Loves Way – Part 6

LOVES WAY

[Part 6]

Title : Loves Way [Part 6]

Author : Jung Yong Eun a.k.a Missky

Genre : School, Romance, Friendship, Life

Length : Sequel

Rating : PG-13

Main Cast : Bae Suzy, all member SHINee

Support Cast : Find them in the story

KEY POV

“Aku akan menuruti apa yang umma dan appa inginkan.” Kata Suzy memecah keheningan. Otomatis aku langsung melihat kearah Suzy setelah mendengar ucapan Suzy yang sama saja menerima perjodohan ini. Tak hanya aku yang langsung menoleh kearah Suzy tapi semua orang yang ada di ruangan ini. Dan tentu saja para orang tua terlihat senang dengan jawaban Suzy, tapi tidak denganku dan Hye Bum.

“Aku harus bicara padanya.” Gumamku. Apa dia sadar dengan apa yang dia katakan. Dulu dia bilang tidak mau menerima perjodohan ini, tapi apa yang dia lakukan sekarang? Dia menerimanya? Benar-benar tak bisa kupercaya.

“Suzy-ya, aku perlu bicara padamu.” Kataku sembari berdiri, menaril lengan Suzy dan menuju balkon atas.

“Apa kau serius mengatakan hal barusan.” Kataku tenang setelah kami berada di balkon.

“Aku tak mau mengecewakan umma dan appa, jadi aku hanya melakukan apa yang mereka perintahkan.” Jawab Suzy santai.

“Mwo? Kau bilang apa? Kau tak ingat apa yang kau katakan padaku saat pertama kali kita bertemu?” kataku sedikit berteriak.

“Aku ingat perkataanku waktu itu. Tapi aku berubah pikiran dan mulai sekarang aku akan menuruti apa yang umma dan appa perintahkan.” Katanya masih santai.

“Kau tak memikirkan aku? Aku tetap tak setuju dengan perjodohan ini, jadi aku akan menolaknya.”

“Wae? Kenapa kau tak menerimanya saja? Kau tak punya yeojachingu’kan? Apa salahnya membahagiakan orangtua?” katanya sedikit marah. Kenapa dia? kenapa dia jadi marah saat aku akan menolak perjodohan ini? Bukankah ini hakku?

“Bukankah itu hakku?” kataku sinis.

“Ya itu memang hakmu. Tapi aku tak mau terlibat masalah karena kau menolak perjodohan ini. Aku tak mau hidupku terusik karena harus berbelit dengan masalah perjodohan.” Katanya kembali tenang.

“Kau mau aku menerima perjodohan ini dan menikah denganmu? Tak akan, aku tak akan pernah menerima perjodohan ini.” Kataku lalu meninggalkannya di balkon. Tak ada gunanya lagi bicara padanya.

“Appa, umma maafkan aku, aku tak bisa menerima perjodohan ini.” Kataku saat sudah diruang tamu lagi.

“Mwo? Apa yang kau katakan Key?” tanya appa.

“Kau bercandakan Key? Suzy sudah menerimanya, kenapa kau menolak?” lanjut umma.

“Maafkan aku umma, aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai dan mencintaiku. Jadi aku menolak perjodohan ini. Bahkan dari awal aku tidak setuju dengan perjodohan ini, tapi umma dan appa tetap menyuruhku untuk menjaga Suzy, dan aku sudah melakukannya. Jadi sekarang aku berhak berpendapat atas semua ini.” Jelasku panjang lebar.

“Nugu? Siapa yeoja itu? Apakah dia lebih baik dari pada Suzy? Katakan pada umma siapa yeoja itu.” Kata umma setengah berteriak.

“Aku tak bisa mengatakan siapa dia, tidak sekarang. Tapi yang jelas dia jauh lebih baik dari Suzy. Permisi.” Kataku lalu pergi dari rumah itu. Sebelum pergi aku sempat melirik Hye Bum yang hampir menangis.

KEY POV END

SUZY POV

Apa yang baru saja dia katakan? Key sudah mempunyanyi yeojachingu? Tidak, Kim ahjussi dan Kim ahjumma pasti akan memaksa Key untuk menerima perjodohan ini. Maafkan aku Key, aku memang egois. Aku baru menyadari bahwa aku mulai menyukaimu, jadi aku tak mau kehilangan dirimu bahkan sebelum aku memilikimu.

