Better

Better

Author : Han Jinry

Main cast : Lee Jinki, Kim Sooyeon

Support cast : Lee Taemin, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho

Genre : Romance, little angst

Rating : PG13

Length : Oneshoot

Summary : “Kau tau, jika berada disampingku membuatmu lebih baik, aku rela. Aku rela kau menyakiti perasaanku dengan kenyataan yang ada..”

**

“Sooyeon-ah, mianhe. Kurasa.. Kurasa kita harus berakhir sekarang. Aku.. Aku sudah tak mencintaimu..”

 

“Andwe!”

yeoja yang tadi tertidur itu tiba-tiba bangun dengan nafas yang tak beraturan. Terik matahari yang masuk melalui jendela kamarnya seolah tak mengusiknya. Hanya air mata yang tiba-tiba menjatuhi pipi yeoja itu.

“Kau.. Kenapa kau muncul didalam mimpiku hah? Kenapa kau masih menggangguku..? Kau.. Kau harusnya pergi.. Bukankah itu yang kau lakukan? Meninggalkanku malam itu sendirian? Kau..”

air mata Sooyeon tumpah semakin banyak. Bayangan tadi malam kembali terekam di ingatannya. Malam pilu yang ingin Sooyeon lupakan tapi malah teringat lagi olehnya. Malam terakhir ia berhubungan dengan namja tinggi itu.

Ceklek!

Pintu kamar Sooyeon tiba-tiba terbuka dan muncullah wajah seorang namja yang menyembul dibalik pintu kamarnya. Melihatnya membuat Sooyeon segera cepat-cepat menghapus air matanya.

“Kau menangisi namja itu lagi? Kukira air matamu sudah habis semalaman menangisinya.”

Sooyeon hanya diam saja mendengarkan ucapan Jonghyun, oppanya. Bahkan membiarkan oppanya masuk kedalam kamarnya. Jika dalam keadaan biasa Sooyeon akan menolak mentah-mentah namja itu masuk ke kamarnya. Karena namja itu bisa saja menghancurkan barang-barang Sooyeon dengan tangan perusaknya.

“Kau karma denganku, saeng..” itu yang diucapkan Jonghyun sebelum memeluk saengnya yang kembali menangis di pelukannya.

“Ya, aku karma denganmu. Jika aku menurutimu untuk tak menerimanya waktu itu.. Mungkin aku..”

“Sudahlah.. Lupakan. Yang penting sekarang kau harus melupakan namja bernama Choi Minho itu. Arasso?”

Jonghyun melepaskan pelukannya dan menatap Sooyeon. Ibu jarinya menghapus air mata yang masih tersisa di mata Sooyeon.

“Ne, oppa. Kau bantu aku melupakannya ya?”

Jonghyun mengangguk mantap.

“Sekarang kau mandi. Oppa antarkan kau ke tempat kerjamu. Ne?”

Sooyeon hanya mengangguk bahkan membiarkan tangan besar Jonghyun mengacak-ngacak rambutnya. Hal yang paling dibenci Sooyeon karena tatanan rambutnya akan berantakan. Tapi kondisinya membiarkan itu. Karena pikirannya belum sepenuhnya bisa terlepas dari Choi Minho..

**

Namja bermata sabit dan berwajah tampan itu berjalan menuju ruangannya. Sekertarisnya menyapanya saat ia tiba. Membuat Jinki, namja itu menundukkan badannya dan balas menyapanya sebelum masuk kedalam ruangannya.

Ruangan Jinki dipenuhi ornamen classic. Jika masuk kedalam ruangan ini tak menyangka ini adalah ruangan kerja. Ya, ini sebenarnya hanya ruangan pribadinya di kantor ini. Bukan ruang kerjanya. Hal yang lumrah karena ini adalah kantor keluarganya, dan ia adalah calon kuat penerus perusahaan keluarga Lee.

Mata sabit Jinki tiba-tiba tertuju pada namja berambut merah menyala yang duduk santai di sofanya sambil mengganti-ganti channel tv. Jinki bernafas sebentar lalu menghampiri namja itu.

“Kau tak kuliah?”

Namja berambut merah itu melirik Jinki sekilas.

“Ani. Aku malas dengan dosennya.”

