Crash – Part 4

Title: Crash (part 4)

Author: Sierra K

Main Cast: Kim Ki Bum (Key), Choi Ji Hyo (this could be you), Lee Jinki, Jung Nicole

Support Cast: Lee Taemin.

Length : Sequel

Genre: Friendship, Romance, school life

Rating : PG-15

Summary : we were young, we were in our teens, it wasn’t a real love.

I’m in Trouble, I’m in Addict, I’m Addicted to this Girl

She’s got My Heart Tied in a Knot, and My Stomach in a Whirl

-Trouble, Never! Shout Never-

 

Kim Ki Bum’s POV

                Aku merenungkan kejadian memalukan tadi siang. Tadi aku mengatakan sesuatu yang tidak semestinya Ji Hyo dengar dan tahu. Aku takut, aku takut Ji Hyo akan menjauhiku, aku takut Nicole tahu, aku takut Jinki marah. Dan aku menyesal, menyesal mengapa semua itu datang dari hati.

Perasaanku kacau. Disaat aku sedang kalut menghadapi masalah percintaanku dengan Nicole—kebosanan yang sudah benar-benar parah—dan tiba tiba saja, Ji Hyo datang. Ia memberikan ketenangan yang aku butuhkan, menyesap kedalam hatiku, hangat.

Aku lantas berpikir, mungkin Ji Hyo adalah orang yang tepat, hanya datang di waktu yang salah. Mengapa aku dulu sangat bodoh, tidak menyukai Ji Hyo dari dulu. Dulu, aku hanya menganggap dia sebagai gadis kutu buku yang tidak mengerti apa-apa—walaupun ia populer.

Aku men-dial nomor handphone Ji Hyo, ingin mengatakan yang sebenarnya. Saat ini, aku benar-benar tidak peduli hubungan kami berempat yang bisa saja langsung hancur karena pengakuan fenomenal dariku, aku hanya ingin ia tahu. Hanya itu. Aku mendengar suara Ji Hyo dari kejauhan, terdengar enggan mengangkat telfonku.

yoboseyo?” suaranya membuat jantungku berdegup kencang. Suara lembutnya, membuat darahku berdesir cepat. Lidahku kelu, tidak tahu ingin berkata apa. Blank. Ia mendengus kesal dan hendak menutup telfonnya, namun aku—dengan sekuat tenaga—berkata, “chakkaman. Tunggu dulu”

“ada apa?” tanyanya dingin, namun benar benar mengalun indah seperti lagu di telingaku. Aku menelan ludah, mengumpulan keberanian untuk mengatakannya, “soal CD One Night Only itu….” Tuhan, mengapa itu yang aku katakan? Seharusnya aku berkata, Ji Hyo, aku menyukaimu. Semenjak malam itu. Aku rasa kau orang yang sebenarnya tepat untukku. Namun, entah ada apa yang salah dengan otakku, atau mungkin mulutku, membuatku tidak bisa berbicara apapun.

“ya, kenapa? Kamu mau? Ambil saja.” ucapnya terdengar mendesak, seolah aku mengganggunya. Aku masih diam mematung, tidak mengerti dengan kinerja diriku sendiri. “bukan, itu buat kamu” Ah! Kenapa itu yang keluar dari mulutku? Aku terdengar sangat konyol. Aku merutuk dan dengan jelas, aku bisa mendengar Ji Hyo terkekeh pelan.

“kamu sakit?” tanyanya dengan nada mengejek. Ia masih terkekeh, mungkin ia baru pertama kali mendengar seorang Key gugup. “bukan.. bukan itu yang sebenarnya ingin aku katakan” suaraku masih bergetar saat mengatakannya, dan suasana menjadi hening, Ji Hyo berhenti tertawa.

“kalau aku putus dengan Nicole, bagaimana?” tanyaku. Sekali lagi, bukan itu yang ingin kukatakan. Namun, pertanyaan ini adalah opsi kedua. Seharusnya aku menyatakan cinta, seharusnya. Ia terdiam, tidak menjawab. Aku mengeluarkan keringat dingin, apa yang akan ia jawab?

