My Love Was Continued On Rickshaws – Part 3 (END)

Author: Yamashita Michiko / Marie Veibra

 

Title :

 

Main Cast:

  •  Baek Suzy as Marie Lee
  •  Choi Minho

Support Cast:

  •  SHINee Member
  •  Lee Hyeri
  •  Huang Zi Tao (Tao)
  •  Kim Jongin (Kai)

Other Cast:

  •  SNSD Member
  •  EXO Member
  •  Kim Myungsoo (L)

Genre:

  •  Romance
  •  Little Bit A Humour

Lenght: Triology

Rating: General

Summary: Cinta yang selalu sambung menyambung dengan kendaraan roda tiga.

 

Normal POV

 

Malam ini Marie memutuskan untuk duduk-duduk di taman seorang diri, menikmati hilir angin malam yang menerpanya di tengah kesedihan yang melandanya. Ia tak tau harus berbuat apa setelah ini, yang ia rasakan hanyalah perasaan gunda dan sedih. Entah apa penyebabnya, apa penyebabnya adalah Minho ? Ia berpikiran bahwa Minho sudah tak perhatian lagi dengannya, apakah itu penyebab sebenarnya ?

Namun di sisi lain sejak perjalanan keluar Marie dari villa, ada seorang namja yang membuntutinya sampai ia berhenti dan bersembunyi di balik semak-semak taman yang terdapat Marie juga di dekatnya.

“Kenapa ?!! Kenapa kau tak mengejarku ?! Kenapa kau justru hanya menatap ?!! Apa benar kau sudah tak peduli lagi denganku ?!!” Marie yang sejak keluar villa sudah menangis pun ia semakin melepas tangisannya. Awalnya banyak orang yang menatapnya heran, namun Marienya sendiri pun justru tak menghiraukannya, dan tetap melanjutkan tangisannya. Dan dengan perlahan tangisan Marie pun memudar, karena ia sedang meneliti suara yang ia dengar. Ia mendekat ke arah semak-semak yang bergerak.

“Mwoya ? Hantu ? Nggak mungkin.” Ia langsung membuang tisu bekas air matanya ke arah semak-semak itu.

“YAK!!” Terdengar suara jeritan seorang namja dari semak-semak itu. Suara itu familiar di telinga Marie, ia langsung membelalakan matanya lalu dengan perlahan kepalanya menoleh ke belakang.

“Nuguya ?” Tanya Marie hati-hati.

“Your namja!” Tegas suara namja itu dengan perlahan memunculkan batang hidungnya.

“Mwo? Minho-ya ? Sejak kapan kau ada di situ ? Apa yang kau lakukan ?” Tanya Marie dengan kaget ketika wujud Minho benar-benar jelas di matanya.

“Baru saja.” Minho duduk di sebelah Marie, dan Marie justru membuang muka darinya.

“Oh, sudah larut. Aku pulang dulu!” Hendak Marie bangkit dari duduknya Minho sudah lebih dulu menariknya hingga jatuh ke pelukkannya. Awalnya mereka saling tatap mata, namun kesadaran Marie cepat datang sehingga ia langsung melepaskan dirinya dari Minho.

“Kau jahat!!” Seru Minho dengan tatapan sinisnya.

“Mwo?” Tanya Marie tak percaya.

“Jahat sekali!!” Ucap Minho dengan lebih penekanannya.

“Maksudmu ?” Akhirnya Marie pun duduk kembali di samping Minho.

“Aku sudah bela-belakan kemari demi kau, tapi kaunya justru akan meninggalkanku begitu saja.” Ucap Minho dengan wajah sok cemberut.

“Yah… Tau begitu kau tak usah kemari, kalau jadinya menyesal gitu ?” Minho kaget karena awalnya dengan ekspresi cemberutnya maka akan membuat Marie luluh, tapi harapannya salah, justru ekspresinya membuat Marie semakin menaikkan volume suaranya.

“Hey! Siapa yang menyesal ?!! Aku kemari hanya karenamu!! Aku hanya ingin kau tak marah lagi denganku!! Tak salah paham lagi denganku! Tolong mengertilah… Aku hanya ingin kita seperti dulu…” Suara Minho yang awalnya membentak tiba-tiba langsung memelan.

“Mianhae… Jangan marah begitu…” Marie mengeluarkan air matanya, ia kaget dengan Minho yang baru pertama ini membentaknya. Mendengar itu, Minho langsung memeluk Marie erat. Marie menangis di bahu Minho.

“Aku takkan pernah marah denganmu jika hal itu tidak mengkhawatirkanku.”

“Mwo? Kau khawatir denganku ?”

“Neomu.”

“Kau jangan mengira perhatianku akan hilang darimu. Justru semakin bertambah. Tolonglah… Aku tak ingin terjadi sesuatu denganmu, aku sangat menyayangimu… Takkan kubiarkan kau tersakiti sedikit pun.”

“Tapi… Kau telah menyakitiku tadi…” Balas Marie dengan lebih mengeratkan pelukannya.

“Kau salah paham. Jeongmal mianhae kalau memang itu membuatmu sakit hati, karena Yuri noona sudah ku anggap sebagai noona kandungku sendiri. Dialah yang menasehatiku jika kita ada masalah. Aku janji, lain kali takkan kubiarkan sedikit pun hatimu sakit dan cemburu. Karena jika sekali kau cemburu atau kesal, pasti yang kau lakukan selalu aneh. Mianhae… Jeongmal mianhae…” Pelukan mereka telah merenggang ketika Minho menjelaskan semuanya. Di akhir kalimatnya ia mengecup lembut kening Marie. Semakin ke bawah lalu mengecup kedua mata Marie bergantian untuk menghapus air matanya.

“Sudahlah! Jangan menangis lagi… Sayang sekali jika air matamu terbuang begitu saja… Mengacalah, matamu sembab, semakin jelek tauk!! Kajja! Pulang!” Marie yang mendengar itu awalnya kesal namun kekesalan itu berubah menjadi kebahagiaan baginya. Ia kaget ketika ia di dudukan Minho ke dalam becak.

“Sudahlah! Jangan protes! Kau tadi kemari jalan kan ? Daripada kau capek, lebih baik kita naik becak saja.” Marie hanya tersenyum menanggapinya.

“Mianhae kalau becaknya tak romantis.” Lanjut Minho, ia terkekeh kecil, dengan kilat ia mengecup pipi kanan Marie. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Marie, berlagak manja dengan Marie.

“Gwaenchanha.” Aneh, Marie justru mengeluarkan air matanya hingga menetes di tangan Minho yang menggenggam tangannya.

