Loves Way – Part 7

LOVES WAY [Part 7]

Title : Loves Way [Part 7]

Author : Jung Yong Eun, Lee Taerin

Genre : School, Romance, Friendship, Life

Length : Sequel

Rating : PG-15

Main Cast : Bae Suzy, SHINee member

Support Cast : Find them in the story

AUTHOR POV

“Oppa….. hiks..hiks…oppa, kau akan baik-baik saja kan?” kata Hye Bum pada Key yang sekarang sedang terbaring lemah di tempat tidurnya. Yeoja itu semakin terisak melihat Key seperti itu, terbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya. Sangat beruntung sekali namja itu masih bisa terselamatkan setelah infeksi parah pada usus dan lambungnya yang membengkak akibat minuman yang dia tegak semalam. Seharusnya dia sudah mati karena pembengkakan itu, tapi kelihatannya Tuhan terlalu saying pada keluarganya sehingga namja itu tak dipanggilnya karena hanya akan menyisakan duka mendalam pada orang-orang yang mencintainya jika ia diambil Tuhan sekarang.

“Hye Bum-ah, aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir.” Gumam Key sembari meraih tangan Hye Bum dan diletakkannya di atas dadanya.

“Oppa, kau bangun? Ayo kita kerumah sakit, kau perlu perawatan lebih intensif.” Kata Hye Bum sembari berdiri dan bergegas keluar kamar untuk memanggil Song Ahjumma untuk segera menelfon ambulance, namun di cegah oleh Key yang menahan lengannya dengan sisa tenaga yang namja itu miliki.

“Wae oppa? Kau perlu ke rumah sakit. Aku tak mau dengar alasan apapun untuk tidak ke rumah sakit. Aku tahu kau benci rumah sakit, kau juga benci bau rumah sakit. Tapi saat Suzy koma di rumah sakit, kau selalu menemaninya dan menjaga ummanya disana. Kau mengabaikan rasa bencimu pada rumah sakit demi gadis itu, jadi kau harus mengabaikan bencimu pada rumah sakit demi dirimu juga. Atau kalau kau tidak bisa demi dirimu, lakukan demi orang-orang yang mencintai dan menyayangimu.” Kata Hye Bum panjang lebar. Yeoja itu tahu kalau Key akan menolak untuk pergi ke rumah sakit, karena itu yeoja itu mendahului alasan-alasan yang akan digunakan Key sebelum Key menghindar untuk ke rumah sakit.

Sebenarnya yeoja itu bisa membawa Key ke rumah sakit saat Key sedang terlelap dalam pengaruh obat, tapi jika Key dibawa kerumah sakit secara paksa dan tidak atas keinginannya sendiri dia akan pergi dari rumah sakit saat ia sadar sedang berada di rumah sakit. Hal inilah yang terjadi pada Key 4 tahun lalu, saat itu dia hanya sakit maag tapi saat rawat inap dirumah sakit ia kabur dan tak mau kembali kerumah sakit, sedangkan dirumah pola makannya tetap tak teratur, akhirnya penyakit maag yang tak ditangani serius dari awal itu berakibat fatal dan jadilah penyakitnya yang seperti sekarang ini.

AUTHOR POV END

Hye Bum POV

“Aku tahu, kita akan pergi ke rumah sakit. Aku tidak akan mati disini dengan sia-sia.” Deg… jantungku serasa berhenti berdetak saat Key mengatakan kata-kata itu. Mataku terbelalak menndengar ia berkata seperti itu. Tak biasanya dia berkata seperti itu, jika dia sakit dia akan berkata ‘Gwaenchana, aku pasti hidup.’ Atau dia akan berkata, ‘Jangan khawatir, ini tak serius.’ Seperti perkataannya sebelum ini, tapi kenapa dia berkata seperti itu? Ini bukan firasatkan? Tuhan jawab aku, ini bukan firasat’kan??

“Hye Bum-mie, kenapa kau diam saja. Ayo kerumah sakit, jika kau tetap diam disitu aku bisa saja akan mati disini sebelum dirawat.” Kata Key lagi.

“Kenapa kau menangis? Uljima..” lanjut Key.

“Aniya, kau tak akan mati disini. Kau akan tetap hidup untukku, benarkan?” kataku sembari mengusap air mataku dan mencoba tersenyum. Key tak membalas ucapanku, dia tak menjawabnya. Tuhan, dia akan hidup demi aku’kan? Kau tak akan tega mengambilnya dariku’kan Tuhan? Kau tidak akan sejahat itu padaku’kan Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sekarang memenuhi pikiranku, aku benar-benar tak akan sanggup jika ini benar-benar firasat. Aku yakin Tuhan tak akan setega itu padaku.

