Endless Moment (Sequel Eomma In Memory)

ENDLESS MOMENT SQUEL [EOMMA IN MEMORY]

Author : *Azmi

Maint cast :

  • Onew a.k.a Lee Jinki
  • Seo Hyera
  • Lee Hyeki a.k.a Jinhye Couple’s Daughter

Length : One shoot

Genre : Romance, Sad, Marriage life

Rating : PG 13

Summary: “Mungkin tidak di tempat ini ataupun dalam lingkup waktu saat ini, tapi aku percaya kita akan bersama kelak dan pastinya lebih bahagia.”

A/N : Disarankan sebelum membaca Squel-an ini untuk membaca yang versi story awalnya bagi yang belum. Karena mungkin akan agak bingung kalau gak tahu cerita awalnya, story-nya bisa di cari di Library One shoot. #kira-kira ada yang masih ingat gag ya ma tu FF??//author labil. O-KEY dech… selamat menikmati…

 

STORY!!

Lee Jinki mendorong troli yang memuat beberapa koper miliknya dan milik gadis yang tengah mengedarkan pandangannya ke penjuru bandara sambil berdecak kagum disampingnya ini. Mata gadis itu terlihat berbinar terang, langkahnya juga sangat ringan dengan senyum kagum yang tak pernah lepas dari bibir mungil yang mengingatkan Jinki pada seseorang. Mungkin ini bukan salah satu bandara terbaik yang pernah gadis itu kunjungi, namun mungkin karena ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat ini membuat gadis itu begitu antusias, mengingat temapat ini merupakan tempat satu-satunya yang sangat ingin ia datangi.

“Daddy, ini korea?” tanyanya antusias. Matanya tak pernah lepas dari keadaan sekeliling yang begitu menyita perhatiannya. Sebenarnya pertanyaannya itu tak membutuhkan jawaban, toh dari awal ia sudah tahu, pesawat dari Kanada yang ditumpanginya memang seharusnya membawanya ke Korea.

Jinki hanya melempar senyum pada putri satu-satunya itu yang bahkan gadis itu sama sekali tak bisa melihatnya mengingat gadis itu yang sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari sekeliling bandara. Masih berdecak kagum.

“Daddy, kau harus menanggapi pertanyaan putrimu!!” Protesnya merasa dihiraukan.

Jinki memutar bola matanya jengah, “Kau terlalu asyik memandangi sekelilingmu Hyeki-ya sampai tak melihat respon dari Daddy gantengmu ini. Berhentilah berdecak kagum seperti itu, bandara ini tak sehebat di Kanada…” balas Jinki.

Gadis yang dipanggil Hyeki itu menoleh cepat pada Jinki sembari mencibir, “Walau tak sehebat di Kanada, yang penting aku suka. Dan berhentilah membanggakan Kanada, bukankah Daddy lahir di negara ini?” nampak raut kesal diwajah kecil Hyeki.

Gadis itu berjalan cepat meninggalkan Jinki yang masih kerepotan mendorong trolinya. “Ya!! Jangan tinggalkan Daddy, memang kau tahu letak mobil kita? Ya!! Hyeki-ya pelan-pelan!!” Jinki berusaha menyusul Hyeki yang sudah berada jauh didepannya. Anak itu benar-banar lincah, lihat saja caranya berlari.

Jinki menghempaskan tubuhnya disebuah bangku loby setelah lima belas menit berputar-putar disekitar bandara mencari putri satu-satunya yang ternyata tengah asyik menikmati satu cup besar Ice cream di bangku yang sama yang tengah ia duduki kini.

Ia berdecak kesal, perjalanan dari Kanada ke Korea bukanlah jarak yang dekat, tapi sesampainya di Korea bukannya istirahat malah harus direpotkan dengan tingkah putri kecilnya yang kelewat aktif.

“Hyeki honey,,, berhentilah mondar-mandir kesana kemari, apa kau tidak capek Hmm?? Jujur saja Daddy sudah tak sanggup mengikuti hiperaktifmu…” kata Jinki sambil mengelus puncak kepala Hyeki sayang.

Gadis yang semula tengah sibuk dengan Ice cream srtoberry itu seketika menoleh dan memandang tajam pada Daddy-nya. “Daddy, kau sudah berjanji akan menemaniku mengunjungi Eomma begitu sampai di Korea, kau tak bermaksud melanggar janjimu ‘kan??” terlihat kilat tak suka dari raut wajah Hyeki, memandang lurus pada ayahnya.

“Tidak harus sekarang kan sayang, besok saja Ne? Daddy lelah…” Tolak Jinki halus. Jujur saja Jinki memang sudah sangat lelah, mengingat penerbangannya dari Kanada yang tengah malam ditambah pekerjaannya siang sebelum keberangkatan kemarin begitu menguras tenaga.

“Daddy sudah berjanji padaku…” lirih Hyeki, kepalanya tertunduk kecewa. Bukankah tujuan utama mereka pindah kemari adalah karena ingin bertemu dengan ibu Hyeki untuk pertama kalinya. Tapi sekarang begitu sampai disini kenapa malah jadi begini. Besok itu terlalu lama bagi Hyeki. Duabelas tahun hidupnya, sama sekali Hyeki belum pernah bertemu ibunya, walaupun hanya makamnya. Itu adalah hal yang paling diingainkan Hyeki dalam hidupnya.

Jinki menghela nafas panjang, dari dulu semenjak Hyeki bisa mengerti keadaannya, satu-satunya hal yang selalu dimintanya adalah pergi ke Korea dan mengunjungi makam Ibunya. Jinki tak bisa menyalahkan Hyeki, gadis seusianya yang bahkan tak pernah mendapatkan sekalipun belaian hangat seorang ibu mau didapatkannya dari mana kasih sayang itu selaian dirinya.

Jinki menarik tubuh mungil putrinya kedalam dekapannya, “Arasseo,, kita langsung kesana setelah ini.” Kata Jinki akhirnya.

Hyeki melepas dekapan Jinki, “Anio, kita kesana besok saja..” ucapnya ceria.

****

“Ya! Pria malas, keluarlah dari selimutmu, kau tak malu pada matahari yang sudah menampakkan kegagahannya diujung sana…?!!” teriakan melengking itu mengiringi tangan mungilnya untuk menarik selimut yang melingkari tubuh pria yang tadi dikatainya pemalas.

Pria itu tak bergeming, bahkan setelah selimut itu raip dari dekapannya, menampakkan tubuhnya yang hanya dibalut oleh celana pendek dan kaus tanpa lengan.

Gadis itu menyilangkan kedua tangannya didepan dada, menatap jengah pada pria yang masih asyik dalam tidur nyamannya.

Ia berdecak lidah, “Baiklah mulai saat ini, menu ayam akan hilang dari daftar makan kita, tak peduli sarapan, makan siang ataupun makan malam.” Ucapnya santai, “Oh, sup ayam pagi ini mungkin akan menjadi santapan Roo saja, lagi pula pria pemalas penggila ayam ini juga sudah tak berminat lagi pada dada ayam yang super lezat itu!” Tambanya sedikit terkekeh kecil, ia yakin ayahnya akan kelabakan mendengar ancaman klasiknya.

Hyeki sudah hampir membalikkan tubuhnya untuk keluar dari kamar itu sebelum sebuah tangan menariknya paksa dan membawanya bergelung di ranjang berselimut kain biru tua itu. Tubuh Hyeki terkunci oleh dekapan erat tangan dan kaki Jinki membuatnya sulit bargerak bahkan untuk menarik nafas sekalipun.

“Kau tak bisa mengancamku seperti itu lagi Hyeki sayang, Daddy sudah kebal. Seharusnya kau mencari hal lain yang lebih kreatif untuk mengancam Daddy gantengmu ini.” Ucap Jinki santai namun semakin mengeratkan pelukannya pada gadis mungil yang bahkan sekarang tengah berusaha mati-matian menarik nafas karena hidungnya yang menempel sempurna tanpa celah pada dadanya. Ancamannya gagal total.

Hyeki mendorong Jinki sekuat tenaga hingga menciptakan sedikit celah untuknya bernafas, “Daddy! Kau mau membunuh putrimu satu-satunya huh!!” sungutnya marah yang justru hanya dibalas kekehan oleh Jingki masih dengan matanya yang tertubup rapat.

“Ani, mana mungkin Daddy berniat membunuh gadis secantik dirimu.”  Goda Jinki.

“Aiss, aku bukan gadis ABG yang sedang dilanda sindrom cinta yang akan termakan rayuan gombalmu, jangan menggodaku!!” Sekali lagi Hyeki mencoba keluar dari kekangan Jinki, namun nihil. Daddy kesayangannya itu sama sekali tak bergeming.

Mata Jinki terbuka jenaka, berpura-pura shok dan sedikit memundurkan kepalanya yang semula berada tepat diatas kepala Hyeki demi melihat wajah cantik putrinya.

“Aigo aigo… jadi kau mau bilang kau adalah gadis dewasa begitu??” Jinki menggeleng-gelengkan kepalanya sok mendramatisir.

Hyeki memutar bola matanya malas tak ingin menanggapi godaan ayahnya. “Terserah Daddy saja…” gumamnya tak minat.

“Aihh, ada apa dengan putri tercinta Daddy hmm?? Jangan memasang wajah seperti itu!” Jinki mencubit gemas pipi Hyeki yang menggembung dan tentu saja langsung ditepis oleh empunya. Merasa mendapatkan celah, Hyeki memanfaatkan itu dengan sangat baik sehingga sekarang ia telah lolos sempurna dari dekapan Ayahnya.

Hyeki duduk diatas ranjang sembari melipat kedua tangannya didepan dada, “Jangan memperlakukanku seperti anak kecil Daddy, aku sudah besar..” protesnya.

“Jadi kau ingin diperlakukan separti orang dewasa??” Jinki bangkit dari rebahannya, menaik turunkan kedua alisnya menggoda Hyeki.

“Bu-bukan begitu…” merasa terancam dengan tatapan aneh ayahnya, Hyeki berlahan mundur hingga punggungnya menabrak sandaran ranjang.

“Lalu apa??” masih dengan seriangaiannya Jinki semakin mendekati Hyeki yang terpojok.

