Realize

REALIZE

Title                 : Realize

Author             : Eka

Main Cast        : 2min

Support Cast    : Jonghyun, Sunny, and students

Genre              : Shounen-Ai

Type/Length    : Oneshot

Rating              : NC-17

Summary         : Aku iri padamu yang selalu merasa bangga oleh kekurangan yang sama-sama kita miliki.

“ Taemin oppaaa…” seorang murid perempuan yang sedang duduk melingkar bersama teman-temannya di padang rumput di taman belakang sekolah sedang asyik memeluk buku diari kesayangannya.

“ Kau masih menulis kegiatan Taemin oppa di bukumu itu?” tunjuk salah seorang yang lainnya sambil menikmati snack yang ada di tengah-tengah mereka.

Gadis yang pertama tadi mengangguk-angguk bersemangat. Wajahnya tampak begitu bahagia. Tapi beberapa saat kemudian, siapa yang tahu kalau ia akan menjadi muram. Sangat muram.

Saat itu seorang gadis yang lain dengan rambut pendek sebahu dan digerai berlari dengan langkah cepat menghampiri tiga orang teman-temannya.

“ Taemin oppa…” perkataannya terputus karena ia sedang berusaha mengembalikan irama pernapasannya. Lalu ia melanjutkan, “ Ada berita baru tentang Taemin oppa.” Si rambut pendek duduk di samping si diari dan tiba-tiba saja mengisak.

“ Aigoo! Whaeyo?” si diari dan yang lainnya terkejut melihat si rambut pendek tiba-tiba mengeluarkan air matanya setelah menyebut nama Taemin oppa.

“ Oppa…” si rambut pendek menyedot ingusnya. “ Taemin oppa hari ini menyatakan perasaannya pada seseorang.” Sambil terus mengisak, si rambut pendek pun akhirnya bercerita.

“ No way!” ucap salah seorang dari mereka yang dari tadi diam saja. “ Andwae! Padahal baru kemarin aku mendapat sinyal balasan dari Taemin oppa. Dia tersenyum padaku, baru saja kemarin. Tapi ternyata, dia sudah punya gadis lain di hatinya.”

Mendengar perkataan terakhir itu, si rambut pendek kembali histeris.

“ Aish, kau ini kenapa? Membuat kami semua khawatir tau.”

“ Taemin oppa bukan menyatakan perasaan pada seorang gadis.” Ketiga gadis lainnya hanya mengernyitkan dahi bingung. Masih tak bisa menebak penyebab histerisnya teman mereka. “ Taemin oppa menyatakan perasaannya pada Jonghyun oppa! Taemin oppa gay!”

“ WHAAAATTT??!!”

^^^

Taemin berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Orang-orang di sekelilingnya tak ia pedulikan, begitu pun mereka yang seperti tidak menganggap keberadaan Taemin lagi sejak insiden pernyataan perasaannya pada Jonghyun waktu itu. Sejak saat itu, Taemin dikucilkan. Dianggap tidak normal dan sangat hina. Tapi Taemin tak malu. Ia tak malu menerima  keadaannya. Keadaan di mana tak akan ada satu orang pun di sekolahnya yang mengerti. Maka dari itu Taemin tetap berjalan tegak sambil menatap ke depan. Tak mau menunduk dan tampak seolah-olah ia tidak mensyukuri dirinya sendiri.

Taemin pun sampai di depan lokernya. Seorang gadis yang berdiri tepat di samping Taemin segera pergi dengan membawa ekspresi terkejut setelah mengetahui ada Taemin di sebelahnya. Taemin yang berusaha tersenyum padanya terpaksa harus menarik kembali senyumnya.

Taemin mengeluarkan kunci lokernya dari saku celananya. Ia pun membuka lokernya dan betapa terkejutnya ia ketika terdapat bangkai tikus kecil yang masih berlumuran darah yang sudah kotor dan sebuah surat dengan kertas hitam dan tinta putih di atasnya.

Taemin hampir menjerit. Namun ia menahannya, yang menyebabkan genangan air mata menumpuk di pelupuk matanya.

“ Hai, Tae… Taemin!” Jonghyun, satu-satunya orang yang tidak menghindari Taemin semenjak kejadian itu, terkejut melihat keadaan loker Taemin yang tampak mengerikan itu. “ Omona! Gwaenchanayo?” Jonghyun meletakkan tangannya di atas bahu Taemin lalu mengusapnya untuk menenangkan Taemin yang sudah ingin menangis.