Jinki menatap Lee Taemin, dongsaengnya dengan tatapan iba. Selalu membolos, biang masalah dan sebagainya telah menjadi julukan untuk Taemin. Taemin yang sekarang bukanlah Taemin yang dulu. Taemin yang penurut, manis dan ramah itu hilang sejak perceraian appa dan ummanya. Jinki memakluminya, karena saat itu usia Taemin masih sangat muda. Berbeda dengan Jinki yang sudah SMA dan sudah dewasa.

“Hyung, noona cantikmu itu tak kelihatan. Biasanya begitu aku datang kesini ia terlihat di ruangannya.”

ucapan Taemin menghentikan aktifitas Jinki sesaat. Jinki teringat dengan Sooyeon, salah satu karyawan di perusahaan ini sekaligus sahabatnya sejak SMA. Harusnya Sooyeon memang sudah ada disini, tapi Jinki tak melihatnya ada di ruangan tadi.

“Kenapa kau tak merebutnya dari Minho? Ya, kudengar mereka sudah putus. Sudah dengar itu? Ah, pasti belum. Kau kan selalu ketinggalan. Sekertarismu yang memberitahuku.”

Jinki seperti mendapat pukulan dari ucapan Taemin. Seperti melihat oase mendengar Sooyeon putus dengan Minho. Ada perasaan senang di hati Jinki. Jahat memang, tapi itu yang Jinki rasakan.

Jinki sudah lama menyimpan rasanya pada Sooyeon. Ia bahkan menyukai Sooyeon jauh sebelum yeoja itu mengenal namja bernama Choi Minho. Tepatnya sejak mereka sama-sama duduk di kelas 1 SMA. Bahkan Jinki yang mengenalkan Sooyeon dengan Minho. Dan ia menyesal, karena pada akhirnya yeoja itu jatuh ke tangan Choi Minho.

Sooyeon masuk ke kantor ini pun atas rekomendasinya pada appa. Tapi kejadian perkenalan Minho dan Sooyeon yang ia lakukan sebulan setelah Sooyeon masuk ke kantornya berbuah celaka untuknya. Dan Jinki harus menunggu satu tahun hingga berita putusnya mereka terdengar olehnya sekarang.

“Sekertaris Han tau dari mana?” tanyaku pada Taemin.

“Ia itu biang gosip hyung. Sudahlah, jangan buang-buang tenaga untuk bertanya yang tak penting. Lebih baik sekarang kau dekati ia. Yeoja biasanya selalu terpuruk jika putus dari pacar. Terlebih katanya Minho yang memutuskan Sooyeon.”

tangan Jinki menegang dan tanpa ia sadari terkepal erat. Dirinya tak terima mendengar ucapan Taemin barusan. Minho yang memutuskan Sooyeon, otomatis yeoja itu masih mencintainya. Yang membuat emosi Jinki tersulut adalah, ia tak mau melihat yeoja itu menangis lagi.

Cukup bagi Jinki melihat Sooyeon menangis saat bertengkar dengan Minho. Cukup bagi Jinki mendapati Sooyeon menangis di pundaknya saat itu karena Minho. Jinki tak bisa menerima keadaan Sooyeon yang pasti akan lebih parah dari sebelumnya.

“Hyung, aish! Kau mulai asik dengan pikiranmu sendiri. Ya sudah, jangan salahkan aku lagi kalau kau bertindak lambat. Sooyeon noona, cantik dan baik. Banyak yang mengincarnya! Ayolah, aku tak mau melihat hyungku harus sakit hati dan memendam rasa lagi! Sudah delapan tahun! Huh, kau ini benar-benar gila hyung.”

Jinki mengiyakan ucapan Taemin dalam hati. Ia bukan tak berusaha untuk menyatakan cinta pada Sooyeon selama ini. Tapi saat ia akan menyatakannya, selalu ada yang menghalanginya. Apapun itu.

**

Sooyeon berulang kali mencoba fokus pada layar komputer didepannya. Pada tugas kantor yang menantinya. Tapi pikirannya seolah tak bisa diajak kompromi. Pikirannya malah membawanya kembali ke saat-saat ia masih bersama Minho.

Sooyeon ingat, saat Jinki sahabatnya itu datang untuk mengenalkan Minho padanya, saat itu pula Sooyeon jatuh cinta padanya. Dan tak lama Minho menyatakan cintanya, dan mereka jadian. Ahh, kenangan itu membuat Sooyeon semakin gila.