“Ani lupakan!!” Hyeki menahan dada Jinki agar tak semakin merapat pada tubuhnya, “Daddy hari ini sudah berjanji mengantarku untuk mengunjungi makam Eomma.” Ucapnya mengalihkan perhatian. Bukan sepenuhnya mengalihkan perhatian, tapi memang dari awal tujuannya membangunkan Jinki pagi-pagi begini adalah untuk menagih janji ayahnya untuk membawanya mengunjungi makam ibunya untuk yang pertama kali.

Seriangaian Jinki berlahan hilang digantikan tatapan sayunya, “Arasseoyeo…” ujarnya pasrah.

Namun sedetik berikutnya bibirnya mengembang penuh kemenangan begitu berhasil mengecup telak pipi putrinya.

“YAA DADDY KAU BELUM GOSOK GIGI!!!” teriak Hyeki sama sekali tak berpengaruh karena orang yang sedang diteriakinya kini telah melesat masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

****

LEE JINKI POV~

Hyera…

Aku melihat dirimu dalam sosok putri kita. Dia tumbuh sangat cantik dan berkembang menjadi gadis dewasa lebih cepat dari yang bisa kubayangkan. Dia pandai membuat ayam dalam berbagai olahan, dan kau tahu? Rasanya sama persis seperti buatanmu. Jadi aku tak terlalu rindu dengan masakan buatanmu.

Hyera… dia selalu menagihku untuk membawanya menemuimu. Bukannya aku tak merindukanmu, justru aku sangat ingin bertemu denganmu melebihi apa yang bisa kau bayangkan. Tapi, aku belum siap. Bagaimana jika ia menanyakan tentang dirimu, tentang bagaimana kau berjuang untuk membuatnya terlahir di dunia ini. Aku tak akan sanggup melihat airmata penyesalannya.

Kau bahkan tak sempat mendengar suara tangis merdunya. Kau tahu? Aku merasakan bahagia dan sakit luarbiasa dalam satu waktu. Saat itu aku tak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku, bagaimana keadaan hatiku bahkan aku tak bisa membedakan airmataku, apa itu airmata bahagia atau airmata duka. Aku seperti terangkat ke angkasa namun di tengah jalan sebuah meteor besar menghantamku. Benar-benar sakit.

Saat itu Tuhan adalah satu-satunya hal yang menjadi pelampiasanku. Aku marah, aku mengutuk dan aku membenci-Nya. Ia yang telah membuatmu berjuang dengan sangat keras namun pada akhirnya kau tak pernah bisa menikmati hasil jerih payahmu. Tapi saat melihat bagaimana putri kita tersenyum dan tumbuh besar semuanya lenyap begitu saja. Dia menghapus semuanya, pikiran kotorku dan membuatku sadar bahwa semuanya, semua yang kau perjuangkan tak pernah sia-sia. Dia sangat cantik Hyera-ya, sangat.

Saat hujan terakhir yang bisa kunikmati bersamamu, kau ingat ? kau berkata bahwa anak kita, tak peduli pria ataupun wanita, ia akan terlahir dengan sehat dan kau juga berjanji tak akan mewarisi apapun penyakit yang kau miliki. Dan aku juga bisa memastikan itu tak akan pernah terulang pada putri kita Hyera. Tapi ada satu hal yang membuatku iri, bahwa semua yang dimilikinya hampir semuanya ia dapatkan darimu.

Lee Hyeki adalah putri kita.

POV END

Hyeki beberapa kali menghembuskan nafasnya dan mondar-mandir di depan kamar ayahnya. Gaun yang nampak kebesaran di tubuhnya itu ikut bergoyang mengikuti gerak resahnya. Gaun curian itu, dengan keberanian penuh Hyeki mengenakanya. Bukan curian dari toko, tapi gaun putih yang seharusnya berukuran selutut itu ia dapat secara diam-diam dari dalam koper ayahnya.

Hyeki sekali lagi melirik penampilannya. Gaun itu jatuh sampai tiga senti dibawah lututnya, lengan yang seharusnya hanya sampai siku itu menjadi lengan tiga perempat. Walau terlihat kedodoran namun di tubuh Hyeki gaun itu nampak sangat cantik dengan kesederhanaannya, ditambah dengan bando putih polos yang membatasi poni dengan geraian rambut panjangnya.

Sekali lagi Hyeki menhela nafas, ‘Apa Daddy akan marah?’ Hyeki sama sekali tak mampu menyembunyikan kegelisahannya. Tapi tekatnya sudah bulat, satu hari ini ia ingin menjelma menjadi ibunya. Ia ingin merasakan dan menunjukkan pada dunia bagaiman seorang Lee Hyeki sangat mirip dengan Ibunya.

Berlahan Hyeki membuka pintu kamar Ayahnya. Ia masuk dan mendapati Ayahnya menangis memandang foto Ibunya yang tengah mengenakan gaun yang sama persis dengan yang dipakainya saat ini, bahkan Ayah yang sangat dicintainya itu tak menyadari kehadirannya.

Hyeki membuka suara, “Daddy.” Panggilnya lirih.

Jinki mengangkat wajahnya dan mengusap airmatanya cepat, namun saat melihat putri kecilnya itu berdiri dengan gaun yang sama seperti yang ada di foto yang tengah digenggamnya, Jinki terpekur.

Pria dengan kardigan coklatnya itu meletakkan foto istrinya diatas nakas kemudian beringsut mendekati Hyeki.

Kedua tangan kecil Hyeki mengepal, bibir bawahnya ia gigit demi untuk menutupi kegugupannya.

Jinki berjongkok di depan Hyeki dan meraih kedua tangan gadis 12 tahun itu, menggenggamnya hangat “Kau sangat mirip ibumu sayang…”

Mata Hyeki berbinar seketika, rasa gugup yang tadi menggelayari tubuhnya kini lenyap begitu saja, “Benarkah?” tanyanya semangat.

“Geurae, Neomu Yeoppo persis seprti Hyera!” Jinki tersenyum membalas Hyeki. Tangannya bergerak keatas menggusak puncak kepala Hyeki.

“Tapi akan lebih cantik jika Hyeki mengganti gaun itu dengan gaun yang Daddy belikan sebulan yang lalu, bukankah Hyeki belum pernah memakainya? Eomma pasti sangat senang melihat Hyeki mengenkan baju baru dihari pertama ia bertemu denganmu…”

Senyum Hyeki lenyap seketika, “Daddy tak suka aku memakai gaun Eomma?”

“Bukan begitu sayang. Gaun itu telalu basar di tubuhmu. Hyeki tak malu dilihat orang-orang dengan gaun kedodoran seperti itu?”

“Arraseoyeo…”

Jinki menghela nafas.

****

Jinki tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Ia meletakkan kembali sisir yang ia gunakan keatas meja rias putrinya.

“Begini lebih cantik!” pujinya. Ia memandang penuh takjub pada putrinya lewat pantulan cermin.

Hyeki tampak manis dengan gaun merah jambu selutunya, dan kali ini tak kebesaran. Gaun itu melekat sempurnya di tubuhnya. Bando putih polos itu juga masih bertengger di kepalanya, namun bedanya rambut yang semula dibiarkan tergerai itu kini terikat dengan sangat rapi. Jinki boleh bangga dengan hasil karyanya, karena Hyeki semakin terlihat mirip dengan Ibunya saat rambut indah itu ia kepang kuda.

“Sekarang kau sudah siap bertemu dengan Eomma. Kajja!!”

****

FLASH BACK

JINKI POV

Kau membuatku terkena serangan jantung lagi Hyera. Mau sampai kapan kau mempermainkan jantungku? Melihat keadaanmu yang tiba-tiba kembali memburuk membuat dadaku semakin sesak saja. Kenapa nafasmu selalu seperti itu? Tak bisa kah nafas itu selalu mengiringi hidupmu dengan konsisten tanpa berhenti mendadak seperti tadi? Ini sudah untuk yang kesekian kalinya.

Kupandangi terus wajah damai itu. Sejak tiga bulan yang lalu, mata itu tak pernah lagi terbuka untuk menatap indahnya dunia. Aku memintanya untuk pergi, bukan untuk menyiksa dirinya sendiri seperti ini. Aku lebih baik melihatnya terbaring damai di sisi Tuhan dari pada harus menyaksikan bagaimana ia menyiksa sendiri hidupnya yang bahkan selalu mempermainkannya. Berjuang untuk mempertahankan anak yang berada di rahimnya dan mengabaikan sakit di tubuhnya sendiri.

Aku tahu, dari awal kita bertemu watak Hyera memang seperti itu. Ia keras kepala dan selalu berhasil menyembunyikan rasa sakitnya dengan sangat sempurna. Aku tak tahu, dari mana gadis rapuh itu mendapat kekuatan untuk menahan ngilu di seluruh jengkal tubuhnya. Dr. Han Chae Kyeong, dokter spesialis hati yang menangani Hyera mengatakan bahwa gadis yang sangat-sangat aku cintai itu begitu hebat. Semangatnya untuk bertahan begitu luar biasa hingga ia mampu menepis kerusakan yang cukup parah di hatinya.

Wajahnya sudah tak secerah dulu, ia jadi sangat kurus dengan perut yang semakin membuncit setiap harinya karena keberadaan malaikat kecil di dalamnya, malaikat yang membuatnya bertahan hingga kini.

Jari-jari tangannya juga semakin kurus, hingga membuatku tak kuasa untuk melepaskannya dari genggamanan tanganku barang sedetikpun. Terlihat sangat rapuh membuatku ingin-jika saja bisa-menggantikan posisinya dengan diriku sendiri.

Aku merasa Tuhan sangat tak adil. Tak bisa kah bunga mawar yang telah layu itu kembali merekah? Kapan hujan itu akan datang membawa pelanginya untuk istriku?

“Hyera~” suara pintu berdecit disusul dengan lirihan wanita paruh baya, membuatku mengalihkan pandanganku dari Hyera. Wanita yang hampir tepat tiga tahun ini menjadi Ibu mertuaku. Aku jadi ingat besok adalah tepat tiga tahun kami-Hyera dan aku-menikah.

Aku beranjak, membiarkannya menempati kursi yang tadi kududuki.

Tangan yang mulai mengeriput itu menggantikan tanganku yang semula menggenggam jemari hyera. “Sekarang apa lagi Hyera-ya? Mengapa kau suka sekali membuat orang lain cemas?”

Aku mengusap bahu ibu mertuaku, menengangkan. Walau sebenarnya aku pun tak setenang itu. Melihat wanita berumur 45 tahun itu begitu deras menitihkan air mata membuat milikku juga melesak keluar.

