Bodyguard Scandal – Part 2

Judul : Bodyguard Scandal

Author : Ayachaan

Main cast : Lee Taemin dan Park Yoon Hee (OC) as You

Support cast :

  • Lee Jinki as Taemin’s brother
  • Kim Jonghyun, Choi Minho and Kim Kibum as Taemin’s friends
  • Presiden Lee Se Jong as Taemin’s father.
  • Yunho as Park Yoon-hee’s sunbae.
  • other

Genre : Romance, Family Life

Rating : PG 15

A.N : Annyeong… saya balik lagi bawa FF. FF ini terinspirasi waktu saya liat ‘City Hunter’. Ngerasa keren gitu ya kalo ada bodyguard perempuan seperti Kim Na-Na dan…jadilah FF ini. FF ini pernah saya share di http://ffshineeshawol.wordpress.com . tapi, biar banyak yang baca saya share disini juga. (Oya, reader… mampir jg nyok ke WP tadi #promobanget ^^V). Kamsahamnidaaa~ admin dan reader yang baik hati mau ngepost dan membaca FF saya. Happy Reading ^^.

Note : All of this story use Author or Normal POV. Ada titik dua kebawah berarti beda adegan tapi masih diwaktu yang berdekatan. Dan bisa juga POV narasi yang digunakan lebih mengarah pada satu tokoh.

 

 

BODYGUARD SCANDAL PART. 2

‘BRAK’

            Taemin hempaskan tasnya begitu saja setelah memasuki kamar. Sudah tidak peduli lagi dengan keadaan tasnya beserta barang-barang yang ada didalamnya. Dia berjalan menghampiri rak kayu tempat buku-bukunya dan juga buku-buku hyung-nya tertata rapi. Membara, amarah didadanya benar-benar sudah lepas kendali.

‘BRAAAAKKKKKK’

            Penuh amarah Taemin hempaskan semua buku yang dapat dijangkaunya hingga terbanting ke lantai. Dia benci, sangat membenci gadis itu. Seenaknya merusak kebersamaannya dengan teman-temannya. Siapa ia memangnya? Hanya seorang pengawal, tidak lebih.

            “Tuan muda…” sebuah suara berat memanggil Taemin. Dia menoleh dan mendapati pengawal Yunho sedang berdiri di ambang pintu kamarnya.

            “Ada apa lagi?” Tanya Taemin datar. Kalau saja dia datang kesini untuk membahas tentang Yoon-hee, ataupun perlakuannya tadi—dia akan sangat marah. Walau sejujurnya, dihati kecil Taemin terselip rasa bersalah karena telah berlaku kasar pada gadis itu.

            “Apakah Anda tidak ingin turun kebawah? Lihatlah siapa yang baru saja datang, Tuan muda.” Jawab pengawal Yunho sambil tersenyum pada Taemin. Sedikit tergoda, Taemin berjalan mendekati pengawal Yunho.

            “Nuguya?” Tanya Taemin singkat.

            “Lihat dulu saja, Tuan muda.” Masih tersenyum pengawal Yunho menjawab pertanyaan Taemin.

            Yunho lalu berbalik dan membuka pintu kamar Taemin. Mempersilahkan sang pangeran tampan keluar lebih dulu. Sampai di luar kamar, Taemin melihat Yoon-hee berdiri tidak jauh, ia sedang membungkukkan badannya. Sama dengan seorang ahjumma yang berdiri disampingnya. Taemin diam saja memandanginya. Entahlah seperti apa perasaannya saat ini. Rasa marah yang tadi begitu membara, seakan menguap sedikit demi sedikit, berganti dengan rasa bersalah yang pelan-pelan menyelip. Cih, dia tidak suka perasaan ini.

            “Mari Tuan muda, orang itu ada dilantai bawah.” Seru pengawal Yunho menyadarkan Taemin.

Taemin kemudian berjalan melewati Yoon-hee, terus melangkah menuju tangga. Sebelumnya samar-samar didengarnya Yoon-hee berbicara pada ahjumma itu, sepertinya sebuah perintah. Dia tidak terlalu mempedulikannya dan memilih terus berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah rumahnya.

Taemin melihat seorang laki-laki setinggi dirinya, berdiri membelakangi Taemin. Rambutnya berpotongan pendek dan berwarna dark brown. Hei, warna rambut ini benar-benar warna khas Jinki-hyung. Apakah laki-laki itu?.