Sooyeon lagi-lagi tak dapat menahan air matanya. Beruntung ia memiliki ruangan terpisah, sehingga tak ada yang harus melihatnya menangis. Cukup pertanyaan-pertanyaan dari orang kantor yang bertanya apa benar ia dan Minho putus. Sooyeon yang saat itu menyimpan sakitnya dalam-dalam dan menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Tok tok tok

“Sooyeon-ah, boleh aku masuk? Apa kau sedang sibuk?”

Sooyeon buru-buru menghapus air matanya sebelum mempersilahlan Jinki masuk. Ya, Sooyeon mengenali Jinki dari suaranya. Ia hanya tak mau kejadiannya dengan Jonghyun yang memergokinya menangis terulang lagi.

“Masuklah Jinki-ah!”

ceklek!

Pintu ruangan Sooyeon terbuka. Tampaklah Jinki dengan senyuman manis khasnya. Melihat senyuman itu seolah membuat Sooyeon tak dapat menahan bibirnya untuk ikut tersenyum.

“Ada apa Jinki-ya?”

Jinki berjalan mendekati meja Sooyeon. Setelah jaraknya dan Sooyeon mendekat, dapat dengan jelas Jinki lihat mata Sooyeon yang bengkak. Tangan Jinki terkepal seketika. Ia yakin, Sooyeon menangisi Minho semalaman. Dan itu membuat rasa sakit yang ia rasakan sejak lama semakin masuk kedalam hatinya.

“Kau..” Jinki tak melanjutkan kalimatnya. Ia ragu. Ia takut melukai yeoja yang ia cintai.

“Mianhe Jinki-ah. Aku tak bisa menjaga hubunganku dengan Minho. Padahal kau yang mengenalkannya padaku. Sepertinya.. Sepertinya aku dan Minho..”

Sooyeon hampir menangis. Jinki bertindak cepat dengan menarik tangan Sooyeon. Air mata yang tadi hendak keluar tertahan dan berganti tatapan bingung Sooyeon yang ditujukan untuk Jinki.

“Kita mau kemana?”

“Ikut aku saja. Ini akan menghiburmu.”

“Tapi… Aku masih banyak kerjaan Jinki.”

“Lebih baik keluar daripada didalam kantor dan didepan kerjaan tapi pikiranmu masih melayang pada Minho. Aku akan membuatmu melupakan namja itu. Diam dan jangan berkomentar.”

Sooyeon menuruti Jinki untuk tidak  berkomentar dan mengikuti kemana Jinki membawanya.

**

Taemin berjalan keluar ruangan Jinki. Ia penasaran apa yang dilakukan hyungnya itu. Apa Jinki sedang menenangkan Sooyeon sekarang atau tidak.

“Kau mau kemana Taemin?”

suara seseorang menghentikan langkah Taemin yang baru lima langkah keluar dari ruangan Jinki. Taemin membalikkan badannya dan menemukan Kibum di belakangnya.

“Ah, kau Kibum. Kemana Jinki hyung? Kau melihatnya?”

Kibum memutar bola matanya kesal. Taemin cuek. Kibum yang menjunjung sopan santun tinggi tak suka jika ia yang lebih tua hanya dipanggil dengan namanya saja. Tanpa embel-embel. Tapi Taemin tak akan memanggil hyung ke orang kantor ini atau panggilan hormat yang lain kecuali untuk Jinki.

“Aku melihatnya menarik tangan Sooyeon. Entahlah, tapi mata Sooyeon bengkak. Apa mereka ada masalah? Bukankah mereka selama ini bersahabat dengan baik? Ya! Lee Taemin! Haish, anak itu!”

Kibum menatap kesal Taemin yang lari begitu saja meninggalkannya.

Taemin tak memedulikannya. Ia hanya ingin memastikan keputusan hyungnya itu benar. Sifat cuek Taemin tak bisa ia tahan jika berhubungan dengan hyung kesayangannya. Orang yang satu-satunya ia percaya di dunia ini.

Satu yang Taemin ingin. Hyungnya tak harus menahan rasa sakit yang menghinggapi dirinya selama ini. Hyungnya terlalu baik, tapi bodoh untuk itu..

**

Taman ria. Jinki mengajak Sooyeon keliling-keliling dan bermain sepuasnya disana. Mengulang kenangan Jinki dan Sooyeon saat mereka SMA dulu. Ini tempat favorit mereka. Jinki bahkan ingat, waktu itu ia hampir menembak Sooyeon di atas bianglala tapi gagal karena Sooyeon yang takut ketinggian tiba-tiba teriak saat mereka berada di puncak.