Taemin hanya menunduk untuk menjatuhkan air matanya langsung ke bumi tanpa harus mengalir terlebih dahulu di pipinya. Lalu ia mengangkat wajahnya yang masih tampak kecewa.

“ Gwaencahana. Terima kasih, Jonghyun.” Balas Taemin.

“ Aku akan minta penjaga sekolah untuk membersihkan ini.” Jonghyun berbicara lalu setelahnya mengambil surat kaleng di atas bangkai tikus itu. Ia membacanya sekilas. Isinya makian terhadap ketidaknormalan Taemin, yang membuat Jonghyun sedikit gusar.

Jujur saja, Jonghyun bukannya tidak terkejut dengan kenyataan bahwa Taemin menyukai sesama jenis. Mungkin ia justru yang paling shock, karena orang itu adalah dirinya sendiri. Namun Jonghyun juga tak ingin jadi kekanakan. Menyalahkan orang karena kekurangan seseorang yang mungkin orang itu juga tidak mau. Menurut Jonghyun adalah kesalahan besar kalau ia ikut menyalahkan seseorang atas perasaannya. Terlebih lagi orang itu adalah Taemin, teman baiknya sendiri. Jonghyun tidak ingin merubah status mereka hanya karena ia sudah tahu kenyataan pahit di antara pertemanan mereka.

“ Orang-orang ini sudah keterlaluan. Apa maksudnya ini?” Jonghyun merobek surat kaleng itu dengan tampang sengak di depan muka Taemin, membuat Taemin bisa sedikit menyunggingkan senyumnya.

“ Kau akan dapat yang lebih parah dari pada ini.” Tiba-tiba sebuah suara muncul dari balik punggung Taemin. Ia menoleh.

“ Choi Minho?” Taemin berkata dengan nada antara bingung, takut, dan tak mengerti.

Namun Minho hanya berlalu begitu saja dengan wajah sinis. Wajah terdingin yang pernah ada. Jonghyun lagi-lagi meletakkan tangannya di bahu Taemin.

“ Taem, aku minta pada penjaga sekolah dulu, ya, untuk membersihkan lokermu ini. Kau ke kelasmu saja duluan.”

“ Ah, ne. Gamsahamnida, Jonghyun-ah.” Taemin pun tersenyum sebelum Jonghyun pergi meninggalkannya. Senyum palsu. Karena detik berikutnya ia sudah kembali berwajah sedih.

Sebenarnya ia tahu, tidak mungkin Jonghyun juga seperti dirinya. Tapi kenapa ia nekat kemarin menyatakan perasaannya? Taemin sendiri tidak mengerti. Taemin menghela napas panjang. Dunia ini tidak adil, pikirnya.

^^^

Sudah seminggu berlalu. Beberapa orang yang mengenal Taemin dengan cukup baik mulai bosan mendiamkan Taemin terus. Satu-persatu dari mereka kembali, setidaknya memulai sedikit percakapan dengan Taemin. Taemin pun merasa sedikit terhibur. Meskipun tak sedikit yang tetap menjauhinya, entah itu karena risih atau memang benci. Salah satunya adalah Choi Minho, orang yang dengan rajin selalu memberikan Taemin ‘hadiah’ yang serupa dengan hadih pertamanya waktu itu di loker Taemin.

Hari itu, Taemin berangkat bersama Sunny. Sunny adalah teman sebangku Taemin, orang yang pertama kali mengajak ngobrol Taemin di kelas. Meski awalnya Sunny juga lumayan ekstrim menjauhi Taemin, sampai pindah tempat duduk, namun akhirnya Sunny tidak tahan dengan sikapnya sendiri dan memutuskan untuk kembali duduk dengan Taemin.

“ Jadi hari ini hasil ulangannya dibagikan, benar?” Tanya Sunny.

Taemin hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia menjadi lebih pendiam sejak saat itu.

“ Haaah, pasti jelek lagi.” Sunny memanyunkan bibirnya.

Taemin hanya membalas dengan tertawa pelan.

Sunny jadi tidak tahu harus bicara apa lagi. Taemin telah membiarkannya berbicara satu arah. “ Hmm… Taemin-ah, kenapa kau jadi pendiam seperti ini? Aku tidak lupa bilang maaf padamu atas yang kemarin-kemarin itu, kan?” Tanya Sunny cemas.