“Eomonim, tenanglah~”

****

Aku tak pernah melepas senyum yang menyungging dari bibirku. Hari ini adalah tepat tiga tahun aku mengikat janji dengan gadisku.

Tadi Eomonim memintaku untuk pulang, ia bilang wajahku telihat kelelahan dan membutuhkan istirahat. Benar, sudah tiga hari aku tak pulang dan tak tidur, keadan Hyera yang kembali memburuklah yang membuatku tak beranjak dari rumah sakit sama sekali.

Eomonim meyakinkanku bahwa ia akan menjaga Hyera dengan sangat baik membuatku terpaksa untuk menurutinya agar aku pulang, mandi dan tidur untuk sejenak. Lagi pula untuk apa aku meragukan kesungguhan seorang ibu pada anaknya, sedangkan di depan mata kepalaku sendiri kini gadis yang sangat aku cintai tengah mati-matian demi mempertahankan anaknya.

Aku menyempatkan diri untuk membeli sebuah kue tart saat dalam perjalanan kemari. Ini Aniversary kita yang ketiga jadi mana mungkin aku melewatkan moment yang membahagiakan seperti ini.

Kue berlapiskan krim diseluruh permukaannya itu nampak indah dengan hiasan-hiasan bungan diatasnya. Di tengah kue itu terdapat sebuah lilin berbentuk angka tiga yang di kelilingi berwarna-warni permen kecil-kecil di sekitarnya.

Aku menyusuri koridor rumah sakit di lantai 5 itu dengan jantung berdetak keras. Mungkin saja Hyera akan bangun di hari penting seperti ini. Bukankah itu yang sering terjadi di Film-film atau Drama-drama yang sering ditontonnya? Ahh,,, aku tak sabar melihat manik coklat terang itu kembali memandangku dengan penuh cinta seperti dulu.

Pelan-pelan kuputar knop pintu ruang di mana Hyera istirahat. Jantungku kembali berdetak tak normal, ini mengingatkanku saat dimana dulu aku menantinya yang sedang berjalan kearahku untuk mengucapkan janji setia.

Namun begitu pintu itu terkuak terbuka, harapan itu sirna seketika. Dia, Hyera masih tenang dalam tidurnya, terlihat sangat nyenyak tanpa terusik. Jujur aku sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Dari pada menyaksikannya seperti kemarin lebih baik ia seperti ini saja.

Kuletakkan kue yang semula berada dalam genggamanku keatas nakas di samping tempat tidur Hyera. Aku menengok kesamping dimana Eomonim juga tengah tertidur, mungkin ia juga lelah.

Aku menyeret kursi sedikit kebelakang kemudian mendudukinya. Ku genggam tangan Hyera yang bebas dari selang infus.

“Hyera~ Chagy?” aku mengelus tangan itu dengan sangat berlahan. kulit rapuh itu membuatku takut akan membuatnya terkelupas jika aku terlalu kasar mengelusnya.

“Kau merindukanku?” tanganku berpindah menyingkirkan beberapa anak rambut yang jatuh di atas kelopak matanya yang tertutup. “Semalam kita tak bertemu, apa itu membuatmu merindukanku?”

“Aku sangat merindukanmu, walau baru sekitar tujuh jam aku tak memandang wajahmu….”

Aku mencoba mengajaknya bicara, berharap ia akan membalasnya. Berharap dengan begitu ia akan merespon, tapi selama tiga bulan ini aku mencoba dan tak ada hasilnya sama sekali. Ia tetap saja tidur, kelopak matanya seakan lengket oleh lem.

“Hari ini adalah aniversary kita Hyera, apa kau mengingatnya? Dua tahun terakhir kau selalu memberiku hadiah, apa sekarang kau tak mau memberiku hadiah lagi?”

Air mataku kembali mengalir. Tak ada hari tanpa air mata, setidaknya untuk tiga bulan terakhir ini. Aku tak pernah bisa seperti dirinya yang begitu lihai dalam menyembunyikan air matanya dariku. Aku tak kuasa kalau tak menangis.

“Chagy,,, apa yang tengah kau fikirkan saat ini?” tanyaku lagi.

“Mau kah kau menceritakannya padaku?” masih hening, Rumah sakit ini tak pernah terhiasi oleh senyum ataupun nada ceria darinya semenjak ia menginjakkan kakinya disini.

“Aku mencintaimu Hyera. Kau juga mencintaiku ‘kan?” air mataku semakin deras mengalir.

“Aku ingin mendengar kata cinta lagi darimu Hyera… sekali saja. Setidaknya itu untuk hadiah Aniveersary kita. Katakan kau mencitaiku, Jaebal…”

Aku menutup mulutku dengan telapak tangan untuk meredam isakanku. Aku tahu Hyera dapat mendengarku, ia hanya tak bisa bergerak dan menyuarakan lenguhan hatinya dan aku tak mau ia sedih mendengarku terisak seperti ini.

Kuusap buru-buru wajahku, kutatap lagi wajah tanpa ekspresinya.

“Hyera, aku merindukan suaramu, senyumu, rengekanmu. Aku merindukan saat kau bermanja-manja di pangkuanku dan aku merindukan ciuman selamat pagimu. Kapan kau akan melakukan semua itu lagi untukku? Bisakah?”

Aku mengambil kue di atas nakas kemudian mendekatkannya pada Hyera.

“Ayo tiup lilinnya. Semoga pernikahan kita akan bahagia sampai tua, sampai kakek-nenek hingga maut memisahkan kita….” seiring dengan meluruhnya kembali air mataku, kutiup sendiri lilin itu menyisakan sebuah kepulan asap kecil yang menggantikan nyalanya. Kosong, Aniversary tahun ini terasa hambar bahkan menyakitkan.

Tuhan, Tolong sembuhkan Hyera-ku…..

Aku bangkit dan menaruh kue tanpa nyala lilin itu kembali keatas nakas. Kepalaku bergerak condong untuk mengecup sekilas kening istriku.

‘Saranghae, cepatlah sadar…’ bisikku lirih.

Aku menoleh memandang mertuaku yang masih terlelap dalam dunia bawah sadarnya. Ia pasti lelah menjaga Hyera semalaman.

Kuhampiri sosoknya kemudian sedikit mengguncang bahunya. “Eominim, bangun!”

Mata yang sama persis seperti milik Hyera itu berlahan terbuka. Dalam sosok itu aku seperti melihat Hyera di masa depan, apa Hyera akan tampak seperti beliau saat sudah mulai tua nanti? Atau aku tak akan pernah melihatnya tumbuh menua bersamaku? Ya Tuhan, kenapa takdirku begitu menyakitkan?

“Jinki-ya, kau menangis nak?” aku terpekur, wajah itu nampak cemas memandangku.

Segera kuusap air mata yang lagi-lagi merembes. “Ani!” jawabku. Aku tersenyum tipis, “Eommonim pasti lelah, pulanglah. Ayo kuantar sampai bawah!”

Tanpa memprotes Eomonim bangkit dari sofa kemudian menghampiri Hyera dan mengecup keningnya dalam.

“Hyera, Eomma sudah merelakan apapun yang akan terjadi padamu nanti. Aku tahu Tuhan pasti merencanakan yang terbaik untukmu. Berjuang ataupun menyerah tak ada bedanya, yang terpenting apapun pilihanmu kau harus tersenyum. Eomma menyayangimu, berbahagialah…” bisiknya lirih. Tapi selirih apapun suara Eommonim, kata-kata itu terdengar sangat jelas di telingaku, tak tahu apa karena suasana ruangan ini yang begitu sunyi atau karena kata-kata itu yang membuatku merasa sesak. Entah mengapa kata-kata Eommonim terdengar seperti sebuah kata… perpisahan?

Aku mengekori Eommonim di belakangnya hingga kini kita sudah berada di loby rumah sakit. Aku menemaninya menunggu taxi dan akhirnya setelah lima menit sebuah taxi berhenti di depan kami.

Eommonim menolehkan wajahnya kesamping untuk memandangku dengan mata sembabnya.

“Jinki-ya!” lirihnya. Tangannya terulur mengelus pipi kiriku dengan sangat lembut. Matanya menyiratkan kasih sayang yang teramat besar membuatku teringat pada almarhumah Eomma.

“Kau sudah bekerja sangat keras. Terimakasih sudah mencintai putriku begitu basar,,,” air matanya kembali meluruh. Aku tak kuasa untuk tak menagis, kuusap air matanya.

“Aku akan tetap berjuang Emmonim…” balasku.

“Terima kasih. kau hiduplah dengan baik setelah ini, makan yang teratur dan jaga kesehatanmu…” Eommonim menarik tangannya dari permukaan pipi kiriku, tersenyum tipis.

“Setelah ini?” apa maksunya dengan kata ‘setelah ini’?

Eommonim tak menjawab ia langsung memanglingkan mukanya, namun masih dapat kutangkap mata itu kembali meluncurkan laharnya. Dengan cepat Eommonim masuk kedalam taxi.

“Eommonim…”

Apa yang dikatakan Eommonim? Setelah ini? Setelah ini apa? Memang apa yang akan terjadi setelah ini?

Aku tak bisa menerima kata-kata itu. Aku bukan orang bodoh yang tak bisa mengartikan kata-kata sesederhana itu. Tapi kenyataan bahwa kata-kata itu seperti menegaskan bahwa akan terjadi hal buruk lah yang membuatku sangat tak bisa menerima kata-kata itu. Sampai matipun aku tak akan menyerah. Hyera saja masih bertahan kenapa aku harus menyerah?

Aku membeli sebuah minuman soda di mesin minuman. Aku duduk di sebuah bangku kayu di loby rumah sakit. Aku ingin menenangkan sedikit pikiranku.

Kutenggak habis minuman soda itu dalam satu tarikan nafas. Entahlah aku juga tak percaya aku bisa melakukannya, tapi buktinya kaleng itu bahkan sekarang telah berubah bentuk tertekan kuat oleh telapak tanganku.

Aku beranjak dan melemparkan kaleng minuman yang telah kosong itu kedalam tong sampah. Kini aku kembali melengkahkan kakiku menuju kamar Hyera di lantai atas. Aku tak akan menyerah Hyera kecuali kau yang menyuruhku menyerah, aku janji.