Sepanjang perjalanan itu, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Sooyeon beruntung ada Jinki disampingnya. Ia bisa melupakan masalahnya sejenak. Bahkan tangannya yang dari tadi berada dalam genggaman Jinki berulang kali menarik tangan Jinki. Mengajaknya mencoba semua wahana yang ada disana. Mereka bernostalgia.

Tak jauh dari sana ada sepasang, ah tidak. Dua pasang bola mata yang mengintai kemapaun Jinki dan Sooyeon pergi.

“Mereka seperti pacaran. Apa Sooyeon secepat itu melupakan Minho? Padahal tadi pagi aku melihatnya sangat tak bersemangat.”

Taemin, salah satu si pengintai itu melirik sebal ke sampingnya. Ya, Kibum memaksa ikut dengan mengejar Taemin. Dan akhirnya mereka berdua disini, bersama mengintai Jinki dan Sooyeon.

“Kau tak mengerti apa-apa. Jadi diam saja.”

Kibum memajukan mulutnya mendengar ucapan Taemin.

“Ah, aku ingin bermain juga jadinya. Kau mau main Taemin?”

“Pabo! Nanti ketahuan!”

Kibum mengetuk kepala Taemin pelan dengan handphonenya.

“Ya jaga jarak lah! Kau ini bagaimana sih? Kajja!”

Kibum menarik paksa tangan Taemin. Taemin mencoba memberontak, tapi Kibum lebih kuat dan akhirnya Kibum menang karena Taemin diam dan pasrah diseret Kibum.

**

Mou ichido waraeru sono hi made

Itsumade datte soba ni ite

Sono te wo sono te wo hanasanai

 

Malam sudah tiba. Jinki dan Sooyeon berhenti di tempat terakhir yang mereka kunjungi. Kedai kecil didalam taman ria tersebut. Sooyeon yang menggunakan hairband kelinci yang dipilihkan Jinki tersenyum sambil menatap pemandangan taman ria di luar kedai yang terlihat indah di malam hari.

“Kau mau memesan apa?” suara Jinki mengalihkan perhatian Sooyeon.

“Eng..” Sooyeon menatap menu didepannya bingung.

“Kimchi? Kau paling senang memesan itu di kedai ini dulu.”

Sooyeon memandang Jinki, lalu kedai tempat ia berada sekarang.

“Apa dulu kita pernah kesini?”

“Ne. Sering Sooyeon-ah. Bagaimana? Kimchi?”

Sooyeon mengangguk lalu membiarkan Jinki memesankan makanan untuknya. Matanya tak lepas dari sosok namja didepannya. Jinki yang terus menerus dihujani tatapan menatap Sooyeon. Membuat yeoja itu segera membuang pandangannya kearah lain.

“Waeyo Sooyeon-ah?”

“Ani. Kau.. Ternyata kau masih ingat persis saat-saat kita menghabiskan waktu bersama disini. Aku.. Aku saja lupa. Hehe,”

cengiran Sooyeon bukannya membuat hati Jinki berdebar tapi malah mencelos. Terlebih mendengar ucapannya tadi. Sooyeon tak ingat apa-apa saat-saat mereka bersama. Sedangkan saat bersama Minho? Ia benar-benar susah melupakannya.

“Dasar pelupa. Apa aku harus memanggilmu haelmoni?”

“Ya!”

Jinki tertawa dan Sooyeon ikut tertawa. Tawa palsu Jinki ternyata bisa membahagiakan Sooyeon. Tawa mirisnya itu ternyata berguna juga saat ini. Candaan yang ia keluarkan hanya untuk mengalihkan perhatian.

Sesaat mereka terdiam. Asik dengan pikiran masing-masing. Pelayan yang mengantarkan makanan lah yang mengusik mereka.

“Haish, apa Jinki benar-benar bodoh? Huh, bagaimana ia bisa menyimpan rasa sakit itu selama delapan tahun?”

komentar Kibum keluar dari mulutnya setelah mendengar cerita Taemin. Posisi mereka ada didalam kedai yang sama dengan Jinki dan Sooyeon. Hanya posisi duduk mereka sedikit jauh dari Jinki dan Sooyeon.

“Ia terlalu baik. Karena terlalu baik ia terlihat seperti orang bodoh. Mungkin orang pintar sepertinya tak pintar dalam masalah percintaan.” Taemin menjawab Kibum dengan mata yang terus terarah pada Jinki dan Sooyeon.

