Because We’re Together

Title : Because We’re Together

Author: Boram.Onyu

Cast: Park Jiyeon ( T-Ara) and all member SHINee

Length: Stand Alone

Genre: Angst, Psychology, Family

Rate : General

Recommended Song : Jung Yeob – Nothing Happened, Jiyeon – Little by Little

Seorang gadis berambut sepinggang membereskan bukunya yang berserakan. Ia mendengus lelah, ketika ia mendapati jarum jam dindingnya menunjukkan pukul 2 dini hari. Catatan yang dikerjakannya selama lima jam lebih itu ia masukkan dengan hati-hati ke dalam tasnya. Matanya tak sengaja memandang sebuah foto yang terpajang di samping rak bukunya. Seorang wanita tua yang tengah merangkul anak kecil yang terlihat manis dengan kucir dua di rambutnya.

Ia akan membaringkan kepalanya, saat sebuah teriakan yang terdengar membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia tak bergerak, kaku, terlebih ketika si pemilik suara itu memunculkan dirinya di balik pintu kamarnya. Orang itu menghampirinya, mengelus pipinya.

“ Ada apa sayang? Kenapa tubuhmu berkeringat? Apa kau perlu aku menemanimu malam ini, nae Jiyeon? “

Gadis itu tak menjawab. Ketakutan menguasainya. Ditambah lagi derasnya hujan, diselingi suara petir yang menggelegar. Saat itu juga, ia kembali menghabiskan waktunya dengan rasa takut terbesarnya.

****

Seorang pria dengan rambut coklat bergelombang menghampiri gadis yang tengah asyik dengan buku sains di tangannya. Saking asyiknya, gadis itu bahkan tak sadar jika ia telah dikelilingi 5 namja dengan kategori wajah di atas rata-rata.

Kelima pria itu masing-masing memperhatikan si gadis, kemudian di saat bersamaan mereka memeluknya membuat gadis itu harus mengalami ‘sport jantung’.

“ Aigo, uri Jiyeon, sampai kapan kau mau menghabiskan waktu dengan buku membosankan begitu? “

Si rambut pirang, yang di kepala sebelah kanannya di cat hijau membuka percakapan.

“ Lalu sampai kapan kalian mau mengganggu waktuku bersenang-senang dengan buku? “

Mereka berlima kompak tertawa. Yang paling muda, mengambil buku dari tangan Jiyeon dan mengangkatnya tinggi-tinggi agar Jiyeon tak bisa mendapatkannya. Jiyeon akhirnya menyerah ketika bukunya dilempar kesana kemari, sedang ia sendiri tak bisa menyamai tinggi tangan kelima pria itu.

“ Apa yang kalian inginkan? “

“ Coba tebak. “

“ Ayam? “

Si pria berambut bergelombang itu menggeleng sedikit kesal, karena ucapan Jiyeon yang lebih terlihat seperti menyindirnya. Keempat pria lainnya kembali tertawa.

“ Jadi apa? “

“ Kami ingin kau menjadi kencan kami. “

“ Mwo? Apa kalian gila? Jinki ah, katakan jika Jonghyun hanya bercanda. “

“ Jinki ah? Aku lebih tua 4 tahun darimu! “

“ Tapi kenyataannya kau seangkatan denganku. “

“ Itu karena kau terlalu cerdas, Park Jiyeon. “

Jiyeon berbalik ke arah Minho. Si ice man itu membuang wajahnya ketika mata mereka bertemu. Melihat itu, Jinki merasa risih dan mendehem pelan.

“ Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa. “

“ Kali ini alasanmu apa lagi? “

“ Mianhe, Kibum. Tapi, aku tidak bisa. “

Jiyeon merapikan barang-barangnya. Ia menyempatkan dirinya memberikan senyum penyesalan.

“ Kau selalu saja sibuk! “

Taemin cemberut. Wajahnya ditekuk, dibaringkan di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Jiyeon tak bisa berkutik. Ia menyimpan bukunya, dan ikut menekuk wajahnya.

“ Aku tidak mau nilai finalku jelek, Taemin ah. “

“ Final masih dua bulan lagi, noona! “

Jiyeon tersenyum. Tangannya meraih puncak kepala Taemin dan mengacaknya. Taemin pun segera melepas tangan Jiyeon, sebelum rambutnya yang sudah ia tata rapi akan sangat berantakan oleh ulah Jiyeon.