Pintu lift yang kunaiki terbuka di iringi oleh dentingan khasnya. Baru tiga langkah aku keluar dari lift, seorang suster dengan membawa sebuah nampan yang aku tak tahu alat apa yang berada di atasnya menabrak bahuku. Tanpa meminta maaf atau apapun ia kembali melanjutkan langkah tergesanya.

Namun mataku melebar sempurna begitu melihat suster itu masuk ke ruang dimana Hyera beristirahat. Tanpa di komando aku berlari mengejarnya, aku harus tahu apa yang terjadi pada istriku, mengapa ia masuk kesana? Namun selangkah sebelum bahu itu mampu kugapai pintu ruang Hyera tertutup dengan sebuah dentuman cukup keras.

Dengan kalut kupurar-putar knop pintu itu, namun tak mau terbuka. Mengapa meraka mengunci pintunya? Dia istriku, aku ingin melihatnya, aku berhak tahu keadaannya.

Aku menggedor-gedor pintunya berkali-kali dengan sangat keras, tak peduli pasien yang lain akan terganggu, aku harus masuk dan mengetahui keadaan Hyera.

“YA!!! BUKA PINTUNYA!!!” aku tak bisa mengedalikan diriku. Sungguh siapapun yang ada didalam, kumohon bukakan pintunya untukku, biarkan aku masuk, biarkan aku melihatnya. Kumohon…

Aku memutar tubuhku cepat, berjalan kearah jendela kaca kecil sekitar berukuran tiga puluh senti. Tubuhku menegang. Ada sekitar lima orang di ruang sana dengan jas putih mereka mengerubungi tubuh Hyera hingga aku tak mampu melihat wajahnya, hanya kaki yang terbungkus selimut hijau muda yang mampu tertangkap oleh indra penglihatanku.

Aku ingin menagis, aku ingin berteriak dan menyebut nama Hyera, tapi mengapa justru tubuhku kaku dan tak mampu bersuara? Air mataku juga terasa tersumbat hingga tak mampu untuk keluar. Inikah akhir segalanya? inikah yang dimaksud eommonim? Inikah waktu itu?

Tidak, gadis itu telah berjuang terlalu keras, Tuhan tak akan mengambilnya dariku.

Aku melihat dari sela-sela manusia berjas putih yang mengelilingi Hyera, gadis itu terlihat bebarapa kali tersentak ketika alat yang tak kutahu apa namanya itu menyentuh dadanya.

Hyera bertahanlah, kumohon bertahanlah. Demi aku, demi anak kita.

Pintu kamar terkuak, beberapa orang yang tadi di dalam keluar berlahan. Entah mengapa aku tak juga beranjak, tubuhku kaku. Aku tak siap mendengar kabar buruk dari mereka, aku belum siap.

“Ny. Lee Hyera ingin bertemu anda.” Suara berwibawa khas dokter itu membuat air mataku seketika meluncur.

Apa maksud kata-kata itu? Hyera, ia sudah sadar?

Aku melesak masuk tanpa menghiraukan beberapa manusia berjas putih yang kutabarak di pintu masuk.

Aku kembali terpekur. Mata yang selama tiga bulan itu selalu mengatup kini terbuka, menatapku dengan pancaran yang tak bisa kuartikan. Senyum tipis tersungging di bibir yang tak pernah sekalipun bergerak selama ia koma. Aku membeku di depan pintu. Ini keajaiban, eommonim salah. Hyera-ku tak akan pergi kemana-mana, ia akan tetap berada di sisiku untuk selamanya. Lihat senyumnya itu, betapa aku sangat merindukan itu.

“Oppa…” suara itu….

“Oppa kemarilah….” suara itu…

Aku sangat merindukan suara itu, ya Tuhan terima kasih.

“Oppa mau sampai kapan kau berdiri di sana? Kemarilah!”

Aku berhambur cepat kearahnya, kupeluk tubuhnya dengan sangat-sangat erat. Ya Tuhan aku tak sedang mimpi kan? aroma tubuhnya sedikit berubah, tak sewangi dulu. Tapi aku kenal dengan sangat jelas dia masih Hyera-ku yang sama.

“Oppa sesak….”

“Aku sangat merindukanmu Hyera, sangat. Aku sangat merindukanmu…”

“Na ddo Oppa.”

POV END~

FLASHBACK END~

****

“Daddy, kita sudah sampai.” Tangan kecil Hyeki menyentuh bahu Jinki dengan pelan, membangunkan Jinki dari lamunannya. Matanya yang sedari tadi menatap kosong jalanan tanpa benar-benar fokus pada apa yang tengah dilihatnya itu beralih memandang putrinya.

Gadis itu tampak melihatnya prihatin, menyadari itu Jinki buru-buru menghapus airmatanya. “Kajja!” dengan senyum tersungging Jinki hendak membuka pintu mobilnya namun tangan kecil Hyeki kembali menahan lengannya.

“Tapi di luar tengah gerimis Daddy…”

Jinki terpekur. Ia menoleh, mengintip lewat kaca jendela mobilnya. Benar hujan, walau tak deras tapi rintik-rintik kecil itu tampak rapat menhujani bumi. Jinki meringis, padahal tadi sepanjang perjanan ia memandang jalanan tapi sedikitpun tak menyadari bahwa sedang gerimis.

“Tak apa, kita pakai payung sayang. Lagipula hujannya juga tak terlalu lebat!” ucap Jinki, “Pak Song, tolong ambilkan payung di bagasi belakang…” Jinki meminta tolong pada supirnya.

“Tak usah Paman!” Sela Hyeki, “Kita tunggu sampai hujannya reda saja.” Sambung Hyeki.

Gadis itu menyenderkan tubuhnya di Jok belakang. Matanya ia katupkan. Bibir kecilnya nampak memutih karena ia gigit.

“Hyeki Wae?” Jinki memandang bingung putrinya.

“Aku gugup…”

“Kenapa harus gugup sayang?” Jinki mengelus puncak kepala Hyeki lembut. Memandang putrinya yang masih mengatupkan kelopak matanya. Menyembunyikan bola mata coklatnya.

“Walau Daddy belum menceritakannya. Tapi…” Hyeki mambuka matanya dan menatap Ayahnya. Kedua tangannya tampak saling meremas di atas pahanya yang terlapisi gaun merah jambunya.

“Daddy sebenarnya aku… aku telah membaca beberapa surat-tidak semua-yang ditinggalkan Eomma untuk Daddy diam-diam…” jelas Hyeki, matanya sudah berair. Untuk pertama kalinya bagi gadis kecil itu menangis di hadapan ayahnya karena Ibunya. Sebelumnya Hyeki berjanji bahwa tak akan membuat Ayahnya sedih karena rasa rindu Hyeki pada Ibunya. Ia tahu Ayahnya sama sekali belum bisa melupakan Ibunya. “Apa benar Eomma meninggal karena mempertahankanku, Daddy?”

Jinki kembali terpekur. Hal yang ditakutnya benar-benar terjadi. Hyeki mengetahui semua yang selama ini mati-matian ia sembunyikan.

“Eomma yang seharusnya bisa bertahan lebih lama harus…” Jinki memotong ucapan Hyeki dengan memeluknya erat.

“Tidak.” Jinki tak pernah menyalahkan Hyeki atas kematian Hyera. Kematian Hyera sudah ada yang mengatur, lagi pula ia sudah tak kuat melihat penderitaan Hyera waktu itu. Kematian adalah jalan satu-satunya. Kedokteran dulu tak semaju sekarang, yang apapun bisa transplantasikan untuk mengganti organ kita yang rusak, termasuk juga bahwa sekarang tengah di uji keberhasilannya untuk mentransplantasikan otak. Dua belas tahun berlalu dengan sangat menakjubkan, tak luput juga dunia kedokteran yang semakin maju. Kadang Jinki menyesal, kenapa ia hidup di jaman itu. Mengapa tak sekarang saja, ia rela memberikan hatinya pada Hyera, jika saja itu bisa.

“Maafkan aku… Daddy.”

****

FLASHBACK~

HYERA POV~

Aku membuka mataku berlahan, terasa sangat berat, seperti kelopak mata bagian bawah dan atas mataku terekat oleh suatu zat. Dadaku juga terasa sedikit ngilu seperti habis dihantam oleh benda besar.

Aku mengatupkan lagi kelopak mataku saat cahaya lampu di atasku terasa menyengat masuk bola mataku, kukerjab-kerjabkan beberapa kali. Aku sudah lelah tidur dan aku ingin bangun menatap mereka semua, Eomma dan terutama Jinki, suamiku. Mendengar mereka selalu menangis setiap hari membuatku tersiksa tapi aku tak kuasa untuk sekedar membuka mataku apalagi untuk bergerak.

Aku berharap saat mataku terbuka orang pertama yang kulihat ada Jinki, tapi harapan itu sia-sia ketika justru dokter-dokter itu yang menatapku penuh khawatir, namun saat mereka menyadari aku telah bangun terlukis sanyum lega di raut wajah tegang mereka. Terima kasih sudah berusaha untuk menyelamatkanku, aku berhutang budi pada kalian.

Aku tersenyum tipis, “Eomma,,, suamiku…” ucapku tersendat. Kenapa dengan suaraku? Kenapa terasa berat sekali untuk mengeluarkan suaraku?

“Kami akan memanggilkannya untuk anda!” aku kembali tersenyum kemudian mereka semua meninggalkanku.

Kuedarkan pandanganku ke kenjuru kamar. Aku tersenyum melihat bingkai foto yang terpajang apik diatas diding di samping televisi, fatoku dan Jinki ketika tengah berlibur di pulau Komodo, Indonesia. Kemudian mataku menangkap sebuah kue tart yang masih utuh namun nyala lilin diatas nya telah padam. 3? Ini Anyvarsary kita yang ke tiga Oppa?

Aku kembali mengedarkan mataku dan semua terasa berhenti ketika bayangan itu tertangkap oleh retina mataku. Wajahnya masih sama, tubuhnya, tingginya, kulit putih pucatnya dan mata sipitnya masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya di televisi saat konsernya di Jepang.

Aku tersenyum untuknya namun tubuh yang kurindukan itu masih membeku di tempatnya. Aku ingin sekali menghambur padanya dan memeluknya dengan sangat erat, tapi tubuhku terasa berat untuk di gerakkan.

Aku hampir tejungkal ketika tubuhnya menghambur kearahku dengan tiba-tiba setelah beberapa kali aku memanggilnya. Pelukannya sangat erat hingga membuatku sesak, Yaa Lee Jinki kau mau membunuh istrimu ya?!!

