nya.

Orang-orang sial itu pasti menuduhku melakukan semua ini! Dasar pembual! Eh, tunggu. Bukannya yang pembual itu aku? Argh! Lupakan!’ Sehun mengacak rambutnya frustasi. Kemudian sembilan orang itu menghilang di antara padatnya aktivitas kota Seoul.

TBC

NB untuk author : Maaf, Fotonya tidak bisa di upload

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “I’m The Real Humanodevil – Part 5”

  1. aq g yakin kl pelakunya jjong oppa…. mungkin malah Onew oppa… ga tau, d… terserah pengarang jg. tapi menuutku g mungkin pelakunya diungkap semudah itu, apalagi dsini jjong agak terganggu psikisnya….

  2. oh TIDAAAAK..#lebay
    Pembunuh.na bkn JongHyun kan,.?! Bukan kan.,?! Masa JongHyun sih..?!
    Kelihatan.na bukan deh, soal.na td seungyeon tersenyum licik g2,
    Aq lebih ngerasa yg jd pmbunuh.na entu Onew ato Sungmin, entah napa fellingku yg jd pmbunuh na antara 2 orang itu,#sotoy
    Ayo dilanjud, jangan lama2 ya..
    HWAITHING.. ^^

  3. jdi gwiboon tau jjong pembunuh’a? abis td dia bilang “Jonghyunnie, kenapa kau melakukan-…” maksud’a knp jjong membunuh kan? sebener’a gak berharap jonghyun, sih penbunuhnya.. cepet2 di post ya part 6’a, FIGHTING

  4. Thooorrr… Kok udh lama gk dilanjut yaaa??? Aku baru tau sama ni ff, tapi penasaran bngt T,T lanjut dong??? Ini ff terbengkalai bngt TT^TT keren thor, gue suka bngt ttng pembunuhan gini! Fighting ya thor!! ‘-‘)9

  5. kayaknya yg pembunuh itu si sungmin deh! :/
    gak mungkin jong oppa..
    lanjut dong..!,part 3 nya mana??,aku gak baca 😦

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s