Devil’s Game [1.3]

Devil’s Game 1.3

Title: Devil’s Game

Author: Bella Jo

Main Cast: Onew, Vera(OC)

Support Cast: Key as Keyx, Liana(OC), Henry SJ

Length : Trilogy

Genre : Romance, Fantasy, Advanture, Tragedy

Rating : PG 15

Summary : Daddy, tahukah dirimu di surga sana bahwa aku begitu menyayangimu dan menyesal telah membencimu selama kau hidup? Tahukah dirimu bahwa saat-saat terakhir kau membelaiku dan melindungiku selalu membayang di otak dan hatiku? Sekarang semua hanya tinggal sesal…

Disclaimer: The Story is mine with so many sources of inspiration. Special thanks for Seenakwon eonni. It feels like combinig all inspiration from you in a story. I’m sorry but I’m not copying anyone.

 

Angin berhembus kencang menabrak ranting dan dedaunan pepohonan yang berjejer rapi di hutan. Hutan yang gelap dan dingin hanya diterangi cahaya remang Bulan. Tampak sisi kanan hutan sudah menjadi bekas terbakar yang mengering dan hampir menjadi abu. Sementara di dekat sisi kanan itu tampak pula kayu-kayu rumah berserakan, sebuah desa yang hanya tinggal nama. Itu pun jika ada yang mengingat penghuni desa itu. Sisi kiri hutan masih hijau rimbun. Dari celah dedaunan pohonlah aku,  gadis delapan belas tahun menatap puing-puing desaku yang terbakar sementara tanganku menggenggam sebilah peedang panjang.

“Daddy, desa sudah diserang. Aku dan Mummy berhasil selamat. Tenang saja, Dad. Kami berdua akan tetap hidup dan membalaskan dendammu kepada iblis-iblis sialan itu…,” bisikku pelan dengan suara lirih. Kugenggam bandul kalung yang melingkari leherku lalu mengecup bandul itu sekilas dan melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.

Namaku Vera Zoldieck, putri tunggal dari sepasang suami istri Zoldieck yang mengabdikan diri mereka sebagai hunters. Di dunia ini ada banyak iblis yang merusak sekitar. Mereka tak lagi segan membunuh orang atau berbuat kerusakan sesukanya. Semua iblis itu dikendalikan oleh satu sosok petinggi Iblis yang disebut Lucifer. Sebagai hunters, keluargaku melatihku berburu iblis untuk dibunuh dengan alasan menjaga kedamaian dan kestabilan dunia. Sudah terlalu banyak korban berjatuhan karena ulah kaum iblis dan kami harus berjuang untuk melindungi orang lain dan diri sendiri dari serangan para iblis.

Hal tersebut semakin kuat tertanam di hatiku sejak Daddy mati di depan mataku sendiri karena dibunuh iblis. Sejak itulah aku bersumpah untuk menghabisi semua iblis yang ada dan membawa kembali kedamaian dunia. Ditambah rasa bersalahku akan sikap dingin yang kutunjukkan pada Daddy semasa hidup dulu, aku berniat menangkap Lucifer.

“Ver, kau dari mana?”

Kutatap  sosok setengah baya yang ada di hadapanku, Mummy yang tak lagi semangat sejak kematian Daddy. Aku hanya tersenyum datar dan menjawab, “Dari desa. Melihat puing-puing dan mencari korban selamat lainnya.”

“Tak ada satupun?” Tanya Mummy dengan nada ragu. Kulepas ikatan rambut panjangku sambil menggeleng datar dan helaan nafas Mummy terdengar nyaring. “Mum, sebaiknya kita beristirahat di hutan ini dulu lalu memulai perjalanan kita besok. Kita akan mencari desa lain yang masih selamat dan meminta pertolongan para hunter lainnya untuk melawan iblis-iblis itu.” Kuhela nafas pelan dan berusaha tersenyum manis, “Lebih baik Mum tidur sekarang dan aku akan berjaga semalaman ini. Aku tak mau ada iblis yang mengambil Mum dariku.”

****

Matahari meninggi terik namun hutan tetap terasa sejuk dengan adanya oksigen yang terus dihasilkan pohon-pohon penghuninya. Aku melangkah menjelajahi hutan tersebut dengan panah dan busur di tangan. Mata cokelatku menatap tajam, mencari buruan yang mungkin didapat. Hari ini aku berniat menangkap seekor rusa. Rusa yang bertubuh besar dan berdaging banyak pasti bisa memenuhi rasa lapar Mummy dan aku.

Bulu kudukku sedikit bergidik, pertanda iblis. Aku semakin menyiagakan diri dan menatap sekitar dengan tatapan nyalang. Mungkin hari ini aku malah tak jadi membawa buruan tapi berhasil menghabisi seekor iblis bejat. Aku semakin jauh melangkah memasuki hutan. Panah  kuturunkan dan kumengganti senjataku dengan pedang panjang kesayanganku Kenchz. Sikap tubuhku semakin tegap dan aku siap mengacungkan pedang pada siapapun yang datang.

DUG

Kakiku tersandung sesuatu. Aku segera melangkah mundur dengan sigap. Ternyata aku tersandung tubuh manusia. Manusia itu tampak terluka parah di sekujur wajahnya. Darah segar bahkan sudah ada yang mengering membaluri wajahnya yang tak begitu tampak jelas. Kusentuh tubuh itu dan ternyata orang itu masih hidup. Kelopak matanya bergerak-gerak dan aku masih memandang ragu lelaki itu. Haruskah aku menolong lelaki asing yang mungkin saja jahat itu?