“Jangan menangis lagi kubilang! Lebih baik, tolong nyanyikan lagu untukku! Aku tau suaramu merdu.” Minho menatap manja Marie lagi sebelum ia menyandarkan kepalanya kembali di bahu Marie.

“Romantic.”

“Mwo?” Tanya Minho tak mengerti maksud Marie.

“Tolong nyanyikan rapnya.”

“Dengan senang hati My CeKuFo…” Ucap Minho dengan manja lagi.

[Minho] Yeah… My Girl…

Naega baboya

Ijul su obneun noye sarangi

Majimak nunmuri

Naye on gaseumeul jijo noneunda

Jijo noneunda

Jongmal Mianhae

 

[Marie] Nae maeumi ganeundaero nan

Amusaenggak obsi gotgo iji

Ni moseubeul dalmeun

Nugungareul chaneun gonji nan

Geunyang geu jarie su iso

 

[Minho] Seulseulhan nae okaereul geumbangirago

[Marie] Niga dudeurigo sumeun gotman gateunde

Wae obneun gonji, mot boneun gonji

Ani nuni moroneunji

***

Malamnya, setelah BBQ Party selesai, mereka semua langsung kembali ke kamar mereka masing-masing dan telah larut juga dalam mimpinya. Dan seketika itu Minho dan Marie pun baru saja pulang dan sampai di villa ketika semua orang telah terlelap. Mereka memasuki villa dengan mengendap-endap, kebetulan juga mereka satu villa.

“Kembalilah!” Perintah Marie dengan singkat kepada Minho dengan penegasannya.

“Mwo? Aku masih ingin bersamamu…” Ucap Minho manja yang membuat Marie risih.

“Jebal… Besok lagi deh…” Ucap Marie merayu Minho.

“Ya sudah dehh. Aku tak ingin kau sakit…” Minho melepaskan gelayutannya, namun dengan kilatnya ia mengecup pipi kanan Marie dan itu membuat pipi Marie bersemu merah.

Benar kan kekhawatirkanku terkabulkan…‘ Batin Marie. Ia menggeleng kecil menatap Minho yang berjalan berlawan arah darinya dengan gontai.

 Flashback ON

 “Benar kataku, suaramu merdu kan ? Bagaimana kalau kau audisi di SMEnt ?”

 “Aniyo.”

 “Wae ?”

 “Aku tak ingin menjadi artis.”

 “Mwo?” Minho terperanjat kaget sehingga ia melepaskan sandarannya dari bahu Marie.

 “Lalu apa cita-citamu ?”

 “Penyanyi solo, namun tak berharap. Tujuan utamaku adalah menjadi dosen sastra Bahasa Inggris.”

 “Oh…” Minho menyandarkan kepalanya lagi di bahu Marie dan disambut Marie dengan kecupan lembut di puncak kepala Minho.

 “Tao-sshi! Tolong berhenti sebentar!” Perintah Minho tiba-tiba. Seketika becak yang dikendarai Tao pun diberhentikannya.

 “Kau ingin wine kan ?”

 “Tau saja kau itu…”

 “Aku juga ingin.” Balas Tao dengan seringaiannya.

 “Ya sudah, kita beli saja.” Minho turun dari becaknya, namun tangannya sempat ditahan Marie.

 “Aniya! Nggak baik minum wine malam hari, entar kamunya sakit.”

 “Satu botol saja, jebal ??” Minho mengeluarkan puppy eyesnya, itu adalah jurus termutakhir Minho yang dapat meluluhkan Marie.

 “Ne. Satu botol berdua.”

 “Neo rang na ?”

 “Ani. Kau dan dia.” Wajah Marie mengarahkan ke arah Tao yang ada di belakangnya.

 “Gumawo chagiya~” Ucapnya di akhir katanya sebelum ia turun dari becaknya membeli sebotol wine.

 

 Flashback OFF

 

Tidak hanya Minho saja yang berjalan gontai, Marie sendiri yang perutnya masih kosong pun akhirnya gontai juga jalannya. Ia berjalan mendekati kamarnya dengan keadaan lemas, seperti orang yang terkena penyakit mematikan.

“Hyeri-ya ?? Tolong bukakan! Eonni pulang!!” Ucap Marie lebih lemas lagi. Ia sudah tak kuat menyanggah tubuhnya hingga ia terjatuh terlutut di depan pintu.

“Ne… Eonni… Tunggu sebentar!” Terdengar teriakan dari dalam kamar Hyeri, pasti pemilik suara itu adalah Hyeri juga.

“MARIE EONNI ?!!” Teriak Hyeri tak percaya dan kaget. Ia langsung berlari dan mengetuk keras pintu kamar Minho, otomatis seisinya langsung terbangun semua. Karena Minhonya sendiri belum tidur dan dapat membangunkan hyung sekamarnya yang lain.

“Wae Hyeri-ya ?!!” Tanya Minho tak kalah khawatir dengan Hyeri.

“Aku juga nggak tau oppa. Lebih baik kau cek sendiri saja!” Minho langsung menggendong Marie dan direbahkannya tubuh Marie di atas kasur Marie tanpa mengecek kondisinya terlebih dahulu. Namun ia akhirnya mengeceknya juga, ia menempelkan punggung dan telapak tangannya secara bergantian.

“Mwo? Demam?!! Panas sekali!!” Ucap Minho dengan nada tak menentu, ia sudah terlanjur khawatir dengan Marie hingga ia tak sempat berpikir banyak.

“Hyeri-ya!! Tolong ambilkan setengah baskom air dan handuk kecil! Ppali!!”

“Ne, ne! Oppa!” Hyeri langsung berlari mengambilkan apa yang disuruh Minho dan dengan cepatnya ia kembali dengan membawanya semua tanpa ada kekurangan satu barang pun.

“Gumawo Hyeri-ya!” Seru Minho. Ia berusaha menurunkan demam Marie dengan mengompres dahi Marie dengan perlengkapan yang dimintanya tadi. Sampai-sampai ia meniup-niup kening Marie, karena ia berpikiran akan dengan meniup-niupnya maka akan membantu menurunkan demam Marie.

“Becak-sshi… Kenapa kau sampai begini ?” Bisik Minho tepat di depan wajah Marie.

“Jangan membuatku marah lagi denganmu roda tiga!!” Ucap Minho tak jelas.

“Hei oppa!! Dia punya nama! Kenapa kau panggil begitu ?!!”