“kamu sayang dia, kan, Key-a?” tanyanya dengan nada mengintimidasi. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, ya atau tidak. Kalau aku menjawab ‘ya’, itu semua kebohongan, and Ji Hyo will be fine with my statement, namun bukan itu yang aku mau. Kalau aku menjawab ‘tidak’, itu semua benar, and Ji Hyo will be mad at me about my plan to leave her bestfriend, dan aku juga tidak menginginkan itu.

Aku memilih kebohongan,  opsi pertama. Aku mendengar Ji Hyo mendesah, tidak tahu antara lega atau sebaliknya—aku harap sebaliknya, dengan begitu ia juga menyukaiku—“jaga dia baik-baik Key-a. dia sangat mencintaimu, jangan sakiti dia” ucapnya dengan nada bergetar, lalu menutup telfonnya begitu saja. Aku merasa bersalah sekarang.

Aku benar-benar mencintainya.

***

Choi Ji Hyo’s POV

Aku memeluk lututku dan menyembunyikan wajahku dibaliknya. Aku menangis. Menangis karena Key masih menyayangi Nicole. Menangis mengapa bukan aku yang Key sukai. Mungkin benar, perkataan tadi siang memang tidak sengaja dilontarkan oleh Key, dan aku terlalu banyak berharap. Berharap Key mengatakannya dari hati, berharap kalau hanya aku-lah yang benar-benar mengerti Key.

Mungkin, seharusnya aku menjadi pacar Key, Bukan Nicole.

Namun, aku salah. Tidak seharusnya aku mengharapkan seorang lelaki yang sudah mempunyai pacar. Tidak seharusnya aku mencintainya. Semuanya salah. Perasaanku terhadapnya salah. Mungkin.

Bel rumahku berbunyi. Aku mendengar suara eomma memanggilku dari bawah, dan sayup-sayup aku mendengar suara Jinki berbicara dengan eomma. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku langsung menghambur masuk kedalam kamar mandi dan mencuci wajahku, semoga saja mataku yang sudah membengkak ini hilang begitu saja.

Aku melihat Jinki yang duduk manis di ruang tamu, nampak sangat kasual seperti biasanya. Hanya kaus, celana jeans, dan kacamata. Rambut hitamnya terlihat sangat berkilau terkena cahaya lampu, Namun, tidak membuat jantungku berdetak cepat. Biasa-biasa saja. Tidak seperti dulu.

Jinki tersenyum lembut, tidak se-kaku biasanya. Matanya tertutup saat tersenyum, dan gusinya terlihat jelas. Aku duduk disampingnya, dan mencubit pipinya pelan. Ia masih tersenyum, wajahnya memerah, membuatku tertawa cukup keras.

“kamu menangis?” tanyanya saat ia melihat wajahku dari jarak dekat. Aku diam saja, tidak tahu harus berkata apa. Tidak mungkin rasanya jika aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak berani. Ia mengusap bagian bawah mataku lembut dan sangat pelan. Perlakuannya yang tiba tiba menjadi romantis seperti ini membuat pipiku bersemu makin merah. Jujur saja, Jinki belum pernah menciumku, setelah 2 tahun kami berpacaran. Berhadapannya dengan jarak sedekat ini pun, mungkin, baru terjadi dua kali, saat ia menyatakan cinta 2 tahun yang lalu dan sekarang.

Aku menggeleng lemah, hanya itu yang bisa aku lakukan. “aku baru bangun” ucapku dengan wajah menunduk malu. Jinki hanya menggelengkan kepalanya, dan ia menelungkupkan tangannya di wajahku, mendorong wajahnya lebih dekat. Jantungku berdegup sangat kencang saat ia mengecup bibirku lembut.

5 detik. Semua orang bilang, rasanya manis dan hangat saat sepasang kekasih berciuman. Namun, dengan Jinki, rasanya biasa saja. Dingin dan tidak ada getaran getaran hebat. Semua biasa saja, mirip seperti appa yang sering mencium bibirku saat aku masih kecil dulu.