Kupandang lelaki itu dengan lebih seksama. Tidak, lelaki itu tidak tampak jahat. Setidaknya lelaki itu tidak memiliki kumis atau janggut tebal layaknya bandit yang pernah kutemui. Lelaki itu juga tidak bertato. Kalau saja tanah tidak mengotori kulitnya, ia pasti berkulit putih bersih. Ya, orang itu bukan penduduk asli daerah tersebut namun aku yakin dia orang baik-baik. Badannya juga berukuran sedang, tampak rapuh tapi aku  yakin ada kekuatan tersembunyi darinya.

GREP

“Waaakh!” Aku terjatuh kaget saat laki-laki itu menggenggam kakiku. Aku cepat-cepat menutup mulut saat telingaku mendengar ada gerombolan orang yang mendekati tempat kami berada. Kupandang lagi lelaki itu dengan ketakutan. Lelaki itu tidak membuka mata sama sekali namun bibirnya berbisik,

“…mereka orang jahat… Jauhi…mereka!”

“Cepat! Sepertinya dia ada di sana!!”

Aku membelalakkan mata saat sadar gerombolan orang itu semakin mendekati tempat kami berada. Lelaki tadi sudah tak sadarkan diri lagi. Dalam kegundahanku, akhirnya kuputuskan untuk membantu lelaki itu dan memapah tubuh sedang itu dengan tangan kananku. Dengan cepat kubawa tubuh itu menjauh dari tempat tersebut. Sayangnya gerombolan orang tersebut terdengar semakin dekat dan aku bingung, apa yang harus kulakukan sekarang?

“Holly shit!” Umpatku. Aku semakin kebingungan saat kusadari orang-orang itu benar-benar tak jauh darinya. Tiba-tiba saja dua bilah tangan menarikku ke dalam batang pohon yang berbentuk cekung. Belum sempat meneriakkan kepanikan, pemilik tangan itu langsung membungkam mulutku.

“Sssst! Kau tidak mau selamat? Kalau kau ketahuan bersamaku, kau juga takkan selamat…,” bisik orang yang ternyata lelaki yang kupapah tadi. Aku berusaha menenangkan diri walau masih was-was dengan tindak-tanduk lelaki itu. Aku bisa merasakan nafas panas lelaki itu dari jarak sedekat ini, tentu karena sekarang tubuhku berada dalam dekapan lelaki ini. Sebelah tangannya menarik ranting dedaunan menutupi cekungan tersebut dengan perlahan. Alhasil kami sama sekali tak tampak dari luar.

“Cepat! Dia pasti tak jauh dari sini!!”

Gerombolan orang itu sudah tepat berada di sekeliling pohon tempat kami bersembunyi. Ia semakin menarikku yang mulai ketakutan dalam dekapannya. Aku dapat merasakan jelas terpaan nafas lelaki itu di depan wajahku dan aku hanya bisa melihat samar wajah oval yang ditutupi darah itu. Kutahan degup jantungku yang berdetak keras entah karena takut atau malah karena hal lainnya.

Tak lama kemudian orang-orang yang mengejar kami terdengar semakin jauh. Laki-laki itu menghembuskan nafas lega. Ia memasang pendengaran setajam mungkin dan akhirnya melepaskanku setelah ia merasa cukup aman bagi kami.

“Hhh..hhh…,” aku mengambil nafas dengan ngos-ngosan. Bernafas di balik cengkraman tangan lelaki itu memang bukan hal yang mudah. Si lelaki tampak tertunduk dan berbisik, “Maaf…”

“Hhhh…siapa…kau?” Tanyaku begitu bisa mengendalikan nafas. Kutelan ludah dan berusaha mengumpulkan kembali harga diriku. Si lelaki itu mengangkat wajah dan tersenyum ke arahku. Saat itulah aku sadar kalau mata lelaki itu berbeda dari manusia lain yang pernah kutemui seumur hidup. Spontan kutarik pedang dengan sigap. Mataku menajam, bibirku menggumam garang, “IBLIS!!”

“Ck,” lelaki itu mendecak. Ia mengacak rambut cokelatnya dengan gaya frustasi. Ia kembali menatapku yang masih melempar tatapan tajam padanya. Dari tatapan itu aku bisa semakin memperhatikan penampilan lelaki itu. Lelaki berkulit putih itu berwajah oval dengan mata sipit yang manis. Hidungnya mancung dan bibirnya agak tebal. Ia memakai jas cokelat gelap dengan kemeja warna senada. Celananya berwarna hitam dan potongannya pas di kaki lelaki yang bertubuh cukup tinggi itu. Kancing pertama kemejanya terbuka, memperlihatkan liontin yang terpasang di lehernya dan bekas-bekas luka yang sudah mengering. Wajahnya sebagian besar tertutup darah sehingga tak begitu jelas di mana bekas lukanya. Namun hal paling jelas yang bisa  kulihat adalah warna mata lelaki itu, merah dan biru.

“Kenapa semua orang selalu mengatakan hal yang sama saat melihatku?” Geram lelaki itu. Ia menatapku dengan tatapan memelas, “Ayolah, turunkan pedangmu. Aku hanya hunter biasa. Aku juga ikut memburu iblis-iblis yang kutemui. Bukankah kau baru saja menolongku?”