Hye Bum POV END

Suatu pagi yang cukup cerah di kawasan SM High School dan sekitarnya. Nampak tiga murid yang penampilannya lumayan mencolok dan sangat popler tentunya sedang mengobrol di depan pintu gerbang sekolahnya. Tak jauh dari mereka ada sesosok namja yang sudah kebiasaannya mengintip kehadiran murid favoritnya dari depan ruang redaksi. Di sisi lainnya lagi ada dua namja yang sedang memperhatikan namja yang duduk di depan ruang redaksi tadi.

Minho POV

“Jjong, apa Taemin selalu disitu untuk mengamati Suzy?”

“Ya mana aku tau, aku juga baru pertama kali mengintip orang seperti ini. Kenapa aku harus ikut denganmu mengintip kegiatan si Taemin sih? Lebih baik dan memang sehrusnya aku itu sekarang sedang berduaan dengan Jessica, mumpung dua antek-anteknya itu sedang izin tak masuk.” Omel Jonghyun panjang lebar.

“Siapa juga yang menyuruhmu ikut denganku, kau yang mau’kan? Sana cari saja yeojachingu tercintamu, aku juga tak perlu kau temani.”

‘Kenapa kau baru mengusirku sekarang, hah? Aku sudah mulai menikmati pengamatan ini.”

“Sudahlah, terserah kau saja.” Kataku lalu kembali konsentrasi pada Taemin yang kuduga sedang menunggu Suzy datang.

Namja itu perlu diberi pelajaran, selama ini dia pura-pura tak mengenal Suzy. Tapi kenyataanya dia juga mengagumi Suzy, yaa aku sadar kalau aku itu memang pengganggu. Aku datang belakangan tapi ingin mendapatkan Suzy duluan. Tapi itu semua bukan salahku, itu salahnya sendiri karena terlalu pengecut untuk mengakui rasa sukanya pada Suzy. Dan sekarang saat aku ingin mendapatkan Suzy, dia ikut berlomba mendapatkan hati Suzy. Namja pengecut, jika waktu itu Suzy tak menghentikan perkelahian kita,  sudah mati kau dari kemarin.

“Hey, jangan melihatinya seperti itu. Aku juga mengakui kalau Taemin itu jika dilihat lebih lama dan lebih dalam, dia terlihat cantik seperti yeoja. Tapi kau tak menyimpang dari takdir’kan?” celetuk Jonghyun sembarangan.

“Mworagu? Jangan asal bicara, kau tak melihat dendam yang membara dari sorotan mataku ini, hah?” ucapku kesal pada Jonghyun yang sedari tadi bicara aneh dan tak jelas maksudnya.

“Aku kan hanya bercanda, kenapa kau anggap serius begitu. Kau tak bisa santai yaa? Kau akan cepat keriputan tau.” Kata Jonghyun lebih mengada-ada.

“Sudah, diamlah.” Kataku kesal.

“Ya, aku akan diam. Dasar cerewet! Kau seperti yeoja saja.” katanya lagi, lalu kutatap dia dengan tatapan mautku, yaa meskipun tatapanku tak se-tajam dan tak se-mengerikan seniorku tapi lumayan ampuh untuk membuat Jonghyun diam.

Minho POV END

Suzy POV

Sudah beberapa hari ini Key tak pulang kerumahku sejak pernyataanku menerima perjodohan itu, dia pasti pulang kerumahnya sendiri. Dia pasti marah padaku, tapi aku juga marah padanya. Jelas-jelas dia sudah memiliki yeojachingu, tapi dia masih mau menuruti permintaan orang tuanya untuk menjagaku sampai keputusan perjodohan. Sekarang aku sudah mulai menyukainya, tapi dia menghempaskan perasaanku sebelum perasaaanku mencapai hatinya. Apa yang harus aku lakukan? Tak semudah membalikkan telapak tangan untukku dapat jatuh cinta pada seseorang, dan tak semudah itu pula aku bisa merelakan ataupun melupakan orang yang aku cintai. Tapi tak semudah itu juga merubah keputusan Key. Dia itu seperti aku, berpendirian keras dan juga keras kepala. Aku memahaminya karena kami mirip.

“Suzy-ya, kau melamun? Kau ada masalah ya? Kau harus cerita padaku, jangan seperti Minhee yang menyembunyikan masalahnya untuk dirinya sendiri.” Kata Jinki membuatku sadar dari lamunanku.

“Mwo? Kenapa aku dibawa-bawa? Aku’kan selalu cerita pada kalian tentang masalahku, kenapa aku jadi subjek jelek?” gerutu MinHee dengan gaya ngambeknya yang lucu.