“Aku sangat merindukanmu Hyera, sangat. Aku sangat merindukanmu…”

“Na ddo Oppa.”

Aku juga sangat sangat sangat merindukanmu Oppa, melebihi yang kau tahu.

Aku mencoba membalas pelukannya tapi entah mengapa tak bisa seerat dirinya. Tanganku terasa lemas sekali, Yaaa ada apa dengan tubuhku??!!

Aku merasakan bahuku yang tertindih kapalanya basah. Aku tahu dia menangis, tapi aku sudah bosan, aku bosan mendangarnya menagis.

Aku mencubit pelan pinggangnya dan seketika itu pula pelukannya terlepas. Ia menatapku kesal. Raut wajahnya yang seperti itu sungguh lucu. Dengan berurai airmata, bibirnya mengerucut lucu. Aku jadi ingin menggigitnya, apa lagi matanya yang semakin sipit, menggemaskan.

“Jangan menagis terus… Mau ku kembalikan ke TK lagi, hmm?!!”

Wajah sebalnya meluntur seketika. Kurasa apa yang barusan terlontar dari mulutku cukup lucu, tapi mengapa wajahnya justru berubah serius.

Sekali lagi ia berahambur memelukku.

“Kau terbangun setelah sekian lama tertidur, jadi mana mungkin aku tak menitihkan air mata?” ia menghujami puncak kepalaku dengan kecupan-kecupannya. Yaa aku belum keramas lebih dari tiga bulan Lee Jinki!!

Aku terkekeh, “Tapi kau bukan hanya menitihkan airmata pabo! Kau menagis tersedu di tengah statusmu sebagai pria dewasa!!” aku menepuk-nepuk punggungnya dengan kasih sayang. Sebenarnya aku juga ingin menangis, ingin sekali. Tapi rasanya akan sangat menyakitkan ketika harus menyaksikan raut wajah kawatirnya untukku.

“Aku senang sekali Hyera-ya. Tetaplah membuka matamu…” aku tak mengangguk maupun menggeleng, aku hanya tersenyum yang walaupun ia tak mampu untuk melihatnya. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti?

****

Angin musim semi berhembus sejuk, masuk ke dalam kamarku melalui jendela yang sengaja di buka Jinki Oppa tadi. Dapat kulihat bunga-bunga mulai bermekaran. Aku ingin memetiknya dan menghirupnya dalam. Tapi itu semua hanya sebatas keinginan. Walau jika aku meminta Jinki Oppa untuk mengantarku ke luar dan jalan-jalan di taman ia pasti tak akan menolak. Tapi aku tak bodoh, aku tak boleh egois, aku harus menjaga kesehatanku, aku tak mau tindakan kekanak-kanakanku akan mempengaruhi kondisi malaikat kecil yang masih sangat bergantung denganku. Merasakan segarnya angin itu saja sudah sangat lebih dari cukup.

Aku tersenyum memperhatikan lekat-lekat Jinki Oppa yang berada di pangkuanku. Mata sipitnya terpejam sedangkan tangan kanannya memeluk kedua kakiku yang menumpu kepalanya dengan erat. Ia tampak sangat bahagia. Wajahnya walau terlihat lelah tapi ada pancaran binar di sana.

Tanganku terulur, merasakan betapa lembut pipi tembam itu. Alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya dan aku paling suka dahinya. Entah mengapa aku tumbuh menjadi gadis maniak dahi. Aku selalu suka membelai dahi orang lain, terutama dahi Jinki Oppa. Dulu saat belum mengenal Jinki Oppa, aku tak akan bisa tidur kalau belum mengelus dahi Eomma. Tapi saat Jinki Oppa hadir dalam hidupku semua berubah. Aku tak memerlukan lagi dahi Eomma untuk bisa terlelap, cukup dengan dahi suamiku.

“Ada jerawat di dahimu, Oppa?!” aku menekan jerawat kecil itu dengan ujung jari telunjukku agak keras, entah mengapa aku gemas.

“Aww!!” Jinki Oppa meringis sembari menyingkirkan tanganku dari dahinya, “Appo Hyera-ya!!” keluhnya.

Aku semakin gemas melihat ekspresi kesalnya. “Habisnya aku gemas sekali!!!” tangan jahilku berpindah mencubit kedua pipinya.

“Yaaa!!”

Aku terkekeh, “Dan sejak kapan Oppa punya jerawat, hmm??”

“Aku merindukanmu makanya aku jadi jerawatan…” ujapnya kesal.

“Yaaa!! Jadi Oppa menyalahkanku??”

“Tidak!! Eh,,, iya!! Iya, tentu saja kau yang salah. Lihat wajah tampanku jadi ternodai, lihat ini baik-baik….”

Jinki Oppa mendekatkan dahinya yang berjerawat tepat ke depan mataku setelah bangkit dari pangkuanku. Wajahnya sangat dekat hingga membuat detak jantungku ikut berpacu. Yaa!! Aku sudah hidup dengannya lebih dari tiga tahun, kenapa aku masih segugup ini saat berdekatan?

Aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga hingga membuatnya kembali merebah di pangkuanku.

“Oppa!!!”

Aku memukul-mukul kecil bahunya hingga ia sedikit mengaduh. Aku tahu pukulanku tak sakit, tapi dasar Lee Jinki itu pandai sekali mendramatisir keadaan.

Tiba-tiba lenganku di cengkram kuat oleh kedua tangannya sehingga menghentikan semua pukulan-pukulan kecilku untuknya.

“Chagy, kau mendengar sesuatu?” tanyanya serius.

Aku mengernyit dan menajamkan pendengaranku. Tak ada suara apapun.

“Aku tak mendengar apapun.”

“Ayo dengarkan lebih seksama, aku mendengarnya dengan sangat jelas.”

“Tak ada apapun Oppa!”

“Ck… ya sudah, lupakan!”

Aku kembali mengelus dahinya dengan sayang membuat matanya ikut tertutup lagi. Aku tersenyum.

“Tampan…” gumamku tanpa sadar.

“Aku tahu!!” Jinki Oppa menyahut tanpa membuka mata membuatku berdecak lidah.

Kenapa aku selalu menyuarakan isi hatiku tanpa sadar saat berada di sisinya? Memalukan saja.

Ahhh,,, dahinya sungguh mempesona….

Lee Hyera tahan dirimu.

Tapi aku tak bisa, tanpa ku komando wajahku bergerak mengecup dahi itu dalam.

Jinki Oppa tak merespon apa-apa. Seperti tak terjadi apapun, matanya tetap tertutup rapat. Aku menjauhkan wajahku dan tersenyum tipis.

“Oppa…”

“Hmm??” jawabnya lembut, “Pahamu tak seempuk dulu!” sambungnya sembari bergerak menyamankan posisi kepalanya yang menumpu di pahaku. Reflek ku jitak kepalanya.

Jinki Oppa mereingis sebentar, kemudian kembali tersenyum dalam katupan matanya, “Tapi masih senyaman dulu…” ucapnya meringis.

“Oppa, seandainya besok aku pergi, apa Oppa akan menangis dan tak bisa merelakan kepergianku?” tanyaku lirih.

Jinki Oppa seketika bangkit dan menatapku tajam membuatku takut.

Lama ia hanya menatapku tajam. Kemudian hembusan nafas panjang keluar dari mulutnya.

Tangannya terangkat menggusak puncak kepalaku, “Kau ingin pergi?” tanyanya.

Tidak. Sama sekali aku tak ingin pergi kemanapun. Walau kudengar surga itu teramat sangat indah, tapi berada di sisinya adalah satu-satunya hal terindah yang aku inginkan.

Lama tak mendapat jawaban dariku, Jinki Oppa menggeser tubuhnya dan duduk di sampingku. Ia menyenderkan tubuhnya di senderan ranjang rumah sakit yang menjadi tempat tidurku selama lebih dari tiga bulan ini. Bahu kami saling bersentuhan.

“Kau tahu Hyera?” Jinki Oppa kembali menghela nafasnya. Kutatap wajah lelah itu lekat-lekat, “Sebelum menjadi janin, sel Ovum dalam rahim ibu itu harus dibuahi lebih dulu oleh ayahnya menggunakan cinta, baru setelah itu ia akan menjalani proses selanjurnya. Tumbuh menjadi zigot, kemudian morulla dan terus membelah menjadi blastula. Setelah itu ia berkembang lagi menjadi gastrula baru setelah semua oragannya terbentuk ia bisa di sebut fetus atau janin. Perjalan janin dalam rahim ibu tak semudah yang kita bayangkan…”

“Apa dia menderita saat berada dalam rahimku, Oppa?” aku menyela ucapannya.

“Tidak. Karena ia tak berjuang sendirian. Ia berjuang bersama Ibunya. Bernafas, makan, dan beraktifitas, mereka melakukannya bersama, dalam satu tubuh. Oleh sebab itu, orang-orang bilang antara anak dan Ibu itu memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Apa kau juga merasakannya?”

Aku terpekur. Aku sama sekali tak merasakan apapun. Aku tak bisa merasakan apa yang tengah di pikirkan janinku sekarang, aku tak merasakan geraknya sama sekali. Apa aku masih pantas dibilang Ibu?

“Kau tahu Hyera. Walau mereka bilang ikatan seorang ayah terhadap anaknya tak sekuat ikatan ibu terhadapa anaknya. Tapi aku senang, aku bahagia karena walau aku tak merasakan mereka tumbuh dalam tubuhku tapi aku bisa mendengar detak jantungnya ketika aku mendekatkan telingaku di perutmu. Kau hebat sayang!”

Tanpa terasa air mataku meluruh. Aku bahkan tak bisa mendengar detak jantungnya sama seperti yang kau dengar Oppa. Mereka salah, ikatan ayah dangan anaknya jauh lebih kuat.

“Kenapa menangis?” Jinki Oppa mengusap lembut air mataku dengan ibu jarinya.

“Aku tak bisa mendengar detak jantungnya sepertimu, Oppa. Aku tak bisa merasakan apapun!” racauku. “Aku tak pantas menjadi seorang ibu…”

“Tidak. Justru kau adalah Ibu terhebat Hyera. Detak jantung itu masih bisa bertahan dan masih bisa ku dengar hingga kini adalah karena kau, karena kau berjuang untuknya. Kau mengabaikan sakit di tubuhmu dan koma selama tiga bulan, bukankah itu kau lakukan untuknya?”

