Abstraction

Abstraction

Title : Abstraction

Author : Han Aikyung (hanaikyung.wordpress.com)

Rating: PG-15

Length : Drabble

Main Cast : Lee Jinki and You

Please Do not copycat this FF… ^^

-o0o-

Aku tidak suka dunia ini. Aku ingin menghilang. Toh tidak ada yang menangisi ketidakberadaanku jika aku menghilang. Ada tidaknya diriku di dunia tidak akan berpengaruh pada siapapun, pada apapun. Aku harus melakukannya. Selamat tinggal dunia…

Gadis berumur 22 tahun itu berjalan mendekati pinggiran atap kampus. Atap kampus itu memiliki pagar tinggi sebenarnya, hanya saja ada bagian yang tidak ditutupi pagar. Itu dimaksudkan untuk tangga darurat yang menempel pada dinding gedung. Pinggiran atap gedung kampus tanpa pagar berukuran kira-kira dua meter itu menjadi tujuan gadis itu untuk melompat. Ya, dia akan melompat dari situ dan bye-bye dunia.

Kakinya gemetar sering langkahnya mendekati pinggiran atap gedung kampus itu. Air matanya mengalir deras, tidak yakin apakah karena takut merasakan sakit saat jatuh nanti atau karena dia belum siap meninggalkan dunia ini. Isakannya terdengar satu-dua kali saat tangannya menyentuh pagar tinggi di sebelah kirinya. Mata besar berairnya melihat kebawah untuk mengecek keadaan. Kosong. Sepi.

Terang saja begitu. Ini sudah pukul 5 sore di hari terakhir kuliah minggu itu. Semua mahasiswa pasti sudah pulang, kecuali para mahasiswa tanpa kerjaan seperti dirinya sekarang. Inilah saatnya, pikirnya sambil menelan ludah dan memantapkan hatinya.

“Kau pikir dengan menjatuhkan diri akan menyelesaikan semuanya?”

Suara pria tiba-tiba yang didengarnya membuat gadis itu menoleh cepat. Dilihatnya pemuda berambut coklat yang kira-kira berumur sama dengannya sedang bersandar pada pagar di belakangnya. Tangannya dilipat di depan dadanya dan matanya menatap gadis itu dengan tajam. Dia memindahkan kedua tangan yang dilipatnya ke dalam saku celananya, kemudian berjalan mendekati gadis itu.

Gadis itu menatap pemuda yang semakin dekat itu dan mengisak sesekali. Air mata di pipinya mulai mengering karena angin kencang di atap gedung ini. Dia tidak mengenal pemuda ini, yang pasti di saat terakhirnya ini dia tidak ingin diganggu. Dia ingin berjalan mundur tapi tidak mungkin karena di belakangnya adalah udara bebas. Gadis itu memegangi pagar di sampingnya untuk mencegahnya terjatuh secara tiba-tiba ke belakang.

“Siapa kau?” akhirnya gadis itu bisa mengeluarkan suaranya yang serak. Pemuda itu tetap berjalan mendekat tanpa menjawab pertanyaanya.

“Apa yang kau lakukan? Menjauh dariku atau aku akan melompat!” Ancam gadis itu. Pemuda itupun menghentikan langkahnya.

“Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku,” katanya sama sekali tidak memperhatikan apa yang dikatakan gadis itu.

“A-aku tidak peduli dengan pertanyaanmu. Yang aku mau sekarang adalah melompat, kau jangan menggangguku!” seru gadis itu lagi. Dia membalikkan tubuhnya menghadap udara kosong. Berniat untuk melompat saat itu juga.

“Baiklah, aku akan menonton kau melompat,” kata pemuda itu, masih dengan kedua tangan di dalam saku celananya.

Gadis itu menoleh dengan cepat ke belakang, menatap pemuda itu. Bukankah dia ingin mengentikannya bunuh diri? Lalu apa yang dilakukannya sekarang? Menyuruh gadis itu untuk meneruskan niatnya? Gadis itu tak habis pikir, namun dia kembali menolehkan kepalanya ke depan. Berniat melanjutkan kegiatannya dan menghiraukan pemuda aneh di belakangnya. Gadis itu mengumpulkan keberanian untuk benar-benar melompat ke bawah. Namun keberanian itu tak kunjung datang. Dia hanya memegang pagar di samping kirinya dengan erat hingga buku-buku jarinya menjadi putih. Keringat dingin mengalir lewat pelipisnya.

“Kau tidak berani bukan?” tanya pemuda itu di sebelahnya. Tanpa disadarinya, pemuda yang tadi ada di belakangnya sudah berdiri di sampingnya, berdiri berdampingan dengannya diantara kedua pagar atap sekolah.

“Si-siapa bilang? Aku baru saja akan melompat ketika kau datang mengangguku,” tangan kanannya mengepal erat. Masih merasa ngeri jika melompat sekaligus juga merasa kesal karena pemuda di sampingnya ini terus-terusan mengganggunya.