“Jadi, siapa mereka yang mengejarmu tadi?” Tanyaku tajam. Peluh mulai membasahi kening dan pelipisku. Lelaki itu mengerutkan alis, “Mereka orang yang berpikiran sama denganmu, hunters yang bahkan tak mau mendengar penjelasanku terlebih dulu,” ucapnya malas. Tiba-tiba tubuhnya limbung dan refleks aku langsung menangkap tubuh lelaki itu sebelum jatuh. Entah kenapa aku jadi sangat khawatir. Lelaki itu tersenyum, senyum yang membuat matanya hampir tertutup pipinya yang berisi. “Sepertinya kau mempercayaiku…”

Aku menatapnya ragu dan akhirnya berkata, “Ya, aku mempercayaimu. Mana ada iblis lemah sepertimu yang menghindar dari kejaran manusia…” Dan laki-laki itu hanya tertawa mendengarnya.

Aku kembali menyarungkan pedang dan memapah lelaki itu. Kami keluar dari cekungan pohon tersebut, bermaksud mencari sumber air terdekat. Laki-laki itu lagi-lagi tersenyum, “Kau baik sekali mau menolongku. Terima kasih.”

“Sudah jadi keharusan kita untuk menolong sesama manusia…,” jawabku datar. Lelaki itu tersenyum penuh arti.

“Kita bahkan belum berkenalan,” ucap lelaki itu. Aku menatapnya dan tak tahan untuk tidak tersenyum, “Benar,” kusodorkan tanganku, “Perkenalkan, namaku Vera Zoldieck. Aku seorang hunter.”

Lelaki itu masih tersenyum dengan manisnya. Aku merasakan aura bersahabat dari lelaki itu. Ia menyambut uluran tanganku. “Onew, namaku Onew. Senang bertemu denganmu.”

***

Kuobati luka di wajah Onew dengan obat yang biasa kubawa. Ternyata dugaanku benar, wajah Onew sangat tampan begitu noda darah di wajahnnya dibersihkan. Saat itu aku langsung menjadikan senyum lelaki itu sebagai hal yang paling kusukai.

Onew juga bukanlah seorang hunter yang lemah. Ia ahli berbagai macam seenjata. Sayangnya alasan Onew menjadi hunter terdengar sangat konyol bagiku. Bagi Onew, penampilannya yang disebut-sebut mirip iblis sangat merepotkan. Jadilah lelaki itu seorang hunter hanya karena rasa kesalnya. Hebatnya lagi, harga kepala Onew sangat mahal jika dijual di pasar gelap. Ia benar-benar sudah dianggap sebagai iblis.

Satu hal lagi yang konyol dari Onew adalah alasannya tidak sadarkan diri tadi. Walau kepalanya yang terluka membuat ia kehilangan banyak darah, tapi itu bukan alasan utamanya. Lelaki itu pingsan karena ia kelaparan. Dan alasannya kelaparan hanya karena ia bosan makan hewan-hewan hutan. Ia ingin makan roti. Aku hanya bisa ternganga dan geleng-geleng kepala mendengar penjelasan-penjelasan konyolnya.

“Hmmm… Jadi ayahmu mati karena ulah iblis dan sekarang kau mau mencari Lucifer untuk menghancurkan semua iblis yang ada?” Tanya Onew saat aku membalut lukanya. Aku mengangguk, “Bukankah itu hal yang wajar jika aku menginginkan kedamaian dunia? Membunuh Lucifer adalah salah satu cara terampuh,” jawabku yakin. Onew mengangguk-angguk setuju. Namun perlahan ekspresinya berubah, “Tapi aku yakin kau bukan gadis yang seperti itu… Maksudku sayang sekali bagimu harus membunuh iblis hanya karena dendam. Sayang sekali bagi gadis yang sebenarnya berhati lembut sepertimu….” Dan lelaki itu kembali tersenyum dengan manisnya.

DEG

Daddy, hari ini aku bertemu dengan hunter aneh yang sangat manis. Matanya mirip iblis tetapi senyumnya sangat lembut… Daddy, bolehkan aku mempercayainya?

 

 

“Aku lapar…,” keluhku saat kami berdua kembali berada di tengah hutan. Aku kembali mengangkat busur dan panah, mencari sasaran tepat untuk diburu.

Tangan Onew langsung mencegahku. Keningku mengerut heran. “Jangan libatkan aku dengan perburuan rotimu. Aku masih mau makan hewan hutan,” ujarku sinis dan kembali mengangkat panah. Namun Onew kembali memaksaku menurunkannya.

“Kau punya pisau?” Tanya Onew kemudian. Aku masih bingung tapi aku segera menyodorkan pisau tanpa banyak bertanya. Begitu pisau berpindah tangan, benda tipis itu langsung melayang ke arah kanan. Aku membelalakkan mata tak percaya saat sadar apa yang telah terjadi. Onew berhasil membunuh seekor rusa jantan muda hanya dengan sekali lempar dengan kecepatan luar biasa. Aku sendiri bahkan tidak sadar kalau ada seekor rusa di dekat kami tadi.

Masih dengan membelalak, aku kembali menatap Onew. Lelaki muda itu hanya nyengir, “Makanan, kan? Ayo kita makan. Aku lapar.”

Saat itulah aku yakin lelaki di hadapannya memang bukan sekedar lelaki biasa.

“Apa kau keturunan iblis? Atau mungkin salah satu orang tuamu iblis?” Tanyaku spontan saat kami tengah memanggang daging. Ia tampak kaget dengan pertanyaanku. Namum ia segera menggeleng dengan tatapan polosnya, “Tidak. Sama sekali tidak. Apa masih sulit percaya padaku?” Tanyanya sambil tersenyum manis.

Aku menggeleng dengan agak menyesal, “Bukan begitu. Hanya saja…”

“Warna mata yang seperti neraka dan surga ini, kan? Banyak orang yang berkata begitu dan akhirnya memburuku…,” ucapnya sambil menghela nafas. Dia malah terdengar meragukan sikapku. Aku mendecak lalu memajukan bibir depanku, “Jangan berkata begitu. Aku percaya padamu dan kau harus percaya padaku!!”