Aku mendekap tubuh Jinki Oppa cepat. Kueratkan dan semakin erat memeluknya.

“Semua tahapan panjang yang dilalui janin itu sebenarnya hanya untuk satu tujuan, yaitu untuk melihat dunia, melihat kedua orang tuanya dan mewarnai dunia dengan prestasinya. Begitu juga dengan kita….”

Ucapan Jinki Oppa terhenti. Dan apakah benar bahwa aku merasakan ia tengah menahan tangisnya. Tangannya yang mengelus rambutku bergetar.

“Begitu juga dengan kita…” ulangnya, “Semua tahapan yang kita lalui di dunia ini. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan akhirnya manula adalah semuanya untuk mati. Untuk meneruskan perjalanan ke kehidupan selanjutnya. Tinggal kebaikan apa saja yang telah kita perbuat yang akan membawa kita ke kehidupan yang jauh lebih indah….”

Jinki Oppa melepas pelukkannya. Kini kedua tangan beralih ia tumpukan pada kedua bahuku. Mata merah berirnya menatapku sendu.

“Dan kau adalah yang teristimewa. Jika memang kau sudah lelah dan ingin pergi besok maka kau tak perlu menjalani separuh lagi perjalananmu di dunia yang menyiksa ini. Itu artinya Tuhan sangat menyayangimu Hyera…”

Air mata itu runtuh seketika. Membasahi pipinya. Membasahi pula hatiku yang sangat mencintainya.

Aku mengusap air matanya, “Jadi itu artinya Oppa merelakanku?”

Jinki Oppa membalasnya dengan sebuah senyuman. Senyuman yang sangat sulit untuk kuartikan. Senyuman itu seperti menancap dalam hatiku namun tak mampu ku tangkap.

Tuhan menyayangiku….

“Ayo tidur Oppa…”

POV END~

FLASH BACK END~

****

Bau tanah basah akibat hujan menyeruak masuk kedalam hidung Jinki, memaksanya mengingat beberapa moment indah yang dilaluinya disuasana yang sama seperti saat ini. Pemandangan hijau terhampar di sepanjang ia mengedarkan pandangannya. Hijau yang membuat semua orang bergidik ngeri.

Tak ada seorangpun yang menginkan berada di tempat ini-walau asri-. Tempat pemakaman umum yang cukup elit itu serasa membuka luka lama Jinki setelah dua belas tahun ini ia menahan diri agar tak menginjakkan kakinya disini. Benar, ini adalah baru yang kedua kalinya bagi Jinki mengunjungi Hyera setelah berjanji akan berusaha melupakannya-walau gagal total-di hari pemakaman itu.

Jinki tersenyum tipis melihat Hyeki dengan telaten mencabut rumput yang tumbuh memanjang di makam istrinya. Gadis kecil itu tampak sangat fokus dengan pekerjaannya.

Hyeki bangkit kemudian memberikan salam hormat beberapa kali pada Ibunya yang sudah berbaring tenang di tempatnya. Tangan kecilnya ia lipat untuk menumpu dahinya di atas permukaan tanah yang lembab, membuat telapak tangannya nampak sedikit kotor dan juga bagian bawah gaun indahnya, tapi Hyeki menghiraukan itu sama sekali, ia tampak sangat Khusyuk.

Setelah puas dengan acara pemberian hormatnya, Hyeki memposisikan diri duduk dengan nyaman. Jinki masih setia memperhatikannya.

“An…Annyeonghaseo…” ucapnya gugup, “Ini aku Lee Hyeki.” Sambungnya memperkenalkan.

Jinki menggenggam tangan putrinya yang berkeringat dan meletakkannya diatas pahanya.

 “Eomma… senang bertemu denganmu.” Sebutir airmata meluncur membasahi pipinya. “Bagaimana kabar Eomma? Apa Eomma bahagia di sana?”

Jinki sedikit meremas tangan putrinya, “Eomma tahu tidak? Sebenarnya aku gugup setengah mati, tak tahu harus berkata apa pada Eomma.”

“Hyera-ya, dia putri kita…” putus Jinki. “Maaf baru membawanya sekarang, kami tinggal di Kanada selama dua belas tahun ini.” Jinki tersenyum pada putrinya dan mengeratkan genggaman tangannya. “Ia tumbuh sangat cepat, cantik persis sepertimu.”

“Eomma, aku senang namaku Lee Hyeki. Daddy bilang, namaku adalah perpaduan dari namanya dan nama Eomma….

“sebenarnya aku sangat marah pada Daddy karena baru sempat membawaku kemari hari ini, padahal Eomma tahu? Sudah semenjak lama aku memintanya untuk membawaku kemari. Daddy juga sangat pelit, padahal aku sangat ingin meminjam gaun putih Eomma, tapi Daddy mati-matian menjauhkannya apadaku…

“Aku melihat wajah Eomma dalam foto, aku memerhatikannya dengan seksama setiap harinya, aku jadi mengetahui satu hal, aku sangat mirip dengan Eomma dan aku bersyukur aku tak begitu banyak mewarisi fisik Daddy, aku tak suka matanya…”

“Tapi Eomma-mu paling menyukai mata Daddy, selain dahi Daddy tentunya..” putus Jinki tak terima dengan ucapan Hyeki.

“Benarkah? Kalau begitu mulai sekarang aku akan belajar menyukai mata Daddy!” sahut Hyeki antusias. “Ahh, mata Daddy benar-benar menakjubkan!”

‘Aku tak suka cumi-cumi’

‘Kalau begitu mulai sekarang aku akan belajar untuk menjauhi cumi-cumi, Oppa!’

‘Ayam sungguh lezat’

‘Kalau begitu mulai sekarang aku akan belajar menyukai Ayam lezat itu!’

Kenangan-kenangan itu berkelebat cepat dalam otak Jinki. Menyadari satu hal bahwa Hyeki benar-benar seperti duplikat Hyera.

Tangannya terulur memeluk erat Hyeki. Gadis itu diam, membiarkan Ayahnya meluapkan perasaan yang selama ini dipendamnya.

Jinki melepas pelukannya, “Daddy tahu kau pasti belum membaca surat yang ini,” jinki mengeluarkan sebuah kertas biru dari dalam saku celananya. “Ini untukmu darinya!”

Hyeki menyambar surat itu dengan sangat cepat. Terlalu semangat, mengalahkan semangatnya saat bertanding lari di lomba olahraga musim panas kemarin yang membuatnya menjadi kebanggaan ayahnya karena berhasil mendapatkan juara pertama.

Dengan pelan Hyeki membuka surat yang terlipat menjadi empat bagian itu. Hyeki terulas senyum melihat tulisan rapi itu.

‘Annyeong… anak Eomma…

Emm…. Bagaimana Eomma harus memanggilmu sayang? Kau seorang gadis cantik atau pria tampan?

Eomma minta maaf, bahkan kau seperti apa saja Eomma tak tahu.

Apa kau tumbuh dengan baik sayang? Berapa umurmu saat kau membaca surat Eomma?

Kau pasti hidup bahagia, aku tahu Appa-mu pasti menjagamu dengan baik seperti ia menjaga Eomma dulu…

Ahh,,, sayang, hapus dulu airmat Appa-mu itu, Eomma tak sanggup melanjutkan surat ini kalau Appa-mu menangis terus seperti itu!

Hyeki mengalihkan pandangannya, melihat kearah Jinki. Dan benar saja, ayahnya itu sudah berderai air mata. Melihat itu Jinki buru-buru menghapus airmatanya.

‘Anak Eomma, maukah kau membantu Eomma? Tapi ini rahasia, jangan sampai Appa-mu mengetahuinya..

Eomma boleh menebak? Pasti pria bodoh itu belum mendapatkan pengganti Eomma.

Sayang, carikan gadis yang terbaik untuknya…

Suatu saat nanti Eomma pasti bisa menciummu sayang, pasti.

Makanlah dengan baik, jaga kesehatan dan jadilah anak yang pintar seperti Appa-mu.

Eomma sangat sangat sangaaaaaatt menyayangimu~

SEMANGAATTT ^^9

Dalam sekejab Hyeki berhambur memeluk Jinki dengan sangat erat. Wajahnya sudah penuh dengan air mata, membuat Jinki dengan sangat jelas bisa mendengar isak tangis gadis yang sudah mulai beranjak remaja itu.

“Daddy, aku ingin bertemu Eomma….”

****

FLASH BACK~

LEE JINKI POV~

Kurasakan seberkas sinar mengusik tidur nyamanku. Kicauan burung seakan membangunkanku dari alam bawah sadarku. Aku mengerjabkan mata berkali-kali untuk menyesuaikan dengan silau cahaya.

Sosok pertama yang kulihat adalah gadis dengan wajah paling kusuka. Pipinya tirus, matanya yang terkatup itu saat membuka akan terlihat indah dengan warna coklat terangnya, tak begitu lebar juga tak terlalu sipit, hidungnya juga tak terlalu mancung namun agak runcing di bagian ujungnya, terlihat sangat imut. Sedangkan bagian wajahnya yang paling kusuka adalah bibir cerry-nya. Ia kecil dan tipis, tapi bagian atasnya agak sedikit mencuat sehingga lebih timbul dibanding dengan bibir bawahnya, sedangkan bibir bawahnya sendiri terdapat belahan di bagian tengahnya. Aku suka, aku suka saat bibir itu bergerak lincah mengutarakan pikirannya, aku suka saat bibir itu mengerucut karena kesal, aku suka saat bibir itu ia gigit untuk meredam tangisnya, aku suka kebiasaannya yang selalu menyembunyikan bibir bawahnya diantara mulutnya saat tengah gugup, aku menyukai semuannya. Dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.

Cahaya kemerahan yang menyeruak melalui jendela di belakanngnya membuat Hyera terlihat semakin cantik dan bersinar, seperti malaikat. Bias yang indah…

Dengan hati-hati aku menurunkan tanganya yang berinfus dari atas pipi kananku kemudian meletakkannya untuk melingkar di pinggangku. Sudah menjadi kebiasaan dari dulu bahwa ia tak akan bisa tidur tanpa menagkup pipiku dengan tangan kecilnya. Ranjang rumah sakit terlalu sempit hingga membuatku sulit untuk bergerak.