Aku berlari menuju kamarku dan kudengar umma dan appa memanggil namaku, tapi takku hiraukan. Aku benar-benar kecewa pada mereka karena tak memaksa Key untuk menerima perjodohan ini sekarang juga.

Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dan merenungkan apa yang akan kulakukan selanjutnya. Aku tak mau kehilangan Key, tapi aku juga tak mau masalah perjodohan ini menjadi rumit. Samar-samar kudengar Kim ahjussi dan Kim ahjumma meminta maaf pada umma dan appa atas apa yang telah diperbuat Key. Ah bodoh amat, aku akan tetap teguh dengan jawabanku, aku tak akan menyerah pada Key. Dialah yang harus menyerah padaku.

Chansung oppa, aku langsung teringat padanya, aku rindu senyumannya. Dulu dia bilang akulah yang akan menyerah padanya bukannya dia yang menyerah padaku atas cintanya. Dan saat aku berfiki seperti itu aku jadi teringat ucapannya itu. Key bilang kau berusaha membunuhku karena kau tak mau aku dimiliki oleh orang lain. Benarkah itu? Sebegitu besarkah cintamu padaku sampai kau melakukan hal itu? Aku ingin sekali bertanya padamu secara langsung mengapa kau ingin membunuhku, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa bertemu denganmu, aku tak sanggup. Kau adalah orang yang sangat kusayangi. Aku menyayangimu oppa, sangat sayang sekali padamu meskipun kau pernah ingin membunuhku. Aku tetap sayang padamu, sulit sekali menghilangkan bayanganmu di pikiranku. Meskipun aku sudah berusaha untuk melupakanmu tapi aku tidak bisa. Aku ingin membencimu, tapi aku juga tidak bisa melakukannya. Aku terlalu menyayangimu untuk melakukan itu.

STILL SUZY POV

Aku berjalan malas menuju kelasku, Min Hee hari ini tak menungguku di gerbang karena dia harus menyelesaikan tugas yang diberikan padanya kemarin. Sedangkan Jinki, ah tak tahu dimana dia sekarang. Aku hanya berharap tak bertemu dengan nappeun namja itu, aku sama sekali tak berniat untuk meladeninya hari ini.

“Hey Yeppeo.” Seru seorang namja dari belakang.

“Pasti si nappeun namja itu lagi. Panjang umur sekali dia, baru aku berharap tak bertemu dengannya tapi sekarang dia sudah dibelakangku.” Rutukku dalam hati.

“Di hari secerah ini sepertinya kau malah tak bersemangat. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” aku berbalik dan menatap sinis padanya. Apa dia buta, hari yang cerah?! Jelas-jelas hari ini mendung seperti ini, tapi dia bilang hari yang cerah? Kurasa matanya sudah rusak.

“Jangan memandangku seperti itu, ramah dan tersenyumlah sedikit padaku.” Pintanya.

“Apa maumu.” Tanyaku dengan sinis.

“Aku hanya ingin menjadi temanmu. Apa tak boleh?”

“Aku tak butuh teman sepertimu.” Kataku dan beranjak pergi.

“Ayolah, kenapa kau galak sekali padaku? Sedikit ramah apa tidak bisa?” katanya sambil memegang tannganku, mencegah aku pergi.

“Lepaskan.” Kataku masih bersabar.

“Aku lepaskan tapi kau mau menerimakku menjadi temanmu.”

“Aku sedang tidak mau betengkar, dan selagi aku masih minta baik-baik padamu. Jadi jika kau tak melepaskan tanganku, mungkin kejadian lusa akan terulang lagi.” Kataku.

“Wow, calm dowm baby.” Katanya sambil mencolek daguku. Benar-benar nappeun namja, batinku. Aku menoleh padanya dan menatapnya penuh kemarahan, tapi dia malah menyeringai mentapku.

BRUUK..

Tiba-tiba saja tubuh Minho terhempas kesamping karena pukulan seseorang. Aku hampir ikut jatuh ditariknya, tapi untungnya aku bisa mengendalikan diriku.

“Kurang ajar kau, kau sudah kelewatan.” Kata namja yang memukul Minho dan sekarang berdiri dihadapan Minho. Aku tak kenal namja ini, tapi kenapa dia membelaku? Siapa dia.

“Cih, kurang ajar kau. Kau mau cari mati denganku.” Kata Minho.

