Love In Suffering – Part 2

苦しんで大好きです[Part 2] (Love in suffering)

Author :  Ame,-fū, sekai (Rain, Wind, World)

Main cast : Lee Jinki  , Kim Akemi

Support cast : 四レイブンズ (Rie Kitahara, Tomomi Kasai, Haruna Kojima, and Ami Maeda), Oji-kin (Paman Kim), Kim Jonghyun, and Yui Yokoyama

Length : Continue

Genre : Frienship, Romance, Life, Angst

Rating : N-17

A.N : Mungkin ada yang mengira ini FF menggunakan bahasa Jepang. Salah! Hanya judulnya saja. Pemainnya campuran Korea-Jepang. Dan ini agak melas karena nthor buatnya juga lagi melas xD

Satu lagi…
Nthor buat FF ini ngak tidur semaleman. Dan baru tidur jam 7 pagi untuk read ulang, takut ada typo(s). Tapi kalau masih ada typo(s) maklumilah, kalau ngak suka, cap say sebagai “AUTHOR PALING BODOH” #pplakk

Dan, wah.. Itu cover salah tulis. Harusnya buatan nthor.. Tapi nthor lupa nama samaran nthor apaan =3= Jadi salah tulislah nthor~~ #nthor pabo

Song : Fiction – Avenged Sevenfold << Silahkan putar lagu ini kalau mau berasa feelnya #sotoy

 

Onew POV

KRIIIING!!!!!

CKLEK~

“Hey!” panggil seseorang dari kejauhan. Aku segera menoleh ke sumber suara. Mmm…

“Mwo? Ada apa?” tanyaku pada Otōto-ku, Jonghyun.

“Bagaimana dengan.. Mmm…siapa namanya? Aaah, Akemi noona!?” ucap Jonghyun.

Aku hanya menghembuskan nafas. Aku tutup lokerku lalu segera berjalan meninggalkan Jonghyun. Jonghyun mengikutiku dari belakang.

“Bagaimana?” tanya Jonghyun lagi.

“Apanya yang bagaimana?!” tanyaku dengan heran. Aku mulai mumet dengan pertanyaan Otōto.

“Ya!! Akemi noona bagaimana?!” tanya Jonghyun yang mulai kesal.

“Oh, dia baik-baik saja. Aku carikan tongkatnya yang di buang Shi reibunzu tadi pagi..” jelasku pada Otōto-ku. Dia mengangguk cepat.

“O-Omo.. Hyung, lihat! Itu!!” tunjuk Jonghyun yang terkaget-kaget. Aku ikuti jari telunjuknya. OMO~!!!

“Akemi, kamu baik-baik saja?!” tanyaku sambil menghampiri Akemi. Badannya lemas. Bajunya basah dan seluruh tubuhnya dingin. Ini pasti Shi reibunzu!! Fuun’na!

“Akemi noona, kamu baik-baik saja? Hyung, badannya dingin sekali!!” ucap Jonghyun sambil terus mengelus rambut Akemi. Aku mulai panik. Aku peluk badannya yang dingin sekali. Mulutnya mengatup berkali-kali. Badannya bergetar begitu hebat.

“Ini salah siapa?!” tanyaku pada Akemi.

“Bu-bukan siapa-siapa..” jawab Akemi.

“I-ini pasti Shi reibunzu kan?! Fuun’na!!” ujarku dengan kesal. Aku segera menggendongnya dan membawanya segera ke ruang UKS. Aku tidak habis pikir apa yang dilakukan Shi reibunzu pada Akemi sampai seperti ini.

“Hyung, bagaimana ini? Shi reibunzu pasti yang melakukannya!” kata Jonghyun yang ikut panik.

“Biarkan saja. Nanti dia juga kena batunya!” jawabku yang masih kesal.