Akhirnya Taemin tergelak, “ Aniyo. Aku hanya tidak ingin dibenci orang lagi. Jadi lebih baik aku diam saja.”

“ Dibenci seseorang? Apakah sepertiku waktu kemarin? Jangan salah paham Taem, waktu itu aku hanya… risih…” ringis Sunny jujur.

“ Tidak. Bukan kau.” Taemin tersenyum getir mendengar pernyataan Sunny barusan. Meskipun hatinya memaksa untuk senang karena Sunny sudah jujur, namun ia masih tetap merasakan ketidakadilan itu. “ Choi Minho. Kenapa ia sangat membenciku?” aku Taemin.

“ Cih,anak itu. Aku juga tidak suka dengannya. Bukan karena dulu dia menolakku, kuakui saja itu padamu Taem. Tapi, dia memang berlebihan. Itu namanya pembunuhan karakter, tau!” Sunny menggerutu kesal.

Beberapa langkah mereka sampai di belokkan kelas mereka dan pemandangan aneh pun terlihat. Di depan kelas mereka, seluruh siswa sibuk berkerubung di depan mading kelas. Ya, setiap kelas di sekolah ini memang memiliki mading kelas yang dipajang di luar.

Taemin dan Sunny pun mempercepat langkah mereka untuk membunuh rasa penasaran mereka.

“ Hasil ulangan! Aigoo.” Sunny yang sampai duluan langsung menarik tangan Taemin untuk mendekat. Tapi Taemin melepaskan pegangan tangan Sunny lalu menggeleng pelan sambil tersenyum. Sunny mengerti dan membiarkan Taemin berdiri cukup jauh dari kerumunan itu. Sementara dirinya sendiri kembali ke dalam kerumunan untuk melihat detail-nya.

Tak berapa lama kemudian, Sunny datang menghampiri Taemin dengan tampang yang tak bisa ditebak. Sedikit kesal, bercampur khawatir.

“ Kenapa wajahmu seperti itu? Tidak lulus?” Tanya Taemin lugas.

“ Bukan itu yang membuatku bertampang begini. Meskipun, ya, aku tidak lulus.”

“ Lalu?” Tanya Taemin heran.

“ Kau.” Jawab Sunny menatap wajah Taemin kasihan.

“ Aku tidak lulus juga?” Tanya Taemin sedikit khawatir, mengetahui selama ini ia selalu lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.

Sunny menggeleng. “ Karena aku tidak lulus, aku harus mengikuti program mentoring, dan mentorku Taeyeon. Karena Choi Minho tidak lulus, ia juga harus mengikuti program itu, dan mentornya kau.” Jelas Sunny dengan nada lesu.

Taemin sedikit terkejut pada awalnya. Namun ia justru tersenyum. “ Tak apa. aku akan melunakkan hati Choi Minho.” Sunny pun tersenyum. Taemin mengacak rambut pendek Sunny pelan.

“ Melunakkan hatiku?” tiba-tiba muncul suara berat itu dari balik punggung Taemin. Taemin tampak terkejut, dan sedikit gugup. “ Cih! Kau pikir aku sama sepertimu! Kau pikir aku gay, sehingga kau bisa melunakkan hatiku? Mendengarnya saja aku sudah jijik, kau tahu?!” Minho mendorong bahu Taemin sampai Taemin terpojok ke salah satu pilar tembok.

“ Choi Minho!” Sunny menghampiri Taemin dan membantu Taemin bangkit setelah tadi sedikit terhuyung. Taemin menggenggam tangan Sunny dan memberikan senyum terima kasih.

“ Hahaha. Apa yang kau lakukan Lee Taemin? Tak perlu melakukan hal itu dihadapanku! Mau berpura-pura normal, hah? Hahaha.”

Sunny tampak benar-benar geram. Wajahnya memerah seperti udang rebus. “ Kau ini, benar-benar!” Sunny melepaskan genggaman tangan Taemin dan berniat menghajar Minho. Namun sebelum tangannya mendarat di pipi Minho, seseorang menahannya. Minho yang tadinya sudah memejamkan mata, akhirnya membuka matanya perlahan. Tampak Taemin mencegah tangan Sunny tadi yang hampir merusak kemulusan wajahnya.

“ Cih.” Minho pun pergi meninggalkan mereka berdua.