Pemuda itu mengambil tangan gadis itu yang terkepal erat di samping tubuhnya. Gadis itu terkesiap pelan ketika menyadari tangannya telah ada dalam genggaman pemuda tak dikenal ini.

“Kalau begitu kenapa tanganmu bergetar kencang seperti ini? Lihat, kukumu menancap pada telapak tangan hingga menimbulkan bekas akibat kepalan yang terlalu erat karena ketakutan,” kata pemuda itu membuka kepalan erat gadis itu.

“Heh, kau ini siapa sih? Lepaskan tanganku!” gadis itu menggoyang-goyangkan tangannya agar terlepas dari genggaman pemuda di hadapannya. Namun bukannya melepaskan genggamannya, pemuda itu malah melingkarkan tangan satunya di pinggang gadis itu dan membuat gadis itu menghadapnya.

“YA!! Lepaskan aku orang mesum!!!” gadis itu berusaha mendorong tubuh pemuda di hadapannya. Dia kembali menangis. Pemuda di hadapannya ini mengerikan. Dia takut pemuda ini melakukan hal yang tidak senonoh padanya. Padahal yang diinginkkanya hanya mati, kenapa pula harus bertemu dengan pemuda mesum?

Gadis itu mengerahkan seluruh tenaganya agar tangan pemuda itu terlepas dari tubuhnya. Namun, tanpa disangka tiba-tiba pemuda itu mendekat dan mencium bibirnya. Gadis itu membelalakkan matanya, dan gerakannya terhenti. Dia memekik tertahan saat merasakan bibir pemuda yang tidak dikenalnya itu pada miliknya. Gadis itu tidak sempat melakukan apapun karena setelah itu semuanya menjadi gelap.

Kepala sang gadis terjatuh lemas ke dada pemuda di hadapannya. Gadis itu tak sadarkan diri bahkan sebelum sempat menyadari kakinya yang sudah tidak menapak pada lantai atap gedung, namun juga tidak terjatuh ke tanah yang berjarak beberapa puluh meter jauhnya. Dalam dekapan bridal style sang pemuda berambut auburn, mereka melayang-layang di udara. Sepasang benda bening dengan cahaya seperti kunang-kunang—yang kadang mati kadang menyala—menyembul keluar dari punggungnya, mengepak-ngepak, menahan kedua tubuh itu dari tarikan gravitasi bumi. Angin menyibakkan rambutnya ketika sepatu sportnya menyentuh lantai atap.

Sepasang benda bening pada punggungnya menghilang ketika pijakannya pada lantai atap gedung kampus telah mantap. Ditatapnya sebentar wajah gadis dalam dekapannya.

“Huh, merepotkan saja,” katanya. Dia memindahkan posisi gadis itu dan menggendongnya di punggung. Pemuda itu berjalan menuju tangga untuk turun dari atap gedung kampus sambil menggendong seorang gadis yang pingsan pada punggungnya.

-o0o-

Waaa, apa ini? Ngebet pengen posting FF, dan jadinya malah drabble ancur seperti ini.
Ada yang nanya kenapa judulnya Abtraction? Karena Abstract adalah salah satu mata kuliah di kampusku #PLAK ngaco!
Bukan-bukan, jawabannya adalah karena ceritanya juga Abstract, hahaha #author stress.
Tapi walopun abstrak dan ancur tetep ditunggu RCL-nya hahaha.

Admin’s Note: Lain kali genre-nya ditulis ya? Soalnya pas bagian genre itu isinya malah PG-15, itu kan rating ya?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “Abstraction”

  1. Eooooonnnnnn sejak kpn kau suka guntang gantung (?) ff.. Kok end ny gto, it gmna kelanjutannya?
    Pkokny g mau tau, sequel sequel sequel *demo
    tp bagus,hehe

    1. Ahaha, ini sebenernya draft udah lama mangir di lappy, tapi nggak bisa2 juga diposting. Akhirnya malah diposting pas masih gantun gini :p
      Waktu ngepost aku juga berniat bikin lanjutannya kok, tapi belum sempet nih sampe sekarang :p

  2. Abstrak o.o

    Aku rada ga ngerti apa Onew sebenernya. Dia nyelamatin cewek itu. Ya. Terus? End.

    Tapu lumayan keren lah. Nice 🙂

  3. jinki bersayap? Aku bayangin jinki wktu d SWC.. Hiyaaa~
    Pertemuan ga terduga yah gara2 mau bunuh diri?
    Nice, nice.. FF lain di tunggu ne~

  4. onew oppa punya sayap.. -__-”,
    kaya mv RDD dong #pLetakk
    ..
    Hehe,, Thor sequel donk,, ceritanya gantung 😦
    pengen tau kelanjutannya 😀

    1. Aseeek, pasti ganteng ya Onewnya
      Tapi actually, aku bayangin Onew rambutnya kayak sekarang, cuman punya sayap, kuerennn
      Oke2 ntar tak bikin lanjutannya, cek aja my WP

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s