Hyera masih tertidur, mungkin ia masih sangat lelah setelah koma selama tiga bulan. Tubuhnya semakin kurus saja padahal asupan gizi dari rumah sakit sangat banyak dan bukankah infus juga mengandung banyak nutrisi?

Aku menyibak poni yang jatuh menjuntai sampai kelopak matanya yang tertutup. Poni ini sudah waktunya untuk dipotong, mungkin setelah bangun nanti aku akan memotongkan untuknya.

“Hyera…” panggilku halus begitu ia sedikit menggeliat.

“Sebentar lagi Oppa!” jawabnya serak.

Aku membiarkannya tetap seperti ini.

Seo Hyera, ah ani Lee Hyera… sedah semenjak 95 hari yang lalu ketika matamu mulai tertutup. Hanya dengan mengatakan aku mencintaimu saja tak akan cukup. Kata apapun di dunia ini tak akan mampu mewakili bagaimana perasaanmu terhadapku.

Pada awalnya ketika pertama kali aku melihatmu, kau tersenyum dengan air matamu. Kau tahu saat itu aku takut setengah mati.

Kau dengan gaun putih selututmu tengah meringkuk di bawah lampu jalan yang menyala remang. Aku dapat mendengar dengan jelas betapa pilunya isakanmu. Kau membuatku berfikir macam-macam tentang hantu cantik dan sebagainya. Tapi saat aku mendekat dan melihat tubuhmu terguncang membuat hatiku tergetar dan entah mengapa aku berjanji dalam hati bahwa aku akan menghapus air matamu, meredam guncangan tubuhmu dengan pelukanku dan akan menjagamu juga memperlakukanmu dengan baik, walau saat itu aku sama sekali tak mengenalmu, mungkin ini yang dinamakan cinta yang dulunya sangat tak kupercaya, cinta pada pandangan pertama.

Bagaimana untuk pertama kali aku melihat wajahmu yang sendu saat kau mendongak karena merasakan sentuhan tanganku di bahumu. Dan saat itu pula aku sadar bahwa kau membutuhkan bahuku untuk bersandar dan menumpahkan keluh kesahmu.

Tapi ternyata aku salah besar, aku salah mengiramu orang yang seperti itu. Kau tersenyum padaku dan menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahmu untuk kududuki.

Dengan wajah seperti anak kecil kau berujar, “Oppa sudah makan? Aku lapar!” suara manjamu mengintrupsiku.

Saat itu meski sangat konyol, sangat-sangat konyol, tapi entah mengapa bibirku sama sekali tak ingin tertarik ke atas untuk tersenyum.

Hyera~ apa kau memang sangat berbakat menjadi seorang aktor?

Kuelus lagi wajahnya, halus dan rapuh. “Sudah siang, kau tak ingin bagun? Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”

Matanya mengerjap-ngerjap namun tangan yang melingkar di pinggangku semakin mengerat. Aku bersiap menatap mata indahnya membalas tatapanku.

Namun aku salah, kerjapan matanya hanya untuk mengelabuhiku karena sedetik kemuadian bibirnya sempurna menempel di bibirku. Tapi hanya sesaat, aku hanya bisa menikmati semburat merah yang malu-malu menyebar di permukaan pipinya dalam jarak pandang terdekat tak selama yang kuinginkan. Aku berdesis kecewa.

“Kecupan selamat pagi! Oppa bilang, Oppa merindukannya!” ucapnya malu-malu. Sudah tiga tahun tapi tingkahnya tak pernah berubah. Ia pernah bilang seberapa seringpun aku menciumnya, ia akan tetap merasakan jantungnya berdebar-debar, seperti habis lari maraton.

Aku mencubit bibirnya gemas, “Jadi kau mendengar semua yang kukatakan selama ini? Dan kau tak menyahut sekalipun, Ck ck ck benar-benar tega!”

“Bukan begitu, aku sebenarnya sangat ingin membalas semua perlakuan Oppa. Ingin mengatakan ini dan itu tapi tubuhku rasanya kaku, mataku tak bisa di buka dan bibirku juga kelu. Aku juga tersiksa Oppa, mendengarkan tangisanmu dan juga Eomma sangat menya… arrggg!!”

Erangan tertahan memotong perkataan Hyera. Aku terkesiap, wajahnya memucat seketika dan matanya tertutup rapat seperti menahan sakit.

“Chagy, kau kenapa? Apa yang terjadi?” Hyera masih mengerang, tangannya membekap tempat dimana hatinya berada. Ya Tuhan apa yang terjadi?

Aku bangkit dengan kalut, “Akan ku panggilkan Dokter!”

Tepat selangkah sebelum telapak kakiku benar-benar menapak lantai, tangan kecilnya menahanku. Wajah penuh ringisan itu sekarang bercampur senyum memandangku. Senyum menyakitkan. Aku tak suka, singkirkan senyuman itu dariku. Sampai kapan kau akan memendam semuannya sendirian? Bukankah aku suamimu? Setidaknya sekali saja kau lontarkan keluhan penyakitmu padaku, katakan di bagian mana yang sakit, jangan berpura-pura terus seperti itu.

Tangannya menarikku lebih kuat, hingga membuatku kembali merebah di kasur bersamanya. Kupandangi lekat-lekat wajahnya.

“Oppa mau menciumku tidak?”

Air mataku menetes, lagi dan lagi. Aku mulai mendekatkan wajahku dan tanganku terulur untuk menyentuh wajahnya.

Tepat sebelum bibirku menempel, Hyera berkata lirih, “Kansahamnida, Mianhanda, Saranghamnida.”

Dengan terisak aku mencium istriku, istri yang sangat aku sayangi. Hatiku terasa perih dan sakit. Seandainya ada cara selain meninggalkan dunia ini untuk membuatnya terbebas dari penderitaan aku akan melakukan apapun untuk itu, sekalipun dengan nyawaku sendiri.

Aku merasakan ia membalas ciumanku, ini untuk pertama kalinya dan mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Aku sudah hampir kehabisan nafasku tapi Hyera belum juga melepaskan bibirnya. Sampai sesuatu berbau anyir terasa menyentuh permukaan bibirku dan mataku menangkap cairan merah itu merembes di sela-sela bibir kami, Ya Tuhan…

Tak kuhiraukan apapun lagi, aku bangkit untuk segera memanggil dokter. Hyera tak boleh egois, ia selalu serakah dengan penyakitnya tanpa mau berbagi secuilpun untukku.

Langkahku yang baru sejengkal itu terhenti, aku membeku, hatiku, otakku dan tubuhku. Dunia seakan runtuh saat ini juga. Tidak Hyera, buka matamu.

“Yaa!! Buka matamu, jangan kau tutup lagi. Hyera buka matamu!!” aku mengguncang tubuhnya kasar. Tidak, aku belum mengatakan apapun, kau tak boleh pergi. Dengarkan aku bicara dulu.

“Demi apapun Hyera buka matamu!!”

Mata itu, aku melihatnya. Aku melihatnya bergerak, Hyera-ku belum pergi.

“Sel,,,selamatkan dia Oppa!” tidak, aku juga akan menyelamatkanmu, bukan hanya anak kita. Kau dan dia akan selamat. Kita akan hidup bahagia sampai tua.

“Saranghanda, Oppa!” matanya kembali terkatub. Tidak Hyera…

“Jaebal….” dan sekeras apapun aku berteriak mata itu tak akan kembali terbuka, Hyeraku sudah pergi, untuk selamanya. Kenapa takdir begitu kejam?

Dan dokter-dokter bodoh itu datang disaat semuanya sudah terlambat, tak ada yang bisa mereka laukan sekarang.

“Kita harus mengeluarkan janinnya Tuan Lee. Kantong empedu istri anda pecah, ia sudah tak bisa di selamatkan!”

Aku masih membeku saat Dokter-dokter itu membawa keluar istriku, mungkin ia akan dibawa keruang operasi. Hyera-ku pergi, pergi meninggalkanku.

“Na ddo saranghae Lee Hyera…” tubuhku merosot.

Bunga yang telah layu memang tak akan kembali merekah tanpa hujan yang membawa pelangi dari Tuhan.

Kelahiran, kematian dan jalan hidup, semua takdir Tuhan yang menjalankan, kita hanya sebagai pelaku yang tak bisa merubah apapun yang sudah tergaris kekal-kelahiran dan kematian-. Setidaknya Hyera-ku adalah gadis terbaik, senyum tulusnya akan membawanya ke surga.

Dan suatu saat nanti aku pasti akan menyusulnya, bersama anak kita. Moment indah kita tak akan berakhir hanya sampai disini…

END

 

PROLOG

Mobil itu bergerak cepat memecah jalan Seoul yang mulai ramai oleh kendaraan lain. Rodanya seperti tak mengenal lelah berputar hingga kiloan meter mengantarkan mereka ke tampat tujuan.

Suara ribut itu tak pernah hilang semenjak tombol starter itu ditekan lima belas menit yang lalu oleh seorang pria tiga puluhan yang duduk di balik kemudi mobilnya. Ia berulang kali berdecak lidah menyesali keterlambatannya membuka mata sipit kebanggaannya itu, apa lagi gadis yang bersetatus sebagai putri satu-satunya itu terlihat terlalu sangat santai sekali mengingat ini adalah hari pertamannya masuk sekolah.

Masih dengan fokus terhadap jalan di depannya, Jinki memprotes “Jangan makan sendiri, Daddy juga butuh sarapan Hyeki-ya. Ayo suapi Daddy, Daddy baru makan sepotong kecil tadi…”

“Siapa suruh bangun kesiangan, Aku bahkan sudah ingin mati membangunkan Daddy tadi…” Timpal Hyeki santai masih dengan mengunyah potongan Sandwich di tangannya.

Dengan gerakan cepat jinki merebut Sandwich itu dari tangan Hyeki dan melahapnya cepat, “Aigo~ tinggal lima menit lagi. Hyeki-ya bagaimana ini?”

Hyeki sama sekali tak protes masalah Sandwich-nya yang raip, masih dengan wajah tenangnya ia bertutur, “Daddy, berhentilah bersikap gugup. Tenangkan pikiranmu dan fokus pada jalanan. Aku tak akan mendapat hukuman hanya karena terlambat sekolah lima atau sepuluh menit!”

Hyeki turun lebih dulu, menyampirkan tas hijau menyalanya di atas bahu. Wajahnya nampak berbinar terang sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Gedung sekitar lima lantai itu akan menjadi tempatnya belajar sampai tiga tahun yang akan datang. Tempat yang sama dengan yang Hyera tempati dulu.