“ Issssh!!!” omel Sunny. “ Seharusnya kau biarkan aku merusak tampang menyebalkannya itu tadi. Benar-benar menyebalkan!” Sunny pun beranjak pergi dengan wajah kesal meninggalkan Taemin yang lagi-lagi hanya bisa menghelas napas.

^^^

Hari semakin gelap. Sudah pukul 9 malam. Perpustakaan yang buka sampai jam 12, kini tinggal berisi kira-kira setengah lusin orang. Termasuk Taemin dan Minho. Minho selalu menolak setiap kali Taemin mengajaknya memulai program mentoring itu. Tapi, pada akhirnya Minho sadar kalau ia memang membutuhkan Taemin. Maka hari ini, tepat sehari sebelum ulangan susulan. Minho merendahkan dirinya hingga ke level paling bawah dan mengajak Taemin untuk mengajarinya malam ini. Taemin pun tanpa merasa keberatan sama sekali, menyetujuinya.

Di sudut perpustakaan, di situlah mereka duduk sekarang. Sedikit terpencil, tertutup beberapa rak buku dan bahkan tidak terlihat oleh siapapun. Minho menyodorkan kertas jawabannya pada Taemin yang duduk di sebelah kirinya. Taemin mengambilnya dan mulai memeriksa. Ini sudah paket soal yang ketiga sejak sore tadi mereka belajar di perpustakaan. Dari dua paket sebelumnya, Minho sedikit demi sedikit menunjukkan peningkatan. Namun, masih saja Minho melakukan kesalahan pada pertanyaan yang serupa. Tepat pada soal integral volume. Selesai memeriksanya, Taemin menarik napas panjang, menghisap oksigen sebanyaknya untuk suplai otaknya. Taemin dengan sabar memulai pembicaraan dengan Minho lagi.

“ Kau salah di nomor itu lagi.” Taemin menggeser duduknya mendekati Minho untuk bisa menerangkannya langsung.

Minho mengusap dahinya perlahan dan menggeser kursinya mendekat juga. Meski malas berurusan dengan Taemin, tapi ia sangat pasrah karena besok adalah hari H-nya.

“ Jadi, pertama-tama kau cari bentuk persamaan dari gambarnya dulu, kemudian…” Minho pun memperhatikan dengan seksama penjelasan dari Taemin. Lama Taemin menjelaskan, namun tak satu pun menyangkut di kepala Minho. Sampai akhirnya, Minho jadi kesal sendiri dan ia membanting pensilnya ke meja dengan keras. Taemin yang sedang menjelaskan akhirnya berhenti bicara.

Ia menatap Minho yang sekarang tengah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dengan tatapan kasihan. Taemin pun memberanikan diri menyentuh pundak Minho. Tidak ada reaksi dari Minho, maka Taemin pun mengelus pundak Minho pelan.

“ Ayo, kau pasti bisa.” Ucap Taemin pelan.

Lama Minho mematung dalam keadaan seperti itu dengan mata terpejam. Ia kelihatan sangat frustasi dengan keadaan dirinya sendiri. Taemin yang merasakan hal itu merasa sangat kasihan. Entah dapat keberanian dari mana, kini tangan Taemin mulai mengarah ke kepala Minho dan mulai menyentuh rambutnya. Spontan, Minho membuka matanya dan menepis tangan Taemin.

“ Siapa yang mengizinkanmu melakukan itu!” marah Minho.

“ A-aku…” Taemin gugup. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia melakukan itu kepada orang yang paling membencinya. Jiwa Taemin terguncang. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Seharusnya ia yakin, perasaannya dari tadi saat melihat Minho belajar dengan susah payah, hanyalah perasaan kasihan. Namun, sebagian dari diri Taemin tidak bisa berbohong. “ Kenapa kau harus membenciku, Minho?” Taemin mulai mengalirkan setetes air mata di pipinya.

Membuat Minho salah tingkah. Ia masih menatap Taemin dengan pandangan memburu. Matanya menyiratkan permusuhan.

“ Kenapa kau harus membenciku?” Taemin menuntut Minho untuk menjawab, kali ini dengan suara serak karena menahan tangis, yang sebenarnya percuma, karena air mata Taemin justru turun semakin banyak.

Minho mendesis pelan. Benci dengan pemandangan di hadapannya. Atau, kalau ia tidak membohongi perasaannya sendiri, sebenarnya Minho benci harus memberikan alasannya kepada Taemin. Alasan kenapa ia begitu membenci namja di hadapannya ini.