Jinki melepasnya. Ia menunduk malu dan menggaruk tengkuknya yang aku yakin tidak gatal. Mungkin ini baru pertama kali baginya. “saranghae” ucapnya pelan. Ia menggenggam tanganku erat, ia benar-benar menyatakannya tulus.

nado, oppa” aku tersenyum, berusaha terlihat bahagia dengan perlakuan Jinki tadi, walaupun tidak sama sekali. Apakah aku jahat?

Apakah aku jahat kalau tidak mencintai seseorang yang sudah mencintaiku?

***

“serius?!” Taemin memukul meja cukup keras, membuat seisi kelas melihat ke arah kami dengan tatapan sinis. Aku mendengus kesal, sifatnya yang terlalu berlebihan memang menyebalkan.

“itu tandanya Key menyukaimu. Bodoh” ia menjentikkan jarinya di dahiku, membuatku mengusap dahiku yang panas karena sakit. Aku memang menjelaskan semua yang terjadi kepada Taemin, dan ia berasumsi kalau Key memang menyukaiku. Teori dari mana itu?

“kemarin, ia memelukmu karena tersandung batu? Ia menelfonmu dan gugup seperti itu karena lidahnya keseleo?” ia mengacungkan tangannya bak seorang yang sudah ahli, padahal pendekatannya dengan Suzy saja sepertinya tidak mengalami kemajuan. Dasar konyol.

“pelan pelan, Taemin-a!” aku sedikit membentaknya karena ia tidak bisa menurunkan volume suaranya. Suaranya memang selalu berubah menjadi mega-bass saat mendengar ceritaku dengan Key. Dasar tukang gossip.

“aku tidak merasa seperti itu” aku berusaha menyanggah semua rentetan pertanyaan dari Taemin. ia mendecak kesal, tidak setuju dengan perkataanku. Kamu itu bukan pengelak yang handal, ucapnya setiap kali aku berusaha mengelaknya. Dan, benar.

“kamu juga bilang kalau kamu tidak merasakan apa-apa saat dicium Jinki, kan?” tanyanya membuat aku melotot ke arahnya. Memangnya apa yang harus kulakukan setelah kemarin malam Jinki menciumku? Datang kesekolah dengan berjalan moonwalk, mungkin? Atau mungkin, aku harus membawa satu atraksi sirkus?

“itu adalah tanda-tanda kalau kau sudah bosan dengan Jinki. Strike” ucapnya, “i told you” ia mulai mengeluarkan banana milk favoritnya yang ia selundupkan di tasnya, aku mengerutkan dahiku, berusaha protes, namun tidak ada usaha yang bisa aku lakukan. Semuanya benar, tidak ada yang salah dengan perkataan Taemin.

Taemin-a, kau benar.

***

Hari ini Jinki ada rapat dengan organisasi sekolahnya, tidak bisa mengantarku ke rumah seperti biasanya. Aku melenguh kesal, dengan siapa nanti aku pulang? Seperti biasanya, aku bermain tetris di handphone-ku untuk menghilangkan kebosanan. Gagal.

Dejavu. 2 tahun yang lalu serasa terulang kembali. Mobil berhenti didepanku. Menimbulkan macet panjang dibelakang karena sang pengemudi tidak mau memakirkan mobilnya. Itu mobil Kim Ki Bum. Jantungku berdegup kencang saat ia membuka jendela dan menyuruhku untuk masuk.

Aku berjalan ke mobil dengan ragu, dan aku mencepatkan langkahku ketika mobil mobil di belakang Key tidak berhenti menyalakan klakson dengan tidak sabar. Key nampak tenang seperti biasa, seperti tidak sadar akibat ulahnya.

“Jinki menyuruhku” ucapnya pelan, aku baru sadar, Nicole tidak diantar pulang hari ini. Seakan bisa membaca pikiranku ia berkata lagi, “Nicole juga ada rapat dengan Jinki” ia terlihat sangat santai saat mengemudi. Siluet wajahnya dari samping memang sangat sempurna. Dan aku menyukainya.