“Salahnya sendiri, dia membuatku marah lagi, itukan nama panggilannya dariku ketika aku kesal dengannya.” Jelas Minho dengan ekspresi wajah yang tak tentu juga.

“Mwo?!! Orang lagi sakit begini malah kau marahi ?!! Namjachingu tak baik kau itu!!” Teriak Hyeri tak kalah kesalnya dengan Minho.

“Issh! Aku marah gara-gara khawatir dengannya!! Lebih baik tolong tinggalkan kami. Aku saja yang merawatnya, kau lebih baik tidur dengan oppamu sana!”

“Hei!! Tak baik namja dan yeoja sekamar!!”

“Hei!! Memangnya kau pikir aku akan berbuat aneh-aneh dengannya ? Aku masih menghormatinya. Kau itu masih kecil tapi pikirannya sudah gitu. Ckckck!” Minho terkekeh kecil setelah mengejek Hyeri, dan seketika pipi Hyeri bersemu merah malu.

“Tapi aku tetap tak percaya denganmu, OPPA!! Karena kau juga habis mabuk KAN ?!!” Terkadang Hyeri menekankan perkataannya di setiap kata yang ia maksud.

“Ya sudah. Kalau kau tetap tak percaya, nanti oppa akan menemani Marie, sekamar namun pintu terbuka lebar! Arraseo ?!!

“NE!! ARRASEO!! Ini semua gara-gara kau!! MENYEBALKAN!!” Dengan kesal namun setengah bercanda Hyeri keluar dari kamarnya dengan menutup pintunya dengan dorongan keras sehingga menimbulkan suara gebrakan. Minho yang mendengar itu pun kaget, begitu juga dengan Marie yang pelahan berusaha membuka matanya.

“HEY!! Katanya terbuka ??” Teriak Minho meledek Hyeri.

“NE!! ARRASEO!!” Hyeri membuka pintu kamarnya dengan keras namun ia malah meninggalkan kesan lucu, ia merong ke Minho, bukan memancarkan amarah sesungguhnya, namun hanya amarah kekesalannya.

“Mwoya ?” Marie memegang kepalanya yang masih pening. Ia terbangun gara-gara suara keras yang ia dengar.

“Gwaenchanha. Lebih baik kau lanjutkan tidurmu!” Ucap Minho lembut dengan menghela pipi kiri Marie lembut.

Matahari dengan semangatnya menjulangkan dirinya ke angkasa raya. Ia membagikan cahayanya dengan senang hati tanpa ada rasa pelit (?). Otomatis, dengan kebaikan sang fajar, anggota SMEnt pun terbangun satu persatu hingga akhirnya hampir semua telah terbangun, kecuali villa dengan kode Y, di dalamnya masih terdapat dua orang yang masih terjaga dalam tidurnya, nyenyak sekali. Sehingga mereka yang tidur sama sekali tak merasa jika mereka sedang diperhatikan banyak orang di depan kamarnya, bahkan ada juga yang memperhatikannya dengan jarak yang dekat.

“Jam 8. Kenapa mereka masih terjaga ya ? Apa saking capeknya semalam ?” Onew menatap Minho dan Marie dengan tatapan belo’onnya.

“Wajar sajalah. Yeojanya belum makan semalaman, sedangkan si namjanya tidurnya baru seperempat malam. Kan namjanya membelakan menjaga tidur si yeoja agar cepat sembuh.” Timpal Jonghyun di belakang samping Onew yang memperhatikan dengan tatapan herannya.

“Imut juga ya mereka. Neomu aegyo uri HoMar Couple.” Taemin menatap Marie dan Minho dengan damai dan kehangatan yang ia rasakan.

“Hoaam, kok riuh ya sepertinya ?” Kini Marie telah bangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya, ketika penglihatannya jelas, matanya langsung terbelalak dan ia langsung duduk tegap di atas kasurnya. Ia menatap kaget orang-orang di depannya.

“Wae ?” Tanya Marie dengan lemas dan heran.

“Beside you!” Key mengarahkan dagunya menunjuk namja di samping Marie yang masih tertidur.

“What were you did last night with his ? Both of one bed ? Please tell to us about last night…” Sepertinya Key sedang menahan tawanya.

“Ada apa ?” Suara Tao yang tiba-tiba masuk sama sekali tak ada yang menghiraukannya. Otomatis, Tao langsung membungkam mulutnya sendiri karena sebenarnya ia juga sedang menahan tawanya.

“Mwoya ?” Akhirnya Minho pun terbangun dari tidurnya. Tanpa basa-basi ia langsung terbelalak kaget melihat apa yang terjadi di depannya.

“Minho-ya!! Kau sadar kan apa permasalahannya sekarang ?!!”

“YAK!!” Minho terperanjat kaget, sehingga ia tanpa sadar posisi duduknya melompat ke belakang.

“Semalam aku hanya menjaganya. Semalam dia sakit, aku tak tega meninggalkannya. Dan semalam juga aku hanya tidur di sampingnya. Tidak terjadi apa-apa, kalian jangan negative thinking dulu! Pakaian kami masih lengkap kan ?!!” Anehnya, seharusnya Minho takut, tapi ia justru kesal dan sepertinya ia marah terhadap tuduhan dari para hyung dan kerabatnya.

“Apa penjelasan lebih jelasnya ?” Tanya Key menantang.

“Semalam saja kita tertidur dengan pintu kamar terbuka lebar.

“Baik. Agar kejadian ini tak berakhir memalukan, kau harus melamarnya sebagai tunanganmu!!” Mendengar ucapan lantang Key, Minho dan Marie pun seketika terbelalak kaget.

“Mwo ?!! Jangan gila kau HYUNG!! Dia masih umur berapa sudah harus ku lamar ?!! Dia harus meluluskan pendidikannya dulu sampai kuliah hyung!! Aku ingin cita-citanya tercapai!!” Tanya Minho histeris yang membuat Marie kaget juga akan sikap Minho.

“Lantas bagaimana dengan perasaanmu sebenarnya ?”

“Ya aku sangat mencintainya. Tapi untuk saat ini aku takkan melamarnya.” Ucap Minho lemas. Mendengar itu Marie keluar dari kejadian itu dan ketika Marie keluar semua orang yang di sana sama sekali tak ada yang mengetahuinya. Entah ke mana Marie pergi, yang penting ia tak sampai keluar dari jangkauan SMEnt, atau masih berada di sekitar villa. Namun ternyata ada seseorang yang mengetahuinya. Tao dengan perlahan keluar dari kerumunan orang-orang tersebut dan berlari mengejar Marie.