“ Kau baru saja memanggilku noona. “

Taemin menggeleng. Tangannya masih sibuk mengatur rambutnya, sementara matanya tak beralih dari kaca jendela yang memantulkan sedikit bayangannya.
“ Kau salah dengar, Jiyeon. “

Decakan terdengar dari Jiyeon, kemudian diganti dengan tawa geli. Tangannya kembali mengacak rambut Taemin, membuat teman kesayangannya itu memberikan tatapan ancaman pada Jiyeon. Tapi Jiyeon tak mengindahkannya, ia malah membalas Taemin dengan menjulurkan lidahnya. Tiba-tiba saja sentilan mendarat di dahinya yang tertutupi poni. Tak terlalu keras, tapi tetap sakit bagi Jiyeon hingga wanita itu mengelus dahinya dan menatap sebal pada orang yang telah mengganggu kesenangannya menggoda Taemin.

“ Aigo, terlalu sering bersama Minho bukan berarti kau harus menuruti kebiasaannya kan? “

“ Ya! Apa kau tidak bisa sopan padaku sekali saja! “

“ Aku akan melakukannya jika kau memanggilku oppa. “

Jiyeon bergidik ngeri. Ia bertingkah seolah-olah jijik, dengan menaikkan kedua bahunya dan mengerutkan hidungnya. Ia akan menghindar lagi melihat tangan Kibum yang mendekati kepalanya, tapi yang didapatnya justru elusan hangat.

“ Jangan terlalu memaksakan dirimu. “

Jiyeon masih tertegun di tempatnya, meski Kibum sudah berlalu dari hadapannya. Kemudian ia tersenyum pada sosok pria yang dilihatnya tengah berkutat dengan komputer tabletnya.

****

As times passes little by little
My heart is getting bigger little by little
I wonder if you know

Plak! Sebuah tamparan keras mengenai pipi Jiyeon, hingga kacamata yang dipakainya ikut terlempar ke sampingnya. Jiyeon masih memalingkan wajahnya, meski dagunya diangkat, memaksanya untuk menatap pria di depannya.

“Jangan biarkan seorang pun merebut posisimu! Jangan mempermalukanku, jika peringkatmu turun, jangan harap aku akan melepaskanmu. “

Jiyeon menggigit bibirnya. Ia masih menunduk, belum memperoleh keberanian yang cukup untuk sekedar melirik wajah pria itu.

“ Tatap mataku ketika aku bicara! “

Sekali lagi, Jiyeon mendapat tamparan di pipinya. Ia masih juga belum mengangkat wajahnya, hingga rambutnya ditarik keras. Lagi, ia hanya bisa menggigit bibirnya. Menahan rasa sakit yang diberikan padanya.

“ Kau benar-benar tak berguna! Anak perempuan memang tak berguna! “

Pria itu segera pergi, meninggalkan Jiyeon yang tetap diam. Sekilas, Jiyeon mengangkat kepalanya, memandangi punggung pria yang selalu menyiksanya. Tidak, bukan karena tamparan di pipinya, ataupun jambakan di rambut sebahunya. Kalimat-kalimat terakhir pria itu sebelum pergi, membuat tangannya terkepal, menahan amarahnya yang dibiarkannya terpendam.

Napasnya mulai tak beraturan. Ia terjatuh ke lantai, sedang pandangannya berputar. Cepat ia mendorong laci di nakas samping tempat tidurnya. Terburu-buru ia meraih seluruh isi laci itu, mengeluarkan seluruh isinya hingga yang dicarinya telah ditemukan. Ia membuka tutup botol kecil itu, mendorong keluar isinya hingga dua kapsul sudah berpindah ke telapak tangannya. Cepat ia memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia bahkan tak meminum air, karena ia sudah menjatuhkan dirinya di atas lantai.

Jiyeon memandangi langit-langit kamarnya yang mulai kabur. Botol di tangannya menggelinding ke bawah tempat tidur. Napasnya kembali normal. Ponsel Jiyeon berdering. Tapi ia membiarkannya. Ia tak punya tenaga lagi untuk mengangkat ponselnya yang terletak di atas tempat tidurnya. Kelopak matanya mengerjap, hingga kedua matanya sudah tertutup sempurna.

****

Jinki melangkahkan kakinya yang terasa berat. Ia memutar langkahnya ketika ia sudah sampai di sebuah rumah mewah berlantai dua dengan konsep klasik. Namun baru beberapa langkah ia menjauh rumah itu, ia kembali memutar langkahnya menuju rumah yang lebih dianggapnya sebagai neraka. Ia menghela napasnya. Pelan ia membuka gerbang, meski hatinya masih diliputi ragu. Sebuah mobil Porsche putih terparkir di carport. Kesekian kalinya ia menghela napasnya.

Ketika ia membuka pintu utama, hanya gelap yang ditemuinya. Lega, tapi beberapa detik kemudian lampu menyala menampilkan betapa mewahnya interior rumah itu. Seorang pria muncul dengan pakaian acak-acakan. Di belakangnya muncul seorang wanita yang tak kalah berantakan dengan gaun tidur dari bahan yang sangat tipis.