“kalau aku putus dengan Nicole…” pernyataan itu lagi. Aku muak mendengarnya. apa maksudnya? Mengapa ia harus mengatakan itu padaku?

“sebenarnya, apa maumu?!” aku sedikit membentak Key yang masih tenang membawa mobilnya. Ia sedikit mengangkat alisnya, lalu tersenyum. Menyebalkan. Ia memakirkan mobilnya dan mulai menatapku.

“mauku? Aku ingin putus dengannya!” ia membentakku cukup keras. Nafasnya memburu menahan emosi, membuatku ketakutan setengah mati. Ia mengacak poninya frustrasi.

“mwo?! Bukannya kau bilang kau sayang padanya?” tidak mau kalah. Aku tidak mau kalah. Walaupun aku menyukai Key, namun Nicole adalah kekasihnya dan ia juga sahabatku, sudah sepantasnya ia aku perjuangkan.

“mau jawaban jujur atau bohong?” nada suaranya sudah kembali seperti biasa. Ia meraih pergelangan tanganku dan memegangnya erat. Aku tidak menjawab, membiarkan dia yang menjelaskan semuanya, “bohong? Aku ingin bersama Nicole selama lamanya, tidak ada yang memisahkan, bersama dirinya sampai tua nanti, dan aku kuat dengan tidak adanya Jonghyun hyung…..” ia seperti tercekat, “dan kau, Choi Ji Hyo, you’re nothing for me, you’re just my girlfriend’s besties” Aku tersentak mendengarnya.

“atau jujur? I’m in love with you. And i feel like there’s nothing wrong with it. Dan aku merindukan hyung ku, dan aku bosan dengan Nicole. There’s only you. It’s all about you.” Aku tidak menyangka dengan apa yang ia katakan, tidak mengerti. Aku benar-benar berpikir, apa maunya?

“bosan katamu?! Kau anggap Nicole apa?!” aku membentaknya. Cekalannya ditanganku semakin kuat, pergelangan tanganku memerah. Ia melemparkan pandangannya ke sekitar yang terlihat lengang, lalu kembali menatapku.

i know it sounds really cruel. Tapi, aku benar-benar bosan. And then, you came. you know how that feels” matanya seolah bisa mengatakan kejujuran didalamnya. Air mata sudah mengaliri pipiku. Aku tidak tahu apa yang harus kurasakan sekarang, semuanya tercampur menjadi satu, terasa menyesakkan.

uljima, jangan menangis. Mianhae, jeongmal mianhae” ia melepaskan cengkramannya dan ia menghapus air mataku, merengkuhku kepelukannya. Terasa sangat nyaman, lengan kokohnya seakan bisa menjagaku. Hanya dia yang mengerti aku, hanya ia yang tahu betapa aku juga mengerti dirinya. Hanya kami berdua yang tahu dari masing-masing pertanyaan itu.

Entah berapa lama kami berpelukkan, saat aku melepas pelukannya, matahari sudah terbenam. Cahaya matahari berwarna jingga menelusup masuk melewati kaca mobil, mencahayai kulit porselen Key, membuat garis rahangnya yang tegas semakin terlihat jelas. Aku melihat wajahnya yang tersenyum, seakan tahu akan jawaban dari pernyataan cintanya tadi.

saranghae. Mungkin terdengar sangat klise dan membosankan, namun, Itu benar. Aku tidak bohong” ucapnya lalu ia menyapukan bibirnya di dahiku, mengecup kedua mataku yang sudah sangat sembab, kecupannya turun ke hidungku, dan berhenti di bibirku, melumatnya dalam dan lembut. Rasanya manis dan hangat, seperti yang banyak orang katakan. Ia memegang lembut pipi kiriku dengan tangan kanannya, terasa seperti mimpi.

Seharusnya aku mendorongnya menjauh saat ia merengkuhku, seharusnya aku tidak ikut pulang dengannya, seharusnya aku tidak jatuh cinta padanya.