“Lalu, kenapa Minho memutuskan Sooyeon?”

“Aniyo. Kau kira aku ibunya Minho?”

Kibum mendengus sebal mendengar jawaban menyebalkan Taemin.

“Apa Jinki akan bertanya pada Sooyeon?”

Taemin menatap Kibum sesaat, sebelum pandangannya kembali fokus pada Jinki dan Sooyeon.

“Jinki hyung pasti tidak akan bertanya. Ia akan menjaga perasaan Sooyeon noona. Kau tau, ia lebih memilih ia yang tersakiti daripada harus melihat orang yang ia cintai tersakiti. Aku pernah merasakannya. Ia selalu membiarkan aku yang menang, dan ia yang kalah. Kau tau, hidup Jinki hyung terlalu banyak mengalah.”

Kibum hanya diam sambil menatap Taemin. Wajah sombong dan berandalan itu hilang dari wajah Taemin sekarang. Yang ada hanya lah wajah polos yang menatap lurus kearah diseberangnya.

**

Sejak di kedai tadi Jinki dan Sooyeon tak banyak bicara. Suasana diantara keduanya menjadi canggung. Bahkan tangan mereka yang sejak awal saling berpegangan tak saling bertautan lagi.

Mata sabit Jinki tak berani menatap yeoja disampingnya. Entah kenapa, ada rasa takut akan rasa sakit yang akan semakin menyiksanya. Rasa sakit itu sudah semakin dalam, dalam, dan dalam. Bahkan hampir menyentuh dasar hati Jinki.

Mata sabit Jinki memilih untuk memperhatikan sekitarnya. Walau tak tau apa objek yang harus ia lihat.

“Eh?”

Jinki menatap tak percaya pemandangan tak jauh dari tempatnya dan Sooyeon berdiri. Lelaki tinggi yang tak lain adalah Choi Minho sedang merangkul yeoja asing yang tak pernah Jinki lihat sebelumnya.

“Wae Jinki?”

Jinki tak mendengar pertanyaan Sooyeon. Merasa tak akan mendapat jawaban dari Jinki, Sooyeon memilih mengikuti tatapan mata Jinki. Dan seperti mendapat hantaman palu keras ia melihat pemandangan yang dilihat Jinki. Kakinya seolah bergetar dan seolah tak mampu menahan beban tubuhnya sendiri.

“Sooyeon?”

Jinki menahan tubuh Sooyeon yang hampir terjatuh. Mata Sooyeon kembali panas dan air mata itu tumpah lagi. Rasa sakit Jinki kembali mendalam melihat air mata Sooyeon yang tumpah. Terlebih untuk namja brengsek seperti Minho.

“Ternyata ia benar-benar tak mencintaiku Jinki.. Ia..”

Sooyeon tak dapat melanjutkan kata-katanya. Tak ada yang dapat Jinki perbuat selain memeluk tubuh yang sudah lemas itu.

 

Kanashii nara naite

Ari no mama ni naite

Sore demo kurushikute dareka ga hitsuyou nara

Boku no soba ni oide

Ari no mama de oide

Dokoni ite mo kurushii no nara

Boku no soba ni oide

 

“Jangan lihat kesana. Kumohon..”

suara Jinki terdengar seperti bisikan lirih. Air mata Jinki hampir tumpah. Tapi ia tak bisa terlihat lemah di mata Sooyeon. Walaupun sebenarnya ia jauh lebih rapuh dibanding Sooyeon.

“Lupakan namja itu.. Mianhe.. Jeongmal mianhe.. Seandainya aku tak mengenalkanmu dengannya, kau.. Kau tak akan seperti ini.. Bagi rasa sakitmu.. Kalau perlu tumpahkan semua rasa sakitmu untukku. Aku.. Aku akan menerimanya.”

Sooyeon terdiam mendengar kata-kata Jinki. Hanya sedikit isakannya yang masih terdengar. Hatinya berdesir mendengar ucapan Jinki tadi. Ucapan yang seolah ia keluarkan dari dasar hatinya. Pelukan Jinki yang awalnya terasa biasa saja tiba-tiba terasa hangat. Dan membuat Sooyeon nyaman, bahkan ia mempererat pelukannya pada Jinki.

