I Want You To Be My Only One – Part 2

I Want You To Be My Only One (Part 2)

Author             : RahmaRiess

Main casts       : Park Jihyun, Lee Jinki

Support casts   : Kim Kibum

Length             : Sequel

Genre              : Romance, Friendship

Rating             : PG-15

A.N                 :

Beberapa part di cerita ini pernah ada yang saya pake di FF saya yg lain, jd kalo ada yg menemukan kemiripan, kemungkinan besar itu ulah (?) saya sendiri ko… hehe

Happy reading… n_n

Jihyun’s POV

Pria itu terus mendekat sambil masih saja meracau tidak jelas, pasti karena mabuk. Tubuhku gemetar karena takut. Di kepalaku sudah berkelebatan bayangan-bayangan buruk yang mungkin terjadi jika aku tertangkap oleh pria brengsek itu.

BUGH~

Tubuhku yang sedang berjalan mundur menabrak sesuatu yang membuatku tidak bisa bergerak lagi. Oh tuhan, apa yang akan terjadi padaku?Aku menutup mataku rapat-rapat.

“Baby, maaf membuatmu menunggu lama.” Sebuah tangan yang besar melingkar di leherku sekarang.

Aku menoleh dan mendapati Jinki berada tepat di belakangku. Ternyata yang ku tabrak tadi adalah dadanya.

“Hei, kau siapa?” Pria pemabuk itu menatap Jinki dengan tatapan kesal.

“Aku? Aku kekasihnya.” Jinki berpindah posisi. Kini pria itu berdiri tepat di sampingku dengan tangan yang kini berpindah ke pinggangku.

“Hah, kau pikir kau bodoh. Aku sudah sering melihat yang seperti ini di drama. Kau pasti hanya ingin menyelamatkannya kan? Heh, jangan sok pahlawan. Berikan gadis itu padaku.” Pria itu mendekat kearah kami. Tangan terjulur mencoba menggapai tanganku.

“Jadi kau pikir aku berbohong huh?” Jinki meninggikan suaranya sambil menepis lengan pria gila itu. Kini Jinki berada di depanku. Ia membalikkan badan sehingga sekarang kami saling berhadapan. Tiba-tiba tangannya bergerak merengkuh pipiku dan menengadahkannya. Lalu… dia meletakkan bibirnya tepat di bibirku. Dia menciumku…

Mataku membulat dengan apa yang dia lakukan padaku. Aku bisa melihat wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Kepalanya sedikit dimiringkan dan matanya terpejam sedangkan bibirnya kini sedang bermain dengan bibirku.

Selang beberapa detik, Jinki melepas ciumannya. Ia menatapku sejenak lalu mengambil tanganku. “Come onBaby, ku antar kau pulang.” Dia menuntunku pergi dari tempat itu tanpa sekalipun menoleh kearah pria yang menggangguku tadi.

Aku berjalan dibelakangnya. Mataku masih memandangi tanganku yang masih di genggam erat oleh pria yang baru saja mencuri ciumanku, ciuman pertamaku.

“Untung aku datang tepat waktu, kalau tidak.” Dia mengatakannya dengan sangat enteng tanpa memikirkan perasaanku saat ini.

Langkahku terhenti. Kini aku mematung di tempatku berdiri yang otomatis membuat ia pun berhenti karena tangan kami yang memang masih bersatu.

Dia berbalik karena aku tiba-tiba berhenti melangkah. “Kau kenapa?” ada nada heran dari suaranya. Mungkin karena dia bisa melihat air mata yang perlahan turun dari kelopak mataku.

PLAKKK~

Tanganku berhasil mendarat dengan mulus di pipinya yang putih.

“YA! Kau?” dia berteriak di depan wajahku. Tamparanku pasti juga berhasil menampar harga dirinya.

Aku berlari melewati tubuhnya yang masih menegang karena menahan amarah. Sebelumnya aku sempat melemparkan tatapan tajam yang mengisyaratkan kalau aku benar-benar marah padanya.