“Marie-ya!!” Teriak Tao kepada Marie, otomatis orang yang diteriakinya pun berhenti dan membalikkan badannya menatap namja yang memanggilnya.

“Eodiga ?”Nafas Tao nampak tersengal hasil dari larinya. Ia memegang tangan Marie.

“Keluar.”

“Keluar ? Kau saja belum mandi ?” Ucap Tao terang-terangan yang membuat Marie tersadar bahwa ia baru saja bangun tidur langsung keluar dengan penampilan yang kusut.

“Omo! Kau benar juga. Mian, aku kembali dulu!” Marie langsung berlari memasuki kamar mandi villanya dan langsung mandi.

**

“Marie-ya!!”

“Ne Tao-sshi ? Wae ?”

“Kau jadi keluar ?”

“Aku takkan pernah mencabut perkataanku sebelumnya. Pasti aku akan keluar untuk menenangkan diriku.” Hendak Marie meninggalkan Tao, tapi Tao sendiri lebih dulu menahan tangan Marie.

“Aku ikut.”

“Aku ingin sendiri.” Ucap Marie tetap bergegas melepaskan tangannya dari Tao.

“Sebenarnya kau itu butuh hiburan kan ? Aku akan menghiburmu.”

“Tak usah repot-repot.” Kali ini tangan Marie benar-benar telah terlepas dari Tao.

“Hilangkan egomu! Aku tau kau butuh hiburan. Jika kau sedang ada masalah dan kau menyendiri, kau justru akan tambah sedih.”

“Ya sudah kalau kau memaksa.” Mereka berdua berjalan keluar dari villa dengan bersampingan. Tapi, ternyata sedari tadi ada seorang namja yang memperhatikan mereka dari jarak yang jauh di belakangnya. Namja itu menatap dengan tatapan sinis dan penuh curiga. Namun baru saja keluar villa, Tao tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.

“Wae ?”

“Dompetku tertinggal. Tunggulah di sini!” Tao berlari kembali ke villanya. Namun di tengah larinya, ia dihadang oleh namja yang memperhatikan mereka sedari tadi. Namja itu menatap sinis Tao lalu menatap Marie dari kejauhan dengan tatapan kebersalahan. Dan ia menatap Tao lagi.

“Mengapa kau bisa bersamanya ?”

“Mian sebelumnya hyung, ini semua gara-gara kau!”

“Kenapa aku bisa bersamanya ? Itu hakku. Kau telah menyakitinya lagi. Dan dia butuh hiburan dari seseorang yang bukan dirimu.”

“Apa kau bilang ? Salahku ?”

“Ne. Tapi kau masih ada kesempatan lagi jika kau ingin mengejarnya.”

“Aku tak salah.” Ucap Minho dengan nada datar dan mimik wajah berpikir.

“Hei!! Dia sekarang sedang marah denganmu! Dan itu karenamu, HYUNG!!”

“Kau juga marah kan dengannya ? Tapi dia sama sekali tak tau jika kau marah dengannya, jadi jika aku tak mengatakannya pasti hubungan kalian akan renggang. Kau mengejarnya atau aku ambil kesempatan ini ?” Lanjut Tao kini dengan tenang.

“Mianhae Marie-ya~” Ucap Minho dengan pelan tanpa menghiraukan pertanyaan Tao. Ia menyesal, hendak ia meninggalkan Tao, namun Tao menghentikannya.

“Wae ? Jangan menghalangi aku!”

“Aku takkan menghalangimu. Tapi jangan seperti ini caramu.”

“Terus bagaimana ?!!” Suara Minho berubah menjadi teriakan.

“Begini saja…” Ucap Tao dan dilanjutkan dengan bisikannya di telinga Minho.

***

Siasat mereka pun telah terencanakan. Tao segera bergegas kembali ke Marie dengan dompet yang sudah ia ambil dari villanya. Namun Tao terhenti seketika karena melihat Marie sudah tak ada di tempat mereka janjian sebelumnya.

“Pak, apakah anda tadi melihat perempuan mengenakan pakaian coklat semua ? Rambut diurai ? Dengan tas di bahunya ?” Tanya Tao panjang lebar kepada satpam villa yang ada.

“Nona Marie ?” Tao hanya mengangguk mantab.

“Tadi dia sudah naik becak. Entah kemana.” Tao mengacak rambutnya gusar. Ia menghembus nafas kesal lewat mulutnya sehingga kedua pipinya menggembung.

“Aku kabari Minho saja.” Ia mengambil ponselnya dan mengetikan sebuah pesan.

Marie POV

 

Hm… Lama amat sih Tao sunbae ini ? Lebih baik aku duluan saja, entar aku kabarin dia saja, diakan bisa nyusul ?

Mwo? Tumben sekali aku menganggapnya sunbae ku ? Reflek mungkin.

Oiya, karena biasanya aku hanya memanggilnya dengan namanya. Nggak sopan ya ? Padahal aku lebih muda darinya setahun. Apalagi dengan CHOI MINHO, issh! Nama itu, kenapa teringat di saat-saat begini sih ? Aku memanggilnya Minho, lebih tidak sopan lagi kan ? Kalau aku manggil oppa, nggak enak dengernya, kalau sunbae… Dia kan bukan sunbaenimku. Jadi aku tak berhak memanggilnya sunbae. Sudahlah basa-basinya. Semakin siang nih, lebih baik aku segera berangkat saja. Aha! Bingo! Ada becak lewat!

“Pak!!” Aku menyapa becak yang lewat dan langsung mendudukinya.

“Kemana mbak ?”

“Ke Hard Rock Café, pak!” Mendengar jawabanku, becak langsung terlesatkan dengan pelan. Sehingga angin pagi yang hampir siang ini berhembus menerpa wajahku.

Lumayan lama waktu yang dibutuhkan untuk menuju Hard Rock Café dengan menaiki becak. Entah berapa lama waktu yang termakan, itu tak penting. Lebih baik aku segera masuk.

“Terima kasih pak!” Aku menyunggingkan senyumku setelah memberikan uang jasa becak kepada bapak yang mengendarainya.