“HYUUUGGG!” seru Taemin hampir tercekat ketika laki-laki itu tiba-tiba membalikkan badannya dan tersenyum pada Taemin . Membuat mata bulan sabitnya tenggelam oleh pipinya yang seperti bakpao. Mata bulan sabit itu selalu membuat Taemin iri, karena persis seperti milik ibu mereka. Sedang matanya, seratus persen seperti sang Ayah.

Setengah berlari Taemin meraih pelukan Jinki. Mendekap hyung-nya itu dengan hangat. Rasanya… rindu sekali. Sangat sangat merindukan hyung satu-satunya ini.

“Jeongmal bongoshipo nae dongsaeng.” Taemin mendengar Jinki-hyung berbisik dibalik pelukannya yang sangat hangat.

“Nado, hyung… aku bahagia kau akhirnya kembali.” Sahut Taemin sambil melepaskan pelukannya. Jinki tertawa dan mengacak-acak rambut Taemin. Aish, kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan.

“Yaa! Hyung.” Seru Taemin sambil menghindarkan kepalanya dari tangan Jinki.

            “Eoh, aku lupa kalau Taemin sudah jadi seorang namja, mianhae.” Sahut Jinki sambil tersenyum, lagi-lagi menenggelamkan mata bulan sabitnya.

            “Hyung, beri aku alasan kenapa kau bisa ada di Korea hari ini?” pinta Taemin dengan tatapan dingin sambil menarik Jinki untuk duduk di sofa ruang keluarga.

            “Karena aku merindukanmu, Taemin-ah.” Jawab Jinki.

Ah, hyung-nya ini, pasti bukan itu alasan utamanya. Mana mungkin dia merindukanku?, sungut Taemin dalam hati

            “Aku tidak percaya, hyung.” Sanggah Taemin sambil mendelik pada hyung-nya. Jinki tergelak.

            “Yaa! Taemin-ah sejak kapan kau tidak percaya pada hyung-mu ini eoh?.” Tanya Jinki pada Taemin. Masih saja dengan wajah sumringah, mungkin efek dari kerinduannya untuk berada di Korea.

            “Heh, kau hyung! Kau sudah meninggalkanku begitu saja ke Inggris.” Seru Taemin lagi.

            Kali ini  Taemin melihat raut wajah Jinki-hyung sedikit berubah. Wajah sumringahnya berangsur-angsur menghilang, hanya senyumnya saja yang masih setia menghias wajahnya.

            “Taemin-ah, mianhae… semua karena pemintaan Appa.” Sahut Jinki. Menyadari betapa adiknya satu ini pasti sangat marah karena dia sudah meninggalkannya terlalu lama.

            “Hyung, aku sangat kesepian…” akhirnya, Taemin mengutarakan apa yang selama ini dia rasakan setelah kepergian Jinki ke Inggris. Dia sangat kesepian karena tidak punya orang yang bisa diajak bicara kapanpun dia mau. Dia tidak bisa bercerita sesuka hatinya lagi. Meskipun dia memiliki tiga sahabat yang juga sangat baik. Tetap saja, posisi Jinki-hyung sangat penting bagi Taemin. Sangat penting melebihi siapapun.

            “Taemin-ah, hyung tidak akan meninggalkanmu lagi. Hyung akan terus ada disini.” Kata Jinki sambil meraih bahu Taemin. Merangkulnya dengan hangat.

            “Ehm, Tuan muda… saya permisi.” Baru  mereka sadari kalau sedari tadi pengawal Yunho sedang berdiri memandangi Taemin dan Jinki. Taemin menoleh, dan mengangguk padanya. Begitu juga Jinki.

            “Nah, Taemin-ah, sekarang ceritakan padaku. Sudah berapa orang pengawal pribadi yang kau buat berhenti dari pekerjaannya?” Tanya Jinki lugas. Membuat Taemin tersentak dan menegakkan tubuhnya hingga menghadap Jinki.

            “Hyung, bagaimana kau tahu?” Tanya Taemin bingung. Aish, hyung-nya ini sangat tidak terduga.

            “Kau kira aku tidak memantaumu selama ini heh? Aku tahu apa yang kau lakukan dan apa yang terjadi pada para pengawal malang itu.” Sahut Jinki dengan tatapan menyediknya yang selalu saja membuat Taemin harus berkata jujur padanya.

            “Aku tidak suka karena mereka terlalu mengaturku, hyung.” Aku Taemin.

            “Yaa! Berhentilah tidak menyukai mereka. Appa memperkerjakan mereka juga untuk keamanan kita, Taemin-ah.”