Jinki’s POV

Hah, kenapa dengan gadis itu? Setelah aku membantunya, dia malah membalasku dengan sebuah tamparan. Aku mengelus pipiku yang menjadi tempat mendarat tangan Jihyun tadi. Memang rasanya tidak terlalu sakit, tapi yang terluka adalah hatiku. Aku mengkhawatirkan gadis yang baru saja ku kenal sampai harus bersembunyi di belakang halte bis itu agar bisa mengawasinya dan memastikan ia pulang dengan selamat. Dan saat ada pemabuk yang mengganggunyas aku memasang badan untuk menyelamatkannya. Tapi apa balasan yang dia berikan? Sebuah tamparan tepat di pipiku yang mulus ini. Huh…

***

Pagi ini kami bertemu di gerbang sekolah. Bukan kebetulan, karena aku memang sengaja menunggunya disini.Entah apa yang ada di pikiranku sampai aku memutuskan untuk melakukan hal bodoh seperti ini. Dari kejauhan aku tahu kalau dia menyadari keberadaanku di dekat pintu gerbang ini. Aku tak berniat untuk menyapanya, hanya sekedar ingin melihatnya saja. Maka saat ia dengan cueknya berjalan melewatiku yang jelas-jelas sedang memandanginya aku sama sekali tidak memanggilnya atau berusaha agar dia balas melihat ke arahku.

Aku berjalan tepat di belakangnya dengan gaya cool-ku. Posisi kami hanya terpisah jarak sekitar 2 langkah. Dari sini aku bisa melihat rambutnya yang berwarna dark brown terurai sepunggung. Iseng aku mengukur tingginya yang ternyata hampir setinggi daguku. Tubuhnya proporsional, tidak gemuk dan tidak kurus, aku jadi sedikit heran mengingat gaya makannya saat kami bertiga dengan Kibum makan sing di kantin kemarin. Bagaimana bisa seorang wanita memiliki tubuh sebagus ini jika makan sebanyak itu.

Kulihat ia mulai berbelok memasuki ruang kelas. Disana Kibum sedang duduk santai dengan headphone pink bertengger di kepalanya.

“Wah, kalian datang bersama?” Kata Kibum saat melihat aku dan Jihyun mendatanginya nyaris bersamaan.

“Ani…” / “Ne…”

Aku dan Jihyun menjawab bersamaan tapi dengan jawaban yang jelas berbeda. Kami pun saling berpandangan. Aku masih melihat kekesalan di matanya.

“Emmmh… baiklah, aku mengerti apa yang sudah terjadi diantara kalian. Jadi adakah yang bisa menjelaskannya pa…”

“Shikkero…!” Belum sempat Kibum menyelesaikan perkataannya, Jihyun memotongnya dengan sebuah bentakan yang membuat kaget seisi kelas.

Aku dan Kibum buru-buru duduk di kursi masing-masing, masih dengan rasa shock melihat Jihyun barusan. “Kau apakan dia sampai mengamuk seperti itu?” Kibum berbisik padaku saat Jihyun sudah duduk dengan sempurna di kursinya.

“Tidak, aku tidak berbuat apa-apa?” Kataku, juga sambil berbisik.

“Kau bohong, dia tidak akan seperti itu kalau tidak… Ehehe… Jihyun-ah…” Aku melihat Jihyun sedang menatap kami berdua dengan pandangan yang sangat tajam. Pantas saja Kibum langsung cengengesan dan berhenti mengoceh, kataku dalam hati.

Hari ini, seperti hari sebelumnya, aku dan Jihyun mendapat bimbingan untuk olimpiade fisika yang akan diadakan 2 bulan lagi. Dan seperti biasa, kami baru bisa meninggalkan perpustakaan setelah hari mulai gelap.