“Sama-sama mbak.” Aku memasuki cafe ini dengan santai, tak gugup seperti biasanya aku memasuki tempat elit seperti ini. Wajarlah, aku hanya orang sederhana dan baru ini masuk ke dalamnya. Aku bangga hasil jiri payahku sendiri sebagai MC. Tak sia-sia juga aku dulu membela-belakan mendaftar sana-sini demi mengikuti kompetisi MC antar sekolah maupun dari tabloid. Dan alhasil di setiap lomba aku selalu mendapat juara pertama, apalagi ketambahan bicaraku yang fasih hampir enam bahasa. Mangkanya, awalnya aku heran kenapa manajemen seterkenal SM sampai-sampai mengontrakku sebagai MC of world tour concert. Paling karena bicaraku yang fasih. Sudahlah Marie Lee!! Kenapa kau membahas dirimu sendiri sih ?

Batinku menyadarkanku. Terutama kini aku terdiam karena mendapat tatapan dari banyak pasang mata. Entah apa tatapan mereka, yang penting aku risih jika ditatap seperti ini. Aku menghembuskan nafas lewat mulutku lalu berjalan dengan berusaha santai. Aku memilih dan duduk di kursi sebelah jendela cafe ini. Kenapa dengan orang-orang itu ? Apa ada yang salah denganku ? Ada yang aneh ? Sudahlah, lupakan!

Bingo! Pelayan datang menghampiriku!

“Anda pesan apa ?”

“Hot chocolate satu.”

“Okay. Tunggu kurang lebih 5 menit ya.” Aku hanya menyunggingkan senyumanku menanggapinya. Daripada tamu yang baru datang melihatiku lagi, lebih baik aku pakai saja kacamata hitamku ini. Untung saja aku membawanya. Aku melihat sekitarku, ternyata lebih banyak bule yang datang kemari daripada orang Balinya langsung, paling hanya beberapa. Aku suka cafe ini, suasananya khas barat dan klasik. Omona! Siapa dia ? Aku familiar sekali dengannya, pawakannya sangat ku kenal. Tapi sulit sekali untuk menebaknya, karena ia mengenakan masker, topi, dan kacamata hitam. Sepertinya dia artis. Siapa ya ? Kim… Kim Myungsoo ?!! Andwae!! Jangan sampai dia melihatku di sini!!

“Elshinta?? Eodiga ?!!” Aku mencari tabloid favoritku. Di mana ya ? Ini demi penyamaranku agar aku tak dikenalinya.

Bingo! Ketemu! Segera aku menutupi wajahku dengan berpura-pura membaca tabloid ini.  Aku takut jika ia mengenaliku, karena tadi ia sempat melihatku entah menatapku atau tidak, karena ia mengenakan kacamata hitamnya. Jadi aku tidak tahu.

Normal POV

“Nona, ini hot chocolatenya.” Pesanan Marie telah selesai, ia mengantarkan sesuai pesananan Marie, secangkir hot chocolate. Namun sama sekali tak ada tanggapan dari Marie, sehingga si pelayan sendiri pun langsung berlalu meninggalkannya.

“Nona… Hot chocolatenya nanti jadi cool chocolate loh ?” Seketika Marie tersadar mendengar suara namja yang dikiranya si pelayan tadi.

“Ah, iya. Terima ka..sih..” Seketika Marie tercengang, untung saja ia mengenakan kacamata hitamnya, otomatis matanya yang terbelalak itu tak terlihat.

“Nuguya ?”

“Kau ingat aku ?”

“Issh! Maksudnya siapa ya ?”

“Bukalah kacamatamu! Aku tau kau siapa.” Marie yang diajak bicara justru tak menggubrisnya.

“Ya sudah. Aku dulu yang membuka kacamatanya, pasti kau ingat.”

“Kim…?” Jari telunjuk Marie bergerak tak tentu arah. Ia berpura-pura sedang berpikir.

“Myungsoo-sshi!!” Marie membuka kacamata hitamnya ke atas. Myungsoo, namja di hadapannya, namja yang dimaksud Marie itu pun hanya menyengir. Ia sebenarnya tahu bahwa Marie hanya berpura-pura.

Bagus juga aktingnya.‘ Batinnya. Myungsoo langsung duduk di hadapan Marie.

“Kau takkan pernah lupa denganku.” Myungsoo melepas kacamata hitamnya beserta maskernya.

“Mwo?”

“Lupakan! Bagaimana kabarmu ? Lebih sering menghadapi olimpiade setelah dulu ?”

“Ah! Ne!”

“Myungsoo-sshi! Kabarmu pasti baik sekali ya ? Kau sekarang sudah jadi member dari boyband yang sedang naik daun sekarang ?”

“Tidak juga.”

“Mwo?

“Tanpa cinta.” Lanjut Myungsoo dengan seringaiannya menatap Marie.

“Sampai sekarang kau belum mempunyai yeojachingu ?”

“Ne. SUDAH sejak dulu aku sama sekali tak melirik yeoja sedikit pun. Karena aku sibuk dengan pekerjaanku sekarang dan masih belum ada yeoja yang dapat mencuri hatiku.”

“Jangan-jangan kau…” Marie menggantungkan kalimatnya.

“Jangan bicara yang aneh-aneh deh!! Itu minumlah cool chocolatenya!!” Ucap Myungsoo agak kesal dengan asal-asalan.

“Sincca ?” Marie langsung menyeruput hot chocolatenya. Ketika minuman itu masuk di mulut Marie seketika ia langsung mengangakan mulutnya dan mengipas-kipaskan tangannya di depan mulutnya. Ia kepanasan. Dan dengan perlahan ia meneguk minuman yang berada di mulutnya masuk ke dalam tenggorokannya.

“Hei! Kau sama sekali tak berubah Myungsoo-ya!! Sejak dulu kau selalu mengerjaiku!!”

“Jelas-jelas asap masih keluar, langsung asal minum saja! Memang sejak kita bertemu seluruhnya dariku sama sekali tak ada yang berubah terhadapmu.”

“Mwo?” Marie sama sekali tak mengerti maksud Myungsoo.

“Bagaimana ceritanya kau bisa menjadi yeojachingu Minho hyung ? Apa itu sungguhan ?”

“Issh! Jangan bahas itu!! Kesan awal kita bertemu sungguh menyebalkan!! Awalnya hubungan kita hanya sebuah perjanjian pekerjaan saja. Tapi entah sejak kapan, perjanjian kita berubah menjadi perjanjian cinta sebenarnya, layaknya sepasang kekasih yang saling berjanji dalam hubungannya.” Sejak awal mendengar penjelasan Marie, Myungsoo langsung terdiam dan menatap lurus ke arah cangkir Marie.

“Marie-ya! Bagaimana jawabannya ?”

“Mwo?”

“Saranghaeyo… Bersedia menjadi pengisi lubang hatiku ?” Ucap Myungsoo dengan mimik wajah serius.