“Memangnya yang punya nama MinHee cuma kau? Subjek ini bukan MinHee kau!” balas Jinki.

“Benarkah bukan aku? aku bukannya kepedean loh, aku hanya antisipasi kalau saja itu aku, jadi aku bela diri dulu.” Bela MinHee.

“Sudah cukup! Aku tak ada masalah dan nan gwaenchana. Jadi kalian tak perlu berdebat tentang itu. Lihatlah sekitar saat kalian ingin berdebat, kita masih didepan gerbang tau.” Leraiku pada MinHee dan Jinki sebelum debat mereka menjadi-jadi.

“Ah iya, kita masih di depan gerbang. Oppa sih.”

“Kenapa aku? aku masih sadar kalau kita didepan gerbang, karena aku belum dapat bukuku yang dipinjam.”

“Kubilang hentikan, kalian ini selalu saja.”

“Jinki-ya lebih baik kau tunggu chingumu itu di kelas saja, sebentar lagi bel masuk lebih baik kita ke kelas.” Ajakku pada mereka berdua.

“Suzy benar, kita ke kelas saja.” Ajak MinHee juga.

“Ya baiklah, aku akan menunggunya dikelas saja. Kajja.”

“Oh ya Jinki-ya, MinHee menyukaimu. Kau belum tau kan?” kataku sambil berlalu meninggalkan mereka berdua dibelakang masih terdiam, meraka pasti akan berdebat atau semacamnya jadi lebih baik aku menghindar daripada mendengarkan ocehan mereka.

“Kau menyukaiku? Jinca?” suara  Jinki yang masih dapat ku dengar.

“Mwo? A…ani..aniya…. dia bohong, gotjimal! Aniya.” Jawab MinHee gugup kemudian berlari menyusulku.

“Hey chankamhan, kenapa kau menjawab dengan gugup? Kau menyukaiku kan? Ya kan?” kata Jinki berusaha mengejar MinHee dan mensejajarkan langkahnya dengan yeoja itu. Sesekali aku tersenyum kecil saat melihat ekspresi Minhee yang gugup dan mukanya yang merah. Mereka berdua benar-benar kekanak-kanakan, kenapa juga MinHee tak mengakui kalau dia menyukai Jinki? Itu akan lebih memudahkan memecahkan masalah, daripada ia harus menyembunyikan perasaannya. Dan tak ada salahnya jika yeoja menyatakan cinta terlebih dahulu, ini kan sudah jamannya emansipasi.

“Suzy-ya~” teriak seseorang dari belakang. Aku menoleh kearahnya dan mengingat-ingat siapa namja yang memanggilku itu.

“Huh? Taemin sunbae?” gumam MinHee ikut menoleh kearah namja itu. Ya benar dia namja yang suka ikut campur itu.

“Suzy-ya, bagaimana jawabanmu tenteng pertanyaanku kemarin lusa?” katanya setelah berada di depanku.

“Pertanyaan yang mana?” kataku bingung.

“Tentang aku menjadi temanmu.” Jawabnya. Jadi dia menagih jawaban aku menerimanya atau tidak menjadi temanku? Apakah harus ada pemberitahuan jika menjadi teman? Seperti di fb saja, sungguh pemberitahuan tak penting. Ahh penting juga sih, antisipasi kalau yang meminta menjadi teman seperti si nappeun namja itu. Aku memandanginya dari ujung rambut hingga ujung kaki, seperti saat pertama kali bertemu, dia berpakaian rapi dan tak terlihat tampang preman. Hanya saja saat ini rambutnya dimodel sedikit berantakan atau mungkin memang berantakan karena tertiup angin.

“Baiklah, aku menerimamu sebagai temanmu.” Ya lebih baik aku menerimanya sebagai teman, daripada dia mengejarku terus untuk menanyakan jawabanku.

“Jinca? Kau tak bercanda’kan?”

“Menurutmu?”

“Baiklah! Gomawo.” deg… apa ini, kenapa jantungku seperti ini melihat senyumnya? Astaga, aku tidak mungkin tertarik pada Taemin hanya karena sebuah senyuman. Meskipun aku akui senyumnya memang sangat manis.

“Aku kekelas dulu, sampai jumpa lagi. Gomawo” Katanya lagi lalu beranjak meninggalkanku.

“Oh ya, MinHee-ssi annyeong.” Katanya lagi sembari berbalik setelah beberapa langkah dan tersenyum pada MinHee.

“Eh, ne, annyeong.” Jawab MinHee kikuk tiba-tiba disapa oleh sunbaenya di redaksi itu.

“Hey, kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Dia’kan hanya menyapamu?” kata Jinki yang melihat MinHee tersenyum gaje setelah disapa Taemin.