“ Kau pulang malam lagi? “

Jinki tak menghiraukan pertanyaan si pria. Ia membuka sepatunya dan segera berlalu ke kamarnya. Pintu kamarnya sudah terbuka, tapi tangannya ditarik hingga ia berbalik ke arah pria itu.

“ Mana sopan santunmu pada ayahmu! “

Jinki masih memasang ekspresi dinginnya. Beberapa lebam di wajahnya membuat si pria menjerit keras.

“ Kau berkelahi lagi?! Apa tidak ada pekerjaan lain lagi yang bisa kau lakukan? Kenapa kau sangat brutal seperti ini?! “

Jinki menggeleng. Ia melepaskan genggaman di tangannya. Ia tak perduli jika pria yang merupakan ayah biologisnya itu berteriak, ia tetap nekat masuk ke kamarnya. Di dalam sana, tubuhnya merosot di balik daun pintu ketika suara ayahnya menghilang. Ia menatap foto berukuran 10 R yang tergantung di dinding kamarnya. Seorang anak kecil, wanita yang sangat cantik, dan seorang lagi yang wajahnya dicoret dengan spidol hitam. Tepat disampingnya, sebuah foto yang menampakkan wanita cantik itu dengan untaian bunga yang telah mengering di bingkainya. Ia baru sadar, ia lupa menggantinya dengan bunga lili yang baru.

Slowly, Tears fall without I notice it
I tried to swab, wipe it away many times
Though I can erase, though I can forget
no matter how I think, without you I cry

Ia segera berdiri. Tasnya dilemparkan ke samping meja. Tubuhnya direbahkan ke tempat tidur. Ia masih tak bisa menutup matanya yang sudah mengalirkan air mata. Membasahi bantalnya. Ia tertawa hambar menatap langit-langit kamarnya, masih tak sadar jika air matanya sudah terjatuh lagi tanpa ia sadari. Seperti biasa, ia mengambil sebuah botol kecil, dan sebuah tablet kecil dikeluarkannya. Ditelannya pil itu bulat-bulat, hingga tak berselang beberapa detik alam mimpi telah menjemputnya. Membawanya ke dunia yang membiarkan ia melupakan segala hal yang menghimpit di dadanya, seakan bisa membuatnya sesak setiap saat ia berada di rumah ini.

****

Jonghyun masih betah duduk di halte bus. Ia tahu bus terakhir menuju ke rumahnya sudah lewat beberapa menit yang lalu. Tapi ia masih termenung di sana. Ia lebih menikmati melihat hujan yang tak kunjung reda dari setengah jam lalu. Dering ponselnya membuyarkan lamunannya. Sebuah pesan singkat masuk.

Jjong ah. Eumma tidak akan pulang malam ini. Makan malam mu ada di kulkas, panaskan saja di microwave. Saranghae.

Without saying anything, you went away, it’s not, please
It’s okay to come back, It’s okay to come back
the short moment we separated, it was only a dream
Nothing happened, nothing happened
If this night passes, and I wake up, again, with you…

Jonghyun memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya. Membayangkan eummanya yang tengah berjuang memperoleh penghasilan untuknya. Membayangkan bagaimana eummanya mengerang ketika sentuhan nakal menjalar di tubuhnya. Ingin sekali ia menghentikan semua itu, mengembalikan kehidupan normal eummanya yang telah direnggut sejak appanya meninggalkan mereka.

Tapi apa yang bisa dilakukan oleh pria berumur 17 tahun sepertinya. Ia hanyalah seorang bocah yang hanya bisa menerima kenyataan bahwa eummanya tak lagi sebaik yang ia impikan. Ia hanya mengulang berkali-kali dalam hatinya, ia baik-baik saja dengan itu. Ia hanya akan menganggapnya sebagai mimpi, dan ketika ia bangun eummanya akan ada di sisinya, memberinya ciuman hangat di keningnya.

Tatapannya kosong. Ia mulai berdiri, kakinya melangkah meninggalkan halte, membiarkan bulir-bulir air yang berjatuhan mengenai kepalanya. Ponselnya kembali berdering. Tapi ia tak peduli. Ia tetap menembus lebatnya hujan, tetap tak peduli meski tubuhnya mulai menggigil. Ia tahu, kondisi fisiknya yang lemah, tentu ia akan terserang demam, atau paling tidak flu. Tapi ia tak memusingkan itu. Ia membiarkan wajahnya basah, membiarkan air matanya tertutupi oleh hujan.

****

“ Taemin ah, bagaimana kalau kau mengenakan ini? “

Taemin mengangguk. Ia menyambar baju berenda di tangan seorang pria. Lekas ia memakainya di ruang ganti, tak lupa ia membubuhkan make up di wajahnya yang lembut. Ditatapnya bayangan wajahnya di cermin. Cantik. Ia meraih wig yang terpasang di kepala manekin di sampingnya, dan memakainya. Ia kembali menatap cermin. Sangat cantik.