Akemi masih menggigil. Airnya pasti dingin sekali. Tega sekali mereka seperti itu. Apa ya mau Shi reibunzu pada Akemi. Apakah karena dia mendapat beasiswa?! Atau Rie merasa terkalahkan dengan Akemi?! Dasar, bodoh mereka itu!

Akemi POV

Onew memberikan jaketnya padaku. Perlahan, aku mulai merasa hangat. Sungguh, air yang mengguyur tubuhku itu begitu dingin. Tampak laki-laki yang tadi pagi menemuiku bersama Onew ikut duduk di sebelah Onew. Mereka adik-kakak?

“Akemi, kamu baik-baik saja kan?” tanya Onew lagi. Aku mengangguk pelan.

“Hyung, Akemi noona sudah baikan. Jangan ditanya terus!” seru laki-laki itu. Dia sedikit mendorong Onew.

“Dia… Otōto -mu..?” tanyaku sambil melirik laki-laki yang duduk di sebelah Onew.

Onew mengangguk.

“Hai.. Otōto-ku.. Namanya Jonghyun.” ucap Onew. Jonghyun hanya melambaikan tangannya.

“Mmmm….begitu..” balasku.

“Akemi.. Ceritakan, apa yang terjadi.” Onew mulai mengganti topik. “Ini pasti Shi reibunzu kan?”

Aku mengangguk. “Baiklah..”

Flashback…

Aku pandangi wajahku di cermin kamar mandi Mesu. Aku beruntung tongkatku kembali. Aku lihat wajahku. Tampak begitu pucat. Pipiku masih merah bekas tamparan hebat tadi pagi.

BYUUUR!!!!

Aaah.. D-Dingin sekali..

“Haha.. Bagaimana? Dingin?” seseorang mendekatiku.

“Rie…” aku tahan badanku yang kedinginan. Tiga bayangan mendekatiku. Benar saja, itu Rie beserta antek-anteknya.

“Ehm.. Jadi, terima kasih Tomomi. Ide yang sempurna!” Rie melirik Tomomi yang baru keluar dari salah satu WC. Jadi dia yang mengguyurku.

BRAAAK!!!

 

Haruna memojokanku. Aku menghantam tembok kamar mandi. Sakit sekali…

ARGH.. Fuun’na!

“Kita belum selesai! Mari kita lanjutkan yang tadi pagi!” ucap Rie. Sialan!

“Aku mohon! Jangan..” aku mulai tidak berdaya. Aku tidak bisa melawan apapun karena mereka menang jumlahnya dibandingkan denganku. 1 lawan 4, tentunya Shi reibunzu yang menang!

BUUUK!!!

“A-argh…” desahku. Tomomi memukul perutku. Bedebah!

BUUUK!!!

Kali ini Ami yang memukulku. Sama seperti Tomomi yang tepat di perutku. Aku mulai tidak tahan dengan serangan dan badanku yang kedinginan.

BUUUK!!

Sialan! S-sakit sekali! Bedebah kamu Haruna!

BAAAK!!!

 

Dan, di tutup dengan pukulan di wajah oleh Rie. Hebat sekali pukulannya! Aku rasakan pipiku berdarah. Bibirku mengeluarkan darah.

 

Fuun’na!!

“Lebih baik kita pergi sebelum ada yang melihat!” ujar Rie sambil segera berlari yang di ikuti antek-antek sialannya itu.

Flashback end…

 

“Bedebah mereka!” bentak Onew.

“Sudahlah, biarkan saja!” ucapku untuk menenangkan Onew yang sepertinya naik darah.

“Tenang?! Kamu seperti ini bisa bilang tenang?! Harusnya kamu melawan bukan diam saja!” bentak Onew yang mulai memarahiku.

“Hyung, tenanglah! Akemi noona sedang sakit!” ujar Jonghyun segera bertindak. Sedikit demi sedikit, Onew mulai tenang.

“Akemi!!!” teriak seseorang dari luar. Oji!!