“Taemin sunbae sangat manis, terutama senyumannya itu.” Kata MinHee masih memandang kepergian Taemin.

“Mwoya? Aigoo…” gerutu Jinki kemudian pergi meninggalkan MinHee yang masih melamun dengan sedikit menghentakkan kakinya.

“Apakah dia cemburu? Hah..” gumamku lirih.

“MinHee-ya kajja, sudah masuk tuh.” Teriakku padanya, sebelum mendapat jawaban aku langsung berlenggang pergi menuju kelas meninggalkannya yang masih ‘terpesona’ kurasa dengan senyuman Taemin.

“Suzy-ya, Taemin sunbae itu sangat manis’kan?”

“Eh, Suzy-ya chankamhan… kau tega sekali meninggalkan aku. SUZY-YA!” teriak MinHee sambil berlari, dapat kudengar suara derap kakinya.

SUZY POV END

AUTHOR POV

“Kurang ajar si Taemin itu, merayu Suzy dengan senyuman sok malaikatnya. Kenapa juga Suzy mau menjadi temannya! Aish… sialan.” Umpat Minho melihat Suzy menerima Taemin sebagai temannya.

“Kenapa kau tak berpura-pura baik dan memberi senyuman malaikat juga pada Suzy supaya dia mau menerimamu menjadi temannya.” Kata Jonghyun.

“Aku bukan tipe orang yang suka berpura-pura, aku tahu aku bukan orang yang baik tapi setidaknya aku bukanlah orang yang munafik, karena orang munafik lebih hina dari pada orang yang preman sepertiku.” Jawab Minho.

“Ya, aku setuju denganmu. Kajja kembali kekelas, sebentar lagi bel masuk.” Ajak Jonghyun pada Minho yang masih geram pada Taemin. Dengan berbagai bujukan dari Jonghyun akhirnya mereka berdua kembali kekelas, karena mereka tak boleh bolos lagi. Jika bolos lagi mereka akan diskors, apalagi jika mereka bolos di perpustakaan maka kemungkinan besar akan bertemu dengan Taemin dan itu akan memebuat emosi Minho semakin meledak.

AUTHOR POV END

SUZY POV

“Suzy-ya, bagaimana pendapatmu tentang Taemin sunbae?” Tanya MinHee setelah kami duduk di kantin untuk makan siang.

“Aku’kan sudah menjawabnya. Kenapa kau harus mengulangi pertanyaan it uterus?” kataku sedikit kesal.

“Tapi kau hanya menjawab dengan jawaban ‘biasa saja’ dan untukku itu bukanlah sebuah jawaban. Jadi jawab yang lebih spesifik, seperti dia itu tampan, cute, sweet, berwibawa, pemberani, senyumnya manis atau dia itu tinggi dan sangat manis, atau Taemin sunbae itu baik, penyabar, dan rela berkorban.” Jelas MinHee panjang lebar.

“Baiklah, Taemin itu seperti apa yang kau bilang. Kau puas?”

“Ani! Aku sama sekali tidak puas dengan jawabanmu. Sungguh tak puas. Jangan mengcopy jawabanku, kau harus menjawabnya dengan sepenuh hati baru aku akan merasa puas.” Jawab MinHee dengan senyum lebarnya.

“Geurae, aku akan menjawabnya tapi setelah kau menjawab pertanyaanku ini. Eottae?”

“Baiklah, pertanyaan apa?” katanya bersemangat.

“Kurasa Jinki menyukaimu, jadi bisakah kau jujur padaku kalau kau menyukai Jinki juga?”

“Mwo? Benarkah Jinki oppa menyukaiku?” katanya sedikit berbisik.

“Ne, jadi…..?”

“Emmmm… aku…aku…mmmm…nae…aku…aku….”

“Kau tak menyukainya kan? langsung saja bilang ‘ANI’ kau tak perlu berbelit-belit seperti itu, karena kau tak menyukainya aku bisa menjodohkannya dengan anak direktur Yoon yang super cantik dan super feminine itu. Jinki kan suka pada yeoja yang cantik dan feminine.” Pancingku.

“Mwo? Andwae! Nan joa, Ye! Ye! Ye! Nan sarang Jinki oppa.” Katanya sedikit berteriak padaku.

“Jinki-ya, chukkae~” kataku pada Jinki yang berdiri dibelakang MinHee yang sedang berdiri beku. Aku tersenyum pada mereka berdua dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua yang pastinya akan berdebat dengan pengakuan MinHee barusan.