“ Katakan Choi Minho! Kenapa kau harus membenciku?” Taemin menunduk sesaat. Lalu langsung kembali menatap Minho dan mulai histeris, “ Kenapa kau harus membenciku, kenapa kau harus membenciku, kenap….”

Minho menutup mulut Taemin. Ya, menutupnya dengan bibirnya. Dengan kasar, Minho melumat bibir atas dan bibir bawah Taemin bergantian. Taemin meronta. Tangannya berusaha mendorong dada Minho yang sekarang sedang membungkukkan badan di hadapannya. Namun Minho terlalu kuat. Minho terus saja mencium Taemin dan terakhir ia menggigit bibir bawah Taemin yang membuat Taemin merasakan perih di bibirnya. Minho melepaskan ciumannya. Ia menatap mata Taemin dari jarak dekat. Menunggu Taemin membuka matanya setelah ia dilanda ketakutan yang amat dahsyat di dalam dirinya. Mereka pun saling bertatapan sekarang.

“ Kenapa kau membenciku?” bisik Taemin pelan tak menyerah. Lalu memejamkan matanya untuk menumpahkan sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya, agar bisa melihat Minho lebih jelas. Tangan Taemin masih di dada Minho, bergetar hebat karena ketakutan. Minho tak menjawab. Hanya menatap Taemin dengan pandangan yang sulit diartikan. “ Kenapa?”

Tanpa disangka, Minho kembali menempelkan bibirnya pada bibir Taemin. Namun kali ini berbeda. Minho hanya memberikan sentuhan pelan. Kecupan ringan yang cukup lama, seperti sebuah permintaan maaf. Lalu setelah melakukannya, dengan cepat Minho meraih tasnya dan berlari meninggalkan perpustakaan. Meninggalkan Taemin dengan menitipkan hatinya pada Taemin di kecupan terakhir tadi.

^^^

“ Kau melihat Minho?”

“ Ti-tidak.”

“ Oke, terima kasih.” Taemin pun berlari menuju lapangan basket. Sejak kejadian tadi malam, Taemin tidak bisa berhenti memikirkan Minho. Terutama, ia memikirkan ciumannya yang terakhir itu. Ada yang salah ketika Minho menciumnya terkahir kali itu. Entah apa, yang pasti itu membuat Taemin khawatir.

Hari ini, hampir seluruh orang sudah dengan nekat ia ajak bicara. Meski sebagian orang merespon dengan respon yang sama, mengernyit risih diajak bicara olehnya, Taemin tak menyerah. Ia tidak peduli bila orang-orang itu akan mulai membicarakannya di belakang ketika ia pergi. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah mengetahui keadaan Minho.

Sesampainya di lapangan basket, Taemin melihat segerombolan siswa yang sedang bermain basket untuk mengisi jam isitrahat. Ia menghampiri Jonghyun, karena Jonghyun sepertinya satu-satunya yang akan menjawab pertanyaannya dengan serius.

“ Jonghyun-ah!” Taemin melambai dari pinggir lapangan.

Jonghyun yang melihatnya segera berlari menghampiri Taemin. Baju seragamnya basah oleh keringat. “ Ne Taemin? Ah, sudah lama sekali tidak melihatmu keluar kelas saat jam isitirahat.” Jonghyun tersenyum.

“ Kau melihat Minho?”

“ Ada apa tiba-tiba menanyakannya?” Tanya Jonghyun bingung.

“ Kau melihatnya tidak?” Tanya Taemin lagi tak menghiraukan kebingungan yang sangat tergambar di wajah Jonghyun.

“ Tidak.” Jawab Jonghyun cepat melihat keseriusan Taemin. “ Tunggu sebentar.” Jonghyun memalingkan wajahnya dari Taemin, lalu berteriak, “ Oi! Ada yang lihat Minho?”

Teman-teman Jonghyun yang tadinya sedang sibuk memperebutkan bola di bawah ring kini menoleh. Mereka diam sejenak melihat Taemin ada di sana. Sampai salah seorang dari mereka akhirnya bicara. “ Tadi aku lihat dia ke arah sana!” orang tadi menunjuk ke taman di belakang sekolah.

“ Katanya dia ke…” belum selesai Jonghyun bicara, Taemin sudah menepuk pundak Jonghyun lalu pergi tanpa berkata apa-apa ke taman belakang yang dimaksud.