Taemin keluar dari ruang ganti. Pria tadi memberi applause padanya. Kemudian mata pria itu terfokus pada bagian dada Taemin yang rata. Dua buah bola air diambilnya dari tasnya, lalu diselipkannya ke dalam baju yang dikenakan Taemin. Sejenak Taemin tersentak, tapi kemudian ia hanya membiarkan itu terjadi ketika pria itu mencium pipi Taemin.

“ Kau sangat cantik malam ini sayang. “

Pria itu menggandeng tangan Taemin, menuntunnya menuju ruangan yang sangat berisik. Taemin mengikuti langkah pria itu. Ia didudukkan ke salah satu sofa yang diduduki oleh beberapa pria yang sudah setengah mabuk. Taemin menghela napasnya. Senyumnya dipaksakan, dan ia pun mengambil sebotol wine yang terletak bebas di atas meja.

“ Tuangkan padaku, cantik. “

Taemin mengikuti perintah si tua bangka, dan pria lainnya protes. Taemin pun menuangkan wine itu pada semua pria yang ada di sana. Tak jarang, ia tertawa genit ketika beberapa pria itu menggodanya. Tawa palsu, yang menghilang di balik riuhnya musik yang dimainkan oleh sang DJ.

As the pain I can’t passes by
As it goes by, little by little, it gets smaller

****

Seorang pria bertubuh tinggi tegap menatap kosong gadis yang tengah menangis di depannya. Sayangnya, hatinya terlalu beku untuk ikut merasakan kepedihan yang dirasakan gadis itu.

“ Cukup! Aku muak mendengar tangisanmu! “

“ Otokke? “

Minho memutar kedua bola matanya ke atas. Ekspresinya masih dingin. Ia menghempaskan tangan gadis itu yang menggenggam tangannya.

“ Itu urusanmu. Salahmu sendiri yang membiarkanku melakukan itu padamu. “

Mata gadis itu membulat. Tangannya menarik tangan Minho untuk berhadapan dengannya. Sekian detik, sebuah tamparan panas, tidak, bukan sebuah. Berkali-kali gadis itu menampar Minho yang dibiarkan saja oleh wanita itu. Gadis itu sudah lelah. Tangisnya pun sudah berhenti. Tatapan marahnya ditujukan pada Minho, tapi pria itu tak bergeming. Ia tetap diam.

“ Kau brengsek, Choi Minho! Kau brengsek! “

Gadis itu segera pergi. Ia ingin pergi kemana, Minho tak ambil pusing. Yang jelas ia tahu, gadis itu akan menggugurkan kandungannya. Pasti. Ini bukan pertama kalinya bagi Minho. Sudah beberapa gadis yang menamparnya, membuat wajahnya sedikit lebam. Tapi seperti biasa, ia tak peduli. Ketika gadis itu sudah hilang dari pandangannya, ia berbalik menuju ke arah yang sudah seharusnya ia lalui dari tadi jika saja gadis itu tak menghalanginya, membuang waktunya dengan tangisan. Hal yang paling dibenci Minho dari apapun.

Hujan mulai turun. Ia bergegas menuju halte bus mencari perlindungan. Ia tak mau repot-repot menambah rasa sakit, setelah rasa panas di wajahnya bekas tamparan. Dering ponselnya memecah keheningan malam. Tanpa melihat layarnya, Minho menonaktifkan ponselnya, mencoba menikmati pemandangan langit yang tak satupun menunjukkan bintang di sana.

****

Sebuah mobil Audi terparkir di carport rumah megah di kawasan Gangnam. Sang pengemudi turun dari mobilnya. Panel nama dari kayu jati menempel di pintu utama. Kim. Ia menatap kosong panel nama itu. Tangannya merogoh kunci, dan segera membuka pintu itu.

Beberapa barang terlempar ke sana kemari. Hampir saja sebuah gelas kaca mengenai wajahnya, jika Kibum tak cepat menunduk untuk menghindar.

“ Aku pulang. “

Suara Kibum menghentikan perang yang terjadi di antara pria dan wanita yang saling mencaci itu. Kibum menatap mereka tanpa ekspresi, kemudian ia segera naik ke atas menuju kamarnya. Ia mengunci kamarnya, karena ia tahu salah satu dari mereka akan masuk ke kamarnya, dan saling berebut menarik perhatiannya. Ia menatap kosong foto keluarga yang terpajang di atas meja belajarnya. Di foto itu, terlihat ia yang masih berumur tiga tahun digendong oleh seorang wanita, dan seorang pria memeluk wanita itu. Pria dan wanita itu tak lain adalah eumma abojinya, yang terlibat dalam perang yang tak bisa dibilang kecil di ruang keluarga tadi.