            Ya, harus diakui kata-kata Jinki-hyung memang ada benarnya. Tapi, untuk pengawal Park, Taemin masih enggan untuk bertoleransi. Dia tetap saja tidak menyukainya. Ia tidak seperti pengawal lain yang masih bisa diatur Taemin sedikit. Ia benar-benar taat pada aturan Appa yang sangat mengikat itu. Meskipun Taemin tahu untuk apa, tapi tetap saja, Taemin bukan Jinki-hyung yang begitu patuh pada Appa. Taemin sedikit berontak, yah, hanya sedikit.

            “Kacha, bantu aku membenahi barang-barangku!.” Jinki-hyung menarik tangan Taemin menuju kamarnya. Beberapa ahjumma mengikuti mereka sambil membawa koper-koper Jinki.

~~~

            Sudah berjalan seminggu lebih sejak kehadiran Park Yoon-hee sebagai pengawal pribadi Taemin. Dan sejak saat itu jugalah kebebasan berkumpul bersama teman-temannya ikut menghilang sedikit demi sedikit. Awal-awalnya, Taemin masih punya sedikit waktu untuk sekedar pergi makan bersama dengan Minho, Kibum dan Jonghyun. Namun sekarang, aturan Appanya semakin mengetat. Dan tentu saja, Appanya begitu gembira karena Taemin selalu masuk dalam kelas-kelas tambahannya.

            Lee Jinki sendiri semakin menyadari perubahan adiknya. Akan tetapi, disisi lain dia tahu Taemin melakukannya karena terpaksa. Tentu juga karena ketegasan Yoon-hee pada si pangeran tampan itu. Jinki tahu, cepat atau lambat, Taemin pasti akan kembali membangkang pada semua ketentuan sang Appa.

            Lee Taemin bukanlah seperti Lee Jinki yang bisa di atur sang Appa hingga menjadi anak yang diinginkannya. Taemin berbeda, ia mewarisi semua sikap bebas yang dimiliki sang ibu. Bebas dalam arti menentukan langkahnya sendiri.

            Jinki menarik napas panjang. Dia sedang duduk di balkon lantai atas rumahnya. Taemin sedang berada di kelas tambahannya diruang perpustakaan. Hingga saat ini dia hanya duduk sendiri sambil membaca sebuah buku tentang arsitektur.

            “Bisa panggilkan pengawal Park Yoon-hee?” pintanya pada seorang pengawal namja yang berdiri tidak jauh tirai panjang yang menjuntai dibagian dalam jendela balkon.

            Orang yang diminta itu menoleh dan mengangguk sambil membungkukkan tubuhnya sebelum berlalu.

            “Sillyemnida, Anda memanggil saya, Tuan muda?” sebuah suara membuyar konsentrasi Jinki. Dai menoleh dan tersenyum pada Yoon-hee yang tengah berdiri.

            “Duduklah,” suruh Jinki. Mengarahkan Yoon-hee pada sebuah kursi yang kosong dihadapannya. Yoon-hee membungkuk dan beranjak duduk didepan Jinki.

            Jinki menutup buku yang dibacanya dan meletakkannya diatas meja didepannya.

            “Apa selama ini Taemin selalu menyusahkanmu?” Tanya Jinki lugas.

            “Ah, ani, Tuan muda.” Jawab Yoon-hee pelan.

            “Hm, maafkanlah kalau dia selalu menyusahkanmu. Dia hanya berwatak keras akhir-akhir ini. Dia menjadi seperti itu setelah kepergian ibu kami dan aku meninggalkannya begitu saja ke Inggris.” Ucap Jinki. Tidak terlalu menghiraukan jawaban Yoon-hee.

            Yoon-hee mengangguk dalam diam. Jinki tersenyum lagi. Namja ini, sepertinya begitu senang tersenyum, pikir Yoon-hee.

            “Kalau boleh aku tahu, kenapa kau bisa jadi pengawal? Jarang bagiku menemui seorang pengawal wanita sepertimu.” Jinki bertanya dengan tatapan ingin tahu pada Yoon-hee.

            “Aku menjadi pengawal karena Appa-ku dulu juga seorang pengawal kepresidenan.” Jawab Yoon-hee dengan senyum sumringah. Ia mengingat mendiang Ayahnya yang selalu nampak gagah mengawal Presiden.

            “Jjinja? Jadi keluargamu keluarga pengawal?” Tanya Jinki lagi, nampak menyukai topik pembicaraannya kali ini.

            “Ne, tuan muda. Appa seorang pengawal dan Umma seorang arsitek. Oppa-ku mengikuti jejak Umma menjadi arsitek dan aku, lebih berniat mengikuti jejak Appa.” Jawab Yoon-hee, menceritakan sepenggal tentang keluarganya.

            “Arsitek? Apakah kau tidak tertarik pada bidang itu?.” Tanya Jinki, menyadari sepertinya dia dan Yoon-hee punya kesamaan sedikit—ketertarikan pada arsitektur.

            “Ne, awalnya aku suka sekali dengan bidang arsitektur. Tapi, karena Oppa sudah menjadi arsitek dan Appa menginginkan ada salah satu anaknya yang menjadi pengawal kepresidenan, maka aku memutuskan untuk mewujudkan keinginan Appa.” Jawab Yoon-hee.

            Jinki menganggapinya sambil tersenyum. Siapa sangka, kalau gadis yang ada didepannya ini punya jiwa yang luar biasa.

            “Anda juga menyukai arsitektur?” Tanya Yoon-hee pada Jinki begitu ia menyadari judul buka yang dibaca Jinki. Jinki mengangguk.

            “Aku dan Taemin, tepatnya.” Jawab Jinki dengan pandangan menerawang.

            “Tapi, keinginan Appa kami menghalangi semua impian kami itu. Aku sudah lelah menentang, hingga aku hanya menuruti keinginannya. Tapi Taemin berbeda.” Jinki menuturkan secuil kisah hidupnya dengan Taemin. Entahlah, Jinki hanya merasa nyaman ketika bercerita pada Yoon-hee. Sedikit-banyak membantu Yoon-hee untuk memahami Taemin dan menjadia pengawal yang baik bagi pangeran tampan itu.

            “Taemin berbeda?” Tanya Yoon-hee. Merasa ingin tahu kelanjutan dari cerita yang baru saja dimulai Jinki.

            “Dia tidak sepenurut diriku. Dia masih punya jiwa yang selalu ingin bebas. Maka tolong, pahamilah dia jika dia berontak padamu.” Lanjut Jinki. Yoon-hee mengangguk.

            “Tentu, aku akan berusaha menjaga kenyamanannya.” Sahut Yoon-hee.

            “Ne, kamsahamnida pengawal Park, jagalah Taemin dengan baik ne?” pinta Jinki sambil beranjak berdiri.

            “Ne, Tuan muda.” Jawab Yoon-hee sambil membungkukkan badannya. Jinki hanya tersenyum ramah dan berlalu meninggalkan Yoon-hee yang masih memilih berdiam diri di balkon.