Jinki kembali merasakan sakit itu. Rasanya ia seperti benar-benar tak kuat menahannya. Sakit yang ia rasakan sekarang seperti sudah mencapai klimaks. Entah kenapa hatinya seperti hancur didalam tubuhnya. Tapi Jinki masih berusaha berdiri tegak dan menyediakan tubuh yang kokoh, untuk sosok yang tengah memeluknya..

**

Ting tong

“Ne, tunggu sebentar.”

Jonghyun berlari menuruni tangga hendak membukakan pintu yang dari tadi sudah meneriakkan belnya.

Ceklek!

Jonghyun membuka pintunya dan menemukan sosok asing didepannya. Namja berusia sekitar 20 tahunan berdiri didepannya.

“Apa ada Sooyeon noona?”

namja itu bersuara. Tapi Jonghyun masih memperhatikan sosok didepannya terlebih dahulu sebelum melongokkan kepalanya kedalam rumah untuk memanggil Sooyeon. Dan tak lama Sooyeon keluar.

“Taemin-ah? Ada apa?”

Sooyeon menatap bingung Taemin, namja yang bertamu itu. Ini kali pertamanya Taemin datang ke rumah Sooyeon walau namja itu sudah lama kenal dengan Sooyeon.

“Ada yang ingin aku bicarakan noona. Tapi aku tak punya waktu banyak. Aku bicarakan disini saja ya?”

“Ah, ne. Apa?”

“Jinki hyung. Ini semua berkaitan dengannya.”

Sooyeon menatap Taemin bingung. Ia bahkan sampai mengerutkan dahinya. Tapi wajahnya memanas mengingat kejadian semalam, yang entah bagaimana bisa Sooyeon menikmati dirinya berada didalam pelukan Jinki.

“Ada apa dengan Jinki?”

“Ia mencintaimu noona. Sejak delapan tahun yang lalu.”

“MWO?”

Taemin sudah menduga reaksi Sooyeon noona akan seperti ini.

“Aku hanya meminta, tolong beri kesempatan untuknya. Aku tak ingin melihatnya terus sengsara menyimpan rasa sakit itu sendiri. Ia terlalu baik untuk membagi rasa sakit itu dengan orang lain. Kumohon noona..”

Sooyeon tidak percaya, benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Jinki.. Kenapa Jinki tak mengatakannya?”

“Karena ia terlalu pintar, sehingga ia bodoh dalam masalah ini. Maaf sudah mengganggu waktu noona. Aku hanya ingin mengatakan itu saja. Anyeong.”

Sooyeon larut dalam pikirannya sendiri setelah sosok Taemin pergi. Sampai suara Jonghyun tiba-tiba menyadarkannya.

“Feelingku benar, Sooyeon. Jinki mencintaimu. Aku rela adikku dengannya, ia baik, terlalu baik. Obati rasa sakit yang selama ini bersarang dihati Jinki, Sooyeon-ah.. Aku tau, didalam hatimu pasti kau menyayanginya kan?”

Sooyeon menatap Jonghyun. Ada yang aneh dengan dirinya sekarang. Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa sakit. Lebih sakit daripada rasa sakit yang kemarin ia rasakan.

“Oppa, antarkan aku ke kantor sekarang. Aku harus menemui Jinki sekarang juga.”

Jonghyun tersenyum menyambut ucapan Sooyeon sebelum akhirnya mengambil kunci mobil dan mendapat tarikan tangan Sooyeon untuk bergegas.

**

Jinki menatap kosong kedepan. Ia benar-benar kacau sejak kejadian semalam. Bahkan perubahan yang Taemin tunjukkan dengan menjadi anak yang baik semalam tak mengusik Jinki. Bahkan Taemin yang memeluk Jinki untuk mencoba membagi rasa sakit Jinki padanya tak berguna. Karena rasa sakit itu masih menguasai tubuh Jinki, menyiksa batinnya.

Ceklek!

Ada seseorang yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu Jinki terlebih dahulu. Biasanya Jinki akan mengomelinya, karena Jinki kurang suka ada orang yang lancang masuk ke ruangan pribadinya. Tapi ini berbeda. Jinki bahkan tak menyadari ada yang masuk.

Sooyeon, ia yang masuk kedalam ruangan Jinki. Rasa sakit yang ia rasakan seolah makin menyiksanya melihat keadaan Jinki di hadapannya. Bahkan ia tak menyadari kalau Sooyeon sudah didepannya.