I miss you, I miss You
The voice I can’t hear making my lips spin
And as it spin, it disappears

Sungguh, ia sangat merindukan masa-masa itu. Saat-saat ia bisa merasakan kehangatan dari eumma abojinya, yang kini hilang, digantikan teriakan amarah yang terlontar dari kedua manusia yang berperan dalam kehadirannya di dunia ini.

Ia masuk ke dalam kamar mandinya. Bath up mulai diisi, sedang tangannya menari di atas ponselnya, kemudian ditempelkannya ponsel keluaran terbaru itu di telinganya. Hanya bunyi tut yang kemudian putus sendiri. Ia mengulanginya sampai lima kali ke nomor yang berbeda, tapi tak ada satu pun dari yang dihubunginya yang mengangkat teleponnya. Dilemparnya ponsel itu, hingga isinya berhamburan keluar.

Ia membenamkan dirinya ke dalam bath up. Mencoba menghilangkan keresahan di hatinya. Matanya ditutup, menikmati aroma wewangian dari lilin aromaterapi yang baru saja dibakarnya. Akhirnya, matanya terbuka kembali. Ia sadar, tak ada satupun yang bisa melepaskan penat yang menggumpal di dadanya.

****

Keempat namja tampan, plus seorang wanita berparas cantik berkumpul di bawah pohon rindang yang cukup menaungi mereka dari terik mentari di musim panas ini. Beberapa kotak makanan terletak di atas tikar yang juga mereka duduki. Taemin akan membuka salah satu kotak itu, hingga tangannya dipukul dengan sendok.

“ Tunggu sampai Jinki datang. “

Taemin memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Jonghyun. Tak bisa ia pungkiri, perutnya sudah terlalu lapar untuk menunggu yang paling tua datang. Ia merebahkan punggungnya di batang pohon yang besar itu. Sebuah daun gugur, jatuh tepat di atas wajahnya. Daun yang masih segar. Ia masih sangat muda, tapi tak mampu lagi bertahan meski ranting itu berusaha mempertahankannya. Sama seperti dirinya. Di usianya yang masih muda, ia harus berjuang menyelesaikan utang yang ditinggalkan ayahnya untuknya. Bahkan melakukan hal yang bertentangan dengan kodratnya, melecehkan harga dirinya sebagai seorang pria. Karena bagaimanapun ia berusaha untuk bertahan, betapa pun kerasnya ia berjuang untuk lebih tegar, ia sudah begitu rapuh. Dan mungkin, sebentar lagi ia akan jatuh, hancur.

Lamunan Taemin buyar, ketika sosok pria yang sudah ditunggu sedari datang. Pria itu selalu memberikan ekspresi yang sama. Datar, dan dingin.

“ Apa aku terlambat? “

Semuanya menggeleng. Bohong tentunya, tapi mereka jauh lebih penasaran pada luka bonyok di wajah Jinki.

“ Apa kau demam? “

Semuanya menoleh bersamaan ketika Jinki kembali membuka mulutnya, mereka sama-sama memandangi Jonghyun yang sedari tadi menunduk. Menahan pening di kepalanya. Ia berusaha memberikan senyum terbaiknya, seakan menyatakan ia tak apa-apa.

Jinki berpindah posisi, ia menepuk bahu Minho agar memberinya tempat di sampingnya. Dengan cepat tangannya menyentuh kening Jonghyun. Iamendengus begitu sadar dugaannya tak salah sama sekali.

“ Berikan obatmu, Minho. “

Semua tatapan kini tertuju ke Minho yang menyerahkan sebungkus obat. Jinki mengambil sebotol air, membuka tutupnya dan menyodorkan pada Jonghyun. Sementara yang lainnya masih tertegun. Minho duduk tepat di samping Jonghyun, tapi ia sama sekali tak sadar jika si dino sedang demam.

“ Daebak. Tidak hanya berumur, kau juga sangat peka. “

Suara Jiyeon memecah keheningan, sekaligus merubah wajah penasaran yang tampak di wajah Kibum, Taemin, dan Minho menjadi senyuman. Jinki sendiri hanya mengucapkan kata ‘mwo’ tanpa bersuara.