CKLEK~

“Akemi! Ya ampun, Akemi! Apa yang terjadi padamu?!” ucap Oji-kin yang mulai panik. Ada Yui yang ikut panik di belakang Oji.

“Aku tergelincir Oji-kin. Aku baik-baik saja” balasku dengan tenang. Aku berusaha meyakinkan Oji-kin.

“Kalian siapa?” tanya Oji sambil melihat Onew dan Jonghyun.

“Itu teman Akemi, Onew dan Otōto-nya, Jonghyun” ujarku sambil memperkenalkan mereka. Onew dan Jonghyun hanya menunduk.

“Arigato, kalau tidak ada kalian, Akemi mungkin akan lebih buruk!” ujar Oji-kin pada Onew dan Jonghyun. Onew malu-malu.

“Hai, ryoso..” jawab Onew sambil menunduk.

“Kamu baik-baik saja kan Akemi?” tanya Yui yang mendekatiku. Aku hanya mengangguk kecil sambil memberikan senyuman.

“Kyōshi mengizinkan kamu untuk pulang karena kondisimu ini. Ayo, Oji gendong ya” ujar Oji padaku.

“Shinai, biar aku saja!” Onew segera melakukan posisi menggendong. Oji hanya tersenyum. Sebenarnya aku malu, tapi aku berterima kasih dengan kebaikan Onew padaku.

Onew POV

Aku gendong Akemi yang terasa berat. Aku rasakan Akemi tertidur di punggungku. Aku hanya tersenyum melihat Akemi seperti itu. Entah apa, ada sesuatu…

“Mmm… Onew..” Oji Akemi memanggilku. Aku segera menoleh.

“Sorehanandesuka Oji?” tanyaku.

“Kamu tidak keberatan, menggendong Akemi?” tanya Oji padaku. Aku segera menggeleng cepat.

“Nai Oji. Aku senang bisa membantu Akemi.” balasku seramah mungkin. Oji tampak senang dengan jawabanku.

“Akemi, dia.. pasti senang memiliki teman sepertimu…” Oji memandangku dengan lembut. “Sejak kecil, dia ingin memiliki teman yang baik sepertimu.”

Aku segera menoleh ke Oji-kin. Sejak kecil dia tidak memiliki teman? Apakah dia cacat dari kecil? Dan Haha dan Chichi-nya meninggal sejak Akemi masih kecil juga?

“Haha Akemi meninggal waktu melahirkan Akemi…” suara Oji itu membuatku tercengang. Meninggal sejak melahirkan Akemi?!

“Sementara Chichi-nya.. Meninggal akibat gantung diri.. Sungguh, kehidupannya begitu menyedihkan. Aku saja miris melihat kehidupan Akemi.. Dia masih kecil, belum mengerti apapun. Saat Chichi-nya meninggal saja, dia bilang ‘Aku tidak ingin punya Chichi lagi..’” Oji-kin memandangi wajah Akemi yang sedang tertidur di punggungku. Matanya berair namun ia berusaha menutupinya dariku.

“A-Akemi.. Benarkah dia…” aku mulai tidak mempercayai kisah Oji-kin.

“Kakinya cacat permanen, sejak kelas satu sekolah dasar. Dia di tabrak truk saat sedang ingin menyebrang. Akibat kecelakaan itu, kakinya cacat permanen. Dia tidak mau pakai kursi roda, karena katanya, dia tidak mau membebani Oji lagi. Setelah itu, dia selalu dikatai Shōgaimono oleh teman-temannya..” jelas Oji-kin yang semakin memilukan. Kehidupan Akemi lebih menderita dan lebih banyak tekanan batin yang dialami Akemi selama ini.