Suzy POV END

MinHee POV

Astaga! Eotteokhae? Jadi Jinki oppa ada dibelakangku? Bagaimana  ini? Aku gugup sekali. Suzy-ya awas kau! Kau tega sekali membuatku dalam situasi seperti ini. Tuhan, apa yang harus aku lalukan? Apa aku kabur saja yaa? Aigoo… eotteokhae?

“Benarkah yang kau katakan tadi?” Tanya Jinki oppa yang mulai berjalan menuju bangku depanku dan duduk disana. Aku hanya diam seribu kata, aku tak tahu harus menjawab apa. Jika aku menjawab ‘ya’ itu sama saja aku mengakui cintaku padanya duluan, dan aku tak mau itu terjadi. Aku kan yeoja!

“Jawab aku! benarkah itu?” Tanya Jinki oppa lagi, aku masih menundukkan kepalaku dan sesekali menyantap makanan yang sudah kupesan tadi untuk menghilangkan sedikit rasa gugupku.

MinHee POV END

JINKI POV

Astaga, benarkah MinHee menyukaiku? Ini sulit dipercaya. Ya aku akui kalau aku mulai menyukainya, tapi tak kusangka kalau dia menyukaiku. Jantungku berdegup sangat kencang, aku bertanya padanya apa yang dia katakana itu benar? Tapi dia sama sekali tak menjawab pertanyaanku, dia hanya menunduk. Aku duduk didepannya dan kutanya lagi apakah yang dikatakannya itu benar, tapi lagi-lagi dia hanya diam dan menunduk. Tapi sesekali kulihat dia menyantap makanannya, meskipun dengan menunduk. Aku memang berharap dia tak menjawab bahwa itu benar, karena aku tak mau dia yang menyatakan cinta padaku.

“MinHee-ya, non gwaenchana?” kataku sembari memegang pundaknya. Seketika itu pula dia menegakkan kepalanya dan menatapku, kurasa dia terkejut.

“Omona~, MinHee-ya kau mimisan.” Kataku panik, setelah melihat darah yang keluar dari hidungnya.

“Dongakkan kepalamu seperti ini, dan jangan bergerak.” Kataku lagi sembari mendongakkan kepalanya.

“Aish…” gerutuku. Aku bingung sekali harus bagaimana, aku belum pernah menolong orang mimisan. Tapi kalau aku yang mimisan itu pernah, tapi jika menolong aku belum pernah. Tanpa berfikir panjang lagi aku langsung menggendong MinHee menuju ruang kesehatan.

“Oppa turunkan aku, aku baik-baik saja. Aku hanya mimisan.” Akhirnya MinHee membuka mulutnya.

“Diamlah.” Kataku.

“Ahjumma, aku ngutang dulu untuk makananku.” Teriakku pada ahjumma penjaga kantin sambil berusaha lari keruang kesehatan dengan menggendong MinHee. Karena tadi aku terlalu terkejut sampai-sampai lupa belum membayar makanan yang kubawa.

“Nan gwaenchana oppa.” Kata MinHee lagi.

“Sudahlah, kau diam saja. HEY! Dongakkan kepalmu!” perintahku pada MinHee yang mulai menundukkan kepalanya lagi.

“Dokter, tolong MinHee.” Seruku setelah sampai di ruang kesehatan.

“Dia kenapa?” Tanya dokter jaga sekolah.

“Aku hanya mimisan kok dok, tapi Jinki oppa panik karena tidak bisa menolongku, jadi dia menggendongku kesini.” Jelas MinHee, aku masih mengatur nafasku yang sedikit tersengal karena menggendongnya dari kantin keruang kesehatan yang jaraknya tidak bisa dibilang dekat.

“Oh, jadi kau terburu-buru seperti ini hanya karena dia mimisan?”

“Ne~? mimisankan serius, nanti kalau darahnya tidak berhenti-berhrnti gimana? Itu’kan serius, masa’ dibilanghanya itu.” Jelasku dengan nafas yang masih sedikit tersengal.

“Ya baiklah, terserah caramu mendefinisikan.” Kata dokter Jang sembari tersenyum tipis kemudian mulai membatu menyumbat mimisan MinHee.

“Maaf ya dok sudah merepotkan.” Kata MinHee setelah selesai dibantu menyumpal hidungnya dan turun dari tempat tidur.

“Ah gwaenchana, ini’kan memang tugasku. Akhir-akhir ini aku sering menganggur karena jarang ada yang sakit. “ kata dokter Jang sambil tertawa. Dokter jaga sekolah kami ini memang dokter yang sangat ramah dan sangat bersahabat. Dokter Jang masih muda sekali dan aku sudah mengangganya seperti hyungku sendiri. Setiap malas masuk kelas aku pasti kesini untuk mengobrol dengannya. Karena terlalu baik dia tidak pernah menolak saat aku memintanya untuk membelikan makanan. Mungkin sedikit keterlaluan karena bagaimanapun juga dia lebih tua dariku.