“ Jadi, apa kita bisa mulai sekarang? Aku lapar. “

Kibum mengambil sumpit, dan mulai membagikan pada semuanya. Minho dan Taemin membuka tutup dari kotak yang berisi berbagai macam makanan. Mulai dari kimbab, samgyupsal, kimchi, hingga sundae. Ah, tentu saja ada ayam goreng di sana. Menu yang tak pernah absen seharipun, yang merupakan makanan favorit Jinki. Ini memang sudah menjadi ritual mereka berenam tiap pukul 12 siang. Tak pernah seharipun mereka melewatkan makan siang di tempat yang sama, di waktu yang sama sejak setahun yang lalu. Tepat saat Taemin memasuki tahun ketiganya di Seoul Middle School, yang juga masih dibawah yayasan yang sama dengan Seoul High School, SMA yang terkenal atas kecerdasan siswanya. Tak sedikit alumni SMA itu yang lulus di universitas kenamaan di dunia, seperti Oxford, Harvard, ataupun Sorbonne.

Maka bisa dipastikan, enam orang yang sedang menyantap makanan mereka memiliki IQ tinggi. Jiyeon yang masih 16 tahun, tapi sudah di tingkat tiga bersama Jinki yang sudah 20 tahun. Benar, Jinki pernah melewatkan setahun SMA, dan tak ada satupun dari Jiyeon, Jonghyun, Kibum ataupun Minho yang tahu alasannya. Sedang Jiyeon, mereka semua tahu ia masuk kelas akselerasi sejak di SD, SMP dan baru saat di SMA ia masuk ke kelas biasa karena SMA itu tak menyediakan kelas akselerasi.

Tapi jangan salah, jangan berpikir ia melewatkan setahunnya karena ia bodoh. Ia, seorang Lee Jinki, sudah berkali-kali mengikuti olimpiade sains. Ia hampir saja mewakili tingkat nasional, hingga suatu hari ia mundur dan menghilang selama setahun lalu kembali bersekolah lagi di tingkatan yang sama dengan Jonghyun, dan Jiyeon. Kibum dan Minho masih di tahun kedua. Keahlian Kibum sendiri, yaitu fasihnya berbahasa Inggris sehingga ia sering mewakili SMP nya dulu dalam debat Inggris. Sayang, saat SMA ia sudah tak begitu aktif lagi, meski nilainya membuat ia mempertahankan ia di juara satu umum di angkatan kelas dua.

Dari tubuhnya yang tegap, dan jangkung itu, juga bisa ditebak dengan mudah apa yang menjadi keahliannya. Skillnya yang tinggi dalam dunia olahraga, yang diturunkan dari ayahnya yang seorang pelatih sepakbola di Iran, membuat ia menguasai sepakbola, dan basket. Tak jarang ia dan timnya memenangkan perlombaan yang digelar dalam skala nasional. Tapi jangan salah, meski ia sangat aktif di dunia olahraga, bukan berarti ia tak pandai. Ia tak pernah bergeser dari kedudukannya di posisi ke lima di setiap tahunnya. Jika saja ia ingin serius, nilainya hanya berada beberapa poin di bawah Kibum.

Jonghyun. Kecakapannya dalam dunia sejarah. Ia sangat tahu seluk beluk Korea Selatan. Pertanyaan sesulit apapun yang kau tanyakan padanya, bahkan tiap tanggal Korea Selatan dan Korea Utara memulai perang saudaranya, semuanya di luar kepala. Berbanding terbalik dengan Taemin, yang memiliki ingatan yang menyedihkan, sehingga ia hanya bisa memainkan tangannya di atas kertas, memecahkan soal-soal matriks ataupun rumus matematika lainnya yang jauh lebih sulit.

Tak ada yang meragukan kecerdasan Jiyeon. Tak ada satupun yang tak diketahuinya. Ia bisa menyelesaikan soal kalkulus lanjutan dalam waktu dua menit. Mahirnya dalam menghapalkan kosakata Inggris, meski pronounciation nya masih di bawah Kibum. Soal sains, sejarah, ia sangat menguasai itu. Wajar saja, jika ia bisa mempertahankan gelar juara satu umumnya hingga sekarang. Dan ia bahkan memecahkan rekor nilai Kyuhyun yang lemah dalam soal hapalan, yang kini sudah melanjutkan studinya di Oxford.

Jika saja kalian memperhatikan gerak gerik mereka, mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa enam orang dengan sifat yang sangat bertolak belakang bisa berkumpul bersama. Mengapa Lee Jinki yang terlihat menyeramkan karena tatapan tajamnya, Kim Jonghyun yang cerewet, frontalnya Kim Kibum yang seringkali menyakiti hati dengan kata-kata pedasnya, Choi Minho yang dingin tapi sangat hebat dalam menaklukkan wanita, Lee Taemin yang ceria, dan Park Jiyeon si kutu buku bisa melewati waktu bersama. Mengapa mereka bisa memiliki keakraban yang hangat, padahal mereka sendiri tak begitu mengenal seluk beluk kehidupan masing-masing.