“Dan, saat kelas satu sekolah menengah pertama, dia mulai diusili orang lain. Dia sering di lempari penghapus papan tulis. Pernah dia dilempari sepatu oleh temannya. Dia suka dipukuli oleh teman-temannya. Keterlaluan memang, tapi itu faktanya. Sejak kecil, Akemi anak beasiswa. Setiap lulus, dia diberi beasiswa oleh sekolah yang bagus. Tapi, karena beasiswa itu mungkin dia suka disiksa teman-temannya. Dan mungkin karena cacat pula, dia senang diusili oleh teman-teman sekolahnya karena pasti mereka berpikir, seorang yang cacat tidak mungkin melawan…” jelas Oji-kin. Aku menelan ludahku.

Sampailah kami di halaman parkir sekolah. Oji-kin segera membuka mobilnya dan perlahan aku menurunkan Akemi dari gendonganku. Aku pandangi wajah Akemi. Dia saja tidur seperti orang yang menderita. Aku tidak tahan memandangi wajahnya.

“Nak, Arigato. Oji sangat berterima kasih atas kebaikanmu pada Akemi..” ujar Oji sambil segera masuk mobil..

Mobil Oji mulai melaju. Lambat laun, mobil itu mulai tidak terlihat…

Gila!! Apa yang mereka mau dari Akemi?! Dia yeoja yang baik dan.. Haruskah aku bilang ini? Err~~ manis?? Ya dia sangat manis.

“Hyung, uang jajanku habis~~…” ujar Jonghyun dengan manja. Menunjukkan puppy eyes yang tidak bisa membuatku berkata “Tidak” padanya.

“Buat apa dulu, huh?” tanyaku sambil memukul dino head-nya. Dia tersenyum sambil menunjukkan foto yeoja yang aku kenal. Yui Yokoyama?!

“Aku mau hang out sama dia, hehehe…” Jonghyun nyengir kuda. Hah? Hang out? Bukannya kencan kalau hanya berdua?

“Bilang saja mau kencan!” ujarku sedikit tersenyum licik. Jonghyun bergidik ngeri.

“Siapa pula yang mau kencan!! Eto? Īe īe!” Jonghyun menjentikkan jarinya pada hidung mancungku.

Aku hanya tertawa melihat Jonghyun yang mem-pout bibir seksinya. Lalu senyum cerah membingkai di bibirnya. Dan, lihat, sekarang ia mengambil dompetku dan mencari beberapa lembar uang yen untuk hang out-nya!

“Aku berangkat hyuung!!” teriak Jonghyun yang berhasil membuatku tersenyum tipis.

Akemi POV

“Chi chi janji akan menjagamu Akemi, Chi chi janji…”

Eurgh…

“Chi chi akan merawatmu, walaupun kamu cacat. Walaupun tidak sempurna…”

Eurhg… Ehhh…

“Chi chi akan menemanimu sampai chi chi tidak punya waktu lagi… Sampai chi chi tidak bisa menyentuh wajahmu lagi…”

Ehmm… C-chi…

“Chi chi… Mencintaimu.. Kim Akemi…”

Chi.. Chi chi…

“Oji-kin.. Chi chi kenapa ada di sana?”

“T-tidak sayang, Chi chi.. Chi chi tidak apa-apa kok…”

“Itu cara main ayunan yang baru ya? Huftt… Chi chi kok ngak ngajak Akemi sih?”

Main ayunan, huh? Main ayunan?

“S-sayang, C.. Chi.. Chi chi-mu sedang tidak main ayunan…”

“Lalu? Kenapa Chi chi begitu Oji?”

“Dia.. D-dia.. Chi chi-mu… Sedang tidur panjang…”

Tidur panjang? Kenapa dia tidur?? Kenapa dia meninggalkan aku?

“Oh? Kalau begitu, ambil tabunganku Oji!”

“U-untuk apa.. Hiks…”

“Untuk membangunkan Chi chi… Kasihan Chi chi kalau tidur panjang… Belikan jam weker yang besar ya Oji.”

Jam weker? Apa? Jam weker?! Untuk apa aku membangunkan Chi chi yang tega meninggalkan anaknya?!