Laki-laki di hadapanku itu hanya tersenyum dan matanya semakin menarik hatiku…

***

Angin berhembus lemah menyejuk badan. Langkah kami -kedua muda-mudi ini-  semakin mendekati pinggir hutan. Di punggung Onew tergantung sisa daging rusa yang sudah dibakar matang, oleh-oleh mereka dari perburuan ‘penuh petualangan’ hari itu. Kuputuskan untuk mengajak Onew tinggal bersama. Kami akan bekerja sama memburu Iblis dan meencari Lucifer. Jadilah kami berdua berjalan bersama menuju gubuk ranting di mana Mummy menunggu.

Hari sudah menjelang sore. Matahari sudah tampak jingga, membuat tempat tersebut agak gelap membayang tertimpa sinarnya. Aku dan Onew mempercepat langkah kami

“Jadi, kau dekat dengan orang tuamu? Tampaknya kau sangat menyayangi ayahmu…,” ujar Onew memulai percakapan karena sejak tadi kami berdua hanya berjalan dalam diam. Aku menggeleng, “Tidak, sama sekali tidak dekat. Aku jarang bercerita pada mereka dan mereka juga begitu. Kami hanya saling tegur sapa untuk berbasa-basi atau untuk latihan.”

Onew mengerutkan dahi, “Jadi, kenapa kau dendam sekali pada iblis yang membunuh ayahmu?” Herannya. Aku hanya tersenyum tipis, “Sebagai bentuk penyesalanku. Aku tak bisa berbuat apapun saat Keyx membunuhnya di depan mataku…”

“Keyx?”

“Salah satu iblis tertinggi yang menguasai kawanan iblis di daerah ini. Ia sangat kejam, terutama saat desa kami membunuh Liana, gadis yang kami sebut pengkhianat karena berteman dekat dengannya….,” aku menghela nafas berat, “…gadis itu salah satu teman dekatku… Bodoh sekali, kami tidak tahu kalau Iblis memiliki soulmate sebagai sumber utama energinya dan ternyata Liana adalah soulmate Keyx… benar-benar bodoh…”

“Keyx membalas dendam pada seisi desamu?” Tanya Onew lagi setelah kami diam beberapa saat. Aku hanya memalingkan wajah tanpa mau menjawab. Aku tak mau menjawabnya karena begitu aku menjawabnya, jelaslah siapa sasaran Keyx selanjutnya: aku dan Mummy.

Kami terus melangkah dan akhirnya hampir sampai di pinggir hutan. Aku sudah bisa melihat gubuk ranting buatanku semalam di bawah pohon besar yang tak jauh darinya. Namun ada yang aneh, gubuk itu sudah hampir tak berbentuk lagi. Dengan nafas memburu dan jantung yang berdegup kencang, aku segera berlari menghampiri gubukku.

“Mum!!” Panggilku cemas. Onew langsung mengekor di belakangku untuk melihat apa yang terjadi. Namun di gubuk yang hampir rata dengan tanah itu hanya ada bercak-bercak darah yang membanjiri sisi dalamnya, bercak darah yang membentuk satu gambar. Kunci dengan segitiga setan sebagai pegangannya.

“Ini…,” ucapan Onew terhenti. Kami berdua tau apa maksud tanda itu, Keyx.

“Damn it!” Umpatku yang segera berlari menyusuri bekas-bekas bercak darah lainnya. Entah kenapa jantungku berdetak dengan semakin kencang dan kuat melebihi biasanya. Hatiku berdenyut-denyut seperti ada yang menekan-nekan. Nafasku memburu. Aku menduga kemungkinan terburuk yang dapat terjadi namun otakku terus menolak menerima hal tersebut, berusaha berharap walau kemungkinannya sekecil apapun. Bercak tersebut membawaku ke satu tempat dan aku langsung bersumpah tak akan pernah mau mendatangi tempat itu lagi.

Daddy, tahukah dirimu di surga sana bahwa aku begitu menyayangimu dan menyesal telah membencimu selama kau hidup? Tahukah dirimu bahwa saat-saat terakhir kau membelaiku dan melindungiku selalu membayang di otak dan hatiku? Sekarang semua hanya tinggal sesal…

 

“Mum…,” kuseret langkahku mendekati sosok itu, sosok yang  kukenal selama ini hanya sebagai orang yang melahirkanku. Sosok yang sempat kubenci karena memaksaku menjadi hunter. Dan sekarang sosok itu berbaring bersimbah darah di samping pohon kering tak berdaun dengan sebilah pisau panjang tertancap tepat di jantungnya. Bahkan aku masih dapat melihat setitik air mata di sudut matanya yang belum tertutup sempurna.

Dadaku sesak, udara masuk tak beraturan ke dalam paru-paruku. Onew baru sampai di belakangku saat aku menghambur ke arah Mummy sambil menangis histeris. Kuguncang tubuhnya, menepuk pelan pipinya sambil menangis tak karuan. “Mummy, buka matamu. Aku datang, Vera datang dengan daging rusa kesukaanmu… Mummy, bangun! Bukankah kita berjanji akan memburu Lucifer bersama setelah ini?! Mummy, BANGUN!!! MUMMY!!!!”

Aku mulai memukul-mukul tubuh kaku  yang masih tertancap pedang pusaka keluargaku itu, JinX. Duniaku menggelap dan aku tak tahu lagi apa yang harus lakukan. Aku terus memukul, menjerit, dan menangis histeris. Kucabut JinX dan mencampakkan pedang berlumuran darah itu entah ke mana. Kuguncang kembali tubuh dingin itu. Aku tak lagi sadar saat tangan Onew berusaha keras menghentikan kelakuanku, merengkuh erat-erat.