Jinki menyusul Hyeki, “Daddy akan mengantarmu…” Ujar Jinki terhuyung sembari membetulkan letak dasinya yang masih berantakan.

“Aigoya~ Daddy berpikiran aku gadis yang masih berumur tujuh tahun begitu?” tolak Hyeki, ia mengibaskan tangannya di depan wajah, “Pergilah, selesaikan Proyek Daddy yang akan Come back setelah vacum 12tahun lamanya…” Hyeki berlalu begitu saja meninggalkan Jinki yang nampak Shock.

“Aigo~ maafkan aku Hyera-ya… anak kita jadi terlihat berumur 25 tahun di usianya yang ke-12 ini!”

Hyeki baru saja keluar ruang kepala sekolah ketika tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari belakang dengan cukup keras, membuatnya terjerembab ke depan. Untung saja wajahnya tak membentur lantai, tapi yang jadi masalah adalah punggungnya yang terasa remuk tertimpa sesuatu yang cukup besar.

Hyeki masih diam di tempat tak mampu bergerak saat beban berat yang menimpanya bangkit dari atas tubuhnya. Ia masih shock dengan kejadian yang begitu tiba-tiba itu.

“Ya!! Kau tak punya mata ya?” seseorang membentak Hyeki dengan suara yang cukup keras dan seketika menyadarkan gadis itu kembali. Ia berusaha mati-matian untuk bangun.

Mata Hyeki berkilat merah, begitu juga dengan wajahnya. Emosinya membucah, ‘Apa yang dikatakannya? Tak punya mata? Jadi dia mau bilang kalau aku yang salah begitu? Semetara dia yang menabrakku begitu saja dari belakang?’

Hyeki menatapnya dengan pandangan berkilat, “YAA!! CHOI MINHO… KAU BELUM TAHU RASANYA DITELAN HIDUP-HIDUP OLEH SEORANG GADIS HAH?!!”

Hyeki sudah bersiap melemparkan tas berisikan penuh buku-buku tebalnya ketika dengan tanpa perasaan pria yang diketahui Hyeki bernama Choi Minho dari nametag yang terpasang di baju seragamnya itu berujar, “Kau tahu namaku?” ujarnya tanpa dosa, “Apa jangan-jangan kau salah seorang penggemarku yang rela membuat dirinya sendiri tertabrak demi ingin dekat denganku? Tertimpa badanku? Dengan begitu kau bisa menyentuhku, begitu?”

Hyeki sudah tak mampu menahan emosinya, demi apapun sungguh saat ini ia ingin melempar pria di depannya ini dengan batu besar, kalau bisa gunung sekalian.

“YAA!!! MATI KAU CHOI MINHO!!!”

Dengan kemarahan yang menggebu-gebu, pukulan demi pukulan Hyeki layangkan untuk Minho dengan setulus hati. Kalau boleh jujur, tangannya saja sampai sakit sendiri ketika mengenai punggung Minho yang menunduk menghindari hantaman bertubi-tubi darinya.

HYEKI POV

Aku merasakan sebuah sentuhan hangat menjalar di bahu kananku ketika aku masih sibuk memukul pria tak tahu diri itu. Sentuhan itu begitu lembut membuatku tanpa sadar menghentikan kegiatanku. Kemarahanku menguap begitu saja ketika aku menoleh dan melihat wajahnya.

“Minho-ya… apa yang kau lakukan padanya? Kenapa ia sampai memukulimu seperti itu? Kau berbuat yang tak pantas ya padanya?” mata coklatnya menatap curiga ke arah Minho.

Wajah itu terlihat sangat cantik, kulitnya putih dan rambut hitam lurusnya yang terikat kuda mengingatku pada seseorang yang bahkan belum pernah kutemui secara langsung.

Sayang, carikan gadis yang terbaik untuknya…

“Eomma….”

****

Annyeong yeorobeun!!!

Adakah yang masih ingat dengan FF-ku yang dulu. Aku datang membawa squelnya nih. Maaf kalau mengecewakan.

Aku tahu FF ini terlalu panjang sangat panjang malah, tak mudah juga saat membuatnya. Aku bukan Author handal yang bisa menggambarkan sebuah kejadian dengan detail yang baik, yang bisa mewakili perasaan tokohnya. Tapi aku memikirkan Ibu-ku saat menulis FF ini. Perjuangannya mungkin tak seberat Ibunya Hyeki, tapi perjuangannya mengandungku selama 13bulan bukanlah hal yang mudah. Normalnya hamil itu berlangsung 9 bulan. Tapi karena begitu cintanya beliau padaku, Ia membawaku dan mempertahanku di perutnya lebih lama.

FF ini kupersembahkan untuk beliau, AKU MENCINTAIMU, IBU!!

Ahh~ aku malah jadi curhat deh…

Aku mau berterima kasih buat Reader aku di FF EM-ku yang dulu. Baik Siders maupun yang berkenan memberikan kritinya.

Komen kalian begitu beragam, mulai yang bilang pengen nagis sampai yang bilang sampai kejer. Atau yang bilang biasa ja dan ngebosenin. Ada juga yang bilang bahwa ini adalah untuk pertama kalinya ia komen di FF. Jeongmal gomawoyeo…… LUV YOU FULLLLLLL

Special Tanks:

  • Lee Jongki
  • Gummy10
  • Yuniar
  • Keyobbo
  • Tazkia Astrina
  • Malkey
  • LJK~
  • Sari
  • Aira
  • Ellajuli
  • Parkyounggeun
  • Jikyung
  • Niek
  • Mahitaa
  • Niek (Eh kog sama ma yang diatas ya #lirik.lagi)
  • Aruumss
  • Nayogyani
  • Kim eunri
  • Vanyaflames
  • Maya mae jjong
  • Elma
  • MybabyliOnew
  • Hyora Kim
  • Vikeykyulov
  • Mydivakey
  • Kinananthilaras
  • Shalina’okkey
  • Annisa
  • Kikiidubufan
  • LiaGuk2
  • Shim hyun gi is aiu luph benedictbridgerton
  • AlfiRahma
  • Auliarahma
  • Nabila Hijri
  • Dorkyflames
  • Choi Minnie
  • Taemin’sgirlfriend
  • Ji I-el
  • Windycadel
  • Asifa
  • Leeninki

Maaf kalau ada yang gak kesebut. Keep komen yah….^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

10 thoughts on “Endless Moment (Sequel Eomma In Memory)”

  1. oh.. lupa2 ingat..
    aq prnh baca ya yg Eomma In Memory???
    aq kira belum.. tp pas lht ada IDku disebut… oh.. jd udh.. agak lupa sblumnya.. tp ingt lah dkit2..

    selimutku basah nih.. bikin mewek…
    nice thor

  2. huaa.. Mewek dch..
    Keren.. Keren.. Tdi aq nyari yang Eomma In Memory krn ku pikir ku blm baca.. Dan ntah knp ga ktemu.. Mungkin akunya kurang teliti.. Tpi ternyata ID-ku dah t’cantum..

    Ayo.. Ditunggu karya berikutnya..

  3. walaupun aq belum baca ff yang sebelumnya tp aq bisa masuk ko author
    dalam cerita ini.
    cara penyampaian cerita dan bahasa yang sederhana namun mendalam
    buat enak mencerna alur ceritanya.

    aq pribadi lebih nyesek ketika ngebayangin posisi hyeki
    heheheee

    teruskan prolog-nya dong author …
    sepertinya bakal ada yang punya eomma baru tu diliat dari prolognya
    heheheeee … 😀

    di tunggu karya selanjutnya ya..

  4. hiks, hiks,, tissu tissu,, aku btuh tissu,,,
    aigoo,, sdih, mengharukan,,
    wikk, hyeki apakah kau punya rencana utk menjodohkan onew dngan cwe itu,?
    duh, aku ga tau harus komen apa lgi,,,
    keren,,,

  5. Huaaahhhhh….jinki ….hiksss #elap ingus
    Karakter hyeki menarik tuh buat dibikin sequel lg..pastinya juga next story buat appa nya,jinki..hehe..
    Wah…wah..excited…ada nama ku nangkring d atas…tp knp bs 2x ya….hihi…*tutupmuka
    Hwaiting…keep writing

  6. Seriussssssss!!!!!!ini ff nyesek bgt,,,,aigooooo lee jinki,,,,,kebayang bgt sedihnya ditinggalkan hyera,,,sebenarnya jujur aku blm baca ff sebelumnya,,,tp nyambung kok dgn ada flashback yg dbikin author,,,,ahhhh tp biarpun hyera g ada lg,,untung ada hyeki yg selalu nemenin jinki,,,,aigooooo benAr2 dewasa anak si daddy jinki,,,,,ahhhh itu siapa yg megang pundak hyeki???smga aja bukan ibunya minho,,,mana tau hyeki jadian sm minho,,,,smga aja itu tantenya,,,jd bs djodohin sm daddynya,,,,,jeongmall,,,ini ff keren pake banget,,,,nyeseknya ampe ngerasa ke hati,,,,soalnya senasib sm hyeki g punya mama,,,*jd curhat*,,,hehehehehe,,,good job author *mian aku manggilnya g tau apa,,,tp aku yakin authornya lebih kecil dr aku jd manggilnya saeng aja yaaa,,,soalnya aku udh 24th* ​”̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ !!!!!good job,,,pengen baca ff saeng yg lain,,,,salam kenal,,,ola imnida!!!!! Daebak 😀

  7. thor beneran mata aku udah perih pengen nangiiiis T__T kenapaa thor kenapa sedih bangeet ceritanya??!! kebayang pasti seneeng banget punya ayah kaya jinki hehe ._. terus thoor aku penasaran sama eommanya minho.. jadi hyeki ada rencana mau jadiin eomma minho jadi eomma tirinya? terus hyeki sama minho gimana? aduuh penasaran thoor, ga ada kelanjutannya ya? 😦
    jujur banget thor ini ff KEREN + sedihnya dapet banget! DAEBAAK! XD

  8. air mata ngalir mulu pas baca
    yaampun gak kebayang deh kehilangan yang udah kayak oksigen
    kayaknya part ini buat sequel aja deh, lanjutin kisah jinki mendapatkan cinta, dan keseruan ayah anak ini haha.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s