Taman belakang sekolah sudah lama tidak terurus. Ada jalan setapak kecil yang merupakan satu-satunya jalan di sini. Pohon-pohon di sini semuanya besar-besar dan tampak tua. Mungkin akan terlihat sangat menyeramkan kalau malam. Taemin mengikuti jalan setapak yang berujung ke sebuah padang rumput luas yang menghadap sebuah sungai buatan di belakang sekolah. Indah sebenarnya. Hanya saja, karena tidak terurus jadi tidak ada yang mau ke sini. Lagipula, rumornya tempat ini angker. Taemin sebenarnya cukup penakut, namun ia terus berjalan sampai ia menemukan padang rumput itu.

Benar saja, sesosok laki-laki berbadan tinggi yang mengenakan seragam sekolah tengah berbaring di salah satu sisi.  Tas selempangnya tergeletak begitu saja di sampingnya. Taemin menghampiri orang itu, yang ia ketahui pastilah Minho. Tanpa membuat suara Taemin duduk di samping Minho. Minho berbaring dengan lengannya menutupi wajahnya. Lama Taemin memperhatikan sungai, menunggu Minho menyadari kedatangannya, namun Minho tak kunjung berkutik. Apakah anak itu tertidur? Taemin kemudian mencoba menyingkirkan lengan Minho dari wajahnya. Ternyata memang Minho tertidur. Taemin meletakkan lengan Minho di samping badannya. Tunggu dulu! Taemin menyentuh lagi bagian lengan baju seragam Minho. Basah. Apakah Minho…

Awan teduh yang sedari tadi memayungi mereka kini membuka barisan. Memberikan cahaya matahari untuk menyorot lahan di bawahnya. Minho mengernyitkan alisnya masih dengan mata tertutup. Ia membuka sebelah matanya dan mendapati Taemin sedang memandangnya dengan wajah khawatir. Minho pun kembali memejamkan matanya sejenak, lalu berbicara. “ Apa?”

“ Kau baik-baik saja?” Tanya Taemin hati-hati.

“ Hm.” Minho hanya membalas pelan. Ia pun meraih tas selempangnya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya, lalu menyodorkannya pada Taemin.

Taemin menerimanya. Itu adalah hasil ulangan remedial Minho hari ini. 84, bagus sekali! Taemin tersenyum melihatnya dan mengembalikan kertas itu pada Minho.

“ Nomor itu, aku masih salah.” Jelas Minho sambil tersenyum. Lalu ia bangkit dari tidurnya, dan sekarang duduk sambil memeluk lututnya. Mengambil beberapa kerikil lalu melemparkannya ke sungai.

Taemin ikut tersenyum. “ Kenapa kau…”

“ Sepertinya ‘kenapa’ itu adalah kata favoritmu ya?” kekeh Minho. Minho sudah benar-benar berubah. Tidak ada lagi nada benci dalam suaranya seperti kemarin-kemarin. Taemin senang, namun ada hal penting yang ingin ia tanyakan saat ini, hingga ia mengabaikan rasa senangnya itu sementara.

“ Jawablah! Apa alasanmu melakukan hal itu tadi malam?” Kali ini Taemin cukup bertanya sekali. Taemin dengan sabar menunggu jawaban dari Minho.

Minho berhenti melempar kerikil-kerikil ke arah sungai. Tampak sedang memikirkan jawabannya. “ Bukankah itu yang diinginkan oleh orang sepertimu? Ciuman panas dari seorang laki-laki juga? Haahha.” Minho tertawa mengejek.

Taemin terkejut. Taemin pikir Minho sudah berubah. Taemin kira Minho sudah akan berhenti mambencinya. Ternyata semua dugaan Taemin salah. Salah besar! Ternyata Taemin hanya salah paham pada Minho. Taemin tak tahan lagi. Ia pun bangkit. Tak ingin lagi ia menangis seperti orang bodoh di hadapan musuhnya. Ya, musuh, mulai saat ini begitu saja ia akan memanggil Minho.

Baru beberapa langkah Taemin pergi, tiba-tiba lengan-lengan besar dan kuat itu memeluknya dari belakang.

“ Mianhae, Taemin.” Minho berbisik lirih di telinga Taemin. Namun Taemin tak mau dipermainkan lagi. Ia dengan sekuat tenaga menyingkirkan tangan Minho dari bahunya.