“B-bukan s-sayang.. Hiks.. Hiks… Chi chi-mu, meninggalkan kamu nak…”

“Hmm, kenapa Oji-kin menangis? Chi chi pergi kemana, Daegu? Chi chi meninggalkan Akemi ke Daegu? Kok Akemi ngak diajak sih?”

“B-bukan nak.. Chi chi-mu.. M-meninggal…”

Chi chi berjanji akan menjagaku, merawatku walaupun aku tidak sempurna… Tapi apa?! Kau bohong padaku!!

Jadi Akemi ngak punya Chi chi lagi… Sepertinya Akemi ngak mau punya Chi chi lagi, Oji…”

“A-Akemi…”

“Kenapa menangis, kenapa semuanya menangis Oji-kin?”

“Oji akan merawatmu nak.. Oji sekarang Chi chi-mu… Maafkan Chi chi-mu.. Maafkan dia… Maafkan dia…”

Chi chi…

Author POV

“Fiction”

 

Now I think I understand

How this world can overcome a man

Like a friend we saw it through

In the end I gave my life for you

 

Gave you all I had to give

Found a place for me to rest my head

While I may be hard to find

Heard there’s peace just on the other side

 

Not that I could

Or that I would

Let it burn

Under my skin

Let it burn

 

Left this life to set me free

Took a piece of you inside of me

All this hurt can finally fade

Promise me you’ll never feel afraid

 

Not that I could

Or that I would

Let it burn

Under my skin

Let it burn

 

I hope it’s worth it

Here on the highway, yeah

I know you’ll find your own way

When I’m not with you

So tell everybody

The ones who walk beside me, yeah

I hope you’ll find your own way

When I’m not with you tonight

 

I hope it’s worth it

What’s left behind me, yeah

I know you’ll find your own way

When I’m not with you

So tell everybody

The ones who walk beside me, yeah

I know you’ll find your own way

When I’m not with you tonight

 

12.05.’10

Onew berhenti tepat di depan kelas musik. Hari itu sangat sepi dan sangat mencekam. Tapi matanya menangkap sesosok yeoja berambut bob style. Tongkat kayu biasa tersimpan dengan baik di samping piano klasik berwarna hitam pekat. Dan jari tangannya yang baru saja berhenti memainkan lagu yang ia tidak pernah dengar.

“Kau suka?” tanya yeoja itu pelan. Onew bergidik lagu menatap yeoja itu dengan horor. Yeoja itu tidak menoleh sama sekali.

“B-bagus…” balas Onew dengan ketakutan.

“Bukan permainanku atau suaraku, tapi lagunya… Kau suka?”

Lagi-lagi ia tidak menoleh. Jemarinya kembali menekan tuts-tuts piano dengan lagu yang baru saja ia selesai mainkan. Lalu berhenti di pertengahan lagu.

“Itu, Fiction.. Lagu Avenged Sevenfold.. Kau tau?” tanya yeoja itu, ia menoleh tapi hanya batang hidunya yang terlihat.

Onew menggeleng kecil. Entah tau atau tidak, rasanya seperti di dalam film horor.

“Itu surat kematian The Rev, drummer mereka yang meninggal bunuh diri karena over dosis obat-obatan dan alkohol. Ia menyerahkan lirik setengah jadi dan lirik itu berjudul “Death”. Tapi akhirnya diubah menjadi “Fiction”, judul yang baru saja aku mainkan.”

Onew menelan ludahnya. Ia masih tidak menoleh untuk melihat wajah namja itu. Ia kembali melanjutkan permainannya yang terhenti karena ia berbicara. Hingga lagu selesai, ia masih diam.

“Kau suka… Memainkan lagu itu?” tanya Onew pelan. Perempuan itu hanya berdeham kecil.

“Lalu, kau juga suka… Bermain piano?”