“Lawan aku kalau kau bukan pengecut.” Kata namja itu. Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia mau berurusan dengan Minho hanya demi membelaku? Aku takut kalau dia benar-benar mati dihajar Minho, tubuhnya yang tinggi tapi kurus itu sangat menghkawatirkan.

“Kau pikir aku takut padamu? Lawan aku Lee Taemin.” Seru Minho sembari bersiap-siap dengan serangan namja yang dipanggilnya Lee Taemin itu.

“HENTIKAN.” Seruku, sebelum mereka benar-benar berkelahi. Aku memandang mereka berdua secara bergantian dan mereka juga memandangku.

“Neo, aku tak kenal denganmu. Jadi kau tak perlu ikut campur dengan urusanku.” Kataku pada namja yang dipanggil Lee Taemin.

“Dan kau, aku tak berniat menjadi temanmu. Jadi jangan menggangguku terus.” Kataku pada Minho.

“Satu lagi, untuk kalian berdua. Jauhi aku.” Kataku pada mereka berdua dan berlalu pergi. Aku tak perduli lagi apa yang akan mereka berdua lakukan. Mereka mau melanjutkan pertengkaran mereka atau bahkan mereka akan saling membunuh, aku tak perduli. Aku tak mau ambil pusing dengan mereka.

“Suzy-ya, chankamhan.” Suara seorang namja sambil berlari mengajarku dan tahu kalau namja ini bukan Minho.

“Berhenti, dengarkan aku dulu.” Katanya lagi setelah mensejajarkan langkahnya denganku.

“Apa maumu?” Tanyaku padanya tanpa memandangnya.

“Kenalkan aku Lee Taemin, kau bisa memanggilku Taemin.”

“Lalu?” tanyaku masih tak memandangnya.

“Aku hanya ingin berkenalan denganmu.” Katanya lagi. Aku memutar bola mataku dan berhenti berjalan.

“Ya baiklah, salam kenal Taemin. Dan saran untukmu, kau tak perlu berbuat seperti tadi lagi, aku bisa mengatasinya sendiri.” Kataku lalu berjalan lagi.

“Tapi, Suzy-ya.” Teriaknya lagi. Aku hanya melambaikan tanganku tanpa berbalik, dan kuderangar meski samar dia mengatakan ‘Baiklah’. Aku berjalan masuk ke dalam kelas, lalu duduk bersandar pada bangku. Aku menghela nafasku berat, banyak sekali yang membuatku kesal akhir-akhir ini.

“Suzy-ya, pagi-pagi kau sudah membuat heboh ya? Ya Tuhan lindungilah sahabatku ini agar dia selalu baik-baik saja.” Kata Min Hee yang baru saja masuk ke dalam kelas.

“Apa maksudmu?” tanyaku heran padanya.

“Tadi, didepan?.” tanyanya memastikan informasi yang baru saja dia dapat dari anak-anak yang berbisik-bisik disepanjang jalan pastinya.

“Didepan ada apa? Pertunjukan? Ya memang ada pertunjukan. Tapi apa hubungannya dengan doamu barusan?”

“Eumm…, tak ada. Tapi itukan doa yang baik. Benarkan?” kata Min Hee sembari duduk disampingku. Aku sedikit menjitak kepalanya karena jawaban anehnya itu.

“Aw, apo.” Katanya lalu cemberut. Anak ini benar-benar berubah, kadang dia sangat berisik, kadang dia sangat pintar, dan kadang dia jadi sangtae seperti sekarang ini. Apa karena dia kebanyakan bergaul dengan Jinki sampai-sampai dia jadi ketularan sangtae.

“Suzy-ya, tadi ada namja yang membelamu’kan? Aku dengar dari anak-anak sih begitu. Tapi yang pasti namja itu bukan Jinki oppa. Iyakan?” tanyanya padaku setelah kesalnya hilang atau dia terlalu penasaran dengan yang terjadi tadi pagi.

“Tentu saja bukan si kerdil itu, tak mungkin dia mau merelakan dirinya dipukuli Minho hanya demi aku.”

“Hey, jangan memanggil Jinki oppa dengan sebutan itu. Diakan tidak kerdil.” Kata Min Hee sedikit cemberut. Mwo? Dia membela Jinki, dia pasti sudah menjadi kaki tangan si kerdil itu.