Justru mereka memutuskan, hanya saling mengenal nama saja sudah cukup. Tak ada yang boleh saling mencampuri urusan. Seperti sekarang. Tak peduli jika wajah Jinki yang bonyok, wajah Minho yang sedikit bengkak, ataupun Jonghyun yang sedang demam, tak boleh ada yang bertanya kenapa. Pencetus ide konyol ini adalah Taemin. Si periang yang tak pernah mengabsenkan senyum dari wajahnya. Ia menawarkan konsep persahabatan yang terbilang aneh ini, pada Jiyeon awalnya, dilanjut Kibum yang frontal, lalu Jonghyun yang cerewet, si ice man Minho, dan terakhir kali Jinki. Itulah mengapa ia sangat dekat dengan Jiyeon.

Jika saja kalian mereka melihat mereka tertawa, saling bersenda gurau, meski hanya senyum lebar yang terulas di wajah Jinki dan Minho, mungkin kalian tak pernah berpikir betapa sulitnya kehidupan yang mereka jalani. Betapa kerasnya tuntutan yang ditanamkan pada mereka. Karena mereka percaya, hanya dengan kebersamaan singkat yang mereka lalui bersama, yang tak lebih dari sejam dalam satu hari yang melelahkan itu, mereka melupakan segala hal yang menyesakkan dada mereka. Dan setidaknya selama sejam itu, meski dengan cara yang berbeda, mereka tahu arti keluarga dan persahabatan yang sesungguhnya.

I’m okay, I’m okay
Who cares if my feelings are hurt
If you are by my side
If only you are by my side, I can handle it all

FIN

Author note :
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kok Minho bisa gitu yah, atau ada apa dengan Jiyeon, dan lain-lainnya. Saya memang sengaja gak terlalu ngejabarinnya, cuman tersirat aja. Biar reader yang menebak.

Selain itu, kalau memang ada yang ngerasa psikologinya gak kerasa, ya udah saya ngerti. Saya memang gak terlalu mahir dalam bidang itu. Setelah review ulang, agak mudeng juga. Tapi udah malas ngedit. Final semester dua menanti di depan mata *malah curcol*. Dan saya benar-benar mengharapkan komentar kalian, terutama kritik. Saya sebenarnya lebih suka baca kritik loh, tapi lebih suka pujian juga #apadeh

Akhir-akhir ini emang lagi demen-demennya bikin stand alone, hehe. Padahal masih banyak utang sama reader #deepbow.

Dan terakhir, gak panjang lebar lagi, kalau respon reader bagus, fanfic ini akan berlanjut lagi. Entah jadi oneshoot, tetap jadi stand alone, ato series, pokoknya semuanya tergantung kalian para reader. Jadi, don’t forget to leavin’ comment yah. Regard, Boram.

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

65 thoughts on “Because We’re Together

  1. eonniiiiiii *pake toak*
    apa ini eon? Apa?
    keren gila!
    aku mau bagian Taemin dilanjutin.Aku kan udah muncul dua kali nih,jadi kisah Taemin bakalan panjang2 kan. Haha

  2. Suka banget, bener2 tentang persahabatan yang solid… meskipun berharap ada perasaan yang lebih dari sekedar sahabat dihati Jiyeon n Minho…, buatin sequelnya donk chingu…

  3. konsepnya unik banget, kalo emang ada persahabatan yang kayak gitu agak gimana gitu yah.
    paling penasaran sama Minho, dia jahat gitu pasti karena ada apa2nya. next next.
    terserah mau stand alone, sequel, pokoknya harus ada lanjutannya.

  4. jiyeon kenapa?
    jinki berandalan ya?
    ko minho gtu sih?
    eh? taemin jdi apaan?
    aduuuuh thor,otak ku msh banyak pertanyaan nih
    bikin sequel ya?
    aku suka banget sama ff.a ,jadi harus d lanjutin,otte?😀

    1. huahaha, sengaja emang dijadiin complicated semua.
      jinki jd agak berandalan
      minho masih gaje dia kenapa (?)
      taemin jd banci
      nanti sequelny bakalan trjawab mungkin. tengkyuh🙂

  5. lanjut author!!! hahaha itu kocak pas ada gelas melayang kearah key. bikin sequelnya dong.. termasuk yg taem itu. Gila! itu taem jd ngondek!? @_@ ya ampun kl ada banci kaleng kyk dia pasti laku tuh di jakarta! cewek aja iri kali…

    ayo lanjut! jut! jut!

  6. Entah kenapa,aku suka konsep sahabatan kaya gini. Gak perlu tau latar belakang seseorang,selama kita nyaman dg org itu,kenapa enggak🙂
    Keren ff-nya,pengen ada seuelnya,ttg persahabatan aja biar makin kerasa feel-nya. Pengen akhir-akhirnya mereka tau khdpn masing-masing trs mereka saling bantu. Pasti sweet banget🙂
    Lanjut bikin sekuel thor,aku dukung!!