Namun, semuanya sudah terlambat.

***

Lee Jinki’s POV

“kalau gue putus sama Nicole gimana, ya?” Pertanyaan Key membuatku tersentak. Pasangan ini terlihat sangat mesra dan adem-ayem, tentu saja membuatku tidak menyangka Kibum akan mempertimbangkan hal itu.

“emang lo ada masalah apa sama dia?” aku bertanya tanpa menolehkan kepalaku, masih fokus dengan buku biologi yang baru aku beli kemarin. Key menghela napas panjang, terlihat sangat terbebani dengan yang dipikirkannya sekarang.

“bosen aja” ia mengedikkan bahunya dan kembali menatap lapangan kosong. Hanya kami berdua disini. Dengan terpaksa, aku hari ini menemaninya latihan. Ia minggu kemarin sudah menungguku selama 2 jam saat bimbel, balas budi, maksudku.

“hubungan lo sama Ji Hyo kayak gimana sih?” aku merasa biasa saja, 2 tahun yang kuat. Solid. Putus-sambung saja belum pernah. “baik-baik aja” jawabku singkat. Key hanya tersenyum masam, memainkan bola dihadapannya dengan tangannya.

“Ji Hyo tuh, orangnya kayak gimana sih?” kok hari ini, Key sangat menyebalkan ya? Daritadi, ia menanyakanku sesuatu tentang Ji Hyo. Seperti ingin mengorek kehidupan kami berdua. Sangat mengganggu.

“baik kok” jawabku singkat, enggan menambah. Key hanya mengangguk mengerti, dan saat ia memulai untuk membuka mulutnya, aku memotongnya, “lo sama Nicole gimana?”

Ia menghela nafas berat, seakan enggan memberatiku dengan masalah yang sedang dipikulnya, “gue sama dia udah pernah ngelakuin sesuatu yang harusnya gak boleh. Gue lepasin dia jadi susah, Hyung. Dia juga ngerasa dengan ngasih itu, gue gak akan pergi begitu aja dan bakal selamanya ada buat dia”

Aku terhenyak sesaat, aku merasakan penderitaan Key. Untung saja aku dan Ji Hyo tidak pernah sejauh itu. Untung saja Ji Hyo sangat dingin, tidak seperti Nicole yang seperti haus belaian seorang laki-laki. Aku bergidik membayangkannya.

Key terlihat merenungkan sesuatu, matanya terlihat kosong. Lantas aku berpikir..

Kalau saja Nicole tidak memberikannya, apakah sekarang Key sudah meninggalkannya?

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “Crash – Part 4”

  1. pdhl udh seneng akhrx key bs ju2r sm ji hyo ttg prasaanx…
    tp klmt d endng bkin mkin ruwet,emg key sm nicole udh nglakuin apa…#pura2begomodeon
    wuih,mkin penasaran nih…
    next part cptan y…

  2. yah gimana dong?? Ceritanya jd rumit begini sih.. Emang key ma nicole udh melakukan ‘itu’?
    Ditunggu ya kelanjutannya..

  3. waah jadi tambah rumit nih.. kalo mereka udah ngelakuin itu kan udah sulit banget bagi key buat lepasin nicole-___-
    tambah penasaran nih u,u next partnya jgn lama2 ya thor..

  4. keren nih..
    tapi kok aku pas baca si key.nya jadi orang lain ya di film yg ada di kepalaku ???
    #you know what i meant?? kalau ga tau ya udah,, ga tw ni bhs ku agak ketinggian 🙂
    wah klmt2 akhirnya agak ambigu.. he2
    ya udah terusin aja ya ff.nya..
    semangat.. 🙂

  5. Uuuufh key dah nyatain cintanya ma ji hyo
    ªkŮ Ğªќ tega kalo ntar jinki sampai †ªΰ kalo ji hyo dah Ъќ cinta ma dia..
    Jinki ma ªkŮ ja deewch

    Wah wah key n nicole dah nhapain tuch.
    Emmmm

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s