~~~

            Taemin memandang pantulan dirinya dicermin. Rapi dan cukup untuk menyamarkan dirinya ditengah keramaian. Dia beranjak keluar kamar. Rencana hari ini dia akan pergi ke pusat perbelanjaan. Dan akan mengajak Park Yoon-hee untuk ikut serta menemaninya.

            Taemin tersenyum tipis ketika mengingat segala rencana yang baru saja dia selesai dia susun bersama Jonghyun via telpon.

            “Tuan muda, Anda mau kemana?” Tanya Yoon-hee begitu Taemin keluar dari balik pintu besar kamarnya.

            “Department store, kau ikut denganku.” Jawabnya singkat sambil terus berjalan. Yoon-hee segera mengikuti langkah Taemin.

            Aneh sekali Taemin hari ini. Sikapnya mendadak baik pada Yoon-hee. Dia tidak lagi membentak Yoon-hee. Bahkan, sekarang dia meminta untuk pergi kepusat perbelanjaan hanya berdua bersama Yoon-hee.

.

.

Apakah pangeran tampan ini baru saja jatuh dikamar mandi dan membuat kepalanya sedikit terbentur?. Karena sejak tadi Taemin hanya mengulum senyumnya sambil menatap keluar melalui jendela Mercedes Benz hitam yang melaju dan dikendalikan oleh Yoon-hee. Sesekali dia mengerling ke arah spion depan hingga matanya bisa bertemu dengan mata Yoon-hee yang menatapnya dengan pandangan bingung.

Setiap kali itu terjadi, taemin akan tersenyum lalu kembali memutar pandangannya keluar jendela. Aneh, sangat aneh sekali. Yoon-hee berkali-kali menyuruh dirinya sendiri untuk mengingat-ingat apakah ada yang special hari ini?. Atau ia kembali berprasangka buruk kalau pangeran tampan ini baru saja terjatuh hingga kepalanya terbentur.

.

.

“Sudah sampai.” Ucap Yoon-hee begitu ia selesai memarkir Mercedes Benz hitam itu dilantai tiga basement sebuah pusat perbelanjaan terkemuka di Seoul.