“Myungsoo-sshi, Myungsoo-sshi!! Bercandamu memang tak lucu!!” Ucap Marie dengan tawanya yang hambar.

“Serius. Bukan bercanda!!” Ucap Myungsoo lebih serius.

“Mianhae Myungsoo-ya! Sejak awal ku kira kau hanya bercanda. Namun ternyata itu sungguhan, sampai sekarang juga. Jeongmal mianhaeyo! Aku tidak bisa mengisi lubang hatimu. Karena kau tau sendiri kan ? Aku sudah mengisi lubang hati orang lain ?” Myungsoo tertunduk mendengarnya.

“Arraseo! Aku takkan memaksakannya.” Myungsoo menengadahkan wajahnya dengan senyuman yang terukir. Walau pun terkesan terpaksa senyumannya itu.

“Ya sudah. Untuk terakhir kalinya. Ayo!!” Myungsoo mendekatkan Marie lebih menempel di sampingnya.

“Mwoya ?” Merasa aneh, Marie menatap heran Myungsoo di sampingnya.

“Abadikan pertemuan kita.” Tangan Myungsoo sudah siap dengan ponsel yang kameranya telah siaga.

“Oh! Ne!”

“Dengan ponselku dan ponselmu juga.” Dengan beraninya Myungsoo mengecup pipi kiri Marie kilat.

“HEI!! NEO!!”

“Sudahlah. Terakhir kalinya.”

***

Di luar Hard Rock Café, ternyata hanya tertinggal satu becak. Awalnya ada beberapa, namun setelah banyak penumpang yang menaikinya, kini hanya tertinggal satu yang sepertinya telah dipesan seseorang.

“Pak, becak!”

“Maaf, sudah dipesan.”

“Pak, becak!”

“Maaf, sudah dipesan.”

 “Pak, becak!”

“Maaf, sudah dipesan.”

 “…” Sudah tidak dapat dihitung lagi orang yang ingin menaiki becak itu. Namun tetap saja, jawaban pengendara becak itu sama saja sejak awal hingga ada seorang yeoja yang baru keluar dari cafe itu langsung ditawari pengendara becak itu.

 “Becaknya nona ?”

“Oh! Iya pak.” Yeoja itu Marie, ia menyunggingkan senyum khasnya seraya langsung menaiki becak itu.

Di tengah perjalanannya, Marie menatap foto kecil di dompetnya. Ia menatap sendu seorang namja dalam foto itu.

“Minho-ya~ mianhae~, aku sama sekali tak sengaja bertemunya, aku bertemu rivalku waktu aku olimpiade dan tukar pelajar dengan murid dari Seoul International High School. Dan aku baru tau bahwa sejak kita bertemu, dia sudah mengagumiku dan sampai sekarang ternyata ia menungguku. Namun aku berterus terang dan tetap mempertahankan cinta kita, dan untung saja dia namja yang baik, dia takkan memaksakan aku untuk mencintainya. Tapi hal tadi yang paling aku kesali, berani-beraninya dia mencium pipiku, alasannya karena kita terakhir kali bertemu. Sungguh aku malu sekali bersamanya, mana lagi tadi dia mengajaku berfoto ria di ponselnya dan ponselku. Jadi jangan kaget ya Minhoku sayang, kalau kau membuka ponselku terdapat fotoku dengannya berdua, karena dia memaksaku. Aku tak tega melihatnya begitu. Dan kau sangat mengenalnya. Dia lebih muda darimu setahun dan dia adalah cameo di sitkommu Januari lalu. Dia ‘L’ Infinite. Namun cintaku terhadapmu takkan pernah pudar setitik pun. Karena hatimu telah terkunci di hatiku. Otomatis benih merahmu telah tercampur dengan benih merahku di dalam hatiku terdalam. Jeongmal saranghamnida Choi Minho~.” Di akhir katanya, Marie mengecup lembut foto Choi Minho di dompetnya sebelum ia masukkan kembali ke dalam tasnya.

“Huft~ untung saja tidak jadi keluar dengan Tao sunbae. Aku sudah lelah.” Marie mencoba melihat ke belakang, lebih tepatnya ke arah pengendara becak.

“Pak, kenapa pakai masker, pak ? Lagi flu ?”

“Ah, ne. Oh! Iya neng, saya lagi flu. Saya tak ingin penumpang saya tertular flu saya.” Jawab pengendara becak itu dengan membenahi perkataannya yang sempat salah.

“Sebentar pak, sepertinya saya kenal dengan pawakan seperti anda ?”

“Ah masa neng ? Pasti banyak pawakan seperti saya ?” Jawab pengendara itu dengan tetap fokus dengan mengendarainya.

“Tidak pak. Anda itu mirip… Hahh.. Choi Minho, anggota boyband terkenal Korea, SHINee, kenal nggak pak ?”

“Waduuh neng, kalau masalah begituan mah saya sama sekali tak tahu. Saya kan orang desa.”

“Oiya neng, ini mau kemana ?”

“Ke villa sekitar pantai Kuta sana pak, tahu kan ?”

“Oke dehh, sip neng!” Becak dilajukan lebih kencang oleh pengendaranya, aneh sekali, seberapa besar tenaga pengendara itu ? Hingga kecepatannya melebihi pengendara becak pada umumnya. Namun arah becak itu bukannya menuju villa yang dimaksud Marie, melainkan becak itu menuju ke pantainya sendiri, pantai Kuta.

“Loh, loh, pak ? Kok malah ke pantainya ?” Marie langsung heran dan kaget. Reflek ia hendak turun dari becak yang masih berjalan itu. Namun ia masih bisa berpikir dan mementingkan nyawanya untuk tetap mengisi raganya.

“Kajja! Tak usah banyak bicara!” Pengendara itu turun langsung menggandeng dan menarik paksa Marie untuk mengikutinya.

“Loh, pak! Apa maksudnya ini ?” Pengendara itu melirik kanan kiri lalu langsung membuka maskernya kilat.

“Pak Minho, ingat ya!!” Ucap pengendara itu yang ternyata adalah Minho seraya langsung menutup maskernya kembali.

“Issh! Dasar kau itu!!” Marie menahan tawanya yang seharusnya meledak itu.

“Pakailah kacamatamu! Karena banyak juga orang yang mengenalimu!”

“Siap Becak Ahjussi!” Marie membagikan merongnya di depan wajah Minho. Minho yang gemas otomatis langsung mencubit pipi kiri Marie.