“ Brengsek!” Taemin menoleh ke belakang dan mendapati pemandangan yang mengejutkan. Minho yang tadinya berdiri, perlahan berjongkok sambil memeluk lututnya, menundukkan kepalanya dalam. Taemin tahu tanpa harus melihat, Minho menangis, dan itu membuat Taemin kaget. “ Minho?” Taemin memanggil nama Minho.

Mereka terdiam cukup lama. Mereka seperti tayangan kaset yang sedang di-pause. Sampai tak lama kemudian, Minho pun memulai pembicaraan.

“ Tak seharusnya aku membencimu, Taemin. Maafkan aku. Aku hanya benci pada diriku sendiri, dan aku menumpahkannya padamu. Maaf.” Ujar Minho.

Taemin berlutut di hadapan Minho lalu menyentuh pipi Minho, mengangkat wajahnya yang basah karena air mata yang sejak tadi ia tumpahkan. “ Aku tidak mengerti Minho. Katakan dengan jelas apa maksudmu?” Tanya Taemin, yang meski bingung tetap bertanya dengan anggunnya.

“ Aku membenci diriku sendiri karena tidak seberani dirimu. Aku benci karena menyadari kalau aku ini adalah pecundang. Aku benci diriku sendiri karena sebenarnya aku sama sepertimu dan aku lebih rendah darimu karena menganggap perasaanku ini adalah sampah. Tidak seperti dirimu yang selalu menghargai perasaanmu sendiri, meski pada akhirnya hal itu membuatmu dikucilkan dan dijauhi banyak orang. Aku minta maaf padamu.”

Taemin segera saja memeluk Minho. Minho pun dengan erat membalas pelukan Taemin. Menangis di bahu Taemin seperti anak kecil.

Taemin melepaskan pelukan mereka dan mengangkat wajah Minho dengan kedua telapak tangannya. Dengan lembut Taemin mengusapkan kedua ibu jarinya untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipi Minho. Sementara kedua tangan Minho masih di pinggang Taemin, dan senggukannya sudah sedikit mereda.

“ Minho.” Panggil Taemin.

“ Ya?” Minho mendongakkan kepalanya kepada Taemin yang saat ini sudah berdiri.

“ Aku bangga padamu. Dan, ya, aku memaafanmu.” Taemin tersenyum tulus.

Minho bangkit , lalu menggandeng tangan Taemin. Mereka pun berjalan beriringan di pinggir sungai. Saling bertukar senyum. Bertukar rasa lega, karena kini mereka tahu mereka tidak akan pernah merasa sendiri lagi. Minho tiba-tiba menghentikan langkahnya. Taemin mengernyitkan dahi melihat tingkah Minho, bingung.

“ O iya, ada yang lupa kukatakan.” Ujar Minho.

“ Apa?”

Minho berjalan pelan beberapa langkah meninggalkan Taemin yang masih terdiam di belakangnya. Lalu Minho membalikkan badannya secara dramatis, ia tersenyum manis pada Taemin. “ Aku menyukaimu, Taem. Maukah kau menjadi kekasihku?” wajah Minho memanas dan muncul semburat merah di pipinya.

Tubuh Taemin menegang. Sebuah pernyataan perasaan pertama yang didengar Taemin dari seorang namja. Seperti ada aliran listrik di sekujur tubuhnya. Taemin beku untuk sesaat, namun Minho yang malah jadi bingung melihat tingkah Taemin segera menghampirinya.

“ Kenapa?” tanya Minho. Taemin tetap diam. Minho berkata dengan canggung, “ Kalau kau masih menyukai Jonghyun, aku akan menung…”

“ Tidak kok.” Taemin akhirnya bicara. “ Aku akan mencobanya.”

“ Maksudnya?”

“ Ya, aku akan mencoba menyukaimu. Aku mau menjadi kekasihmu.” Taemin tersenyum tulus.

“ Benarkah?” Minho tampak menyembunyikan kebahagiannya. Ia hanya bisa mengusap tengkuknya dengan canggung. Taemin yang melihatnya hanya bisa tertunduk, karena sebenarnya ia juga merasa malu.

Mereka kembali berjalan beriringan menapaki rerumputan di pinggir sungai. Bergandengan tangan, menjalani hari yang indah ini, memulai semuanya dari awal. Dan mulai saat ini, mereka tahu, selalu ada tempat untuk berbagi perasaan masing-masing, di mana orang lain tak akan mengerti rasanya.