“MUMMY!!! Mum…my… Aku…belum sempat mengatakannya padamu…,” isakku tertahan,” …aku menyayangimu….”

Dan saat itulah aku sadar, duniaku akan berubah. Mungkin aku harus mencari pijakan hidup yang baru sebagai penyemangat dan pusat rotasiku. Mendapatkan pijakan baru atau hancur tanpa melanjutkan keinginanku…

Aku tak lagi sadar apa yang kulakukan. Tubuhku melemas dan Onew sudah siap menampung tubuh lunglaiku dalam rengkuhannya. Aku menangis keras dalam rengkuhan lelaki yangg baru kukenal namun sudah begitu kupercaya itu. Bibirku terus memanggil Mummy sambil terisak. Onew merengkuhku semakin erat.

“Sssst… Semua akan baik-baik saja… Kau masih memilikiku…. Semua akan baik-baik saja….”

*****

Daddy, Mummy…

Aku akan membalaskan dendam kalian. Pasti. Tapi aku akan melakukannya bersama Onew. Bolehkah? Bantulah kami dari atas sana… Walau aku tak pernah mengatakannya saat kalian hidup, tapi aku benar-benar merasakannya. Aku menyayangi kalian…

 

*******

 

Aku memulai hidup baru bersama Onew. Sekarang dia menjadi guruku dalam bertarung. Ia mengajariku kemampuannnya yang hebat dengan sabar dan aku bersyukur dia mau melakukannya. Di luar senyumnya, ia orang yang sangat dingin saat bertarung. Aku serasa bersama orang lain jika dia sudah mulai menunjukkan kemampuan hebatnya. Matanya yang berbeda warna seperti warna surga-neraka itu selalu bisa menghipnotisku. Terlalu indah, apalagi jika menyala-nyala karena semangat.

Aku sendiri memutuskan untuk mendalami ilmu pedang lebih dari yang lain. Aku masih bisa menggunakan panah atau pisau pendek, namun tak sehebat tekhnik berpedangku. Onew benar-benar guru yang hebat dan dia berhasil melatih kecepatanku sehingga hampir menyamainya -atau setidaknya di atas rata-rata hunter kebanyakan. Yang ada di pikiranku saat ini adalah mengahancurkan Keyx lalu mencari Lucifer dan membunuhnya. Senjataku adalah kedua pedang yang diturunkan keluargaku selama ini, Kenchz dan Jinx.

“Istirahat.”

Aku menghempaskan tubuh di tempatku berpijak, tanganku menancapkan pedang yang kupegang, menjadikannya sebagai tumpuan. Aku berusaha keras mengatur nafas. Bisa kulihat Onew tampak biasa saja tanpa peluh sedikit pun. Ia tersenyum ke arahku, senyum yang selalu kusuka, “Capek?” Aku hanya menjawab dengan anggukan sambil menyeka keringat yang memenuhi sisi wajahku.

“Ini masih latihan, Vera. Medan pertarungan akan jauh lebih sulit, apa lagi kau berniat melawan Keyx dan Lucifer,” gumamnya. Ia menjatuhkan dirinya dan duduk di sebelahku. Aku menerima botol air yang disodorkannya lalu minum dengan penuh nafsu. Latihan ini benar-benar menguras tenaga. Sepertinya ia memandangku dengan tatapan aneh yang sulit diartikan.

Kulepas botol tersebut dan menyodorkan wadah kosong itu ke arahnya, “Aku masih mempunyaimu,” gumamku. Ia tercenung. “Kau pasti melindungiku kan?” Tanyaku kemudian. Lagi-lagi kedua warna matanya yang indah itu memandangku dengan cahaya aneh. Tak lama ia mulai tersenyum, “Ya, kau masih memilikiku…”

Aku membaringkan tubuhku. Kami berdua menatap langit yang menjadi atap kami malam ini. Walau semua latihan tadi begitu melelahkan, langit bertabur bintang di hadapan kami langsung berhasil mengusir semua rasa lelahku. Angin berhembus lembut, membuat ranting dan dedaunan bergerak seiring arus angin. Segalanya terasa begitu nyaman. Aku bahkan sempat melupakan keadaanku yang tak lagi punya orang tua, gadis yang hanya hidup berdua dengan pria yang tak begitu kukenal. Bukankah hal ini hebat?

“Hei…,” panggil Onew. Aku menoleh ke arahnya, “Ng?”

“Apa kau mengerti kenapa Keyx sebegitu dendamnya pada desamu?” Tanyanya lirih, memperdengarkan suaranya yang berat dan kebapakan untuk penampilannya. Aku menggeleng,

“Sebenarnya aku tidak mengerti. Apa lagi tentang soulmate yang menjadi alasan utama Keyx. Mmm…apa mungkin kau tahu sesuatu?” Tanyaku balik. Ia menatapku teduh, “Mungkin aku yang paling tahu tentang hal itu…”

“Eh?” Aku mengubah posisi dudukku menghadapnya. Pembicaraan ini terdengar menarik. “Jadi, sebenarnya apa hubungan soulmate dan iblis? Apa setiap iblis punya soulmate? Apa yang terjadi kalau soulmatenya mati? Apa iblis itu makin melemah? Atau mungkin menguat?” Tanyaku beruntun dengan antusias. Mungkin mataku sudah membulat sekarang.