“Wae? Dari dulu aku memanggilnya seperti itu kau tak pernah protes. Kenapa sekarang kau protes saat aku memanggilnya seperti itu?” kataku sambil memandang Min Hee penuh selidik.

“Tidak apa-apa, hanya saja saat aku mendengarnya lama-lama aneh.” Aku semakin curiga padanya, alasan yang aneh dan gelagat yang mencurigakan. Jangan-jangan dia……

“Kau menyukainya ya?” kataku sambil memandangnya lebih dekat.

“Mwo? Ani, kau.. ani… kau.. ke..kenapa berpikiran seperti itu? Aku tak menyukainya. Kenapa aku? Tidak.” Katanya dengan gugup dan sambil mengedip-ngedipkan matanya.

“Kau sangat mencurigakan. Bilang saja kalau kau menyukainya, kau tak bisa bohong padaku.” Kataku sembari kembali keposisi semula.

“Ani, kau jangan bicara macam-macam.” Katanya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri. Che, dia masih bohong. Jelas sekali dia langsung panik saat kutanya begitu, dan mukanya itu tak bisa bohong.

‘Oya, siapa namja itu? Kau belum menjawabnya.” Tanyanya lagi setelah mukanya tak lagi merah.

“Namanya Lee Taemin, bertubuh tinggi kurus dengan pakaian rapi. Sama sekali tak cocok jika berkelahi.” Jawabku tanpa memalingkan wajahku dari papan karena sekarang Park sonsaengnim sedang menjelaskan pelajarannya.

“Lee Taemin? Kau yakin namanya Lee Taemin?”

“Kau kenal dia?” tanyaku berbisik.

“Tentu saja, dia itu sunbaeku di redaksi. Setahuku dia bukan tipe orang yang mau ikut campur urusan orang, apalagi harus berkelahi.” Katanya heran.

“Tapi memang benar dia orangnya. Mungkin dia sudah berubah, seperti dirimu.”

“Mwo? Ani, memang aku berubah apanya?!” Katanya lalu memalingkan muka dariku.

“Huh, dasar..” gumamku.

SUZY POV END

TAEMIN POV

Setelah kejadian tadi pagi, aku tidak pergi ke kelas. Aku tak mau ditanya-tanya kenapa aku melakukan hal bodoh itu. Seperti biasa aku pergi ke perpustakaan, mungkin saja Minho dan Jonghyun juga akan pergi ke perpustakaan. Tapi aku tak peduli jika harus bertemu dengan mereka diperpustakaan, meskipun harus berkelahi disana akan aku ladeni.

“Taemin-ah.” Seru seseorang saat aku sedang duduk memejamkan mata disofa. Aku menoleh kearahnya. Hah, ternyata Sulli. Mau apa gadis itu kemari?

“Taemin-ah, jangan lakukan apapun yang membuat dirimu dalam bahaya. Mengerti?” katanya padaku  sambil duduk disampingku.

“Apapun yang kulakukan, itu semua bukan urusanmu.” Kataku dingin.

“Kumohon Taem, jangan lakukan hal itu.” Pintanya lagi.

“Jangan sok akrab dengan memanggilku seperti itu.” Kataku pada Sulli.

“Tapi dulu kau suka aku memanggilmu seperti itu.”

“Namaku Taemin, dan jangan sok akrab.” kataku sembari berdiri.

“Taem, tidak bisakah kau memaafkan aku? Apakah kau benar-benar tidak bisa memaafkan aku?” tanyanya dengan menggunakan air mata yang menjadi andalannya.

“Kau masih berfikir kalau aku akan memaafkanmu? ATAS SEMUA YANG KAU LAKUKAN?” kataku berteriak pada Sulli.

“Aku sangat berharap kau mau memaafkan aku Taem.”

“Sudah kubilang jangan panggil aku Taem, namaku Taemin.” Teriakku lebih keras.

“Apapun akan aku lakukan demi maafmu.” Katanya lagi kali ini dia berlutut.

“Apapun? Kau akan melakukan apapun demi maafku?” kataku sambil menatapnya tajam, dan dia hanya mengangguk .

“KALAU BEGITU KEMBALIKAN UMMAKU!!” teriakku tepat didepan mukanya.

“Tapi Taem, aku…aku..aku..” kata Sulli terbata-bata dan air matanya semakin deras.

“Kau tak bisa melakukannya’kan? Iya’kan? Aku muak padamu.” Kataku lalu meninggalkan Sulli, tapi dia meraih kakiku dan tetap memohon padaku untuk memaafkannya.