“Jinki-ya, kalau hidung MinHee keluar darah lagi kau hanya perlu menyumpalnya dengan kapas atau sapu tangan.” Kata Dokter Jang yang membuyarkan lamunanku tentangnya.

“Oh, ne~! Kamsahamnida, kami kembali kekelas dulu.” Jawabku sekalian berpamitan untuk kembali kekelas.

“Jinki-ya, yeojachingumu memang cantik.” Tambah Dokter Jang sebelum kami keluar dari ruang kesehatan.

“Ne? nuguya?” seruku kaget.

“MinHee-ssi, Jinki selalu menyukaimu.” Kata Dokter Jang sembari tersenyum jahil pada MinHee.

“Ne?” jawab MinHee bingung. Huuh, untung anak ini sedang tidak konsen jadi tidak begitu memperdulikan perkataan Dokter Jang.

“Aniyo~ kajja.” Kataku sembari mendorong punggung MinHee untuk segera meninggalkan ruangan kesehatan sebelum Dokter Jang berkata yang macam-macam lagi.

JINKI POV END

SUZY POV

Setelah meninggalkan Jinki dan MinHee di kantin aku memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri sekolah. Kakiku melangkah menuju perpustakaan samping sekolah yang sudah tak terpakai. Kupikir disana pasti tidak ada orang dan aku bisa menggunakan tempat itu untuk menenagkan pikiranku. Jika sedang tidak banyak pikiran aku lebih suka menjahili Jinki dan MinHee dari pad harus sendirian ditempat yang sepi.

“Tempat ini lumayan bersih.” Gumamku sembari melangkahkan kakiku menuju tengah ruangan.

“Kurasa tempat ini sangat cocok untuk menenangkan pikiran. Disini bersih dan tertata rapi.” Gumamku dalam hati sambil terus menyusuri ruangan perpustakaan.

Kuhempaskan tubuhku keatas sofa yang kutemukan disudut ruangan, sofa yang empuk dan nyaman. Kuhembuskan nafas berat dan mulai kupejamkan mataku. Kurasa aku akan bolos dan menikmati kesendirianku disini.

“Yeppeo!?” suara berat seorang namja membuatku membuka mataku dan berhenti merenung. Kudongakkan kepalaku dan kulihat siapa pemilik suara itu.

“Nappeun namja.” Gumamku setelah mengetahui siapa pemilik suara berat itu.

“Kenapa kau disini yeppeo? Tumben sekali.” Tanyanya sembari tersenyum padaku.

“Bukan urusanmu!” kata singkat kemudian berdiri.

“Hey, mau kemana? Aku tak akan mengganggumu, tetaplah disini.” Bujuknya agar aku tidak pergi dari sana. Memangnya aku akan percaya pada ucapannya? Tidak akan, aku yakin dia akan selalu menggangguku sampai aku menjawab iya untuk menjadi temannya. Atau mungkin setelah menjadi temannya dia akan lebih menggangguku. Aku tak menghiraukan ucapannya dan tetap beranjak pergi.

“Yeppeo dengarkan aku!” titahnya lagi.

“Mwo? Memangnya apa yang kau lakukan padaku jika aku tak menghiraukanmu? Coba katakan padaku.”

“Aku sudah berusaha bersikap sebaik dan sesopan mungkin padamu, tapi kau tetap mengacuhkan aku. Jadi apa yang bisa aku lakukan jika kau tetap tak menghiraukan aku hah?” jawabnya. Apa-apa’an ini? Apa dia sedang mempermainkan aku?

“Jika cara halus tak bisa, maka aku akan melakukan cara lain.” Lanjutnya.

“Cih! Kau bilang cara halus? Jadi perlakuanmu padaku dulu itu cara hal….mmmpt” kata-kataku terputus oleh sesuatu yang lembut dan hangat yang mendarat dibibirku. Oh astaga, ya Tuhan, nappeun namja ini menciumku.

“Ini adalah cara lain dariku. Sebenarnya aku tak ingin melakukan itu padamu, tapi kau terlalu banyak bicara.” Kata Minho setelah melepaskan kecupannya. Aku masih terpaku syok atas kejadian barusan. Tak kusangka dia akan melakukan hal itu. Sementara aku masih membeku ditempatku, Minho pergi meninggalkan aku sendirian.