“Jinki-ah..” Sooyeon memanggil Jinki lirih. Akhirnya membuat namja itu sadar. Ia berdiri dari bangkunya dan mencoba tersenyum kearah Sooyeon.

Sooyeon tak tahan melihat Jinki seperti itu. Ia segera memeluk tubuh yang benar-benar terlihat rapuh didepannya. Jinki sedikit terkejut dengan pelukan itu. Tapi akhirnya tangannya membalas pelukan Sooyeon.

“Pabo. Jeongmal pabo. Kau tau, kau orang terpabo yang pernah kukenal.”

Jinki hanya diam. Ia menopang dagunya di pundak Sooyeon. Menghirup aroma tubuh yeoja itu.

“Kenapa kau tak bilang dari awal? Kenapa kau tak mau membagi rasa sakitmu dari awal? Kenapa kau harus menyimpannya selama delapan tahun? Jeongmal pabo!”

Jinki cukup terkejut mendengar ucapan Sooyeon kali ini. Ia berusaha melepaskan pelukan mereka namun Sooyeon menolak.

“Kau.. Kau tau dari siapa?”

“Apa itu penting? Jinki, yang penting itu perasaanmu sekarang. Kenapa kau selalu mengorbankan perasaanmu untuk orang lain sih?!” air mata Sooyeon sudah tumpah dari tadi. Dan sekarang ia merasakan bahunya yang basah. Ini pertama kalinya Sooyeon menemukan keadaan Jinki tengah menangis.

“Karena aku senang melihat orang yang kusayangi bahagia, walau akhirnya aku yang harus tersiksa dengan keadaan..”

Kanashii nara naite

Ari no mama ni naite

Sore demo kurushikute dareka ga hitsuyou nara

Boku no soba ni oide

Ari no mama de oide

Dokoni ite mo kurushii no nara

Boku no soba ni oide

 

Sooyeon merasa dirinya adalah orang paling jahat sedunia. Ia menangisi namja brengsek yang mempermainkannya, tapi tak memperdulikan namja yang selalu ada untuknya. Bahkan rela mengorbankan perasaannya begitu banyak hanya untuk hal bodoh yang Sooyeon lakukan.

“Bagaimana caranya aku menebus semua pengorbananmu? Bagaimana caranya aku mengobati sakitmu?”

“Sudah kubilang, aku akan bahagia jika orang yang kusayangi bahagia, walaupun aku terluka..”

“Pabo.”

Sooyeon melepaskan pelukannya lalu menatap Jinki dalam. Jinki pun membalasnya dengan tatapan yang sama.

“Kau masih mencintaiku setelah delapan tahun yang menyakitkan itu?” tanya Sooyeon setelah beberapa saat mereka habiskan dengan saling tatap.

“Of course.”

Jinki menjawabnya sambil tersenyum.

“Kau mau terus mencintaiku? Selamanya?”

“Kau cinta sejatiku, Kim Sooyeon.”

Sekarang giliran Sooyeon yang tersenyum.

“I love you, my fool boy.”

Sooyeon berkata itu sambil memeluk tubuh Jinki. Jinki masih setengah tak percaya mendengarnya.

“Kau tau, aku merasa lebih baik jika berada disampingmu. Aku merasa kau bisa lebih menjagaku dengan baik dari siapa saja. You’re better than him, of course. And you’re the best among the other, you know? Sorry, i’ve made you wait for 8 years.”

Better better oh oh

(I get you better)

Better better oh oh

(I get you better)

Better better oh oh

(I get you better)

Better

 

Jinki tersenyum lega mendengar ucapan yeoja yang berada dalam pelukannya. Setidaknya itu obat yang paling ampuh yang bisa mengobati rasa sakitnya selama ini.

“I love you too. It’s ok for me wait you for 8 years just to love you.”

Sekarang sakit itu hilang. Sakit yang menyiksa Jinki keluar dan pergi entah kemana. Yang akan ada hanyalah kebahagiaan yang akan menunggu mereka, Jinki dan Sooyeon.

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sambil tersenyum penuh arti.

“Mianhe hyung, kalau aku tak membocorkan rahasiamu kau akan terus seperti orang bodoh.”

The End

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “Better”

  1. Gilaaa 8 tauuunnn, tega nih authornyaaa(?)Wkwkkwkw
    Jinki terlalu sabaaaar hebaatt tapi sakit hatinya gak nahan
    Sekali-kali egois boleh kali bang(?)Kekeke
    Bagus baguus (y)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s