“Lepaskan, aku tak akan pernah memaafkanmu. Jadi kau tak perlu bersusah payah untuk memintanya.”

“Tapi Taem, aku benar-benar menyesal. Aku… aku… aku sangat menyesal.”

“Menyesal tak akan bisa membuat semuanya kembali.” Gumamku.

“Aku akan berusaha memperbaiki semuanya.” Rengek Sulli.

“Mworagu? Memperbaiki semuanya? Memangnya kau bisa MENGHIDUPKAN UMMAKU lagi?” teriakku tepat didepan muka Sulli sembari mencengkeram kerah seragam Sulli.

“Taem, aku melakukannya demi kebahagiaanmu.” Bela Sulli, air matanya semakin deras.

“MWO? Demi kebahagiaanku? Kau membunuh ummaku demi kebahagiaanku? Kau sudah gila.” Aku benar-benar tak percaya pada ucapan gadis ini, bagaimana dia bisa mengatakan itu bahwa itu semua demi kebahagiaanku.

“Aku melakukannya karena kau mencintaiku dan sangat mencintaiku, sedangkan ummamu tak menyetujui kita. Aku tahu kau menderita jadi aku menyingkirkan halangan yang membuatmu tak bahagia.”

“Berani sekali kau mengatan hal itu lagi. Tapi kau memang benar, aku memang mencintaimu, DULU. Ya dulu aku memang sangat mencintaimu, tapi bukan berarti cintaku lebih besar untukmu daripada untuk ummaku.”

“Kau sangat beruntung karena suruhanmu itu tak mengatakan bahwa kau yang menyuruhnya. Aku heran kenapa ada pembunuh bayaran yang mau menutupi kejahatan bosnya. Sungguh sangat bodoh.” Lanjutku.

“Aku melihatmu sangat menderita saat mengetahui bahwa ummamu tak menyetujui kita, jadi…”

“Hentikan, aku sudah sangat muak mendengar suaramu dan semua pembelaanmu yang egois itu. Kau tak melakukannya demi aku, tapi kau melakukannya demi dirimu sendiri. DEMI KEEGOISANMU.” Kataku lalu pergi dari hadapan gadis sialan itu.

“TAEM, MAAFKAN AKU TAEM KUMOHON.” Teriakknya padaku, aku tak menghiraukannya dan tetap berjalan pergi. Kudengar tangisnya semakin menjadi-jadi. Persetan dengannya!!

TAEMIN POV END

AUTHOR POV

Disudut lain perpustakaan Minho dan Jonghyun mendengarkan dan menyaksikan pertengkaran Taemin dan Sulli. Mereka berdua diam-diam pergi dari tempat mereka semula berada dan mengurungkan niat awal mereka untuk membuat perhitungan dengan Taemin.

“Wow, gadis yang mengerikan.” Gumam Minho sambil berjalan menuju tempat membolos mereka yang lain.

“Kau benar, dibalik wajahnya yang polos itu ternyata tersimpan sifat yang sungguh mengerikan.” Jawab Jonghyun sambil bergidik ngeri.

“Lebih baik kau tak berurusan dengan Taemin, jika kau melukai Taemin bisa saja kau akan dibalas berkali-kali lipat oleh gadis itu.” Tambah Jonghyun.

“Ya, aku rasa juga begitu.”

“Umma Taemin saja tega dibunuhnya apalagi dirimu.” Kata Jonghyun.

“Tapi aku rasa aku bisa memanfaatkan gadis itu.” Gumam Minho tiba-tiba.

“Mwo? Memanfaatkan apa?” tanya Jonghyun sedikit bingung dengan maksud Minho.

“Kulihat dia sangat mencintai Taemin, dan dia akan melakukan apapun untuk Taemin. Jadi dia tidak akan membiarkan Taemin menderita.” jelas Minho.

“Aduh, aku tidak mengerti dengan maksudmu.” Kata Jonghyun yang masih bingung.

“Intinya, dialah yang akan menghalangi Taemin mendekati Suzy, dan Suzy hanya akan menjadi milikku.” Kata Minho lalu menyeringai kecil.

“Kau bisa kan langsung bilang begitu, tanpa harus berbelit-belit.” Kata Jonghyun.