“Hey, aku cuma punya satu mulut untuk menjawab pertanyaanmu,” gumam Onew tenang. Aku diam menanti jawaban rentetan pertanyaanku. Lelaki berpipi putih itu ikut membaringkan dirinya di sampingku. Ia menghela nafas panjang. “Penjelasan ini sangat panjang. Apa kau yakin?” Tanyanya sambil menghadapku. Aku mengangguk kuat penuh semangat. “Baiklah…”

“Setiap iblis yang hidup di dunia ini memiliki soulmate, baik yang wujudnya sesama iblis ataupun yang berwujud manusia….,” Onew memulai penjelasannya, “…soulmate merupakan sumber energi utama bagi iblis. Biasanya iblis butuh menyerap energi negatif manusia atau bahkan memakan manusia untuk mendapat energi. Tapi hanya dengan berada di dekat soulmatenya, iblis itu bisa langsung memiliki energi besar tanpa harus menghisap energi negatif manusia. Tidak aneh kalau seekor iblis marah jika soulmatenya mati dibunuh. Bisa dibilang, energinya berkurang drastis sejak ia kehilangan soulmatenya….” Onew menatap langit dengan wajah sedih. Aku jadi ikut sedih saat bayangan Liana muncul di otakku. Gadis tertutup yang mungkin takkan pernah dekat denganku jika aku tidak mendekatinya. Gadis yang ternyata soulmate Keyx tanpa kuduga sama sekali.

“Apa Keyx pernah menyerang desamu sebelumnya?” Tanya Onew kemudian. Aku tidak mengalihkan pandanganku dari langit, “Ya, sekali. Saat aku masih lima belas tahun…”

“Kenapa kau menganggapnya kejam?”

Aku tercenung. Ya, kenapa aku menganggapnya kejam? Keyx hanya pernah membunuh salah seorang warga di desa kami. Itu pun bukan seorang warga baik yang perlu dilindungi seisi desa. Hanya saja ia sudah menyebar ketakutan dalam desa kami. Keyx juga pergi tak lama kemudian…setelah ia bertemu mata dengan Liana saat itu…

“Entahlah…,” jawabku sekenanya, “Mungkin aku merasa begitu karena ia yang menghabisi orang tuaku…” Tapi aku sendiri masih penasaran, kenapa aku bisa begitu dendam dengan iblis yang hanya pernah kulihat dua kali seumur hidupku. Keyx tidak memiliki wujud menyeramkan, rupanya sangat mirip manusia. Wajahnya oval dengan tulang pipi yang agak menonjol, membuatnya tampak lebih mirip perempuan dari pada lelaki. Tubuhnya berukuran sedang dan tangannya tidak memiliki otot-otot mengerikan yang menakutkan. Ia selalu tampil elegan dengan potongan rambut lurus asimetris yang hampir menutupi mata kirinya. Satu hal yang menandainya sebagai iblis, warna matanya. Matanya tajam seperti mata kucing,  bola matanya berwarna merah menyala, persis seperti kobaran api yang membuat orang yang dipandangnya bisa serasa berada di neraka. Warna yang serupa dengan mata kiri Onew.

“Aku paham kenapa kau membencinya,” ucap Onew membuyarkan lamunanku, “…tapi ia juga pantas melakukannya kalau memang kalianlah yang membunuh soulmatenya. Tak pernahkah terpikir olehmu kalau Liana dan Keyx mungkin membuat perjanjian yang bertujuan melindungi desamu? Apa kalian tak pernah menduga kemungkinan baik itu?”

Aku hanya mampu terdiam. Ya, mungkin saja…

***

Selama berbulan-bulan aku hidup bersama Onew. Kami jadi partner yang hebat. Aku tidak tau kenapa, tapi gerakan kami saat bertarung dengan iblis buruan kami serasa terencana dan sangat kompak. Setiap tebasan dan hindaran yang kulakukan, selalu sesuai dengan gerakan Onew. Semua seakan-akan kami satu hati, satu jiwa yang saling mengerti. Kadang aku malah bisa menangkap Onew melempar senyum misterius ke arahku saat tengah bertarung. Lucunya, hatiku agak berdenyut saat melihat senyuman itu, senyuman yang sangat berharga karena biasanya Onew hanya memasang wajah datar saat melawan para iblis. Oh, ya. Onew bisa membunuh beberapa iblis hanya dengan sekali tebasan pedang. Hebat sekali, bukan?

Sekarang aku percaya padanya, aku yakin kami akan jadi partner sempurna untuk melawan Keyx dan Lucifer nanti.

“Vera…,” terdengar suarar datar Onew. Di hadapan kami sudah berdiri lima ekor iblis dengan penampilan menyeramkan. Aku tak menoleh ke arahnya tapi aku menyahut dengan gumaman.

“Bisa kau pegang tanganku sekarang? Aku rasa mereka musuh yang kuat…,” ujarnya pelan. Semoga iblis-iblis itu tidak mendengar ucapannya atau mereka akan besar kepala. Aku berusaha keras mengatur keningku agar tak mengerut bingung. Tak biasanya Onew seperti ini. “Kenapa?” Tanyaku.

“Agar aku bisa mendapatkan tenaga yang lebih banyak,” gumamnya dengan tangan yang secepat kilat meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Belum sempat aku bereaksi, iblis-iblis itu sudah mulai menyerang kami. Tanpa kusadari Onew sudah melepas genggamannya.

Benar saja. Kali ini iblis yang kami lawan memang sangat tangguh. Mereka dapat berkelit lihai seperti belut. Aku harus mengeluarkan tenagaku habis-habisan kalau tidak mau dihabisi mereka. Saat aku mencuri pandang ke arah Onew, ia tampak aneh. Ia jauh lebih bertenaga dari biasanya. Matanya menyala-nyala dengan warna masing-masing. Terlalui indah, aku sampai terpana.