“Kau ikut turun denganku.” Sahut Taemin, kemudian membuka pintu mobil dan berjalan lurus untuk masuk melalu pintu kaca besar yang tidak jauh dari sana.

Setengah berlari, Yoon-hee menyusul Taemin. Menjajarkan langkahnya agar selalu tepat berada satu langkah dibelakang Taemin.

Taemin menaiki escalator dan menggiring Yoon-hee ke bagian counter baju-baju formal. Tentu saja, baju formal untuk ukuran orang sekelas Taemin. Langkah Taemin sedikit memelan ketika dia sampai didekat patung-patung wanita yang memakai jas formal, kurang-lebih seperti yang dikenakan Yoon-hee sekarang.

“Bisa saya bantu, Tuan?” Tanya seorang peramuniaga yang bersetelan rapi sambil membungkuk hormat.

“Ne, aku mau model terbaru dan pas ditubuhnya.” Jawab Taemin sambil mengarahkan kepalanya kearah Yoon-hee yang berdiri disampingnya.

“Mwo? Naneun?” Tanya Yoon-hee dengan tampang bingung terbaiknya. Yaa! Kali ini ada apa lagi eoh? Kenapa tiba-tiba Taemin mengajaknya kepusat perbelanjaan dan sekarang, pangeran tampan ini malah berniat membelikannya setelan jas resmi yang harganya pasti selangit.

“Ne, kau.” Jawab Taemin singkat. Dia kemudian duduk disebuah sofa kecil berbentuk persegi penjang. Sang peramuniaga segera memilihkan beberapa jas formal keluaran terbaru yang ukurannya dikira pas untuk Yoon-hee. Sambil tersenyum peramuniaga itu mempersilahkan Yoon-hee menuju ruang ganti.

“Ganti.” Ucap Taemin singkat. Huh, rasanya Yoon-hee sudah lelah. Ia sudah mencoba lebih dari lima jas formal. Tapi tidak ada satupun yang cocok dengan selera Taemin.

Kali ini Yoon-hee keluar dari kamar ganti dengan menggunakan setelan jas formal keluaran paling baru terakhir yang bisa didapatkannya. Kalau ini masih tidak cocok dengan Taemin, ia berniat tidak mau lagi mencoba jas yang lainnya.

“Beli yang itu saja.” Ucap Taemin begitu Yoon-hee berdiri dihadapannya.

Si peramuniaga mengangguk paham, kemudian mempersilahkan Yoon-hee untuk melepas jasnya.

“Yaa! Pilihlah juga satu jas lagi.” Seru Taemin tiba-tiba. Tidak hanya membuat si peramuniaga menoleh, tapi juga Yoon-hee yang menoleh pada Taemin dengan penuh pertanyaan.

Benar-benar sulit ditebak. Ada apa sebenarnya dengan pangeran tampan ini. Segala sikapnya sekarang benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari sikapnya selama ini pada Yoon-hee. Bahkan, kesan pertama pertemuan mereka tidaklah sebagus ini. Aish, siapapun, tolonglah beritahu Yoon-hee sekarang, ada apa sebenarnya dengan pangeran satu ini.

Setelah selesai membayar dan mendapatkan dua setel jas formal untuk Yoon-hee, kedua insan itu lalu hendak kembali pulang ke istana pribadi Taemin. Beriringan, mereka berjalan menuju basement. Suasana yang tercipta diantara mereka terasa dingin dan canggung. Karena Taemin tidak sekalipun membuka mulutnya. Begitu juga dengan Yoon-hee yang lebih memilih diam setelah ia membungkuk dan mengucapkan terimakasih pada Taemin tadi.

To be continue…

Part. 2 selesai… mari tunggu part. 3 nya. Please I need your comments so much. Kamsahamnidaaa~.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

 

29 thoughts on “Bodyguard Scandal – Part 2”

  1. Aigooo aigooo kenapa nanggung akhir partnya thooor ._. Ayo ayo tambah penasaran giniii thor ayo di tunggu kelanjutannyaa semoga ga lamaa 😀

  2. Haawwh Jinki so wise~~ hyung ideal cekaleehh >.<
    Kenapa ya daritadi aku pikirannya Taemin mau ngerjain Yoonhee gitu?-_- wkwkw mohon maklumi, imanjinasi liar(?)Wkwkwk
    Lanjut lanjuutt!:D

    1. hihi… ideal type ya.
      tentang Taemin ngerjain Yoon-hee, tunggu jawabannya di part selanjutnya ya?
      gomawo udah sempetin mampir 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s