“Masa’ begitu saja tak mengerti. Dasar kau!” kata Minho sambil menjitak kepala Jonghyun.

Di tempat lain Key sadang melemun dengan ditemani minuman keras disampingnya. Dia terlihat sangat frustasi dengan keadaannya sekarang ini. Appa dan ummanya memaksanya untuk menerima perjodohannya dengan Suzy, tapi dia tidak bisa dan tidak akan menerima perjodohan itu.

Sekali lagi dia mengangkat gelasnya dan menghabiskan isinya dalam sekali teguk. Pikirannya melayang kemana-mana, kerasnya alkohol dalam minumannya membuat kepalanya semakin pening dan sesekali ia memegangi perutnya yang terasa nyeri.

DREEEET DREEET

Getaran ponsel Key yang menandakan ada sebuah pesan masuk. Key mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan lihatnya layar LCD ponselnya terlihat satu pesan dari Hye Bum.

From : Hye Bum-mie

Oppa, dimana kau sekarang? Aku sangat mengkhawatirkanmu, semalam kau juga tak pulang. Kumohon jawab aku, oppa.

To : Hye Bum-mie

Gwaenchana, kau tak perlu mengkhawatirkan aku.

From : Hye Bum-mie

Kumohon oppa, katakan padaku dimana kau sekarang. Aku benar-benar mengkhawatirkan dirimu.

To : Hye Bum-mie

Hmmm.. gwaenchana, jangan khawatir.

From : Hye Bum-mie

Katakan dimana kau sekarang, jika kau tak mengatakannya aku akan berkeliling seoul untuk mencarimu. Tanpa makan, minum ataupun istirahat sebelum aku menemuimu.

To : Hye Bum-mie

Jangan mengancamku, kau tak akan benar-benar melakukannya.

From : Hye Bum-mie

Aku serius oppa. Saat kau menemuiku nanti kau akan menemuiku dirumah sakit.

To : Hye Bum-mie

Lozart cafe.

Key meletakkan ponselnya diatas meja kemudian meneguk isi gelasnya lagi.

AUTHOR POV END

HYE BUM POV

Setelah mengetahui dimana Key, aku langsung bergegas mencari taxi dan menuju ketempat Key. Aku tak mau dia minum. Dia bisa sakit, dia tak biasa minum. Aku sangat khawatir sekali padanya. Kumohon oppa, jangan minum. Jangan pikirkan perkataan umma dan appa, mereka pasti ingin kau bahagia. Mereka tidak akan memaksamu untuk menerima perjodohan itu. Suatu saat nanti mereka pasti akan menyerah dan memebebaskanmu dari perjodohan ini, kau hanya perlu menunggu oppa.

“Tolong lebih cepat.” Kataku pada sopir taxi. Aku sangat gelisah, dari smsnya aku tahu dia sudah minum dan dia sudah tak konsen lagi. Oppa, jangan lanjutkan itu.

Setelah sampai di depan cafe, aku langsung turun dan masuk. Kulihat Key sudah mulai meletakkan kepalanya dimmeja. Kurasa dia sudah mabuk berat. Bagaimana ini? Dia tak boleh mabuk.

“Oppa, neo wae irrae? Kau tak boleh mabuk-mabukan seperti ini.” Kuhampiri dirinya dan kupegangi bahunya yang mulai ia sandarkan pada meja.

“Hye Bum-mie, saranghae.” Kata Key seraya tersenyum. Air mataku tak bisa terbendung lagi, dia terlihat sangat menyedihkan. Aku sedih sekali jika dia melakukan ini, jika dia seperti ini sama saja dia menyakiti dirinya sendiri.

“Oppa jangan begini, jebal. Kau menyakiti dirimu.” Kataku sambil memeluknya, air mataku semakin deras. Sedangkan Key hanya membelai rambutku lembut.

Setelah membayar minuman Key, aku mengajaknya pulang. Tubuhnya yang lebih besar dariku membuatku kesulitan untuk membopongnya kedalam taxi. Aku membawanya pulang kerumah. Appa dan umma tidak ada dirumah, mereka sudah kembali ke jepang dengan meninggalkan beban pada Key. Mereka sungguh tega, tapi aku tetap yakin mereka pasti akan melepaskan Key untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

“Ahjumma, tolong bantu aku.” Teriakku setelah sampai di depan rumah. Song ahjumma membantuku untuk membopong tubuh Key kekamarnya.