“Issh! Dasar kau itu penumpang bandel!!” Minho mengacak kecil puncak kepala Marie. Mereka tersenyum renyah dengan saling berhadapan, aura mereka kini sudah tak ada lagi rasa kebencian, yang tertinggal hanyalah aura kedamaian di antara mereka berdua.

**

Saat ini Minho dan Marie telah terduduk rapi di atas karpet yang ia tata di atas pasir putih pantai Kuta, dengan jarak beberapa meter di depan hamparan ombak pantai Kuta.

“Marie-ya, penumpang terbaikku ?”

“Ne, Minho-ya, Becak Ahjussi tertampanku ?”

“Mianhae atas segala kesalahanku.”

“Ne. Sebelum kau minta maaf, aku sudah memaafkan segala salahmu. Lagipula sebenarnya kau tak ada salah denganku, hanya saja waktu itu kau agak teledor sedikit untuk menjaga perasaanku, hehehe.”

“Mianhae juga kalau tadi aku menyakitimu lagi. Awalnya aku juga salah kira, terus kamu juga ikut-ikutan salah kira, kekeke.”

“Maksudnya ?”

“Aku mengira aku disuruh Key hyung untuk melamarmu sebagai istriku. Dan ternyata yang benar adalah melamarmu sebagai tunanganku. Mangkanya aku jawab takkan melamarmu sekarang, karena cita-citamu harus tercapai sebagai dosen sastra Inggris.”

“Oh. Oiya, salah kiraku itu kan, aku mengira kamu takkan melamarku selamanya, ternyata salah. Kau takkan melamarku untuk saat ini.”

“Ne. Aku takkan melamarmu sebagai tunanganku sekarang. Karena biasanya tunangan membutuhkan pesta yang besar, sedangkan waktu kita bersama hanya tinggal beberapa hari. Maka dari itu aku hanya akan memberimu ini.” Minho mengeluarkan sekotak kecil merah bentuk hati, dibukanya, dan ternyata di dalamnya terdapat sepasang cincin emas putih. Marie yang melihat itu, ia hanya bisa terbelalak dan tersenyum bahagia.

“Bukti bahwa hubungan kita akan berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi, walau pun tanpa tunangan.” Minho dengan segera langsung menyematkan cincin yang ukurannya lebih kecil ke jari manis tangan kiri Marie.

“Mwo? Pengendara Penumpang ?” Seketika Marie kaget membaca ukiran tipis di luar cincin itu yang terukir rata melingkari cincin Marie dan Minho.

“Ne. Pengendara Penumpang. Tenang saja, di dalamnya terdapat ukiran nama hangulku. Lihatlah ini!” Minho menunjukkan cincinnya yang sama dengan Marie hanya saja ukurannya lebih besar sedikit. Ia menunjukkan ukiran 메리 di lingkaran dalam cincinnya. Seraya Minho langsung menyematkan di jari manis tangan kirinya.

“Cincin ini harus selalu terpakai di jari kita masing-masing sampai 6 tahun ke depan. Hingga bukti ini akan digantikan di 6 tahun ke depan dengan bukti baru yang menunjukkan bahwa kita telah resmi bersama dalam keadaan apa pun untuk selamanya. Tunggu aku 6 tahun ke depan Marie Lee! Aku yakin 6 tahun ke depan aku pasti sudah menyaksikanmu sebagai dosen sastra Inggris, yang killer pastinya. Dan selama 6 tahun ke depan, kita takkan hilang kontak, kita selalu berhubungan, arra ?” Marie hanya mengangguk manja.

“Tunggu aku kelak menjemputmu di Universitas yang kau ajar ya ? Dan kelak namamu berganti marga menjadi Marie Choi.” Minho mengecup lembut kening Marie.

“Ne, chagiya~” Marie langsung memeluk Minho, dan seketika tangisannya pun meluber di pundak Minho.

“Mwo? Kok nangis ? Harusnya seneng dong!”

“Aku ini menangis tak kuat menahan kebahagiaan ini, Minho-ya!”

**

Malam pun tiba, sekarang tepat pukul 7 malam, tetap di lokasi yang sama, Tao pun menyusul, namun ia tak sendirian. Ia ditemani member EXO lainnya, Suho, Sehun, dan Kris. Dengan GPS ponselnya yang tetap menyala dan terhubung dengan bluetooth ponsel Minho sejak siasatnya terlaksanakan itu pun sangat membantu untuk pencariannya mencari keberadaan Minho dan Marie yang sekarang telah mereka temukan dan ternyata orang yang mereka temukan justru tertidur lelap di karpetnya. Tangan kiri Minho nampak menggandeng lembut tangan kanan Marie.

“Untung saja tidak ada cacat.” Suho, sang leader EXO-K yang sangat perhatian pada membernya pun ternyata juga perhatian dengan orang di dekatnya.

“Ne. Untung saja SHAWOL dan flamers membiarkan mereka tertidur lelap dan tak mengganggunya.” Kali ini Kris, leader EXO-M lah yang sedang memperhatikan HoMar Couple.

“Kajja hyung! Takut larut semakin menjemput ?” Akhirnya sang maknae EXO-K lah yang menyadarkan lamunan mereka bertiga.

“Hei!! HoMar Couple KUPRETT!! PPALI IREONA!!” Teriak Tao dengan susah payah, padahal hanya satu kata yang ia pelajari, namun tetap saja masih susah ia ucapkan, walau pun ia sendiri sudah fasih, hanya terkadang ia lupa pengucapannya.

“Ah ne! Kami bangun!!” Teriak Minho dan Marie yang terkagetkan dan terbangunkan dari tidur mereka.

“Kajja pulang!!”

“NE!” Teriak Minho dan Marie serempak bersamaan. Mereka berjalan gontai mengekor di belakang 4 orang namja yang barusan menjemputnya.

*****

Sejak itulah, 3 hari sebelum mereka berpisah. Mereka memenuhi hari-hari itu dengan kebersamaan mereka yang damai. Dan Marienya sendiri pun memutuskan untuk tidak mengikuti kontrak SMEnt, karena ia harus melanjutkan pendidikannya dan mencapai cita-citanya. Namun pihak SMEnt sendiri masih membutuhkan jasanya sebagai MC, namun di lain waktu. Jadi kontrak Marie dengan SMEnt akan berlanjut setelah cita-cita Marie tercapai. Dan selama beberapa tahun ke depan, Marie dan Minho sama sekali tak hilang kontak, walau pun mereka terpental sangat jauh, namun cinta sejati mereka yang dulu hanya teresmikan dalam kurun waktu yang tidak lama, dapat menyatukan mereka kembali.