Lagi-lagi berdeham…

“Apakah kamu tidak suka karena aku cacat?” tanya yeoja itu yang lagi-lagi tanpa menoleh. Diam di tempatnya.

Onew menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Maksudnya, ia tidak ingin menyinggungnya, tapi ia hanya ingin bertanya. Hanya itu saja…

“Bukan begitu.. Bukan itu maksudku…” ujar Onew seikit terbata-bata karena ia bingung harus berkata apa pada yeoja yang ia tidak kenal sm sekali.

“Kau tidak membenciku seperti yang lainnya?? Semuanya membenciku, aku pikir…”

“B-bukan, aku tidak membencimu kok. Malah, aku tidak kenal siapa kamu… Emmm…” Onew berdeham kecil.

Yeoja itu mengambil tongkatnya lalu berdiri menghadap Onew. Onew sempat bergidik ngeri saat yeoja itu baru saja ingin menghadap padanya, namun gidikannya (?) itu menghilang saat wajah angel yeoja itu terlihat dengan jelas.

“Lebih baik kamu tidak mengenalku…” ujar yeoja itu pelan. Ia menunduk lalu seulas senyum kecil terbingkai. “Itu bagus…”

“T-tapi, aku suka permainanmu tadi… M-maukan mengajariku?” tanya Onew sedikit hati-hati.

Yeoja itu tersenyum getir memandangi Onew. Tapi Onew malah memberikan senyum yang paling manis. Membuat yeoja itu sukses tertegun.

“Hmm, jadi siapa namamu?”

“E-eh… Kim Ake-“

Tiba-tiba Jonghyun berlari menyeret Onew tanpa mengeluarkan sepatah katapun padanya. Sehingga perkataan yeoja tadi terputus.

“H-hei, namaku Lee J-Jinki!!!” teriak Onew sebelum akhirnya menghilang dari mata yeoja itu.

Lalu seulas senyum terbingkai di bibir manis yeoja itu. Senyumnya makin lama makin mengembang sehingga menjadi full smile. Matanya, bibirnya, dan hatinya ikut tersenyum… Semuanya tersenyum pada namja yang baru saja melempar senyum yang paling indah menurutnya.

“Namaku…. Kim Akemi, Onew…”

 

続けて

(To Be Continue)

Sorehan Sandesuka : Ada apa

Otōto : Adik laki-laki

Mesu : Perempuan

Kyōshi : Guru

Shinai : Jangan

Nai : Tidak

Well, udah rilis yang keduanya. Mohon RCL kalian ya ^^

Terima kasih

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “Love In Suffering – Part 2”

  1. aku masih kurang paham sama jalan ceritanya cz aku ga baca part sbelumnya.. Tpi sepertinya bakal seru..
    Jadi, hwaiting chingu!
    Ditunggu next part-nya..

  2. yaaaa,,,,q msih krang pahm jln crita’a…coz q g bca part 1’a….
    tapi,kliatan’a seru…
    lanjut yaaa….
    hwaiting!!!

  3. wahhh…. aku baca langsung part 2 nya gini,jadi masi rada telmi ama jalan ceritanya #plakkk hehehe~~ tp seru sihh, misterius kesannya 🙂

    Akemi nya cacat yah… kasihan dia, tapi untung sepertinya Onew bisa jadi temen dia yang baik hehehe~~

    Lanjuttt nih author hehe

    *Kunang

  4. Kayaknya aku belum ketemu part selanjutnya?
    Dimanaaaaaa?
    Kyaaaa
    Aku pengen tau karena ini menyangkut suamiku #digorokshawol
    Wkwkwk
    Pertamanya aku serem ngebaca kitarie dkk jd yankee girl jadi inget majisuka , tapi sepertinya ini lebih parah.
    Tapi aku mulai demen pas part ini kkkk
    Lucuuuu~
    Aku menunggu part selajutnyaaa~ 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s