SUZY POV END

AUTHOR POV

“Dia….. beraninya dia melakukan hal itu.” Gumam Suzy yang sekarang sudah meringsut jatut terduduk di lantai. Dipintu masuk perpustakaan sebelah timur ada seorang yeoja yang menonton semua kejadian barusan. Yeoja itu sama sekali tak bermaksud melihatnya, tujuan awalnya adalah mencari keberadaan Taemin, namun ia malah melihat kejadian itu.

“Jadi anak baru itu menyukai Suzy. Apakah Taemin tahu hal ini? Dan bagaimana perasaannya juka tahu anak baru itu sudah mencium Suzy? Ini kesempatan bagus untuk membuat Taemin melupakan Suzy.” Gumam yeoja itu, ya dia adalah Sulli. Gadis yang sudah hampir setahun ini mengemis maaf pada Taemin yang notabennya adalah mantan namjachingunya.

Setelah Minho pergi, Sulli bergegas pergi dari tempat itu juga dan melanjutkan mencari keberadaan Taemin.

“Taem!” seru Sulli setelah melihat Taemin yang sedang duduk didepan ruang redaksi. Namja yang dipanggil hanya menoleh sebentar dan melanjutkan aktifitasnya untuk membereskan bahan-bahan berita yang nantinya akan digunakan untuk menyusun majalah sekolah.

“Taemin-nie, apa kau tahu seperti apa Suzy itu?” kata Sulli setelah sampai didepan Taemin, tapi namja itu sama sekali tak menggubrisnya.

“Taem, dengarkan aku. Suzy baru saja berciuman dengan Minho di perpustakaan.” Kata Sulli to the point pada masala yang sangat ingin dia sampaikan pada Taemin. Benar saja, setelah mendengar ucapan Sulli barusan Taemin langsung menoleh pada Sulli yang sudah duduk disampingnya.

“Jika kau tak suka pada Suzy, sebaiknya kau jangan menyebar kabar tidak benar tentangnya.” Kata Taemin dengan tatapan tajam pada Sulli.

“Aku tidak bohong Taem, sebenarnya aku sedang mencarimu di perpustakan tapi tak menemukanmu, malahan aku melihat Suzy dan Minho sedang berciuman. Suzy sekarang masih ada disana.” Jelas Sulli, gadis itu sangat berusaha mendapatkan kepercayaan dan simpati Taemin lagi, tentu saja tujuannya untuk mendapatkan maaf atas semua yang telah ia lakukan.

“Kau mencariku? Untuk apa? Untuk meminta maaf lagi? Aku tetap tidak akan memaafkanmu. Sekalipun kau sudah meminta maaf puluhan atau ratusan juta kali meminta maaf padaku.” jawab namja itu setenang mungkin, meskipun sebenarnya hatinya merasa galau dengan kabar dari Sulli.

“Taem, apakah kau tak akan pernah memaafkan aku? meskipun aku mati?” kata Sulli dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Tidak, meskipun kau bunuh diri sekarangpun aku tetap tidak akan memaafkanmu.” Air mata Sulli semakin deras setelah mendengar ucapan Taemin barusan. Namja lembut yang selalu melindungi dan menghiburnya itu sudah berubah 3600 sekarang, itupun karena kesalahan Sulli sendiri. Karena dia sendirilah yang membuat Taemin membencinya sampai seperti ini.

“Baiklah, jika itu maumu. Aku akan membunuh diriku seperti yang kau katakana, dan kita lihat apakah kau akan tetap membenciku setelah aku melakukan hal itu.” Ucap Sulli parau.

“Baiklah, cepat lakukan.” Jawab Taemin tanpa rasa bersalah.

“Baiklah, selamat tinggal Taem. Yongwonhi saranghae.” Kata Sulli lembut sembari memandangi Taemin yang tetap acuh dan sudah kembali pada aktifitas awalnya.

Gadis itu berjalan gontai menuju kamar mandi. Dia sedang berfikir bagaimana dia akan membunuh dirinya sendiri. Dulu, dia menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh umma Taemin yang sedang berjalan sendirian dimalam hari sepulang bekerja. Tapi sekarang, apakah ia harus menyewa pembunuh bayaran lagi untuk membunuh dirinya?

“Aku akan melakukan apapun yang kau minta Taem.” Guman Sulli yang sekarang sudah berada didalam kamar mandi. Yeoja itu mengeluarkan sebuah pisau kecil berwarna biru muda pemberian Taemin dulu, yeoja itu memandangi pisau kecilnya dengan tatapan yang tak tergambarkan.