“Agassi, kenapa tuan muda menjadi seperti ini? Dia’kan tidak boleh minum.” Kata Song ahjumma yang juga khawatir akan keadaan Key yang seperti ini.

“Dia pasti baik-baik saja, dia pasti baik-baik saja.” Kataku dan yanpa kusadari air mataku kembali mengalir.

“Ya, tuan muda pasti akan baik-baik saja. Saya akan buatkan sup untuknya.” Kata Song ahjumma lalu pergi meninggalkanku hanya berdua dengan Key.

“Key, kau tak seharusnya begini, kau memang terlihat kuat dan tegar diluar, tapi sebenarnya hatimu sangat rapuh dan perasa. Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Apa? Apapun akan aku lakukan demi dirimu, demi kau tak seperti ini.” Kataku sambil terduduk dilantai dengan kepala ku benamkan di tempat tidurnya.

“Hye Bum-mie..” katanya lirih.

“Oppa, gwaenchana?” kataku langsung berdiri dan memegang tangannya.

“Hye Bum-mie..” katanya lagi.

“Wae oppa? Kau kenapa? Kau baik-baik saja kan?” tanyaku lebih khawatir. Oppa kau tak akan sakit kan? Kau akan baik-baik saja kan? Air mataku turun lagi.

“OPPA!” kataku setengah berteriak saat tiba-tiba Key muntah darah.

“Ahjumma, tolong aku. Dia sakit, tolong aku ahjumma.” Teriakku pada ahjumma, Key terus muntah.

“Ahjumma, cepat telepon dokter Jung. Palli!” teriakku lagi.

Sebelum dokter datang, song ahjumma membersihkan bed cover Key yang terkena darah. Sedangkan aku mondar-mandir di depan pintu depan menunggu dokter.

“Kenapa lama sekali? Bertahanlah Key.” Gumamku sambil tetap mondar-mandir.

“Ah, dokter cepat periksa Key. Dia minum dan muntah darah.” Kataku setelah melihat dokter Jung keluar dari mobilnya sambil menyeret dokter Jung segera ke kamar Key.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku setelah dokter Jung selesai memeriksa Key.

“Infeksi ususnya semakin melebar karena infeksi yang sebelumnya belum sepenuhnya sembuh. Anda harus menjaganya untuk tidak minum lagi. Tidak boleh lagi meskipun hanya satu gelas. Jika dia minum lagi, infeksinya akan menjadi lebih parah dan mungkin nyawanya juga dapat terancam.” Jelas dokter Jung.

“Apakah sudah separah itu keadaannya dok? Apakah tidak bisa disembuhkan?”

“Ya, keadaannya sudah sangat parah. Seharusnya dia tidak boleh bekerja terlalu keras, tapi akhir-akhir ini dia bekerja sangat keras dan melupakan untuk cek up. Setelah ini saya anjurkan untuk membawanya ke rumah sakit. Dia harus dirawat lebih intensif.” Jelas dokter Jung lagi, air mataku turun lagi mendengar penjelasan dokter Jung.

“Ya, saya akan membawanya ke rumah sakit.” Kataku dengan sesenggukan.

“Nanti resepnya bisa ditebus setelah agassi membawanya ke rumah sakit.”

“Ya dokter, kamsahamnida.” Kataku sambil membungkuk pada dokter Jung.”

“Ya, saya permisi dulu.” Kata dokter Jung berpamitan.

“Oppa….. hiks..hiks…oppa, kau akan baik-baik saja kan?” kataku pada Key oppa yang sekarang sedang terbaring lemah di tempat tidurnya. Aku semakin terisak melihatnya menderita seperti ini. Aku baru saja bertemu kembali denganmu, tapi aku sudah harus melihatmu seperti ini. Aku kembali kesini untuk melihat senyummu, bukan untuk meihatmu menderita seperti ini. Oppa, kenapa kau seperti ini. Kau menyakiti dirimu sendiri hanya karena perjodohan itu? Kau konyol sekali. Apa umma dan appa tahu tentang penyakitmu? Aku rasa tidak, mereka pasti tidak tahu. Jika mereka tahu mereka tidak akan membiarkan dirimu tersiksa dan melampiaskan marahmu dengan minum yang akibatnya membuatmu jadi seperti ini. Konyol, kau benar-benar konyol dengan melakukan hal ini.

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “Loves Way – Part 6”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s