“Vera, awas!!!”

CRESS

“Aaaakh!!”

Onew berhasil menarik tubuhku sebelum kuku panjang iblis itu menembus dadaku. Tapi tetap saja benda tajam itu melukaiku. Tangan kiriku mendapat luka gores lebar yang mengucurkan banyak darah. Aku mengeluh sambil memegangi luka tanganku. Pedangku jatuh karenanya.

“Vera, kau tidak apa-apa?” Tanya Onew panik. Kulihat bekas itu mengeluarkan banyak darah dan daerah di sekitar luka itu mulai membiru bahkan menghitam. Mataku membulat ngeri. Bisa kudengar Onew mengumpat. Sepertinya kuku iblis itu beracun dan jadilah tangan kiriku mati rasa sekarang.

Iblis tadi sudah siap untuk menyerang lagi. Bisa kudengar tawanya dan teman-teman iblisnya. Tiba-tiba saja iblis itu berubah wujud menjadi wujud manusia. Aku terperangah melihatnya. Astaga, aku mengenal sosok itu! Sosok yang kulihat berbulan-bulan yang lalu. Sebuah senyum dingin terulas di bibir tipisnya yang kemerahan. Sontak jantungku berdetak kencang dan peluh dingin menetesi kening dan pelipisku. Tubuhku kaku dan sama sekali tak bisa kugerakkan. Aku mati rasa.

“Hey, lama tak jumpa, baby….,” suara itu terdengar, suara yang begitu kunantikan untuk kudengar lagi. Suara tenor yang selalu memberi kesan dingin pada setiap pendengarnya. Onew memegang erat tanganku saat lututku bergetar pelan. Aku ketakutan, rasa takut yang melebihi tumpukan rasa benciku. Iblis berwujud manusia di hadapanku itu tertawa dengan dengusan hidungnya. Mata merahnya yang tajam menyala-nyala, tampak lapar dan siap memakanku hidup-hidup. Aku bahkan tak sanggup menyebut namanya. Nama yang biasanya kusebut setiap hari dengan penuh rasa benci.

“Keyx….”

TBC…

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

33 thoughts on “Devil’s Game [1.3]”

  1. Gak bisa berkata apa2,, ff nya bner2 D.A.E.B.A.K .. :O
    kkk 😛
    ..
    Mulutku smpe menganga (?) bacanya,, 😀
    ..
    Pas baca alasan konyol nya Onew bikin aku ketawa,, kkk 😛 😀
    ..
    Lanjut Thor,, jangan lama2 ne,, ^^v
    pengen cepet2 bca [2.3] nya.. Ahhihihi

    1. gomawo….. ini FF pertama yang aku kirim k sini dan aku cukup kaget dengan reaksinya…. hehehe… semua lanjutannya udh dikirim sampai part terakhir, kok. sabar, y~~ hehe…

  2. Gak bisa berkata apa2., :O
    ff nya bner2 D.A.E.B.A.K.. :O 😀
    ..
    Pas bca alasan Konyol Onew itu bikin aku ketawa,, kkk 😛 😀
    ..
    Lanjut Thor,, jangan Lama2 ne,, ^^v
    udah gak sabar pengen baca yang [2.3] nya.. Ahihhi

  3. Entah kenapa bagian awal ff ini mengingatkanku sama novel “The Hunger Games”. Mungkin karena ada buru-buruan itu yah?

    Well, I love this story so much…!!!
    Asli gak bohong ff ini keren amat. Berasa baca novel saking bagus bahasa dan alur ceritanya. Author daebak!!! Kau membangkitkan semangatku untuk baca ff lagi 🙂

    Part selanjutnya kuharap gak lama-lama. Kutunggu dengan tidak sabar 🙂

    1. yups! sebenernya dapat ide buat cerita ini abis nntn The Hungry Games bareng tmen-tmen sekelas. gomawo, chingu… author terharu… #nangis banjir *lebay*

      part selanjutnya comment juga, y… *muach muach*

    1. sangtae Onew adalah sebuah ciri khas yang gak boleh dihilangkan sama sekali…hohoho…. kan itu alasan kita sayang ama Onew… *kecup Onew* *dihajar MVP*

      part selanjutnya udh dikirim, kok….

  4. kkk~ onew lucu… pingsan cuma gara-gara belum makan…

    Onew tuh sebenernya manusia beneran ga sih???

    Daebak thor!! lanjutin ya thor 😀

  5. aaa… author… aku butuh lanjutannyaaa ><
    ada sedikit typo, Thor. Tapi ceritanya keren, lho. Aku kok, ngerasanya Onew itu bagian dari iblis juga terus Vera dijadiin soulmate nya dia, ya? ahaha.. cuma nebak ._.
    Lanjutannya jangan lama-lama ya, Author 😀

  6. DAEBAKK!! XD

    Beteweh, cuma mau nanya, ini terinspirasi dari manga Hunter x Hunter kah?._. soalnya nama Vera Zoldieck, itu mirip sama nama Killua Zoldyck. Terus namanya juga disitu ‘Hunters’.

    Pokoknya JJANG lah xD. Ditunggu kelanjutannya ;]

    1. gomawo

      100 buat chingu!! yups, inspirasi nama diambil dari manga hunterxhunter. soalnya dulu aku otaku sebelum jadi KPOPer. tapi hunters-nya nggak, kok. inspirasinya dari film The Hunger Games….

      sabar dulu, y…. udh dikirim, kok….