[Finally] In Six Months Later, that is now…

Sekarang, setelah 6 tahun terlewati, akhirnya cita-cita Marie pun tercapai sebagai dosen sastra Inggris di Universitas Indonsia, Jakarta. Atau lebih dikenal UI. Di umurnya yang ke-24 tahun itu, Marie tergolong dosen termuda. Otomatis ada juga siswa yang diajarinya yang jatuh hati dengan Marie. Namun seperti apa pesan Minho dulu, menyaksikanmu sebagai dosen sastra Inggris, yang killer pastinya.Pesan Minho itu akhirnya terkabulkan juga, Marie menjadi dosen yang tergolong killer, sehingga membuat siswa ajarnya sudah tak berani bermain-main dengannya lagi.

Sekarang adalah waktu istirahat, dan waktu itu telah berlalu. Dan sekarang, saatnya Marie menjalankan tugasnya sebagai dosen, mengajar di sebuah kelas.

“Bu Marie!! Saya juga ingin dong ngelihat cincin 6 tahun lalu!!” Ketika batang hidung Marie barusan terlihat di kelas yang akan diajarinya, langkah kakinya terhenti di depan papan dan menatap sinis siswa yang mengejeknya barusan.

Mwo? Tau darimana murid itu ?‘ Mata Marie mencari wajah siswanya yang mencurigakan. Dan terhenti pada wajah seorang namja. Yang ia kenal sebelum ia menjadi dosen. Namja itu sangat familiar di mata Marie.

Jelas saja! Perasaan sudah tak ada siswa yang berani bermain-main denganku. Oh! Ternyata dia!‘ Marie menatap namja itu sinis dengan sudut kanan bibirnya tertarik.

“Kau siswa baru di sini ??!” Tangan Marie tak tinggal diam, ia memainkan tongkat yang biasa ia gunakan untuk menunjuk muridnya.

“Ne. Untuk saat ini saja. Karena besok…” Ucapan namja itu ia gantungkan. Namja itu berjalan mendekati Marie.

“Hei!! Berani kau ya murid baru, mendekati gurumu ini!! Berhenti satu meter di depan ibu!!” Namja itu tetap melangkahkan kakinya mendekati Marie, sehingga Marie pun ikut mundur.

“Jangan berusaha menggoda ya!! Ibu takkan tergoda!!” Marie dengan hati-hati menekankan tongkat itu di perut namja itu, otomatis namja itu mundur.

“Kau bukan guruku lagi, melainkan istriku.” Ucap namja itu di awalnya, dan berbisik di akhirnya.

“Benarkan!! HoMar Couple itu tak pernah berpisah, mereka hanya izin sebentar untuk mencapai cita-cita mereka masing-masing. Lihatlah sekarang!! Choi Minho dan Marie Lee kembali!! Horeee!!” Salah satu siswi yang termasuk SHAWOL pun berteriak girang melihat apa yang mereka saksikan.

“Cium! Cium! Cium! … ” Teriak seluruh siswa dalam kelas bersamaan dengan tepuk tangan mereka.

Mendengar itu Minho hanya menyeringai menatap Marie, ia bergegas lebih mendekatkan dirinya ke arah Marie, otomatis Marienya pun berjalan mundur. Bukannya ia takut, Marie justru tersenyum lalu memandang sepatu Minho sejenak, dan dengan kilat ia langsung menginjak salah satu kaki Minho. Seketika Minho meneriakan sekali teriakan kesakitan sambil memegang kakinya yang terbalut sepatunya.

“Ekkhm! Minho-sshi! Itu untukmu sebagai murid… Jangan di sini! Besok saja setelah kita resmi, untuk hubungan kita sebenarnya!” Teriak Marie di awalnya dan bisik Marie di akhirnya tepat di telinga Minho.

“Ok yeobo! Lebih cepat lebih baik. Kajja! Pertemukan aku dengan kedua orang tuamu, karena orang tuaku telah bertemu dengan orang tuamu!” Bisik Minho tak kalah menggoda di telinga Marie.

“Oke anak-anak!! Mata kuliah hari ini saya akhiri!! Maaf sebelumnya!!” Marie merapikan perlengkapan yang ia bawa sebagai dosen sebelum meninggalkan kelasnya.

“Kami ikut BU!!”

“NE! Dengan kendaraan sendiri-sendiri dan tanpa mengganggu YA!!” Teriak Marie sambil ia berjalan meninggalkan kelasnya keluar menuju parkiran.

“Mana kendaraanmu ?”

“Memang aku tadi diantar. Tapi… Kajja! Ikut aku saja!” Minho dan Marie berjalan santai keluar gedung sekolah, dan Minho berhenti pada sebuah becak di hadapannya. Otomatis Marie di sampingnya pun reflek berhenti juga. Ia tersenyum bahagia menatap becak yang akan ia tumpangi itu.

“Sekarang becaknya sudah romantiskan ?” Marie hanya mengangguk. Matanya sudah digenangi air mata kebahagiaannya.

“Bacalah!” Minho menunjuk sebuah tulisan di atas becak itu.

“Love Story Of MinHoMarie Couple.” Di bawah tulisan itu terdapat panah ke bawah yang menunjuk pada sandaran becak tersebut.

“Manisnya!!” Marie membaca sandaran becak yang penuh dengan tulisan tangan, isinya adalah tentang kisah cinta mereka yang selalu sambung menyambung karena kekuatan cinta mereka dan becak.

MACET yang mempertemukan mereka.

PRESTASI yang memperkenalkan mereka.

SKANDAL yang membuat mereka ada hubungan.

KECEMBURUANyang membuat perasaan mereka semakin dalam satu sama lainnya.

SALAH PAHAM yang menimbulkan masalah di antara mereka.

ORANG KE-3 yang membantu masalah mereka.

BECAK yang meredakan masalah dan menenangkan mereka.

Dan

KEKUATAN CINTA yang membuat mereka selalu bertahan sampai ke dalam kehidupan mereka yang baru, dalam suka mau pun duka, sampai MAUT akan memisahkan mereka.

Tak selalu cinta itu membutuhkan modal material yang tinggi. Buktinya, BECAK dapat membantu hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan mereka. Walau pun BECAK bukan modal atau mas kawin mereka, yang penting modal yang tak tinggi seperti itu masih dapat dipergunakan dan bermanfaat untuk membantu kelancaran proses awal hubungan mereka, jika mereka sendiri ikhlas menggunakannya.

~~THE END~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “My Love Was Continued On Rickshaws – Part 3 (END)”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s