Persis seperti saat datang sekolah tadi pagi, kali ini pun aku berjalan membuntutinya. Dan persis seperti tadi juga, Jihyun sama sekali tidak menghiraukanku. Kami sampai di halte bis tempat kemarin Jihyun di ganggu oleh pria pemabuk itu. Kali ini aku tidak bersembunyi, aku terang-terangan duduk di bangku yang sama dengannya. Dengan tetap menjaga jarak tentunya. Dan lagi-lagi, dia tidak menghiraukanku. Sebesar itukah kesalahanku padanya sampai ia tidak menganggap keberadaanku sama sekali? Tapi apa salahku?

Bis yang akan mengantarnya pulang mulai merapat ke halte. Ia berdiri dan mulai melangkah masuk. Setelah merapikanblazer yang ku kenakan, aku pun berdiri dan mengikutinya masuk ke dalam bis. Entah karena alasan apa tapi tidak biasanya bis ini sangat lengang. Tidak banyak penumpang di dalam sini. Hanya ada beberapa wanita paruh baya yang duduk di bangku paling depan. Sedang Aku duduk di bangku paling belakang dan Jihyun berada di bangku di depanku.

Sepanjang perjalanan kami bertingkah seolah tidak saling mengenal. Ia masih sibuk dengan sebuah buku yang langsung ia keluarkan dari dalam tasnya begitu ia mendapat posisi yang nyaman di bus ini. Dan aku, aku pun sibuk dengan pikiranku sendiri mengenai bagaimana aku bisa pulang ke rumah nanti. Kau tahu, aku sedang menaiki bis yang menuju kearah yang berlawanan dengan arah ke rumahku. Oh my god, sebenarnya apa yang kulakukan?

Kalau kau merasa heran mengapa aku bersikap sedemikian rupa pada gadis itu, ku mohon jangan tanyakan padaku karena aku juga tidak tahu kenapa. Aku hanya merasa seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di perutku saat pertama kali melihatnya. Aku juga merasakan rasa bahagia yang berlebihan, seperti ada sengatan listrik kecil yang menggelitiki jantungku yang membuatku selalu ingin tersenyum saat melihatnya tertawa. Selain itu, apa kau tahu bagaimana rasanyaberdiri di padang rumput yang hijau dan luas dengan sapuan angin lembut menerpa wajahmu? Nyaman dan menenangkan bukan? Nah, itulah yang kurasakan saat aku melihat senyumnya.

***

Ini hari kelima aku melancarkan strategi bodohku. Setiap pagi aku menunggunya di depan gerbang sekolah dan malamnya ku akan menemaninya menunggu bis lalu memastikan ia sampai di rumahnya dengan selamat.

“Ya! Sebenarnya apa sih yang kau lakukan padanya? Aish… aku tidak tahu apa-apa tapi aku kena imbasnya.” Kibum memajukan bibirnya.

“Aku juga tidak tahu.” Kataku santai.

“Sejak kapan dia bersikap seperti itu padamu?” Kibum bersikap seperti seorang jaksa yang sedang memeriksa seorang tersangka.

“Hmmm… Sepertinya sejak senin kemarin.” Aku masih menanggapinya dengan santai.

“Jujur saja, kau apa kan dia?” Dengan tatapan menyelidik dia mendekatkan wajahnya ke arahku.

“Tidak ada! Aku hanya menciumnya saat itu.”

“MWO! Kau menci… Emmmmppp…” Aku membekap mulut Kibum sebelum secara tidak langsung ia mengumumkan pada seluruh pengunjung kantin ini kalau aku sudah mencium Jihyun.

“Ya! Kau pikir kita sedang ada di hutan belantara huh? Seenaknya saja kau berteriak-teriak seperti itu.”

“Kau… Kau sungguh mencium Jihyun?”Kibum mendengatkan wajahnya dan membulatkan matanya.

“Emh…” aku mengangguk sambil menyesap ice cappuccino ku.

Akhirnya aku menceritakan kejadian malam itu saat Jihyun diganggu oleh seorang pemabuk sampai saat aku menyelamatkannya.