^^^ EPILOG ^^^

Gadis itu menutup buku diarinya. Kali ini diari yang berbeda dari yang sebelumnya. Halaman yang terisi pun masih sedikit. Ini cinta barunya, artinya diarinya juga baru.

“ Kau mulai menulis diari lagi? Kali ini siapa?” tanya seorang temannya yang sedang memakan snack.

“ Aku tidak akan memberitahumu.” Jawab si diari.

“ Nyahhhh, sini!” si snack berusaha merebut diari berwarna merah muda itu dari tangan temannya. Lalu si pendiam dengan sigap muncul di tengah keduanya, dan mengambil diari itu dengan satu gerakan yang cepat. Si rambut pendek yang dari tadi duduk di sana, diam saja. Ia tidak peduli dengan ulah teman-temannya.

“ Choi Minho!!!” teriak si pendiam mengumumkan kepada teman-temannya yang lain.

Sementara teman-temannya sedang heboh membicarakan pengisi hati baru si diari, si rambut pendek malah sibuk menebak-nebak dua namja yang sedang berjalan di pinggir sungai di kejauhan. Ketika dua namja itu sudah semakin dekat, barulah si rambut pendek tahu siapa mereka. Betapa terkejutnya si rambut pendek ketika kedua namja itu tiba-tiba saling berpelukan, dan yang paling tinggi di antara mereka tiba-tiba mencium kening namja satunya lagi. Si rambut pendek mendekap mulutnya dengan satu tangan dan menarik-narik rok si diari.

“ Apa?” sahut si diari sedikit kesal melihat tingkah si rambut pendek. Si rambut pendek menunjuk ke arah jam dua mereka. Seketika si diari mendekap mulutnya juga. Kedua teman mereka pun ikut melihat ke arah yang dimaksud.

Mereka pun serentak berteriak. “ ANDWAE!!!”

Admin Note: Lain kali kasih keterangan udah Fin atau end yaaa? 😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

15 thoughts on “Realize”

  1. Woaahhh keren. bahasanya keren!! \^o^//
    meskipun aku tidak suka dengan shounen-ai. tapi ini memang bener2 keren.
    mau ketawa pas tau taem nyatain cinta sama jjong. aku kira udah nyatain cinta sama minho.. ternyata..
    oh, minho udah suka taemin dari awal..

    daebaaakk author 🙂

  2. mau bilang apa yah..? Jadi lupa..
    Ksian yeoja yg naksir 2min.. Hehe..
    Walopun aku ga suka boy x boy tpi ya keren lah..

  3. JongTae, 2Min…. Akh, siapa ini authornya? Cerita ini…

    NAN JEONGMAL JOHAYO!! XDD

    Ish, sumpah. Awalnya kirain cuma 2min, eh taunya ada yang nyelip disana. Hahaa.. 😀

    Bahasanya ringan, mudah dimengerti. Keren lah pokoknya ^^b

  4. ceritanya keren thor walaupun rada’ nyesek kalau aku jadi yeoja2 yang naksir mereka

    tapi ceritanya asik kok thor daebak 😀 (y)

  5. -_-‘
    gak baca bner-bner jd kaget ternyata yaoi..
    sebenarnya aq gak suka, khususnya 2min. tapi, ceritanya keren… aq suka.
    lain kali aq psen jngan yang yaoi napa thor? tapi main castnya taemin.. ^^

  6. Huaaaaa. Baru liat ini. Maaf nggak bisa reply satu-satu ya. Demi langit dan bumi, aku nggak nyangka ada yang suka sama ff ini. Padahal FF ini kurasa aneh bin ajaib banget u,u
    makasih buat semua yang udah baca. Fyi, sebenernya aye bukan author FF semacem ini..ini first, jadi mian ya kalau acakadut. Min, mian juga lupa nyantumin end. Hehehe.
    For everyone, wait for my next story ya *ga ada yang mau*
    Ah, tak apalah.wkwkwk. Again, gomawoooo

  7. reader nyasarrr,ninggalin jejak,hehe
    pas minho nyium taem,jd keinget shinee hello baby,minho nepsong bnerr,hehe
    nice ff^^

  8. awlnx agk ragu bcanx,krna q sjjrnx agk geli klau dngan yg yaoi gtu,tpi pas udh bca eh….trnxta kren…..
    bda am yaoi lain…… lucu and friendship nx dpet……
    ska am nih ff…..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s