  7. buat admins SF3SI, makasih banyak udh ngeditin cerita ini…. kl nggak, part 2 n 3-nya pasti jadi ikut terposting juga…. sekali lagi, makasih banyak… #bow#

  8. Aigo~~~ ini beneran daebak!!!
    ya ampuun, authornya keren bisa ngebawa reader ikut terhanyut dalam cerita..narasinya WAW, bikin nagihin.. padahal aku bukanlah penikmat cerita fantasy loh… apalagi itu, tokoh yg jadi inspirasi author, kak seena, itu ffnya smua nggak sanggup kubaca…hahaha xDDD

    oke, aku juga ikutan terhipnotis sama tokoh Onew. dan, ya.. aku juga berpikiran sama dgn reader2 di atas…wkwk..

    ditunggu dgn segera kelanjutannya 😀

    1. hihihihi… makasih banyak. *author terharu, kecup basah readers*

      kenapa ff Seena eonni nggak sanggup dibaca? emang sih ffny imajinasi tingkat tinggi. tapi teteup bagus, kok….

      kelanjutanny dah keluar, selamat menikmati….

  9. wow.. aku yakin kalau Onew itu adalah Iblis juga paling tidak setengah iblis. *sotoy*

    The hunger games aku nonton tu film kebawa mimpi takut melihat adegan bunuh2nya…

    ngomong2 ini DAEBAK banget! next part aku tunggu

  10. Wahhh…..daebak..author daebak.
    Ceritanya keren bgt,jd penasaran onew it iblis jg or bkn y?
    Lnjt bc k part selanjutnya aj dh..:)

  11. Hoaaaa… baru baca ff ini!! Keren!! Entah kenapa aku mikir kalo onew itu iblis ._. Atau malah lucifernya. Penasaran u,u buat lebih banyak karya ya thor!

  12. Aish! telat banget dh ak baru baca FF ini. Dan ternyata authornya Bella Jo!
    Hai, salsa! akhirnya aku baca FF mu. dan ini kereeeennn banget!
    begitu baca bagian awal, aku berasa lagi baca novel fiksi dan langsung tersedot ke dalamnya. Ikkut berpetualang di tengah hutan bareng Vera dan Onew *plaaakkk*

    “Wajahnya oval dengan tulang pipi yang agak menonjol…” –> Aahhh! Ini pendeskripsian yg pas bgt buat Key, tapi ak ngebayanginnya Key ganteng banget.hha.

    oKEY deh, aku kayanya bakalan marathon nih baca Devil’s game.
    Oh iya, mau nebak yah. Sesuai judulnya, ak kira Onew itu sebenernya Iblis deh. Mngkin dia join sma Key dan ngejebak Vera karena Vera kan sasaran Keyx yang tersisa. Dan tebakanku lainnya adalah, secara ga langsung Vera itu jadi soulmatenya Onew. Bener g? .kekeek.

    oKEY, komenku udh kepanjangan nih. Ga sabar pengen tau lanjutannya. b^^d

  13. Key jadi iblis, huwee. *nangis*
    Ide ceritanya dapet dari manga jepang gitu ya? Keren sih ^o^. Btw, itu kayanya si Onew itu turunan iblis deh, terus soulmatenya si Vera. Eh benr ga sih? Tapi kayanya bener deh *nebak* *ngeyel* 😀
    Lanjut part 2 ahh ^o^

  14. Wowwww fantasy ny daebak…
    Aku sampe” msuk(?) ke crta,feelnya dpt…
    Aku kira onew iblis yg nyamar,tp kayany bkan deh,
    awalny udah terhanyut(?) ke fantasy,eh pas bca alasan konyol onew, buyar semua..ahaha

  15. waaa… daebak daebak daebak!
    Ak malah kasihan sama key soalnya soulmatemya dibunuh,
    Umm onew kayaknya percampuran antara malaikat dan iblis (?) penasaran banget….
    Lanjut

  16. onew kok aneh? dia iblis ya? aduh aneh banget, jangan2 onew itu iblis terus soulmatenya vera? tapiiii mata dia beda sebelah gitu, atau dia berdarah campuran? eits tunggu dulu atau dia malah lucifer? 😯

  17. Devil’s Game…
    Genrenya unik…
    Mungkin salah satu dari beberapa atau banyak FF lainnya
    dengan genre sama, tp jarang aku baca…
    Selama ini lebih konsen ama yang genre romantis gimana,,,
    *lirik Jinki oppa

    Barusan Baca Butterfly dan tertarik banget untuk baca ini (sekali lagi)
    mulai tertarik ma genre yang begininan…
    asal bahasanya sederhana, dan pendeskripsiannya
    jelas, aku bakal ngerti dan nyambung
    Dan main castnya Jinki, aku pasti baca…. hehehee…

    Oya, boleh nanya, inspirasinya drmn?
    Dari MV Ring Ding Dong, serial Supernatural, atau…?

  18. As aku lihat ini, aku guling-guling kegirangan. Soalnya temanya fantasy2 gitu sih, kayak harry potter atau percy jackson. It’s been (only) one chapter and you’ve made me dying to read more, author 🙂 great writing!

  19. Baru aja.nemu ff ini ebusettt keren bingit dan sosok onew buat aku senyum2 /\*-*)
    Duhh mkin lope2 sama abang ayam({})
    Thor dpt inspirasi drmn bkin ff yg bginian sumpah keren! ^^)b sukseess ya thor buat ff nya, numpang baca untuk next chapternya~

  20. kayanya aku udah pernah baca, yai kok komen aki ga ada ya heumm
    yaudah komen lagi
    wqwqwqwq
    pendeskripsiannya jelas bgt nget nget. ini onew lucifernya bukan sih. lupa lupa ingat

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s