“Taem, aku akan membunuh diriku menggunakan ini. Ini adalah pisau hadiah darimu, kau bilang aku harus membawa pisau ini kemanapun aku pergi, dan aku sudah melakukan itu. Dulu kau juga bilang kalau aku dalam bahaya atau situasi mendesak aku harus menggunakan pisau ini untuk menyelamatkan diriku. Dan sekarang aku dalam situasi mendesak, jadi aku akan menggunakan pisau ini untuk melepaskan diriku dari situasi ini. Terima kasih atas semua cinta, perhatian dan kasih saying yang kau berikan padaku selama ini. Aku akan selalu mencintaimu Taem. Aku tidak akan bertemu dengan ummamu nanti, karena aku bukanlah orang yang baik, jadi aku tidak akan berada ditempat yang tenang dan damai seperti tempat ummamu saat ini.” Sulli semakin terisak setelah mengatakan itu semua. Air mata terakhir yang akan ia keluarkan, jadi sebisa mungkin dia akan mengeluarkan semua air matanya sekarang, itulah pikirnya.

“Selamat tinngal Taem, Tuhan maafkan aku.” gadis itu mulai menyayat pergelangan tangan kirinya. Nyeri sekali pasti, tapi untuk Sulli rasa nyeri dan sakit dipergelangan tangannya itu tak lebih sakit daripada sakit di hatinya yang tak bisa mendapatkan maaf dari Taemin. Sulli terus memperdalam sayatan pisaunya pada pergelangan tangannya agar mengenai urat nadinya. Darah segar mulai mengalir dears pada sayatan itu, meskipun sudah keluar darah yang sangat banyak, yeoja itu tetap terus memperdalam sayatannya itu, agar saat ia ditemukan masih hidup dia tetap tidak akan terselamatkan. Gadis itu benar-benar sudah bertekat untuk mati.

Sulli meringis kesakitan dengan memegangi pergelangan tangannya yang sudah terluka sangat parah, pisau yang semula digenggamnya sekaran telah jatuh dilantai. Darah segar Sulli juga sudah mengalir keseluruh lantai kamar mandi yang ia tempati. Mungkin dari luar akan terlihat pula darah mengalir disana.

“Taem, aku sudah melakukan apa yang kau minta.” Gumam Sulli disela-sela kesakitan dan ajal yang semakin mendekat. Gadis itu terduduk dilantai dan tersenyum. Perlahan matanya mulai tertutup dan kepalanya tersandar pada dinding kamar mandi.

Ditempat lain Taemin sedang gelisah karena memikirkan perkataan Sulli tentang Suzy yang berciuman dengan Minho. Namja itu tak tahu bahwa Sulli sedang sekarat atau bahkan sudah mati di dalam kamar mandi.

“Benarkah Suzy berciuman dengan Minho? Pasti namja itu yang memaksanya. Aku harus mencari tahu kebenarannya.” Kata Taemin kemudian memasukkan berita-beritanya kedalam ruang redaksi dan beranjak pergi ke perpustakaan untuk memastikan apakah Suzy ada disana seperti yang dikatakan Sulli.

‘Taemin tolong, kurasa ada yang bunuh diri di kamar mandi. Tolong aku.” teriak seorang yeoja yang panic setelah keluar dari kamar mandi. Kebetulan sekali Taemin sedang lewat. Tentu saja sekolah sepi, ini masih jam belajar sehingga tak ada yang keluyuran, kecuali siswa-siswa yang berkepentingan dan memang berniat bolos.

“Mworagu? Bunuh diri?” Tanya Taemin kaget. Dia teringat kembali ucapan Sulli yang berkata akan membunuh dirinya sendiri untuk membuktikan penyesalannya. Namja itu segera menyingkirkan pikiran buruk kalau yang bunuh diri itu Sulli, karena Taemin tahu Sulli tak akan berani melakukan hal itu.

“Ne kajja, aku rasa ada yang bunuh diri. Ada darah dimana-mana, tapi aku tak athu siapa itu karena biliknya terkunci.” Jelas yeoja itu sembari menyeret Taemin ke kamar mandi yang ia maksudkan.

“Itu, dobraklah. Cepat sebelum dia mati.” Tanpa aba-aba lagi Taemin mendobrak pintu bilik yang terkunci dengan darah yang mengalir sampai keluar bilik itu.

BRAAK…. BRAAK

TBC

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “Loves Way – Part 7”

  1. Yaaaah kenapa mesti TBC T_T huaaa itu lagi seru banget!! Itu sulli nya gak mati kan??? Walaupun udah ngadu ke taemin tentang suzy tetep aja jangan bunuh diri gitu dong Dx *author: banyak bacot!!* hehe ff nya aku suka banget thor,daebak ^^

  2. hwaa.. Sulli bunuh diri?? Aigoo.. Slamat ga tuh..?
    Jinki-minhee bkin gregetan..
    N key, knp spt orang putus asa gtu..?
    Next ditunggu..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s