  7. kok semuanya pada ada masalahnya sih.
    Onew oppa itu kenapa? Berandalan? Yah, jadi gak unyu lagi dong
    Tp gapapa deh, ffnya tetep aja keren. Sequel dong. Banyakin bagian Onew oppa hehehehehe

  8. ceritanya sadis semua ya…
    yang taemin itu bikin miris bangeeetttt…… kasian dia harus jadi cewek biar bisa lunasin utang… :”(

    salah author nih… feel’y kerasa banget… jinjja daebaakk!!! (y)

  9. author..
    saya suka,, saya suka..

    wktu slesai baca ni ff rasanya sperti smua sahabatku bilang kayak gini,,
    “apapun yg terjadi pada dirimu kami slalu ada tak perduli seberat apapun beban yg kau jalani kami disini untukmu.. bersama kami kau bisa melupakan masalahmu,, cukup bersamamu aku merasa hidup” #ga nyambung#

    pengen tw kisah mreka masing2 thor..
    sama ma komen2 dia atas,,
    bikin sequelx thor #triak pke toak
    Jebal..

    gomawo dah nulis ni ff..
    daebak..

      1. onkey dah thor..
        tak sabar buat ngebacax ^^

        cheonmanaeyo thor,,
        kebisaan untuk mengucapkan terima kasih kan harus dlestarikan..
        #ciahhhh

  10. kakak…. saya datang, jengjengjeng😀

    keren. nice. bikin penasaran.
    keren, penjabaran scr tersiratnya udha bisa aku tanggep. jadi seperti apa kerjaan mereka diluar aku ngerti. tapi… bikin penasaran krn ada pertanyaan ‘kenapa bisa mereka sampai speerti itu?’

    di bikin deh kak, ya lanjutannya. mau stand alone, oneshoot atau series gak papa. yang penting rasa penasaranku terjawab! hiyahh~ ^^

  11. lanjut donk masa gini doank…. ok berat banget bahasanya ya lumayan.. ke-6 orang itu hidupnya kayanya gak bener semua ya… si minho parah banget -_- kayanya bagus kalau semua anak-anak shinee suka ama jiyeon *maruk* lanjut ya lanjut , penasaran……

  12. Konsep persahabatan yg unik banget wkwkwk. Padahal kehidupan asli mereka err..gitu banget-_-
    Jinki peka banget yaaaa hahahahaha
    Keren kereen (y)

  13. chingu ff nya keren banget😀
    tapi kalo cuma stand alone aja kurang seru .
    mending dibikin seqelnya entah on shoot atau sekalian chapter .
    ditunggu ya chingu .
    fighting!! ^^

  14. q masih bingung ,,, dgn ceritanya
    kyanya baru awal cerita,,
    kisah kehidupan mereka sungguh bertolak belakang,,,
    emmm ,, jd penasaran bnget,,, q lanjut baca lg chingu^^

  15. Semua kehidupan mereka miris…,
    tapi aku paling kasihan sama Taemin
    dan paling sebel ma Minho…

    Semoga mereka bisa menjadi penolong dan pelindung bagi satu dan yang lain
    #bahasanyakacau, yah… hahahaa….

    Bisa, sih, saling melindungi, asal peraturan pertemanan itu dibatalin…
    Bukankan hakikat teman itu ada ketika kita memerlukan pertolongan
    atau ketika kita kesusahan…???

    Eon ikutin alur ceritanya aja, deh…
    yang pasti ceritanya bagus…

  16. Pertemanan yang mengandalkan satu sama lain hanya ga boleh kelihatan. Key tetap sebagai sosok omma yang baik.
    Sepertinya aku udah comment ato belum yah, sebelumnya?

  17. Berasa lagi nonton K-movie ‘Sad movie’, jadi satu movie, isinya menceritakan beberapa kehidupan orang yang saling berhubungan. Keren!
    Mereka semua punya kelebihan dan masalah keluarga masing2. Kasihan.
    Tapi, jadi keingetan masa2 SMA nih. Dimana mempertahankan prestasi adalah hal yang wajib dan jadi suatu kebanggaan tersendiri.
    Oia, mungkin masukan dariku, ada beberapa kata yang diketik double. Kaya ‘Jika saja kalian mereka melihat mereka tertawa’ , sama tadi nemu beberapa yang sejenis ini.

    oKEY deh, aku mau langsung lanjut sama story berikutnya. Penasaran apa sih sebenernya yang menimpa mereka?

  18. *ngusap air mata* *ngelap ingus*

    Hiks, ini sedih banget ya ampun. Tapi yang paling bikin aku tertohok tepat di jantung(oke, ini agak lebay) adalah bagian jonghyun dan Taemin…..TAEMIN YA AMPUN KAMU SEDIH BANGET SIH DI CERITA INI

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s