“Tapi bagaimana bisa kau menciumnya huh?” tampaknya Kibum semakin penasaran dengan ceritaku.

“Pemabuk itu tidak percaya saat ku bilang kalau aku pacarnya, jadi ku cium saja gadis itu.”

“Hellooo… Mr. Chase Lee… This is Korea, not America. How can you kiss a girl like that. Oh my God…” kibum memegangi kepalanya.

“Memang apa bedanya? Kurasa sama saja.”

“Tentu saja berbeda… Aish…” pria itu mengacak kasar rambut blondenya. “Apa kau sudah minta maaf?”

“Belum.”

“Hah??? Argh… kau ini benar-benar.” Aku tersenyum melihat Kibum yang mencak-mencak karena kesal dengan tingkahku.

***

Hari ini tepat 2 minggu sejak pertama aku datang ke sekolah ini. Dan itu artinya sudah 2 minggu juga Jihyun mengacuhkanku. Dan kau tahu, sudah 2 minggu juga aku tetap setia dengan aktivitas ‘stalker’ku. Hah… melelahkan. Tapi aku tidak bisa berhenti.

Saat ini kami baru saja menyelesaikan bimbingan fisika di perpustakaan seperti biasanya. Jihyun mempercepat gerakannya membereskan buku-buku lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Sejurus itu aku pun mempercepat gerakanku membereskan buku-bukuku. Saat aku berdiri karena ku lihat Jihyun sudah bersiap meninggalkan tempat duduknya. Tiba-tiba saja…

BRAKK~

Gadis itu menggebrak meja dihadapannya. “Sebenarnya apa sih maumu? Setiap hari mengikutiku setiap datang dan pulang sekolah, maumu apa hah?” dia berbicara dengan nada sinis.

“Sudah mau bicara rupanya?” Kataku singkat.

Ia menautkan kedua alisnya.

“Aku hanya ingin minta maaf atas kejadian hari itu, hanya saja sepertinya beberapa hari yang lalu kau sedang tidak bisa di ajak bicara, jadi aku menunggu sampai kau mau bicara.” Ya, memang itu maksudku. Jika kemarin-kemarin aku memaksa untuk bicara padanya, hal itu hanya akan merugikanku. Selain buang-buang tenaga karena ia pasti menghindar, itu juga akan melukai harga diriku, masa pria tampan sepertiku harus mengejar-ngejar seorang wanita, kan tidak masuk akal.

“Hah, begitukah caramu untuk meminta maaf pada orang lain Mr. America? Menyebalkan.” Katanya.

“Yaa… begitulah…” Kataku singkat.

“Aigoo, kau…”Gadis itu memandangku tidak percaya. Mungkin kaget dengan jawabanku yang sangat santai tadi. “Haahh… Aku tidak percaya ada orang sepertimu.” Katanya lagi.

“Tentu saja ada. Kau lihat…” Aku berdiri dan merentangkan kedua tanganku lalu berputar.

“Ish… kau menyebalkan…” Ia berbicara sambil memukulkan buku yang di pegangnya ke lenganku. Perlahan tapi pasti sudut bibirnya tertarik melengkungkan sebuah senyuman.

Akhirnya, aku bisa melihat ia tersenyum lagi.

~To be continue~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “I Want You To Be My Only One – Part 2”

  1. Kyaaaa….
    Jinki cium Jihyun…..
    kagak nyadar lagi kalo itu salah….

    Demi bibir seksi Jinki….
    aku juga pengen dicium Jinki….
    PLAK!!! digampar MVP bolak-balik…

    Maksudku…, ni shocking….
    Biasanya, kan, dia terkenal punya manner…
    tapi disini, kok Jinki malah ‘badboy’! pinter….tp badboy…
    sbenernya, tuh, perpaduan yg oke juga…
    aku suka… heheheeee…

    Waduh, thor… seru ni…
    pasti mereka bakalan saling jatuh cinta…
    aku suka… aku suka…… aku suka………

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s